Aku tahu aku udah lama gak ngelanjutin fic ini, ya SANGAT lama :""" Maaf aku emang begini, mood untuk nulis itu labil kaya Sasuke. Yaudah langsung aja ke cerita ya...

Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, alur gaje, mungkin OOC

Genre: Family, Friendship, Action, Hurt/Comfort, Tragedy

Disclaimer: Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T READ

Beberapa pasang mata membelalak melihat darah segar yang mengalir. Wajah mereka panik, namun ada sedikit rasa lega di ekspresi mereka.

"Bodoh…"

"APA KAU MAU MATI HAH?!" bentak Shiro.

"Nii-san…" gumam Izuna pelan.

Ia tak tahu mau berbuat apa. Dengan jelas, ia dapat melihat pedang yang seharusnya ditusukkan kepadanya kini sudah ditepis oleh tangan Shiro. Darah mengalir cukup banyak dari luka di tangannya. Tapi sepertinya luka itu bukan luka parah.

"Ryuuji, tarik Izuna ke belakang. Jangan biarkan ia didekati maupun mendekati musuh" ucap Shiro datar.

Ryuuji segera menurutinya. Ia menarik Izuna dan menjaganya dengan lebih waspada dari sebelumnya. Begitu pula dengan yang lainnya, mereka mencoba untuk menghabisi musuh secepat mungkin agar bisa segera membawa Izuna lari. Setidaknya mereka mengharapkan sedikit celah.

'Ninpō: Naraku Nenshō'

Salah satu musuh menggumamkan jutsu andalan klannya. Menyadari bahaya, dengan sigap Satsuki segera membentuk segel tangan.

'Doton: Kanpeki'

Hanya beberapa detik, cahaya terang menyipitkan mata mereka. Gejolak pada tanah terasa di kaki-kaki para shinobi Uchiha itu. Perlahan, mereka menarik kedua katup yang sedari tadi menghalau iris mereka untuk menangkap cahaya. Keadaan yang terlihat sulit dijelaskan, meski tiga diantara mereka mengerti akan bahaya dibalik tembok tinggi yang tengah berdiri dengan kokoh.

"S-suara apa itu?"

Nada bicara Izuna terdengar sedikit bergetar saat mendengar suara yang cukup mengejutkan.

"Itu adalah ledakan" ucap Satsuki yang berusaha untuk tetap tenang.

"Mereka seserius ini?" sementara Hoori masih tak percaya akan tindakan musuh.

"Kita tidak bisa main-main, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi menghabisi kita" Shiro tampak semakin serius.

"Apa yang terjadi?" Izuna merasakan sesuatu yang berbahaya.

"Tadi itu, jutsu terlarang milik klan musuh" ucap Satsuki.

"Maksudmu, Naraku Nenshō?" tanya Ryuuji.

"Ya. Itu adalah jutsu yang mengumpulkan chakra dalam jumlah besar di satu titik, dan saat kekuatannya cukup, chakra itu akan menyebabkan ledakan besar dalam radius sekitar 10 meter. Tentu saja jutsu terlarang itu memiliki efek samping, yaitu penggunanya ikut meledak" jelas Satsuki.

"Mengerikan…" Tsukiyo menggumam pelan.

"Ledakan itu sangat kuat, tembok tanah biasa takkan sanggup menahannya" tambah Shiro.

"Lalu kenapa tembok ini bisa?" tanya Izuna sembari mendongakkan kepalanya.

Matanya tertuju pada tembok tanah yang berdiri dengan kokoh dan melingkari mereka, memberikan perlindungan yang cukup. Tembok itu tinggi menjulang, berbentuk mirip seperti tabung dan jangkauannya mencapai 15 meter.

"Ini tembok yang dibuat dengan konsentrasi chakra yang tinggi. Ini jutsu bertahan ranking S jika digunakan dengan maksimal. Tetapi sebenarnya, jutsu musuh bisa menghancurkan tembok ini, jika saja ledakannya sedikit lebih kuat" jelas Hoori seraya menempelkan telapak tangannya pada sebuah retakkan kecil di tembok itu.

"Kau terlihat takut, bukankah tadi kau mencoba bunuh diri?" sindir Ryuuji sembari menyenggol Izuna dengan sikunya.

Izuna hanya terdiam dan membuang mukanya dengan kesal. Ia pun membuat ekspresi cemberut yang mengundang cengiran di wajah Ryuuji.

"Bukankah cita-citamu adalah melindungi klan? Bagaimana mau melindungi kalau kau mati? Kau harus bertahan hidup…" Ryuuji mengusap pelan kepala Izuna. Sementara Izuna tetap diam dengan ekspresi cemberutnya.

Perlahan, tembok itu seakan tertelan kembali oleh tanah yang mereka pijak. Memberi mereka akses untuk melihat keadaan yang sempat terhalau tembok. Mata mereka menyipit dikarenakan silau akan cahaya matahari.

"Yang tadi itu hanya satu ledakan bukan?" ucap Shiro pelan.

"Ya, tapi mereka tak hanya mengorbankan satu orang…" balas Satsuki.

Beberapa kepala yang tak lagi menyatu dengan tubuhnya berserakkan. Darah segar terciprat di mana-mana. Aromanya sangat menyengat. Jelas sekali, untuk menggunakan jutsu itu, mereka tak hanya mengorbankan si pengguna, tapi juga orang di sekitarnya.

"M-mereka serius!" gumam Hoori gugup.

Dari kejauhan, musuh kembali berlari mendekat. Jumlah mereka semakin bertambah. Sepertinya mereka memanfaatkan kesempatan tadi untuk memanggil sekutu.

"Ck, ini semakin buruk" Tsukiyo mulai kesal.

"Mau bagaimana lagi? Kita tidak punya pilihan selain melawan" balas Hoori.

"Bentuk formasi!" perintah Satsuki.

Dengan sigap, mereka menarik pedang mereka dan bersiap menghunuskan pedang-pedang itu kearah musuh. Satsuki dan Shiro segera mengambil posisi depan. Sementara Hoori, Ryuuji dan Tsukiyo kembali membentuk formasi pertahanan. Izuna hanya membatu melihat keadaan mencekam itu. Tubuhnya gemetar melihat isi tubuh musuh yang berserakan di mana-mana. Mata melotot dari kepala yang tak lagi bertubuh cukup membuat Izuna merinding.

'Ninpō: Naraku Nenshō'

Lagi-lagi, jutsu terlarang itu dikeluarkan oleh musuh. Untung saja ledakan masih bisa ditahan. Tetapi rupanya musuh cukup cerdas. Tiga orang dari mereka kembali membentuk segel tangan dan menggunakan jutsu itu bersamaan.

"Tahan serangan!" perintah Satsuki.

'Doton: Kanpeki'

Tiga lapis tembok terbentuk sehingga dapat menahan ledakan besar itu. Meskipun satu lapisan berhasil hancur dan lapisan kedua hampir runtuh, setidaknya lapisan ketiga masih berdiri dengan kokoh.

"K-kalian bertiga bisa melakukannya?" Izuna tampak terkejut.

"Yah, dulu ada lima orang. Tapi sekarang hanya tersisa kami" Satsuki tersenyum tipis.

Shiro dan Hoori mulai kelelahan akibat terkurasnya chakra mereka. Tidak dengan Satsuki yang memiliki jumlah chakra diatas kedua saudaranya itu. Meskipun sebenarnya untuk membuat tembok itu memang membutuhkan chakra yang banyak.

"Kalau begini terus, kita bisa kalah" ucap Ryuuji lesu.

"Tidak bisakah kita memanggil bantuan?" tanya Tsukiyo.

"Barisan depan lebih membutuhkan pasukan daripada kita. Kau tahu kalau kita benar-benar kekurangan pasukan bukan?" balas Satsuki.

"Bahkan meskipun kita tetap memanggil bantuan, yang paling mungkin adalah meminta bantuan pada orang yang sedang tidak ikut berperang alias yang sedang berada di pemukiman. Tapi itu tak mungkin. Siapa yang mau berjaga kalau sampai pemukiman diserang?" tambah Hoori.

"Lalu kita harus bagaimana? Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menahan kinjutsu mereka" ucap Ryuuji dengan nada sedih.

"Ingat bahwa korban jiwa dari pihak musuh sangat banyak. Selain itu meskipun kinjutsu itu adalah andalan mereka, tak semua bisa menggunakannya, apalagi secara maksimal" ucap Hoori.

"Kalau begitu, sebisa mungkin kita harus membunuh musuh sebelum mereka menggunakan jutsu itu lagi!" Tsukiyo segera mengangkat pedangnya.

Ia pun bergerak dengan cepat kearah musuh, tetapi ia ditahan oleh Shiro. Satsuki dan Hoori lah yang mengambil langkah maju dan menyerang.

"Ada apa?" tanyanya bingung.

"Jangan gegabah, kalau kau terkena ledakannya bagaimana? Kau sadar bahwa mereka benar-benar serius kan? Mereka bahkan rela mengorbankan rekannya sendiri" balas Shiro.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Tsukiyo.

"Lindungi Izuna saja. Sama seperti tadi"

Shiro pun segera meninggalkannya dan mulai melawan musuh. Tiba-tiba seorang musuh dengan pedang yang cukup besar datang menyerang. Pukulannya cukup untuk membuat Hoori terpental beberapa meter.

"Apa hanya sebatas ini saja kekuatan kalian? Dimana klan elit yang selalu dibanggakan? Hah, ternyata kalian tidak lebih dari sekelompok pecundang!" ucap orang itu dengan nada mengejek.

"Sialan kau!" Ryuuji segera melangkah maju tetapi tubuhnya ditahan oleh Hoori.

"Jangan! Kita harus menyusun strategi. Coba kau lihat itu!" ucap Hoori seraya memberi isyarat agar Ryuuji melihat kearah pasukan musuh.

"Apa-apaan dengan formasi itu?" Ryuuji tampak bingung.

"Mereka seperti melindungi shinobi berpedang besar itu dengan ketat. Mungkinkah ia ketua nya?" timpal Tsukiyo.

"Kenapa kalian tidak lari saja?" ucap Izuna tiba-tiba.

"Meskipun lari, mereka pasti akan mengejar. Percuma saja" balas Hoori.

"Tidak juga. Tadi mereka mengincarku. Lebih baik kalian pergi dari sini" Izuna terlihat serius dengan perkataannya.

"Jadi maksudmu kami harus meninggalkanmu disini dan lari, begitu?" tanya Hoori.

"Ya begitulah. Daripada kalian mati. Kekuatan kalian dibutuhkan oleh klan. Tidak sepertiku. Aku kan bukan shinobi. Aku tidak dibutuhkan. Lebih baik aku mati saja daripada merepotkan kalian terus. Selama ini Tou-san selalu memerintahkan kalian untuk melindungiku karena hal itu kan? Untuk apa kalian melakukannya demi seorang anak yang akan menjadi pecundang? Lebih baik kalian menyelamatkan diri…" balas Izuna dengan nada kesal.

"Kau salah paham. Apapun yang terjadi, kami tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Kalaupun musuh sudah menyelesaikan urusan mereka denganmu, pasti mereka akan mengejar kami" ucap Hoori tenang.

"Tapi dengan begitu kalian bisa memanggil bantuan!" ucap Izuna dengan lantang.

"Kau pikir kami akan melakukan hal seperti itu? Lebih baik mati disini, kau tahu?" balas Hoori.

"Bagaimana menurut kalian tentang kinjutsu kami? Kalian mungkin sudah beberapa kali melihat itu sebelumnya. Tapi, yang tadi itu hanyalah percobaan" ucap shinobi yang sepertinya adalah ketua mereka.

"Mengorbankan nyawa sebanyak itu? Kau bilang itu adalah percobaan?!" Shiro tampak geram.

"Mereka mati sebagai pahlawan klan. Tak ada yang perlu disesali! Sebagai gantinya, kami bisa memusnahkan klan Uchiha!" ucap shinobi itu dengan seringai licik.

"Kau pikir kami akan semudah itu dikalahkan?" balas Satsuki.

"Oh, sepertinya kau belum paham. Kami tak perlu mengalahkan kalian untuk memusnahkan klan Uchiha" jelas musuh.

Satsuki tampak bingung dengan respon mereka. Mereka seperti merencanakan sesuatu yang besar, tetapi ia masih belum dapat menerkanya.

"Tidak usah memasang tampang pecundang yang sedang kebingungan begitu. Biar kujelaskan. Kau lihat pemukiman klanmu sendiri? Letaknya tak begitu jauh bukan? Hanya sekitar 1 kilometer. Klan kami telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mengembangkan kinjutsu andalan kami. Dan pada akhirnya, kami berhasil mengembangkan kinjutsu ini ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun yang bisa menggunakannya hanya aku, tetapi kini radiusnya lebih luas, sekitar 1,7 kilometer! Hahahaha!" shinobi itu tampak sangat bahagia.

Satsuki dan yang lainnya tampak begitu terkejut. Meskipun penjelasannya belum selesai, mereka sudah bisa mengerti maksud dari musuh. Otak mereka berusaha mencari ide agar dapat mencegah hal buruk terjadi.

"Tampaknya kalian mulai mengerti. Ya! Kami akan menghancurkan pemukiman klan! Bukankah disana terdapat orang-orang yang penting? Yah, ketua kalian memang tak berada di pemukiman. Tapi, anak-anak penerus klan ada disana bukan? Lalu para wanita yang akan melahirkan generasi selanjutnya. Bayangkan jika klan Uchiha yang sudah kekurangan pasukan, sekarang kehilangan mereka? Hahahaha! Kenapa kami memberi tahukan hal ini kepada kalian? Karena kalian tak bisa melakukan apapun! Kalau mau membunuhku, pasukanku siap menghadang. Dan kalau mau berlindung dengan tembok kesayangan kalian, silakan saja! Kalian mungkin selamat, tapi ucapkan selamat tinggal pada kerabat kalian di rumah!" para musuh tertawa bahagia.

Para Uchiha tampak kebingungan. Benar apa yang dikatakan oleh musuh, tidak ada apapun yang dapat mereka lakukan. Izuna yang mengetahui hal ini merasa sangat ketakutan. Apakah klan nya akan benar-benar berakhir? Bagaimana dengan perjuangan mereka selama ini? Ia hanya dapat membatu dengan wajah pucat pasi. Ia juga tak dapat memikirkan apapun.

"Kalian semua, cepat bawa Izuna pergi dari sini. Pulanglah…"

Satsuki membuka pembicaraan dengan tenang. Ia terlihat sangat serius, lebih dari yang biasanya. Di sisi lain, musuh sedang mempersiapkan serangan utamanya.

"Apa maksudmu? Kau tahu, kemanapun kita pergi, ini semua percuma saja. Kita dihadapkan pada dua pilihan, kita yang selamat, atau mati bersama klan kita? Bukan begitu, Satsuki-sama?"

Ryuuji membalasnya dengan tatapan bingung. Tetapi Satsuki masih terlihat tenang, seperti ia sudah memiliki rencana mengenai bencana yang akan mereka hadapi ini.

"Huh, kau banyak bicara. Ini perintah dariku kau tahu? Diamlah dan lakukan saja, tidak usah protes"

Senyuman terukir di wajah Satsuki. Namun entah mengapa, tampak kesedihan dalam senyuman itu. Hoori, Shiro, Tsukiyo, Ryuuji dan Izuna juga menyadari hal tersebut. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Satsuki disaat seperti ini.

"Izuna, dengar…" sambil menatap musuh dengan serius, ia memanggil adik bungsunya.

"A-apa?"

Izuna masih tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia menatap kakaknya dengan pandangan kosong.

"Kau… memang bukan shinobi. Tapi, itu bukan berarti kau adalah aib bagi klan. Kita semua adalah keluarga. Kita terikat oleh hubungan darah. Darah Indra Ootsutsuki mengalir dalam tubuh kita. Seperti apapun dirimu, kau tetap bagian dari klan Uchiha. Bukan kami yang menentukan, ini merupakan takdir. Dan sampai kapanpun, kau tidak dapat menghilangkan hubungan itu. Setiap bagian tubuhmu, adalah bukti kalau kau merupakan seorang Uchiha. Hal itu berarti bahwa kau merupakan seseorang yang penting bagi kami. Kami semua sangat menyayangimu. Jangan lupakan itu" suara Satsuki terdengar sendu.

"Apa-apaan ini? Apa kalian sedang menyusun rencana? Percuma saja, kau tidak akan bisa melakukan apapun. Kalau mau menyelamatkan diri silakan saja, kami tidak peduli. Tujuan kami adalah mereka" ucap salah seorang musuh sembari menunjuk ke arah pemukiman Uchiha.

"Sekarang pergilah kalian semua. Kita akan bertemu lagi nanti. Yah… kuharap 'nanti' itu tidak akan cepat" Satsuki tertawa kecil.

"Maksudmu apa Nii-san?" Shiro sama sekali tidak mengerti dengan perkataannya.

"Sudahlah, pergi sana. Ini perintah. Lihat saja, aku akan menyelamatkan klan. Impianku adalah menjadi pahlawan suatu saat. Apa kalian tidak mengizinkanku untuk mewujudkannya sekarang?" mata Satsuki memancarkan kesedihan meskipun ia tersenyum.

"Tapi bagaimana? Kita―"

"Cepat pergi! Ini perintah! Mau sampai kapan kau tetap diam melihat keselamatan klan yang terancam?" Satsuki memotong pembicaraan sebelum Tsukiyo selesai bicara.

"Ayo kita pergi…" Hoori yang tampak mengerti maksud Satsuki segera bersiap sembari menarik tangan Izuna.

"Terima kasih… Aku rasa aku akan merindukan kalian, hahaha…." Satsuki tersenyum kecut.

"Satsuki-sama, senang mengenalmu… Aku… Aku bahagia bisa terlahir sebagai saudaramu!"

Hoori berusaha tersenyum meskipun beberapa tetes air mata meluncur di pipinya. Sementara yang lain masih belum mengerti apa maksud mereka berdua.

"Bodoh! Jangan menangis, ini bukan perpisahan selamanya kan?"

"Kau benar, nanti aku akan menemuimu lagi. Tapi sebelum itu, aku harus melakukan sesuatu yang berguna untuk klan!"

"Akan kutunggu…" Satsuki kembali mengalihkan konsentrasinya pada musuh.

"Ayo…"

Hoori menarik Izuna dan berlari menjauh. Ryuuji, Tsukiyo dan Shiro awalnya tampak ragu tapi mereka tetap mengikutinya. Sementara itu, para musuh telah selesai dengan persiapannya. Kesombongan terukir jelas di setiap wajah mereka.

"Oh, jadi kau menyuruh mereka pergi? Apa yang kau pikirkan? Berharap mereka memberitahu para Uchiha agar lari dari pemukiman? Percuma saja! Bahkan sebelum mereka sampai, aku sudah meledakkan kalian semua, hahaha…" ucap pemimpin mereka.

"Ah jangan lupa, kau memang memiliki jurus pertahananmu itu. Itu cukup kuat untuk menahan ledakan, tetapi jangkauannya tidak cukup luas untuk melindungi semua orang. Jadi percuma saja, klanmu tetap akan musnah!" ucap salah seorang yang lain.

"Kau pikir aku bodoh? Aku juga tahu bahwa aku tidak akan sempat memberitahukan klan akan hal ini. Aku hanya menyuruh mereka pulang, itu saja" jawab Satsuki tenang.

"Ternyata sebagai petinggi klan, kau sangat egois ya? Menyuruh mereka pulang sambil mengatakan seakan-akan kau memiliki rencana, dengan begitu mereka akan terkena ledakkan bukan? Mereka pikir kau bisa mengatasi kami. Padahal kau akan menggunakan jutsumu untuk melindungi dirimu sendiri saja, iya kan?" seorang musuh mengatakannya dengan wajah mengejek.

"Aku sudah siap dengan jutsuku, bagaimana kalau kita mulai saja. Kau tampak begitu tenang tuan elit. Itu karena kau tahu bahwa kau akan selamat bukan?" pemimpin mereka mulai membentuk segel untuk kinjutsunya.

"Kau tahu, kami di sini rela mati demi klan. Tidak sepertimu yang hanya ingin menyelamatkan diri sendiri! Mungkin karena kau sudah putus asa dan tidak tahu mau melakukan apa lagi. Coba bayangkan, berapa banyak anggota klan Uchiha yang akan mati terkena ledakkan ini hah?" para musuh memasang wajah licik mereka.

'Ninpō: Naraku Nenshō'

'Doton: Kanpeki'

"Hanya satu" ucap Satsuki seraya tersenyum.

"K-kenapa kita meninggalkannya? Apa yang kalian bicarakan tadi?"

"Iya, apa rencana yang dimiliki Satsuki-sama?"

"Kenapa kau membiarkan Satsuki-nii menghadapi musuh sendirian?"

Mereka terus menghujani Hoori dengan berbagai pertanyaan. Izuna sendiri juga tidak mengerti, tapi ia tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan.

"Kalian sudah dengar bukan? Ini perintah. Lakukan saja apa yang dimintanya. Ia akan mewujudkan impiannya, jadi… jangan menghalanginya" ucap Hoori lirih.

Kini mereka sudah cukup jauh hingga tak dapat mendengar percakapan Satsuki dengan para musuh. Ryuuji menghentikan langkahnya dan menatap kearah Satsuki. Pemimpin musuh tampak membuat segel tangan untuk kinjutsunya, begitupun dengan Satsuki.

"Apa yang kau lakukan, ayo pulang" ucap Hoori.

"Apa yang Satsuki-sama lakukan?!" Ryuuji berteriak panik.

"NII-SAAAAN!" Izuna tiba-tiba berteriak seraya meneteskan air mata.

Sebuah tembok kokok seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya berdiri menutupi Satsuki. Tetapi tidak hanya dirinya, tembok itu juga menutupi seluruh musuh. Tak lama, tembok itu hancur berkeping-keping. Bahkan dari kejauhanpun, mereka dapat melihat semburan darah ke segala arah. Hoori memeluk Izuna dengan erat, ia tahu kejadian itu bukanlah sesuatu yang pantas dilihat oleh Izuna. Sementara Shiro, Ryuuji dan Tsukiyo terduduk lemas.

"Mimpi… ini pasti hanya mimpi bukan?" suara Shiro terdengar bergemetar.

"Maaf… Jika saja aku bisa menggantikan posisinya, pasti akan kulakukan. Hanya saja, tidak ada diantara kita yang bisa menggunakan jutsu pertahanan itu dengan sempurna. Hanya Satsuki-sama saja yang dapat melakukannya. Sementara untuk ledakkan seperti itu… kau tahu…"

Hoori tak kuasa menahan air mata, ia bahkan tak dapat melanjutkan perkataannya. Izuna sangat shock melihat kejadian itu. Ia memang sering melihat mayat. Tetapi, untuknya melihat seseorang mati di depan matanya, itu adalah pertama kali baginya.

"Aku tahu aku tidak berguna… Kalau saja aku telah menyempurnakan jutsuku, aku lah yang akan berdiri di sana. Bahkan saat aku menyadari rencana Satsuki-sama, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menurutinya. Meskipun aku lebih tua, aku tidak dapat melindungi kalian… Aku minta maaf, aku… maafkan aku… maaf…"

Hoori terus menangis sambil menyalahkan dirinya sendiri.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri begitu senpai…" Ryuuji tampak semakin sedih melihat Hoori.

"Dia benar, ini bukanlah salahmu…" Tsukiyo akhirnya ikut bicara.

Hoori memandangi para saudaranya itu lekat-lekat. Mereka semua terlihat begitu sedih, Izuna lah yang terlihat paling buruk keadaannya. Ia menyadari bahwa ratapan hanya akan memperburuk suasana.

"Maaf… Aku sudah bersikap kekanak-kanakkan. Hanya saja… kalian tahu ini sulit. Aku bahkan masih belum mempercayai kejadian ini. Tapi… bukankah Satsuki-sama sudah menggapai impiannya? Ia pasti sangat senang di sana. Kita telah diselamatkan olehnya, karena itu… Ayo berhenti bersedih! Kita harus menggunakan hidup kita sebaik-baiknya!" Hoori mulai menampakkan semangatnya.

"Itu benar! Kita akan bertemu Satsuki-sama lagi nanti! Aku tidak mau bertemu dengannya dalam keadaan buruk, karena itu aku juga akan melakukan hal yang keren!" ucap Ryuuji dengan cengiran.

"Shiro-sama, ia pasti ingin melihat kebahagiaanmu bukan? Karena itu, ayo bahagia untuknya!"

Tsukiyo menepuk pundak Shiro yang masih menampilkan wajah suram. Shiro menghela napasnya sebentar dan mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah langit.

"Kau benar, ayo kita lakukan yang terbaik! Nii-san itu, dia pikir dia sangat keren bukan? Lihat saja, saat tiba waktunya, aku akan menemuinya dengan cara yang lebih keren!" senyum kembali terukir di wajahnya.

"Kukira ini sudah cukup?"

Seorang Uchiha mengelap peluh yang membasahi keningnya. Dengan bantuan kerabatnya, ia naik dari dasar lubang yang baru saja digali. Kemudian dengan perlahan, sebuah peti dengan lambang Uchiha di atasnya pun diturunkan. Lalu tanah-tanah bekas galian dikembalikan lagi ke lubang untuk menimbun peti tersebut. Kira-kira begitulah kondisi di dekat pemukiman Uchiha saat ini. Kini, ada puluhan kuburan yang baru saja digali. Mereka semua yang terkubur di sana adalah para anggota klan Uchiha yang mati dalam peperangan. Setelah semua persiapan selesai, upacara pemakaman untuk mereka semua pun dilaksanakan. Acara tersebut berlangsung dengan lancar dan tenang. Setelah selesai, mereka mulai bubar meninggalkan tempat penuh kesedihan tersebut.

"Satsuki-sama benar-benar keren!"

"Kau benar, karena ia kita masih hidup!"

"Tapi… tetap saja ini menyedihkan…"

"Huh… Kita… tidak punya waktu untuk bersedih terlalu lama bukan?"

"Ya, lagipula aku yakin Satsuki-sama dan juga para korban perang lainnya tidak ingin kita terus meratapi mereka. Kita harus melanjutkan perjuangan mereka!"

"Kalau begitu, ayo kita berlatih!"

Berita tentang Satsuki sudah diketahui seluruh klan. Orang-orang sangat terkejut juga berterima kasih atas apa yang telah ia lakukan. Dan ia juga dipuji atas keputusannya itu. Tidak ada yang menyangka, ia akan menggunakan jutsu bertahan andalannya sebagai alat untuk mengorbankan dirinya sendiri. Awalnya, tidak ada yang mengerti apa yang ada dipikiran Satsuki, karena hal yang dilakukannya itu tidak terduga. Namun disaat seperti itu, cara itu adalah yang paling mungkin dilakukan. Jutsu Satsuki memang tidak akan menjangkau radius yang cukup luas untuk menutupi seluruh pemukiman klan Uchiha. Tetapi, itu cukup untuk menjangkau posisi musuh. Jutsu itu adalah jutsu pelindung, sehingga tembok akan menutupi penggunanya dan apapun yang berada di sekitar pengguna. Karena itu lah Satsuki memutuskan untuk mengurung dirinya dan seluruh musuh, sehingga ledakkan hanya terjadi di dalam tabung tanah itu, bukan di luar. Meskipun temboknya tidak cukup kuat untuk sepenuhnya menahan ledakkan, setidaknya kekuatannya berhasil diredam, sehingga radius dan kekuatan ledakkannya pun mengecil. Jutsu pelindung itu ternyata tidak selamanya melindungi apa yang berada di dalamnya. Tapi kali ini, jutsu itu melindungi apa yang berada di luar. Namun, tentu saja kejadian itu membuat saudaranya sedih, apalagi saudara terdekatnya.

"M-Madara-sama, kau harus berlatih sekarang. Tajima-sama sudah menunggumu"

Hoori berharap latihan dapat mengalihkan kesedihan Madara saat ini, ia mengerti bahwa Madara sangat terpukul.

"Ya, aku akan segera ke sana" ucap Madara.

Ia melangkah dengan tatapan lesu menjauhi pemakaman Uchiha. Tiba-tiba, terdengar suara langkah yang tergesa-gesa.

"Nii-san! Izuna…Izuna dia… tidak ada!"

Shiro berteriak setelah berlari-lari. Dari belakang ia disusul beberapa anggota Uchiha lain yang tampaknya telah membantu Shiro mencari Izuna.

"Yang benar saja, tadi ia ada di rumah kan bersama Kaa-san?"

"Memang, tapi entah bagaimana ia tidak ada di rumah. Padahal rumah dijaga ketat, aku tidak mengerti bagaimana anak itu pergi…"

Madara mengepalkan tangannya dengan erat. Amarah terukir jelas di wajahnya. Shiro bertambah panik melihat kakak tertuanya emosi seperti itu.

"T-tenang saja Nii-san, kita pasti akan menemukannya… Pasti dia belum jauh dari sini. Pemukiman kan dijaga dengan ketat"

Meskipun Shiro berusaha menenangkan kakaknya, Madara sama sekali tak terpengaruh. Rasanya ia ingin sekali berteriak kepada semua orang di sana agar mereka semua mencari Izuna, tetapi Madara ingat bahwa tidak semua orang tahu bagaimana ciri-ciri Izuna, karena anak itu jarang berada di luar rumah.

"Hoori, cepat cari Izuna, ke seluruh area pemukiman. Lihat juga di area perang sekitar sini, atau sungai di perbatasan, juga tempat penyimpanan senjata. Jangan lupa periksa tempat latihan shinobi"

Madara akhirnya hanya bisa menyuruh Hoori, salah satu orang yang dekat dengan Izuna, untuk mencarinya.

"Untuk sementara, mungkin sebaiknya jangan beritahu Tou-san dulu ya? Karena kondisi Tou-san tidak baik, kabar ini hanya akan memperburuknya" ucap Shiro.

"Jangan, beri tahu ia sekarang. Kalau kita menyembunyikannya, saat ia mengetahui hal ini nanti, ia akan lebih kesal"

Madara membalasnya dengan nada serius, ia segera berjalan menjauhi Shiro.

"Biar aku yang memberitahunya, kau cari Izuna saja…" sambung Madara.

*...To be continued...*

Okay, berakhir sampai di sini dulu. Maaf kalau kurang panjang -_- Oh ya untuk peringatan, cerita ini mengenai perang dari sudut pandang Izuna, jadi bakalan banyak yang dibahas, gak cuma hubungan dia sama Madara :") Tapi itu bakalan menjadi sebagian besar dari cerita ini, so yang fans Madara harap bersabar ya :""D

Waktunya balas review- *udah lama banget baru lo bales, dasar author gak bertanggung jawab*

Sasshi Ken: Sabar ya, untuk interaksi Madara-Izuna nya. Semua ada waktunya (?)... Makasih udah baca dan review...

rokouch: Semua sikap Madara ada alesannya kok :') Maaf ya gak bisa update kilat, malah update kaya siput gini... Thanks for review...

ctrsrcitra: review lu perlu gua bales? XD Makasih ya pendapatnya :''')

sunset: Makasih atas pujian dan dukungannya :")

ayakasa shiro: Udah lanjut *meski lama banget* T_T makasih udah review...

Febby Putri: Makasih loh atas imajinasinya hehehe :D Sorry lama banget update fic ini... Makasih udah mampir...

Untuk semuanya, makasih banget udah baca, review, untuk yang fav dan follow, untuk yang liat judul dan summarynya aja juga makasih, bahkan yang gak sengaja kepencet fic ini juga makasih :") Pokoknya makasih buat semua yang udah mampir ke fic ini, apalagi yang nungguin... Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya...