Setelah sekian lama mencari inspirasi untuk bikin ini, akhirnya aku bisa update chapternya juga XD Aku pindahin balasan reviewnya ke bawah ya, langsung aja ke fic nya...
Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, alur gaje, mungkin OOC
Genre: Family, Friendship, Action, Hurt/Comfort, Tragedy
Disclaimer: Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
Satu minggu berlalu. Semakin lama, aku yang tadinya ingin melindungi klanku malah berbalik membencinya. Tapi aku masih menepis perasaanku itu. Aku berusaha untuk melupakan masa lalu yang begitu suram. Karena biar bagaimanapun juga mereka adalah keluargaku. Dan aku sangat menyayangi mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk menganggap bahwa itu hanyalah kesalah pahamanku saja.
Aku mencoba menenangkan diri. Aku pergi ke luar kamarku untuk mencari keluargaku. Mungkin dengan berbicara dengan mereka bisa membuatku lebih tenang. Aku mencari mereka ke ruang makan karena sebentar lagi waktunya makan siang. Kupikir mereka ada disana. Dan benar dugaanku. Meskipun aku belum sampai ruang makan, aku bisa mendengar suara Kaa-san dan Shiro-nii.
"Sepertinya hari ini Shiro-nii tidak ikut perang lagi…" batinku.
Aku segera menuju ruang makan untuk bergabung dengan mereka. Tetapi, aku tidak sengaja mendengar perbincangan yang tak seharusnya kudengar.
"Kaa-san, semakin lama aku semakin kesal" terdengar suara Shiro-nii dari ruang makan.
"Tentang apa?" tanya Kaa-san bingung.
"Izuna" jawabnya singkat.
Aku terkejut. Tadinya aku ingin bergabung dengan mereka tapi aku mengurungkan niatku setelah mendengar ucapan Shiro-nii. Aku segera bersembunyi dibalik tembok.
"Ada apa dengannya?" ucap Kaa-san yang belum mengerti.
"Dia itu selalu saja melawan, hampir setiap hari dia selalu merengek pada Kaa-san untuk ikut berperang. Padahal sudah diperingati berkali-kali tapi ia tidak peduli. Bahkan meskipun sudah banyak hal buruk terjadi tapi ia masih belum jera. Terlebih lagi kalau ia sudah kabur dari rumah. Dia itu merepotkan! Itu membuatku semakin kesal dan benci padanya…" jelas Shiro-nii dengan nada kesal.
"Kau tidak boleh berpikir seperti itu. Biar bagaimanapun dia itu adikmu" ucap Kaa-san menenangkan.
"Iya aku tahu, tapi aku tidak peduli meskipun dia adikku atau siapapun, dia benar-benar membuatku kesal, dia itu sok tahu, menyebalkan, merepotkan, dan masih banyak lagi… pokoknya aku membencinya!" ucap Shiro-nii semakin marah.
.
#
.
Izuna sangat terkejut mendengar penuturan kakaknya itu. Air matanya pun mulai menetes. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa salah satu dari kakak yang sangat ia kagumi dan sayangi akan mengatakan hal seperti itu. Ia tahu bahwa kakaknya itu sering kesal dengannya, tapi ia tidak menyangka bahwa Shiro akan membencinya seperti itu.
Sementara itu, Shiro sedang duduk di ruang makan dan menatap gelas didepannya dengan tatapan kesal. Saat ia tidak sengaja melirik kearah pintu ruang makan yang terbuka, ia melihat bayangan seseorang. Spontan ia segera berdiri dan bahkan bersiap mengambil kunai.
"Siapa disana?!" ucapnya.
Ibunya yang sedang memasakpun langsung menoleh kearah yang sama dengannya. Izuna yang keberadaannya disadari pun terkejut. Awalnya ia panik tetapi akhirnya ia memutuskan untuk menunjukkan dirinya.
"I-ini aku…" ucapnya sambil menunduk.
Shiro dan Ibunya sangat terkejut. Ternyata Izuna mendengar percakapan mereka.
"Se-sejak kapan kau disana?" tanya Ibunya untuk memastikan
"Sejak tadi…" ucapnya pelan.
"Nii-san, maaf kalau aku menyebalkan dan membuatmu membenciku…" ucapnya lirih.
Shiro terkejut dengan ucapan adik satu-satunya itu. Sementara Izuna langsung berlari menuju kamarnya. Ibunya hanya mendengus pelan melihat kejadian itu.
"Kau harus segera meminta maaf padanya…" ucap Ibunya sambil melanjutkan aktivitas memasak.
"Tidak mau. Yang salah bukan aku, kenapa harus meminta maaf? Memang kenyataanya kalau dia itu menyebalkan" ucap Shiro kesal.
"Tapi tetap saja, perkataanmu tadi itu terlalu kasar. Dia itu masih kecil, wajar saja kalau dia bersifat seperti itu…" ucap Ibunya.
"Kaa-san selalu saja membela dia. Aku tahu dia anak bungsu tapi kalau terlalu dimanja begitu dia takkan dewasa!" balas Shiro seraya meninggalkan ruang makan.
"Mau sampai kapan kalian seperti ini…" keluh sang Ibu dalam hati.
Hampir disaat bersamaan, sang Ayah dan ketiga anaknya baru saja kembali dari medan perang.
"Tadaima…" ucap Madara.
"Okaeri…" jawab Shiro.
"Ada apa? Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Hisashi dengan lembut.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang kesal…" ucapnya seraya memalingkan wajah dengan kesal.
"Oh kalian sudah kembali. Ayo semua berkumpul diruang makan, Kaa-san baru saja selesai masak…" ucap Ibu mereka yang tiba-tiba datang.
"Baik…" jawab Hisashi.
Sementara itu sang Ayah dan kedua anak lainnya hanya mengangguk saja. Dan Shiro, ia hanya diam tak menanggapi.
"Shiro… kau panggil Izuna dari kamarnya ya" pinta sang Ibu dengan lembut.
"Apa? Kenapa aku? Suruh saja Hisashi-nii…" ucapnya sebal
"Aniki mu baru saja pulang, cepat sana panggil" perintah sang Ibu.
"Cih, menyebalkan" gerutunya dalam hati.
Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil adiknya itu meskipun sebenarnya ia tidak mau.
"Izuna, sudah waktunya makan. Cepat keluar dan jangan jadi anak manja!" ucapnya dengan nada sebal.
"I-Iya, aku sebentar lagi kesana" ucap Izuna dari dalam.
Setelah mendengar jawaban ia segera meninggalkan kamar adiknya dan pergi ke ruang makan.
"Dimana Izuna?" tanya sang Ibu.
"Masih di kamarnya mungkin…" ucapnya asal.
"Tadi Kaa-san sudah menyuruhmu memanggilnya kan?" tanya Ibunya.
"Iya, sudah kupanggil. Ia bilang sebentar lagi kesini…" ucapnya sambil menggeser kursi di dekat meja makan.
"Kenapa kau tidak tunggu sampai dia keluar dan kesini bersamanya?" tanya Ibunya sambil tersenyum.
"Kaa-san sengaja ya? Percuma saja, meskipun begitu itu tidak akan menyelesaikan masalahku begitu saja" ucapnya yang kini sudah duduk bersama dengan ketiga saudaranya yang lain.
Sementara itu kedua saudaranya hanya menatap Shiro dengan tatapan bingung dan seakan bertanya 'ada apa sih?'. Hanya Madara yang tetap diam dan tidak peduli. Beberapa saat kemudian Izuna datang dengan wajah menunduk. Ia mengambil kursi disebelah Hisashi.
"Ada masalah apa?" tanya Hisashi sambil mengelus pelan kepala adiknya.
Izuna hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan kakaknya.
"Cih, mulai lagi… selalu saja dia dimanja…" batin Shiro dengan tatapan sebal kearah adiknya.
Sementara Madara yang melihat kelakuan adik-adiknya itu hanya menatap datar mereka semua.
"Shiro, apa kau cemburu?" tanya Madara tiba-tiba.
Sangat jarang sekali anak sulung Uchiha itu mau ikut campur dalam pertengkaran adiknya.
"A-apa maksudnya?" ucap Shiro terkejut.
"Kau selalu terlihat kesal saat Hisashi memanjakan Izuna, apa kau cemburu?" ulang Madara.
"T-tentu saja tidak! Kenapa aku harus cemburu, aku tidak perlu dimanjakan karena aku bukan anak manja!" ucapnya sebal.
Izuna hanya menunduk mendengar sindiran kakaknya itu.
"Tidak usah mengelak. Dulu kau yang anak bungsu jadi kau lah yang paling dimanja, dan sekarang Izuna lah yang menggantikanmu. Tentu saja ada alasan untukmu cemburu kan?" ucap Madara lagi.
"Sudahlah! Itu tidak benar. Nii-san yang tidak mengerti apa-apa tentangku sebaiknya diam saja" ucapnya ketus.
"Siapa bilang aku tidak mengerti? Aku mengerti kok" balas Madara.
Sementara ketiga adiknya hanya bisa sweatdrop melihat perdebatan antara mereka.
"Kenapa jadi mereka yang berdebat?" batin Hisashi.
"Bagaimana kau mengerti aku? Kau saja sejak dulu jarang dirumah, kau juga jarang memiliki waktu untukku? Kau juga bukan diriku, karena itu kau tidak mungkin mengerti!" ucap Shiro kesal.
Madara mendengus pelan mendengar tanggapan adiknya itu.
"Bodoh, meskipun begitu…aku ini kakakmu jadi aku mengerti. Aku tahu aku tidak pernah punya waktu untuk kalian, mungkin untuk Hisashi ada karena pada saat itu aku belum sibuk perang. Tapi meskipun begitu bukan berarti aku tidak memperhatikan kalian. Aku selalu memperhatikan kalian karena itu aku bisa mengerti hanya dengan melihat" ucap Madara datar.
Seketika pandangan semua adiknya berubah. Mereka tidak percaya kakak tertua mereka mengatakan hal seperti itu.
"Nii-san, ternyata kau bisa begini juga ya…" ucap Satsuki.
Madara yang menyadari tatapan adiknya itu langsung memalingkan wajahnya.
"A-apa ada yang salah dengan perkataanku?" ucapnya.
Ibu mereka yang sedari tadi hanya mendengarkan pun tersenyum. Setelah sekian lama akhirnya anak sulungnya bisa mengeluarkan sifat aslinya itu.
"Oke, akhiri perdebatannya. Sekarang waktunya makan" ucap sang Ibu sambil meletakkan beberapa hidangan di atas meja.
Kelima anaknya segera menyantap makanan itu dengan semangat. Sang Ibu ikut senang melihat kebersamaan mereka. Sementara sang Ayah yang baru saja datang kebingungan dengan istrinya yang senyum-senyum sendiri.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Ti-tidak ada apa-apa. Hahaha.." ucap sang istri.
Akhirnya acara makan siang keluarga itu berlangsung dengan cukup menyenangkan. Shiro dan Izuna untuk beberapa saat melupakan masalah mereka.
.
#
.
Satu bulan berlalu, peperangan masih belum selesai juga. Perang itu malah menjadi semakin sulit. Klan Uchiha juga mulai kehabisan pasukan, sehingga hampir semua pasukan dikirim ke barisan depan. Daerah pemukiman pun semakin sepi. Akhirnya sampai di suatu waktu dimana para penguasa menawarkan gencatan senjata. Penguasa yang dibela klan Uchiha itu memutuskan untuk membuat surat perjanjian dengan pihak lawan. Karena itulah akan diadakan pertemuan antar para penguasa. Petinggi klan Uchiha akan dikirim untuk mengawal sang penguasa. Tetapi karena kekurangan orang, akhirnya Tajima terpaksa mengajak istrinya untuk ikut serta. Ketiga anaknya pun dikirim ke barisan depan. Shiro tidak ikut karena ia baru saja mengalami luka yang cukup parah. Akhirnya ia ditinggal bersama dengan Izuna.
Keadaan seperti itu membuat mereka teringat kembali masalah mereka. Mereka tidak saling bicara. Rumah terasa sunyi, meskipun mereka berdua di rumah itu tapi terasa seperti sendiri. Tidak ada satupun yang menyapa. Tapi lama kelamaan Izuna lah yang memulai percakapan karena ia kasihan pada kakaknya yang kesakitan akibat luka yang cukup parah.
"Nii-san, mau kubuatkan teh?" tanyanya pelan.
"Hn." Hanya itu jawaban yang diberikan kakaknya.
Izuna menganggapnya sebagai persetujuan, akhirnya ia beranjak kedapur untuk membuat teh. Kemudian setelah tehnya siap, ia mengantarkannya pada kakaknya. Sementara Shiro tetap bersikap dingin kepadanya.
Hari demi hari berlalu. Luka Shiro bukannya membaik malah semakin parah. Izuna mulai ketakutan, ia tidak paham hal yang seperti ini. Selama ini ia selalu mengobati luka kakaknya itu sesuai dengan petunjuk Ibunya, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Ia juga heran mengapa Ibunya pergi begitu lama. Padahal hanya menghadiri perjanjian, tapi belum pulang juga. Ia takut terjadi sesuatu. Karena itulah ia berusaha untuk mengobati kakaknya itu. Setidaknya ia ingin melakukan sesuatu untuk klannya.
Saat ini Shiro bahkan tak bisa untuk bangkit dari kasurnya. Lukanya sudah semakin parah. Izuna yang kebingungan akhirnya membongkar koleksi buku ayahnya untuk mencari petunjuk.
"Ketemu!" ucapnya senang saat ia mendapat buku obat-obatan.
Ia membuka satu per satu halamannya. Di buku itu tertera berbagai macam obat, kegunaan, efek samping dan bahkan tempat dimana kau bisa mendapatkannya. Segera saja ia mencari obat yang cocok untuk kakaknya itu.
"Ini bukan… ini juga bukan…bukan…bukan…" ia terus membalik halaman demi halaman.
"Eh, ini apa?" ucapnya saat melihat satu obat tanpa nama.
"Tidak diketahui? Nama macam apa itu?" tanyanya bingung.
Ia membaca penjelasan tentang obat itu. Ternyata obat itu sangat cocok untuk luka kakaknya. Ia sangat senang mengetahui hal itu. Ia kembali membaca buku itu dengan teliti.
"Jadi…dimana aku bisa mendapatkannya?"
"Ah! Itu mudah, ternyata di penyimpanan obat-obatan milik klan ada!"
Izuna segera bersiap untuk pergi kesana. Ia tahu bahwa ia dilarang keluar rumah, tetapi melihat kondisi kakaknya itu, ia tak mungkin diam saja. Ia memakai jubah berwarna hitam kemudian mengendap-endap menuju luar rumahnya. Kali ini sangat mudah baginya untuk pergi keluar, karena tak ada siapapun di rumah kecuali kakaknya yang sedang terbaring tak berdaya di kasur. Tak mau membuatnya menunggu lama, Izuna segera berlari ke tujuannya.
"Permisi, apakah disini ada obat yang tertera di buku ini?" tanya Izuna pada salah satu penjaga tempat penyimpanan.
"Oh, obat itu sudah habis sejak tiga hari yang lalu" jawab si penjaga.
"Eh? Apa benar - benar tidak ada lagi?" Izuna tampak kecewa.
"Tidak ada. Biasanya obat itu didapat dari gunung disana" ucap penjaga itu seraya menunjuk ke arah gunung di dekat pemukiman klan.
"Karena beberapa hari ini tempat itu menjadi lokasi peperangan, klan tidak mau mengambil resiko untuk pergi kesana. Soalnya klan Uchiha sama sekali tak terlibat peperangan itu, kalau kesana sama saja ikut campur urusan mereka" lanjut penjaga itu.
"Begitu ya… apa tidak ada cara lain?" Izuna masih belum menyerah.
"Bagaimana ya, hanya disana kita bisa mendapatkan obat itu. Sekarang sih sepertinya perang di sana sudah selesai, tapi klan kita sedang sibuk mengurus musuh utama kita. Akan sangat berbahaya jika kita mengambil resiko untuk tetap kesana, karena belum tentu di sana tidak ada musuh" jelas sang penjaga.
"Apa kalian tak bisa mengambilnya?" tanya Izuna lagi.
"Maaf, tapi kalau kami meninggalkan pemukiman, akan sangat berbahaya. Saat ini jumlah pasukan sangat pas-pas an" jawab si penjaga penuh sesal.
"Baiklah, terima kasih banyak" ucap Izuna seraya meninggalkan tempat itu.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Haruskah aku pergi ke sana sendirian?"
Setelah lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk tetap pergi.
"Kalau aku tidak melakukannya, Nii-san bisa-bisa…"
Pikiran buruk itu mulai menghantuinya, tetapi ia berusaha keras untuk menepis semua itu.
"Apapun yang akan terjadi di sana, yang terpenting adalah aku bisa mengobati Nii-san. Itu saja!"
Tekadnya yang kuat membawa kaki-kakinya menuju ke gunung itu.
.
#
.
"Ah, itu dia!" ucap Izuna girang.
Setelah pendakian yang cukup menguras tenaga, ia menemukan obat yang ia cari. Sejauh ini, tak ada bahaya yang terlihat. Meskipun yang dikatakan penjaga tadi itu benar, bahwa tempat ini baru saja menjadi medan peperangan. Banyak mayat tergeletak di sana, genangan darah ada di mana-mana. Izuna hampir saja muntah mencium bau dari mayat dan darah itu.
"Sepertinya sudah cukup…"
Setelah memetik tanaman obat itu dan merasa jumlahnya cukup banyak, ia segera memutar jalan dan menuruni gunung itu. Ia mempercepat langkahnya agar tak menemui bahaya dan dapat mengobati kakaknya dengan segera. Selagi berjalan, sesekali ia menoleh kearah kanan dan kiri untuk memastikan tak ada apapun yang membahayakan.
"Hah, untung tak ada apa-apa" gumamnya lega.
Baru saja ia memalingkan kembali pandangannya kedepan, ia mendengar suara yang menurutnya cukup aneh. Ia kembali melihat ke sekeliling mencari asal suara. Onyxnya menangkap pergerakan pada ranting-ranting pohon di atasnya.
"Hanya angin atau ada sesuatu di sana?"
Izuna mendongakkan kepalanya, berusaha mencari-cari sesuatu dibalik dedaunan rimbun.
'KRAAK'
Sebuah ranting patah dan jatuh ke tanah. Tapi tak hanya ranting itu saja, sesuatu yang menyebabkan ranting itu patah juga ikut terjatuh. Maniknya membulat, tubuhnya bergetar.
"I-itu…"
Sesuatu yang terjatuh itu menatapnya dengan pandangan mengerikan. Izuna juga memandanginya, tubuhnya dipenuhi bulu berwarna hitam legam dan memiliki tanda berbentuk V berwarna putih di dadanya. Memiliki cakar yang tajam, telinga yang kecil dan memiliki moncong cokelat gelap.
"B-Beruang!"
Izuna segera mengambil langkah seribu menjauhi hewan itu. Beruang itu langsung mengejarnya dengan cepat. Izuna benar-benar panik, tak bertemu shinobi malah bertemu hewan ganas. Ia berlari sekuat tenaga menuruni gunung itu. Sesekali kakinya tersandung batu dan terluka, tetapi ia tak peduli akan hal itu. Yang ia inginkan hanyalah bisa bebas dari kejaran beruang liar itu.
"K-kenapa aku bisa sial begini?"
Tiba-tiba, kakinya tersangkut dan terlilit oleh akar pohon. Ia mulai kehilangan keseimbangan. Ditambah permukaan tanah yang cukup licin, Izuna tergelincir dan terjatuh dari tebing gunung.
"Ugh…"
Ia meringis kesakitan. Untungnya tebing itu tidak terlalu tinggi. Dan hal baiknya, beruang itu tak dapat menemukannya. Dan juga, ia jadi lebih cepat sampai di kaki gunung karena hal itu. Tetapi tubuh, lengan dan terutama kakinya terluka cukup parah. Izuna berusaha untuk bangkit. Kakinya benar-benar terasa sakit dan ia tak dapat berjalan dengan normal.
"Aku harus… mengobati Nii-san…" gumamnya.
Ia berusaha untuk berjalan pulang meskipun darah segar mengalir dari luka-luka di kakinya.
.
#
.
Pemukiman Uchiha terlihat sepi. Hampir seluruh penghuninya berada di medan perang. Sebenarnya ini adalah kesempatan besar untuk penyerangan. Hanya saja musuh terlalu sibuk dengan perang di garis depan. Bahkan hari ini Izuna bisa keluar rumah dengan leluasa tanpa dikenali siapapun. Tetapi akibat perjalanannya tadi, langkahnya menjadi sangat lambat dan perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dari sebelumnya.
"Tadaima" ucapnya pelan.
Ia segera pergi ke dapur untuk mencuci tanaman obat yang baru ia petik itu. Kemudian ia mengambil lumpang dan alu milik Ibunya dan menumbuk tanaman itu.
"Semoga Nii-san bisa cepat sembuh"
Ia kemudian membalutkan luka kakaknya yang telah dibubuhi obat itu dengan perban. Kemudian ia juga mengambil sedikit dari obat yang tersisa untuk mengobati luka-luka di kaki, tubuh, dan lengannya.
"Bagaimana ini, lukanya tidak mungkin langsung sembuh…" gumamnya lirih.
"Kaa-san pasti memarahiku kalau sampai dia tahu… Nii-san juga..."
"Bagaimana cara menyembunyikan ini dari mereka?"
Izuna memutar otaknya untuk mencari sebuah ide. Kalau saja luka itu bisa hilang tanpa bekas di esok hari, mungkin ia tak perlu memikirkannya. Kalau sampai orang tuanya tahu, ia pasti akan semakin dilarang untuk pergi keluar rumah, dan itu akan menghalangi impiannya.
"Ah aku tahu, tapi berhasil tidak ya? Apa salahnya mencoba?"
Ia akhirnya mendapat sebuah ide. Ia memperbaiki perban di tubuhnya sedemikian rupa, ia kemudian berusaha untuk bisa berjalan normal. Ia berjalan mengelilingi rumahnya kemudian mengulangnya lagi sampai ia terbiasa untuk tidak berjalan pincang. Sesekali ia meringis kesakitan dan air matanya pun menetes.
"Aku harus bisa berjalan normal"
Semangat dalam dirinya kembali muncul, ia terus berjalan dan mengabaikan rasa nyeri dan perih di kakinya itu.
"Aku harus bisa!"
"Kalau tidak aku tidak akan boleh keluar selama-lamanya…"
"Aku harus bi― aakhh"
Ia jatuh tersungkur di lantai ruang tamu. Kakinya yang dibalut perban kembali mengeluarkan darah akibat perbuatannya itu. Air mata mulai membasahi pipinya sementara ia berusaha menahan rasa sakit. Perlahan ia kembali bangkit dan mulai berjalan lagi.
"Kalau Nii-san dimarahi karena lukaku ini, aku takkan memaafkan diriku sendiri!"
"Dan Nii-san pantas membenciku!"
Rutukan demi rutukan ia lontarkan pada dirinya sendiri. Ancaman itu membuatnya terus berjalan meskipun perban yang tadinya berwarna putih bersih perlahan berubah menjadi kemerahan.
"Nii-san mengalami rasa sakit lebih dari ini! Anggota klan yang sedang berperang bahkan mengalami hal yang lebih buruk lagi, karena itu… aku harus bisa!"
"Ini hanyalah luka kecil, aku tidak boleh cengeng"
Lama-kelamaan cara berjalannya mulai normal. Ia sepertinya sudah terbiasa dengan rasa sakit itu, meskipun sebenarnya lukanya malah semakin parah. Tetapi ia sukses menutupi kenyataan itu.
"Sekarang tanganku" ucapnya sambil meninju udara.
Ia mengerakkan tangannya, menekuknya kemudian merentangkannya lagi. Ia juga memutar lengannya. Meninju udara dengan gerakkan yang cepat. Kini perban di tangannya juga mulai berubah warna. Kemudian ia berlari ditempat dengan air mata yang bercucuran karena menahan sakit. Kemudian ia push-up beberapa kali. Mengangkat tumpukkan buku yang cukup berat dan membawanya berkeliling. Dan setelah pemaksaan yang ia lakukan itu, ia kembali membersihkan lukanya dan menutupnya dengan perban yang baru.
.
#
.
Cahaya matahari menembus kaca jendela menerangi ruangan kecil yang disebut kamar di salah satu rumah milik klan Uchiha. Tetapi sang pemilik kamar sudah tak menghuni kamar itu. Ia memilih melanjutkan aktivitasnya di luar kamar. Ia melakukan olahraga pagi dengan maksud tertentu.
"Aku sudah mulai terbiasa" gumamnya.
Ia menghentikan olahraganya itu dan beranjak ke dapur. Ia mengambil sebuah cangkir dan menyeduh teh untuk kakaknya.
'Tok tok tok'
Ia mengetuk pintu kamar Shiro.
"Masuk" jawabnya.
Izuna segera masuk membawa secangkir teh untuk kakaknya.
"Bukankah obat ini sudah habis?" tanya Shiro yang bingung melihat lukanya.
"Kemarin aku mengambilnya dari tempat persediaan obat" jawab Izuna.
"Kau pergi keluar?!" balas Shiro dengan nada kesal.
"Hanya sebentar! Untuk mengambil obat itu saja" jawab Izuna agak takut.
"Kenapa tangan dan kakimu diperban?" Shiro memandangnya dengan tatapan sinis.
"Ini… agar terlihat seperti shinobi!" jawabnya dengan jawaban yang telah ia siapkan semalam.
"Apa maksudmu?" tanya Shiro bingung.
"Itu, para shinobi kan sering memakai perban di kaki atau di tangan meskipun bukan untuk menutupi luka. Aku tidak mengerti kenapa mereka memakainya tapi kupikir itu keren" jelasnya dengan cengiran.
Shiro memandangi adik satu-satunya itu dengan tatapan curiga. Sementara Izuna berusaha mati-matian menyembunyikan ekspresi paniknya.
"Apa kau sedang berbohong?" tanyanya sekali lagi.
"Tidak!" jawab Izuna cepat.
"Bagaimana aku bisa yakin?" Shiro masih curiga.
"Ini benar-benar bukan luka! Lihat ini!"
Izuna memukul tangannya beberapa kali untuk membuktikan bahwa itu tak terasa sakit. Kemudian ia melompat-lompat untuk membuktikan bahwa kakinya juga baik-baik saja.
"Aku tidak merasa sakit! Aku hanya ingin terlihat seperti shinobi saja. Seperti yang sudah kukatakan tadi, itu terlihat keren" ucap Izuna dengan senyuman yang menyembunyikan banyak rasa sakit.
"Buang-buang perban saja" ucap Shiro ketus.
"Kan hanya ini saja! Ayolah izinkan aku, latihan saja tidak boleh, setidaknya aku ingin terlihat seperti shinobi. Boleh kan?" Izuna memohon pada kakaknya itu.
"Terserahlah"
Wajah Izuna menunjukkan keceriaan karena jawaban kakaknya itu. Sementara itu Shiro mengambil cangkir yang baru saja diletakkan Izuna di atas meja di dekat kasurnya.
"Bagaimana lukanya?" tanya Izuna.
"Sudah lebih baik" ucap Shiro sambil menyesap tehnya.
"Syukurlah. Kalau begitu, aku mau baca buku dulu" ucap Izuna seraya melangkah keluar.
"Awas saja kalau kau berani keluar rumah" ucap Shiro dingin.
"Tidak akan, aku hanya akan membaca di kamar"
Kemudian Izuna melangkah menuju kamarnya. Ia mengelus pelan lengannya yang tadi ia pukul.
"Untung saja darahnya tidak keluar lagi" batinnya sambil berusaha meredam rasa sakit.
"Tapi sepertinya luka Nii-san sudah membaik"
Kedua sudut bibirnya tertarik dan membentuk senyuman. Ia lalu mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Kali ini ia tak berniat untuk kabur karena ia harus merawat kakaknya. Meskipun sebenarnya ia memiliki kesempatan besar. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada kakaknya, ia takkan memaafkan dirinya itu.
Sorenya, luka Shiro sudah semakin membaik. Ia bahkan sudah mampu bangkit dari kasurnya dan rasa sakitnya tak begitu terasa. Untung saja lukanya sudah hampir sembuh, karena tanaman obat yang diambil Izuna kemarin sudah hampir habis. Tetapi Shiro memutuskan untuk mengambilnya lagi dari tempat persediaan untuk berjaga-jaga.
"Izuna aku mau keluar, jangan pergi kemana-mana atau aku tak akan memaafkanmu. Pintu rumah aku kunci, jangan mencoba kabur" ucapnya dingin.
"Iya aku tidak akan kabur" jawab Izuna.
"Kalau begitu, ittekimasu" ucap Shiro.
"Itterashai" jawab Izuna.
Shiro melangkah keluar dan mengunci pintunya. Kemudian ia berjalan menyusuri pemukiman yang sepi itu. Banyak sekali rumah yang tak ada penghuninya.
"Keadaan seperti ini sangat rawan" batinnya.
Ia menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa ia telah sampai di tujuannya.
"Permisi, aku ingin mengambil beberapa tanaman obat yang seperti ini" ucap Shiro sambil menunjukkan sehelai daun dari tanaman obat yang dimaksud.
"Shiro-sama! Maaf, obat itu sudah habis sejak empat hari yang lalu" jawab penjaga itu dengan sopan.
"Apa? Sudah habis? Tapi tadi adikku bilang ia mengambil obat ini disini" ucap Shiro terkejut.
"Tetapi sejak empat hari yang lalu kami sama sekali belum memasok ulang persediaan obat disini" raut wajah penjaga itu juga berubah menjadi terkejut.
"Kau yakin? Mungkin kau lupa?" tanya Shiro meyakinkan.
"Aku sangat yakin Shiro-sama! Ah, kemarin ada seorang anak kecil datang kemari menanyakan obat itu. Kalau dipikir-pikir wajahnya agak mirip dengan Madara-sama. J-Jangan-jangan itu adikmu?" jelas penjaga itu.
"Lalu, apa yang kau katakan padanya?!" tanya Shiro.
"Sesuai dengan keadaannya, obat itu sudah habis. Tetapi sepertinya dia benar-benar membutuhkan obat itu, jadi dia terus mendesakku. Dan aku bilang obat itu bisa didapat di gunung sana" ucap si penjaga.
"APA?!" teriak Shiro panik.
"B-Berarti dia mendapatkan obat itu dari sana?!"
"Jadi dia mendapatkan obatnya? Aku sudah melarangnya pergi karena tempat itu baru saja menjadi medan perang…" penjaga itupun ikut panik.
"Terima kasih atas infonya" ucap Shiro seraya berlari kembali ke rumahnya.
"Anak itu benar-benar keterlaluan!" batin Shiro kesal.
Shiro membuka pintu rumahnya dengan kasar. Ia segera melangkah menuju kamar adiknya. Pintu kamar itu tak tertutup rapat sehingga member akses kepadanya untuk melihat kedalam. Matanya membelalak melihat apa yang ada di dalam. Raut wajahnya berubah menjadi sangat terkejut.
"Izuna!"
*…To be continued…*
A/N:
Akhirnya selesai juga chapter ini, maaf kalau ini lebih pendek dari sebelumnya. Terima kasih untuk yang udah mau baca ^_^
Sekarang waktunya balas review...
Cindy Giovani: Terima kasih atas pujiannya ^_^ Sikap Madara itu ada alesannya kok...
Hizir Barbarossa: Terima kasih atas pujiannya. Memang rencananya sih Tobirama bakalan jadi antagonis, makanya ada peringatan 'mungkin gak cocok untuk fans klan Senju' XD Soal sikap Madara itu ada alesannya ^_^ Ini udah update, terima kasih udah mau nunggu...
Iru chan: Terima kasih atas pujiannya. Aku akan berusaha nyelesain fic ini meskipun sepertinya masih lama XD Sebenernya ini udah inti-intinya aja kok. Soal interaksi, memang belum sampai disitu. Tapi nanti pasti ada kok. Terima kasih atas masukan dan dukungannya :)
Sekian untuk balasan reviewnya, terima kasih banyak untuk review kalian. Sekarang aku mau bahas sedikit tentang fic ini.
Jadi sebenernya fic ini udah di skip sampai ke inti-intinya aja. Cuma interaksi antara Madara sama Izuna memang belum banyak. Soalnya aku pengen bikin alasan kenapa Izuna jadi adek kesayangan. Jadi harap bersabar. Fic ini kan juga tentang kehidupannya Izuna, jadi gak cuma interaksi sama Madara aja, tapi sama yang lain juga XD Tapi interaksi mereka nanti bakalan jadi dominan sih kayaknya ^_^ Dan soal sikap Madara yang galak banget itu ada alasannya. Dan sikap kaya gitu cuma ke Izuna aja, aku harap kalian mengerti.
Oke segitu aja, terima kasih buat yang udah mau baca sampe sini, buat yang udah review, fav, follow atau untuk yang silent reader juga terima kasih banyak. Sampai jumpa di chapter selanjutnya...
