Lelaki dengan gaya rambut seperti nanas itu mengambil ponsel dari saku celananya. Ia menekan beberapa nomor untuk panggilan tersebut. Sebelum benar-benar terhubung, Shikamaru melirik sedikit kearah sahabat ravennya itu.
"Sasuke, kau benar-benar berhutang besar padaku." Sasuke yang dikelilingi tumpukan buku data mahasiswa yang berantakan itu hanya memberi tatapan tajam, mengisyaratkan agar Shikamaru cepat melakukan apa yang dia pinta.
"Moshi-moshi? Shika ini Temari." Sebuah suara mulai terdengar dari panggilan itu.
"Ah iya Temari." Shikamaru mulai menanggapinya.
"Apa kau merindukanku, tumben sekali menelpon jam segini," ucap suara itu lagi dengan nada bercanda, membuat Shikamaru tersenyum tipis.
"Merindukanmu itu sangat merepotkan tapi anggap saja iya." Gadis yang tak lain adalah calon tunangannya itu hanya terkikik geli mendengarnya. Sedangkan Sasuke mulai bosan dengan drama romance picisan ini. Dia berdehem keras memperingati Shikamaru yang ditanggapi cuek oleh pemuda itu.
" Ehem, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan. Ini sangat pribadi, dan mungkin akan membuka luka lama untukmu," ucapnya memulai perlahan. Mendengar itu tiba-tiba Temari terdiam. Namun itu tak mengubah niat Shikamaru untuk menanyakannya. Apalagi orang yang benar-benar ingin tahu informasi itu terus memelototinya. Pemuda Nara itu menghela nafas panjang.
"Gaara, adikmu. Apa dia punya kekasih dengan nama Hinata?"
Tak ada suara yang terdengar. Hanya hembusan nafas dari sang perempuan yang hinggap ditelinganya. Shikamaru pun tidak berniat untuk berbicara apapun lagi atau memaksa Temari menjawabnya. Dia hanya menoleh pada Sasuke, lalu menggendikan bahu tanda ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sasuke sendiri mengerti. Tindakan mereka memang bisa dibilang tidak sopan, mencari-cari informasi dari seseorang yang sudah meninggal, apalagi itu sudah dua tahun yang lalu. Pemuda Uchiha itu memberi isyarat agar Shikamaru menutup telponnya saja. Shikamaru mengangguk, namun sebelum ia melakukannya suara Temari kembali terdengar. Membuat niat itu terhenti.
"Hyuuga Hinata, dialah kekasih Gaara."
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Warning: AU, OOC, TYPO, Kasumi-Hinata, DLL.
.
.
Pemuda bermata hitam itu kini sedang berdiri menyandar pada mobilnya. Ia berada didepan gedung Apartemen Kasumi alias Hyuuga Hinata. Mengingat hal itu membuat Sasuke tersenyum. Ia merasa gadis itu semakin menarik dengan segala kemisteriusannya. Pasalnya walau Sasuke sudah tahu nama aslinya, tetap saja dia tidak mendapatkan informasi apapun. Semua data tentang gadis itu seolah dihapus. Foto, biodata, dan lainnya. Ia hanya tahu kalau Hyuuga Hinata anak dari kepala polisi Tokyo yang bernama Hyuuga Hiashi, selain itu tak ada informasi lain.
Sasuke mengalihkan pandangannya kala gadis itu keluar dari pintu utama Apartemen. Ditegakan badannya lalu langkahnya mulai menghampiri gadis berambut panjang itu. Hinata yang menyadari keberadaan Sasuke berusaha tak peduli dan terus berjalan.
"Aku datang kesini untuk menjemputmu. Ayo berangkat bersama," ajak Sasuke baik-baik sambil masih mengikuti langkahnya.
"Tidak!" tolak Hinata tegas membuat Sasuke sedikit kesal. Cukup dengan penolakan, Sasuke sangat membenci itu.
"Kau itu tak bisa menghargai niat baik yah." Sasuke menarik tangan gadis itu, menghentikan langkahnya. Membuat Hinata mau tak mau berbalik kearah Sasuke.
"Aku tidak bisa melihat sesuatu yang baik dalam dirimu." Setelah mengucapkan itu, Hinata langsung melepaskan pegangan tangan Sasuke dengan kasar, lalu kembali berjalan. Sasuke menyeringai.
"Kau pikir menyembunyikanjati diri dan mengubah namamu adalah hal baik? Hyuuga Hinata." Dan sedetik kemudian langkah Hinata kembali terhenti mendengar satu nama yang baru saja diucapkan Sasuke. Bagaimana bisa dia tahu tentang nama aslinya. Kini hal kebalikan terjadi. Hinata yang berbalik dan berjalan menuju Sasuke. Dia berhenti tepat didepannya, menatap tajam. Meminta sebuah penjelasan.
"Kau tahu darimana?" tanya Hinata menuntut, sedang Sasuke tersenyum penuh kemenangan dengan taktik yang sudah direncanakan.
"Jadi kau setuju untuk berangkat bersamaku?" Hinata menatap semakin kesal pada lelaki itu. Bukannya langsung menjawab malah mempermainkannya. Jika sudah begini akan dia ikuti permainan itu.
"Dimana mobilmu?"
Sasuke menunjuk kearah mobilnya, lalu Hinata pun berjalan kearah yang ditunjukan, diikuti Sasuke dibelakangnya. Setelah masuk, mobilpun melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa disadari, Sasori melihat semua itu. Sebenarnya dia berada disini untuk mengikuti dan membunuh Sasuke. Tapi karena waktunya belum tepat, dia menunda pekerjaannya itu. Ia pun mengganti pistol ditangannya dengan pistol yang ada ditasnya. Senjata itu dilengkapi dengan alat peredam suara, jadi tidak akan menimbulkan keributan saat dia melepaskan tembakan. Jika Sasuke nanti mati, penyebabnya hanya kecelakaan mobil akibat ban yang tiba-tiba meletus, itulah rencananya sekarang. Pemuda berambut merah itu memasukan senjatanya dibalik jaket lalu mulai memakai helmnya. Setelahnya dia menajalankan motor, mengikuti arah mobil Sasuke.
"Sungguh gadis yang sial."
.
.
Hinata tak mengalihkan sedetik pun pandangannya dari lelaki yang sedang fokus menyetir itu. Lihat saja gayanya yang sangat santai sekali padahal seharusnya Sasuke segera menjelaskan tentang hal yang dia ketahui. Itukan yang jadi alasannya mau masuk dan ikut bersama Sasuke.
"Kau bisa mulai menjelaskan sekarang. Aku tidak punya waktu banyak," ucap Hinata yang ditanggapi senyum mengejek dari Sasuke membuat Hinata semakin kesal saja.
"Hentikan mobilnya!"
"Sabarlah, kau ini." Sasuke merogoh saku jaketnya, mengambil sesuatu dari sana lalu menunjukan benda itu pada Hinata. Terkejut, tentu saja hal itulah yang pertama kali muncul di raut wajah gadis itu. Dia sangat tahu benda kecil berkilau itu. Kenapa bisa ada ditangan Sasuke? Tangannya terulur untuk mengambil cincin kenangannya bersama Gaara. Tapi hal itu terhalang karena Sasuke langsung memasukan kembali cincin itu.
"Sepertinya itu benda yang sangat berharga bagimu."
"Jika kau sudah tahu kembalikan padaku!" pintanya. Lelaki bermarga Uchiha itu melirik sebentar pada Hinata lalu kembali fokus pada jalan didepannya.
"Boleh saja, tapi dengan sebuah kesepakatan." Gadis itu hampir sampai pada batasnya. Sejujurnya ia ingin meledak. Dia benar-benar sudah lelah menghadapi sifat kekanak-kanak'an lelaki ini. Tapi ia masih berusaha mempertahankan kesabarannya yang kian menipis itu.
"Kau mau apa?"
"Jadilah pacarku." Hinata menghela nafas.
"Berapa lama?" Sasuke cukup terkejut dengan jawaban yang didengarnya. Pasalnya dia tak menyangka gadis itu akan menerima tawarannya begitu saja. Sasuke tersenyum senang. Ternyata cincin itu benar-benar berarti besar buatnya. Sedangkan Hinata bukannya dia tidak mau menolak tapi hal itu akan sia-sia saja.
"Satu bulan."
"Dua minggu," tawar Hinata cepat. Lelaki itu menggelengkan kepala.
"Tidak ada kesepakatan jika kau tak menurut," ucap pemuda bermata hitam itu dengan seringai yang semakin melebar. Gadis itu mendecih, lalu membuang muka kesamping. Muak melihat wajah sok Sasuke. Kenapa sih ditengah-tengah misinya dia harus bertemu bahkan berurusan dengan lelaki ini. Jelas ini sangat menghambat urusannya.
"Ini bukan jalan menuju Kampus."
"Kita akan ke rumahku. Itu hal wajar yang dilakukan seorang pacar 'kan?"
Bungkam, gadis itu sudah tidak ingin meladeninya lagi, percuma juga kalau menolak. Padahal hari ini dia sudah berjanji bertemu dengan kakaknya. Dia harus mengirim pesan permintaan maaf karena tak bisa bertemu sesuai yang sudah ditetapkan. Kini wajah cantiknya melihat ke luar jendela. Mengacuhkan Sasuke. Matanya menatap bosan pada sekelilingnya. Lalu tak sengaja pandangannya menatap kearah kaca spion. Ada hal aneh yang dia rasakan. Entah kenapa dia merasa pengendara sepeda motor berwarna merah itu mengikuti mobil mereka. Namun satu gerakan yang dia lihat lewat kaca spion itu membuat matanya terbelalak. Pengendara motor itu mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kearah mereka. Hinata akan memperingatkan Sasuke, namun terlambat. Tembakan itu sudah dilepaskan dan dengan tepat menembus ban mobil Sasuke. Membuatnya meletus. Kaget dan panik, tentu saja Sasuke merasakan hal itu namun dia berusaha setenang mungkin mengendalikan stir mobilnya. Dan beruntung dia bisa menghindari kecelakaan dengan menepikan mobilnya disamping jalan. Sasuke berusaha menormalkan kembali nafsnya yang terengah-engah.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya pada Hinata namun tak ada jawaban sedikit pun dari gadis itu. Dia melirikan matanya untuk melihat Hinata tapi gadis itu sudah tidak ada ditempat. Dia sudah berada diluar. Sasuke pun melepaskan sabuk pengamannya dan ikut keluar menghampiri Hinata. Mereka berdua melihat keadaan ban yang baru saja meletus itu.
"Bukankah kemarin sudah ku service," gumam Sasuke bingung. Sedangkan Hinata berpikir lain. Jelas-jelas ini bukan karena tidak disengaja. Dia menatap kearah jalan yang tadi dilewati si pengendara itu. Siapa dia? Apakah komplotan Akatsuki yang sudah tahu identitasnya?
"Ayo cari taxi!" ajak Sasuke sambil memegang tangan Hinata. Gadis itu terlihat tak suka, dengan cepat dia menghempaskan kembali tangan Sasuke. Tindakannya membuat lelaki raven itu meringis, namun ia berusaha menyembunyikan rasa sakit karena luka itu. Sebenarnya tadi tangannya terjeduk keras pada pintu mobil saat ia sedang mengendalikan stir mobil. Tidak berdarah sih tapi cukup ngilu dan mungkin memar.
"Jangan menyentuhku!"
"Jangan menyentuh katamu. Hey ingatlah ciuman di bar itu," ucap Sasuke dengan nada menyindir yang langsung dihadiahi tatapan tak suka Hinata. Pemuda itu menghentikan sebuah taxi, lalu mereka pun masuk kedalamnya. Berlalu mengikuti arus.
.
.
Itachi mengambil gelas, lalu mengisikan air kedalamnya. Setelahnya dia berjalan menuju ruang tamu. Disana ada seorang lelaki lain yang sedang duduk menunggunya. Lelaki bermata hitam itu tersenyum tipis, lalu meletakan gelas di atas meja yang ada didepannya.
"Sudah lama sekali tidak bertemu, Neji," sapa Itachi sembari duduk. Lelaki yang ternyata Neji itu mengambil gelas, lalu meminum air yang disuguhkan si tuan rumah.
"Hampir dua tahun," balasnya singkat. Dia meletakan kembali gelasnya.
"Aku tersanjung kau mau mengunjungiku."
"Jangan percaya diri. Aku hanya mampir karena habis menjalankan tugas disini." Itachi mengernyitkan dahi penasaran.
"Tugas?" Neji mengangguk.
"Aku baru saja menangkap salah satu mantan temanmu, Kakuzu." Itachi hanya menatap datar mendengarnya.
"Ah si tua bangka itu yah." Neji mengalihkan pandangannya pada Itachi.
"Sejujurnya aku cukup penasaran kenapa dulu kau masuk kedalam organisasi Akatsuki, juga malam saat pertama kali aku menemukanmu hampir sekarat dua tahun lalu." Itachi hanya tersenyum miring. Dan entah kenapa tiba-tiba dia teringat akan semua kenangan dia bersama Akatsuki, lebih tepatnya dia bersama wanita itu. Wanita yang menjadi alasannya masuk Akatsuki. Dan alasannya dihancurkan Akatsuki. Lucu bukan, dia bahkan hampir mati waktu itu.
Mendadak suara ketukan pintu terdengar, membuyarkan semua lamunan pria itu. Dia mohon diri sebentar pada Neji untuk membuka pintu lalu berjalan kesana. Dibukanya pintu itu dan berdirilah disana Sasuke dan seorang gadis cantik? Itachi akan memberikan sederet pertanyaan pada adiknya itu, tapi langsung dipotong seenaknya oleh Sasuke.
"Dia pacarku." Setelah mengatakan itu Sasuke langsung menyeret Hinata untuk masuk kedalam. Diikuti Itachi dibelakangnya. Namun Hinata menghentikan langkahnya kala melihat kakaknya sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Kak Neji?" Matanya menatap heran pada lelaki itu begitu juga sebaliknya. Kenapa kau ada disini? Pertanyaan itulah yang ada di benak mereka berdua. Tak kalah heran dengan keduanya, Sasuke juga merasakan hal yang sama. Dia melihat tamu lelaki itu lalu melihat Hinata.
"Dia kakakmu?" Hinata mengangguk. Dibelakang, Itachi sudah sampai menghampiri mereka.
"Hey jika dia pacarmu kenalkan padaku," keluhnya kesal. Lelaki itu berdiri didepan Hinata, mengulurkan tangannya pada gadis itu. Tak lupa memberikan senyuman ramah.
"Maaf jika adikku selalu merepotkan, aku kakaknya Uchiha Itachi, salam kenal." Hinata menatap heran pada lelaki itu sedangkan otaknya memikirkan banyak hal setelah mendengar namanya. Itachi? Bukankah itu nama yang diucapkan dalam pertemuan Akatsuki semalam dengan Orochimaru? Apa ini orang yang sama? Jika benar berarti orang yang menjadi target Akatsuki adalah Sasuke karena dia adiknya. Hinata menatap semakin dalam pada lelaki didepannya. Jika dia mengingat kejadian-kejadian yang sudah terjadi maka semuanya memang saling terhubung. Apalagi kejadian yang baru saja dialaminya saat ban mobil Sasuke ditembak dari belakang. Jelas-jelas itu sebuah rencana pembunuhan. Hanya ada satu hal yang bisa memastikan semuanya. Hinata menghadap ke Sasuke, menatapnya dengan serius.
"Apa orang tuamu ke Luar Negri?" tanya Hinata.
"Kau tahu darimana?" Sasuke bertanya balik. Pasalnya dia tidak menceritakan apapun tentang kepergian orang tuanya ke Luar Negri pada Hinata. Bagaimana bisa gadis itu tahu? Sedangkan Hinata kini tersenyum mengejek tak percaya pada kenyataan yang ada didepannya. Bagaimana bisa, ini kebetulan yang tidak masuk akal baginya.
"Jadi kau target Akatsuki selanjutnya." Mendengar ucapan Hinata, otomatis semua orang terkejut dan bertanya-tanya maksud dari ucapannya itu. Bahkan Itachi langsung memegang bahunya. Menekannya keras dan menghadapkan badannya agar sejajar dengannya. Tatapannya meminta penjelasan dari pernyataan yang diucapkannya beberapa detik yang lalu.
"Apa yang kau maksud? Kau bercanda?"
.
.
TBC
.
.
Maaf telat banget, saya kelamaan hibernasi, wakakak :v . Serius ampuni saya reader. Banyak yang nanya kenapa Sasuke bisa tahu nama Hinata nah yang paling atas itu penjelasannya. Jadi anggap aja itu kejadian waktu Sasuke nyari data Hinata. Nah si Shikamaru kan ngasih tahu tentang Gaara lalu ceritanya si Sasuke minta bantuan Shika buat nelpon Temari dan nanyanin tentang Hinata. Sengaja ga dijelasin di awal biar penasaran, wakakak :D. Ah iya satu lagi Itachi mantan anggota Akatsuki. Dia masuk duluan sebelum Sasori. Dan dua tahun yang lalu ada dua kejadian antara Hinata sama Itachi tapi lebih duluan kejadian Hinata *ups stop spoiler, wahahaha :v . Ok ayo kebawah.
*Pojok balas review.
seo haeri fishYeobos: Sama aku juga suka Hinataxharem tapi akhirnya harus sama Sasu. Saya sangat cinta soalnya sama SasuHina :*
hinataholic: ini udah lanjut ^_^
uchiha hana hime: Woow thankyu n.n
Hirano Lawliet: Makasih semangatnya ;)
alta0shappire: Di chapter ini ada jawabannya :D
zackip: Di chapter ini kayaknya belum, :)
rozhee flouwerz: Menurutku si Sasu lebih qanas :/
indigolavenderwhite: Kita akan lihat nanti soal itu :*
Ashura Darkname: Masih di T, aman ^^
Sherinaru: Umm aku harap disini lumayan udah nambah scenenya 0_
Renita Nee-chan: Ok thanks :))
Love SasuHina: Sip ( '_'p )
Pochilang: What? Demo, hha :'v
HNisa SaHina: Salam kenal juga ;)
nn: Udah up :D
yama-yuuri: Ini ^_^
AprilliaSiska: Ini udah :)
Thanks for all dan jangan minta update cepet dan manjangin ceritanya yah, ga sanggup saya. I love you :*
