"Keluar! jangan mengikutiku!" ujar Hinata sembari menghentikan langkahnya. Seseorang yang tadi mengikuti Hinata pun keluar dari persembunyiannya dibalik tembok. Hinata membalikan badan, lalu melihat stalker yang tadi mengikutinya.
"Kau memang hebat bisa merasakan keberadaanku yang mengikutimu," ucapnya yang sudah keluar dari persembunyiannya.
"Apa belum cukup hukuman yang tadi, eh?" ucap Hinata sambil menatap heran pada pemuda yang didepannya. Pemuda yang tak lain adalah Sasuke.
"Kau cukup menarik, jadi aku tidak keberatan mendapatkannya lagi," jawab Sasuke sambil menatap balik Hinata.
Walau tipis, tapi masih terlihat jelas seringai dibibir Sasuke yang membuat Hinata tak suka. Di mata Hinata, ucapan dan seringaian pemuda itu terlihat seperti sebuah tantangan mengajak perang. Tapi Hinata berusaha untuk tidak peduli. Daripada meladeni ocehan pemuda raven ini, Hinata pun memutuskan untuk pergi melangkahkan lagi kakinya.
"Mahasiswa baru dengan baju yang kotor terkena jus. Pasti akan mendapat masalah dari Rektor." Dan langkah perempuan Hyuuga itu pun terhenti. Kembali ia membalikan badannya kearah Sasuke yang kini tengah menyeringai penuh kemenangan.
"Apa mau mu?" tanya Hinata sengit namun ia masih ber-usaha tetap tenang menghadapinya.
Sasuke tidak langsung menjawab. Ia melangkahkan kakinya mendekati Hinata. Saat sudah ada disamping Hinata kemudian ia berbisik tepat di telinga sang gadis.
"Ikuti aku jika tidak ingin bermasalah dengan Rektor di hari pertamamu, nona."
.
.
.
The Toxic Girl
by
Zani asrani
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: AU, OOC, TYPO, ANEH GAJE, DLL
Chapter 3 : Pertemuan dengan Uchiha Sasuke.
.
.
.
Kini Hinata sudah berada di sebuah ruangan yang di penuhi oleh pakaian: bisa dikatakan tempat ini mirip dengan toko baju. Hinata bisa menebak bahwa ini adalah tempat hasil karya dari para mahasiswa jurusan design di Universitas ini. Dia cukup menyukai model dari pakaian yang ada disini. Walau sebenarnya dia disini karena terpaksa, tapi tidak buruk juga pikirnya.
Tangan mungilnya perlahan menyentuh satu-persatu pakaian yang tergantung disana. Mencoba memilih pakaian yang cocok untuknya.
"Ehem." Suara deheman itu sukses menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memilih baju. Mata Hinata pun menoleh keasal suara itu.
"Bisakah lebih cepat? Kau membuang waktuku," ucap Sasuke kesal. Pemuda Uchiha yang sedang berdiri ditiang pintu masuk menatap bosan pada apa yang Hinata lakukan. Oh ayolah, itu wajar. Karena Sasuke bukan laki-laki yang setia menunggu seorang wanita memilih baju. Jika pun hal itu terjadi, itu pasti hanya pada satu orang, yaitu ibunya. Selain itu tak ada lagi! Hinata yang pertama, setelah ibunya. Namun Hinata tak peduli, ia kembali memilih baju.
"Eheem."
"Aku tidak memintamu membantuku atau menungguku, kau bisa pergi jika kau mau." Hinata berucap tanpa beban sedikit pun, nadanya begitu dingin, dan Sasuke hanya bisa meragukan pendengarannya karena sudah mendengar kalimat tadi.
Sebuah pengusiran? untukku? Uchiha Sasuke? Tidak bisa di terima!
Sasuke menatap Hinata tak percaya.
"Aku membantumu!"
"Kau yang menawarkan, bukan aku yang minta," Hinata sedikit memberi jeda sebelum dia memgambil sebuah baju.
"Aku pilih yang ini, jangan mengintip! atau kau mati." Hinata pun pergi ke tempat ruang pas untuk mengganti bajunya. Sementara Sasuke masih terheran-heran dengan sifat perempuan ini.
Bisa di katakan, perempuan ini adalah satu-satunya perempuan yang dapat bantuan dari Sasuke. Harusnya dia bangga dan berterimakasih, bahkan kalau perlu sambil cium tangan: setidaknya mungkin itu yang akan dilakukan fansnya. Tapi ini berbeda, dan semakin menarik bagi Sasuke. Sasuke sendiri melakukan ini semua karena begitu penasaran dengan sosok perempuan yang tadi ditabraknya. Yah mungkin bisa disebut ketertarikan atau mungkin cinta pada pandangan pertama? Sepertinya terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu. Yang jelas sekarang ia ingin menaklukan perempuan itu, yah masalah cinta atau tidak, hanya waktu yang bisa menjawab.
Cukup lama bergelut dengan pemikirannya, hingga ia tak sadar kalau Hinata sudah selesai memakai baju yang tadi di pilihnya. Begitu melihat Hinata dengan pakaian baru, hanya ada satu kata di pikirannya.
Sempurna.
Baju yang Hinata pakai hanya dress pendek selutut berwarna ungu muda tanpa lengan. Rambutnya yang tadi di gerai pun sekarang sudah di ikat satu ke atas. Syal merah yang tergantung di lehernya memberikan kesan cute. Sepatunya tak diganti, masih sama seperti tadi yaitu sepatu flat berwarna senada dengan syalnya.
"Apa baju yang ku pakai begitu aneh sampai kau memandang ku seperti itu?" tanya Hinata yang kini sedang berjalan menghampiri Sasuke. Dan pertanyaan dari suara lembut Hinata tadi sukses menyadarkan Sasuke dari sesuatu yang 'sempurna'.
Dengan cepat, Sasuke memasang tampang datarnya lagi.
"Itu tidak aneh, tapi tidak buruk juga." Apa itu pujian? entahlah, tapi Sasuke mengatakannya dengan nada salah tingkah, walau ia berhasil menyamarkannya lewat wajah stoicnya. Sasuke sendiri yakin, jika sampai kakaknya tau akan hal ini dia pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil menunjukan wajah konyol dan mengejek pada Sasuke. Tapi Sasuke janji bahwa hal ini tak'an pernah diketahui Itachi, never!
"Aku tidak mau mendapat masalah karena memakai karya mahasiswa design," ucap Hinata yang kini sudah ada di depan Sasuke.
"Tenang saja, ini bukan apa-apa untuk ku," jawab Sasuke dengan senyum angkuh yang di balas decihan kecil dari Hinata. Sombong sekali, pikir Hinata.
"Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau membantuku? Aku yakin alasannya bukan karena kau menumpahkan jus tomat ke bajuku, iya kan?" tanya Hinata sambil mendekatkan wajahnya. Lalu mendongakan kepalanya, menatap Sasuke intens dan penuh tanya.
"Aku Uchiha Sasuke, kau bisa menganggap ku sebagai malaikatmu. Dan alasan kenapa aku membantumu, anggap saja aku tertarik padamu," jawab Sasuke.
"Kau sendiri siapa?" tanya balik Sasuke. Onyx hitamnya menatap penuh penasaran pada Hinata.
"Namaku Nako Kasumi, dan aku bukan siapa-siapa." Setelah mengatakan itu, Hinata berjalan melewati Sasuke. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.
"Setidaknya ucapkan lah terimakasih pada malaikat penolongmu, nona Kasumi-san," ucap Sasuke sengit.
Hinata menoleh, lalu mengernyitkan dahinya.
"Terimakasih? Aku tidak pernah ingat pernah meminta pertolongan padamu, tuan Uchiha," jawab Hinata tak kalah sengit.
"Tapi tanpaku, kau pasti masih memakai baju yang kotor tadi." Hinata menghela nafas, ia tidak ingin memperpanjang masalah bodoh ini.
"Aku tau, sekarang kata terimakasih tidak akan bermakna apapun bagimu. Jadi apa yang kau inginkan?"
Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Lalu dengan gerakan cepat ia menarik Hinata kedalam pelukannya yang erat. Pelukan penuh pemaksaan.
"Pelukan dari mahasiswa baru, menyenangkan juga," ucap Sasuke dengan seringai yang semakin menjadi. Hinata yang diperlakukan seperti itu langsung berontak. Tangan kanannya tak bisa digunakan karena di genggam oleh tangan Sasuke, lalu ia pun berinisiatif menggunakan tangan kirinya untuk memukul wajah Sasuke menyadari hal itu, dengan cepat tangannya yang satunya lagi pun menghadang pukulan yang akan di lancarkan Hinata.
Hinata semakin kesal. Apalagi sekarang Sasuke memojokannya di dinding, mengunci pergerakannya.
Sekarang, Hinata hanya bisa memberikan deathglare pada Sasuke. Namun sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada laki-laki bermarga Uchiha tersebut.
"Mungkin tadi aku lengah karena mengganggapmu biasa. Tapi beda dengan sekarang. Kau tidak bisa memberikan hukuman padaku lagi, Kasumi-san." Ekspresi wajah Sasuke begitu puas saat mengatakan itu. Tapi ekspresi puas itu tidak lama bertahan di wajahnya saat ia melihat Hinata yang tak kesal lagi. Kini perempuan berambut indigo itu malah menampakan wajah datar, seolah tidak peduli dengan apa yang Sasuke lakukan.
"Ini hari pertamaku masuk Universitas, dan aku sudah mendapatkan masalah yang tidak penting dengan orang sepertimu." Dahi Sasuke mengkerut mendengarnya.
Sial! Tidak penting katanya?
"Jika hari pertama saja sudah begini, bagaimana dengan hari kedua dan selanjutnya? Apa kau akan memperlakukanku sama seperti ini, Uchiha Sasuke?" Sasuke masih diam mendengarnya, karena ia masih belum menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya.
"Jika hal itu terjadi, maka tuan Uchiha Sasuke salah memilih orang, karena aku tidak akan diam saja," lanjut Hinata yang kini memberikan seringai kecil pada Sasuke. Walau sekilas, Sasuke dapat melihat seringai itu. Dan sekarang Sasuke mulai kebingungan dengan kalimat yang Hinata ucapkan.
"Tidak tinggal diam? Maksudmu?" tanya Sasuke penasaran. Hinata tak menjawab. Ia hanya menundukan kepala, membuat Sasuke semakin bingung.
"Maksudku, seperti ini."
Dan,,,
BUAAAAGGGGHHHH
Tendangan dari lutut anak Hiashi Hyuuga itu cukup keras mengarah ke selangkangan Sasuke. Otomatis cengkraman tangan Sasuke terlepas. Tangannya kini memegang sesuatu yang terbilang sangat sensitif itu. Berulang kali ia mengumpat, mengutuk perlakuan Hinata barusan. Sedangkan Hinata sendiri bergegas untuk pergi keluar. Ia tau itu sedikit kejam, tapi siapa yang memulai duluan? Jika saja pemuda itu tidak macam-macam ia juga tidak akan melakukan hal seperti itu.
Sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat mengatakan sesuatu pada Sasuke yang masih kesakitan.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni ketertarikanmu itu, Uchiha-san," ucapnya dingin. Setelah itu bayangan perempuan berambut panjang itu menghilang dari hadapan Sasuke.
Sasuke geram. Perempuan itu benar-benar tidak biasa. Bahkan ia dengan teganya menyerang daerah yang menentukan masa depan Sasuke. Semoga saja tidak apa-apa.
Walaupun ngilu, Sasuke berusaha untuk berjalan. Tapi ada sebuah benda yang menarik perhatiannya. Benda kecil yang berkilau yang ada di dekat dinding dimana tadi Sasuke memojokan Nako Kasumi. Pemuda onyx itu mendekat, lalu ia mengambilnya.
"Sebuah cincin, eh?"
.
.
Saat Sasuke dan Hinata yang menyamar menjadi Nako Kasumi sudah keluar dari ruangan itu. Mereka tidak sadar bahwa ada seorang pemuda yang mengawasi dan mendengarkan percakapan mereka. Pemuda yang tak lain adalah Sasori itu menulis sebuah nama sambil tersenyum di buku kecil yang dia pegang.
Aku bisa memanfaatkan mu.
"Nako Kasumi."
.
Di tempat lain yang berbeda. Tepatnya disebuah kamar dimana didalamnya terdapat dua insan manusia berbeda lawan jenis. Si laki-laki tertidur pulas di sebelah wanita yang kini juga sedang berbaring disampingnya, namun ia tidak tidur. Ia tetap membuka matanya. Tatapan kosong dan penuh kehampaan. Ia sengaja tidur dengan membelakangi pria itu, entah kenapa wanita itu tak sanggup menatap pria yang sudah menjadi sahabat baiknya sejak kecil.
Tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka dan hanya selembar selimut tebal lah yang menutupi tubuh polos mereka. Itu terjadi karena beberapa jam yang lalu mereka sudah menyatukan tubuh mereka, saling memberi kepuasan pada tubuh masing-masing.
Yah hanya tubuh, bagi wanita itu tak ada kepuasan hati atau perasaan bahagia untuk hatinya. Tidak ada sama sekali sejak saat ia berpisah dengan'nya', dan saat pria disampingnya ini merenggut kegadisannya. Tepat dua tahun yang lalu. Sejak kejadian hilangnya keperawanan itu, pria yang sedang tertidur disampingnya itu tak pernah lagi menyentuhnya. Tapi akhir-akhir ini dia melakukannya lagi. Saat sebuah nama itu hadir kembali di kehidupan mereka. Nama yang pernah menjadi sejarah bagi sang wanita dan kemurkaan bagi si pria.
Uchiha Itachi.
Saat mendengarnya seminggu yang lalu ia langsung terkejut tak percaya. Dia pikir takan pernah lagi mendengar nama itu. Bingung, bahagia, takut, sedih. Semua emosi itu begitu campur aduk dihatinya. Namun ia sadar bahwa pria itu-Yahiko- melihat ekspresi perubahan diwajahnya. Dan saat itu terjadi Yahiko langsung menyeretnya, dan membawanya ke kamar. Dengan begitu emosi, pimpinan Akatsuki ini melemparnya ke ranjang, lalu dia melakukan hal itu untuk kedua kalinya hanya karena satu nama yang mampu membuat ekspresi si wanita berubah. Nama yang tak pernah disebut lagi selama dua tahun ini. Laki-laki itu sangat tidak suka, wanita itu tau akan hal itu.
Tiba-tiba wanita cantik itu merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Tangan besar itu milik pria disampingnya.
"Berbaliklah padaku, Konan!" pintanya lembut. Tanpa menunggu lama, wanita yang bernama Konan pun langsung membalikan badannya. Kini ia sudah berhadapan dengan pria berambut oranye itu. Namun tatapannya tetap kosong. Yahiko semakin merapatkan tubuh polos mereka. Tangannya yang bebas kini sedang membelai rambut berwarna biru milik Konan, serta mencium aroma dari wanita yang selalu ada di sampingnya.
"Aku sangat mencintaimu," ucapnya lembut sambil mengecup singkat bibir Konan. Tak ada jawaban atau sebuah kata yang keluar dari bibir yang baru saja mendapat kecupan. Tatapannya pun tak berubah sama sekali. Kosong tak ada kehidupan. Tapi pria itu sepertinya juga tidak peduli akan reaksi yang di tampakan wanita yang suka membuat origami itu. Yahiko semakin mendekat hingga tubuh mereka kini menempel. Lalu pria itu memeluk tubuh telanjang itu kedalam rengkuhannya, seolah-olah nyawanya akan hilang jika Konan tak ada. Yah mungkin memang itu yang akan terjadi. Jadi ia akan terus menjaga dan menggenggam erat sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya itu.
"Hanya itu yang perlu kau tau. Tak ada yang lain!"
Tak ada Uchiha Itachi. Hanya kau dan aku.
.
.
TBC
.
A/n: Haaaayyyy saya balik lagi dengan chapter 3, hhe :). Jujur saya tadinya pengen bikin kalimat aneh pas saat pertemuan sasuhina. Yang pas kata-kata 'cium tangan' tadinya saya mau nambahin, 'cium
tangan kaya murid-murid ke eyang S*bu* nya' tapi takutnya garing dan ga pas sama genre di fic ini jadi saya ga jadi deh hha :D . Nako Kasumi adalah nama samaran Hinata, entah kenapa tiba-tiba kepikiran nama itu, hha maaf yah jika aneh. Oh iya ada YahiKonan, gpp kan?coz aku juga suka pair ini, mereka sangat manis sih :D. Gimana menurut kalian chp ini? terus menurut kalian pertemuan sasuhinanya gimna? aneh?gaje? atau ancur? itu prediksi saya sih, hha xD
ok balas review dulu :D (seneng banget masih ada yang review :D)
hinatauchiha69: apa ini termasuk update kilat. Semoga saja :) . Terimakasih :)
Cindilta: ini udah lanjut, makasih yah :)
ClaraMerisa: hha mau gimana lagi kan harus emang ada TBC namanya juga multichap :D . Makasih yah :)
Sherinaru: ini udah lanjut. Apa menurutmu Hinata udah dingin, hhaxD maaf yah kalau chapter ini pendek. Aku ga bisa panjang-panjang xD. makasih yah :)
nagabuluk: ini udah lanjut, makasih yah :).
cecilhime: kyaaaaaaa :D seneng banget senpai mau review fic ku :D(walau cuma satu kata tapi tetep seneng :D). senpai salah satu author favoritku :) . kapan lucky prince nya dilanjut :). makasih yah :)
ahnmi5: gpp koq, kamu review aja aku udah seneng :). Bukan sama gaara balas dendamnya. Gaara disini udah meninggal :). Himenya sasori, hinata? kita lihat aja lanjutannya yah :), makasih yah :)
.
Terimakasih semuanya dan salam sayang dari ku, chhuu :* #ditabok xD . Ok RnR?
