Kedua orang itu berdiri berhadapan. Saling menatap. Saling menodongkan pistol pada target satu sama lain. Tak ada keraguan dalam memegang senjata itu. Bahkan untuk Hinata, dia sangat menantikan adegan ini. 1. 2. 3. Aba-aba dilakulan secara pribadi. Kita mulai, siapa yang akan mati terlebih dahulu.

Disisi lain Sasori hanya tersenyum geli mengetahui dirinya yang di tipu mentah-mentah oleh gadis itu. Yah walau pada akhirnya dia juga tidak menyesal sih. Ada keuntungan tersendiri karena bisa bertemu dengannya lagi. Senyum jelas terpatri di wajahnya. Ia tidak berbohong atas kesenangan bertemu dengan gadis ini.

"Kau tidak berubah. Semakin cantik setelah dua tahun berlalu."

"Terus saja berbicara karena setelah ini aku akan membunuhmu."

Sapaan manisnya di balas dengan tajam dari mulut itu. Tidak ada basa-basi bagi Hinata. Matanya berkilat menatap musuh. Begitu intens, menusuk, Ingin memberi dominasi lebih. Namun tentu takkan pernah berhasil bagi pemuda itu.

"Membunuhku? Kau ingin membalas kejadian dua tahun lalu." Sasori bersua meremehkan. Seolah yang dilakukan Hinata hanyalah permainan semata.

"Bagus kau mengerti. Aku sudah tidak sabar menarik pelatuk ini."

Walau dalam perbincangan, fokus keduanya masih tak teralihkan untuk mengawasi gerak-gerik lawan. Mereka tahu betul. Bahkan satu gerakan kecil saja bisa merubah keadaan dan memberi keuntungan atau kerugian pada salah satu dari mereka.

Mencoba untuk tenang, Hinata mengatur napas sebaik mungkin. Bagaimanapun sangat sulit bagi perasaannya untuk berkompromi di depan lelaki ini. Dia tidak bisa berpura-pura baik-baik saja. Kenangan masa lalu menghantui setiap kali matanya melihat Sasori. Si pembunuh.

Perlahan tangannya mulai bergerak hendak menarik pelatuk. Satu detik terasa bagaikan ratusan menit. Tenanglah dan bidik dengan tepat. Jangan membawa emosi di dalamnya. Itulah sugesti yang berusaha Hinata tanamkan sekarang.

Satu tembakan meluncur. Dan gagal.

Hinata tidak bisa melakukannya dengan benar kali ini. Tembakannya memang tidak meleset jauh, tapi dengan mudah anggota Akatsuki itu menghindarinya. Dan kini lelaki itu malah balik menembaknya. Sengaja di buat meleset dari titik vital. Mengarah pada paha kiri. Lalu ia menembak sekali lagi tepat pada pistol yang di genggam Hinata. Membuat senjata itu terlempar jauh dari jangkauannya. Kini Hinata mengerti. Tujuan utama itu untuk melumpuhkan pergerakannya. Sialan. Dia begitu ceroboh.

Satu senyum puas terpatri di wajah itu. Senang dengan hasil kerjanya. Ia berjalan mendekati Hinata yang sulit bergerak akibat lukanya masih mencoba menyerang dengan tendangan dari kaki kanannya. Walau kembali usahanya sia-sia.

Berjongok, menyamakan tinggi badan. Tangan terulur menyentuh lembut pipi itu. "Aku benar-benar senang bertemu denganmu." Yang segera di tepis kasar oleh tangan Hinata.

"Tapi aku tidak senang bertemu denganmu." Suara lain datang menghampiri. Bukan Hinata yang berucap, melainkan lelaki berambut raven di belakangnya. Bersama todongan pistol yang mengarah tepat di kepala bersurai merah itu. Hinata melihat Sasuke yang sedang tersenyum mengejek melihat ketidak berdayaannya.

"Sepertinya kau kesulitan," onyx-nya dapat melihat cairan merah yang keluar dari paha kiri Hinata. "Aku datang untuk menjadi pahlawanmu." Decihan kasar langsung menjadi balasan atas kalimat penuh percaya diri barusan. Oh lihatlah lelaki yang beberapa waktu lalu sibuk menghinanya. Kini dia malah bersikap so pahlawan kesiangan seperti itu.

"Hey bukankah ini pelanggaran? Di negara kita mana boleh warga sipil memiliki senjata api." Walau keadaan tersudut, Sasori masih tak kehilangan nyali untuk berbicara. Walau hanya sekedar omong kosong soal pelanggaran itu. Omong kosong untuk dirinya sendiri.

"Lucu sekali seorang pembunuh berbicara soal pelanggaran." Sasuke semakin menekan ujung pistol itu ke kepalanya. "Sadarlah dengan posisimu." Ancaman itu secara terang-terangan tertuju padanya, membuat lelaki bersurai merah itu tak tahan untuk tak tertawa.

"Apa kau tidak melihat? Pistolku masih mengarah tepat pada Hinata. Sejujurnya kita ini ada di posisi yang sama." Sengaja ia memiringkan kepala untuk melihat sosok yang mengancamnya lewat sudut mata. Menyeringai. Mengejek terang-terangan.

Sasuke sendiri tidak melupakan hal itu. Dia menyadari benar keadaan mereka sekarang. Dia memang bisa saja menembak lelaki itu kapan pun. Tapi hal itu juga berlaku baginya. Hinata yang masih kesulitan bergerak tentu tidak bisa menghindari peluru itu dengan mudah. Ah sial, tiba-tiba saja dilema besar datang.

Sasori kembali menatap Hinata yang masih di depannya. Dengan pistol yang tepat mengarah di dada. Jantungnya.

"Kau tahu Uchiha Sasuke? Satu-satunya hal yang bisa di lakukan adalah adu kecepatan. Entah itu aku atau Hinata yang akan mati semuanya tergantung pada kecepatan menembak. Pertanyaanya adalah, apa sebelumnya kau pernah menarik pelatuk untuk membunuh seseorang? Tidak. Aku yang paling diuntungkan dalam situasi ini. Jadi—" Satu tarikan pelan dilakukan Sasori. Dengan satu tekanan kuat dan semuanya selesai.

Tidak bisa, Sasuke tidak bisa membiarkan ini. Dengan sekuat tenaga dan hati dia mengepalkan tangan. Membulatkan tekad dan membuang keraguan. Tidak peduli setelah ini dia mungkin akan dianggap sebagai pembunuh. Lagi pula tidak masalah jika yang dibunuhnya adalah pembunuh kan? Mungkin dia akan benar-benar jadi pahlawan.

Dalam waktu sepersekian detik tarikan itu dilakukan secara bersamaan. Namun kecerdikan dari anggota Akatsuki memang tidak bisa di remehkan. Di detik terakhir sebelum peluru itu keluar, dengan cekatan Sasori berbalik. Tangannya mendorong kaki yang sedari berdiri di belakang dengan pistol sebagai ancaman. Tubuh Sasuke limbung. Tembakan meleset kearah langit-langit. Menciptakan suara yang tak kalah keras. Sasori berdiri mendominasi. Hinata menjerit meneriakan nama orang yang berstatus kekasih. Walau hanya sekedar status palsu.

Dor!

"Diam disana Hinata!" Bentak Sasori sesudah kembali memberikan tembakan pada tangannya saat sadar gadis itu sudah hampir meraih kembali senjata dan berniat untuk menghentikan kegiatannya. Kini Hinata benar-benar sulit bergerak. Rasa ngilu menyebar di seluruh tubuh. Kehabisan banyak darah juga mempengaruhi kesadarannya. Samar-samar ia masih dapat mendengar dan melihat Sasuke yang mengumpat karena perilaku Sasori terhadapnya.

Seperti de javu.Entah bagaimana Hinata berpikir seperti itu. Tapi dengan yakin ia sekarang merasakan ketakutan yang sama seperti dua tahun yang lalu. Adegan-adegan yang ada. Gerak-gerik Sasori bukanlah pertanda baik. Tangannya mengacung tepat pada target. Matanya gelap, sama seperti waktu itu. Tidak ada pengampunan.

Diambang kesadaran, Hinata berusaha menyeret tubuhnya sendiri untuk mendekat. Ini tidak benar, dia tidak ingin semuanya terulang lagi. Dulu Gaara dan sekarang Sasuke. Cukup, lebih baik dia saja yang terkena tembak bukan? Benar dia yang harus mati.

Tapi telinga Sasori sudah tuli akan semua jeritan putus asa dan tangisan Hinata. Satu jarinya menarik pelatuk dengan pasti dan kembali suara tembakan menggema. Kali ini tepat di dada. Timah panas itu menyumbat di sela-sela daging dan darah pemuda itu. Kemungkinan terburuk mengenai titik vital.

Mata itu membulat tak percaya. Namun seketika juga kosong tak berbicara. Lagi. Ini terulang. Seseorang mati di depan mata dan dia gagal lagi. Lagi dan lagi. Hanya darah yang tersisa.

Mission Complete bagi Sasori.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Standar Warning Applied!

Chapter 10: Masa lalu II

.

.

Waktu itu mereka bersahabat. Begitu dekat sampai tidak mungkin ada yang bisa memisahkan keduanya. Setidaknya itulah yang dipikirkan semua orang. Mereka saling berbagi atas suka. Dan saling memahami tentang duka. Bagi Hinata itu adalah kebenarannya. Dia dan Sasori. Hubungan yang dekat bagai saudara.

Sampai suatu saat—

"Kau tahu, hari ini Gaara menyatakan cintanya padaku. Dia bahkan memberikan cincin bertuliskan namanya untukku dan namaku untuknya. Katanya ini sebagai pengikat biar tidak ada yang selingkuh. Dia kekanakan bukan." Kikikan riang, suara senang dan suasana yang bahagia itu ia curahkan begitu saja. Tanpa ada yang di tutup-tutupi padanya.

Karena Hinata percaya Sasori akan ikut bahagia bersamanya. Bersama cintanya.

Tapi tidak. Sejak saat itu sedikit demi sedikit dia berubah. Sering membentaknya tanpa alasan. Memperlakukannya dengan kasar. Menyentuhnya dengan berlebihan. Hinata tidak tahu kenapa. Tapi dia bertanya.

"Kau berubah. Kau kenapa?"

Tidak pernah ada jawaban pasti atas pertanyaan itu. Hinata merenung mungkin dia mempunyai kesalahan yang mungkin tak disadarinya hingga membuat Sasori berubah. Tapi apa? Dia tidak mungkin tahu jika Sasori terus membungkam rapat mulutnya. Dia bersedih karena melihat Sasori seperti itu. Tapi Gaara ada disisinya, menenangkan dengan segala kehangatannya. Memeluknya. Menggapainya dalam kegundahan. Tak ingin membiarkan air mata itu mengalir.

"Semuanya akan baik-baik saja. Kau punya diriku. Mulai sekarang bergantunglah padaku."

Hinata tidak menolak tawaran itu. Dia benar-benar bergantung pada Gaara. Semua kesedihan dan keraguannya perlahan hilang. Dia tersenyum bersama Gaara. Bahagia dengan cintanya. Walau tetap tak bisa menghilangkan kehampaan yang ditinggalkan Sasori.

"Kenapa kau menjauh dariku? Apa kau begitu senang menjadi pelacur si Sabaku itu."

Kalimat itu bagai dorongan keras. Tangannya melayang dan satu tamparan mendarat di pipi itu. Yang di akhiri penyesalan oleh Hinata karena dia melihat mata itu menatapnya penuh luka. Seolah tak percaya Hinata bisa melakukan ini padanya. Pada sahabat yang selaly bersamanya. Hinata menangis. Dia tahu sekarang Sasori akan membencinya.

Tapi itu bukanlah yang terburuk. Yang lebih menghancurkan hidupnya adalah kala matanya melihat sendiri senjata menembus bagian dalam dada kekasihnya. Jelas di depannya.

"Aku mencintaimu. Hanya aku yang bisa memilikimu."

Sebuah pengakuan tercipta setelah timah panas itu menembus raga. Bersama seringai yang terpampang jelas. Membuktikan kata-kata bukanlah bualan semata.

Miliknya. Hinata hanya bisa di miliki oleh Sasori. Tidak ada Gaara. Tidak ada lelaki lain. Tidak ada. Jangan pernah berharap. Itulah penegasan jelas dari kalimat Sasori. Terngiang terus di telinganya.

Hinata terdiam penuh luka. Namun kala melihat tubuh itu terbujur kaku dia tak bisa terus mematung dan menangis. Satu pelukan terakhir ia sampaikan. Bersama darah sang kekasih yang sudah bercucuran dan setan yang merasuk pikirannya ia bersumpah akan menuntut balas. Mata di balas mata. Darah di balas darah.

Ini dendam yang sangat dalam.

.

.

Kelopak mata terbuka. Menampilkan manik lavender di dalamnya. Mimpi masa lalu datang setelah sekian lama. Lucu namun juga ironis. Sedikit gerakan ia lakukan untuk membenarkan posisi tidur. Rasa ngilu langsung menyerang. pada kaki dan tangannya. Dapat ia lihat keduanya mendapat perban.

Disisi lain matanya mengedarkan pandangan pada ruangan yang sedang di tempati. Jelas ini bukan kamarnya. Dan jelas juga ini bukanlah rumah sakit. Tempat ini asing.

Satu dorongan pintu terdengar. Pemuda berambut merah masuk kedalam dengan sebuah nampan berisi nasi dan sup ayam dan segelas air.

"Senang kau sudah sadar." Sasori mendekat. Meletakkan nampan di atas meja di dekat ranjang. Ia duduk di pinggiran ranjang, memperhatikan gadis itu lekat-lekat. "Ayo makan." Tangannya membelai lembut surai indigo. Berusaha membujuk dengan sikap manisnya.

Hinata tak menanggapi. Wajahnya beralih ke arah lain untuk menghindari menatap pemuda itu. Muak.

Menghela napas. Sasori tidak bisa memaksa sekarang. Wajahnya mendekat untuk mengecup dahi yang tertutup poni itu.

"Makanlah sayang, aku tidak ingin kau sakit."

.

.

Itachi berjalan kesana kemari tak tenang. Menunggu di luar ruang operasi dengan gundah. Sudah dua jam Sasuke berada disana dan belum ada satu pun dokter yang keluar. Wajahnya kusut dengan perasaan yang begitu rumit dan serba salah. Dia sangat khawatir.

Semua ini kesalahan dirinya karena datang terlambat. Padahal sejujurnya dia sudah berusaha datang secepat mungkin ke Suna dengan menggunakan helikopter setelah Konan memberitahu bahwa Akatsuki mengirimkan seorang untuk membunuh Sasuke disana. Ia menelpon Shikamaru untuk memastikan keselamatan Sasuke. Namun saat telpon tersambung hal yang di dengarnya adalah kepanikan Shikamaru saat memberitahu kondisi adiknya yang berada di dalam mobil ambulan. Itachi benar-benar terlambat.

Shikamaru sendiri hanya duduk menunggu dengan sang istri yang berada di sampingnya. Walau wajahnya terlihat tenang tapi hatinya tidak kalah gundah dengan Itachi. Siapa yang akan mengira bahwa hari pernikahannya akan berubah menjadi tragedi seperti ini. Dia hanya mendengar suara gaduh dan saat ia hampiri sahabatnya sudah tergeletak dengan darah merambes dimana-mana. Padahal dia sudah memastikan keamanan di Hotel itu. Mungkin dia memang lengah.

Kedua pemuda itu menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. Kejadian buruk pada Sasuke.

Lampu yang sedari tadi berwarna merah kini padam. Beberapa Dokter keluar dari ruang operasi. Salah satunya wanita paruh baya dengan tag name Chiyo yang tak lain adalah ketua dalam operasi kali ini. Secepat mungkin Itachi dan Shikamaru menghampirinya.

"Itu—keadaannya—maksudku, oh sial!" Itachi benar-benar dalam keadaan terburuknya sekarang. Bahkan untuk berbicara saja rasanya sulit sekali. Dia terlalu takut.

Namun senyum dari wanita itu sedikit membuatnya lega. Ia menepuk pelan bahu, mencoba memberi sedikit ketenangan lewat sentuhan itu. "Dia belum sadar, tapi dia baik-baik saja. Beruntung ada ponsel di saku bajunya hingga peluru yang di tembakkan mengalami sedikit pengalihan. Sehingga peluru itu tidak mengenai titik vital." Ia memperlihatkan ponsel Sasuke yang rusak berlubang di bagian tengah bekas peluru. Ada bercak darah juga disana.

Bagai diberikan sejuta rahmat, semua yang ada disana menghela napas penuh kelegaan. Terutama bagi Itachi. Air matanya bahkan hampir turun karena hal ini.

"Kira-kira kapan Sasuke akan sadar?" Kini Shikamaru yang bertanya perihal kepastian sahabatnya untuk sadar. Si ketua dokter menggedigan bahu.

"Aku tidak bisa memastikan. Tapi aku rasa tidak akan terlalu lama. Ku sarankan lebih baik dia di pindahkan saja ke Rumah Sakit Konoha. Disana banyak alat yang lebih canggih untuk perawatan pasien lebih optimal." Mereka mengangguk mengerti. Setelah itu sang dokter diikuti asistennya berjalan pergi meninggalkan mereka. Dengan perasaan penuh syukur Itachi dan Shikamaru saling menatap satu sama lain. Keduanya menertawakan keadaan masing-masing.

"Penampilanmu sangat hancur Mr. Uchiha."

"Setidaknya aku tidak memiliki cerita pernikahan se tragedi dirimu."

"Sialan kau."

Sementara Temari yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Dia akui ini diluar rencana pesta pernikahannya. Tentu saja, siapa yang akan merencanakan penembakan di hari yang sakral. Tapi karena semuanya sudah baik-baik saja jadi ia tidak perlu khawatir lagi tentang keadaan suaminya maupun Sasuke—korban penembakan.

Nah sekarang. Satu hal yang masih belum terjawab. Dimana gadis yang bersama Sasuke?

.

Sementara di tempat lain duduk seorang pria berambut oranye. Tubuhnya sudah ambruk akibat tenggakan alkohol diluar batas. Namun walaupun sadar kondisi fisiknya sudah tak mampu menerima cairan itu, tangannya malah mengambil botol baru dan meminumnya langsung. Tersedak, tapi dia tidak peduli. Dipaksakan cairan itu masuk. Lagi dan lagi. Sampai rasanya tenggorokan itu panas seperti terbakar. Dia tidak peduli. Dia hanya terlalu lelah. Pikirannya buntu. Akal sehatnya tidak tahu kemana. Hal ini di sebabkan oleh seorang wanita yang menghilang begitu saja di telan bumi. Sudah dicari sampai ia menjadi tapi tak ada hasil.

Matanya sayu menatap selembar foto wanita berambut biru di tangannya. "Konan, dimana kau bersembunyi?"

.

.

TBC

.