Naruto©Masashi Kishimoto

Warning inside!

Chapter 9: Pernikahan.

.

.

Kelopak mata perlahan terbuka. Menampakkan violet indah di dalamnya. Kesadarannya belum pulih dengan jelas, namun telinganya dapat mendengar suara itu bahkan sebelum matanya terbuka. Bel pintu yang terus berbunyi.

Hinata mencoba mengabaikan, namun suara itu tak kunjung reda. Mendecih, gadis itu kesal. Dengan segera ia turun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju pintu. Sepanjang jalan ia terus menggerutu. Siapa pengganggu yang membangunkannya jam sebelas malam. Aah sialan.

Pintu terbuka. Amarahnya sudah di puncak siap melabrak. Namun masih bisa di tahan demi menjaga keamanan para tetangganya.

"Bisakah kau berhenti memencet tombol itu? Kau sangat menganggu tuan target pembunuhan."

Orang yang mendapat labrakan tak mengindahkan kalimat bernada kesal itu. Sebaliknya ia malah masuk begitu saja ke dalam rumah. Hinata mengikutinya dari belakang.

"Aku tidak mengizinkanmu masuk Uchiha Sasuke. Jangan seenaknya menerobos!."

"Aku kan pacarmu. Jadi biasakanlah dengan penerobosanku." Sasuke berbalik dan Hinata yang berjalan di belakangnya hampir saja menubruknya karena perputaran badan yang begitu mendadak. "Siapkan paspor dan semua dokumen yang di perlukan untuk naik pesawat."

Gadis itu menatap tak percaya. Apa-apaan sikap lelaki berambut emo itu. Mengganggu ke damaian orang. Masuk seenaknya dan sekarang memerintahnya dengan santai. Oh kalau saja bukan karena cincin itu, Hinata mungkin sudah mengirimnya ke Rumah Sakit sekarang.

"Dengar yah, aku baru saja tidur sekitar tiga puluh menit yang lalu, sampai kau datang dengan hebohnya dan mengganggu tidurku. Sekarang pulanglah sebelum aku benar-benar marah." Masih mencoba bersabar, Hinata menunjukan satu tangannya menunju ke arah pintu keluar.

Tidak menuruti, Sasuke kembali berjalan. Kini ia mengarahkan langkahnya masuk ke kamar gadis itu. Hinata tentu tak terima tapi ia terlambat untuk menghentikan Sasuke. "Hey! Apa kau tuli? Aku bilang aku ingin tidur sekarang."

"Kalau kau ingin tidur lanjutkan saja di pesawat nanti." ujarnya sambil mencari-cari paspor Hinata. Dimulai dari rak buku dan laci, semuanya di cari. Benar-benar kelakuan yang tidak sopan.

"Untuk apa aku naik pesawat?"

"Kenapa kau banyak tanya? Kau sudah bilang akan menuruti semua keinginanku. Itu perjanjian." Gadis itu berjalan lebih cepat untuk mendahului Sasuke. Lalu ia berhenti di depannya.

"Aku bukan wanita murahan yang mau disuruh-suruh, atau melakukan apapun yang kau perintahkan tanpa alasan jelas." Sasuke berhenti mencari. Kini onyx-nya menatap kedepan. Membalas tatapan violet yang mengkilat tajam itu. Tidak ada lensa seperti biasanya. Mungkin karena mau tidur jadi dia melepaskannya.

Mengalah untuk berdebat, Sasuke mengatakan alasan yang sebenarnya. "Temanku akan menikah besok dan malam ini adalah penerbangan terakhir. Kalau berangakat besok tidak akan sempat. Jadi cepat bawa paspormu."

"Yang menikah itu temanmu, kenapa aku harus peduli."

"Kau tidak peduli, tapi aku peduli. Lagipula menurutku kau berkewajiban datang ke pernikahan itu." Dua alis itu menaut. Hinata bingung. Sementara Sasuke tersenyum misterius.

Tangannya merogoh saku celana. Mengambil cincin Hinata yang tersimpan disana. Lalu ia menunjukkan benda itu tepat di depan wajah Hinata. Sembari menyeringai, Sasuke berujar sesuatu yang tak pernah disangka gadis itu. Keterkejutan begitu terpatri di raut wajah cantiknya.

"Mempelai wanita dari temanku adalah kakak mantan kekasihmu, Gaara."

.

.

Itachi menatap kedepan dengan fokus. Matanya tak teralihkan. Tangannya bergerak beraturan mengendalikan kemudi. Perjalanan menuju Bandara Konoha cukup lancar dan menyenangkan karena tidak macet. Besok adalah pernikahan Shikamaru, dia adalah sahabatnya dan juga adiknya. Karena pekerjaan yang begitu menyita waktu, dia memundurkan jadwal perginya menjadi malam. Awalnya ia akan pergi bersama Sasuke, tapi karena dia sudah punya pacar jadi Itachi memutuskan untuk pergi lebih dahulu ke Bandara dan membiarkan Sasuke mengajak Hinata lebih dulu. Mereka akan bertemu disana nanti.

Jujur saja dengan keadaan Sasuke sekarang dia cukup merasa khawatir dengan serangan dadakan yang di lancarkan pihak Akatsuki untuk membunuh adiknya. Namun ia berusaha untuk tetap percaya pada Sasuke sendiri. Hatinya sedikit lega karena Hinata yang seorang Detektive polisi selalu di dekatnya. Walau tidak memastikan bahwa Sasuke akan aman sepenuhnya, setidaknya ada penjagaan walau sedikit.

Perjalanan menuju Bandara hampir sampai. Namun tiba-tiba saja mobil-mobil yang ada di depannya berhenti. Seperti macet dadakan? Entahlah Itachi tidak tahu. Tapi karena itu ia pun segera menghentikan mobilnya juga. Beberapa orang keluar dari mobilnya untuk mengecek apa yang terjadi. Sepertinya ada kerumunan orang juga di depan sana.

Ikut penasaran, lelaki dewasa berambut panjang itu membuka pintu mobilnya lalu keluar disana. Ia berjalan menghampiri orang-orang disana. Sekaligus mencari penyebab kemacetan ini. Semakin dekat ia semakin mendengar kericuhan orang-orang.

"Ada yang tergeletak di tengah jalan."

"Apa dia tertabrak?"

"Mungkin mau bunuh diri. Entahlah."

Kalimat-kalimat itu hinggap di telinga Itachi. Namun ia mencoba menghiraukannya sebelum melihat fakta yang ada.

Ia pun tiba di kerumunan orang-orang dan menerobos masuk untuk melihat seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian itu.

Awalnya Itachi pikir dia hanya sedang bermimpi melihat sosok itu tergeletak disana. Namun dengan segera ia berjalan mendekat dengan penuh kenyataan di depan mata. Di rengkuhnya sosok itu. Di periksalah keadaannya. Menghela napas lega, Itachi bersyukur bahwa wanita ini sepertinya hanya pingsan saja.

Tangannya bergerak ke arah wajah. Menampari pelan sembari memanggil nama untuk menyadarkannya. Dan entah kenapa tidak butuh waktu lama kelopak dari sang wanita terbuka. Menatap wajah pria yang kini ada di hadapannya.

"Itachi."

.

.

Mobil hitam melesat di tengah jalan raya kota. Yang mengendarai begitu tenang mengikuti iramanya. Sementara gadis yang duduk disampingnya hanya bisa menerima paksaan ini begitu saja. Kembali ia mengingat percakapannya dengan Sasuke semalam.

"Sabaku no Temari adalah calon istri dari temanku."

Hinata menatap nyalang mendengar hal itu, "Kau menyelidiki tentang mereka juga?! Aku tak percaya ini." Ekspresi terkejut belum sirna di wajahnya. Sasuke sendiri masih menanggapi hal itu dengan santai.

"Jangan berlebihan. Aku hanya mencari informasi tentang nama dari cincin itu. Sekarang cepat cari paspornya atau kita akan terlambat." Perintah Sasuke lagi. Kali ini nada yang diucapkan terdengar lebih serius daripada sebelumnya.

"Aku tidak mau." Perintah itu tidak mempan. Hinata tidak peduli.

Bungsu Uchiha mendengus, kesal juga terus-terusan menghadapi sikap Hinata yang keras kepala. "Terserah! Kita batalkan saja perjanjian ini dan akan ku pastikan kau tidak akan pernah melihat cincinmu lagi."

Tangan Hinata mengepal keras. Lidahnya keluh tertahan. Matanya masih menatap nyalang onyx di depannya, namun demikian ia tak bisa berbuat banyak untuk menolak perintah.

Dan akhirnya ia lagi-lagi hanya bisa menuruti keinginan lelaki itu.

Terlalu larut dalam pikiran sampai tak sadar bahwa mobil yang di tumpanginya sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Bahkan Sasuke sudah berdiri di dekat pintu mobil. Hendak membukakannya untuk Hinata.

Pintu terbuka. Hinata mengambil tas genggam berwarna hitamnya, lalu menapakkan kaki berbalut high hells dengan warna senada dompetnya. Berujung runcing setinggi tujuh centi. Membuat kaki putih mulus itu terlihat lebih jenjang.

Uluran tangan di berikan Sasuke namun tak segera disambut oleh Hinata. Jujur saja rasa kesalnya masih belum hilang sedikitpun dari semalam. Dengan mata yang sudah berlapis softlens, Hinata kembali memberi tatapan tajam. Walau itu tak pernah berhasil untuk Uchiha Sasuke. Hinata menghela napas. Pada akhirnya ia menyambut uluran tangan itu. Keluar dari mobil dan hendak berjalan menuju gedung tempat pernikahan di adakan.

Setelah memberikan kunci pada petugas parkir disana, keduanya pun berjalan bersama dengan gandengan yang dipaksakan. Dengan tampang dan penampilan yang sempurna keduanya berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata. Setelan jas formal berwarna hitam terlihat cocok saat berpadu dengan dasi silver. Tidak terlihat tua untuk Sasuke. Sepatu mengkilat walau gaya rambut tidak ada yang berubah. Sedikit senyum terukir saja mampu membuat semua wanita disana tak ingin melewatkan kesempatan melihat putra bungsu Uchiha itu.

Disisi lain Hinata hanya menggunakan mini dress selutut berwarna merah dengan potongan kerah yang menjalit bagian lehernya. Bagian punggungnya sedikit terekspos namun tidak terlihat murahan. Rambutnya sengaja di sanggul. Poni yang biasanya menutupi bagian kening pun kini di tarik ke belakang. Hanya menyisakan sedikit jumput rambut dibagian dua sisi. Terlihat elegan dan berkelas. Jangan tanya sudah berapa banyak lelaki yang mendapat tatapan tajam dari Sasuke.

Keduanya berjalan menuju pengantin yang sedang bersalaman dengan tamu lainnya. Dari kejauhan Shikamaru sudah melambaikan tangannya. Hinata pun dapat melihat Temari yang berdiri disamping lelaki itu. Ia menguatkan tekad agar tak terlihat lemah menghadapi kakak Gaara.

Sasuke mendekat ke arah Shikamaru. Ia melebarkan kedua tangannya. Memeluk Shikamaru. "Setelah ini jangan cepat-cepat bercerai."

Lelaki itu mendecih, namun setelahnya dia tersenyum. "Berdoalah yang baik-baik untukku." Walau tidak keras tapi Shikamaru dapat mendengar sedikit kikikan dari Sasuke.

Cukup acara berpelukannya, keduanya pun memutuskan untuk melepaskan dekapan itu. Onyx Sasuke kemudian melihat pada Temari. Wanita itu tersenyum kearahnya. "Kau Uchiha Sasuke bukan? Aku banyak mendengar tentangmu." ujarnya sambil melirikkan mata ke arah Shikamaru.

"Benarkah? Ku harap kau tidak cemburu."

"Aku sangat cemburu. Aku pernah menduga bahwa kalian menjalin hubungan terlarang. Tapi sepertinya tidak." Temari memiringkan sedikit kepalanya. Melihat Hinata yang berdiri di belakang Sasuke. "Kau pintar memilih wanita." Hinata yang merasa dipandangi hanya bisa melontarkan seulas senyum sebagai tanda sopan santun.

"Tentu. Aku Uchiha Sasuke." ucapnya penuh percaya diri. Shikamaru meninju bahunya. Temari memutar bola mata sambil tersenyum. Sementara Hinata mendecih melihat tingkah lelaki ini. Oh serius, mengapa dia begitu berbeda dengan Itachi.

"Permisi, bisakah aku pergi ke Toilet sebentar?" izin Hinata.

"Sekarang?" Temari menyahut. Hinata hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Kau benar-benar ke Toilet kan?" Kini Sasuke yang bertanya dengan selidik. Namun Hinata tak menjawabnya. Ia bersikap acuh dan tidak peduli.

"Lihatlah, sikap posessive Uchiha Sasuke muncul." Shikamaru menimpali sembari tersenyum mengejek kearahnya karena sudah di acuhkan Hinata.

Temari menatap Hinata, lalu tersenyum. "Baiklah, tapi cepat kembali yah. Rasanya aku ingin berbicara banyak denganmu." Hinata mengangguk. Sebelum pergi ia mendekati Temari terlebih dahulu. Tangannya terulur untuk memegang tangan wanita berambut pirang itu.

"Selamat atas pernikahanmu. Berbahagialah." Setelah itu Hinata melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga. Temari masih melihatnya. Padahal sosok Hinata sudah menghilang di tengah keramaian. Satu tepukan lembut di pundak menyadarkannya. Itu Shikamaru.

"Apa ada masalah?" Suaminya bertanya. Temari tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menggeleng pelan.

"Tidak ada masalah. Aku hanya sedikit familiar dengan gadis itu."

"Mungkin pernah bertemu selewat di suatu tempat. Itu hal yang wajar kan." ucap Shikamaru.

"Shikamaru benar." Sasuke menimpali. Lalu ia mengingat sesuatu. "Apa Itachi sudah datang? Semalam kita berencana berangkat bersama di Bandara tapi dia tidak ada." Sasuke bertanya perihal Itachi. Ia hanya bingung karena Itachi tidak datang dan ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Jujur saja dia cukup khawatir karena kakaknya tidak pernah melakukan ini sebelumnya.

"Tadi pagi dia menghubungiku memakai nomor lain, ponselnya tertinggal di rumah. Dia juga bilang tidak bisa datang karena ada urusan penting." Sasuke mengerti. Kini setidaknya ia bisa bernapas lega karena sudah mendengar kabar Itachi. Walau jujur saja dia penasaran dengan urusan penting yang dilakukan Itachi sampai harus membatalkan kedatangannya ke pernikahan Shikamaru. Padahal dia cukup antusias.

Sasuke terus bergelut dengan pemikirannya. Sementata di sisi lain, dalam kerumunan banyak tamu undangan, Sasori memperhatikannya dari jauh. Rencana pembunuhan ini masih berjalan. Dan tentu saja sang pemburu terus mengikuti mangsa yang hendak di tikamnya.

.

.

Wanita berambut biru itu terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya terpejam. Wajahnya tak sepucat saat ia tergeletak di jalanan semalam. Disisinya Itachi sedang duduk dengan genggaman tangannya yang erat pada wanita itu. Berbagai macam perasaan bercampur aduk. Walau jujur saja rasa senang dan lega lebih mendominasi.

Konan.

Sudah dua tahun dia tak pernah bertemu. Dan sekarang wanita yang dicintainya ada di depan. Jelas. Sangat nyata.

Senyuman kembali terukir di bibir Itachi. Matanya tak lekas untuk melewatkan pemandangan ini. Dia bahkan rela melepas waktu tidurnya hanya untuk menungguinya. Tidak masalah karena dia terlalu bahagia.

Satu gerakan di jari Konan membuat Itachi terhenyak. Onyx- nya menyaksikan kala kelopak mata itu terbuka perlahan. Menyambut kesadarannya pada dunia nyata. Satu. Dua. Tidak perlu menunggu waktu lama sampa penglihatan sang wanita benar-benar jelas. Diiringi dengan kesadarannya.

"Itachi." Satu panggilan terucap dari bibir pucat itu. Lelaki itu mendekatkan raga. Lalu tangannya bergerak menyibak helaian rambut sang wanita.

"Kau baik-baik saja? Butuh sesuatu?" Satu gelengan pelan dilakukan sebagai jawaban atas pertanyaan. Itachi hanya tersenyum. Ia mendekatkan kepalanya, lalu mencium kening Konan penuh kasih.

"Aku sangat merindukanmu. Lebih dari itu. Sekarang dadaku terasa mau meledak karena begitu bahagia bertemu denganmu." Rasa rindu yang tertahan seperti mengalir saat Itachi mengucapkan kata-kata itu. Konan tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum sambil sesekali mengangguk. Walau terkesan acuh tetapi mata yang berkaca-kaca jelas tak bisa di sembunyikan. Ia sama dengan Itachi. Merasa sangat bahagia dengan pertemuan ini. Sampai rasanya ingin menangis, mengeluarkan semua jeritan yang selama ini di tahannya.

Kedua mata itu terus bertatapan. Saling mengisi saling mendalami. Tangan Konan pun terulur menyentuh wajah lelaki itu. Mata. Hidung. Alis. Pipi. Rahang. Semuanya di telusuri tanpa terlewat se inchi pun. Bersama kerinduan yang tertumpah, air mata pun mengalir tak tertahan. Deras menuju pipinya.

"Terimakasih karena kau masih hidup." Itachi mengangguk-anggukan kepala. Lalu ia memeluk Konan yang masih dalam posisi tertidur. Konan pun membalas pelukan itu dengan menaruh sebelah tangan di punggung sang lelaki dan tangan lain menepuk-nepuk surai hitamnya.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Sampai akhirnya Itachi melepaskannya karena cukup khawatir jika Konan kesulitan bernapas karena dirinya yang menimpa.

"Aku senang sekali. Rasanya hampir mau menangis." ujar Itachi jujur. Konan mencubit gemas.

"Kau curang, aku bahkan sudah menangis. Dasar sialan." Sulung Uchiha itu kembali melempar senyum mendengar umpatan dengan suara bergetar setelah menangis itu. Entahlah, menurutnya itu lucu.

"Siapa yang peduli dengan tangisan, yang penting sekarang kau ada disini. Di depanku." Keduanya tak henti melempar senyum sembari berbagi kebahagiaan ini. Tangan bertautan begitu erat. Tak rela terlepas bahkan sedetik saja.

Suara pintu di geser. Seseorang masuk mengalihkan perhatian keduanya. Wanita berambut pirang itu berjalan kearah mereka.

"Bagaimana keadaanmu?" Ia bertanya dengan santai. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jas putih yang selalu di kenakan saat ia bekerja sebagai seorang Dokter.

"Jauh lebih baik." jawab Konan.

"Apa dia masih harus dirawat?" Kini Itachi yang bertanya pada dokter itu.

Wanita itu menggeleng pelan, "Dia baik-baik saja." ujarnya menenangkan. Namun masih terlihat sedikit kecemasan di mata hitam itu. Dokter wanita hanya bisa tersenyum melihatnya.

"Aku serius, jangan terlalu khawatir. Ini adalah gejala yang wajar bagi setiap wanita."

Kalimat terakhir yang diucapkannya membuat Itachi menaikan alis. "Gejala?" Lelaki itu mengulang kata yang membingungkannya.

Dokter wanita itu kembali memberi senyuman. Lalu tangannya menepuk bahu Itachi. Tidak terlalu keras namun cukup terasa juga.

"Selamat. Istrimu sedang mengandung."

Kata terakhir mengambang di udara. Bersama napas yang tercekat dan rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan. Itachi membisu. Semua kata-kata yang harusnya diucapkan seolah tertahan di tenggorokan. Ini aneh. Dia merasa waktu berhenti berputar.

Genggaman tangan terlepas. Itachi hanya bisa menatap tak karuan pada wanita itu. Ini. Benarkah nyata?

.

.

Riak air jernih terpampang di kolam. Begitu tenang dan damai membuat Hinata terhanyut dalam situasi yang sama. Sudah lima belas menit di berada disini. Di kolam renang yang letaknya di berdampingan dengan tempat berlangsungnya pernikahan Temari.

Menghela napas. Walau berusaha menyangkal, tapi Hinata tidak bisa memungkiri bahwa pertemuannya dengan kakak Gaara membangkitkan kenangan lama. Ia masih ingat saat Gaara bercerita tentang betapa ketatnya peraturan yang di buat sang kakak untuk mengawasi adik-adiknya. Atau saat dia pulang dalam kondisi babak belur karena sudah menghajar pacar kakaknya yang berselingkuh. Seperti pita kaset yang berputar, semua kenangan itu nampak dengan jelas. Adegan per adegan. Kata per kata. Tak ada yang dilupakannya.

Tersenyum miring, Hinata mengejek pada dirinya sendiri. Dia sudah berubah begitu banyak dibandingkan dia yang ada dalam kenangan itu. Dingin, egois dan keras kepala. Itulah dia sekarang. Hanyalah sebuah karakter buatan untuk menutupi semua luka dan kesedihannya yang tak kunjung reda. Karena jika hanya menyalahkan takdir semua tidak akan kembali seperti semula. Hinata tahu dengan jelas itu.

Suara langkah yang berjalan terdengar mendekat. Hinata berbalik untuk melihat siapa. Karena memang di ruangan ini hanya ada dia seorang.

Mungkin hanya dua detik Hinata melihat orang itu. Ia kembali berbalik menatap ke arah kolam. Seolah menyesal dengan keputusannya untuk melihat seseorang itu.

"Sedang mengenang mantan, huuh? Klise." Itu Sasuke. Dengan gaya angkuh dia mendekati Hinata.

Tak ada jawaban atau tanggapan dari gadis itu. Mendiamkan Sasuke mungkin lebih baik sekarang.

"Bukankah kita harus kembali? Kau harus menikmati acara pernikahan kakak mantanmu itu." Kembali Sasuke berbicara dan kali ini Hinata mulai muak.

"Kenapa kau terus berbicara? Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Jadi berikan saja cincin itu dan jahit mulutmu." Kalimat pedas keluar dari bibirnya membuahkan senyum sinis di wajah tampan itu.

"Kenapa kau tersinggung? Kau keberatan aku membicarakan mantanmu."

"Aku sangat keberatan!" Dengan penuh penekanan kalimat itu di ucapkan. Untuk beberapa detik Sasuke hanya bisa menatap tajam tanpa membalas kalimat itu. Entah mengapa dia sedang merasa menahan amarah yang begitu besar. Mungkinkah karena gengsi? atau ego. Dia tidak tahu.

"Kau diam? Bagus! Bungkam mulutmu tentang masa laluku dan enyahlah!"

Onyx itu membulat. Tak percaya dengan kata-kata yang baru saja di dengarnya. Namun ekspresi cepat berganti dengan dengusan dan senyum meremehkan. Tatapannya bahkan semakin tajam mengarah pada wanita itu. Lebih menusuk dibanding sebilah pisau.

"Kau tahu. Sikapmu barusan sangat menjijikan!" Kata terakhir diucapkan dengan penuh penekanan. Hinata sedikit mengkerutkan dahi namun tak membalas apa yang diucapkan sang lelaki.

"Murah! Rendahan! Sikapmu barusan terlihat seperti wanita yang sedang mengemis cinta pada lelaki yang sudah mati. Menyedihkan. Kau sa—"

Plaaak!

Kalimat belum selesai terucap karena satu tamparan lebih cepat mendarat di pipinya. Membuat bungkam sesaat. Namun tak menghapus amarah yang tercipta.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Ku bilang tutup mulutmu. Aku sudah muak!"

"Muak? Itu adalah kata-kataku!" Tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan cincin itu. "Kau menginginkan ini kan? Ambilah!" Dengan kuat Sasuke melemparkan cincin itu ke arah kolam. Membuatnya tenggelam ke dasar.

Hinata terkejut. Reaksinya terlambat untuk menghentikan Sasuke. "Kau!" Matanya berkilat. Amarahnya benar-benar di puncak. Namun keadaan Sasuke juga sama. Bergelut dengan kemarahan.

"Ambilah! Kau menginginkan itu kan. Ambilah dan kau benar-benar wanita rendahan." Tanpa mendengar balasan Hinata, Sasuke langsung pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar melewati pintu keluar, telinganya dapat mendengar suara ceburan air. Sasuke menoleh sesaat. Hinata benar-benar masuk ke kolam untuk mencari cincinnya. Dengan penampilan seperti itu? Sasuke mendecih. Tangannya yang mengepal meninju pintu dengan kerasnya. Sial!

.

.

Tetesan air jatuh membasahi setiap langkah yang dia lewati. Tangannya menggenggam benda berharga yang susah payah ia dapatkan. Walau begitu wajahnya tak berekspresi, dingin seperti raga yang basah karena air.

Hinata baru saja keluar dari tempat kolam renang itu berada. Kondisinya yang semula terlihat sempurna kini mengenaskan dengan pakaian basah dan rambut acak-acakan. Walau itu tak masalah baginya. Kini yang ia harus lakukan adalah mencari baju ganti sebelum dia pulang kembali ke Konoha. Sendiri.

Di tengah perjalanannya tiba-tiba ia berhenti. Dengan cepat tangannya mengambil senjata api yang terselip diantara pahanya. Berbalik, lalu menodongkannya ke depan. "Siapa i—"

Kalimatnya berhenti. Seseorang yang di duga mengikutinya kini nampak disana. Dengan senyum merekah di wajah, ia menyapa.

"Kau sangat cantik dengan warna merah itu, Nona Kasumi." Itu Sasori, dengan sebuah pujian. Sama dengan yang dilakukan Hinata, lelaki itu pun mengambil pistol yang di simpan di bagian saku dalam jas yang di kenakannya. Sama. Mengarah ke depan. Pas target.

"Atau bisa ku panggil, Hyuuga Hinata."

.

DOOOR!

.

.

Suara ambulans terngiung di telinga. Teriakan dan panggilan samar-samar terdengar. Matanya meredup dan terbuka dengan lemah. Kucuran darah mengalir tepat di dada. Tubuh sekarat itu terombang ambing diatas kasur beroda dengan dokter dan petugas yang mengikutinya. Berusaha dan memastikan si pasien tetap bernapas. Namun tidak ada yang tahu takdir apa yang menyapa esok atau petang. Entah hidup, atau mati dengan napas yang tercekat.

.

.

TBC

.

.

Terimakasih untuk semua untuk yang sudah RnR. Di chapter ini mungkin agak membingungkan plotnya tapi semoga kalian mengerti. Thank's...