Journey To The Past
DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto
WARNING : Canon, OOC (?), Typo(s), GAJE, ABAL, etc.
.
.
.
.
Just enjoy the story ^.^
Don't Like? Don't Read.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 4 – Penyelamatan
Udara malam hari ini begitu dingin hingga rasanya seperti menghentikan aliran darah. Tapi udara malam ini tak sedingin ucapan seorang Uchiha Itachi. Ia tak segan menyayat katana-nya pada gadis kecil yang tengah terduduk membelakanginya jika sampai kesabarannya habis. Gadis kecil itu masih bertahan dengan kebisuan. Tapi tak selang berapa lama kemudian, Itachi bisa mendengar isakan kecil dari mulut gadis yang ia kenal dengan nama Sarada itu.
"Kenapa?" tanya Sarada lirih.
Itachi diam meski dia mendengar pertanyaan lirih dari Sarada. Ia masih mempertahankan ekspresi dinginnya meski dahinya sedikit berkerut.
"Kenapa begini?" kedua tangan Sarada terkepal erat, "Kenapa kau membunuh mereka semua?!"
Kedua netra hitam Itachi melebar tatkala Sarada berteriak sambil membalikkan badannya. Yang membuatnya terkejut adalah kedua mata Sarada berubah menjadi merah layaknya Uchiha memiliki 1 tomoe – sharingan – bagaimana bisa gadis kecil ini memilikinya?
"K..Kau?" Itachi memundurkan tubuhnya selangkah. Ia tak menyangka jika sebenarnya Sarada adalah seorang Uchiha. Tapi Ia sangat yakin jika dalam anggota klannya, nama Sarada tidak terdapat disana.
Sarada mendecih. Ia bangkit dari duduknya dan menatap nyalang Itachi,"Pahlawan apanya? Kau pembunuh keluargamu sendiri! Aku menyesal sempat mengagumimu. Nanadaime berbohong padaku."
"Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau memiliki mata itu?" Itachi masih menatap tajam keponakannya itu.
"Harusnya kau menjawab pertanyaanku lebih dulu Uchiha-san." Jawab Sarada tegas.
Mereka berdua membiarkan hanya suara angin yang berderu disekitar mereka.
"Tidak ada cara lain. Aku akan melakukannya." Gumam Itachi.
Dengan kecepatan tinggi Itachi mendekat ke arah Sarada, menahan tengkuknya dan menatap tepat ke arah kedua iris kelam Sarada yang sedang mengaktifkan sharingan.
"Tsukuyomi!"
Itachi terpaku saat melihat Sasuke ada di dalam ingatan gadis ini. Sasuke tersenyum bersama seorang wanita cantik di sebelahnya yang sedang mengulurkan tangan pada seorang balita yang mulai belajar berjalan. Lalu ia juga melihat gadis ini memanggil Sasuke 'Papa' dan berlari kencang memeluk Sasuke yang baru saja pulang dari misi.
Itachi menghentikan genjutsu-nya, membuat Sarada terengah-engah dan wajahnya terlihat pucat.
"Kau…"
"Bunuh saja aku Paman!" teriak Sarada dengan air mata kembali mengalir, "Jadi ternyata kau adalah orang yang membuat Papa menderita selama ini."
Putra sulung Uchiha Fugaku itu akhirnya memahami jika gadis yang berdiri didepannya ini adalah keponakannya sendiri. Pantas saja tadi dia sempat mendengarnya memanggil Sasuke Papa.
"Kenapa kau melakukan ini Paman? Kenapa kau membunuh kakek, nenek, juga semua anggota klan Uchiha? Apa memang hanya untuk menguji kemampuanmu saja?!" suara Sarada terdengar sedih bercampur dengan amarah.
Itachi diam sejenak sebelum berkata, "Itu tidak ada hubungannya denganmu. Kau orang dari masa depan, jangan ikut campur dengan masa lalu."
"Apa kau bilang?!"
Itachi tersenyum amat tipis melihat ekspresi kemarahan keponakannya itu, benar-benar ekspresi adiknya. Ini adalah anugerah dari Kami-sama yang memberinya kesempatan untuk bertemu keponakannya.
Sarada yang sudah dipenuhi dengan kekesalan beringsut maju hendak melukai Itachi dengan pukulan mematikan yang menjadi andalannya. Tapi dengan cepat juga Itachi berpindah tempat ke belakang Sarada dan memukul tengkuknya dengan keras hingga membuatnya pingsan. Dengan sigap Itachi menahan tubuh Sarada yang limbung agar tidak membentur tanah, lalu menyandarkannya pada sebuah pohon besar di kompleks Uchiha.
"Jadi yang kulakukan akhirnya tidak sia-sia." Ucap Itachi seraya mengelus lembut pipi keponakannya, "Maafkan Paman harus melakukan ini. Aku berharap kau segera kembali ke masa depan." Tukasnya sambil menyentil pelan dahi lebar Sarada.
Itachi tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Terkejut sekaligus merasa lega karena adiknya – Sasuke – nantinya bisa melanjutkan hidup. Ia tak peduli dengan apa yang terjadi nantinya selama ia tahu bahwa Sasuke pada akhirnya tetap bisa menjadi ninja Konoha. Adik satu-satunya itu bahkan telah berkeluarga.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Sarada"
Putri Uchiha Sasuke itu bisa mendengar ada suara pelan sedang memanggil namanya, tapi entah mengapa kedua matanya sulit untuk dibuka.
"Sarada?"
"Ngh…" Sarada akhirnya bisa membuka iris kelamnya, "Shin? Di..dimana ini?"
Shin menghela napas lega akhirnyan teman seperjalanannya ini bangun juga. Setelah sempat panik setengah mati ketika tengah malam ia terbangun untuk buang air kecil tak mendapati Sarada di kamar penginapan mereka. Shin langsung menyusuri Konoha semalaman dan akhirnya menemukan Sarada di kompleks Uchiha yang mulai dijaga ketat oleh Anbu dan Jounin. Shin memang tidak tahu alasan pastinya, ia hanya bisa mendengar tentang pembantaian.
"Syukurlah kau sadar juga." Shin langsung memasang wajah masam, "sebenarnya apa yang kau pikirkan huh? Aku khawatir sekali saat kau tidak ada dipenginapan dan malah menemukanmu di kompleks Uchiha. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Pandangan Sarada mendadak kosong setelah dipaksa kembali pada ingatan semalam yang telah terjadi. Ia pergi ke masa lalu bermaksud untuk bisa menghentikan kudeta, tapi sebelum sempat melakukan apapun, pembantaian keluarganya terlanjur terjadi. Dan ironisnya pelaku yang tak pernah terpikirkan olehnya adalah Pamannya sendiri – Uchiha Itachi.
Shin mengernyit tak mendapati jawaban dari Sarada. "Sarada? Ada ap-"
Pertanyaan Shin terpotong saat Sarada memeluknya erat dan menangis sejadi-jadinya. Shin yang terperangah berusaha menenangkan Sarada.
"Kenapa Paman melakukan itu, Shin? Kenapa mereka membunuh semuanya kecuali Papa?" suara Sarada terdengar parau.
"Tenangkan dirimu Sarada. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya mendengar dari beberapa Anbu soal pembantaian." Shin memegang bahu Sarada dengan lembut, menatapnya iba.
Setelah bisa menenangkan diri Sarada mulai bercerita kejadian semalam. Shin sendiri ikut terkejut mendengar ternyata pelaku pembantaian adalah Uchiha Itachi yang notabene orang yang ia kagumi juga. Semua yang didengarnya terdengar mustahil dilakukan orang sebaik Itachi, tapi Sarada juga tidak mungkin berbohong mengenai hal ini.
Setelah Sarada menangis cukup lama akhirnya ia bisa menghentikan tangisannya, Shin berinisiatif untuk membeli makanan dan minuman hangat untuk rekan seperjalanannya itu. Wajahnya memerah tapi bibirnya pucat. Itu wajar Karena semalaman Sarada tidur di dalam hutan, belum lagi efek genjutsu.
"Aku akan segera kembali. Jangan kemana-mana ya?" Sarada mengangguk lemah. Tatapan matanya masih terasa kosong bagi Shin.
Bocah hasil kloningan ini mempercepat langkahnya ke arah penginapan setelah mendengar ada salah seorang jounin yang menanyakan keberadaannya pada penjual di mini market. Shin bisa melihat dengan jelas, gambar yang dibawa jounin itu adalah gambar dirinya dan Sarada.
Shin menggerutu dalam hati, tampaknya ia memang tidak bisa berlama-lama lagi disini. Ia yakin cepat atau lambat identitasnya dengan Sarada pasti akan segera diketahui orang Konoha. hal itu bisa mengacaukan segalanya. Mengacaukan masa depan.
"Sarada bangunlah…"
Sarada yang kelelahan menunggu Shin datang tanpa sadar tertidur terkejut melihat wajah Shin yang terlihat panik. Ia berusaha bangun dari tidur nyenyaknya.
"Shin? Ada apa?"
Shin berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan."Kita harus segera kembali ke masa depan. Salah seorang jounin Konoha sepertinya mengetahui identitas kita sebagai anak panti asuhan adalah palsu."
Onyx Sarada membelalak. "Tapi Shin-"
Shin menggeleng kuat. "Tidak Sarada. Tolong jangan menolakku. Kita bisa dalam bahaya jika sampai tertangkap. Bukan hanya penjara menanti kita, tapi kita bisa mengacaukan masa depan!"
Sarada tersentak. Ada benarnya juga yang dikatakan Shin. Meski sebenarnya ia masih penasaran dengan yang terjadi di masa lalu, tapi ia juga tidak ingin membahayakan dirinya dan orang lain karena keinginan egoisnya semata.
Shin memegang lembut kedua bahu Sarada. "Pikirkanlah ayah dan ibumu kalau sampai terjadi sesuatu padamu."
Sarada terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah, aku akan berkemas."
Shin tersenyum lega mendengar jawaban putri Uchiha Sasuke itu. Mengingat Sarada akan bersikeras mengenai keinginannya berpetualang di masa lalu. Shin tak peduli jika dirinya yang ditangkap, tapi tidak dengan Sarada. Dalam hati ia berjanji akan melindungi keponakan dari orang yang diidolakannya.
Setelah berkemas, Shin dengan segera menyelesaikan administrasi penginapan. Kemudian kedua bocah dari masa depan itu bergegas ke hutan perbatasan Konoha tempat mereka pertama kali datang dari masa depan. Shin berusaha mempersiapkan chakra dalam jumlah yang besar untuk melakukan jikugan ninjutsu kembali ke masa depan.
"Jadi benar kalian bukan anak panti asuhan?"
Sarada dan Shin sama-sama terkejut mendengar suara itu. Shin langsung kehilangan konsentrasinya mengumpulkan chakra, secepat kilat berdiri di depan Sarada membentangkan tangan kirinya melindungi Sarada sedangkan tangan kanannya memegang kunai.
"Ka..Kakashi-jisan?" Sarada terperangah. Bagaimana pun ia tak akan melupakan sosok didepanya yang mengenakan masker. Guru dari hokage ketujuh dan ayahnya sendiri – Hatake Kakashi.
"Sarada kau mengenalnya?" tanya Shin setengah berbisik tanpa mengurangi kewaspadaannya. Bagaimanapun lawan didepannya adalah seorang jounin.
Sarada mengangguk. "Dia guru Nanadaime, ayah juga ibuku."
Shin menelan ludahnya kasar. Ia tahu jounin di depannya sudah pasti sama hebatnya dengan Uchiha Sasuke. Ini tidak akan mudah melawannya, tapi ia akan berusaha sekuat tenaga agar lolos dari tangkapan pria bermasker ini.
"Aku hanya ingin bicara. Tolong jangan mempersulit tugasku dengan berusaha lari." Kata Kakashi tanpa melepas pandangannya pada kedua bocah di depannya.
Shin berusaha tenang sambil terus berkosentarsi mengumpulkan chakra diam-diam. Ia tahu pria berambut perak ini tidak bermaksud jahat, apalagi dia adalah mantan guru ayah Sarada. Tapi mengatakan yang sebenarnya juga bukan pilihan yang baik. Hal itu bisa mengacaukan keadaan di masa mendatang.
"Sarada, jangan lepaskan tanganmu dariku. Dalam hitungan ketiga, kita akan berpindah dimensi." Ucap Shin pelan, dibalas anggukan oleh Sarada.
"Satu…"
"Dua…" Shin memejamkan kedua matanya.
Kakashi menghela napas berat saat tak mendapati tanggapan apapun dari kedua bocah yang dicurigai sebagai penyusup. Meski sejujurnya ia tak merasakan adanya niat jahat dari kedua bocah ini. Tugas tetaplah tugas. Sandaime memintanya untuk mendapatkan informasi dari mereka.
"Ikut denganku. Aku tidak akan melukai kalian ber-"
"Tiga….KAMUI?!"
Kakashi terperangah melihat salah satu dari anak itu, memiliki sharingan bahkan mangekyou sharingan. Dan mereka menghilang dari hadapannya menggunakan jikugan ninjutsu. Kakashi sampai kehilangan kesempatan untuk menangkap mereka berdua.
"Bagaimana bisa…? Bukankah Itachi telah membantai seluruh anggota klannya kecuali adiknya?" tanyanya pada diri sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Tadaima"
Seorang wanita yang sedang mengenakan apron berwarna hijau tosca, langsung menghentikan kegiatannya menyiapkan makan siang ketika mendengar seruan yang berasal dari depan rumahnya. Ia begitu bersemangat melangkahkan kaki-kaki jenjangnya menuju ruang tamu.
"Ah…Okaeri Sasuke-kun"
Sakura – nama wanita itu – tak menyadari jika suaminya hampir saja terjungkal karena ia menerjangnya dan memeluknya sangat erat. Untung saja Sasuke – suaminya – punya refleks yang bagus. Ia sendiri tak bisa menahan senyumnya ketika Sang istri memeluknya begitu erat. Sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu, jika pelukan Sakura terkadang membuatnya sesak sekaligus bahagia disaat yang bersamaan.
Sasuke hanya bisa membalas pelukan istrinya dengan satu-satunya tangan yang tersisa sejak perang dunia shinobi ke-4. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga merindukan istrinya. Padahal misinya hanya satu minggu.
"Dimana Sarada?" tanya Sasuke sembari melepas pelukan Sakura.
"Sebentar lagi pulang. Mungkin sedang latihan di dekat sungai Nakano." Sakura membantu membawakan tas Sasuke dan melepas jubah biru gelapnya. "Akan segera aku siapkan air hangat untukmu mandi. Setelah itu kita makan siang bersama."
"Hn" Sasuke menjawab dengan gumaman khasnya. Ia tak lagi banyak bertanya, karena yang ingin ia lakukan saat ini adalah segera mandi dan mengisi perutnya yang meraung minta diisi.
Sasuke merasa badannya terasa lebih segar dan nyaman setelah mandi, dengan mengenakan kaos biru gelap dengan lambang uchiha dipunggungnya dan celana panjang. Ia sudah bersiap duduk di ruang makan bersama Sakura. Tak berselang lama kemudian, Sarada – putrinya – baru saja pulang dari latihan solonya.
Sakura segera meminta Sarada untuk mandi dan bersiap makan bersama dengan ayahnya juga. Dari kejauhan Sasuke menatap intens putrinya itu. Ada yang aneh, pikir Sasuke. Bukan wajah datar yang menjadi ciri khas yang diturunkannya, tetapi chakra Sarada terasa aneh baginya.
Belum sempat Sarada melangkahkan kakinya ke tangga menuju kamarnya, Sasuke mencekalnya. Membuat Sarada menatap kaget ayahnya itu. Sakura sendiri yang masih menata piring di meja makan ikut terperangah.
"Pa..papa? Ada apa?" tanyanya gugup.
Sasuke terdiam sejenak sebelum menjawab, "Siapa kau?"
"Anata, ada apa ini?" Sakura beringsut mendekati keduanya dengan gusar. Ia tidak mengerti apa yang membuat suaminya menatap tajam putrinya seperti itu, apalagi sampai mengaktifkan sharingan-nya. Dia yakin bukan karena menunggu kepulangannya yang terlalu lama kan?
Melihat Sarada yang malah menghindari pertanyaan ayahnya, membuat Sasuke refleks memukul tengkuk putri satu-satunya itu hingga terjatuh.
"Sasuke-kun! Apa yang-" pekik Sakura.
BOFF
Dalam hati Sasuke mendesah lega, tadinya ia pikir putrinya ini adalah salah seorang musuh yang berniat mencelakai istrinya dengan menyamar sebagai Sarada. Tapi untuk apa Sarada membuat bunshin? Pergi kemana dia?
"Bu..bunshin?" Sakura menatap tak percaya. Pantas saja ia merasa ada yang berbeda dengan putrinya beberapa hari ini.
"Sakura" Sakura menoleh cepat ke arah suaminya, "Sudah berapa lama Sarada terlihat aneh?"
"Dua atau tiga hari belakangan ini. Tapi untuk apa dia melakukan ini, Sasuke-kun?" wanita berhelaian merah jambu itu tak habis pikir kenapa putrinya melakukan ini.
Sasuke diam. Ia mencoba berpikir jika putrinya tidak mungkin diculik, tapi ia sengaja membuat bunshin untuk melakukan sesuatu. "Aku akan ketempat Naruto untuk meminta bantuannya."
"Aku ikut."
Sasuke menggeleng. "Tetaplah di sini. Aku akan membawa kembali putri kita."
Sejujurnya Sakura kurang setuju dengan ide suaminya, tapi ia tahu suaminya hanya tak ingin membuatnya cemas juga. "Baiklah, cepatlah kembali."
"Hn"
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
BRUK
Pantat gadis kecil itu mendarat mulus ke tanah, membuat putri Uchiha Sasuke itu meringis. Sarada mendecak kesal. Lagi-lagi kejadian berpindah waktu selalu barakhir seperti ini. Mungkin juga karena rekan satu timnya itu belum terlalu handal menggunakan jutsu perpindahan.
"Uhuk..Uhuk…"
Mendengar suara rekan seperjalanannya terbatuk-batuk membuat Sarada berhenti mengeluhkan pantatnya yang terasa sakit. Dan bergegas ke arah Shin yang batuk berdarah.
"Astaga Shin! Kau berdarah?" Sarada dengan sedikit panik mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan darah dari mulut Shin. Kemudian mengalirkan chakra kehijauan ke arah dadanya.
"Ma..maaf, Sarada…"
Sarada mendecak kesal. "Kenapa kau harus minta maaf?! Kau seperti ini karena salahku. Sudah jangan banyak bicara dulu, biar aku berkosentrasi mengobatimu." Shin yang diomeli rekannya itu hanya mengangguk sambil memaksakan senyum.
"Shin, apa kita sudah ada pada waktu yang benar?" tanyanya setelah selesai mengobati Shin.
Gadis berkacamata itu nampaknya tak begitu yakin dengan lingkungan yang dilihatnya. Hutan ini berbeda dengan hutan diperbatasan Konoha yang biasanya menjadi salah satu tempat favorit latihannya.
"Entahlah. Tapi aku rasa belum. Saat akan melakukan kamui aku belum mengumpulkan cukup chakra, karena itu aku sampai terluka memaksakan diriku." Jawab Shin.
"Begitu…"
"Tenang saja Sarada. Aku akan kembali berkosentrasi mengumpulkan chakra untuk kita-"
"BAKA! Tubuhmu butuh istirahat. Sudah jangan pikirkan masalah kembali ke masa depan, yang terpenting kita sudah selamat dari kejaran Kakashi-jisan." Potong Sarada sewot.
Iris kelamnya melirik ke kanan dimana Shin tengah tertidur pulas sejak setengah jam yang lalu. Dalam hati ia benar-benar merasa bersalah sudah melibatkan bocah panti asuhan Konoha itu karena rasa penasaranya yang konyol. Tapi ia sekarang jadi tahu siapa pembunuh seluruh klannya di masa lalu. Hatinya kembali sesak. Rasanya ia masih saja sulit percaya jika pamannya yang melakukan itu semua.
Sarada memutuskan untuk pergi mencari kayu bakar dan mencari ikan di sungai. Dari tempat mereka beristrirahat, dia bisa mencium aroma air sungai. Setelah berjalan tak lebih dari 20 menit akhirnya Sarada menemukan sungai yang begitu jernih sehingga memudahkannya untuk menangkap ikan.
"Sasuke-kun!"
Sarada hampir saja mendapatkan tangkapan ikan keduanya jika saja ia tak mendengar dengan jelas nama yang begitu familiar ditelinganya. Dan meski samar ia yakin bahwa suara itu adalah suara ibunya. Gadis berkacamata itupun memutuskan menghentikan sejenak kegiatannya dan mendekat ke asal suara itu.
"Ternyata kau Sakura"
"Aku sudah meninggalkan Konoha. aku akan ikut denganmu." Ucap Sakura penuh keyakinan.
Perlahan Sasuke mengurungkan niatnya membunuh Karin dengan chidorinya dan lebih memilih menanggapi perkataan Sakura. "Apa untungnya bagiku jika kau ikut bergabung? Apa yang kau rencanakan?"
"Aku tak merencanakan apapun. Sejak kau meninggalkan Konoha, aku tak pernah melupakanmu." Jawab Sakura.
Sasuke masih diam. Tapi iris kelamnya mencoba menerka kesungguhan perkataan mantan rekan satu timnya itu.
"Aku akan lakukan apapun yang Sasuke-kun mau. Aku tak mau menyesal lagi." Kata Sakura lagi. Ia tahu jika bukan perkara mudah meyakinkan Sasuke.
"Dan kau tahu apa yang aku inginkan?"
"Aku tak peduli apapun yang kau-"
"Aku ingin menghancurkan Konoha, itulah yang kuinginkan." potong Sasuke cepat, "Apa kau bisa menghianati Konoha untukku?"
Sakura tersentak beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk, "Ya, jika memang itu yang kau mau."
"Kalau begitu buktikan." Sasuke menunjuk wanita yang terbaring dibawahnya, "bunuh dia untukku, lalu aku akan percaya padamu."
Emerald Sakura melebar, lalu mengeluarkan kunai dari pocket dibalik jubah putihnya. "Siapa dia?"
"Anggota tim taka yang kubuat. Seperti yang kau lihat, dia sekarang sudah tidak berguna. Sakura, kau ninja medis kan? Jadi tak masalah bagiku, kau bisa menggantikannya." Jawab Sasuke dingin.
Gadis bersurai pink itu berjalan perlahan mendekat ke arah Sasuke. Tangannya yang memegang kunai bergetar. Sakura berpikir gadis tak berdaya ini tak ada hubungannya dengan semua ini. Haruskah dia mati ditangannya?
"Kenapa Sakura? Kau tidak bisa melakukannya?" tanya Sasuke menatap ragu Sakura.
Sasuke mulai berpindah ke belakang Sakura dan mengaktifkan chidorinya. Dan mengarahkannya ke Sakura.
"Hentikan Sasuke" rintih Karin membuat Sakura menyadari bahwa Sasuke berniat membunuhnya.
"SHANNARO?!"
BRAKKK
Sarada tidak tahu apa yang membuatnya senekat ini. Melihat ibunya dalam bahaya, tubuhnya refleks melompat ke arah jembatan dan memukul tanah dengan keras hingga membuat retakan yang cukup besar, demi menggagalkan niat ayahnya membunuh ibunya.
Sasuke sendiri refleks melompat ke belakang menghindari pukulan luar biasa Sarada. Setelah debu bertebangan diantara mereka hilang, barulah ia sadari jika seseorang yang menghalanginya adalah gadis yang seingatnya pernah ditemuinya dulu di hutan bersama kakaknya.
"Kau…"
Sarada berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal, "Aku tidak akan membiarkan Papa menyakiti mama."
Sasuke membelalak mendapati sharingan dengan tiga tomoe dikedua mata hitam Sarada. Begitu juga dengan Sakura yang berada dibelakang Sarada. Ia tidak tahu apa motif gadis didepannya ini menyelamatkannya dengan menganggapnya sebagai ibunya. Hell, Sakura belum menikah, apalagi melahirkan anak. Dan lagi, apa katanya? Sasuke adalah Papanya? Itu artinya…. Wajah Sakura mendadak semerah tomat.
"Apa maksudmu dengan 'Papa'?" tanya Sasuke.
Sarada merutuk dalam hati. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk memanggil Sasuke dengan sebutan 'Papa' tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur mengatakannya.
"Lu..lupakan itu. Yang jelas aku tidak akan membiarkanmu membunuh wanita ini." Kilah Sarada.
"Aku tidak segan membunuh siapapun yang menghalangiku." Kata Sasuke mulai kembali mengaktifkan chidori-nya.
"Aku tidak tahu kau siapa, tapi terima kasih sudah menolongku." Kata Sakura yang masih bingung dengan gadis yang menurutnya mirip Sasuke. Ditambah lagi dia memiliki sharingan, fakta ini semakin membuatnya pusing. Setahunya klan Uchiha hanya tinggal Sasuke yang tersisa, lalu apa gadis ini salah satunya juga yang selamat?
"Pergilah. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Sasuke bukan lawanmu." Tambah Sakura.
Sarada menggeleng kuat. "Aku akan tetap membantumu." Aku tidak mungkin meninggalkanmu mama.
Sarada tak habis pikir mengapa ayahnya justru ingin membunuh ibunya. Apa salah ibunya? Bukankah seharusnya yang ingin ia bunuh adalah Pamannya? Fakta baru ini semakin membuatnya bingung.
Sasuke melaju dengan kecepatan tinggi bersiap menyerang Sarada. Ia tak peduli meski nyata-nyata gadis di depannya memiliki sharingan. Siapapun yang menghalangi tujuannya menghancurkan Konoha adalah musuhnya.
Kejadiannya begitu cepat, saat Sasuke sudah sangat dekat dengan Sarada tiba-tiba saja ada yang menendang wajahnya cukup keras hingga terlempar beberapa meter jauhnya. Tapi Sasuke dengan cepat berusaha bangkit dan melihat siapa yang mengganggunya kali ini?
"Shin?" Sarada terperangah. Bukankah temannya ini masih beristirahat tadinya? Bagaimana bisa dia menemukannya disini?
Shin menatap kesal Sarada."Bukankah sudah kubilang jangan ikut campur dalam masa lalu?"
"I..itu…" Sarada tak sanggup menatap Shin yang terlihat sangat kesal padanya.
"Lagi-lagi pengganggu… kalian orang Konoha memang harus dimusnahkan." Kata Sasuke menatap nyalang Shin juga Sarada.
Shin menyadari keadaan sudah semakin memburuk. Dia dan Sarada harus segera pergi dari sini. Dengan cepat ia menarik tangan Sarada dan membawanya pergi dengan kamui.
Tak lama kemudian Kakashi datang menyelamatkan Sakura.
"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Kakashi sambil melihat keadaan sekitar yang mengenaskan. Ada satu gadis yang terluka parah dan jembatan yang nyaris rusak. Sudah pasti ini ulah Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Sasuke dan Tobi lebih memilih untuk tidak terlibat lebih jauh dengan Kakashi dan yang lainnya. Mereka pun kembali ke markas Akatsuki. Meski begitu, adik dari Uchiha Itachi itu sama sekali tidak bisa mengenyahkan pikirannya dari gadis bernama Sarada yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu. Seharusnya saat ini mereka terlihat seumuran, tapi nyatanya tidak ada yang berubah dari gadis itu. Mungkin masih terlihat seperti anak usia akademi, antara 6 – 7 tahun. Tapi bukan itu yang menjadi ganjalannya. Sharingan. Gadis bernama Sarada itu adalah seorang Uchiha adalah fakta yang tidak bisa diacuhkan begitu saja kan? Apa memang Sarada sebenarnya adalah seorang Uchiha? Bukankah kakaknya telah menghabisi nyawa seluruh klannya kecuali dia?
"Bukankah sudah kubilang untuk lebih bersabar Sasuke?"
Sasuke tersadar dari lamunannya setelah mendengar teguran Tobi yang menatapnya kesal. Ia sudah memperingati saudara sesama Uchihanya itu untuk segera kembali ke markas setelah membunuh gadis berambut merah yang ada disana.
"Aku ingin mata Itachi." Ucap Sasuke tak menghiraukan keluhan Tobi.
"Akhirnya kau memutuskannya. Kau berlebihan menggunakan Susanoo. Aku tahu kau hampir kehilangan penglihatanmu. Ini waktu yang tepat."
"Lakukan segera transplantasi mata."
"Kenapa begitu terburu-buru?"
"Akan kugunakan kekuatanku untuk melenyapkan Naruto. Itu saja." Jawab Sasuke singkat.
"Hm…sekarang kau sebaiknya istirahat untuk memulihkan tenagamu, sementara aku akan menyiapkan untuk operasinya."
Sasuke hanya menjawab dengan diamnya dan segera memasuki salah satu kamar di markas tersebut. Tobi tak melepaskan pandangannya sampai Sasuke benar-benar masuk ke dalam kamar.
Tobi melihat melalui ekor matanya saat menyadari kedatangan Zetsu putih. "Kau merekam setiap kejadiannya kan?"
Zetsu mengangguk. Ia memang diperintahkan Tobi untuk terus mengawasi Sasuke tanpa disadari Sasuke sendiri. "Tentu."
"Ceritakan padaku semuanya."
Zetsu tertawa kecil." Kau pasti akan terkejut mendengarnya atau mungkin kau malah senang."
"Apa maksudmu?" tatapan Tobi berubah mengintimidasi.
"Saat Sasuke berusaha menghabisi salah seorang kunoichi Konoha itu, tiba-tiba saja ada gadis seumuran murid akademi datang menyelamatkannya. Dan yang lebih mengejutkan adalah gadis itu memiliki sharingan. Itu artinya ada satu orang lagi yang selamat selain Sasuke kan?" jelas Zetsu panjang lebar.
Onyx Tobi melebar. Ia yakin jika sudah membunuh setiap anggota klan Uchiha. Atau mungkin Itachi sengaja tidak menghabisi yang satu itu?
"Aku tahu kau pasti merasa ini aneh. Gadis itu bahkan memanggil Sasuke dengan sebutan 'Papa' meski dia sempat menyangkalnya." Lanjut Zetsu. "Apa yang akan kau lakukan?"
Tobi terdiam sesaat, lalu menjawab, "Habisi dia. Aku tidak ingin ada yang mengacaukan rencana yang telah kususun sempurna."
Zetsu mengangkat bahu."Kulakukan sesuai perintahmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Teme, kau yakin akan mencarinya sendiri?"
Entah sudah berapa kali Hokage ketujuh itu terus menanyai sahabat sekaligus rivalnya – Uchiha Sasuke. Beberapa saat yang lalu pertama kalinya sejak beberapa tahun Naruto melihat wajah Sasuke yang panik meski tak terlalu kentara, tapi kerutan di dahinya sudah mengindikasikan hal itu. Sasuke meminta bantuannya untuk mengaktifkan mode sannin untuk merasakan chakra Sarada di Konoha, semula ia heran karena tak biasanya sahabatnya itu sampai meminta bantuannya hanya untuk mencari Sarada. Tapi setelah mendengar cerita lengkapnya, Naruto jadi ikut cemas memikirkan anak dari sahabatnya itu. Meski dunia sudah damai tapi tidak dipungkiri justru musuh yang tak terlihat akan memanfaatkan keadaan ini bukan?
"Aku bisa ikut-"
"Kau tetaplah di sini Nanadaime." Potong Sasuke cepat, membuat Naruto mempoutkan bibirnya. Ini bukan pertama kalinya Sasuke menolak permintaannya. Dulu waktu sewaktu mencari musuh selain Kaguya juga Sasuke bersikeras agar Naruto tetap di Konoha, dan dia sendiri yang akan mencari musuh itu.
Naruto menghela napas berat. "Baiklah, tapi jika kau butuh bantuanku kirim saja kuchiyose kemari."
"Hn"
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Shin aku benar-benar minta maaf…" ucap Sarada selembut mungkin. Ia menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar merasa bersalah karena selalu melibatkan Shin yang bahkan masih belum pulih benar dalam sebuah masalah.
Shin masih keukeuh diam. Ia terus saja membolak-balik ikan yang sudah 15 menit lalu dibakarnya diatas api unggun. Dia tidak membenci Sarada, ia hanya cemas karena Sarada begitu nekat ikut campur dalam masa lalu meski dirinya sudah berulang kali bilang 'jangan ikut campur apapun yang terjadi'.
Lama kelamaan Sarada merasa kesal juga didiamkan selama ini. Dia langsung berdiri dan menunjuk Shin.
"Kau pikir bagaimana perasaanku, saat melihat ibuku dalam bahaya hah?! Kau yang tidak punya orang tua tidak akan mengerti hal itu!" ucap Sarada setengah berteriak. Ia tidak sadar jika ucapannya itu sedikit menyakiti partner seperjalannya.
"Bukankah sudah berkali-kali kubilang jangan ikut campur dengan masa lalu?! Tidak ada untungnya kau berusaha mengubah masa lalu kan?" balas Shin tak kalah sengit.
Sarada tertohok. "Tidak ada untungnya? Jadi aku harus diam saja saat melihat ayahku membunuh ibuku? Begitu?"
"Ibumu. Tidak. Akan. Mati." Jawab Shin penuh penekanan disetiap katanya.
"Oh ya? Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
"KAU." Sarada tersentak saat Shin membentaknya, "Kau adalah bukti bahwa ibumu tidak akan mati saat itu. Kalau ibumu tiada, sudah pasti kau tidak akan lahir ke dunia ini kan?"
Putri Uchiha Sasuke itu langsung terdiam mendengar perkataan Shin. Mulutnya yang sempat ingin membalas Shin langsung terkunci. Ia menyadari jika yang diucapkan Shin benar adanya.
Hening.
"Aku menyetujui permintaanmu kembali ke masa lalu, karena kupikir mungkin kau ingin bertemu dengan keluarga ayahmu. Itu saja." Kata Shin getir. Ia memang tidak terlalu mengerti dengan kasih sayang karena sebelumnya dia hanya menerima perintah dan melaksanakan perintah seseorang yang dipanggilnya 'Ayah'. Tapi penilaiannya berubah setelah bertemu dengan Kabuto – pengurus panti asuhan – yang mengajarinya banyak hal, termasuk memahami perasaan orang lain.
Baru saja Sarada akan menanggapi kata-kata Shin, tiba-tiba ada sebuah kunai dengan benang melesat ke arah mereka dan mengikat mereka berdua sekaligus dengan kuat.
"Akhirnya kalian tertangkap juga. Kalau bukan karena Sakura, aku pasti harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan kesempatan emas ini."
Sarada dan Shin membelalak ketika mendapati bahwa orang yang menangkap mereka adalah tak lain Hatake Kakashi.
"Sudah berapa tahun aku mencari-cari kalian berdua ya? Aku salut dengan kelihaian kalian bersembunyi selama ini." Kata Kakashi tanpa melepaskan pengawasan dari dua bocah berbeda warna rambut itu.
"Kami tidak bermaksud jahat pada Konoha, Kakashi-jisan." Shin berinisiatif membuka pembicaraan lebih dulu.
"Wah…kau tahu namaku rupanya. Benarkah? Lalu kenapa waktu itu kalian lari? Bukankah sudah kubilang aku tidak akan menyakiti kalian?" tanya Kakashi bersidekap.
"Itu…" Shin mengalihkan pandangannya, "Kami tidak bisa memberitahukannya."
"Itu berarti kau berniat buruk pada Konoha."
"TIDAK!" teriak Sarada tanpa sadar, "mak…maksudku, temanku mengatakan yang sesungguhnya."
Kakashi mendesah lelah. Sepertinya ia memang harus menyerahkan dua bocah ini kepada divisi interogasi saja. "Kalau begitu kalian tidak memberikanku pilihan selain menyerahkan kalian pada divisi interogasi. Asal kalian tahu saja ya… Mereka akan menggunakan cara apapun sampai mendapatkan informasi yang mereka mau."
Mendadak Shin dan Sarada kesulitan hanya untuk sekedar mengambil nafas. Mereka sudah membayangkan siksaan yang akan mereka dapatkan jika mereka sampai diserahkan pada divisi interogasi. Shin mungkin bisa tahan dengan segala siksaan itu, tapi Sarada, ia tidak bisa membayangkan melihat Sarada disiksa mereka. Shin merasa ia tidak punya pilihan lain.
"A..aku mohon jangan lakukan itu." Pinta Shin dengan pandangan memohon, "Tapi tolong jangan katakan hal ini pada orang lain lagi."
Kakashi nampak mempertimbangkan permintaan anak laki-laki bersurai mirip sepertinya. Ia mendesah lelah. "Baiklah. Lagipula pemberi misiku sudah tiada. Tapi misi tetaplah misi. Karena itu aku akan tetap menuntut penjelasan dari kalian."
Shin menarik napas panjang sebelum berujar, "Kami datang dari masa depan."
Kakashi melotot. Astaga! Rasanya begitu sulit dipercaya. Ia tidak tahu apa memang ada jutsu yang bisa melakukan hal itu. Ia memutuskan tetap diam menunggu bocah bernama Shin melanjutkan ceritanya.
"Dia" kata Shin sambil menunjuk Sarada, "…adalah putri dari Uchiha Sasuke."
Kakashi mengerjap lucu. Ia mencoba membersihkan telinganya kalau-kalau barusan ia salah dengar.
Shin memutar bola matanya. "Anda tidak salah dengar, Kakashi-jisan. Dia memang putri Sasuke-jisan dan Sakura-basan."
Onyx Kakashi bergulir menatapwajah Sarada dengan seksama. Kalau dipikir-pikir lagi memang anak perempuan ini perpaduan diantara keduanya, meski dominan lebih mirip Sasuke dari warna rambut dan matanya. Tapi wajah dan dahinya mirip Sakura, terutama senyum ramah itu tidak mungkin diturunkan dari ayahnya.
Kakashi mengelus dagunya. "Hm…kupikir kau memang tidak berbohong." Kakashi tertawa hambar, "Tak kusangka kedua muridku itu akhirnya menikah. Mengingat Sasuke baru saja berniat membunuh ibumu."
Sarada hanya menanggapi dengan senyum pahit. Ia sendiri juga tak menyangka jika ayahnya yang terlihat tenang itu bisa sampai bernafsu membunuh ibunya sendiri.
"Lalu kau sendiri?" Kakashi kembali menatap Shin, "kau memiliki sharingan kan? Apa kau juga anak Uchiha Sasuke?"
Shin menggeleng cepat. "Aku hanya ehm… semacam hasil dari percobaan Orochimaru-sama."
Kakashi mendenguskan tawa. "Mendengar jawaban kalian aku jadi tergelitik untuk bertanya lebih jauh bagaimana keadaanku di masa depan. Tapi…itu tidaklah penting. Aku hanya ingin tahu tujuan kalian pergi ke masa lalu untuk apa?"
"Itu…aku ingin tahu bagaimana ayah dan ibuku bisa bersama. Di masa depan, setiap kutanya tentang itu mereka selalu menghindar." Keluh Sarada mempoutkan bibirnya.
Pria Hatake itu tertawa kecil. Benar-benar ciri khas Sasuke. Menyimpan hal pribadinya serapat mungkin.
"Tapi…" wajah Sarada berubah sedih, "Aku malah melihat sendiri jika Pamanku ternyata pembunuh anggota klan kami."
Tawa Kakashi menghilang dalam sekejap. Ingatannya kembali terlempar pada pembantaian keluarga Uchiha. Tapi Madara sudah mengatakan yang sebenarnya, jika Itachi melakukan itu semua karena misi yang diberikan salah satu petinggi Konoha. Haruskah ia memberitahukannya?
"Jisan?"
Kakashi gelagapan tersentak dari lamunannya, "Setelah ini apa yang akan kalian lakukan?"
"Kami akan segera mengakhiri petualangan ini. Kami akan segera kembali ke masa depan." Jawab Shin.
Kakashi terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa…kami tetap harus ikut Jisan ke Konoha?" tanya Sarada takut-takut.
Kakashi nampak berpikir sejenak, setelahnya ia berkata, "Kurasa aku tidak punya alasan lagi untuk menahan kalian lebih lama. Akan lebih baik jika kalian cepat kembali ke masa depan."
Shin dan Sarada bernapas lega. Mereka berdua menahan Kakashi yang hendak pergi untuk ikut makan ikan bakar yang baru di masak Shin sambil mengobrol ringan. Setelahnya Kakashi pamit, sebelumnya ia sempat berpesan anak-anak dari masa depan itu untuk segera kembali, karena semakin lama disini akan semakin berbahaya.
Belum ada 20 langkah Kakashi pergi meninggalkan tempat itu ia mendengar suara Shin berteriak keras.
"Lepaskan Sarada!"
Sepintas ia bisa melihat Zetsu menyeringai sambil membungkus tubuh Sarada dan membawanya masuk ke dalam tanah.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Sarada membuka kedua matanya dengan susah payah. Ia berusaha membangunkan tubuhnya yang tergeletak di tanah. Menoleh ke sana kemari tapi nihil, keberadaan Shin tidak ia temukan. Bahkan makhluk aneh yang membawanya kemari juga tidak nampak dimanapun.
"Dimana aku?"
Tak lama kemudian Sarada memutuskan untuk kembali berjalan menyusuri hutan untuk mencari Shin.
"Sarada!"
Ketika menoleh ke kanan tak jauh dari tempatnya berdiri Shin tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Sarada terlihat lega sudah menemukan teman seperjalanannya, mempercepat langkahnya.
JRASH
Sedikit lagi Sarada sudah dekat dengan Shin tiba-tiba saja, temannya itu menancapkan kunai di bahunya hingga membuat luka menganga. Sarada sontak melompat mundur mengambil jarak karena Shin kembali akan memukulnya.
Dengan cepat Sarada melepas kunai yang menancap cukup dalam di bahunya, dan mengarahkan tangan kanannya untuk mengalirkan chakra medis agar lukanya segera tertutup.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerangku?" Sarada mengaktifkan sharingannya untuk membaca pergerakan lawan.
Shin terkekeh. Ia tidak menjawab malah melesat ke arah Sarada dan terus berusaha menyerangnya. Sarada merasa ada yang aneh dengan chakra Shin. Apa temannya itu dalam pengaruh genjutsu sehingga terus menyerangnya?
Sarada memuntahkan darah ketika Shin memukulnya dengan sangat keras di bagian ulu hati saat Sarada lengah, hingga menabrak sebuah pohon besar. Baru saja putri Sasuke itu mncoba berdiri, tiba-tiba ranting-ranting pohon itu memanjang dan mengikat Sarada hingga tidak bisa bergerak kemana-mana.
Shin berjalan perlahan ke arahnya sambil mengarahkan kunai pada Sarada. Gadis bersurai kelam itu berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari jeratan ranting tapi chakranya telah terkuras habis.
"Matilah kau… Pengganggu."
Sarada menutup kedua netra hitamnya perlahan dalam hati kecilnya ia berharap ada seseorang yang menyelamatkannya dari kebrutalan temannya sendiri. ia tak dapat menahan air matanya lagi ketika mengingat bagaimana jika orang tuanya menyadari jika dirinya yang berada di masa depan adalah bunshin. Putri Sasuke itu yakin jika dirinya mati saat ini otomatis bunshin yang ada di sana akan menghilang dengan sendirinya. Saat ini rasanya percuma mengeluhkan hal yang telah terlanjur terjadi. Mungkin ini memang akhir dari hidupnya.
JRASSSHH
"AAAKKHHH!"
Sarada membuka kedua matanya yang sedari terpejam erat dan mendapati seorang pria yang tak asing baginya sedang berdiri membelakanginya menusuk Shin yang sedari tadi menyerangnya hingga terlempar cukup jauh.
Kedua matanya menyipit melihat anak laki-laki yang dia pikir Shin berubah menjadi makhluk aneh berwarna putih yang menangkapnya sebelum ini. Astaga! Sekarang dia paham mengapa Shin berubah tiba-tiba menyerangnya dengan brutal.
"Pa..Papa…" panggil Sarada lirih.
Ya, sosok lelaki yang menolongnya adalah ayahnya dari masa depan. Mendengar suara putrinya ia hanya menoleh sekilas dan menatap tajam putrinya itu dengan mata sharingan-nya yang aktif.
"Kau…benar-benar menyebalkan."
Satu kalimat itu berhasil membuat Sarada tersentak dan menunduk merasa bersalah. Ia yakin ayahnya pasti cepat atau lambat akan menyadari jika dirinya yang ada di masa depan bukanlah dirinya yang asli. Karena itulah Sasuke mencarinya dan akhirnya menemukannya di sini.
Setelah Shin (palsu) mati, Sasuke membantu melepaskan Sarada dari ranting-ranting yang menjeratnya. Sasuke yang masih membisu membuat Sarada merasa canggung. Ia tahu jika ayahnya pasti menyimpan kekesalan juga kekhawatiran di saat yang bersamaan.
"Sekarang kita pergi dari sini." Titah Sasuke mutlak. Ia mulai mempersiapkan rinnegan-nya untuk berpindah dimensi tapi Sarada menarik lengan bajunya.
"Tu..tunggu dulu Papa" sergah Sarada, "Kita harus mencari temanku dulu. Kami berdua terpisah. Di…dia yang membantuku untuk bisa pergi ke masa lalu."
Sasuke mengernyit memikirkan siapa sosok yang sekiranya bisa membantu Sarada pergi ke masa lalu. Yang jelas dia pasti memiliki doujutsu sepertinya. "Baiklah…"
Sarada hanya bisa menggigit bibir menahan tangis mendengar tanggapan ayahnya yang begitu dingin. Sasuke bahkan tidak menanyakan alasan kenapa dia sampai pergi ke masa lalu tanpa izinnya. Apa sebegitu marahnya?
"SARADA!"
Baru saja pasangan ayah dan anak itu akan melakukan pencarian, Sarada melihat dari kejauhan Shin melambaikan tangannya sambil setengah berlari. Dibelakangnya ada seorang jounin berambut perak yang mengikutinya yang tak asing lagi bagi Sasuke.
Meski terkejut Sasuke masih berusaha mempertahankan tampang stoic-nya. "Kakashi ka?"
Kakashi yang sudah berdiri di hadapan mereka terkekeh. "Kau masih tidak berubah ya? Kau tahu, aku benar-benar tidak menyangka bertemu wujudmu di masa depan."
Bagi Kakashi, Sasuke tetaplah Sasuke. Yang memanggilnya tanpa mengindahkan kesopanan. Tapi meski begitu ia merasa lega muridnya di masa depan bukan lagi seorang buronan. Bahkan telah membangun sebuah keluarga.
Kakashi melirik Sarada yang masih asyik mengobrol dengan teman seperjalanannya yang masih terlihat cemas bukan main saat Sarada ditangkap salah satu Zetsu.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kakashi?" tanya Sasuke yang masih belum memahami bagaimana putrinya ini bisa bertemu dengan Kakashi.
"Seperti yang kau lihat. Putrimu dan temannya itu pergi ke masa lalu dan tinggal di Konoha beberapa hari dengan mengaku mereka adalah anak panti asuhan Konoha. Tapi Sandaime-sama mengetahui jika mereka berbohong, karena itu aku diperintahkan untuk menangkap lalu mengintrogasi mereka." Jelas Kakashi panjang lebar.
"Sarada menceritakan keadaan masa depan padamu?"
Kakashi menggeleng cepat. "Tidak. Aku memang ingin tahu, tapi buatku itu tidaklah penting. Masa depan biarlah jadi rahasia saja. Bukankah begitu?"
"Hn."
Kakashi kembali melanjutkan, "Ah…kecuali satu," Sasuke mengembalikan atensinya pada Kakashi, "Jika kau akhirnya mengakhiri petualangan balas dendammu dan menikah dengan Sakura."
Meski tipis Kakashi dapat melihat rona merah tipis dipipi mantan muridnya itu.
Sasuke berdehem untuk mengurangi kegugupannya. "Sarada kita harus kembali sekarang."
Sarada mengangguk semangat. "Ya, Papa."
Shin menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf sudah membuatmu mengkhawatirkan Sarada. Kau boleh menghukumku, Sasuke-jisan."
Sasuke mendengus. "Tidak perlu. Yang terpenting aku sudah melihat putriku selamat. Itu sudah cukup."
"Sekali lagi maafkan aku. Dan…terima kasih." Ucap Shin sambil menunduk sekali lagi.
"Hn" Sasuke menoleh ke arah Kakashi. "Aku akan pergi sekarang."
"Ya, sebaiknya cepat kembali sebelum keadaan di masa depan kacau." Kakashi menghela napas berat. "Aku yakin Sakura pasti mengkhawatirkan kalian."
"Jaa na" Sasuke tersenyum miring sambil menatap mantan gurunya, "Sensei"
Onyx Kakashi melebar, lalu tersenyum dibalik maskernya. Sasuke dan putrinya beserta temannya telah masuk ke dalam dimensi lain.
"Ini pertama kalinya dia memanggilku 'sensei'." Gumam Kakashi.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Tadaima"
Wanita bersurai bubble gum itu sontak menghentikan langkahnya yang sedari tadi mondar-mandir gelisah menanti kedatangan suami dan putrinya. Ia langsung mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. Dan berhambur memeluk putrinya.
"Sarada, kau ini selalu membuatku khawatir!" kata Sakura setengah mengeluh.
"Mama… terlalu erat." Protes Sarada.
Sakura melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipinya. "Biar saja! Itu hukumanmu."
"Mama…" Sarada malah merasa bersalah saat mendapati air mata sudah mengalir di mata hijau ibunya. "Maafkan aku…" Sarada menghapus dengan lembut air mata yang mengalir dipipi ibunya.
Sakura mengangguk. "Mama, tetap ingin tahu alasanmu menghilang dengan meninggalkan bunshin." Tuntutnya setengah bercanda.
"Tsuma, aku harus segera melapor pada Naruto. Aku sudah janji padanya." Pamit Sasuke dibalas anggukan oleh istrinya.
Sarada masih tetap fokus menatap ayahnya dengan pandangan sendu hingga hilang dari jarak pandangnya. Ayahnya masih tidak mengucapkan apapun padanya.
Malam ini, Sarada begitu antusias menceritakan pengalamannya pergi ke masa lalu. Dan Sakura sendiri menjadi pendengar yang baik. Ia tertawa keras saat mengetahui alasan dibalik perjalanan Sarada ke masa lalu adalah karena penasaran dengan bagaimana akhirnya dia dan Sasuke menikah, sayangnya belum sampai di masa itu, Sasuke sudah menjemputnya pulang.
"Jadi waktu itu kau datang menyelamatkan ibu?"
Sarada mengangguk mantap. "Aku tahu Shin melarangku ikut campur…" tatapan mata Sarada berubah serius, "tapi mana mungkin aku diam saat melihat mama dalam bahaya. Ya kan?"
Sakura tertawa kecil dengan cepat mengecup dahi lebar Sarada yang diturunkan darinya. "Tentu sayang. Tapi apa yang dibilang Shin itu ada benarnya juga" Sakura mengelus lembut surai hitam milik putrinya, "Bagaimana jika kau sampai terluka saat itu?"
Sarada menggembungkan pipinya.
Sakura terkekeh."Mama diselamatkan oleh Kakashi-sensei saat itu."
Tatapan berubah Sarada berubah sedih saat mengingat Sasuke yang ingin membunuh Sakura saat itu. "Tapi apa alasan Papa melakukan itu pada mama? Bukankah seharusnya Papa balas dendam pada Paman Itachi."
Pandangan Sakura menatap langit-langit kamar putrinya. "Saat itu Paman Itachi sudah meninggal dibunuh oleh Papamu."
Onyx Sarada melebar. "Ta..tapi kenapa waktu itu Papa ingin membunuh Mama? Aku juga dengar sendiri jika Papa ingin menghancurkan Konoha."
"Alasan itu sebaiknya kau tanyakan pada Papamu secara langsung. Karena yang mengetahui alasan itu hanya Papamu dan Paman Naruto." Jawab Sakura.
"Kenapa Mama tidak coba bertanya?" tanya Sarada menatap heran Sakura.
Sakura tersenyum tipis."Karena Mama tidak ingin membuka luka lama Papamu."
Sarada mengulum senyum mendengar jawaban ibunya. Ia sudah melihat bagaimana Sakura begitu memuja Sasuke. Sarada jadi semakin yakin jika ayahnya memang sangat mencintai ibunya karena ketulusan cinta yang diberikan Sang ibu. Ia sudah tidak lagi merasa kecewa meski gagal mengetahui bagaimana kisah cinta kedua orang tuanya. Baginya mengetahui keduanya saling mencintai dan menjaga satu sama lain sudah lebih dari cukup.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Hari ini halaman di akademi Konoha sedang dipenuhi oleh para murid angkatan terakhir yang baru saja melaksanakan upacara kelulusan. Diantara murid-murid itu salah satunya termasuk putri semata wayang Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura duduk di tempat para lulusan nampak gelisah. Ia berulang kali menatap ke arah tempat duduk para orang tua lulusan, ia hanya melihat ibunya yang melambaikan tangan begitu bersemangat ke arahnya dengan senyum begitu lebar.
Sarada memaksakan senyum diwajahnya dan balas melambaikan tangan. Bukannya dia tidak senang dengan kehadiran ibunya, hanya saja ada yang kurang tanpa ayahnya. Sasuke mendapat misi mendadak pagi ini untuk mengawal Daimyo ke desa sebelah, hanya misi yang mudah dan tidak memakan waktu yang panjang. Tapi tetap saja di hari spesial ini Sarada ingin di damping kedua orang tuanya.
"Lulusan terbaik tahun ini jatuh kepada…"
Semua wajah tak sabar para orang tua murid ingin mengetahui siapa lulusan terbaik tahun ini.
"Uchiha Sarada."
"SHANNARO!" pekik Sakura tanpa sadar mengacungkan tinjunya tinggi-tinggi membuat beberapa orang tua murid yang ada disekitarnya tak bisa menahan tawa.
Sakura langsung duduk kembali dengan tenang dan tertawa canggung. "Go..gomen…"
"Dasar jidat!" celetuk Ino yang duduk disebelahnya, "tapi selamat ya atas prestasi anakmu. Kejeniusannya benar-benar menurun dari Sasuke-kun ya?"
Sai berdehem.
"Oh…ya ampun Sai. Aku memuji Sarada bukan Sasuke-kun."
Sakura tertawa melihat pertengkaran kecil sahabatnya. Ia kembali melihat ke arah putrinya yang mulai naik ke podium.
"Untuk orang tua dari Uchiha Sarada di harap segera naik ke panggung."
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Sudah hampir setengah jam ia duduk di dekat batu nisan bertuliskan 'Uchiha Itachi'. Putri Uchiha Sasuke itu kembali mengingat kilasan-kilasan kejadian saat ia pergi ke masa lalu. Termasuk alasan mengapa Itachi membunuh seluruh keluarganya kecuali Sasuke.
"Di sini kau rupanya."
Sarada terkejut sempat menoleh ke arah asal suara itu, tapi setelah tahu siapa sosok itu ia kembali memalingkan wajahnya.
Hening panjang menyelimuti mereka.
"Seharusnya Papa tidak perlu kemari. Aku sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku." Ucap Sarada tanpa menatap Sasuke.
Sasuke menghela napas berat. Sudah ia duga jika reaksi putrinya seperti ini. Mirip seperti Sakura yang suka sekali menarik kesimpulan sendiri.
"Aku tadi sudah pergi ke akademi tapi sayangnya datang terlambat. Maaf…"
Sarada masih diam.
"Apa…Papa membenciku?"
"Aku tidak punya alasan untuk itu."
Sarada tertawa perih. "Benarkah? Tapi…Papa bilang aku menyebalkan."
Sasuke mendesah lelah. "Aku pernah kehilangan seluruh keluargaku. Kehilangan Itachi adalah yang terberat, karena aku sempat berpikir jika dia membantai klan Uchiha untuk menghianati desanya tapi ternyata malah sebaliknya." Jeda sejenak, "Dan sejak saat itu aku tidak mempercayai lagi dengan yang namanya ikatan. Tapi ibumu membuatku mempercayai hal itu lagi."
Sarada diam mendengarkan dengan seksama. Sekarang ia paham mengapa Pamannya melakukan itu adalah untuk menghentikan kudeta klan Uchiha terhadap desa.
"Dia meyakinkanku bahwa setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaan dan dia berkata bersedia membantuku untuk mendapatkannya." Lanjutnya dengan senyum tipis. "Aku mengatakan padanya jika dia benar-benar menyebalkan, karena apa yang dikatakan semuanya adalah hal yang mati-matian aku sangkal."
"Jadi karena itu Papa memilih Mama?" tanya Sarada sudah melupakan kekecewaannya pada Sasuke.
"Ya"
Sarada tersenyum lega. Ia tak mengira jika ayahnya yang jarang bersikap romantis bisa mengatakan kata-kata yang begitu dalam. Ia jadi bisa mengetahui sedalam apa ayahnya mencintai ibunya.
Sarada terkekeh kecil mengusap air mata haru yang lolos disudut mata kanannya, membuat Sasuke menatapnya heran.
"Ada apa?"
"Aku jadi tidak marah lagi karena Papa sebut 'menyebalkan'."
Belum sempat Sasuke menanggapinya, Sarada sudah memeluknya erat seraya berbisik, "Aku sayang Papa"
Sasuke tersenyum tipis dan membalas pelukan putri semata wayangnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End
A/N :
Alhamdulilah satu projek sudah selesai *jingkrak-jingkrak gak jelas :D
Saya juga mau ngucapin terima kasih yang sudah review, fav, dan follow cerita ini yang jauh dari kata sempurna.
Saya mau cerita sedikit tentang alasan saya buat fic ini. Terinspirasi dari kehidupan saya pribadi. Saya sering mengeluhkan 'seandainya waktu itu…', sampai akhirnya saya hanya mengahbiskan terlalu banyak waktu untuk menyesali itu, bukannya memperbaiki di masa depan.
Maksudnya, tentang masa lalu memang seharusnya tidak perlu kita pusingkan dan sesali berlebihan. Masa lalu itu ada untuk pembelajaran di masa depan agar menjadi lebih baik.
Seperti di canon-nya. Sasuke yang berubah dari pembalas dendam menjadi pelindung desa dari bayangan, dengan mendukung Naruto yang sudah menjadi hokage. Yang dari dia membenci sebuah ikatan, jadi ingin melindungi ikatan itu. Terutama pada istri (Uchiha Sakura) dan so pasti si cantik Uchiha Sarada :-)
Sampai jumpa lagi di fic lainnya… Jaa Na…. Thank You So much all :*
