Journey To The Past

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : Canon, OOC (?), Typo(s), GAJE, ABAL, etc.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3 – Bulan Merah

Bungsu Uchiha dari pasangan Mikoto dan Fugaku terlihat begitu bersemangat hari ini. Besok adalah hari pertamanya mulai masuk ke akademi ninja. Sasuke sudah lama ingin segera masuk akademi agar bisa mengejar ketertinggalan dengan kakaknya. Impiannya adalah untuk bisa bersaing dengan Itachi – kakaknya, ia ingin kemampuannya juga diakui oleh ayahnya – Fugaku. Menurutnya Itachi adalah panutannya, sosok penyayang yang jenius, sosok yang membanggakan klan Uchiha di mata para petinggi Konoha.

"Nii-san"

Suara panggilan serta suara gesekan pintu yang terbuka membuat Itachi menghentikan gerakan menulisnya dan menoleh ke arah pintu. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis khas Uchiha ketika melihat adiknya berjalan perlahan mendekatinya dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.

"Nii-san, sedang apa? Sibuk ya?" tanya Sasuke sambil melongok melihat isi gulungan yang ada di meja Itachi.

Itachi menggeleng. "Sudah hampir selesai. Ada apa kemari? Ada yang ingin kau tanyakan?"

Sasuke tak lantas menjawab malah membuat cengiran lucunya yang membuat Itachi menatap adiknya heran. "Malam ini boleh aku tidur di sini?"

Itachi mengernyit. Ia merasa ada yang aneh dengan Sasuke, karena tak biasanya adik kecilnya itu bersikap manja seperti ini. Malah Sasuke sering mengeluh ketika Itachi memperlakukannya seperti anak kecil.

"Tidak biasanya? Kau merindukan Nii-san ya?" tanya Itachi menggoda Sasuke. Padahal beberapa hari ini Itachi selalu menemani Sasuke belajar juga berlatih karena sedang tidak ada misi di Anbu.

Sasuke merengut. "Tidak kok. Besok aku sudah mulai masuk akademi, jadi pasti nanti akan jarang bertemu Nii-san...jadi..."

"Hn, tidurlah denganku malam ini." potong Itachi cepat. Ia berusaha menahan senyumnya mendengar permintaan Sasuke yang terdengar berputar-putar. Ia tahu jika Sasuke akan merindukan momen bersama yang nanti akan semakin jarang didapatnya setelah masuk akademi.

Sasuke tersenyum puas. "Arigatou, Nii-san."

Itachi menyegerakan menyelesaikan gulungan laporan untuk Anbu yang harus diserahkannya besok. Sasuke dengan sabar menunggu kakaknya selesai mengerjakan laporan sambil tiduran di ranjang Itachi. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Itachi naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Sasuke. Sebelum tidur mereka berdua menghabiskan waktu dengan berbicang-bincang soal pengalaman Itachi saat di akademi. Itachi dengan sabar menjelaskan peraturan juga pengalaman kegiatannya sewaktu di akademi dulu.

"Kau tak perlu takut apapun Sasuke, akademi hanya langkah awal untuk mengenal dunia shinobi. Kau sudah menyiapkan peralatan untuk memulai sekolahmu besok kan?" tanya Itachi sambil mengusap lembut rambut Sasuke yang tengah menenggelamkan wajahnya di dada Itachi.

Hening.

Itachi menundukkan wajahnya mengintip wajah Sasuke. Itachi tertawa pelan saat mendapati Sasuke tertidur setelah mendengar penjelasan panjang lebar mengenai pengalamannya. Tetapi seketika senyum Itachi memudar mengingat tentang misi rahasianya yang harus dilaksanakan besok malam. Sulung Uchiha itu mengeratkan pelukannya pada Sasuke. Setetes air mata tak mampu ia bendung lagi. Misi terberat sepanjang hidupnya, misi yang bahkan seperti sudah membunuhnya meski ia belum melaksanakannya. Tetapi sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi, ia harus melaksanakan misi itu atau taruhannya adalah keselamatan desa. Harapan terakhirnya adalah usahanya melindungi desa terlebih melindungi Sasuke tidak akan sia-sia.

"Maaf Sasuke... aku harus melakukan ini. Aku akan selalu menyayangimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Mentari pagi mulai menyingsing. Sebagian cahayanya mulai masuk melalui celah korden kamar penginapan Sarada dan Shin. Tetapi Sarada tak terpengaruh terpaan sinar matahari yang mengenai wajahnya, ia masih saja terlelap dalam tidurnya. Maklum, semalam Sarada sama sekali tak bisa memejamkan matanya mulai memikirkan cara mengetahui siapa pembantai keluarga dan klan-nya. Ia ingin tahu alasan dibalik orang itu tega membantai habis keluarga dan klan-nya dan hanya menyisakan ayahnya saja.

"Sarada"

Sarada melenguh, menggeliat ketika merasakan seseorang menepuk-nepuk bahunya. Ya, partner 'misi rahasia'-nya, Shin. Dengan berat hati, Sarada membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa lengket, lalu mendudukkan diri di ranjang.

"Maaf, mengganggumu. Kau bilang semalam memintaku memangunkanmu pagi-pagi kan? Karena pagi ini kau berencana ke akademi." Ujar Shin mengambil posisi duduk di sebelah Sarada.

Sarada tersentak. "Ah...ya ampun iya, aku hampir saja lupa. Kalau begitu aku mandi dan bersiap, setelah itu kita pergi ke akademi." Kata Sarada antusias, Shin mengulum senyum tipis melihat betapa semangatnya Sarada jika sudah menyangkut petualangannya di masa lampau ini.

Setelah mandi dan bersiap, mereka berdua meninggalkan penginapan dan melangkahkan kaki mereka menuju akademi. Dalam perjalanan, Sarada memandang heran keadaan desa Konoha di masa lampau yang berbeda jauh dengan keadaan Konoha di masa sekarang. Ia juga melihat ukiran patung hokage yang terlihat jelas meski dari kejauhan. Jumlah ukiran wajah hokage hanya ada empat, itu artinya ia masih dalam masa hokage ketiga. Karena seingat Sarada, dibuku sejarah Konoha dijelaskan bahwa hokage keempat meninggal lebih dulu dibandingkan hokage ketiga.

Senyum Sarada mengembang ketika akademi ninja Konoha telah terlihat dalam jangkauan penglihatannya. Disana terlihat sudah ada beberapa anak yang datang. Sarada mempercepat langkahnya hingga tak menghiraukan Shin yang terus memanggilnya meminta untuk tidak meninggalkannya.

"Hoaamm...mendokusei naa. Pagi-pagi kaa-san sudah berteriak mengganggu tidurku, padahal akademi baru masuk pukul 8."

Sarada menoleh pada seseorang yang tengah menggerutu dibelakangnya. Ia membelalakkan matanya ketika mendapati sosok yang dikenalnya sebagai ayah teman di akademinya, Nara Shikadai.

Shikamaru-jiisan?

"Hahaha...Yoshino-baasan pasti tak mau kau terlambat masuk ke akademi di hari pertama, Shikamaru." Timpal anak lelaki bertubuh gempal disebelahnya. Sarada juga tak kesulitan mengenalinya, ia ayah dari sahabatnya sendiri, Chouchou, Akimichi Chouji.

Sarada tidak merasa seperti dilingkungan asing sama sekali. Karena beberapa orang yang ditemuinya adalah orang yang amat dikenalnya. Bedanya, mereka bertingkah seperti anak-anak seusianya.

Shin dan Sarada memutuskan untuk berdiri di depan pintu gerbang akademi. Sambil melihat bagaimana keadaan akademi di masa lalu. Beberapa murid sudah mulai memenuhi lapangan di depan gedung akademi. Hari ini adalah hari pertama di tahun ajaran baru akademi, untuk itu sebelum para siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mereka akan dikumpulkan terlebih dahulu melaksanakan upacara pembukaan tahun ajaran baru.

Sarada mengalihkan pandangannya ketika merasakan sebuah tepukan dibahunya.

"Sarada, bukankah itu ayahmu? Uchiha-san?" tanya Shin sembari menunjuk sesosok bocah berambut raven berjalan dengan tenang memasuki akademi sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Terlihat beberapa gadis di akademi menatap kagum pada sosok ayah Sarada itu.

Sarada hanya tersenyum bangga menanggapinya. Ia sudah tahu dari ibunya jika sejak dulu ayahnya merupakan idola banyak wanita, bahkan ibunya juga salah satunya. Sarada terkikik ketika mendapati ibunya ternyata sudah lebih dulu di akademi dan berusaha berjalan menerobos kerumunan para gadis hanya untuk melihat ayahnya.

Upacara penerimaan pun berlangsung tak lama kemudian. Sarada sempat kecewa karena tidak menemukan sosok yang menjadi idolanya selain ayahnya, Sang nanadaime hokage, Uzumaki Naruto. Ia benar-benar penasaran seperti apa sosoknya saat masih kanak-kanak dulu. Tapi sepertinya ia harus menelan kekecewaan.

"Hah! Aku sudah terlambat-dattebayou."

Sarada menoleh melihat seorang anak lelaki terlihat terengah-engah berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. Sarada memicingkan matanya melihat warna rambut yang begitu familiar, dan saat mendongakkan wajahnya, Sarada baru menyadari kalau itu sosok yang baru saja terlintas dipikirannya.

"Nanadaime?!" pekik Sarada tanpa sadar. Shin yang sedari tadi sibuk mendengarkan pidato Sandaime pada peserta upacara jadi ikut menoleh.

Naruto mengernyit. "Nanadaime?" ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa keras, "Aku bukan nanadaime, tapi Uzumaki Naruto-dattebayou. Calon hokage di masa mendatang." Sarada hanya bisa tersenyum kikuk, ia sempat lupa jika ia sedang berada di masa lalu sekarang, "kenapa tidak masuk? Apa kau juga terlambat sepertiku?"

Sarada menggeleng. "Aku bukan murid akademi. Aku salah satu anak panti asuhan di Konoha."

Naruto menatap nanar Sarada. Melihat Sarada juga mengingatkan sosok dirinya yang juga yatim piatu. "Ah...maafkan aku. Aku tidak bermaksud, maksudku...sebenarnya kita sama. Aku pun juga tidak punya orang tua."

Sarada mengulum senyum, lalu menggeleng "Anda tidak perlu merasa bersalah, seperti itu eh...em...Naruto-san."

Naruto tertawa lagi. "Jangan memanggilku sesopan itu-ttebayou. Kelihatannya kita seumuran kan? Panggil Naruto saja."

Sarada jadi semakin merasa tidak enak. Meski saat ini Naruto dalam tubuh kecilnya tetap saja, Sarada tidak bisa memungkiri fakta jika di masa sekarang Naruto adalah hokage di Konoha.

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Sandaime tidak dapat mengalihkan pandangannya pada dua sosok yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon tak jauh dari tempat lempar suriken di akademi. Ia nampak asing dengan gadis berambut gelap dan bocah laki-laki berambut perak yang berada di sampingnya.

TOK! TOK!

"Masuk."

"Ah..kau rupanya Iruka. Silahkan duduk. Bagaimana murid-murid di akademi?"

Iruka mengambil posisi duduk, lalu menjawab "Yah, masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, Sandaime-sama." Iruka mengambil jeda sejenak, "tapi ada beberapa murid yang menonjol kemampuannya di banding tahun sebelumnya."

Hiruzen menaikkan alisnya. "Oh ya? Siapa itu?"

"Uchiha Sasuke salah satunya. Kemampuannya dalam penguasaan materi dan praktek memang tak diragukan lagi jika dia terlahir dari klan Uchiha. 20 suriken yang dilemparnya tidak pernah meleset dari sasaran." Jelas Iruka antusias.

Mendengar kata Uchiha membuat raut wajah Hiruzen yang semula antusias mendadak sendu. Pandangannya tertunduk, menatap kosong lantai. Ia merasa gagal menjadi seorang pemimpin yang merasa tidak dapat melindungi semua warga Konoha. Ia gagal mengatasi kudeta klan Uchiha, dan terpaksa menyetujui ide dari pemimpin Anbu Ne, Shimura Danzo.

Menyadari perubahan raut wajah Hiruzen, Iruka berinisiatif menanyakannya "Sandaime-sama, apa ada masalah?"

Hiruzen tersentak. "Ah..tidak. Tidak ada masalah..." lalu ia seperti menyadari sesuatu, "Oh ya Iruka. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."

"Ya, apa itu Sandaime-sama?"

Hiruzen menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, ia melipat kedua tangannya di depan dada kemudian berujar, "siapa anak laki-laki dan perempuan yang sedari tadi berada di sekitar akademi? Perempuan dengan rambut gelap dan satu lagi bocah lelaki. Mereka bukan murid akademi kan?"

Iruka nampak berpikir sejenak. "Oh...aku sempat menemui mereka berdua, dan anak perempuan yang bernama Sarada mengatakan jika mereka anak panti asuhan Konoha."

Panti asuhan Konoha?

"Apa ada masalah, Sandaime-sama?" tanya Iruka lagi.

Hiruzen mengerutkan alisnya. Ia belum ingin berspekulasi terlalu jauh tentang keberadaan bocah asing itu. Ia tahu soal panti asuhan dengan banyak anak yang tinggal di sana, sesekali ia berkunjung untuk melihat keadaan anak yatim piatu di sana. Tapi ia merasa tidak pernah melihat dua bocah itu di sana.

Hiruzen menggeleng. "Tidak. Apa ada hal lain yang ingin kau laporakan Iruka?"

Iruka menggeleng. "Tidak Sandaime-sama." Iruka berdiri dari tempat duduknya, menunduk memberikan hormat, "kalau begitu saya pamit undur diri, Sandaime-sama." Hiruzen mengangguk.

Setelah Iruka keluar dari ruangan itu, Hiruzen bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah lemari yang tak jauh dari meja kerjanya. Ia mengambil salah satu buku tebal berisi data anak panti asuhan di Konoha. Ia melebarkan matanya ketika tak mendapati data anak panti asuhan dengan ciri fisik dua bocah itu.

"Aku harus cari tahu soal mereka berdua." Katanya Seraya berjalan meninggalkan ruangan.

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Dahi Shin mengernyit melihat Sarada yang duduk gelisah di seberang meja. Sepulang dari melihat akademi, mereka berdua sepakat untuk mampir ke sebuah kedai dango di distrik Uchiha yang memang terkenal paling enak di Konoha. Jadi tidak ada salahnya menikmati beberapa tusuk dango dan ocha hangat untuk melepas lelah.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Shin cemas.

Sarada tersentak. "Ah...itu, sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi." Pipi Sarada bersemu merah, "aku harus ke toilet sekarang."

Shin berusaha menahan senyum, kekhawatirannya terbukti berlebihan. Sarada hanya ingin ke toilet, bukan sedang menahan sakit atau apa. Shin menganggukkan kepalanya. "Aku tunggu di sini."

Sarada menghela napas lega sesaat setelah keluar dari toilet. Ia kembali melangkahkan kaki ke meja di mana Shin berada, tetapi ia menghentikan langkahnya ketika mendengar beberapa shinobi dari kalangan Uchiha tengah berbicang serius. Ia bersembunyi dibalik dinding untuk mendengarkan perbincangan mereka.

"Konoha memang berencana menyingkirkan klan Uchiha." Mata Sarada membulat, "Aku yakin taichou tidak akan tinggal diam."

"Ya, kau benar. Dua atau tiga hari ke depan, kudeta akan segera dilaksanakan."

Kudeta? Klan Uchiha?, batin Sarada terkejut luar biasa.

Sarada memutar tubuhnya, menghempaskan punggungnya pada dinding untuk menyangga tubuhnya. Kedua kakinya mendadak melemas mendengar soal kudeta yang akan dilakukan klannya. Satu fakta baru mencengangkan yang baru ia dengar. Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa sejarah klan Uchiha tidak pernah diceritakan detail di buku sejarah Konoha. Terutama mengenai penyebab pemusnahan klan. Fakta ini sengaja ditutupi agar di masa depan tidak sampai terjadi hal seperti ini lagi.

Perubahan raut wajah Sarada terlihat jelas berubah drastis semenjak dari kedai dango , membuat Shin mau tak mau kembali berpikir keras memikirkan penyebab perubahan itu. Ia memang tidak pandai memahami jalan pikiran seorang gadis, kadang bisa sangat ceria dan bersemangat kadang bisa berubah murung tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kini mereka berdua tengah berjalan beriringan, masih di distrik Uchiha. Sebenarnya Shin ingin segera kembali ke penginapan, tetapi Sarada meminta Shin menemaninya sebentar untuk berkeliling distrik Uchiha.

"Ada apa Sarada?" Shin menatap heran Sarada yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengikuti arah pandang Sarada yang ternyata tengah menatap dua orang sedang bercengkrama di depannya. Bukan orang yang asing baginya, ayah Sarada dan juga pamannya tengah berbincang-bincang di depan rumah.

"Niisan, kau sudah janji akan menemaniku latihan 'kan?" Sasuke mempoutkan bibirnya seraya melipat tangan di depan dada.

Itachi tersenyum tipis. "Aku baru saja pulang dari misi, Sasuke. Aku perlu istirahat."

"Selalu saja begitu." Keluh Sasuke makin merengut. "Eh...kau lagi?" Sasuke terkejut menatap Sarada dan Shin yang berdiri tak jauh darinya.

Sarada terkesiap. "Ah...maaf mengganggu tou...Sasuke-san." Sarada membungkukkan badan.

Itachi menggeleng. "kau tidak mengganggu. Kalian anak dari panti asuhan itu 'kan?" Shin dan Sarada kompak mengangguk, "Bagaimana jika kalian menemani Sasuke berlatih? Aku sedang lelah jadi tidak bisa menemaninya."

"Apa?" Sasuke berjengit, "Niisan jangan sembarangan bicara! Mereka kan bukan murid akademi."

Itachi mendesah. "Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan mereka, Sasuke." Nada bicara Itachi berubah serius, "penilaian seperti itu bisa menipumu. Di panti asuhan Konoha juga ada latihan untuk melindungi diri, yah meski tidak sedalam di akademi. Kau bisa membuktikannya sendiri."

Sarada meneguk ludah. Ini pertama kalinya ia punya kesempatan sparing dengan ayahnya sendiri. Yah, meski Sasuke yang dihadapannya saat ini masih murid akademi, tapi tetap saja membuatnya gugup. Ibunya selalu bercerita jika kemampuan ayahnya saat masih di akademi di atas rata-rata.

"Hn, baiklah. Apa kau keberatan, Sarada?"

"Aku?" Sarada menunjuk dirinya sendiri, Sasuke mengangguk. Sarada mengalihkan pandangannya pada Shin seolah mengatakan 'bagaimana ini'. Shin hanya meringis.

"Kenapa? Apa kau takut?" Tanya Sasuke dengan senyum meremehkan membuat Sarada balas menatapnya tajam.

Sarada benci ini, diremehkan orang lain, meski yang meremehkan adalah ayahnya sendiri. Ia memasang senyum angkuh khas klan Uchiha. Ini justru kesempatannya untuk menguji kemampuannya dengan ayahnya sendiri. Di masa depan Konoha Sarada memang jarang mendapat kesempatan berlatih dengan ayahnya, apalagi melakukan duel seperti ini. Selama ini Sasuke hanya mengajarkan jurus padanya.

"Tidak. Meski aku bukan kunoichi tapi orang tua asuhku mengajarkanku untuk tidak mundur sebelum mencoba sesuatu."

"Tapi Sarada, apa kau yakin?" Tanya Shin ragu.

"Kenapa sekarang jadi kau yang takut Shin?" Sarada merengut kesal, "Kau diam saja disana! Lagipula ini hanya latihan. Tidak akan terjadi apa-apa."

Shin mendesah. "Baiklah. Berhati-hatilah kalau begitu. Meski latihan kelihatannya ayahmu serius." Tambah Shin setengah berbisik melirik sekilas Sasuke yang memicing melihatnya.

"Mari kita mulai, Sasuke-san…" ucap Sarada.

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Sang hokage ketiga tengah menikmati hembusan angin yang bertiup menerbangkan dedaunan dari pepohonan. Ia menengadahkan wajahnya memandang pahatan wajah hokage di bukit hokage. Sarutobi Hiruzen menyunggingkan senyum sendu. Ia tahu masih banyak kekurangan dalam kepemimpinannya, masih banyak hal yang ingin ia lakukan untuk desa Konoha tercinta ini. Tapi ia tahu, setelah malam ini, ia tidak akan bertahan lebih lama berada di posisinya sebagai Hokage ketiga.

"Sandaime-sama"

Mendengar panggilan itu, Hiruzen memutar badannya. Ia mendapati seorang pemuda berambut perak lengkap dengan seragam anbu dan topengnya, tengah berlutut member hormat padanya.

"Ah…kau sudah datang rupanya." Hiruzen berjalan lebih mendekat, menepuk bahu Sang anbu memberi isyarat agar berdiri kembali, "aku punya tugas khusus untukmu Kakashi."

"Tugas apa itu, Sandaime-sama?" Kakashi baru saja pulang misi kelas S dengan anggota junior anbu-nya, kini hokage ketiga kembali memberinya misi. Dan Kakashi berfirasat sepertinya ini misi yang tak biasa.

Hiruzen menyerahkan selembar kertas pada Kakashi, "Tolong selidiki dua bocah itu. Mereka mengaku sebagai anak panti asuhan Konoha, tetapi setelah kuselidiki lebih jauh, ternyata tidak sesuai dengan faktanya. Mereka berbohong."

Kakashi mengamati gambar dua bocah yang terpampang di kertas itu dengan seksama. Sepenglihatannya, dua bocah itu tidak terlihat seperti orang yang punya niat jahat.

"Aku tidak ingin kau menangkapnya dengan prosedur anbu. Aku hanya ingin kau menyelidikinya saja, cari tahu siapa mereka sebenarnya. Dan jika memang mereka berdua terbukti membahayakan Konoha. Aku ingin kau menangkapnya dan serahkan sisanya padaku." Lanjut Hiruzen.

Kakashi mengangguk. "Hai'. Saya akan melaksanakan sesuai perintah Anda, Sandaime-sama."

Hiruzen tersenyum tipis. "Bagus." Kakashi hendak undur diri tapi Hiruzen kembali menahannya, "Kakashi…"

Kakashi menoleh, "Ya, Sandaime-sama."

"Bila suatu saat nanti aku pergi. Aku percayakan Konoha padamu." Tukasnya mengulum senyum.

Kakashi tertegun mendengarnya. Entah mengapa ia merasa Hokage ketiga itu seperti sedang berpamitan padanya. Dan kata-kata barusan adalah permintaan terakhir. "Saya akan melindungi Konoha dengan segenap jiwa raga saya, Sandaime-sama. Anda jangan khawatirkan itu."

Setelahnya Kakashi undur diri, tak lama kemudian datang satu orang lagi anbu di bawah perintah Danzo, Anbu Ne. Uchiha Itachi.

"Kau akan melaksanakan misi itu malam ini bukan?" Tanya Hiruzen.

Itachi mengangguk mantap. "Ya, Sandaime-sama."

Hiruzen mengeratkan pejaman matanya, tangannya yang berada di kedua sisi celana juga ikut terkepal. Ia masih ingin mengupayakan hal lain demi membatalkan misi 'gila' ini. Ia merasa ikut menanggung luka yang kelak akan dialami oleh Itachi. Bagaimana pun juga klan Uchiha tetaplah bagian dari Konoha, tak peduli apapun yang telah terjadi di masa lalu. Hokage pertama memerintahkan untuk tidak menyingkirkan klan Uchiha, dan kali ini ia gagal mempertahankannya.

Upaya menggagalkan kudeta dengan kekuatan mata Shisui telah gagal, bahkan Shisui dinyatakan meninggal terjun dari tebing curam. Estimasi waktu yang semakin dekat dengan hari dimana klan Uchiha akan melaksanakan kudeta, membuat Hiruzen tak berkutik selain menyetujui misi berdarah ini.

"Kau tahu…" Hiruzen menatap lurus onyx Itachi, "Meski aku mengatakan beribu maaf padamu, tetap tidak akan pernah bisa menghilangkan kesedihan yang akan kau tanggung. Aku benci perang, tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang harus mengorbankan sebagian warga Konoha demi menghindari perang."

Itachi menggeleng, lalu tersenyum tipis. "Anda telah mengusahakan yang terbaik selama ini. Hanya saja klan Uchiha tidak bisa memahaminya. Mereka terlalu menjunjung tinggi klan tanpa memandang nilai yang lain."

Hiruzen membiarkan angin kembali berhembus mengibarkan jubah hokagenya, "Kau adalah pahlawan Konoha, Itachi."

Itachi tak menanggapinya, ia pamit undur diri lalu membungkuk memberi hormat. Lalu melompat pergi dari tempat itu. Dalam hati ia menyangkal perkataan pemimpin desanya itu yang mengatakan bahwa dirinya merupakan 'pahlawan Konoha'. Membunuh ayah, ibu, kekasihnya, seluruh klan-nya dan hanya menyisakan adiknya saja. Apa pantas sebutan 'pahlawan' ditujukan padanya?

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Sarada berdiri di dekat jendela kamar penginapannya. Ia memandang bulan yang bersinar lebih terang dari hari biasanya. Udara malam ini juga ikut menjadi lebih dingin. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Sarada masih saja tidak bisa memejamkan kedua matanya.

Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Di sana ada Shin, rekan seperjalanannya telah tidur dengan lelapnya di sofa. Sarada mengangkat salah satu sudut bibirnya mengingat kejadian tadi siang. Shin pasti kelelahan melawan ayahnya, Uchiha Sasuke. Memang benar yang dikatakan ibunya bahwa kemampuan ayahnya memang luar biasa sejak di akademi. Sarada sendiri telah dikalahkan, ia memang sengaja tidak menggunakan sharingan selama pertarungan. Ia tak mau identitasnya terbongkar begitu saja. Ia tidak kecewa, justru ia bangga pada ayahnya. Ayahnya memang shinobi kebanggaan klan Uchiha.

"Kemampuanmu lumayan. Lain kali kita berduel lagi." Kata Sasuke seraya menarik Sarada yang baru saja dijatuhkannya.

Sarada tertawa kecil mengingat perkataan ayahnya tadi. Seandainya di Konoha masa sekarang ayahnya tidak mungkin akan mengajak duel seperti tadi. Jangankan duel, mencari waktu untuk menemaninya latihan saja sangatlah sulit.

Sarada tersentak mengingat sesuatu. Perkataan beberapa shinobi dari klan Uchiha di kedai dango tadi siang. Ia tak bisa mengabaikan fakta itu. Mungkin memang ini kesempatannya mencari tahu. Sarada tak membuang waktu lagi, ia mengambil pocket senjatanya dan keluar dari penginapan menuju distrik Uchiha.

Sarada merasakan keganjilan saat baru memasuki kompleks Uchiha. Suasananya terlalu sunyi. Memang ini menjelang tengah malam, tetapi biasanya masih ada beberapa shinobi yang berlalu lalang. Rasa penasaran yang makin membumbung tinggi membuat Sarada memepercepat langkah kakinya memasuki kawasan pertokoan. Alangkah terkejutnya ia mendapati ada beberapa orang terkapar bersimbah darah di jalanan.

"A..apa ini?!" Sarada nyaris berteriak. Kedua kakinya gemetar. Tapi ia memberanikan diri untuk memeriksa keadaan orang-orang yang tergeletak itu. Ia berharap ada yang masih bisa diselamatkan. Tapi naas, mereka semua memang sudah mati.

"Jangan-jangan ini…" Sarada menggeleng kuat, "Tidak! Tidak! Kumohon Kami-sama biarkan aku melakukan sesuatu sebelum terlambat!"

Sarada berlari ke arah rumah ayahnya, Sasuke. Ia tak mempedulikan mayat-mayat yang ia jumpai di jalanan.

Gelap dan sunyi. Keadaan rumahnya pun tak jauh beda dengan rumah-rumah yang ia lewati tadi. Dalam hati Sarada berharap ia belum terlambat. Ia berharap dugaannya salah. Ini bukan hari pembantaian klan Uchiha.

"Permisi" seru Sarada. Tapi hanya hening yang menyahut.

Sarada tak peduli lagi jika nantinya pemilik rumah akan marah karena tingkahnya yang tidak sopan. Ia hanya ingin memastikan ayah, kakek dan neneknya masih bisa diselamatkan. Ia melangkahkan kaki memasuki ruangan yang pintunya sedikit terbuka.

Sarada hanya mampu melebarkan matanya, dan tanpa sadar sharingannya aktif melihat pemandangan di depannya. Kakek dan neneknya telah terbunuh bersimbah darah. Dengan langkah lunglai dan air mata yang berderai dari dua netra hitamnya, ia memberanikan diri mendekat.

"Kakek…nenek…"

Sarada menyentuh leher Mikoto Sang nenek. Tak ada tanda kehidupan lagi. Begitu pula Fugaku Sang kakek.

"TIDAAAAKKK?!" Sarada memeluk raga tak bernyawa itu sambil menangis. Ia tak menyangka akan mengetahui pembantaian Uchiha di depan matanya sebelum sempat berbuat apa-apa. Padahal ia baru saja ingin mencari tahu mengenai kudeta.

Apa ini ada hubungannya atau tidak? Sarada bahkan belum diberi kesempatan untuk mengetahui siapa pelaku pembantaian ini?

Sarada berdiri, mengepalkan tangannya. "Aku akan membunuh siapa pun pelakunya!"

Ia berlari meninggalkan ruangan itu. Ia mencoba menelusuri jejak Sang pembantai. Ia tak peduli jika harus meregang nyawa saat ini juga. Setidaknya ia tahu siapa pelaku kejahatan keji ini.

"Ini bohong! Ini bukan sepertimu, Niisan. Ini tidak mungkin."

Sarada menghentikan langkahnya mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Suara ayahnya. Ia mempercepat langkahnya ke asal suara itu. Dengan hati-hati Sarada mendekat, mengintip di balik dinding memastikan kalau ia tidak salah dengar.

Putri tunggal Uchiha Sasuke itu melebarkan matanya melihat Sang ayah berderai air mata ketakutan berdiri berhadapan dengan Sang Paman, Uchiha Itachi. "I..itu..Paman Itachi. Mungkinkah?"

"Aku sudah bersikap seperti kakak yang kau inginkan, hanya untuk menguji seberapa jauh kemampuanmu." Ujar Itachi. "Kau akan menjadi pesaing yang baik untuk menguji kemampuanku. Kau punya potensi itu. Karena itulah aku membiarkanmu hidup."

Sarada tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia terisak, membekap mulutnnya untuk menahan suara tangisnya. Berkali-kali ia menggeleng kuat. Hatinya menyangkal apa yang dilihatnya ini tidaklah nyata. Mungkin semacam genjutsu saja. Tapi jasad kakek dan neneknya nyata.

"Kenapa Nanadaime bohong padaku?" suara Sarada bergetar, "Dia bilang Paman adalah pahlawan desa, tapi ini apa…? Cih!"

Sarada mengusap air matanya kasar. Ia kembali mencoba berdiri dan mengintip ke arah dimana ayah dan pamannya berada. Ia membulatkan matanya tatkala tak mendapati keberadaan Itachi, hanya mendapati Sasuke jatuh pingsan di jalan. Ia melangkahkan kakinya perlahan dan hati-hati.

"Sasuke-san" sarada mencoba membangunkan ayahnya, tapi Sasuke sama sekali tak bereaksi. "Papa hiks…bangunlah…"

Sarada berjengit saat mendapati sebilah katana mengarah tepat di lehernya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Tubuh Sarada menegang mengenali suara ini. Tanpa harus menoleh pun, ia tahu bahwa pemilik suara ini adalah pamannya Uchiha Itachi. Ternyata pemuda itu belum benar-benar pergi dari sini.

"Katakan alasanmu di sini atau…" Itachi semakin mendekatkan katananya hingga sedikit melukai leher Sarada. "aku akan memisahkan kepala dan tubuhmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Author's Note:

Satu chapter lagi :D

Yeaayyy akhirnya bisa update story ini setelah sekian lama *lega.

Thanks For Reviewing :

Ming-hime, Shofie Kim, Bougenville, donat bunder, Erna punyaakun, jeenrish, Kristya771, mangkyudimas, uchiha miki.