Udah lama aku gak update fic ini, maafkan aku karena aku sibuk *alasan* Dan aku butuh perjuangan keras melawan rasa malas untuk update chapter ini dan akhirnya jadi juga *terharu* kalo gitu, langsung aja ke ficnya...

Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, alur gaje, mungkin OOC

Genre: Family, Friendship, Action, Hurt/Comfort, Tragedy

Disclaimer: Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T READ

"Nii-san?!" Izuna terkejut melihat kakaknya yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Apa yang terjadi padamu?" ucap Shiro seraya menghampiri adiknya.

"I-ini… bukan apa-apa" Izuna semakin memundurkan tubuhnya menjauhi kakaknya.

"Yang seperti itu kau bilang bukan apa-apa?!" bentak Shiro penuh amarah.

"A-aku sudah bilang, ini memang bukan apa-apa, tak penting sama sekali!" bantah Izuna.

"Cepat perlihatkan kedua lenganmu! SEKARANG!" ucap Shiro dingin.

Izuna memalingkan pandangannya kearah lain. Ia berusaha untuk tidak mengikuti perkataan kakaknya.

"Izuna, apa kau sudah tuli? Cepat perlihatkan padaku!" Shiro mulai geram.

Ia menatap onyx kakaknya dengan ragu. Pancaran ketakutan terlihat jelas dari matanya. Dengan perlahan, ia mulai menarik kedua lengannya kedepan dan memperlihatkan bekas luka yang semakin parah kepada kakaknya itu. Kedua bola mata Shiro pun membelalak, ia memang sempat melihat itu sebelumnya, tapi hanya sekilas sehingga ia tak tahu kalau lukanya sampai separah ini.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan hah?!" ucap Shiro dengan nada marah sekaligus khawatir.

"Aku, aku baru saja kabur dan terserang oleh shinobi dari klan musuh…" ucap Izuna pelan.

"Tidak usah berbohong! Kau… KAU PERGI KE GUNUNG KAN?!" omel Shiro.

"Aku hanya ingin mencari obat untuk Nii-san…" air mata Izuna perlahan menetes.

"Lalu shinobi menyerangmu di sana?" selidik Shiro.

"Bukan… aku dikejar oleh seekor beruang dan terjatuh dari tebing" jelas Izuna agak takut.

"Bohong!" bentak Shiro.

"Aku mengatakan hal yang sebenarnya!" Izuna berusaha meyakinkan.

Melihat lelehan air mata yang tak behenti dari onyx adiknya, meskipun sedikit, ia merasa iba. Ia pun sedikit meredakan emosinya dan berbicara lebih lembut.

"Lalu mengapa lukanya bisa separah ini? Apakah tebingnya sangat tinggi? Tolong katakan dengan sejujurnya" ucapnya.

"Tidak, tebingnya tidak begitu tinggi" balas Izuna.

"Lalu mengapa bisa sampai seperti ini?" Shiro berusaha menyelidiki.

"I-itu…" sementara itu Izuna bingung mengenai apa yang harus dikatakannya.

"Jangan-jangan kau berbohong ya? Luka separah ini pasti terasa sakit. Sementara tadi pagi, kau terlihat biasa saja saat memukul bagian lukamu. Apa kau melakukan sesuatu pada lukamu? Atau sesuatu terjadi dan membuat lukamu makin parah?" Shiro terus mendesak adiknya.

"Tidak terjadi apapun! Aku hanya menahan rasa sakitnya tadi pagi…" ucap Izuna.

"Yasudah, sana bersihkan lukamu! Aku akan meracik obatnya, sisa obatku sepertinya masih cukup" perintah Shiro tiba-tiba.

"Lalu bagaimana dengan luka Nii-san?" tanya Izuna.

"Lukaku sudah sembuh" balas Shiro singkat.

Akhirnya Izuna membersihkan lukanya dengan air, sementara Shiro sibuk menghaluskan tanaman obatnya. Setelah itu ia membubuhkannya pada setiap luka Izuna dan menutupnya dengan perban. Izuna sedikit terkejut melihat perlakuan Shiro yang seperti ini. Pertama kali dalam hidupnya ia diperlakukan seperti ini oleh Shiro, yah seingatnya begitu.

"Jangan banyak bergerak, usahakan untuk tidak melakukan pekerjaan berat agar lukamu tidak semakin parah" ucap Shiro sebelum meninggalkan Izuna di kamarnya.

"Baiklah" ucap Izuna dengan riang.

Bahkan sampai saat ia mau tidur pun, senyuman terus terukir di wajahnya. Hatinya merasa sangat bahagia karena akhirnya kakaknya yang terkenal dingin itu mau memperhatikannya walau sedikit.

-#-

"Tadaima…" ucap Madara.

"Okaeri, bagaimana keadaannya?" balas Shiro saat menyambut kakak tertuanya yang baru saja kembali dari medan perang.

"Masih seperti biasa" ucap Madara singkat.

"Lalu, perjanjiannya?" tanya Shiro lagi.

"Gencatan senjata maksudmu? Entahlah, belum ada kabar…" ucap Madara.

Cahaya mata Shiro tampak meredup. Ekspresinya menjadi lebih suram dari sebelumnya. Madara hanya melirik kearah adiknya itu dengan tatapan datar. Tak lama ia pun menghela napas dan berusaha mengganti topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.

"Bagaimana keadaan Izuna?" tanyanya tiba-tiba.

"Eh? Maksudnya?" Shiro tampak bingung.

"Lukanya sudah sembuh?" ucap Madara mempejelas.

"Hah? T-tunggu dulu? Luka apa?" ucap Shiro agak panik.

"Tidak usah menutup-nutupi, aku sudah tahu. Di tubuhnya banyak goresan luka karena ia pergi ke gunung demi mencari obat untukmu kan?" ucap Madara santai.

"B-bagaimana Nii-san tahu itu?!" Shiro sangat terkejut.

"Kau tidak perlu tahu bagaimana, tapi aku sudah pernah bilang bahwa aku memperhatikan kalian bukan?" balas Madara.

"Nii-san…" gumam Shiro yang tidak percaya dengan perkataan Madara.

"Aku juga tahu kalau semalam ia terus berlatih agar ia bisa menahan rasa sakit dari luka itu. Bahkan karena latihan itu lukanya semakin parah. Tapi jadi terbiasa dan bisa menahan rasa nyerinya. Meskipun sebenarnya itu adalah hal buruk" lanjut Madara.

"Ma-maksudnya apa Nii-san?" lagi-lagi Shiro dibuat bingung oleh perkataan Madara.

"Tidak usah pura-pura tidak tahu, semalaman dia berlari ditempat, push-up dan melakukan hal-hal lainnya dengan kondisi seperti itu kan? Agar ia bisa menahan rasa sakitnya dan dapat menipumu. Tunggu dulu, jangan-jangan kau memang tidak tahu?!" ucap Madara yang baru sadar.

Shiro membelalakkan matanya. Selang beberapa detik, ia segera berlari dengan panik menuju kamar adik satu-satunya itu. Sementara Madara hanya mematung di depan pintu.

"Apa aku salah bicara?" batinnya.

Deru napas Shiro bisa terdengar dengan jelas. Kini ia telah berdiri tepat di depan pintu kamar Izuna.

"Anak itu… Apa maksudnya ia melakukan hal seperti itu? Apa dia sengaja? Atau memang ia mau cari perhatian? Atau, ia ingin sok terlihat kuat? Atau dia masih terobsesi dengan perang sehingga melakukan hal itu? Ck, dia benar-benar menyebalkan!" geram Shiro.

Ia pun membuka pintu kamar adiknya dengan perlahan.

"Izu―" ia menahan suaranya saat melihat Izuna yang sedang terbaring di kasurnya dengan mata terpejam.

"Ah dia sudah tidur…" batin Shiro.

"Ada apa Nii-san?" ucap Izuna yang tiba-tiba membuka matanya.

"Eh? Ah, kau belum tidur?" ucap Shiro gelagapan.

"Sebenarnya aku tidak bisa tidur, aku tidak mengantuk" ucap Izuna.

"Oh begitu…" balas Shiro.

"Memangnya ada apa Nii-san kemari?" tanya Izuna bingung.

"Um, itu…" Shiro tampak berpikir. Ia ragu apakah ia akan membahas ini atau tidak.

"Apa yang semalam kau lakukan?" lanjutnya dengan pandangan serius.

"Maksudnya apa?" Izuna tampak bingung.

"Tentang luka itu, apa yang semalam kau lakukan sehingga lukanya semakin parah?" ucap Shiro memperjelas pertanyaannya.

"Apa? Tidak ada" ucap Izuna dengan nada sedikit bingung.

"Tidak usah berpura-pura! Apa benar kalau kau melakukan pemaksaan pada dirimu sendiri agar dapat menahan rasa sakit dari lukamu itu? Kau mau menipuku begitu?!" omel Shiro seketika.

Izuna pun terlonjak kaget. Ia segera bangkit dari kasurnya dan menundukkan pandangannya. Jemarinya meremas selimut putih yang masih menempel ditubuhnya, maniknya terpejam ketakutan.

"Tidak, aku―"

"KATAKAN SAJA!" potong Shiro dengan nada tinggi.

Izuna semakin ketakutan, perlahan air mata mulai menetes dari kedua matanya. Meskipun ia sudah mencoba menahannya, tapi air mata itu tak dapat dibendung lagi.

"A-aku tidak bermaksud menipumu…" lirihnya.

"Lalu apa? Jangan-jangan yang kau katakan sebelumnya tentang luka itu juga kebohongan" omel Shiro.

"Tidak! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya…" balas Izuna.

"Lalu, kenapa kau sampai melakukan hal itu? Apa kau sudah gila? Kau mau luka mu semakin parah begitu? Atau kau sengaja agar Kaa-san dan Tou-san marah padaku karena luka-luka itu? Agar aku disalahka―"

"Karena itulah aku melakukan hal ini!" potong Izuna tiba-tiba.

"Jadi benar? Kau memang sengaja agar aku dimarahi, kau benar-benar keterlaluan!" emosi Shiro semakin memuncak.

"Bukan, bukan itu maksudku…" ucap Izuna pelan.

Shiro yang emosinya tak terkendali pun berjalan mendekati Izuna. Ia sudah siap memberikan pelajaran kepada adiknya itu kapanpun ia mau.

"Lalu apa maksudmu hah?" ucap Shiro seraya mencengkram kedua bahu adiknya.

"Aku… aku…" ucap Izuna terbata-bata. Rasanya sulit sekali mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.

"Aku takut… Aku takut Kaa-san takkan memperbolehkanku pergi keluar lagi. Aku takut Nii-san akan dianggap tak bertanggung jawab atas diriku. Aku takut… aku takut kalau aku akan merepotkanmu, aku akan membuatmu khawatir..." lirihnya sambil menahan isakkan.

"Aku benar-benar tak ingin membuatmu marah. Maafkan aku…" lanjut Izuna sambil kembali meneteskan air mata.

Mendengar hal itu, Shiro sedikit melonggarkan cengkramannya.

"Sebenarnya apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Shiro lagi.

"Awalnya aku ingin mengobati Nii-san saja. Tapi aku malah terjatuh dan terluka begini. Aku takut kalau aku akan merepotkanmu dan membuatmu khawatir…" jelas Izuna pelan.

"Khawatir? sekalipun dalam seumur hidupku, aku tak pernah khawatir padanya…" aku Shiro dalam benaknya.

"Kenapa kau begitu peduli hah? Aku kan membencimu" ucap Shiro ketus.

"Aku tahu Nii-san tidak membenciku. Nii-san selalu saja memarahiku saat aku berbuat salah. Nii-san juga bilang kalau aku menyebalkan karena terus melawan Kaa-san. Itu semua demi aku kan? Awalnya aku juga membenci Nii-san, tapi setelah kupikir lagi… Aku… aku sangat menyayangimu Nii-san. Semua yang kau lakukan, normalnya adikmu pasti akan membencimu. Selalu bersikap tak peduli, marah-marah, dan ketus. Tapi sekarang aku sadar kalau Nii-san melakukannya demi aku juga. Demi kebaikanku dan keselamatanku. Nii-san rela dibenci olehku karena hal itu, padahal kau melakukannya untukku. Aku hanya ingin membalasmu. Maaf jika caraku salah, tapi aku sangat berterimakasih padamu dan aku… sangat menyayangi Nii-san" lirih Izuna.

Shiro dengan jelas dapat melihat ketulusan dari matanya. Anak kecil sepertinya tak mungkin bisa mengarang hal seperti ini, meskipun terkadang pemikiran Izuna lebih dewasa dari umurnya, tapi tetap saja hal seperti ini tak mungkin sebuah kebohongan. Itulah yang Shiro pikirkan.

"Tidak! Kau salah paham. Semua yang kulakukan hanya karena keegoisanku. Aku membencimu karena merebut perhatian Kaa-san dan Tou-san dariku. Selama ini aku iri dan sangat membencimu. Tak pernah sedikitpun aku khawatir. Bahkan terpikir untuk melakukan pengorbanan untukmu. Kau tahu hal itu juga kan… Harusnya kau tahu, aku ini ... bukan kakak yang baik untukmu" batin Shiro.

Shiro kembali memperkuat cengkramannya pada bahu Izuna. Ia menggertakkan giginya. Seketika, beberapa ingatannya bersama Izuna kembali terputar ulang.

'Nii-san okaeri, bagaimana latihan hari ini?'

'Nii-san apa yang terjadi? Apakah kepalamu baik-baik saja?'

'Kaa-san, kenapa di tangan Nii-san ada darah?'

'Kenapa Nii-san marah-marah terus?'

'Maaf karena membuatmu kesal'

'Nii-san okaeriiii, aku merindukanmu'

'Nii-san, ajarkan aku melakukan lemparan shuriken'

'Aku ingin ikut latihan!'

'Aku dengar Nii-san telah menguasai jutsu baru, kereeeen. Suatu hari nanti aku juga akan menjadi sepertimu!'

'Nii-san, kau tahu, tadi aku menemukan buku cerita yang seru!'

'Nii-san, tadi aku bermimpi, kau, aku, dan yang lainnya memenangkan perang dan bisa mengakhiri perang panjang ini'

'Nii-san, kenapa tidak ikut ayah?'

'Apakah Nii-san baik-baik saja?'

'Nii-san…'

'Nii-san…'

"Aaargh!" teriak Shiro tiba-tiba.

"Nii-san, ada apa? Apa lukamu terasa sakit lagi? Atau ada hal lain? Apa karena aku" ucap Izuna panik.

Shiro menatap mata adiknya lekat-lekat. Mata itu, mata yang selalu mengekspresikan kekhawatiran kepadanya saat ia terluka. Mata yang selalu memancarkan semangat saat ia mencapai prestasi. Mata yang berbinar saat ia kembali dari perang dengan selamat. Perlahan, Shiro mulai meneteskan air matanya. Izuna sangat terkejut. Shiro terkenal sebagai seseorang yang dingin, ia tak pernah menangis di depan orang-orang sekalipun semenjak ia benar-benar menjadi seorang shinobi. Tapi kini, Shiro tampak berbeda.

"A-apa yang terjadi? Maafkan aku, aku salah ya? Nii-san, tolong katakan sesuatu!" lirih Izuna.

"Izuna aku…" Shiro menggantungkan kata-katanya dan membuat Izuna semakin panik.

"Nii-san! Ada apa? Kau kenapa?!" Izuna pun ikut meneteskan air matanya lagi karena khawatir.

Tiba-tiba, Shiro menarik Izuna kedalam pelukkannya. Ia memeluknya dengan sangat erat, seperti takkan pernah melepaskannya. Sambil terisak, ia berusaha menyampaikan perasaannya.

"Kau benar… Aku… sangat menyayangimu" bisiknya.

Tidak, itu bukan sebuah kebohongan. Memang, ia memang sangat membencinya. Tapi itu dulu, sekarang ia sangat, sangat menyayanginya.

-#-

"Ohayou, kau mau teh?" sapa Shiro lembut yang dijawab anggukkan oleh Izuna.

Izuna yang baru saja memasuki dapur pun merasa senang dengan sapaan kakaknya itu. Sementara Madara hanya menatap Shiro dengan bingung.

"Sebenarnya ada apa sih?" batinnya.

"Ini teh mu" ucap Shiro seraya menyodorkan secangkir teh hangat.

"Terima kasih. Madara-nii sudah pulang?" tanya Izuna dengan semangat.

"Sudah tahu tidak usah tanya" balas Madara ketus.

Izuna sedikit sedih dengan jawaban kakaknya itu. Tapi, ia sudah terbiasa jadi ia tak begitu mempedulikannya.

"Bagaimana lukamu?" tanya Shiro mencairkan suasana.

"Sudah mulai sembuh. Lihat! Luka di tangan kananku sudah sembuh semua, tinggal bekasnya saja" ucap Izuna riang.

"Syukurlah kalau begitu" balas Shiro seraya tersenyum. Sementara Madara menatap mereka dengan pandangan dingin.

"Nii-san, kapan yang lain pulang?" tanya Izuna.

"Mana aku tahu" balas Madara datar.

"Kami juga tidak tahu, semoga saja mereka bisa pulang secepatnya" jawab Shiro.

"Ah begitu ya… Kuharap juga begitu" ucap Izuna.

"Shiro, cepat habiskan sarapannya, kita akan segera berlatih" ucap Madara tiba-tiba.

"Eh, sekarang?" Shiro agak terkejut.

"Tentu saja, kau pikir kita bisa bersantai?" balas Madara datar.

Shiro pun menuruti perkataan kakak tertuanya dan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Setelah itu ia segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke tempat latihan.

"Ingat, jangan pergi keluar rumah" ucap Shiro pada Izuna.

"Iya aku tahu" balas Izuna.

"Awas saja kalau sampai kau kabur, lebih baik kau tidak usah kembali lagi saja" sela Madara.

"Tidak kok, kali ini aku janji" ucap Izuna pelan.

"Kalau begitu kami pergi dulu" ucap Shiro sebelum akhirnya ia pergi bersama Madara menuju lokasi latihan mereka.

Di sepanjang perjalan, Madara tak berbicara sepatah katapun. Ia hanya terus berjalan dengan pandangan kesal. Membuat Shiro bingung dengan tingkahnya. Bahkan saat melatih Shiro jutsu-jutsu baru, ia hanya bicara seperlunya.

"Cepat lakukan seperti yang kucontohkan tadi!" perintahnya.

Sambil memperhatikan latihan Shiro, ia duduk bersandar di bawah pohon. Sesekali ia tertidur karena udara yang sejuk dan kondisi fisiknya yang kelelahan.

'Katon: Ryūen Hōka no Jutsu'

Beberapa bola api berbentuk kepala naga berhasil disemburkan. Shiro tersenyum puas setelah melihat jerih payahnya berhasil. Sudah beberapa minggu lalu ia berlatih jurus ini, akhirnya ia dapat melakukannya.

"Nii-san, aku berhasil!" serunya pada Madara.

Tetapi Madara hanya menatapnya bosan dan tak merespon. Karena mulai kesal, Shiro berjalan kearah Madara dan ikut duduk di sampingnya.

"Sebenarnya Nii-san kenapa sih?" tanyanya.

Madara melirik kearah adiknya itu, selang beberapa detik ia kembali memalingkan wajahnya kearah lain.

"Apa-apaan sikapmu pada Izuna tadi?" tanya Madara ketus.

"Maksudnya?" Shiro tampak tak mengerti.

"Biasanya kau selalu bersikap dingin padanya" ucap Madara memperjelas.

"Oh itu, kupikir kita tak bisa selamanya melakukan hal itu" ucap Shiro pelan.

"Apa maksudmu?" ucap Madara seraya menoleh kearahnya.

"Maksudku, mau sampai kapan kita bersikap dingin padanya? Tidakkah itu keterlaluan?" jelas Shiro.

"Kenapa sekarang kau malah mengatakan itu? Dulu kau lah yang paling setuju dengan rencana ini karena kau memang membenci Izuna kan? Kau bilang meskipun tanpa rencana ini, kau tetap akan bersikap dingin padanya kan?" omel Madara.

"Kupikir aku salah, pada akhirnya aku tak benar-benar membencinya" balas Shiro tenang.

"Oh jadi semudah itu perasaanmu dikalahkan? Hanya karena dia memaksakan dirinya demi dirimu, hatimu luluh begitu?" ucap Madara sinis.

"Kenapa Nii-san berkata seperti itu?! Aku tidak percaya kau setega itu" ucap Shiro kecewa.

"Tega katamu! Apa kau tidak mengerti kenapa aku melakukan semua ini?! Kau pikir hal ini mudah untukku? Mana ada seorang kakak yang dengan sukarela melukai adiknya sendiri? Apalagi perasaannya. Kau pikir untuk apa perjuanganku selama bertahun-tahun hah?!" bentak Madara.

"Aku tahu betul apa yang kau rasakan! Aku bisa melihatnya, bagaimana ekspresimu saat Izuna lahir. Aku ingat! Tapi, bukan begini caranya, kupikir ini sudah keterlaluan. Kenapa tidak menggunakan cara lain? Perasaan Izuna, tidak sesederhana yang kau pikirkan Nii-san!" Shiro membalas bentakkan Madara.

"Kau… kenapa kau tidak mengerti juga, semua ini aku lakukan agar―"

"Sudah cukup! Aku mau pulang!" potong Shiro seraya beranjak meninggalkan Madara.

"Cih, terserah kau saja" gerutu Madara.

Shiro melangkahkan kakinya dengan cepat. Emosinya kembali memuncak setelah perdebatan singkat dengan kakak tertuanya. Ia bahkan membuka pintu rumahnya dengan kasar. Ekspresi wajahnya secara jelas menggambarkan kekesalannya.

"Tadaima" ucapnya masih dengan nada kesal.

"Okaeri. Ada apa? Kau terlihat kesal" sambut seorang wanita paruh baya.

"Eh, Kaa-san? Sejak kapan Kaa-san kembali?" tanya Shiro terkejut.

"Baru saja" jawab wanita itu dengan senyuman.

"Bagaimana dengan perjanjiannya?" Shiro mulai penasaran.

"Buruk. Sepertinya memang tidak bisa, bahkan untuk gencatan senjata sekalipun. Kita tak punya pilihan lain selain mempertaruhkan nyawa" ucap Ibunya dengan nada sedih.

"Jadi perangnya masih terus berlanjut ya?" ucap Izuna yang tiba-tiba datang.

"Eh? Izuna. Ah iya begitulah, tapi jangan khawatir, klan kita akan segera menyelesaikannya" balas Ibunya seraya mengelus pelan kepala Izuna.

"Hn, itu benar. Aku akan berusaha semampuku!" ucap Shiro meyakinkan.

"Boleh aku membantu?" tanya Izuna dengan semangat.

"Tidak" seketika ekspresi Shiro berubah menjadi datar. Izuna pun pundung sendiri.

"Selalu saja begitu…" gerutu Izuna.

"Tadaima" tiba-tiba sebuah suara menyela obrolan mereka.

"Okaeri… Ah ternyata kau Madara" sambut Ibunya dengan riang.

Madara tak membalas sambutan Ibunya dan lebih memilih berlalu menuju kamarnya. Saat ia berpapasan dengan Shiro, ia meliriknya dengan sinis. Izuna dan ibu mereka hanya memberi tatapan bingung.

"Apa kau ada masalah dengan Madara?" tanya Ibunya tiba-tiba.

"Bu-bukan hal yang penting" sangkal Shiro.

Ia pun meninggalkan ibu dan adiknya di ruang tamu. Ia memilih untuk membersihkan tubuhnya setelah latihan.

"Kaa-san…" panggil Izuna tiba-tiba.

"Ada apa?" tanya wanita paruh baya itu dengan lembut.

"Apakah, Madara-nii membenciku?" ucap Izuna pelan.

Ibunya tampak terkejut. Ia sempat terbelalak dan membisu mendengar pertanyaan polos dari anak bungsunya.

"Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu Izuna?" tanyanya dengan tenang.

"Habisnya, Nii-san selalu bersikap dingin padaku. Dia selalu saja marah" jawab Izuna dengan nada sedih.

Nyonya Uchiha itu menghela napasnya. Ia kembali teringat saat Izuna masih di dalam kandungannya.

"Apakah aku akan punya adik lagi? Asiiiik! Apakah kalau sudah besar nanti, ia akan menjadi shinobi yang hebat?"

"Entahlah, mungkin saja kan?"

"Kalau begitu aku akan melatihnya! Dan juga melindunginya. Kemudian kita akan berdiri di medan perang bersama-sama. Saat itu ia akan menyamai kekuatanku. Dan suatu hari nanti, kita bisa hidup dalam kedamaian bersama-sama"

Saat itu, Madara terlihat begitu bahagia. Semua kata-kata itu ia keluarkan tulus. Hatinya terasa tersayat-sayat mengingat perkataan anak sulungnya.

"Izuna, kau hanya tak mengerti. Suatu hari nanti, kau pasti akan paham betapa Madara menyayangimu" jawab Ibunya seraya menahan tangis.

"M-maksudnya?" Izuna masih bingung dengan penjelasan itu.

"Aku sudah bilang kan, suatu hari nanti pasti kau akan paham" Ibunya membalasnya dengan senyuman.

"Sudah, Kaa-san mau masak dulu ya" ia pun meninggalkan Izuna dan beranjak menuju dapur.

"Aku… masih tak mengerti…" batin Izuna.

-#-

Lagi-lagi seperti ini. Perang kembali pecah, korban-korban mulai berjatuhan. Aroma darah tercium dimana-mana.

"Kenapa… separah ini?" Izuna meneteskan air matanya.

Kali ini ia berhasil kabur untuk yang kesekian kalinya. Bukannya penjagaan yang kurang ketat. Tapi kondisi kekurangan pasukanlah yang membuat celah untuknya.

"Tajima-sama, jangan memaksakan diri!" ujar seseorang dari arah timur.

Izuna bisa melihat ayahnya dan beberapa pasukan perang. Ayahnya mengalami luka yang cukup serius, tapi untungnya ia masih sanggup berjalan. Sepertinya Tajima bukan tipe orang yang akan mundur dari perang sebelum ia mati. Buktinya, ia terus memaksakan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan musuh. Bahkan pasukan lainnya kewalahan untuk mencegahnya.

"Aku sudah bilang, jangan halangi aku!" bentak Tajima kepada salah satu pasukannya.

Karena panik, Izuna tidak bisa membaca kondisi dan segera berlari ke arah ayahnya. Padahal kalau ia kesana, sama saja seperti menggali kuburannya sendiri. Ia pasti diomeli habis-habisan.

"Tou-san! Apa yang terjadi padamu?!" ucap Izuna panik.

"Aku baik-baik saja, cepat sana pergi ke medan pe―" Tajima yang baru menyadari bahwa yang mengajaknya bicara adalah Izuna pun segera terkejut. Ia membelalakan matanya.

"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" omelnya dengan panik.

Izuna hanya terdiam dan menunduk karena omelan ayahnya.

"Eh, apa dia anakmu ketua?" tanya salah satu pasukan yang ada di sana.

"Pulang sekarang! Seseorang, antar dia kerumahku!" ujar Tajima dengan tegas.

"T-tapi, aku mau membantu klan. Aku ingin berperang!" Izuna berusaha membela dirinya.

"Tidak! Kau tidak bisa melakukannya. Lebih baik kau pulang sekarang!" bentak Tajima lagi.

"Ketua! Ada serangan!" teriak salah satu pasukan.

Benar saja, beberapa shinobi dengan lambang klan yang asing bagi Izuna mendekati mereka.

"Bentuk formasi!" ucap Tajima dengan cepat.

Segera, pasukan membentuk formasi pelindung. Beberapa yang lainnya mulai menyerang. Pedang bertemu pedang, tangan bertemu tangan, kaki bertemu kaki, kepala bertemu kepala. Mereka saling hantam dan menjatuhkan banyak korban.

"A-aku akan membantu!" ucap Izuna gemetar.

"APA?! Lebih baik kau pulang!" omel Tajima.

"Tapi aku―"

"Cepat pulang sekarang" potong Tajima.

"Aku serius, tolong pulanglah. Selagi masih ada kesempatan, cepat lari! Kumohon…" lanjut Tajima bersungguh-sungguh.

Izuna sedikit terkejut mendengar ayahnya sampai memohon padanya.

"Tolong pulanglah, bagaimana kalau aku tak bisa melindungimu?" lirih Tajima.

"Tou-san…" gumam Izuna pelan.

"Tou-san tak perlu melindungiku, aku akan berusaha melindungi Tou-san!" ucap Izuna yakin.

"Apa-apaan kau ini? Cepat pulang sana!" emosi Tajima mulai memuncak.

"Tidak mau, aku mau perang!" bantah Izuna.

"Kau benar- benar keras kepala! PULANG SEKARANG!" Tajima semakin marah.

"Tidak! Aku akan berusaha! Aku pasti bisa! Tou-san bilang kalau kita bersungguh-sungguh pasti kita bisa. Karena itulah meskipun aku tak pernah latihan, jika itu demi orang yang kusayangi, aku akan berusaha sekuat tenaga" tekadnya dengan yakin.

"TIDAK! KAU TIDAK AKAN BISA!" bantah Tajima.

"Bisa! Aku pasti bisa!" Izuna tak mau kalah.

"KAU TAKKAN PERNAH BISA!" bentak Tajima semakin kesal.

"Aku belum mencobanya!" teriak Izuna.

"MESKIPUN KAU MENCOBA SEKUAT TENAGA KAU TAKKAN PERNAH BISA!" Tajima balas berteriak.

"Kenapa Tou-san berkata seperti itu?" ucap Izuna kecewa.

"Sudahlah! Kau tak perlu tahu alasannya, cepat pulang kerumah! SEKARANG!" Tajima menjadi semakin panik.

"Tidak! Aku takkan pergi sampai aku tahu apa alasannya!" teriak Izuna lagi.

"PULANG!" bentak Tajima.

"Tidak mau, katakan dulu kenapa?" balas Izuna kesal.

"Meskipun kukatakan, kau tetap tak mau pulang kan?!" omel Tajima.

"Pokoknya katakan dulu kenapa?" Izuna tetap tak menyerah.

"Tidak perlu!" balas Tajima.

"Kenapa?"

"Pulang saja sana!"

"Kenapa?!"

"Pulang sana!"

"Kenapa?"

"Pulang!"

"KENAPA?"

"Karena kau takkan pernah bisa menggunakan chakramu!" teriak Tajima spontan.

Izuna sangat terkejut dengan jawaban ayahnya.

"Ma-maksud Tou-san apa? Kenapa aku tak bisa?" tanyanya dengan nada sedih.

"Tidak usah dibahas sekarang!" bentak Tajima lagi.

"Tidak mau, sampai Tou-san katakan alasannya. Pokoknya aku tak mau―"

"KARENA KAU BUKAN SEORANG SHINOBI!" teriak Tajima dengan suara yang sangat kencang sehingga membuat beberapa pasang mata tertuju kearah mereka. Bahkan musuhpun mendengar perkataannya.

"A-apa aku bukan… a-apa?!" teriak Izuna histeris.

"Tubuhmu tak mampu menahan chakramu sendiri! Kalau kau sampai menggunakannya kau bisa mati! Karena itulah beberapa titik chakramu sudah ditutup. Dan kau takkan pernah bisa menggunakannya. Dengan kata lain, kau tak bisa menjadi shinobi atau kau akan mati" jelas Tajima dengan beberapa tetesan air mata yang sejak tadi tertahan.

Tentu saja seorang ketua klan Uchiha tak boleh terlihat lemah di saat seperti ini. Karena itulah ia kembali menahan air matanya dan mengalihkan pembicaraan.

"Kumohon, sekarang pulanglah…" lirih Tajima.

"Bohong… itu pasti bohong"

Izuna mulai mengeluarkan cairan bening dari kedua matanya. Tubunya bergetar dan terasa begitu lemas.

"Tou-san pasti berbohong!" jerit Izuna.

Ia pun berlari sambil terisak. Ia tak peduli kemana arah yang ia tuju, ia hanya terus berlari sambil meneteskan air matanya.

"Jadi itu alasannya mengapa selama ini aku tak diperbolehkan untuk ikut latihan…"

"Karena itulah aku tak boleh ikut berperang"

"Jadi selama ini… itu alasannya"

Izuna semakin tak kuat membendung perasaannya. Hatinya terasa seperti tertusuk ribuan pedang. Selama ini ia selalu semangat untuk berlatih dan menjadi shinobi yang hebat. Ia tak pernah putus semangat. Tapi kenyataan itu bagaikan memotong usahanya selama ini begitu saja.

'Aku bukan shinobi'

'Aku bukan shinobi'

'Aku bukan shinobi'

Kenyataan itu terus terngiang di kepalanya. Rasanya sangat sakit. Ia tak dapat menahan emosinya.

"Kenapa hal ini harus terjadi?"

"Kenapa hal ini harus terjadi padaku?"

"KENAPA?!" jeritnya dalam hati.

Tangisannya semakin menjadi-jadi. Ia pun jatuh tersungkur di tanah karena kedua kakinya tak dapat menopang tubuhnya lagi.

"Kenapa… hiks… harus… hiks… aku?" lirihnya di sela-sela tangisan.

"Izuna-sama! Kenapa kau ada disini?!" tanya seseorang dengan panik.

Izuna pun menoleh keasal suara. Masih dengan air mata yang menghiasi pipinya, ia menatap ke arah orang yang sangat ia kenal itu.

"Hoori?" gumamnya pelan.

"Izuna-sama, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?!" tanya Hoori semakin panik.

"Aku… aku… aku bukan… aku bukan seorang shinobi…" ucap Izuna sedih.

Hoori tampak sangat terkejut.

"B-bagaimana kau bisa tahu hal itu? Itu tidak benar…" Hoori berusaha menghiburnya.

"Tou-san yang mengatakannya…" balas Izuna.

"Ah, jadi Tajima-sama sudah memberitahunya… Tapi kenapa pada keadaan seperti ini?" batin Hoori.

"S-sudahlah, sekarang kita pulang dulu. Lihat, pemukiman sudah dekat, ayo kuantar" ajaknya.

"Tidak mau… Untuk apa aku kesana? Uchiha itu kan klan shinobi elit. Aku yang bukan shinobi untuk apa berada di sana? Aku hanya membuat klan Uchiha malu…" tolak Izuna.

"Kau bicara apa? Itu sama sekali tidak benar" ucap Hoori.

"Itu benar! Aku memang memalukan bukan? Aku aib bagi klan Uchiha" ucap Izuna kesal.

"Izuna!" teriak sebuah suara dari kejauhan.

Kedua sosok mendekati mereka. Mereka tampak familiar bagi Izuna. Tentu saja, mereka sangat sering bertemu.

"Shiro-sama! Satsuki-sama!" sapa Hoori pada mereka.

"Kenapa kau di sini?" tanya Shiro dengan panik.

"Kau kabur lagi?" giliran Satsuki yang bertanya.

"Kenapa kau menangis?" lanjut Satsuki.

"Aku… bukanlah seorang shinobi…" ucap Izuna lirih.

"A-apa?" Satsuki tampak terkejut.

Bukan karena ia tak mengetahui hal itu. Tapi karena Izuna telah mengetahuinya.

"I-Izuna, sebaiknya… kita pulang ya?" ucap Shiro berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tidak mau! Aku tidak mau…" ucap Izuna.

Tiba-tiba sebuah kunai melesat kearah Izuna. Beberapa helai rambutnya berjatuhan. Hampir saja kunai itu menyentuh pipi Izuna. Keempat insan itu terkejut. Sontak mereka segera menoleh kearah datangnya kunai itu. Ternyata mereka adalah shinobi yang menyerang Tajima tadi. Hanya beberapa dari mereka. Tampaknya mereka segera mengejar Izuna begitu mengetahui rahasia besar itu.

"Ups! Meleset…" ucap salah seorang dari mereka dengan nada mengejek

"Jangan macam-macam kau! Apa kau mencoba membunuh adikku?!" bentak Shiro.

"Wah wah wah, ada dua petinggi klan Uchiha di sini… Oh bukan, tiga. Hanya saja yang satu bukan seorang shinobi. Hahahaha" gelak tawa mereka menggema.

Shiro yang emosinya mulai terpancing segera melemparkan beberapa kunai kearah mereka, tetapi segera saja ditangkis dengan pedang.

"Tidak semudah itu, tuan elit. Kami tidak selemah yang kau pikirkan" ucap salah satu shinobi itu sambil menunjuk kearah Shiro.

"Kalau kau tidak mau mati, lebih baik kau pergi dari sini" ucap Satsuki dingin.

"Oooh, Satsuki Uchiha. Seperti biasanya, kau benar-benar tenang. Kau jarang sekali berbicara, apakah aku orang beruntung karena diajak bicara olehmu?" ucap shinobi itu lagi.

"Hoori, lindungi Izuna" ucap Satsuki datar.

"Baiklah!" ucap Hoori.

Keadaan mereka sekarang terkepung oleh musuh. Sepertinya belum ada celah untuk membawa Izuna kabur. Satu-satunya cara adalah menghadapi mereka. Satsuki dan Shiro segera maju menghadapi mereka.

'Katon: Goukakyu no Jutsu'

Shiro mengeluarkan jutsu andalan klan Uchiha. Tetapi shinobi itu berhasil menghindar.

"Katon no Jutsu ya? Bukankah kalian bertiga terkenal dengan Doton no Jutsu yang sangat kuat itu?" tanya salah seorang musuh dengan nada mengejek.

Tiba-tiba, darah segar keluar dari mulutnya. Shinobi itu membelalakkan matanya. Tubuhnya melemas, ia pun tersungkur di tanah. Sebuah pedang dengan indahnya menancap tepat di jantungnya.

"Jangan lengah" ucap Satsuki dari belakang shinobi itu.

"Terima kasih, Nii-san" ucap Shiro.

Merekapun melanjutkan penyerangan kearah musuh. Hoori berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Izuna. Sementara Izuna masih murung atas kenyataan yang baru saja ia ketahui. Tiba-tiba seorang musuh berhasil mendekati mereka.

"Apa kau terkejut aku bisa menembus pertahanan dua Uchiha elit itu?" tanyanya dengan nada mengejek.

Hoori hanya mendecih kesal dan menatapnya dengan sinis. Ia segera menyiapkan pedangnya dan mengaktifkan sharingan nya.

"Kau jangan meremehkanku ya! Hanya karena kau adalah anggota elit klan Uchiha! Kami bisa mengalahkanmu!" ujar shinobi itu.

"Ya! Kau yang hanya bertiga mana mungkin bisa melawan kami! Meskipun kau memiliki sharingan sekalipun!" ucap seorang shinobi lagi yang berhasil mendekati Hoori.

Semakin lama, semakin banyak shinobi yang mendekati mereka. Satsuki dan Shiro kewalahan mengahadapi mereka. Apalagi Satsuki dan Shiro belum membangkitkan sharingan mereka.

"Siapa bilang kami hanya bertiga?" ucap seseorang yang tiba-tiba datang.

"Memangnya kau saja yang punya rekan?" ucap seorang yang lainnya.

"K-kalian berdua… Ryuuji? Tsukiyo?" ucap Izuna terkejut.

"Sekarang, tidak hanya 2 sharingan, tapi 6 sharingan!" ucap Hoori.

"Cih, sombong sekali! Semua serang!" ucap salah shinobi itu memberikan aba-aba.

Semua shinobi dibelakangnya pun segera maju dengan senjata mereka masing-masing.

"Tsukiyo, lindungi Izuna-sama! Ryuuji kau serang dari arah kiri dan aku dari arah kanan" ucap Hoori mengambil alih pimpinan.

"Baik senpai!" jawab Ryuuji dan Tsukiyo bersamaan.

Tsukiyo langsung berdiri di depan Izuna. Ia mengaktifkan sharingannya dan menyerang siapapun yang berusaha mendekati Izuna.

"Tetaplah didekatku, Izuna-sama!" ucapnya ditengah pertarungan.

Rasanya Izuna ingin sekali membantu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Izuna sangat takut jika ia melakukan sesuatu, malah jadi merepotkan mereka.

"Sial! Lagi-lagi seperti ini…" batinnya kesal.

Seakan-akan bisa membaca isi hati Izuna, Tsukiyo segera menenangkan.

"Tidak ada yang perlu disesali, ini memang bukan levelmu. Suatu hari nanti, kau lah yang akan berdiri di depan dan melindungi orang-orang yang berharga untukmu. Bukankah itu impianmu? Yang perlu kau lakukan sekarang adalah perhatikan dan pelajari teknik bertarung kami. Ini juga bagian dari latihan" ucapnya tanpa berhenti menyerang lawan.

Meskipun ia berkata begitu, Izuna sama sekali tidak puas. Sesekali ia melihat mereka bertiga tergores senjata musuh. Ia ingin sekali bisa melakukan sesuatu untuk itu. Tapi apa daya, ia bukanlah seorang shinobi. Ia takkan bisa melakukan apa-apa.

"Pelajari katamu? Aku kan bukan shinobi. Bagaimana bisa?" ucap Izuna kesal.

Tsukiyo tampak terkejut. Ia menatap kearah Ryuuji yang sama terkejutnya. Mereka saling melempar pandangan. Seakan-akan saling bertanya 'Bagaimana ia bisa tahu?'. Tapi mereka mengabaikan pertanyaan itu untuk sementara.

"J-jangan berkata seperti itu. Pasti suatu hari nanti kau akan menjadi orang yang hebat" hibur Ryuuji.

Izuna tetap saja kesal. Ia tampak sangat sedih menerima semua kenyataan itu. Ryuuji dan Tsukiyo belum bisa berbuat apa-apa. Merekapun kembali menyerang musuh.

"Untuk apa kalian melindungi ku? Aku hanya menjadi aib bagi klan, kalau begini… lebih baik aku mati saja…" ucap Izuna pelan.

Tiba-tiba ia beranjak mendekati musuh-musuh itu sendirian. Hoori, Ryuuji dan Tsukiyo membelalak. Tapi mereka tak dapat menahan Izuna karena dihalau oleh musuh.

"IZUNA-SAMA!" teriak Hoori dengan suara nyaring.

Seorang shinobi dengan seringai liciknya sudah siap menyerang Izuna. Dengan sigap, ia menghunuskan pedangnya. Izuna hanya menatap shinobi itu dengan pandangan kosong.

"Dengan begini, aku tak perlu merepotkan siapapun lagi…" batinnya.

Selang beberapa detik, darah mengalir cukup deras. Beberapa pasang mata membelalak dan terkejut melihat kejadian itu.

*…To be continued…*

A/N:

Akhirnya selesai, ah bebas dari hutang satu chapter ini *terharu* Tapi masih ada chapter selanjutnya *pundung* Gimana menurut kalian? Gaje kah? Apa feelnya gak dapet? Ah maaf kalo memang begitu -.-

Oh ya balas review dulu...

Sasshi Ken: Di chap ini Nii-san nya udah nunjukin simpatinya loh XD Um ada yang kebalik, urutannya Madara, Hisashi, Satsuki, Shiro baru Izuna. Makanya Madara cuma punya waktu buat Hisashi XD

Kiku: Kyaaa, terimakasih atas pujiannya, ah jadi malu *halah* Sama, soal genre juga lebih suka yang family :3 Wah seneng deh jadi fic pertama XD Maaf ya gak bisa update kilat

ReiSunset: Aku ikut seneng deh kalo kamu suka XD Iya, karena Uchiha kan keluarga dia, panteslah kalo sayang banget :3 Iya, sama, sedih juga liat Madara T_T Hooo, maaf ya kalo kurang, soalnya di chap awal jatahnya kakak yang lain dulu. Kan mereka nantinya mati XD Makanya di banyakin interaksi sama kakak yang lain dulu XD Terimakasih atas dukungan dan masukkannya XD

Rokouch: Iya kasihan *ikut nangis* Maaf ya gak bisa update kilat...

teddy: Terimakasih atas pujiannya XD Iyakah? Aku jadi ikut terharu XD

ctrsrcitra: Njir :'v lu ada disini? :v Oke ini udah gua lanjut *kok cara ngomong langsung berubah ya*

Oke untuk semua yang review terima kasih banyaaaaak. Dan untuk yang udah fav, follow, dan untuk silent reader juga terimakasih banyak. Terima kasih juga untuk yang rela nungguin fic ini XD Sampai jumpa di chapter depan ^_^