*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 3

Hinata duduk manis di kursi meja makan untuk 2orang itu, ya... masih di apartemen sempit milik Naruto. Dihadapanya terbaring manusia berambut kuning yang baru saja terlelap setelah Hinata mengobati lukanya. Petinju, pertaruhan bawah tanah, dan tukang pukul bayaran dan anggota yakuza. Bukan, sama sekali bukan merasa takut yang sedang dirasakan oleh Hinata. Hinata memang sedang mencari-cari apa nama perasaan itu ketika ia berada di dekat Naruto. Itu bukan perasaan yang pernah dia rasakan sebelumnya, pada seorang pria lebih tepatnya.

Hinata masih juga tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Bagaimana mungkin pria dihadapannya inilah yang membuat Hinata terhanyut dalam lamunannya berkali-kali. Bahkan ketika Hinata sedang berbicara atau berhadapan dengan pria itu. Hinata merasa ada suatu angin yang berhembus ke dadanya menerbangkan ribuan pengharapan yang seharusnya Hinata tahu tidak diperuntukkan pada seorang laki-laki dengan banyak sisi gelap dan baru saja dikenalnya. Dan jika Hinata memberanikan diri untuk menatap lebih dalam lagi pada biru matanya,Hinata seperti melihat seseorang yang begitu meneduhkan buatnya saat gejolak amarah atau perasaan campur aduk berada dalam hatinya. Hinata terus membiarkan dirinya terjatuh dan menyelami dalamnya samudera pertanyaan yang masih membuatnya penasaran tentang pria itu. Tidak berhenti. Terus dan masih ingin terus disisi pria itu lalu mendengarkan kisahnya. Yang lebih aneh lagi Hinata tidak pernah merasa seaman ini sebelumnya. Mungkinkah karena pria itu punya tempat persembunyian yang tepat dan tak mungkin dijangkau orang-orang yang mengenalnya. Atau mungkin juga karena pria itu sendiri, telah benar-benar membuat Hinata merasa begitu nyaman.

Cukup. Ya Hinata tidak akan menemukan jawaban itu. Biarkan saja nanti akan ditemukan sendiri.

Perhatian Hinata masih terus tertuju pada pemuda didepannya. Ia segera mengambil pensil dan buku gambar dari tas selempangnya yang tergeletak di kursi sebelahnya. Ia mulai menggoreskan pensil hitam pada kertas putih polos itu. Membentuk guratan-guratan halus dan tegas disana. Memberi bayangan pada bagian-bagian yang dirasanya perlu. Pemuda tidur dihadapannya benar-benar menarik untuk jadi objek sketsa lukisannya. Bagi Hinata orang dihadapannya sangat indah dengan sisi gelapnya. Tiga garis dipipinya membuat pemuda itu terlihat sangat manis. Tentu Hinata tidak lupa kalau saat ini wajah tampan dihadapannya terdapat beberapa luka lebam karena tonjokan tadi pagi, tapi Hinata tetap merasa itu tidak mengurangi level ketampanannya. Ia mempertegas garis mata dan menebali kembali alis objek yang digambarnya agar tampak seperti nyata. Ia harus membuat sketsa itu seperti aslinya, karena tidak ada yang tidak menarik atau perlu dikurangi ketajamannya. Ya, Hinata sangat senang melukis, ia sangat menyukai melukis mata manusia yang disebut Kyuubi No Kitsune, bahkan saat mata itu sedang terpejam dan lelap dalam peraduannya.

Kembali Hinata melayang, berkelana dalam ruang indah yang tak pernah ia tahu dimana karena memberanikan diri menatap lebih lama wajah tampan pemuda itu. Dia benar-benar menikmati kegiatan traveling pikiran yang menyegarkan baginya. Tidak bisa ia pungkiri satu hal yang paling dia sukai dari pemuda itu adalah matanya. Mata yang meneduhkan buatnya,...tapi kemudian mendadak objek asli itu membuka mata birunya. Dan kegiatan travelingnya harus terpaksa terhenti seketika. Yaa, lamunannya langsung berganti kepanikan yang menjalar dan memerahkan kulit wajahnya. Ia ketahuan memperhatikan pemuda tan itu. Ia segera bersikap biasa dan menyimpan sketsanya kedalam tas selempangnya kembali.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Naruto pada Hinata.

"Aku sedang membuat sketsa."

Naruto bangun sambil memegangi pipinya yang lebam dan menyamankan diri dengan posisi duduknya,"Yah wajahku memang cukup tampan dan berkarakter untuk jadi objek lukisanmu bukan, jangan lupa menggambar yang ini?" ia mengelus pipi lebamnya perlahan. "Apa kau lapar?"

Hinata melemparkan tatapan mata yang cukup menjelaskan dia memang sangat lapar dan mengangguk. "Tapi tidak ada makanan didapur." Hinata juga sudah memastikan itu sebelumnya saat Naruto tidur.

"Mau makan bento atau masak saja seperti kemarin?"

"Apapun asal tidak terlalu lama, ini sudah hampir sore dan kita berdua belum sempat makan apa-apa setelah kejadian tadi pagi."

Naruto menekan nomer yang sudah sangat dihafalnya diluar kepala pada handphone yang mulai ketinggalan jaman miliknya. "Moshi-moshi, kau dimana? ya...aku butuh itu sekarang, oh yaa... tolong bawakan kebutuhanku biasanya dan tolong belikan aku 2 bento makan siang... Apa Konohamaru juga ada disitu? Suruh dia kesini aku punya pekerjan untuknya." Naruto mendadak menjauhkan telinganya dari handphonenya.

Sepertinya ia mendengar sesuatu yang memekakkan telinganya dari seberang.

"Sudah yaa,... cepeat kesini!" serunya menutup sambungan telponnya.

Hinata tidak perlu tahu Naruto barusan bicara dnegan siapa, yang jelas dia tahu kalu makan siangnya akan segera datang. Dan semoga tidak terlalu lama sebelum perutnya berteriak dengan suara aneh.

"Lain kali jangan pernah ikut campur masalahku. Kau mengerti?" Naruto menjentikkan telunjuknya didahi Hinata, dan seketika Hinata bersemu merah.

"Haiik,.. gomenasai aku hanya mencoba membantu." Ucapnya sambil mengelus dahinya.

"Orang sepertiku sudah terbiasa dengan hal itu. Disini ada banyak sekali pekerjaan aneh, dan kau tahu sendiri disini adalah tempat paling tidak aman di Jepang. Kau takkan nyaman keluar sendirian bahkan disiang hari. Kau bahkan bisa diperkosa 10 orang laki-laki sekaligus dan polisi takkan membelamu karena pemerkosamu kebal hukum." Naruto bersikap sinis seperti biasa yang ia lakukan pada Hinata.

Hinata tidak merasa punya jawaban lagi, jadi Naruto melanjutkan.

" Pertimbangkan bak-baik kau masih mau disini atu kembali kerumah besarmu. Disini bukan tempatmu." Tandas Naruto tegas.

BRAAKKK

Pintu apartemen Naruto terbuka dengan keras. Seorang gadis bersurai merah jambu berdiri disana sambil berkacak pinggang. Nanar mata hijaunya langsung tertuju pada pemuda berhias lebam yang sedang duduk di tempat tidurnya. Ia melangkah dengan kekesalan yang Hinata tahu itu berbuntut suatu keributan lagi sekarang. Sambil meletakkan beberapa kantong plastik bawaannya dilantai.

"Baka Naruto aku bukan pembantu bodoh!" Gadis itu menjambak surai kuning si pemuda, Hinata langsung takjub melihat perlakuan kasar gadis itu. " Apa yang terjadi padamu bodoh? Sudah kubilang berhentilah dari pekerjaanmu itu!"

Gadis menyelesaikan teriakannya dan menghentakkan kepala Naruto dengan kasar. Hinata bingung harus berbuat apa untuk melerai kejadian barusan. Gadis berambut permen kapas itu kemudian tiba-tiba menoleh kearahnya.

"Heii,... aku tidak tahu kau berminat pada perempuan juga. " Yaa Hinata tahu perempuan yang dimaksud adalah dirinya, gadis itu melanjutkan. "Maaf atas perlakuan kasarku, kenalkan aku Haruno Sakura. Dokter pribadi petinju bodoh ini." Sakura menundukkan kepalanya memberi salam secara formal pada Hinata.

"Hyuga,... Hinata. Salam kenal" Hinata membalas perlakuan sakura dengan tindakan yang sama.

"Dan aku Konohamaru." Seorang pemuda belasan tahun menyela perkenalan mereka, "Wah, kau sangat cantik nee-sama. Bagaimana bisa Naruto-neechan menemukan dewi sepertimu?"

Hinata tersipu mendengarnya.

" Heh bocah, berhentilah menggombal kau bahkan tidak pernah memuji kakakmu sendiri cantik" protes Sakura.

"Cantikmu terhapus karena galakmu! Pria mana yang akan mau menikahi gadis galak pemarah dan sangat ringantangan sepertimu." Konohamaru berhasil mendaratkan bogem mentah Sakura dikepalanya.

Hinata tersenyum simpul melihat kelakuan mereka.

"Berhentilah bertengkar dan segera lakukan tugasmu!" Naruto mulai memberikan perintah.

"dan berikan bento itu untuknya!" Naruto menitahkan Konohamaru memberikan bungkusan bento ditangannya untuk Hinata. Konohamaru pun menurut.

"Kau bilang mau berhenti dari pekerjaanmu?" Sakura bertanya pada Naruto. Sambil memriksa keadaan Naruto dan memasang tensimeter di lengan kiri naruto.

"Ya, dan ini yang aku dapatkan karena tadi malam aku tidak datang kepertandinganku." Naruto

"Sepertinya Danzo tidak akan melepaskanmu begitu saja, kau bukan hanya berbakat tapi juga kau mesin pencetak uang mereka saat ini. " Sakura membaca hasil tensimeternya " 100 per 80 sepertinya kau perlu sedikit istirahat dan vitamin."

" Vitamin,itu menggelikan suntik saja morfin atau heroine buatku itu lebih berguna menurutku." Naruto mulai mengatur.

"Aku atau kau dokternya?" Sakura mulai kesal. Sakura kemudian mengeluarkan beberapa strip obat dari tas selempangnya. "Makanlah, dan segera minum ini."

Naruto berjalan menghampiri Hinata yang tengah makan siang dengan kotak bentonya dimeja makan Sakura mengikutinya. Naruto tidak punya pilihan lain selain menurut pada dokter pribadinya agar ia bisa segera pulih menghadapi pertandingannya.

"Sejak kapan kau memelihara wanita cantik Naruto?" Sakura menggoda Naruto. Hinata menatap Sakura, tapi Naruto lebih memilih memainkan sumpitnya dan makan dengan tenang.

Sakura menatap Hinata dengan seksama, bekas luka disiku dan dahi Hinata menarik perhatiannya. Sekalipun luka didahinya mulai sembuh dan tertutup pony rata tapi itu tetap terlihat oleh Sakura. Ia menunjuk luka itu dengan telunjuknya.

"Apa ini perbuatan Naruto?Katakan saja aku akan menghajarnya untukmu." Tanya sakura pada Hinata.

"Bukan Sakura-san, ini terjadi karena aku terjatuh. Sudah sembuh kok, jadi jangan kuatir. Naruto-kun yang menolongku membersihkan lukanya jadi bisa kupastikan ini bukan karenanya." Hinata menjelaskan

"Biar kuperiksa." Sakura menyingkap pony rata Hinata, dan kemudian menepuk tengkuk Naruto hingga sumpitnya terjatuh.

"Baka, apa kau tidak pernah mengerti cara membersihkan luka? Lihat kau bisa membuat luka ini jadi infeksi dan berbekas." Sakura menunjukkan hasil karya Naruto yang dianggapnya gagal. Sakura mulai melakukan tindakan revisi atas kesalahan yang dikalukan Naruto.

"Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak berbakan dalam urusan merawat orang sakit. Ya aku lakukan sebisaku." Ujarnya polos.

"Hinata, oleskan salep ini pada lukamu ini akan membuat lukamu cepat kering dan tidak berbekas. " Sakura menyodorkan salep kecil untuk Hinata.

"Arigatou sakura chan" Hinata menerimanya dengan senyum an.

Melihat Naruto telah menyelesaikan makan siangnya dan mulai beranjak pergi Sakura melemparkan tatapan garangnya.

"Mau pergi kemana kau bodoh? Kau perlu istirahat jika kau ingen segera cepat pulih." Ujar Sakura pada Naruto.

"Aku ada urusan dengan Konohamaru, sebentar saja dokter galak! kau disini saja dengan Hinata. Aku segera kembali."

"Jaa Hinata-nee yang cantik." Konohamaru melambaikan tangannnya pada Hinata saat pergi mengikuti Naruto yang mendahuluinya keluar meninggalkan 2 perempuan di apartemen sempitnya.

"Sejak kapan kau mengenal Naruto?" Sakura bertanya pada Hinata yang masih menyelesaikan tempura terakhirnya.

"Sekitar tiga hari."Jawab Hinata sambil mengunyah pelan.

"Dan kau sudah berani tidur bersamanya?" Timpal sakura lagi.

Hinata terhenyak, nyaris memuntahkan isi kunyahannya itu. "Ti..tidak, aku lari dari rumah dan tersesat lalu saat aku bersembunyi aku pingsan. Naruto-kun menolongku, dan kami hanya berbagi kamar sementara waktu." Hinata mencoba mengklarifikasi.

"Tidak biasanya dia mau menerima orang lain sih,.. mungkin karena kau cantik jadi dia mengizinkanmu tinggal."

Sebenarnya tinggal dan menumpang bukanlah hal yang aneh di Kamagasaki. Hampir semua orang biasa tinggal dan menumpang ditempat-tempat yang gratis atau murah. Hanya saja ini tentang Naruto yang sakura tahu betul tidak pernah menerima orang lain masuk kedalam hidupnya kecuali dengan alasan tertentu.

"Apa kau pacarnya? Aku benar-benar minta maaf jika kehadiranku..."

"Jangan mimpi!" Potong Sakura, tak terima dengan permintaan maaf yang menurutnya konyol itu. " aku mengenalnya sejak dia masih tinggal di Hokaido, dia sudah seperti adikku. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, ingat itu baik-baik."

"Maaf." Hinata menundukkan kepalanya.

"Kau benar-benar belum mengenalnya dengan baik ternyata." Hinata menggeleng dan Sakura melanjutkan " Kau benar-benar tidak takut dengan seorang Kyuubi ne Kitsune."

Ya,... Hinata mendengar itu. Kyuubi No Kitsune. Ia tergelitik, mungkin Sakura bisa menceritakan tentang hal itu.

"Ano,.. Sakura-chan, maukah kau menceritakan tentang Naruto padaku. Aku hanya ingin mengenal teman satu ruanganku."

"Ceritanya panjang lho, nanti kau bosan. " celetuk sakura.

"Kumohon ceritakan, jika Sakura-chan tidak keberatan."

Sakura mengambil posisi duduk disebelah Hinata. Ia membuat nyaman dirinya sendiri agar leluasa bercerita. Hinatapun menampakkan antusias yang cukup tinggi.

"Naruto dulu tinggal di Hokaido bersama kedua orang tuanya sebelum meninggal karena kecelakaan, dan setelah kecelakaan orang tuanya kakeknya menjadi walinya. Seingatku, Naruto masuk sekolah khusus atlet keolahragaan dan masuk asrama, itu didapatnya karena beasiswa. Kakeknya bekerja sebagai seorang pekerja konstruksi bangunan berpindah-pindah. Jadi salah satu tempat orang nomaden yaa,... tentu saja kamagasaki. 5tahun yang lalu kakeknya sakit jantung dan Naruto berusaha mencari uang untuk biaya operasi. Ia mendaftar dipertandingan tinju pertaruhan bawah tanah. Sangat disayangkan karena tindakannya akhirnya ia beasiswanya dicabut dan terpaksa harus berhenti dari sekolah."

Hinata mengatupkan rapat bibir mungilnya sebelum ia kembali memilih kalimatnya dan memandang sayu kearah Sakura yang bercerita dengan mantap, "Kasihan sekali."Hinata menghela nafas, "Lalu kenapa dia disebut dengan Kyuubi No Kitsune? " Hinata penasaran.

"Siluman rubah ekor sembilan,yaa... Naruto memang diidentikkan dengan rubah kecil yang gesit tapi pemberani,menyerang lawannya tanpa gentar, sekalipun lawan yang dihadapi jauh lebih besar darinya. Dan dia dianggap memiliki 9 nyawa, luka-luka berat hasil pertarungannya tidak pernah membuat tubuhnya terkapar di rumah sakit. Biasanya jika lawan pertarungannya berat dia akan menyelesaikannya dalam 9 ronde pertandingan dari 12 ronde yang direncanakan sebelumnya. Dan jika lawannya mudah, sembilan menit pertamanya akan menentukan kemenangannya."

Hinata menggut-manggut mengerti. Kini ia tahu bahwa Kyuubi No Kitsune adalah sebutan bagi petarung seperti Naruto. Ya tidak salah ternyata, Naruto jatuh kedunia gelapnya sekarang karena sebuah alasan yang sangat baik awalnya. Bertambah satu inspirasi lagi yang ia dapat dari pemuda petarung tampan yang ia kagumi itu. Hinata menyimpan sebuah perasaan kagum dan bangga dalam hatinya bagi Naruto. Hinata kembali tersenyum menatap Sakura yang kini sedang membaca sebuah pesan dihandphone miliknya dan sepertinya episode kisah Naruto yang sedang Hinata dengar terpaksa harus berakhir sekarang. Karena sang narator mulai sibuk dengan dirinya sendiri.

.

.

.

-Hyuga Mansion-

Seorang pria berambut coklat bermata bulan sedang sibuk mondar-mandir didalam ruangan besar yang disebut dengan perpustakaan keluarga itu. Ia tampak panik, menghitung setiap detik jarum yang bergerak dan terus berputar. Sebuah ponsel canggih keluaran terbaru ditangannya terus ia tatap. Berharap ada sebuah kabar terdengar dari sana. Iris bulannya mencoba memandang ke arah jendela yang mulai menampakkan suasana sore. Dan itu berhasil semakin menggelisahkannya.

Neji tidak bisa tenang dalam kegusarannya. Bagaimana tidak. Ini sudah lima hari lamanya dari insiden limosin Hinata. Dan tidak ada kabar mengenai Hinata. Tidak ada satupun anak buahnya memberikan laporan tentang keberadaan Hinata. Jika ia tidak berhasil menemukan putri Hyuga sebelum kakeknya pulang dan menanyakan keberadaan Hinata itu akan jadi masalah besar buatnya. Dan mungkin segala fasilitas serta jabatan diperusahaan Hyuga pun tidak lagi tertulis atas namanya. Itu tak boleh terjadi.

Ia berpikir keras kemana lagi harusnya ia mencari sepupu cantik yang melompat keluar jendela mobil mewah kemarin? Dan tentu saja ia berpikir cara agar membawa gadis itu kembali kerumah ini tanpa ada pengaduan tentang pelecehan seksual yang dilakukannya. Jika Hinata ditemukan cerita itu tidak boleh terdengar ke telinga kakeknya, dan jika Hinata tidak ditemukan ia akan disalahkan karena kakeknya dan bahkan mencabut semua fasilitas serta jabatan diperusahaan IT terbesar di Jepang itu. Sepertinya ia telah salah perhitungan dan tidak boleh bertindak gegabah seperti kemarin lagi. Tapi sekarang bagaimana? Dia harus segera menemukan jawaban 2 hal opsional yang mungkin terjadi.

Seorang pria dengan setelan jas hitam dan berkacamata hitam baru saja memasuki ruangan itu.

"Neji-sama, baru saja saya menerima kabar dari seorang teman. Bahwa cincin berlian merah yang dipakai oleh Hinata-sama, dijual oleh sesorang yang tinggal di distrik Kamagasaki. Dia memberikan alamat dimana kita bisa menemukan dimana ia mendapatkan cincin itu."

"Bagus. Cincin tunangan itu jadi petunjuk rupanya. Sudah bisa ditebak tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa uang di dunia ini. Dan diapun menjualnya." Hilang sudah semua kegusaran Neji, seringai jahatlah yang kini muncul di bibirnya.

Hinata akan segera ditemukan, soal selanjutnya dia akan segera tahu cara apa yang bisa digunakan untuk membungkam gadis itu setelah kembali kerumah.

"Kou, siapkan jaring! Karena kita akan menangkap kupu-kupu dengan caraku."