BYUUUURRRRRR

Suara cipratan air yang cukup keras terdengar dari sebuah ruangan kecil di sebuah gedung tua. Ruangan itu terlihat seperti gedung yang sudah tak terpakai. Penerangannya pun tidak terlalu bagus, hingga tidak jelas rupa orang yang ada di dalamnya. Suara air itu sudah terdengar sejak tiga puluh menit yang lalu. Air itu memang sengaja ditumpahkan pada pria paruh baya yang kini duduk terikat di kursi kayu. Sedangkan si penumpah air menatap bosan padanya.

"Sampai kapan kau akan bertahan? Kau membuang waktuku," ujar perempuan berambut panjang itu. Melihat wanita didepannya sudah putus asa, pria yang di ketahui bernama Kakuzu itu menyunggingkan senyuman mengejek.

PLAAAK

Satu tamparan keras itu langsung mendarat di pipinya, menjawab seringai mengejek yang baru saja ia berikan.

"Jangan menampakan wajah seperti itu! Cukup jawab dimana Markas Akatsuki?"

"Sudah ku bilang, walaupun aku mati, aku tidak akan memberitahukannya, Nona detektive atau bisa ku bilang Nako Kasumi,,," ucap pria itu memberi jeda. Sebelum melanjutkan kata-katanya, ia melihat perempuan itu dari atas ke bawah. Ia tersenyum kembali, senyum yang terlihat menjijikan di mata Kasumi.

"Pengecualian jika kau mau tidur denganku."

PLAAAKKK

Tamparan itu kembali dilayangkan Kasumi, bahkan saking kerasnya, kini sudut bibir Kakuzu sedikit mengeluarkan darah.

Kasumi menghela nafas berat. Lalu ia membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan pria itu.

"Kau tau, jika bukan demi penyelidikan, aku pasti sudah mengirimmu ke Neraka," ujarnya dingin. Tangannya kini bergerak kearah matanya, menyentuh pelan bola matanya. Pria itu sendiri kini memperhatikan Kasumi.

"Jika kau tidak buka mulut, aku akan mencari tau dari Sasori."

"Kau tidak akan mendapatkan hal itu, dia lebih keras kepala dariku," balasnya penuh kemenangan.

"Benarkah?" gumam Kasumi dengan nada yang dibuat-buat. Kini tangannya sudah selesai melepas lensa mata berwarna hitam itu, seringai pun kini menghiasi wajah cantiknya.

"Ngomong-ngomong Kakuzu-san, apa kau masih ingat denganku?" Kakuzu awalnya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan itu. Tapi saat dia memperhatikan lebih dalam wajah wanita didepannya, betapa terkejutnya dia. Dihadapannya adalah...

"Hyu-hyuuga Hinata...!" ucapnya terbata kaget. Hinata yang mendengar itu tersenyum, lalu kini ia berdiri lagi seperti semula.

"Ingatanmu masih sangat bagus Kakuzu-san. Yah, aku Hyuuga Hinata, satu-satunya saksi mata yang melihat secara langsung kejadian itu. Kejadian saat kau dan Sasori membunuh Gaara," jelasnya panjang lebar. Pria itu masih terlihat kaget.

"Ba-bagaimana bisa?" Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Hinata. Ia malah berjalan pelan menuju pintu keluar. Tangannya sudah berhasil menggapai knop pintu.

"Kau tau, Sasori sangat mencintaiku. Dia tidak mungkin membunuhku walau aku adalah saksi mata atas perlakuan kalian," ucapnya penuh kemenangan. Tangannya memutar knop, lalu pintu pun sedikit terbuka.

"Karena itulah, aku akan menggunakan 'cinta' untuk mendapatkan semua yang tak bisa ku dapatkan darimu."

BLAAAAMMMM

.

.

The Toxic Girl: Hinata Revenge

by

Zani Asrani

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: AU, OOC, TYPO, (Kasumi-Hinata), SasuHina slight SasoHina, dll

chapter 6: Penyusupan

happy reading n.n

.

Kerumunan orang terlihat cukup banyak di sebuah gedung bioskop. Banyak orang dari berbagai kalangan yang ada disana. Malam ini terasa benar-benar ramai. Tak terkecuali bagi Kasumi dan Sasori yang sedang menunggu antrian untuk membeli tiket.

"Ramai sekali," gumam Kasumi pelan.

"Kenapa, kau tak nyaman? Kalau begitu ayo cari tempat lain."

"Tidak perlu, lagipula sebentar lagi giliran kita."

Yah mereka memang ingin menonton karena ajakan Sasori kemarin. Tentu saja Kasumi alias Hinata menerima kesempatan ini. Apalagi hasil intograsinya dengan salah satu anggota Akatsuki beberapa jam yang lalu tidak menghasilkan apa-apa. Jadi ia harus lebih dekat dengan Sasori untuk mendapat informasi.

Kini mereka hanya tinggal menunggu satu antrian untuk mendapatkan tiket.

Drrtt... Drrttt... Drttttt

Getaran ponsel itu berasal dari saku celana Sasori. Dengan cepat pria itu mengambil ponselnya, lalu melihat nama kontak yang menelponnya. Sedikit ekspresi terkejut terlintas di wajahnya, tapi segera ia bisa mengembalikan ekspresinya seperti semula.

"Kasumi?" Kasumi menoleh,

"Yah?"

"Aku akan mengangkat telpon dulu, bisakah Kasumi-san membeli tiketnya sendiri?" Kasumi sedikit menatap heran pada Sasori, tapi kemudian ia mengangguk pelan.

"Terimakasih." Setelah itu dengan cepat, Sasori pergi melangkah menjauhi Kasumi. Kasumi sendiri masih menatapnya dari kejauhan, sampai perhatiannya teralihkan oleh penjaga tiket.

"Maaf nona, mau pesan tiket film apa?"

.

Sasori melihat sekelilingnya, memastikan bahwa tak ada seorangpun yang ada di dekat tempatnya berdiri. Setelah yakin, ia langsung memencet tombol accept untuk menerima panggilan itu.

"Yah pimpinan?"

"Orochimaru ingin bertemu denganmu sekarang?"

"Sekarang?"

"Yah, di tempat biasa."

"Baiklah, aku akan kesana sekarang."

Tuut... tuuut... tuuuut.

Sambungan pun terputus. Sebelum melangkah pergi ke tempat yang dijanjikan, ia terlebih dahulu mengirim pesan pada Kasumi

To: Kasumi

Subject: Maaf

Maaf harus membatalkan acara nonton kita, ada sesuatu yang harus ku lakukan dan ini mendesak. Ku harap kau mengerti :).

Setelah mengirim pesan, lelaki berambut merah itu langsung melesat pergi, tanpa sadar Kasumi yang mengawasinya.

Drtttt...

Ia membuka ponselnya.

From: Sasori

Subject: Maaf

Maaf harus membatalkan acara nonton kita, ada sesuatu yang harus ku lakukan dan ini mendesak. Ku harap kau mengerti :)

"Cih," Hinata mendecih, lalu menutup ponsel plipnya. Kini kakinya melangkah mengikuti arah Sasori pergi.

.

Konoha's Club, adalah salah satu Club malam yang paling terkenal di Konoha. Sebagaimana club pada umumnya, tersedia banyak minuman beralkohol disini. Musik yang keras serta lampu yang berkelap kelip, menambah gairah untuk lebih menikmati malam ini. Tentu saja orang yang menari-nari erotis adalah salah satu pemandangan yang indah dan wajar disana. Dan kini, Hinata pun sudah berada disana. Dengan memakai pakaian pelayan yang seksi, ia membawa nampan ke ruangan VIV no 17. Tentu saja Club terkenal di Konoha mempunyai tempat seperti itu. Hinata memang sengaja menyamar, agar bisa lebih mudah masuk kesana tanpa dicurigai. Setelah keluar pintu dari ruangan no 17, ia segera melirik ke ruangan paling ujung, yaitu ruangan no 20. Tadi ia bisa melihat Sasori masuk kesana. Setelah memastikan tak ada yang melihatnya disana, perlahan ia berjalan kearah pintu itu. Ia menempelkan gelas kosong di pintu itu, lalu mendengarkan percakapan orang yang ada didalam.

"Aku ingin merubah rencana. Bunuh 'dia' secepat mungkin, tidak peduli apapun caranya," ucap sebuah suara.

"Bukannya kau ingin semuanya berjalan alami?"

"Sudah ku bilang aku ingin merubahnya. Orang tua mereka sedang keluar negeri. Saat kita membunuh 'dia' lebih cepat disaat orang tuanya tak ada, Itachi, selaku pengendali perusahaan sementara pasti akan hilang kendali karena kesedihannya. Saat itulah kita akan menghancurkannya dan mengambil alih perusahaan itu."

"Sudah ku bilang jangan menyebut namanya Orochimaru!" desis seorang pria tidak suka. 'Itachi? Orochimaru?' batin Hinata. Kembali ia mendengarkan.

"Huuh, Sensitive sekali. Jika kita berhasil, kita akan membagi dua harta dari orang yang tidak boleh disebut namanya itu."

Pria yang tadi tidak menjawab lagi, tapi kali ini Sasori yang berbicara

"Baiklah, aku akan membunuh adiknya dengan cepat."

Saat Hinata sedang fokus mendengarkan, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya. Sontak ia sangat kaget, sampai memecahkan gelas yang tadi dipegangnya.

"Kasumi..." Ia menoleh dan langsung terkejut,

"Sasuke..." Hinata menatap pria yang sedang berjalan menuju kearahnya. Ia juga melihat pecahan kaca dari gelas tadi.

Sial! Ini pasti terdengar keras.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke. Tapi bukannya menjawab, Hinata malah menyeretnya ke pojok ruangan untuk bersembunyi.

"Harusnya kau menjawab, bukan menyeretku." Hinata masih tak menjawab, ia masih melihat situasi ruangan itu. Ia harus berhati-hati agar tidak ketahuan dan tertangkap basah. Sauke sendiri kini malah menatap Hinata dari atas ke bawah.

"Ternyata kau seksi juga, apa kau bekerja disini?" Pertanyaan itu langsung mendapat tatapan tajam dari perempuan berambut panjang itu.

"Bisakah kau diam?" Setelah mengatakan itu, ia kembali melihat keadaan. Sialnya kini pintu itu terbuka, dan orang-orang, yang jika dilihat dari pakaiannya seperti pengawal, keluar dari ruangan itu. Mencari-cari sumber keributan tadi yang berarti itu adalah Hinata.

Hinata menggeram kesal, dia sudah tidak bisa melarikan diri. Sekarang yang bisa ia lakukan adalah tidak berisik. Tapi sepertinya itu tidak berhasil, karena beberapa dari mereka sudah mengarah ke tempat Hinata berada.

Damn!

"Hey, jika kau menempel seperti itu, kau bisa membuatku dalam 'masalah'."

"Sudah ku bilang diam saja!"

"Untuk apa aku menurutimu?"

"Kau...!" Hinata semakin kesal atas perlakuan Sasuke, apalagi mereka semakin dekat.

Tidak ada cara lain!

Sebuah gerakan tangan cepat dilakukan oleh Hinata. Ia memegang tengkuk kepala Sasuke, mendekatkan kepalanya pada Hinata, dan yang Sasuke dapat rasakan adalah bibir Hinata yang kini menempel di bibirnya. Awalnya lelaki Uchiha itu kaget, tapi setelahnya ia mulai mengikuti permainan Kasumi.

Saat mereka masih berciuman, para pengawal itu tiba di tempat mereka. Karena memang penerangan di sudut tidak terlalu terang, para pengawal itu tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu.

"Jika sudah tidak kuat, sewa lah sebuah kamar." Setelah mengatakan itu, para pengawal itu pergi meninggalkan mereka. Hianata pun langsung melepaskan ciuman itu dengan nafas yang ter'engah-engah karena Sasuke melakukan permainan tak terduga dalam kegiatan tadi.

"Hhh... khau berani sekali mencuri kesempatan dalamh kesempitanhh...hhh," ucapnya dengan nafas terputus-putus. Sasuke menyeringai.

"Kau yang memulai, nona."

"Itu untuk membuatmu diam."

"Tapi aku menyukainya, ayo lakukan lagi!" Kembali deathglare melayang pada lelaki raven itu, tapi tak Sasuke pedulikan. Kini Hinata menghela nafas lelah, ini sudah sangat malam dan ia ingin beriatirahat dibandingkan bertengkar dengan lelaki ini.

Tanpa berpamitan, ia langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sasuke sendiri. Lagi pula, besok ia ada janji dengan kakaknya. Ia juga masih harus berkuliah seperti biasa. Sasori bisa curiga bila ia tiba-tiba tidak masuk kuliah. Huuh, ia merasa semakin sibuk saja.

Sedangkan Sasuke, tak berniat sedikit pun menyusul. Ia hanya menatapnya dari jauh, lalu menyeringai dengan jari tangan yang menempel di bibirnya.

"Hyuuga Hinata, kau semakin menarik saja."

.

.

TBC

.

a/n: Ampuni saya karena telat publish, hehehe :D . Maklum, lagi males ngetik, huhuhu :'). Mari balas review dulu :)

cecil hime: Di chapter ini ada sedikit petunjuk, silahkan tebak senpai :), terimakasih :)

altadinata: Ini udah lanjut, terimakasih yah :)

ariefafelov: Aku juga suka Sasushika, mereka sesuatu banget, hha xD . Terimakasih :)

Guest: Ini sudah lanjut, terimakasih :)

Hinataholic: Ini chapter 6 nya, apa masih penasaran? terimakasih yah :)

Syuchi hyu: Terimakasih sudah suka, ini lanjutannya :)

hinatauchiha69: Yup, tebakanmu benar, terimakasih yah :)

himenaina: Terimakasih udah bilang keren, ini lanjutannya :)

avrillita97: Huwaa terimakasih sudah mau baca ngebut. Di chapter ini sebagian sudah terungkap :)

Hirano Lawliet: Ini sudah lanjut, terimakasih yah :)

Sherinaru: Kedua-duanya benar. Hinata tau Sasori dalam akatsuki, ia juga punya dendam pribadi. Terimakasih yah :)

indigolavenderwhite: Hahaha iya, Sasu di cuekin, tapi chapter depan Sasu yang bakal ngambil alih, nyahahaha #ketawa nista xD . Terimakasih yah :)

Yume Guran: Salam kenal juga :) dan terimakasih sudah mau nunggu, ini lanjutannya, aku harap Yume-san suka :)

Samael D'Lucifer: Terimakasih sudah bilang menarik. Sasori emang gitu kan, muka aja baby face tapi kelakuan, beeuh xD

.

Maaf jika salah nyebut nama atau ada salah kata :D.

Oh iya, maaf di chapter ini sasuhinanya sedikit, tapi di chapter depan, insyaAllah Sasuhinanya bakal dibanyakain. Jadi tetep di tunggu yah :). Akhir kata RnR?