Disclaimer: Masashi kishimoto
The Toxic Girl
by
Zaniasrani
warning: AU, OOC, TYPO, ABAL ANEH, DLL
chapter 1: she is comeback, Hyuuga Hinata.
.
HAPYY READING :)
.
.
.
Pemuda berambut cokelat itu kini tengah menengadahkan kepalanya ke atas langit. Tidak! Dia sedang tidak melihat awan putih atau pemandangan langit biru yang mempesona. Dia sedang melihat sebuah benda terbang berbaling-baling yang sebentar lagi akan mendarat di lapangan khusus pendaratan helikopter yang kini sedang di pijaknya. Senyum tipis terukir kala helikopter itu mendarat. Sesaat kemudian, keluarlah seorang perempuan dari balik pintu, lalu berjalan pelan menuju pemuda yang sedang menunggunya.
Penampilannya hampir sama dengan pemuda berambut cokelat itu. Setelan jas rapih ala wanita, plus kaca mata hitam yang di kenakannya membuat semakin errr menawan. Jangan lupakan highheelnya yang membuat langkah kakinya terlihat lebih indah.
Perempuan itu sudah ada di depan pemuda yang mempunyai name tag -Hyuuga Neji-. Perlahan ia membuka kacamatanya, lalu tersenyum, dan memeluk pemuda itu.
"Seharusnya niisan tidak perlu memakai helikopter pribadi untuk menjemputku," bisiknya pelan.
"Itu untuk keselamatanmu, Hinata. Ayah akan marah jika kau terluka. Ingat bagaimanapun kini kau sudah menjadi detective terkenal. Dan pasti banyak yang mengincar nyawamu," ujar Neji panjang lebar. Hinata memutar bola matanya, selanjutnya ia melepas pelukannya.
"Aku tahu, tapi aku bisa mengatasinya."
"Jangan so kuat. Ini Jepang, bukan Amerika. Kau tak bisa seenaknya karena niisanmu ini akan terus mengawasimu."
"Baiklah, aku mengerti bos," ucapnya sambil meletakan tanganya di kepala, seolah-olah sedang memberi hormat.
Neji hanya terkikik geli. Tangan pemuda itu menyentuh puncak kepala Hinata.
"Ayo kita pulang. Sudah dua tahun dan ini pertama kalinya kau kembali lagi ke Jepang."
Yah welcomeback Hinata.
.
.
.
"Malam ini, pembunuhan terjadi kembali. Kali ini korbannya adalah pimpinan partai politik yang cukup terkenal. Diduga kuat, beliau di bunuh oleh para saingan politiknya. Di duga pula yang melakukan pembunuhan ini adalah geng Akatsuki..."
"Ibu nonton itu lagi?" Tanya seorang pemuda berambut raven yang kini sedang menuruni tangga. Wanita itu menoleh.
"Iya Sasuke. Ibu jadi resah, Akatsuki itu sangat berbahaya," jawabnya sambil melirik ke arah televisi lagi.
Sasuke mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa, lalu memeluk leher ibunya dengan kedua tangannya.
"Sudahlah bu, tak ada yang perlu di khawatirkan. Lagipula kita tak berurusan dengan mereka."
"Tapi, mereka..." ucapannya terpotong.
"Sasuke benar bu. Kalaupun mereka datang dan mengganggu kita, aku akan melidungi kalian," ucap pemuda lain yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.
"Dengarkan? Ainiki juga tidak khawatir, jadi ibu tak perlu memikirkan hal seperti itu."
Mikoto sedikit tertegun melihat kedua anaknya. Diluar, mereka berdua di kenal sangat dingin dan tak bersahabat. Tapi jika di depannya, mereka benar-benar berubah, sangat hangat.
"Terkadang ibu suka lupa kalau kalian sudah dewasa dan kuat." Kalimat itu dibalas dengan kikikan mereka berdua.
"Ibu ke dapur dulu, ada sesuatu yang belum selesai dikerjakan." Mereka mengangguk menanggapinya.
Setelah ibunya menghilang. Mereka berdua pun duduk bersamaan di sofa yang tadi diduduki ibunya. Otomatis mata merekapun langsung tertuju pada layar televisi yang masih memberi berita tentang Akatsuki.
"Hm, kau tidak bekerja ainiki?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi empat itu.
"Oh ayolah ini hari minggu Sasu..."
"Jadi sekarang, Uchiha Itachi sudah mengenal hari minggu dan hari libur, eh? ajaib sekali, biasanya juga tak pernah," ledek Sasuke. Itachi hanya tersenyum tipis.
"Itu hanya pelampiasan," ucap Itachi memberi alasan. Sasuke menoleh ke Itachi.
Ya sebenarnya ia tahu hal itu, tapi dia tidak tahu apa penyebabnya. Beberapa kali ia pernah menanyakannya, tapi tak pernah di jawab. Sasuke kesal, tentu saja. Perubahan itu sangat menyebalkan, ia jadi sulit punya waktu dengan kakaknya karena kakaknya lebih memilih menyibukan diri dengan berkas-berkas sialan itu. Sasuke benar-benar sangat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu saat tiba-tiba Itachi berubah seperti ini. Mungkin suatu saat dia akan mengetahuinya, yah mungkin.
"Sepertinya Akatsuki itu memang cukup menyusahkan yah."
"Kenapa? Kau takut Sasu?"
"Tidak! Aku hanya penasaran."
"Hnn,"
Untuk sesaat keheningan menyelimuti mereka berdua, sampai pada akhirnya Sasuke menanyakan sesuatu pada Itachi.
"Ainiki, apa kau tau sesuatu tentang Akatsuki?"
Itachi sejenak terdiam mendengar pertanyaan Sasuke.
"Akatsuki. Awan merah dalam kegelapan."
.
.
.
Akatsuki adalah sebuah kelompok mafia. Kelompok ini bergerak dalam bidang kejahatan, khususnya pembunuhan. Tidak terlalu banyak informasi yang diketahui dari kelompok ini, karena kelompok ini begitu pintar menyembunyikan diri. Bahkan polisi sendiri sudah hampir kewalahan untuk mengejar dan menangkap kelompok ini. Namun tetap, penyelidikan masih tetap berlangsung.
Akatsuki biasanya akan 'bergerak' jika ada yang membayar mereka. Bisa dibilang, mereka lebih pantas disebut kelompok pembunuh bayaran dibanding mafia.
Jika ada yang ingin memesan jasa mereka, pertama-tama mereka akan memastikan dulu jika si pemesan benar-benar serius dalam artian;dia benar-benar memesan jasa, bukan polisi yang sekedar menyamar menjadi pemesan agar bisa menangkap mereka. Jika hal itu sampai terjadi, maka detik itu juga detak jantung 'si pemesan' akan berhenti.
Untuk berhubungan dengan kelompok ini juga tidak mudah. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu bagaimana cara berhubungan dan memesan jasa mereka. Untuk masalah tarif, mereka selalu mematok harga diatas rata-rata, untuk setiap 'misi' yang di berikan.
Kelompok Akatsuki selalu berpindah-pindah tempat agar tidak mudah ditemukan oleh polisi. Dan kini mereka tinggal di sebuah ruang bawah tanah yang di luarnya berkedok sebuah gubug tua.
Disalah satu bagian dari ruangan yang ada dibawah tanah itu terlihat ada tiga orang disana. Dua orang laki-laki dan satu wanita.
"Tugas kali ini ku serahkan padamu…" ucap pemuda berambut orange pada pemuda berambut merah. Sedang wanita itu hanya terdiam dengan ekspresi datar di samping pria berambut orange.
"Membunuh seseorang lagi, eh?"
"Yah seorang anak dari pengusaha sukses yang ada di Konoha. Ini biodatanya." jelasnya lagi sambil memberikan kertas berisi biodata si calon korban. Pemuda yang satunya pun mengambil kertas itu. Lalu membacanya.
"Sepertinya menarik, coba ku lihat. Dia kan,,,"
"Jika sudah mengerti lakukan tugasmu dalam satu bulan!" pintanya tegas sembari melangkahkan kakinya hendak pergi dari sana. Pemuda imut itu hanya membalas dengan sebuah seringai.
"Aku bahkan bisa membunuhnya dalam satu detik pimpinan Yahiko. Satu bulan itu terlalu lama." Kata-kata darinya mampu menghentikan langkah dari orang yang dipanggil pimpinan Yahiko itu. Dengan wajah datar namun sarat akan amarah, Yahiko menoleh padanya sambil memberikan tatapan tajam yang sukses menghilangkan seringai itu.
"Orochimaru sialan itu ingin dia terlihat mati secara wajar, jadi dia memberiku waktu satu bulan agar semua berjalan lancar. Jadi lakukan saja perintahku, Sasori!" desisnya tajam. Suasana berubah begitu cepat saat pria bernama Yahiko itu selesai berbicara. Keheningan yang tercipta begitu mencekam.
"Mungkin memang akan sangat mudah membunuhnya..."
"..."
"..."
"Tapi jika Uchiha Itachi tau dia pasti akan menghalangi kita dan mengagalkan semua rencana pembunuhan terhadap dia. Walau sedikit, kau pasti tau siapa Uchiha Itachi bukan?" ucapnya penuh penekanan saat menyebut nama Uchiha Itachi. Ditolehkanlah kepalanya pada perempuan yang sedari tadi diam. Ia dapat melihat perubahan ekspresi yang kontras dari paras ayu itu. Wajah yang tadinya datar berubah menjadi penuh kekagetan dan penuh tanya. Tangan mungilnya terkepal erat. Dia sungguh tak suka melihat ini.
"Bunuh dia! Tidak boleh ada kegagalan!"
Setelah mengucapkan itu, Yahiko langsung pergi sambil memegang tangan perempuan itu dengan kasar dan kuat, penuh pemaksaan tapi tak ada penolakan. Sedangkan Sasori hanya menatap kertas berisi biodata calon korbanya itu.
"Uchiha Sasuke, kau sangat tidak beruntung."
.
.
Pria paruh baya itu kini sedang terduduk disebuah kursi salah satu restoran bintang lima. Jari tangannya terus saja mengetuk-ngetuk meja, merasa waktu seakan begitu lama baginya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang seakan-akan tak sabar untuk bertemu dengan seseorang.
Kegiatan mengetuk mejanya terhenti saat ia melihat seorang yang ditunggu telah hadir dan sedang berjalan kearahnya. Wajahnya pun kini sudah terlihat sedikit berseri dibanding tadi, karena ia menutupinya dengan wajah datar. Tubuhnya berdiri, untuk menyambut gadis yang dirindukannya. Saat jarak antara keduanya tinggal sedikit, si gadis langsung berlari menuju kearahnya, lalu memeluknya.
"Ayah, aku sangat merindukanmu," tukas gadis itu. Sang ayah pun membalas pelukannya.
"Hn, ayah tau Hinata" balasnya singkat, namun sangat tulus. Orang yang sedari tadi menemani Hinata pun tersenyum tipis melihat adegan itu.
Saat sedang berpelukan, tiba-tiba Hinata mendorong ayahnya kesamping, lalu ia mengeluarkan pistol yang ada di balik bajunya, kemudian ia mengarahkannya pada laki-laki berpakaian hitam yang tadi ada di belakang ayahnya. Laki-laki itu tampaknya mau menembak-Hiashi- ayah Hinata, terlihat saat ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada pria paruh baya itu. Namun gerakan Hinata lebih cepat dari pria itu. Hingga kini posisi pistol Hinata sudah ada dikepala pria itu.
"Bosan hidup, eh?" ucap Hinata dengan tatapan tajam, sedangkan laki-laki itu hanya menunduk saja.
Prok,,, prook,,, proook.
Tepukan tangan itu berasal dari sang ayah yang tadi sempat didorong oleh Hinata. Ia tersenyum lalu menghampiri Hinata. Hinata hanya memandang heran pada apa yang dilakukan oleh ayahnya.
"Anak ayah yang manis benar-benar sudah berubah yah," ucapnya santai. Hinata masih terdiam karena kebingungannya. Mengerti dengan kebingungan Hinata, ia pun menjelaskannya.
"Turunkan pistolmu Hinata, dia anak buahku." Mendengar penjelasan itu, Hinata pun menurunkan senjatanya itu. Gadis bermata lavender itu menolehkan kepalanya pada kakaknya, memberi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi malah dibalas dengan seringai aneh. Lalu ia pun menoleh lagi pada ayahnya. Menuntut penjelasan atas semua itu.
"Kami baru saja mengujimu Hinata," tutur ayahnya yang kini sudah ada di depannya.
"Menguji?"
"Yah, tentu saja. Ayah mana mungkin memanggilmu kesini dan memberikan tugas itu secara cuma-cuma padamu, jadi kami mengujimu, dan ternyata memang hasilnya tidak mengecewakan melihat pengawasan, refleksi, dan kecepatanmu yang mengagumkan seperti tadi," jelas Hiashi panjang lebar. Hinata mulai mengerti dengan apa yang dimaksud ayah dan kakaknya. Dia mendecih sambil memasukan kembali pistol pendeknya kedalam saku bajunya. Lalu ia pun duduk di kursi restoran yang tadi sempat diduduki ayahnya.
"Jadi ini alasannya kenapa aku dibawa ke restoran bukannya rumah? Apa artinya ayah dan kakak masih meragukanku, eh?" tanya Hinata dengan nada sedikit tak suka. Hinata merasa bahwa dirinya sangat lemah karena hal ini.
Hiashi dan Neji mendekati Hinata, lalu duduk di meja yang sama dengannya.
"Bukan seperti itu. Kami hanya khawatir Hinata."
"Tapi kak,,,"
"Kakakmu benar. Ini adalah tugas pertamamu sebagai detektif di Jepang. Kasus yang akan kau tangani juga bukan kasus yang biasa. Walaupun kau sudah mahir di Amerika sana, tapi ini berbeda, mengertilah."
Mendapat penjelasan seperti itu Hinata pun tak bisa lagi merengek tak terima akan kejadian barusan.
"Baiklah, aku tau kalian khawatir, tapi aku baik-baik saja. Aku siap menjadi detektif untuk kasus Akatsuki itu."
Sangat siap.
"Yah, itu benar. Kau harus tau bahwa Akatsuki itu bukan penjahat biasa Hinata. Awalnya aku tidak menyetujui kau jadi detektif untuk kasus ini. Tapi ayah terlanjur memberitahukan nya padamu. Dan kenapa kamu malah sangat antusias dengan ini. Kau bahkan tak mau mendengar bujukanku. Seharusnya kau tau betapa khawatirnya kakakmu ini," ujar Neji panjang lebar. Hinata hanya tersenyum mendengar pernyataan kakaknya yang overprotective itu. Ia tau ini berbahaya, tapi ia harus melakukannya. Ini tentang masa lalu!
"Sudahlah Neji, kita hanya bisa percaya pada Hinata sekarang. Ayah juga sangat khawatir, tapi ayah yakin dia bisa." tutur Hiashi sambil tersenyum hangat pada Hinata. Hinata pun membalas senyuman itu, lalu ia berdiri, dan berjalan kearah ayahnya, kemudian memeluk tubuh laki-laki berambut cokelat itu dengan lembut.
"Terimakasih Ayah." ucapnya tulus. Hiashi mengelus kepala anaknya.
"Tugasmu kali ini adalah menyelidiki tentang mereka," bisiknya di telinga Hinata. Hinata mengangguk.
"Aku tahu. Aku akan melaksanakan tugas ini dengan baik ayah. Sangat baik."
"Bagus, karena kali ini lawanmu adalah criminal paling dicari. Akatsuki."
Tunggulah, aku pasti akan membalasnya.
.
.
.
TBC.
.
.
a/n: haaayyyyyy,,,s saya update, hha xD ok kita balas review dulu.
Miwa03: ini udah lanjut, apa masih penasaran?
kin hyuuchin: salam kenal juga, ini udah lanjut, moga senang yah :)
katsumi: apa ini sudah panjang? ini udah update n,n
Aya: ini udah lanjut,,, apa masih ada yang bikin kamu penasaran?
Virda: ini udah lanjut :) ,,, semoga suka :)
ok terimakasih untuk yang udah review atau yang sider,,,,akhir kata RnR ;D
