Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Warning: OOC, TYPO, AU, dll.

happy reading n.n

.

.

Awal pertemuan mereka begitu sederhana, hanya sebagai penjual dan pembeli. Wanita yang menjual bunga dan lelaki yang tak sengaja membeli bunganya.

Waktu itu adalah hari ulang tahun ibu dari Uchiha Itachi, dan sebagai anak yang berbakti dia pun membelikan se buket bunga indah untuknya. Sesederhana itu, tidak ada yang lebih ataupun spektakuler.

Namun pertemuan sederhana itu menciptakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Entah apa alasannya tapi si lelaki selalu kembali lagi ke toko bunga tersebut. Membeli bunga entah untuk siapa. Bertemu lagi dengan si wanita dengan senyum manis yang selalu terulas di wajahnya. Indah, Itachi selalu terdiam kala senyuman itu terlempar ke arahnya. Mungkin dia terlalu berlebihan, itu kan hanya senyuman dari seorang penjual ke pembeli itu.

Seminggu kemudian ia sudah bisa berbicara akrab dengan wanita penjaga toko itu. Namanya adalah Konan, walau hanya itu saja sih yang baru di ketahuinya tapi itu tidak masalah karena Itachi sudah berniat untuk mencari tahu segala sesuatu tentang wanita itu. Tapi sayang, niatnya sia-sia karena saat ia kembali datang ke toko bunga itu, si penjaga toko idamannya sudah tidak bekerja disana lagi. Mendadak dia mengundurkan diri, itu yang dikatakan pemilik toko.

Itachi menghembuskan napas, berharap segala kekecewaannya atas menghilangnya si wanita berambut biru juga ikut terhempas. Nyatanya itu tidak berhasil sama sekali. Kondisinya itu membuat pekerjaannya terbengkalai. Dia yang selalu mengerjakan semuanya dengan sempurna mendadak kena marah sang Ayah karena melakukan kesalahan yang cukup fatal. Semuanya keheranan, sang Ayah terlebih lagi.

Muak dengan kondisinya yang tak kunjung baik, akhirnya Itachi pun mengerahkan seluruh koneksinya untuk mencari Konan. Bahkan dia menggunakan mata-mata dari sebuah organisasi kriminal untuk mendapatkan informasi tentang Konan, dan yaaah itu berhasil.

Akatsuki, organisasi kejahatan yang akhir-akhir ini namanya mulai mencuat dan cukup merepotkan kepolisian. Yang Itachi tahu Akatsuki ini adalah organisasi bayaran. Namun tidak sembarang orang bisa menyewa mereka. Itachi tersenyum miring, seleksi calon pelanggan adalah sebuah kedok untuk menyembunyikan diri dan menghindari endusan polisi, cukup pintar, pikirnya. Dan oh jangan lupakan wanita idaman bertampang malaikatnya adalah salah satu anggota Akatsuki. Tapi apa yang dia lakukan di toko bunga? Tidak mungkin dia bekerja sampingan disana. Aaah sial dia tidak bisa membiarkan pertanyaan tanpa jawaban ini berkembang terus dan semakin banyak.

Onyx hitam itu menerawang ke segala sudut yang ada di ruangan itu. Ini tempat yang buruk. Disini kotor dan gelap. Banyak barang-barang bekas di simpan di sembarang tempat. Bagi orang yang tak tahu mungkin dia akan tersandung saat ia berjalan. Satu-satunya penerang di ruangan ini adalah bohlam lampu yang ada tepat di atas meja dan kursi yang dia duduki. Apakah semua tempat kriminal itu harus identik dengan kegelapan? Itachi heran.

"Apakah ini markas kalian?" tanya Itachi. Walau sekedar basa-basi tapi pertanyaannya itu cukup serius.

"Apa yang kau inginkan dari kami, tuan Uchiha Itachi?" Tanpa mempedulikan pertanyaan Itachi, pria berambut oranye yang duduk di depannya malah bertanya balik. Matanya berkilat tajam, nada suaranya terdengar serius. Itachi sadar nyawanya sedang terancam jadi dia putuskan untuk berhenti bermain-main.

Tubuhnya menegak, matanya fokus membalas tatapan pria yang ada di depannya.

"Aku tidak punya urusan yang mengharuskanku untuk menyewa kalian."

"Jangan bercanda kau!" Seorang pria berambut perak yang berada dibelakangnya maju dan menodongkan pisau tepat di lehernya. Itachi tak bergeming. Tak ada rasa takut sama sekali dengan pisau yang bisa menyobek kulit lehernya se waktu-waktu.

"Hentikan Hidan!'' suara dingin itu bagai perintah mutlak bagi orang yang sedang memegang pisau itu.

Orang yang dipanggil Hidan mendecih, lalu ia berjalan mundur sembari menjauhkan pisau itu dari leher Itachi.

"Jadi apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menangkap kami, menyerahkan kami pada polisi?" tanya pria itu lagi. Itachi menggelengkan kepala sebagai tanggapan pertanyaan itu. Kemudian mulutnya kembali terbuka.

"Aku ingin bergabung dengan Akatsuki."

"Kenapa?"

"Hanya tertarik."

"Kau bisa membunuh?" pertanyaan kali ini membuat Itachi terdiam cukup lama.

Membunuh? Tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Itu hal kejam, bukan pada saat pembunuhannya tapi setelah itu—maksudnya bagaimana dengan keluarga orang yang sudah dibunuhya, Itachi tidak mungkin bisa membayangkan semua penderitaan itu.

Pria berambut oranye itu tersenyum mengejek melihat kebungkaman Itachi.

"Di dalam Akatsuki, tidak bisa membunuh sama saja dengan tidak berguna. Kau bisa pulang sekarang, Tuan Uchiha." Pria itu mulai berdiri hendak meninggalkan Itachi. Dia berjalan ke arah pintu di ikuti Hidan di belakangnya. Namun saat tangannya hendak memegang knop pintu, suara yang keluar dari mulut Itachi menghentikannya.

"Aku bisa memberikan dana sebanyak apapun yang kau mau." Pria itu menoleh, "Aku kaya dan punya banyak kekuasaan di luar sana. Kau pasti membutukan hal itu kan?" ucap Itachi penuh kemenangan.

Dari perbincangan itulah Uchiha Itachi bergabung ke dalam Akatsuki dan tentu saja dia berhasil bertemu dengan wanita penjaga toko bunga itu. Konan ada disana saat Itachi di perkenalkan secara resmi pada semua anggota Akatsuki. Dia terlihat sedikit berbeda walau tetap cantik dengan senyumannya.

Satu minggu setelah dia bergabung dan tidak ada kemajuan sedikit pun. Sangat sulit mendekati Konan, bahkan dia belum berbicara sedikit pun dengannya, ini menyedihkan. Dan yang paling membuatnya kesal adalah Yahiko, si pria berambut oranye alias pimpinan dari Akatsuki itu adalah orang yang selalu ada di dekat Konan. Dekat-dekat ga jelas, sumpah Itachi berang. Namun menyerah dengan alasan itu bukanlah pilihan bagi Itachi. Mustahil mendekatinya terang-terangan, Itachi pun mendekati Konan secara diam-diam.

Usahanya berhasil, kini dia bisa lebih dekat dengan Konan walaupun di depan Yahiko mereka terlihat sebagai rekan saja. Keduanya menjalin hubungan diam-diam. Berbagi cerita satu sama lain. Dan karena hal itu pula Itachi tahu alasan mengapa Yahiko selalu berada di sisi Konan. Mereka berdua sudah bersama sejak kecil. Keduanya di besarkan di panti asuhan yang sama. Konan tidak pernah bermasalah dengan Yahiko begitupun sebaliknya. Tapi semakin lama lelaki itu semakin overprotective pada Konan. Saat dia menentang maka Yahiko akan marah, membanting semua barang-barang bahkan melukai dirinya sendiri. Maka dari itu Konan tidak pernah lagi melanggar perintah Yahiko, termasuk untuk tidak berdekatan dengan lelaki lain.

Di gudang bawah tanah tempat mereka bertemu diam-diam, Itachi menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Memberi kehangatan, menghilangkan getaran takut ditubuhnya. Tangannya menyentuh puncak kepala. Mengelusnya pelan nan lembut, tak ingin dia terluka sedikit pun.

"Hey Konan."

"Hmm." Perempuan yang sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Itachi itu langsung menyahut kala namanya disebut.

"Ayo kita hidup bersama. Larilah bersamaku." Mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka. Kelopak itu menampakan binar yang indah di dalamnya.

"Tidak bisa, aku tidak bisa lari. Aku akan tetap berada di sisi Yahiko."

"Kau ingin mencampakanku?" tidak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut Konan. Kepalanya menunduk, tak tahu harus berbuat apa.

Ditengah kebingungan itu sebuah genggaman tangan meraihnya. Itu sangat erat, Konan dapat merasakan kekuatan dari lelaki yang ada di depannya. Kepalanya kembali terangkat. Memberanikan diri menatap mata se kelam malam itu.

"Kau tidak mencintai Yahiko, dan itu kenyataan."

Dalam hati Konan membenarkan hal itu.

"Kau mencintaiku, dan aku pun sama. Kau lari hanya untuk kebahagianmu."

Itu tidak salah.

"Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu."

Kata-kata itu tidak ada keraguan.

"Hiduplah bersamaku dan tinggalkan dia! Tinggalkan YAHIKO—"

BUUUGHHH!

"ITACHI!"

Teriakan keras dari wanita berambut biru menggema di ruangan itu. Raut wajahnya begitu ketakutan melihat adegan beberapa detik yang lalu. Adegan yang dengan cepat mengubah suasana diantara mereka berdua. Sementara Itachi hanya terdiam tanpa merubah posisinya atau bersuara akibat pukulan yang di daratkan di kepalanya tersebut. Tangannya masih mengenggam tangan Konan, sementara tangan yang satunya lagi beralih menuju dahi. Menyentuh darah yang mulai merambes dari kepala menuju dahinya.

Konan sudah tahu siapa pelaku pemukulannya karena dari posisinya ia bisa melihat jelas semua adegan beserta pelakunya. Itachi sendiri memutar perlahan kepalanya ke belakang untuk mengetahui siapa pelakunya. Dan tepat seperti dugaannya. Disana berdiri Yahiko dengan pemukul baseball ditangannya. Tidak ada lagi ketenangan yang selalu ia tampakan di wajahnya, hanya ada marah dan rasa ingin membunuh.

"Lepaskan tangannya!" Yahiko berseru dengan amarahnya. Dia bahkan bersiap kembali untuk memukul Itachi.

"Aku tahu kau bersembunyi dan mendengarkan semua perbincangan kami." Konan tersentak mendengarnya. Itachi sudah mengetahui keberadaan Yahiko di tempat ini dan dia masih nekat bertemu dengannya dan berbicara hal-hal seperti itu. Apa dia ingin bunuh diri?

Matanya menatap tak percaya pada Itachi. Tahu akan respon apa yang akan diberikan wanitanya, Itachi pun berbalik untuk membalas tatapannya. Senyumnya pun terukir untuk menenangkan hati Konan yang sedang penuh kegelisahan.

"Aku baik-baik saja. Sudah ku bilang kau hanya perlu percaya padaku."

"Tidak, ini gila, kau ..."

"KONAN lepaskan dia!" teriakan penuh penekanan itu kembali terlontar dengan kerasnya. Keduanya kembali menatap Yahiko. Lelaki itu sangat marah, Konan tahu itu. Dia harus cepat meredakan amarahnya dan menghentikan tindakannya sebelum sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi. Ia pun berinisiatif melepaskan tangannya dari Itachi namun lelaki itu pun tak ingin kalah. Dia menggenggam lebih erat.

"Kumohon Itachi, hentikan semua ini. Yahiko marah."

"Aku juga bisa marah dan melakukan hal yang lebih gila jika kau melepaskannya."

Keduanya bertatapan sengit. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali.

Muak dengan sikap keras kepala Itachi, Yahiko pun memukul tangan lelaki itu agar tangannya bisa terlepas dari Konan.

"Tidak, jangan lakukan itu Yahiko!" Konan berusaha menghentikan Yahiko tapi seakan tuli lelaki itu tidak mendengarkan sama sekali ucapannya. Itachi sendiri hanya bisa meringis tertahan. Dia terus bertahan untuk tak melepaskan tangan wanita yang di kasihinya.

"Ku mohon Itachi, lepaskan tanganku." Wanita itu mulai menangis sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Itachi, namun bukannya melonggar, pegangan tangan itu semakin erat. Lelaki berambut hitam itu seolah tak peduli dengan semua rasa sakit akibat pukulan yang terus dilancarkan oleh Yahiko.

"Lepaskan dia brengsek, dia tidak pernah mencintaimu. Konan hanya milikku!"

"Diam kau pecundang, kau pikir bisa memaksaku melepaskan tangannya. Jangan bermimpi!" tanpa rasa ingin mengalah, Itachi pun membalas semua kata-kata Yahiko.

Darah terus merambes, keluar melalui luka yang ada pada tangan Itachi. Sekuat dan se keras kepala apapun lelaki itu tetap saja tidak berpengaruh pada Konan. Wanita itu terus saja berusaha melepaskan tangannya. Tangisannya sudah tak terbendung lagi. Dia sangat khawatir dengan keadaan Itachi. Berulang kali dia memohon pada Itachi namun lelaki itu tak mendengarnya sama sekali, "Kenapa kau menangis dan memohon seperti itu? sudah ku bilang aku baik-baik saja."

Sadar usahanya sia-sia, Yahiko pun dengan kesal membuang pemukul baseball itu. Dengan cepat tangannya merogoh sesuatu dibalik kemeja. Mengeluarkan senjata lain dari sana.

"Aku benar-benar akan membunuhmu sekarang," ucapnya dengan senjata api tepat di kepala Itachi. Konan semakin terkejut sementara Itachi masih tak bergeming dengan posisinya.

"Ti-tidak, jangan lakukan itu Yahiko..."

"Tembak saja, setidaknya aku akan mati dengan tangan yang masih menggenggam orang yang ku cintai—"

"Hentikan omong kosongmu Itachi!" kini Konan membentaknya dengan keras. Suaranya yang lembut terdengar penuh amarah dan kekesalan. Bahkan kedua lelaki yang ada disana pun di buat membeku.

"Lepaskan tanganku!"

"Untuk apa? Bukankah kita akan hidup bersama?"

"Aku tidak pernah setuju tentang hal itu."

"Kenapa kau begitu keras kepala? Aku melakukan semua ini demi kabaikanmu."

"Aku juga melakukan hal yang sama. Lepaskanlah, ini demi kebaikanmu!" Itachi mendecih mendengar semua ucapannya. Kebaikan seperti apa yang ingin Konan lakukan dengan memaksanya melepaskan tangan wanita yang di cintainya.

"Omong kosong—" tarikan tangan yang masih menyatu itu membuat tubuh Konan tertarik ke depan. Dan tanpa menyia-nyiakan hal itu, Itachi langsung mendekapnya se erat mungkin. "Kau bisa membunuhku sekarang juga, tapi untuk melepaskan tanganmu aku tidak bisa." Itachi berbisik begitu lembut di telinganya. Suara lelaki itu begitu parau, membuat Konan yang sedang ada dalam dekapannya merasakan sesak yang amat dalam. Keduanya pun menikmati pelukan itu. Berbagi kehangatan. Berbagi luka dan kepedihan yang sama. Rasa sesak dan keinginan yang begitu sulit.

DOORRR! DOORRR!

Dua tembakan itu menghentikan waktu mereka. Peluru berkecepatan tinggi sukses bersarang di tubuh sang lelaki. Darah dengan deras mengalir, sebagian mengenai tubuh sang wanita. Mata membulat, suara tercekat cukup lama. Dengan keadaan seperti itu, onyx-nya masih menatap penuh keteduhan. Sampai akhirnya tubuh itu ambruk kehilangan dayanya. Konan pun berteriak penuh kepedihan.

"Berterimakasihlah karena aku mengabulkan permintaanmu."

Dengan pistol yang baru saja di tembakan, Yahiko berucap dengan penuh kemenangan. Matanya masih menatap tajam pada tubuh yang sudah terkapar itu, masih merasakan amarah dalam hatinya saat Konan menangisinya. Disisi lain genggaman tangan penuh darah yang awalnya mencengkram erat perlahan melonggar begitu saja, dan seiringnya waktu menjadi terlepas, tak menyisakan apapun.

.

.

"Kau baik-baik saja Itachi." Sebuah suara bariton itu menyadarkannya dari lamunan masa lalu. Itu Neji, orang yang menyelamatkannya dua tahun lalu saat dia di tinggal begitu saja di pinggir jalan.

Itachi sempat mengalami koma beberapa hari akibat luka tembak itu. Semua keluarganya datang saat dia sudah sadar dari tidur panjangnya, bahkan Sasuke sempat menangis karena kesadaran Itachi. Sehari setelahnya lelaki berambut panjang itu datang ke ruangan Itachi. Sebagai anggota kepolisian yang menemukannya waktu itu, Neji merasa perlu untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Itachi. Selain memberitahu bahwa dia adalah mantan anggota Akatsuki, itachi tidak mengatakan apapun lagi. Neji menyerah untuk menayakan hal yang lebih jauh lagi, mengingat waktu itu kondisi Itachi juga terlihat tidak terlalu baik secara mental. Kasus penembakan Itachi itu pun hanya diberi alasan karena dia serang oleh preman yang hendak mencuri uangnya.

"Tentu saja kakak tidak baik-baik saja, dia terlihat sangat murung setelah mendengar semua yang dikatakan Hinata." Kini adiknya yang memberi komentar akan sikap Itachi yang memang terlihat murung itu. Sasuke sendiri sebenarnya kaget atas semua yang sudah diceritakan Hinata tentangnya yang menjadi target pembunuhan Akatsuki, termasuk kecelakaan yang baru saja dialaminya. Tapi jika mereka terus panik itu malah membuat suasana semakin tegang.

Itachi menghela napas, "Kau pikir aku akan tertawa senang saat adikku sendiri sedang menjadi target pembunuhan?" ucapnya sambil mendecih kesal. Sasuke hanya memutar bol matanya melihat sikap kakaknya itu. Dia tahu sang kakak sangat khawatir dengan keadaannya sekarang tapi dia sudah dewasa. Dia ingin di percayai oleh kakaknya itu.

Sasuke berdiri dari tempat duduknya. Ia hendak meletakan tangan kanannya di pundak Itachi namun diurungkan dan langsung di ganti dengan tangan kirinya.

"Aku akan baik-baik saja, aku punya kakak yang bisa diandalkan dan aku juga bukan lelaki yang lemah," ucapnya penuh percaya diri. Lalu perlahan ia berdiri dan berjalan menuju Hinata. Sasuke berdiri tepat di hadapannya. Sadar akan Sasuke yang ada didepannya, ia pun ikut berdiri menghadapi Sasuke. "Lagipula aku punya pacar seorang detektive dengan kemampuan beladiri yang mengagumkan, jadi kau tidak perlu khawatir, bukankah begitu Hinata?" Senyuman tipis disudut bibirnya terlontar jelas pada perempuan di depannya. Sementara Hinata sendiri hanya mendecih melihat keangkuhan sikap Sasuke padanya.

"Aku ingin beristirahat dulu, kau bisa pulang bersama kakakmu kan?" Tanpa menunggu jawaban atau reaksi Hinata, Sasuke langsung berjalan menjauhi mereka menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Neji melihat kepergian Sasuke sesaat. Setelahnya dia kembali melihat keadaan Itachi yang masih gelisah.

"Aku tahu kau khawatir tapi ucapan adikmu juga tidak salah. Kau tidak perlu terlalu cemas, kami dari kepolisian pasti akan melakukan sesuatu," ujarnya mencoba menenangkan Itachi. Lelaki itu menghela napas dalam, "Aku tahu itu Neji." Kedua lelaki itu kini terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Begitu pula dengan Hinata yang masih berdiri di posisinya.

Matanya menatap kedua pria itu. Pikirannya berkecamuk tentang apa yang baru saja di beritahukan pada mereka. Hinata memang memberitahu bahwa Sasuke menjadi target pembunuhan Akatsuki selanjutnya namun tidak tentang Sasori. Dia memilih untuk tidak mengatakan bahwa salah satu anggota Akatsuki ada di kampus yang sama dengannya dan Sasuke. Bukan karena ingin melindungi lelaki itu, tentu saja itu adalah hal yang mustahil Hinata lakukan. Gadis itu hanya berpikir bahwa Sasori adalah urusan pribadinya jadi segala sesuatu tentang lelaki itu hanya akan menjadi urusannya. Dia akan menjadi egois untuk urusan balas dendamnya.

"—ta—nata—Hinata?" Gadis itu terjengit sedikit kaget karena panggilan yang dilontarkan oleh sang kakak. Dia terlalu fokus dengan pikirannya hingga tak terlalu mendengar saat kakaknya memanggilnya.

"Ya, Kakak."

"Kau baik-baik saja? Aku memanggilmu berkali-kali." Neji bertanya khawatir, Itachi pun melihat heran kearahnya.

"Aku baik-baik saja kak." Jawaban yang disertai senyuman dari sang adik menghilangkan ke khawatiran mereka.

"Aku ingin bicara sesuatu." Kini Itachi yang berbicara padanya. Hinata langsung mengangguk lalu duduk kembali di sofa berwana silver itu.

"Hubunganmu dan Sasuke, apakah itu benar-benar terjadi?" tanya Itachi penasaran. Neji menatap padanya intens, cukup penasaran juga.

Hinata memutar bola matanya. Dari semua pertanyaan yang bisa ditanyakan Itachi, mengapa lelaki ini malah menanyakan hal itu. Mood Hinata mendadak buruk tapi dia berusaha menjaga sikap.

"Aku tidak terlalu yakin tapi Itachi-san bisa berpikir seperti itu." Hinata menjawab sesimpel mungkin namun kontras dengan ketidakjelasan. Lelaki berambut hitam itu sepertinya mengerti apa yang dialami gadis berponi depan itu. Masalah yang ini sepertinya berasal dari Sasuke. Ia pun berniat untuk tak bertanya lagi tentang hubungan pacarannya dengan Sasuke.

"Baiklah, Neji menurutmu apa yang harus ku lakukan sekarang?" Neji terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu, "Ku rasa tidak membiarkan Sasuke keluar rumah, bukan ide yang buruk."

"Perhatikan juga pelayan yang bekerja di rumah ini. Kita tidak akan pernah tahu Akatsuki sudah memasukan mata-mata atau tidak," sambung Hinata. Itachi mengangguk mengerti. Lalu ia melihat kearah Hinata.

"Hinata bisakah kau memberitahu hal ini pada Sasuke," pintanya dengan lembut. Hinata mengernyitkan dahi, "Aku?" tanyanya tak percaya. Itachi mengangguk.

"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Neji, jadi tolong yah—ah dan jangan lupa tolong bawakan es batu. Untuk kotak P3K sudah ada di kamar Sasuke." Untuk se saat gadis bermarga Hyuuga itu menahan napas. Ekor matanya melirik pada sang kakak meminta pertolongan, tapi kakaknya sendiri hanya bisa mengangkat bahu dan tangannya tak bisa berbuat apa-apa.

Hinata menghela napas lesu.

"Oh baiklah."

.

.

Sasori memain-mainkan pistol ditangannya. Sebelah tangan yang lain sedang memegang gelas yang berisi cairan berwarna merah.

Seteguk.

Dia meminum airnya lalu meletakan gelas itu diatas meja. Lalu matanya melihat ke arah foto yang juga berada di meja yang sama. Itu foto Uchiha Sasuke.

"Kau punya keberuntungan yang baik," gumamnya pelan. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Sasuke lolos dari kecelakaan yang sengaja dibuat olehnya. Padahal itu adalah waktu yang sempurna, tapi yah keberuntungan Sasuke memang membuatnya masih hidup. Ia berdecih kesal saat melihat Sasuke keluar dari mobilnya hidup-hidup. Bahkan tak terluka sedikitpun. Usahanya sia-sia.

Drrrttt... drrrttt... drrrttt...

Suara ponsel berdering. Sebuah panggilan menantinya. Segeralah di rogoh saku celana.

Nama pimpinannya tercetak jelas pada nama panggilan yang tertera. Segera Sasori mengangkat ponselnya.

"Sasori, bagaimana tugasmu?" Tanpa basa-basi Yahiko langsung bertanya pada intinya.

"Maafkan aku, tapi Uchiha Sasuke berhasil lolos." Telinga Sasori dapat mendengar helaan napas kecewa dari bosnya itu.

"Sudah ku duga." Sasori mengernyitkan dahi mendengar ucapan Yahiko. Namun dia memilih tetap mendengarkan daripada bertanya.

"Kakuzu tertangkap polisi, kau tahu itu?" Sasori cukup dikejutkan dengan berita itu. Pantas saja Kakuzu tidak bisa dihubungi setelah terakhir mereka bekerja sama dalam tabrakan Kasumi waktu itu.

"Jadi itu penyebab dia menghilang akhir-akhir ini."

"Ya, untuk antisipasi aku memindahkan markas Akatsuki, akan ku kirimkan informasi lokasinya nanti." Sasori mengangguk mengerti.

"Berhati-hatilah, ku rasa kepolisian sudah mengirim mata-mata untuk mengawasi kita. Tertangkapnya Kakuzu adalah buktinya."

"Mata-mata?"

"Ya, dan mungkin saja mereka ada di sekitarmu. Tingkatkan ke waspadaanmu." Setelah mengatakan semua itu Yahiko menutup sambungan telponnya.

Sasori meletakan ponselnya. Pikirannya berkecamuk memikirkan kemungkinan mata-mata yang ada di sekitarnya. Dia memang bersikap cukup ramah pada semua orang tapi semua itu hanya formalitas agar ia tak dicurigai. Dia tidak akan membiarkan sembarang orang bisa dekat dengannya. Jadi dalam hal ini Sasori hanya bisa memikirkan dua nama di otaknya.

Mungkinkah Kasumi?

Ataukah Shion?

.

.

"Aku kira kau sudah pulang," seru Sasuke saat dia membuka pintu dan mendapati Hinata berdiri disana. Tangannya memegang nampan dengan mangkuk berisi es batu dan kain di atasnya, "Dan untuk apa ini?" tanyanya sambil menunjuk pada nampan itu. Hinata tidak menjawab. Tanpa permisi wanita itu masuk ke dalam kamar Sasuke dan menyimpan nampan itu di atas meja di dekat tempat tidurnya. Dari belakang Sasuke mengikutinya.

"Hey jawab—"

"Kakakmu menyuruhku datang kesini untuk membawa es batu. Dia bilang kau punya kotak P3K jadi cepat obati luka ditanganmu itu," sela Hinata sambil menunjuk tangan kanan Sasuke yang terluka saat kecelakaan mobil itu yang diam-diam di sembunyikannya.

Sasuke melihat bongkahan es batu itu. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikannya tapi tetap saja kakaknya bisa tahu. Bahkan sepertinya Hinata juga tahu soal itu.

"Oh iya kakakmu juga bilang demi keselamatanmu kau tidak boleh keluar rumah, kau mengerti."

"Baiklah, itu tidak masalah asalkan kau datang saat aku ingin bertemu denganku."

"Kau sudah tahu kalau aku sedang menyelidiki tentang Akatsuki. Aku tidak punya waktu untuk—" ucapan Hinata terhenti kala dia melihat cincin yang dikeluarkan Sasuke dari saku celananya. Itu isyarat, sebuah ancaman.

Lelaki itu menyeringai penuh kemenangan.

"Kau gila?! Berani sekali kau mengancam anak seorang ketua polisi!"

Sasuke mendekatkan tubuhnya pada Hinata. Lalu tanpa izin sang wanita, ia langsung memberi sebuah pelukan. Bukan pelukan memaksa tapi pelukan yang sedikit hangat mungkin. Entahlah, tidak tahu arti pelukan itu mungkin saja hanya untuk mempermainkannya.

"Kau kan tahu kalau tanganku sakit karena kecelakaan itu. Jadi sebagai pacar yang baik kau harus menjengukku sampai aku sembuh," ucapnya. Terdengar sedikit suara manja dalam suara baritonnya.

Memutar bola matanya, Hinata tahu Sasuke memang ingin dan sangat senang mempermainkannya.

Dengan satu gerakan, wanita itu mendorong tubuh sang lelaki agar menjauh dari tubuhnya. Lavendernya menatap malas pada Uchiha bungsu itu.

"Obati saja lukamu."

Sasuke melipat kedua tangannya. Onyx-nya membalas tatapan malas itu.

"Yah, obati saja lukamu," ucapnya mengulang kembali ucapan Hinata.

Menghela napas, Hinata menyerah menghadapi lelaki di depannya. Apapun yang dia ucapkan akan tampak seperti mantra permainan bagi Sasuke. Dia pun bergegas untuk pergi saja dari sana, tapi tangan kiri dari lelaki itu mencegahnya.

"Sekarang apa—awww!" pekikan itu memotong kalimatnya. Dengan sengaja Sasuke menjentikan jarinya di dahi Hinata.

"Aku tahu kepalamu terjedug saat di mobil tadi. Sia-sia saja menyembunyikannya dari pacarmu sendiri." Dengan tangan yang masih memegang dahi, Hinata menatap tak percaya pada Sasuke. Apa ini sebuah perhatian? Jika dia sudah tahu aku terluka kenapa melakukan itu, sialan!

"Aku tidak mau punya pacar dahi bolong, jadi obati saja dan—awwwww!" terulang kembali saat kalimat terpotong dengan pekikan. Kali ini pelakunya sang wanita yang memukul tangan kanan si bungsu Uchiha. Bukan pukulan yang keras tapi mengingat tangannya sedang terluka jadi rasa sakitnya cukup terasa.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Tentu saja memberi perhatian. Hey Uchiha Sasuke, obati saja luka di tanganmu itu karena jika tanganmu sakit aku tidak punya kesempatan untuk mematahkan tangan pacarku." Setelah mengucapkan hal itu Hinata pun berjalan menuju pintu, lalu keluar dari kamar tanpa menoleh sedikitpun pada Sasuke yang masih meringis kesakitan. Sasuke sendiri hanya bisa menatap punggung kecil itu dari jauh. Rasa sakit Sasuke perlahan hilang lalu dia melihat pintu yang sudah tertutup itu.

Mata hitamnya melirik kearah wadah es batu diatas mejanya. Sepertinya dia memang harus secepatnya menyembuhkan tangannya.

Untuk bertahan dari ancaman pembunuhan ini.

Dan untuk melindungi punggung kecil itu.

.

.

TBC

.

.

Terimakasih sudah membaca dan me-review...