All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 2

"Kau... Hei kau! Kenapa kau masih disini?"

Itulah kata pertama yang diucapkan Naruto setelah 56 jam meninggalkan kamarnya. Ia melihat pemandangan terakhir yang masih sama seperti saat dia meninggalkan apartemennya. Hanya saja sekarang kamar kecilnya itu jauh lebih rapi dan bersih.

"Okaeri, Na.. Naruto-san." Bukannya menjawab pertanyaan Naruto malah berojigi dengan sempurna.

"Hei, nona siapa namamu kemarin?" Naruto mencoba mengingat nama gadis indigo didepannya sambil memejamkan matanya. Ingatannya memang sangat buruk, bahkan untuk mengingat nama gadis secantik Hinata.

"Hinata." Seru Hinata lirih.

"Ahhh... yaa benar... Hinata, kenapa kau tidak segera pergi dari sini? Hemm?" Masih dengan nada penasarannya. Naruto kemudian memperhatikan dengan teliti gadis didepannya.

"Kau...itu.." ia menunjuk Hinata "itu bajuku kan? Kenapa kau memakainya tanpa izinku,haa?" timpal Naruto lagi.

Hinata mendelik dan segera mengatupkan kedua tangannya menutupi tubuhnya,"Gomen, Naruto-san aku,.. aku kira kau tidak akan keberatan jika aku meminjam bajumu. Maaf jika aku lancang memakainya tanpa izinmu." Hinata berojigi sekali lagi.

"Kutanya sekali lagi kenapa kau masih disini?" Raut wajah Naruto mulai menampakkan kekesalannya. Daripada amarahnya meledak dia menarik kursi di dekat meja makannya dan duduk disana menunggu penjelasan Hinata.

"Bo-bolehkah aku tinggal disini untuk sementara waktu?"Tanya Hinata ragu-ragu.

"Kau... siapa kau? Kau pikir aku lembaga perlindungan?" Naruto merebahkan tubuhnya bersandar di kursi itu.

"A..aku tidak tahu aku berada dimana,.. aku juga tidak punya tujuan harus kemana jadi aku,..."

"Kamagasaki,.. " Potong Naruto. "kau tahu itu dimana? Itu adalah tempat dimana banyak sekali gelandangan dan orang miskin tidak punya rumah tidur dan tergeletak dimanapun mereka mau. Dan kau jangan berpura-pura jadi bagian dari mereka. Kau memakai cincin mahal ditangan kirimu."

Hinata terdiam, ia tidak menyangka dirinya ada di Kamagasaki distrik yang hampir dinyatakan tidak pernah ada didalam peta jepang. Sebuah kawasan yang sarat akan sisi negatif yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Yakuza, mafia, gelandangan, pengemis dan pemukiman kumuh semua melayang difikiran Hinata.

"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang." Naruto berdiri dari tempat duduknya.

Pulang? Tidak. Hinata yakin ia tidak ingin pulang. Ia tidak mau bertemu Neji atau bahkan berhadapan dengan yang lebih buruk dari itu. Hinata menggelengkan kepalanya dengan keras sebelum ia menjawab.

"Aku mohon, Naruto-san. Aku tidak bisa pulang untuk sementara waktu, aku benar-benar memohon maukah kau memberiku tumpangan untuk tinggal? Aku janji akan melakukan apapun yang kau minta..." Hinata mulai memohon.

"Sudah ayo cepat kuantar pulang! Aku sudah lapar dan aku sangat ingin kau segera pergi dari hadapanku!" Naruto yang membentak sambil memegangi perutnya ia menudingkan jari telunjuknya.

Hinata terdiam mendengar Naruto yang memarahinya.

"Apa Naruto-san lapar?"

Hinata mengangkat sebuah panci besar dari dapur dan meletakkannya dimeja makan. Naruto perlahan menekuk dengkulnya dan mulai penasaran apa isi didalamnya. Aroma masakan itu mengepul luar biasa melewati hidung Naruto ketika Hinata membuka penutup pancinta. Ia mengintip sedikit apa yang ada didalam panci itu, tapi kemudian kembali ke kedudukannya. Masih berusaha tenang padahal aroma itu mengusik ketenangan perutnya, ia pun memperhatikan Hinata yang mulai mengambilkan semangkuk nasi hangat serta sumpit dan sendok untuknya.

"Silakan makan, Naruto-san." Hinata kemudian duduk dihadapan pemuda kuning yang lupa diri atas kemarahannya.

"Ittadakimasu" Ucapnya sembari menyantap makanan didepannya dengan sangat lahap, Hinata tersenyum melihatnya.

"Gomen, aku hanya menemukan telur, tofu dan juga daun bawang dikulkas jadi aku hanya bisa membuat sup dan tamagoyaki ini aku harap Naruto-san menyukainya."

Naruto tak sempat menjawab, ia sedang menghirup kuah sup dari mangkoknya itu. "Ahhh...ini enak!Terimakasih atas makanannya." Naruto meletakkan mangkuknya dan mengacungkan jempolnya kehadapan Hinata.

"Jadi,.. apa aku boleh tinggal disini?" Tanya Hinata.

"Kenapa kau bersikeras tetap tinggal disini? Ada apa dengan rumahmu? Dari penampilanmu saja aku tahu kau anak orang kaya jadi kau tidak akan cocok tinggal di sini. Akan lebih baik jika aku mengantarmu pulang." Naruto menjelaskan dengan bijak tapi justru Hinata terlihat tidak senang dengan alasan Naruto.

Bagaimana Hinata bisa pulang kerumah yang sama, sementara orang yang berusaha memperkosanya juga tinggal disana.

"Aku tidak bisa aku mohon, aku benar-benar tidak bisa pulang. Aku akan berusaha mencari pekerjaan secepatnya dan aku akan pergi dari sini setelahnya. Jadi aku mohon untuk sementara maukah Naruto-san berbaik hati padaku?"

Susana hening tidak ada yang bicara.

"Tidak ada yang gratis didunia ini." Ucap Naruto singkat. "jadi dengan apa kau membayar sewa dikamarku?"

Hinata menggeleng, " Aku tidak tahu."

"Hahsh! Bereskan ini dan segeralah tidur!" Naruto memasuki kamar mandi dan berniat menyegarkan tubuhnya yang lelah. "Oh yaa asal kau tahu yaa... aku tidak sudi tidur dilantai! Jadi aku akan tetap tidur dikasurku."ujarnya sambil menutup pintu kamar mandinya.

Hinata menggelar bebarapa tumpuk selimut dilantai dan menata sebuah bantal diatasnya. Menurutnya itu akan cukup hangat jadi ia tidak perlu kuatir sakit. Ia mulai merebahkan dirinya diatas ranjang baru karyanya itu. Naruto yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengalungkan handuk dilehernya berjalan melewati area santai pribadi milik Hinata itu. Naruto kemudian duduk diranjangnya dan Hinata memunggunginya. Hinata tidak berani menatap lama-lama pria yang kini harus berbagi ruangan bersamanya itu.

"Hei,.. singkirkan hal bodoh itu! Kau akan mati membeku disitu. Cepat naik! Kau bahkan tidak menyisakan setu selimutpun untukku." Naruto menepuk kan tangannya diatas kasur.

Hinata benar-benar gadis polos. Kemarin dia baru saja lolos dari sepupu bejatnya yang dikenalnya sangat baik selama 20 tahun dan hampir memperkosanya. Dan hari ini dia memohon pada pria asing agar membagi ruangan sempit apartemennya bersamanya. Bukankah itu adalah hal yang gila? Tapi entah apa yang membuat Hinata punya rasa percaya bahwa pria yang menolongnya itu tidak akan 'menerkam' seperti yang dilakukan Neji kemarin.

Hinata berpura-pura tidur,ya itu adalah jurus jitu baginya untuk menolak tidur disamping pria pirang bermata biru bernama Naruto itu.

"Baiklah, kita lihat saja kira-kira tahan berapa menit tuan putri sepetimu tidur dilantai. "Naruto yang menyalakan sebuah radio tua diatas tempat tidurnya dan mencoba mencari chanel menarik untuk ia dengar, kemudian meluruskan kakinya di tempat tidurnya yang hangat dan nyaman.

30 menit...

45 menit...

Hinata mulai terlihat seperti seekor ulat bulu yang diberi garam. Sekalipun menggunakan 3 selimut untuk alas dan satu selimut sebagai penutup tubuhnya tak mengurangi efek suhu musim yang mendingin itu. Naruto yang menangkap sinyal konyol Hinata itu tersenyum kecil dan menahan tawanya bersamaan.

"Heii Nona, bagaimana tawaranku hampir expired masa berlakunya, kau masih bersikeras tidur disitu?" Naruto masih belum mendapat jawaban, Hinata hanya menggeliat semakin menekuk tubuhnya seperti seekor kucing yang tidur melingkar.

"kuhitung sampai sepuluh ya,... " dan Naruto mulai menghitung " satu,... duaa..."

HAP

Hinata melompat menaiki ranjang bersama dengan selimut-selimut yang tadi menjadi alasnya. Dengan susah payah Hinata mengambil posisi telungkup dan menggulung tubuhnya dengan 3 selimut tebal dan melepaskan satu selimut tebal untuk Naruto. Naruto merasa baru saja melihat barongsai ditahun baru china. Segaris senyum kembali terukir dibibir pemuda pirang itu.

"Hei,.. aku tidak akan melakukan hal itu denganmu. Jadi bersikaplah sewajarnya aku sedang lelah dan tidak tertarik dengan hubungan badan."

Merasa dirinya cukup aman Hinata membalik posisi tidurnya menjadi telentang dan lebih nyaman, sementara pemuda pirang itu memunggunginya menghadap jendela.

"Kau, hari itu... hari dimana kau muncul. Kau nyaris diperkosa kan? Lalu kenapa kau bersikeras berbagi ruangan dengan pria yang baru sekali kau temui?" Naruto mulai membuka obrolan.

"Kau juga anak orang kaya, kau bisa menjual perhiasan yang tengah kau pakai untuk menyogok polisi bodoh dan melaporkan pria bejat itu agar dipenjara kan? Tapi kau malah memilih seatap denganku. Kau benar-benar bodoh."

Benar. Hinata juga merasa perkataan naruto nyaris semuanya benar. Jadi ia masih mendiamkan mencari alasan kuat apa yang membuatnya berani sekamar dengan pria yang baru dikenalnya itu.

"Naruto-san, terimakasih sudah menolongku." Hinata menghentikan suasana hening itu, " aku hanya merasa jika Naruto-san adalah orang yang baik. Jadi aku merasa yakin kalau kau yang tidak mengenalku melihat aku dalam keadaan seperti kemarin tidak semakin menyakiti atau memanfaatkan juga tidak membiarkan aku dengan keadaanku, aku yakin kalau kau sebetulnya adalah orang yang baik. Dan aku merasa aman disini."

Naruto terdiam. Ia tidak pernah dicap sebagai orang baik sebelumnya.

"Dasar gadis bodoh! Ohya... hentikan memanggilku dengan sufik san-mu itu aku geli mendengarnya." Ucap Naruto yang mulai mengucek mata kantuknya dan menguap.

"Baiklah." Timpal Hinata " Oyasumi,.. Naruto-kun" Hinata menutup mata indahnya.

"Dilarang dengan sufik san malah pakai kun lagi... kau ini benar-benar..." Naruto membalikkan badannya kearah Hinata dan ia mendapati gadis itu tengah pulas.

Kembali ia menatap wajah indah milik Hinata. Dipandangnya wajah gadis itu dan ia sadar kalau gadis itu memang sangat cantik dan sempurna. Mungkin pria yang ingin memperkosanya itu tidak salah karena tergoda dengan makhluk secantik dirinya jadi hanya akal bejatnya saja yang tergerak menjamah gadis semsempurna Hinata. Tapi bukan salah Hinata juga jika ia terlahir cantik dengan lekuk tubuh yang sempurna. Tidak ada guratan yang menandakan kekurangan dari wajahnya, hidung mancung, bibir mungil yang ranum dan mata indahnya seperti tercipta sebagai komposisi yang sangat tepat bagi gadis itu. Ada sebuah perasaan hangat mengaliri jantung Naruto, tapi Naruto tidak yakin apa nama perasaan itu.

TING TONG

TING TONG

Bel apartemen Naruto berbunyi membabi buta pagi itu. Naruto terbangun dengan malas karenanya. Ia berjalan tanpa peduli sosok Hinata masih pulas disampingnya. Ini masih jam 6 pagi tidak ada yang mengetuk paginya pagi-pagi buta begini sebelumnya. Ia berjalan menuju pintu dan berniat membukanya.

BUG

Sebuah bogem mendarat di pelipis Naruto, ia segera tersungkur kelantai.

"Kemana saja kau keparat!" Seorang pria dengan sebuah guratan luka melintang dihidungnya menghujani Naruto lagi dengan tendangan dan banyak lagi bogem keras. Hinata segera terbangun dari tidur pulasnya saat suara perkelahian berlangsung.

"Beraninya kau kabur dan tidak menyelesaikan pertandinganmu tadi malam haah..!" Diangkatnya kerah Naruto dan dihantamkan kepala Naruto kedinding dengan keras. Beberapa kawanan pria berjas hitam segera masuk dan memegangi tubuh Naruto agar tak lagi bergerak.

Pria mata satu dengan berbalut sorban dibelakangnya menyahut. "Jangan terlalu keras pada jagoan kita, Iruka. Aku ingin dia tetap menyelesaikan pekerjaannya besok. Atau kau harus membayar dua kali lipat hutangmu kepadaku. Bagaimana?"

"Aku tidak mau lagi jadi petarungmu pak tua,... cari saja petinju yang bisa kau peras hasil jerih payah mereka." Ucap Naruto sambil meringis kesakitan.

"Oh,... baiklah kalau begitu kau harus punya alasn kuat untuk tidak lagi bertarung...Kyuubi... No Kitsune." Pria itu memenggal kalimat panggilannya bagi Naruto dengan penekanan.

"Iruka lakukan seperti biasa,.. buat dia cacat dan tidak lagi bisa bertarung besok." Ujar pria tua berbalut perban itu sembari duduk dan mencoba menyaksikan live streaming penyiksaan yang segera berlangsung itu.

"HENTIKAN"

Teriakan Hinata memmbuat pria-pria yang sibuk itu menoleh ke arahnya.

"Ah... siapa yang sedang kita temukan disini?" Pria tua itu kemudian mendekat kearah Hinata. " Apa ini yang menghalangimu bertarung? Apa kau yang tidak ingin wajah tampan miliknya tergores, Nona?" Pria berbalut perban itu menyentuhkan telunjuknya ke garis wajah Hinata.

Hinata mendelik, berjalan mundur berusaha mencari perlindungan.

"Jangan sentuh dia bodoh!" Pria pria berjas hitam semakin menekan kepala Naruto kedinding. Naruto mengerang kesakitan " Kau akan mati ditanganku jika kau berani menyentuhnya, akan kupastikan itu!" Naruto bersumpah.

Seringai jahat menghiasi bibir pria tua itu yang berjalan perlahan mendekati Hinata.

"Boleh, itu terdengar seperti sebuah kesepakatan untukku." Jawab pria tua itu.

"Jangan memukulnya, apa yang kalian butuhkan adalah uang?" Hinata memecah pembicaran mereka berdua.

"Ah... kau punya dewi penolong sekarang Kyuubi, sepertinya bukan hanya nyawa sembilan yang kau punya tapi juga dewi penyelamat yang , apa kau akan mengganti tubuhnya yang babak belur dengan tubuhmu yang molek?"

"Ini, ambil dan pergilah. Kumohon biarkan Naruto-kun hidup dengan tenang." Hinata melepas cincin dijari manis tangan kirinya. " Itu berlian langka 30 karat aku yakin pasti bisa melunasi tanggungannya padamu bukan? Jika kau menjualnya ini senilai 2, 5 juta dolar."

Pria tua berbalut perban itu memagut cincin yang diberikan Hinata kepadanya. Dari bentuknya itu memang terlihat seperti cincin mahal. Berbentuk bulat, berlian merah, dan ada guratan hitam melingkari berlian itu. Sementara cincin itu sendiri berbahan palladium dengan berat sekitar 5 gram. Ada sebuah ukiran huruf US didalamnya. Tentu bisa ditebak berapa harga cincin dengan komposisi 2 benda mahal dan langka itu.

"Senang bisa bertransaksi denganmu nona manis. Kuharap perjumpaan kita selanjutnya lebih menyenangkan atau kita bisa menyewa hotel didekat sini untuk bersenang-senang." Pria itu tua itu mencubit gemas pipi gembil Hinata sebelum pergi dan Hinata cepat-cepat mengusap membersihkannya.

"Lepaskan dia,.. kita mendapat barang bagus hari ini. Oh.. kuharap kau juga tidak lupa Kyuubi kalau kita masih punya kontrak kerja sampai pertandingan itu selesai bukan? Aku pergi dulu dan jadilah anak baik seperti nona manis itu." Pria itu menunjuk kearah Hinata dan melambaikan tangannya sebelum pergi meninggalkan ruangan yang porak-poranda itu.

Hinata menghampiri Naruto dan memapahnya untuk segera duduk di tempat tidur. Naruto menatap penuh heran pada gadis lugu dihadapannya.

"Baka, kau pikir dengan memberikan cincin mahalmu dia akan melepaskan aku? Han... hah..." Naruto meringis menahan sakit.

Hinata tidak menggubris ia segera berlari mengambil kotak obat dan membuka kulkas mncari air dingin dan mengeluarkannya.

Naruto Masih tidak mengerti pada gadis dihadapannya ini.
"Kau tidak tahu berapa jumlah utangku padanya kan? Bahkan tidak senilai dengan berlian mahalmu itu." Naruto terus mengoceh.

Kesal mendengar ocehan pemuda kuning itu Hinata menekan kapas beralkohol pada pelipis Naruto, dimana darah segar masih mengucur deras disana. "Ittaii." Pekiknya. "Apa kau tidak bisa lebih pelan?" sambatnya pada Hinata.

"Kenapa kau diam saja? Heii... aku bicara padamu gadis bodoh..kau bahkan tidak bertanya siapa aku." Ujar Naruto tetap marah dengan meringis kesal.

"Jadi apa yang harus kutanyakan? Siapa kau? Kyuubi No Kitsune?" Hinata akhirnya membuka mulutnya dengan sebuah pertanyaan.

"Ya,.. aku memang Kyuubi No Kitsune seorang tukang pukul bayaran yang tergabung dalam yakuza, aku juga seorang petinju yang terkenal dipertaruhan bawah tanah, tak pernah kalah dan menyerah dalam setiap pertandinganku. Seorang Kyuubi No kitsune tidak akan membiarkan musuhnya hidup atau membuat mereka cacat sumur hidup. Aku adalah mesin pembunuh mereka yang terlatih. Jadi sekarang, apa kau takut padaku?"

"Tidak" Jawab Hinata singkat.