Sebuah mobil berwarna merah terparkir di halaman parkir gedung apartemen. Disamping mobil itu, bersandar Sasori yang sudah sepuluh menit menunggu kedatangan Kasumi. Sebenarnya dia sangat benci menunggu atau membuat orang menunggu, tapi demi kelancaran misi ia harus terlihat seperti laki-laki baik di depan Kasumi. Salah satunya dengan berkorban waktu seperti ini.
"Sasori-san,,," Ia menoleh pada suara itu. Lalu ia menegakan tubuhnya dan memberi senyuman.
"Kasumi-san, selamat pagi," sapanya ramah. Hinata yang baru saja sampai di tempat Sasori sedikit ngos-ngosan karena ia tadi berlari. Setelah nafasnya normal, Kasumi berbicara.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Seharusnya kau tinggalkan aku saja," ujar Hinata. Tapi Sasori tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk Kasumi. Kasumi pun langsung masuk kedalam mobil Sasori yang di ikuti oleh Sasori. Saat Sasori mau menjalankan mobil, tiba-tiba gerakannya terhenti karena ucapan Kasumi.
"Apa Sasori-san marah karena aku terlambat?" tanya Kasumi. Gerakan memutar kuncinya terhenti setelah mendengar pertanyaan Kasumi. Sasori menatap Kasumi.
"Kenapa harus marah, terlambat itu biasa."
"Karena sudah membuatmu menunggu." Sasori hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Kasumi. Perlahan tangannya terulur ke puncak kepala Kasumi mengacak pelan rambutnya.
"Anggap saja itu pengorbanan seorang laki-laki agar bisa lebih dekat dengan perempuan yang menarik sepertimu, Kasumi," ucapnya lembut. Sasori kembali tersenyum, sementara Kasumi hanya membalasnya dengan senyuman yang tipis. Setelah itu Sasori segera menjalankan mobilnya. Namun tanpa Sasori sadar Kasumi sempat melihat kearahnya dengan tatapan intens.
Semakin dekat, maka akan semakin cepat dendam ini tersampaikan.
.
.
The Toxic Girl
by
Zani asrani
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: TYPO, OOC, AU, ANEH, GAJE, ALUR CEPAT, Kasumi itu Hinata, DLL.
Happy reading :)
Chapter 5: Cincin
.
.
Sasuke sedang berada di salah satu kafe, di dekat kampusnya. Dia duduk di salah satu kursi yang di sediakan disana. Tempat itu cukup sepi, karena memang para mahasiswa di jam-jam seperti ini kebanyakan sedang ada kelas. Sasuke sendiri sengaja tak mengikuti mata kuliah karena malas bertemu dengan wanita-wanita yang tak pernah bosan mengerubutinya.
Tak ada hal khusus yang di lakukannya. Bahkan capuccino dengan aroma mint yang dia pesan dari tadi pun di abaikannya. Yang ia lakukan hanya diam dengan mata yang menatap ke sebuah benda kecil berkilau di tangannya. Sebuah cincin milik Nako Kasumi. Haah ngomong-ngomong soal gadis itu, akhir-akhir ini dia benar-benar susah untuk di dekati. Dia benar-benar serius dalam menghindari Sasuke. Tapi yang membuat Sasuke lebih kesal adalah, gadis itu malah semakin dekat dengan pemuda yang namanya Sasori. Masuk ke kampus berdua, keluar kampus berdua, makan berdua. Sasuke mengepalkan tangannya, yang didalamnya masih ada cicin itu. Sungguh sial baginya. Kenapa sih pria merah itu harus datang dan menganggu rencananya untuk menaklukan gadis itu.
Sasuke sedikit menengok saat mendengar suara pintu kafe yang terbuka. Sedetik kemudian ia menghiraukannya. Berbeda dengan Sasuke yang acuh, orang itu atau lebih tepatnya pemuda itu malah menghampiri Sasuke. Dan tanpa di persilahkan ia menarik kursi di sampingnya lalu duduk dengan tenangnya. Tangannya bergerak mengambil cangkir yang berisi cappucino yang tadi diambilnya. Perlahan pemuda itu meminumnya.
"Kau membiarkannya terlalu lama. Rasanya tidak enak lagi," ucap pemuda itu. Sasuke terlihat tidak peduli. Ia kembali menatap cincin itu.
"Ck merepotkan, ternyata Itachi benar. Ada yang aneh padamu."
"Berisik, kau jadi mirip seperti 'dia', Shikamaru," balas Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari cincin itu.
"Aku tidak seberisik dia. Tapi entah kenapa aku cukup merindukan si rubah itu. Sekarang dia benar-benar seperti di telan bumi," balas lagi pemuda yang di panggil Shikamaru itu. Sasuke hanya sedikit bergumam menanggapinya. Memorinya sedikit terlempar pada semua kenangan dengannya.
"Ada apa? Kau tak mungkin jauh-jauh datang dari Suna ke Konoha hanya untuk menengok ku, bukan?" tanya Sasuke. Shikamaru hanya tersenyum kecil.
"Jangan seperti itu, bagaimana pun aku ini sahabatmu. Walaupun memang ada hal yang ingin ku beritahukan padamu." Sasuke menengok.
"Apa?"
"Aku akan bertunangan." Mendengar ucapan itu Sasuke sedikit berdecak, namun ia juga tersenyum.
"Kau benar-benar serius dengan si pirang itu sampai kau ingin memilikinya segera, eh?"
"Tentu, aku tak mungkin sampai mengejarnya ke Suna jika tak serius." Shikamaru tersenyum saat mengingat tentang kekasihnya.
"Aku akan datang," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. Shikamaru juga membalas senyuman itu, lalu ia meninju pelan bahu Sasuke.
"Thanks. Itachi juga sudah ku undang. Oh iya, dia sepertinya cukup khawatir padamu. Katanya kau berubah, dan sepertinya memang begitu," ungkap pemuda yang mempunyai model rambut seperti nanas itu. Dia kembali mengambil cangkir cappucino Sasuke.
"Aku baik-baik saja," ucap Sasuke datar. Shikamaru menatap aneh pada salah satu tangan Sasuke yang terkepal. Dengan gerakan cepat, Shikamaru menumpahkan isi cappucino itu di atas tangan Sasuke yang refleks membuat pemuda Uchiha itu melepaskan genggaman tangannya. Cincinnya pun terlepas dari tangannya, dan Shikamaru langsung mengambil cincin itu.
"Cincin eh? kau galau hanya karena ini?" tanya Shikamaru yang di balas tatapan geram oleh Sasuke.
"Kau membuatku celaka, kembalikan cincinnya!" pinta Sasuke.
"Celaka apanya? Cappucino itu dingin, takan melukaimu Sasuke." Sasuke semakin geram pada sifat sahabatnya ini. Memang itu benar, tapi ia yakin kalau pun cappucino itu panas, dia tidak akan merasa bersalah.
"Cepat kembalikan!" pinta Sasuke lagi. Kali ini nada yang di gunakan lebih tinggi dari yang tadi, menandakan Sasuke benar-benar geram pada Shikamaru.
"Tunggu sebentar, ada yang aneh dalam cincin ini," ucap Shikamaru yang membuat Sasuke bingung. Aneh apanya?
"Ini seperti ada ukiran yang di tulis disini, ah pakai ini." Shikamaru merogoh saku bajunya, memberikan kacamata serta cincin itu pada Sasuke. Dengan cepat Sasuke mengambil kedua benda itu. Ia mendekatkan cincin itu pada matanya.
"Tulisannya 'Gaara dan Hinata'," ucap Sasuke.
"Gaara dan Hinata? Heey kau mencuri cincin pasangan yah, kurang kerjaan sekali." Sasuke tak mempedulikan omongan Shikamaru. Kini dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan. Ini cincin Nako Kasumi, kenapa tulisannya Gaara dan Hinata. Dari mana ia mendapatkan cincin ini? Siapa Gaara dan Hinata itu?Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ada di benaknya. Sasuke memasukan cincin itu ke saku celananya, lalu ia melepas kacamata dan mengembalikan lagi pada Shikamaru. Ia mulai bejalan setengah berlari menuju pintu keluar kafe. Telinganya juga tak mempedulikan panggilan dan teriakan dari Shikamaru. Yang ada di otaknya sekarang adalah ia harus pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan jawaban tentang siap Nako Kasumi itu. Tangannya sudah memegang gagang pintu kafe, dan dengan cepat ia membukanya. Namun seketika ia membatu saat berhadapan dengan orang di balik pintu yang hendak masuk kedalam kafe.
Mereka Kasumi dan Sasori.
Keduanya bertatapan, namun dengan segera Kasumi memalingkan wajah, dan melewati Sasuke begitu saja. Sasori segera menyusul Kasumi, namun sebelumnya ia di cegah oleh Sasuke. Mereka pun saling menatap sengit.
"Kau punya masalah?" tanya Sasori santai.
"Ada hubungan apa kau dengannya?" tanya Sasuke dingin yang di balas decihan meremehkan dari Sasori.
"Hubungan? Menurutmu?" Sasori bertanya balik, mencoba mempermainkan dan membuat kesal Sasuke, dan sepertinya itu berhasil. Kini Sasuke benar-benar terlihat geram. Tangannya mengepal dan onyxnya menatap tajam pada Sasori. Pemuda berambut merah itu melangkah sedikit, lalu berhenti saat tubuhnya dan Sasuke sudah sejajar. Dengan seringai yang dari tadi terpampang di wajahnya, ia berbisik.
"Hubungan kami sangat spesial." Setelah itu Sasori menubrukan bahunya dengan Sasuke, lalu pergi menghampiri Kasumi.
"Kenapa pukulanmu di tahan? Ini bukan Sasuke yang ku kenal,"ucap Shikamaru yang sudah ada di samping Sasuke. Yah dia memperhatikan apa yang terjadi pada Sasuke.
Sasuke menghela nafas, mencoba menenangkan kembali emosinya. Lalu onyxnya menatap kearah Kasumi yang kini sedang mengobrol dengan Sasori.
"Ada hal yang jauh lebih penting, dan aku harus ke ruang informasi untuk memastikannya."
.
Kedua sejoli itu sedang menyantap makanan yang tadi mereka pesan. Sesekali mereka terlihat mengobrol santai untuk mencairkan suasana. Keduanya tampak begitu akrab walau baru beberapa hari mengenal.
"Tadi, aku lihat Sasori-san berbicara dengan Sasuke-san," ucap Kasumi di tengah santapannya.
"Yah, tadi dia menanyakan sesuatu." Kasumi menaikan sebelah alisnya.
"Sesuatu apa?" tanyanya. Sasori tidak langsung menjawab, tapi terlebih dulu ia mengambil gelas berisi air di depannya lalu meminumnya. Setelah selesai, ia baru menjawab.
"Dia menanyakan apa hubunganku denganmu."
"Lalu apa jawabanmu?" Dengan cepat Kasumi alias Hinata bertanya lagi. Sasori tersenyum melihat tanggapan perempuan yang ada di depannya. Sepertinya Kasumi begitu penasaran, bahkan ia sampai menghentikan makannya. Hinata sendiri begitu merutuki kebodohannya. Harusnya ia tidak boleh peduli pada hal itu, apalagi ini berhubungan dengan Sasuke. Laki-laki yang menyebalkan.
"Maafkan aku. Aku hanya sedikit penasaran karena itu menyeret namaku," ucapnya dengan nada menyesal.
"Tidak perlu, seharusnya aku yang minta maaf, Kasumi-san." Hinata bingung, kenapa Sasori berkata seperti itu.
"Maksudnya?"
"Aku minta maaf karena aku menjawab bahwa kita punya hubungan yang spesial padahal kita hanya berteman," ucap Sasori. Hinata semakin bingung, kenapa Sasori menjawab hal itu. Hinata menatap Sasori.
Mungkinkah dia...
"Apa aku di maafkan, Kasumi-san?" Pikiran Hinata tentang spekulasinya buyar saat Sasori kembali bertanya padanya. Untuk menutupi raut wajahnya yang tadi sempat sedikit kaget ia langsung tersenyum pada Sasori.
"Jangan meminta maaf, itu bukan masalah untukku," ucapnya.
"Tapi aku merasa bersalah. Bagaimana jika besok kita menonton? Sebagai permintaan maafku?" ajaknya. Hinata terlihat berpikir.
Ini semakin aneh, tapi...
"Baiklah." Hinata menyetujui ajakan itu. Sasori pun tersenyum atas jawaban itu.
"Ayo lanjutkan makan!" Hinata hanya mengangguk menanggapinya. Ia dan Sasori kembali makan. Sampai pada akhirnya ada sebuah suara yang mengalihkan perhatian mereka.
"Sasori-san." Sasori dan Hinata pun menoleh.
"Shion-san?" Sasori bergumam. Shion berjalan menghampiri meja Sasori.
"Hey, kita bertemu lagi," sapanya riang sambil mengulurkan tangan. Sasori berdiri, lalu menyambut uluran tangan Shion.
"Hay juga, senang bertemu denganmu lagi," balasnya dengan senyuman tipis.
"Kekasihmu?" tanya Shion sambil melirik ke arah Hinata. Hinata yang mendapat tatapan dari Shion hanya sedikit menunduk sambil tersenyum canggung.
"Ah, she is my friend, Nako Kasumi," ucap Sasori memperkenalkan Hinata. Rasanya tidak sopan jika terus dalam posisi duduk dalam situasi ini. Hinata pun berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke Shion yang langsung di sambut olehnya.
"Nako Kasumi," ucapnya memperkenalkan diri.
"Shion."
"Mau bergabung bersama kami?" tawar Hinata.
"Bolehkah? Tentu saja." Setelah itu mereka bertiga pun duduk bersama dan melanjutkan obrolan mereka. Di tengah perbincangan, seorang pelayan menghampiri mereka untuk mengantarkan makanan yang di pesan oleh Shion.
"Terimakasih," ucap Shion pada pelayan itu. Setelahnya ia mulai memakan makanan tadi. Hinata cukup memperhatikan tingkah laku Shion. Entah mengapa ia merasa harus melakukan itu. Terdorong oleh rasa penasarannya, ia pun menanyakan sesuatu pada Shion.
"Jadi Shion-san ini teman pertama Sasori-san, eh?" tanya Hinata. Mungkin karena Shion tiba-tiba mendapatkan pertanyaan saat dirinya makan, perempuan berambut pirang itu sedikit tersedak. Namun dengan cepat Sasori menyodorkan segelas air padanya.
"Uhuumm,,, emmpp terimakasih Sasori-san," ucapnya setelah meminum air itu.
"Maaf jika mengagetkanmu," tutur Hinata tulus. Shion hanya tersenyum maklum. Ia mengambil tisu untuk membersihkan daerah mulutnya karena tersedak tadi. Shion pun menatap Hinata.
"Sebenarnya aku hanya tau namanya saja," jawabnya sambil melirik ke arah Sasori. Disana pria baby face itu hanya tersenyum pada Shion. Itu membuat semuanya jadi aneh dan bingung bagi Hinata. Ia tau siapa Sasori. Dia bukan laki-laki yang suka menebar senyum pada semua orang, apa lagi wanita. Dari dulu imagenya terkenal dingin. Tapi sekarang, ia tersenyum dan bersifat ramah pada Kasumi dan Shion yang bahkan baru sekali bertemu dengannya. Kemungkinan terbesar kenapa ia bisa seperti ini yaitu karena dia jatuh cinta. Tapi dari keduanya, siapa yang benar-benar dia sukai? Tapi jika spekulasi tentang jatuh cinta itu salah, lalu apakah dia hanya bersandiwara pada keduanya? Masalahnya, belum di temukan alasan untuk hal juga sedikit mencurigai Shion yang terlibat dalam semua ini. Tidak menutup kemungkinan jika ia adalah teman sekolompok Sasori. Hinata harus bekerja keras untuk mengungkap semua ini.
Drrrtttt,,, drrrttttt,,, drrrrrttttt
Tiba-tiba saja ponsel Hinata berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Saat ia buka, ternyata itu dari Neji.
"Maaf, sepertinya aku harus mengangkat telpon dahulu, permisi," pamit Hinata, yang langsung di persilahkan keduanya. Hinata pun segera pergi ke tempat yang lebih sepi untuk menerima panggilan itu. Setelah semuanya di rasa aman, barulah ia angkat.
"Moshi-moshi kak Neji, bagaimana?"
"Hinata, maaf sedikit lama. Orang ini profesional dalam memalsukan nomor flat mobil, ia juga pandai bersembunyi, jadi kakak sedikit kesusahan."
"Tidak masalah. Apa sudah ada?"
"Yah, dan sepertinya ini tangkapan besar." Hinata sedikit heran.
"Maksud kakak?"
"Kau akan tau sendiri nanti. Kau bisa mengintrograsinya besok."
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih kak."
Hinata menutup panggilannya. Ia mencengkram ponselnya sedikit erat, lalu menyeringai.
Besok yah.
Hinata memasukan kembali ponselnya kedalam tas, lalu berjalan menuju tempat Sasori dan Shion tadi. Dari kejauhan ia dapat melihat Sasori dan Shion yang sedang mengobrol akrab. Tidak terlihat sandiwara atau apapun. Tapi Hinata harus tetap berhati-hati pada setiap pergerakan mereka.
"Maaf menunggu lama. Oh iya, sepertinya aku harus pulang, sudah mulai sore," ucap Hinata.
"Memang Kasumi pulang kemana?"
"Di Apartemen daerah Hotel Konoha."
"Kebetulan sekali. Aku juga tinggal di daerah sana. Ayo pulang bersama," ajak Shion sambil menarik pelan tangan Hinata.
"Mari ku antar." Ajakan lain datang dari Sasori. Melihat keadaan ini Hinata sudah tidak bisa menolak. Ia mengikuti saja apa yang terjadi, namun kewaspadaannya tak pernah berkurang sedikitpun. Dia akan selalu memperhatikan semuanya. Sekecil apapun itu.
.
Sebuah ruangan penuh rak buku terlihat berantakan. Buku-buku yang tadi di tata rapih pun berserakan kemana-mana. Hal itu di akibatkan oleh dua pemuda yang sedari tadi sibuk membolak-balikan semua buku yang berisi tentang nama-nama semua mahasiswa yang kuliah dan yang pernah kuliah disana.
"Kau membuat semuanya berantakan Sasuke." Sasuke tidak menanggapinya. Ia masih terus membolak balik lembar demi lembar kertas itu. Sebenarnya hanya staff khusus saja yang bisa masuk ke dalam ruang informasi ini. Tapi karena yah kau tau siapa Sasuke? Jadi dia bisa dengan mudah melakukan hal itu.
"Cih sial! Kenapa tidak ada?" Sasuke menggeram kesal. Ia melempar buku itu ke sembarang tempat. Shikamaru hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah si bungsu Uchiha ini.
"Kenapa tidak tanya saja soal Hinata dan Gaara pada pemilik cincin itu? Mungkin saja pemilik cicin itu namanya Hinata atau Gaara? Semuanya akan lebih mudah dan tidak merepotkan seperti ini," ujarnya malas.
"Jika orang itu Hinata atau Gaara kita pasti sudah menemukannya dari tadi, karena pemilik cincin ini kuliah disini," jawab Sasuke. Shikamaru menatapnya serius, lalu mendengarkan Sasuke lagi.
"Masalahnya, nama pemilik cincin ini adalah Nako Kasumi, bukan Hinata atau Gaara." Sasuke berucap kembali sembari mengeluarkan cincin yang dari tadi ada di saku celananya. Ia mengingat semua tentang Nako Kasumi. Mencoba menemukan sebuah petunjuk tentang kemisteriusan gadis itu.
"Nako Kasumi? Apa dia gadis yang mengacuhkan dan menjatuhkan harga dirimu di kafe tadi?" tanya Shikamaru dengan nada meremehkan yang langsung di balas tatapan tajam oleh Sasuke. Tapi tatapan itu tak sedikit pun berpengaruh padanya. Terbukti ia malah menyeringai melihat reaksi Sasuke.
"Kau benar-benar menyukainya yah. Tapi sepertinya dia mengacuhkanmu. Dan Pria merah tadi..."
"Kau benar-benar berisik," dengus Sasuke. Shikamaru semakin melebarkan senyumnya. Sasuke sendiri sedang memikirkan perkataan Shikamaru. Apa benar ia mulai menyukai Kasumi? Jika benar, semua sifat Sasuke yang berubah ini bisa masuk akal. Tapi jika tidak, lalu alasan apa yang tepat untuk semua kepeduliaannya pada gadis itu, dan rasa kesalnya pada Sasori yang selalu dekat dengannya? Mungkin saat ini ia masih bingung menentukan semua rasa ini. Namun untuk sekarang ia ingin tau rahasia dari cincin itu dan tentang jati diri Nako Kasumi. Sasuke kembali menatap Shikamaru saat laki-laki bermarga Nara itu mulai bicara lagi.
"Tapi semua ini memang lebih masuk akal jika gadis itu pemilik cincinnya karena dia bisa menyamar dan menyembunyikan jati dirinya," ucap Shikamaru.
"Aku sempat memikirkan hal itu, tapi semua data tentangnya disini sangat jelas. Tak ada yang mencurigakan tentang riwayat hidupnya." Sasuke menimpali dengan pendapatnya.
"Memang membingungkan, tapi aku yakin dia menyamar. Kau tau, aku sempat melihat matanya tadi, dan dia memakai lensa mata. Itu berarti ia menyembunyikan mata aslinya."
"Bagaimana kau bisa yakin? Aku sudah sering melihat matanya. Namun tak terlihat bahwa ia memakai lensa."
"Sepertinya kau melupakan siapa aku. Aku calon dokter Shikamaru yang memiliki IQ lebih dari 200," ujarnya sombong. Sasuke hanya memutar matanya bosan.
"Baiklah, sekarang jelaskan padaku," pintanya.
"Lensa yang di gunakan adalah lensa yang berkualitas tinggi. Hanya ada beberapa saja di dunia. Kehebatan lensa ini yaitu jika di pasang akan terlihat seperti warna mata sungguhan. Dari hal itu, aku juga bisa menebak bahwa gadis itu bukan gadis biasa. Kau tau, harga lensa itu sangat mahal karena memang itu barang limited," tuturnya panjang lebar. Sasuke mulai mengerti apa yang di maksud Shikamaru. Ia mengingat pertemuan pertama dari Kasumi, dan itu memang menunjukan bahwa ia bukan gadis biasa.
"Aku mulai mengerti. Sekarang tinggal mencari alasan, kenapa dia menyamar dan datang kemari?"
"Itu benar, tapi sebelumnya ada satu hal lagi yang ingin ku beritahukan yang mungkin berhubungan dengan cincin itu," ucap Shikamaru lagi. Sasuke semakin tertarik dengan apa yang akan di katakan Shikamaru.
"Gaara, nama itu cukup familiar di telingaku." Sasuke semakin memfokuskan dirinya saat mendengar apa yang di katakan Shikamaru.
"Aku tidak bisa memastikan mereka adalah Gaara yang sama, tapi mungkin ini ada hubungannya."
"Lalu siapa Gaara itu?" tanya Sasuke. Shikamaru menjawab.
"Dia adalah adik Temari." Jawaban itu sukses membuat onyx Sasuke membulat. Tubuhnya sedikit menegang karena hal ini.
"Di-dia adik kekasihmu?" tanya Sasuke memastikan. Shikamaru mengangguk pelan, lalu ia menghela nafas panjang. Dan untuk kedua kalinya ia terkejut karena ucapan Shikamaru.
"Tapi dia sudah meninggal dua tahun yang lalu."
TBC
.
.
A/N: Entah kenapa saya merasa ceritanya makin ngawur dan gaje, alurnya juga cepet banget dan deskripsinya kurang, gimana menurut kalian?. Haah maaf kan saya, dan maaf juga karena updatenya aga lama di banding biasa :D . Ada sedikit perubahan judul, aku harap itu ga masalah buat reader. maaf ga bisa balas review dulu :) . terakhir RnR ?
