*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 4
Hinata sibuk mengelap ujung-ujung meja makan berukuran 2 meteran itu. Setelah menyajikan sup ayam miso sebagai menu sarapan sehat dipagi hari dan tuna goreng, membersihkan meja merupakan hal yang perlu dia lakukan. Yah, mengingat hal itu tidak pernah dilakukan dirumahnya sendiri semua maidnya pasti sudah melakukannya untuknya. Berbeda dengan sekarang, mungkin sekarang dia harus jadi maid atas inisiatifnya sendiri dikamar sempit itu. Menurutnya ia harus terlihat sibuk agar pemuda yang bersedia membagi kamar gratis dengannya tidak uring-uringan kepadanya.
Memang sih tidak bisa dipungkiri kalau sikap Naruto yang kelewat sinis kepadanya itu kadang tak masuk akal. Tapi Naruto punya alasan sendiri kenapa dia tega bersikap sinis pada gadis secantik Hinata. Alasannya cukup masuk akal, ini bukanlah tempat aman untuk seorang gadis muda anggun, cantik dan berkelas seperti Hinata. Kamagasaki dengan ingar-bingar kehidupan bisa menangkapnya dalam kegelapan tanpa jalan pulang. Bisa saja Hinata ditangkap oleh mafia-mafia yang kejam dan menjadikannya bintang film porno yang lebih terkenal dari Maria Ozawa, tentu saja itu karena Hinata punya semua bakat tubuh molek yang membuat pria pasti berdesis melihatnya.
Jangan salahkan Naruto mengecap demikian, ia sudah menggendong tubuh gadis itu kedalam rumahnya saat ia pingsan jadi Naruto tahu betul kalau dada besar Hinata adalah magnet pria hidung belang berbuat jahat padanya. Tubuhnya wangi, wajahnya cantik oriental dan pinggulnya pun menggitar ala spanyol. Belum lagi sifatnya yang pemalu dan lugu,... ahhh bisa membuat gemas laki-laki tentunya. Naruto merasa bertanggung jawab kalau gadis seperti Hinata sampai bisa ditangkap oleh sekawanan orang jahat yang memperdayanya,... tidak jangan sampai. Jadi yang Naruto lakukan hanya menjaganya semampunya dan bersikap sinis agar gadis itu tidak kerasan lalu meerengek meminta pulang kepadanya.
Sebentar,... ya Naruto khawatir tentang gadis itu memang. Tapi masalahnya sejak kapan dia tertarik melindungi orang baru dan mau repot memikirkan orang yang tidak memberikan kontribusi keuangan baginya? Ups maksudnya rela menyerahkan cincin mahalnya untuk menolong Naruto, tapi sepertinya itu tidak sebanding dengan biaya sewa setahun. Hinata tidak akan bisa mendapatkan kerja yang baik di tempat semacam ini, dan mungkin ikut-ikutan jadi pengangguran seperti kebanyakan manusia di sendiri bingung bagaimana cara memelihara manusia cantik seperti Hinata untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Malah membuat Naruto harus memberi tempat tinggal dan makan tiga kali sehari. Jangankan memelihara manusia, Naruto tak rela membagi makanannya dengan kucing jalanan yang lapar. Lhah... kenapa naruto harus repot memikirkan manusia cantik yang sedang sibuk mengatur rumahnya sekarang?
"Apa aku boleh merapikan lemari pakaianmu?" Hinata membuyarkan kediaman Naruto tentangnya.
Naruto memandang sinis kearah Hinata.
"Tidak" Jawabnya singkat."Kenapa kau terlihat begitu seang membersihkan rumahku?"
"Mungkin karena ini yang pertama buatku, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya dan buatku ini menyenangkan." Hinata menjelaskan.
" Oh yaa,.. benar ..orang kaya memang cuma makan tidur dan memerintah,ya?"
Mungkin yang Naruto katakan itu benar, Hinata terbiasa melihat dan melakukan hal yang diucapnya tapi itu tidak sepenuhnya benar. Hinata sendiri adalah korban dari perintah orang kaya.
Hinata hanya tersenyum manis kearahnya, "jadi pertandingan tinjunya nanti malam?"
"Apa pedulimu?" Naruto acuh.
"Aku belum pernah melihat tinju sebelumnya sepertinya itu menarik apa aku boleh datang dan menontonnya?"
"Tidak."
"Ayolah, boleh yaa?" Hinata memohon.
"Kau tidak cocok berada disana, duduk manis dan tontonlah tv disini. Kau bisa membuatku repot kalau kau datang."
"Aku kan cuma duduk dibangku penonton?"
"Oh,.. jadi orang kaya juga pandai membantah ternyata." Ujar Naruto.
Hinata terdiam, ia tidak pernah membantah sebelumnya dirumah. Apa yang disuruh oleh kakek atau ayahnya dia selalu mengerjakan tanpa protes. Tidak ada kalimat tidak, kenapa, mengapa, atau hal-hal yang mengungkapkan penjelasan dari sebuah aturan. Aturan keluarga Hinata memang sangat mengaturnya. Ia juga tidak melakukannya dalam keseharian berteman atau apapun. Ia memilih menutup mulut dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan berbuntut alasan itu dalam hati dan pikirannya ia kini berani menanyakan alasan pada seorang pemuda yang melarangnya pergi.
TING TONG
...
TING TONG
"Sejak kau disini bel rumahku jadi sering berbunyi,.. kau berbakat membawa tamu dipagi hari."
Hinata meneruskan pekerjaannya dengan wajah tertunduk sementara Naruto berjalan dan membuka pintu.
"Ohayo gosaimasu,..aku sedang mencari adikku ada yang bilang dia ada disini." Seru seorang berambut coklat sebahu ketika Naruto membuka pintunya.
Naruto tahu persis yang dimaksud adalah Hinata. "Hei kau,... ada tamu untukmu." Sahut Naruto sambil menoleh kebelakang.
Neji menyeruak masuk kedalam rumah Naruto ia mendapati Hinata sedang beberes di dapur kecil Naruto.
"Siapa?" Teriak Hinata dari arah dapur.
Neji berjalan perlahan sambil tersenyum kearahnya. Hinata langsung mendapatkan sebuah serangan jantung mendadak pagi itu. Ia tidak menyangka Neji menemukannya. Hinata berjalan mundur kebelakang, saat itu juga dia merasa tidak aman. Ia segera bersembunyi di balik tubuh Naruto. Berharap Naruto akan menghalangi pria itu menangkapnya.
" Kenapa kau bersembunyi? Kau pikir aku mau melindungimu, haah?" Ujar Naruto sinis seperti biasa pada Hinata.
Neji mendekat kearah mereka, mengubah wajah buas pemrkosa kemarin dengan wajah sedih innocent, "Yokatta.. Hinata-sama,...akhirnya aku bisa menemukanmu,aku mohon mari kita pulang."
Hinata menyembunyikan kepalanya dibalik tubuh jangkung Naruto, ia memegangi lengan Naruto erat-erat tidak peduli jika Naruto tidak menerima perlakuannya itu. Ia merasa ia harus bersembunyi dan ia tidak mau pulang dengan sepupu bejatnya itu.
"Pulanglah,.." Naruto mendengus kesal karena Hinata bertingkah seperti gadis kecil tiga tahunan yang tidak mau pulang saat waktu bermainnya sudah habis. Hinata hanya menggeleng keras menandakan tidak mau.
"Kumohon, Hinata-sama kita harus pulang kami semua khawatir padamu." Neji mengulur tangannya lebih dekat untuk menarik Hinata.
Hinata semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Naruto, terus menggeleng dengan keras, ketakutan dan menangis. Naruto tahu jika ia harus memastikan siapa yang sedang membujuk Hinata pulang kerumah.
"Kau.." Naruto memecah keheningan, "Siapa?"
Fokus Neji beralih dari gadis yang sibuk bersembunyi kepemilik suara, " aku, Hyuga Neji, dan Hinata-sama adalah adik sepupuku."
"Oh,.. apa kau juga yang merobek bajunya kemarin? " Tanya Naruto lagi.
Neji tak punya jawaban untuk hal itu selain diam dan menutupi dengan tampang bohong tidak mengerti.
"Hinata datang kemari karena dia bersembunyi dari orang yang mencoba memperkosanya. Apa itu kau?" Tanya Naruto mulai menjurus. "Karena menurutku sangat aneh seorang gadis tidak mau dijemput keluarganya yang kaya kecuali terjadi sesuatu."
Neji memandang tajam ke arah Naruto, nampaknya pemuda didapannya ini sudah membaca keadaan atau mungkin Hinata telah menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Tuan, maaf tapi ikut campur dalam urusan keluarga orang lain adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Jadi menurutku lebih baik anda tutup mulut saja." Neji mulai mengeluarkan sikap congkaknya.
Naruto menggariskan sedikit senyum masam dibibirnya, "Jadi ini alasanmu melarikan diri dari rumah?" Naruto meminta kejelasan pada Hinata dan Hinata menggangguk menyetujui.
Raut muka Neji segera berubah, ia nyaris malu karena Hinata menyatakan kebejatannya didepan orang lain. Neji merasa harus cepat-cepat mengakhiri kejar-kejarannya dengan Hinata yang tidak mau pulang lalu mengajak Hinata segera pergi dari tempat itu. Neji berpikir ia harus segera menunujukkan sikap penyesalannya atas perbuatannya pada Hinata kemarin.
"Hinata-sama mari pulang bersamaku,... aku menyesal melakukan hal yang tidak baik kepada anda dan saya jamin dan berjanji tidak akan melakukan hal sebodoh kemarin." Neji menunduk dan mengulurkan tangannya lebih dekat dnegan Hinata. Alih-alih percaya, Hinata semakin menarik dirinya menjauh.
"Tidak, aku tidak mau." Hinata tidak bisa lagi percaya," Cepat pergi!" Serunya ketakutan, ia kembali teringat kejadian mengerikan yang hampir merenggut kesuciannya kemarin.
"Kau dengar kan? Sepertinya adikmu masih tidak ingin pulang dengan sepupunya yang nakal." Naruto meledek. " Mungkin kau harus membawa permen atau hadiah yang besar untuk merayunya. "
Neji kesal mendengarnya. Ia sudah tak bisa lagi bersabar menghadapi Hinata yang sedang bermain kucing-tikus-anjing bersamanya dan Naruto. Dengan apapun Neji harus segera membawanya pulang atau ia mendapat masalah lebih buruk lagi. Wajahnya memancarkan kekecewaan, dan ia harus segera bertindak.
"Maju!, seret Hinata-sama untuk segera pulang! Ini perintah!" Neji memerintahkan 4 pria dengan setelan jas hitam yang ia bawa. Seketika itu juga mereka maju melaksanakan perintah bosnya.
"Kau benar-benar menyebalkan ya? Aku benar-benar tidak menyukaimu." Ucap Naruto pada Neji, Neji tersenyum menyeringai.
Empat orang bodyguard Neji mengepung Naruto dan Hinata, sementara Neji mundur memberi tempat pertunjukan kecil bagi mereka.
"Baiklah, kau ingin bermain denganku rupanya." Naruto merasa tertantang, " kita lihat bagaimana cara kalian menghadapiku!" tantangnya.
Sejurus kepalan tangan melayang ditujukan untuk Naruto.
SET
Naruto menangkap kepalan itu, dan menyentak paksa pemiliknya agar maju kearahnya, sehingga pemilik kepalan itu seketika itu memperpendek jarak dengan lawannya iapun segera menendang ulu hati lawannya dengan tempurung lututnya.
BUG
"Aaargghh."Bodyguard pertama itu tersungkur dilantai.
Bodyguard kedua bersiap memasang kuda-kudanya melawan Naruto. Naruto menatapnya dengan enteng. Naruto mendaki kuda-kudanya dan menyepak tengkuknya dengan kaki bagian belakang.
PAAKKK
Naruto duduk dipunggung si bodyguard kedua itu. Memaksa tubuh si bodyguard terlipat jadi dua bagian.
Hinata sangat terpukau, ia melihat takjub adegan perkelahian dihadapannya. Seperti sedang melihat Jackie Chan yang sedang melawan musuhnya dengan gaya nyeleneh dan santai. Naruto terlihat sangat enteng menghadapi mereka berempat, sebaliknya mereka kewalahan menghadapi satu orang saja. Naruto benar-benar melakukannya, seperti sedang malaksanakan syuuting film action tanpa stuntman. Inikah caranya dia bertarung diatas ring?
Dua orang lagi maju beramaan bersiap memegangi kedua tangan Naruto agar temannya yang lain bisa menghajarnya. Tapi,... tidak mereka salah. Naruto melakukan salto kebelakang, merapatkan kedua kepala mereka dan membenturkannya dengan keras
DUAGH
Darah segar mengucur dikedua dahi yang bertabrakan.
CRASHH
Mereka harusnya memperhitungkan bahwa tidak mudah menumbangkan Kyuubi No kitsune. Perkelahian masih berlangsung, baku hantam saling terjadi lebih heroik dan menggebu.
Melihat Hinata yang menepi didekat dinding sebagai sebuah kesempatan menyeret Hinata segera menarik Hinata pergi dari tempat itu. Terlebih naruto sedang sibuk menahan serangan bertubi-tubi empat orang bodyguardnya. Ditariknya paksa tangan mungil Hinata itu oleh Neji.
"Tidak, Lepaskan aku, Naruto-kun... TOOOLLOOOONGG !" ucap Hinata. Sambil memukul-mukul tangan Neji yang menariknya. Tubuhnya terpaksa mengikuti tarikan tangan Neji karena tenaganya kalah dengan tenaga pria itu.
Melihat Hinata ditarik paksa untuk menuruti kemauan pulang si kakak sepupu ia harus terlepas dari 4 kawanan bodyguard itu. Naruto mengambil langkah mundur dan melompati meja makannya memantulkan kedua kakinya ke dinding lalu menyepakkan kedua kakinya keempat bodyguard yang tengah berjajar menghalanginya pergi mengejar Hinata.
PAKKK PAKK PAKK PAAKKK
Mereka oleng dan jatuh terduduk karena sepakan itu. Begitu berhasil menumbangkan mereka, Naruto segera berlari mengejar Hinata yang diseret Neji.
Hinata terus meneriakkan ketidakmauanya pulang sambil tidak sanggup berontak saat Neji terus menariknya. Naruto mendapatinya saat Neji memasukkan paksa Hinata kemobil. Naruto berlari secepat mungkin mencegahnya. Dari belakang dijambaknya rambut coklat Neji. Debenturkannya ke bagian kap mobil.
JJJDUAAK
Neji meringis merasakan kesakitan. Kedua tangan Nejii di pelintir Naruto kebagian belakang tubuhnya
KRETEEG
Tulang tangan Neji yang dipelintir Naruto menyanyi dengan indahnya. Naruto gemas mematahkan tangan bejat yang nyaris memperkosa Hinata kemarin? Tentu jika ia mau ia bisa melakukan hal itu dengan mudah sekarang.
"Arrrrgghh" Neji berteriak kesakitan.
Melihat Naruto telah berhasil mengalahkan Neji, Hinata segera keluar dari mobil dan bersembunyi dibalik tubuh Naruto.
" Pergilah, aku tidak mau melihat wajah jelekmu lagi!" seru Naruto.
Neji terjatuh ditanah dengan terengah kesakitan, nyeri hebat pastinya pada kedua tangannya itu.
"Kau, kau akan mendapatkan tidak tahu berhadapan dengan siapa, huh?" Ujar Neji pada Naruto.
Naruto diam menatapnya, ia melihat Naruto dan melihat Neji beserta bodyguardnya pergi meninggalkan ia dan Hinata.
Suasana kembali hening sepeninggal kakak sepupu Hinata dan bodyguardnya. Hinata masih memegangi lengan Naruto erat.
.
.
"Sampai kapan kau akan memegangi tanganku?" Naruto menatap Hinata yang membulatkan iris matanya terkejut, malu dan salah tingkah.
Hinata segera melepas genggamannya, dan Narutopun mengibaskan tangannya yang baru saja lepas dari belenggu Hinata.
"Aku mau tidur, aku harus bertanding nanti malam." Naruto berjalan menjauh dari Hinata, ia ingin segera sampai ke peraduannya. Hinata mengikutinya dari belakang.
"Naruto-kun." Panggilnya Hinata, Naruto menoleh tanpa menatap langsung wajah Hinata dibelakangnya dan langkahnyapun kian terhenti.
" Terimakasih." Ucap Hinata.
Naruto menampakkan senyum tipisnya dan kembali berjalan memasuki kamarnya, tujuan utamanya siang ini: TIDUR
.
.
.
.
Seorang pria berambut raven berwarna hitam kelam tengah membaca beberapa dokumen diatas meja. Ia mengenakan kacamata persegi yang membuat garis wajahnya semakin tegas. Sambil memincingkan sedikit onix nya yang kharismatik ia berusaha mempelajari berkas berwarna hijau itu. Tugasnya memang harus seperti ini, membaca, mempelajari dan kemudian ia akan tahu hal apa yang harus dilakukannya sebagai seorang jaksa penuntut umum. Ia menutup berkas itu dan kemudian beralih kesurat lain yang tergeletak dimeja. Surat itu menunggu tanda tangannya.
Pria keturunan Uchiha yang tampan, cerdas, mapan dan mempunyai pekerjaan di instansi hukum tentu menjadikan daya tarik yang lebih-lebih lagi untuknya. Ia tidak mudah disuap oleh penjahat kelas kakap yang punya uang banyak agar tuntutan mereka diringankan dan bisa lepas dari jeruji penjara. Benar-banar sulit menarik perhatian manusia semacam Uchiha Sasuke. Tapi yang lebih menarik adalah ketika ia tampil prima di tengah-tengah persidangan. Ia akan tampil menjadi garis merah dan beradu pertanyaan menusuk dengan sengit disana. Memukau dan berbahaya. Jangan berani menatap mata tajamnya jika sedang berbohong, karena dia pasti tahu kelemahan musuhnya yang sedang berbohong dan memutar fakta.
Sudah pukul sepuluh malam, tapi pria itu tidak tertarik meninggalkan ruang kerjanya. Ia harus menyiapkan prosedur penyergapan transaksi penyelundupan senjata melalui jalur udara. Bisa jadi kali ini trik yang digunakan lebih sulit diketahui oleh badan intelejen Jepang. Memijit kening pucatnya yang akhirnya harus menyetujui penyergapan itu dengan cara klasik dibawah pimpinan Yamanaka Inoichi. Ia sudah tidak sanggup lagi merencanakan sesuatu hari ini. Sudah cukup lelah hari ini karena kasus-kasus rumit jadi dia harus percaya pada pimpinan intel itu nanti malam.
Telepon di ruang kerjanya berdering.
"Moshi-moshi, aniki? " Ternyata telepon itu dari kakaknya sendiri, Uchiha Itachi. Seorang kepala polisi di kota Osaka.
"Kau masih dikantor?"
" Ya aku masih dikantor, ada apa?"berbalas tanya lagi.
" Barusan Neji dari sini, dia melaporkan penganiayaan dan penculikan."
"Siapa yang diculik? Hinata?" Sasuke mulai panik.
" Ya,... katanya sudah hampir seminggu Hinata pergi meninggalkan rumah dan disekap dirumah seorang pria di Kamagasaki. Aku sedang mempersiapkan surat penjemputannya sekarang, untuk interograsi. Kau bilang smsmu tidak pernah dibalas olehnya kan seminggu ini?"
"Kamagasaki? Apa? " Sasuke setengah berteriak tidak percaya. Itu adalah red-light district dan tak terbayangkan seorang gadis semacam Hinata bisa bertahan disana selama seminggu.
"Apa kau akan kesini mengurus ini?" Itachi mencari kepastian.
"Aku harus datang memang, tapi sepertinya aku baru akan sampai besok pagi. Bisa tolong urus sampai aku datang?"
"Tentu."
Klik. Telpon dimatikan.
Hash, belum selesai pekerjaannya malam ini Sasuke harus dibuat kuatir dengan berita penculikan gadisnya. Ya, gadisnya Hyuga Hinata sedang dalam status tidak aman diluar sana dengan seorang pria yang terdengar mengerikan. Bagaimana bisa gadis rumahan seperti Hinata bisa sampai ke Kamagasaki? Dan sudah hampir seminggu,memang Sasuke kehilangan kontaknya dengan Hinata. Awalnya dia mengira Hinata sedang menyelesaikan lukisan untuk pameran ujian akhir semesternya, biasanya dia tidak akan sempat membalas sms atau apapun media sosial yang berhubungan dengannnya. Salahnya juga yang terlalu tidak peduli pada tunangannya sendiri, bahkan terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor menyelesaikan kasus sampai seminggu ini ia tidak tahu Hinata ada dimana. Sasuke benar-benar menyesalkan tindakannya sendiri.
Tapi dia tetap harus profesional menjalani tugasnya sekarang. Nara Shikamaru salah satu opsir polisi memasuki ruangannya bersama kepala badan intelejen, Yamanaka Inoichi. Ya mereka harus menangkap penjahat malam ini. Sekalipun pikiran Sasuke mulai terbagi, tapi setidaknya kakaknya punya kompetensi yang tidak diragukan mengatasi masalah Hinata jadi setidaknya dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat ke Osaka.
.
.
.
Krieet
Suara pintu reyot terbuka saat seseorang mmbuka kenopnya. Seorang gadis tersenyum lebar menyambut siapa yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Okaeri, Naruto-kun." Ucapnya Hinata penuh semangat.
Tapi seketika itu dia panik melihat darah measih mengucur dari pelipis dan ujung bibir sebelah kanan Naruto. Sepertinya Naruto menemui lawan yang berat kali ini. Naruto tidak menjawab ia segera duduk di tempat tidurnya.
"Tolong ambilkan kotak obatku!" perintahnya pada Hinata.
Naruto membuka jaket hoodie hitam-orannye miliknya membuka dalaman putihnya yang memerah karena darah masih mengalir dipundaknya. Hinata datang mendekatinya membawa kotak obat yang ia minta.
Hinata bersemu merah melihat pemandangan didapannya, ini pertama kalinya melihat seorang pria bertelanjang dada. Hampir seminggu bersama pria itu tapi Hinata tidak pernah melihat Naruto menyombongkan urat-urat tubuhnya yang kekar. 6 buah kotak berhadap-hadapan berjajar menghiasi perut Kyuubi No Kitsune itu. Kulit tan eksotisnya terlihat mengkilat karena keringat, dan Hinata menganggap itu sangat. Seksi.
Damn! Hinata gagal fokus.
Ia harus kembali fokus pada luka di ujung bahu Naruto ada sebuah luka yang dalam melintang disana. Hinata berusaha membersihkan dan mengobati luka itu.
"Aneh. " Ujar Hinata.
"Apanya?" Tanya Naruto. "kau tidak pernah melihat tubuh seorang pria dengan luka seperti ini huh?
"Bukan..bukan" Hinata menggeleng." Tidak ada irezumi ditubuhmu , tidak seperti orang yang memukulmu kemarin." Hinata menjelaskan. Padahal Hinata sendiri sebenarnya cukup salah tingkah menghadapi pemandangan seksi dihadapannya. Saat ia menyapukan kapas pada tubuh atletis itu sekertika itu juga darahnya berdesir. Hanya saja Hinata cukup pandai menyembunyikan kegugupannya menghadapi laki-laki itu.
"Apa Sakura menceritakan alasanku tergabung dalam yakuza?" Naruto bertanya kembali dan Hinata mengangguk.
" Yaa aku tidak tergabung dalam anggota yakuza secara resmi, mereka menyewaku untuk hal-hal tertentu seperti memukul seseorang, mengambil suatu barang penting atau seperti yang sedang kau lihat sekarang, tinju pertaruhan bawah tanah. Jadi kau tidak akan menemukan tato apapun ditubuhku kecuali bekas luka." Jelas Naruto
Hinata membulatkan bibirnya membentuk huruf O kecil dan megerti.
Naruto memandang lekat-lekat gadis yang tengah mengobati lukanya itu. Cantik. Tidak bisa terbantahkan lagi.
"Selesai." Ucap Hinata saat ia telah meneyelesaikan tugasnya mengobati Naruto, Hinata menatap Naruto yang tengah memandang kedalam matanya lebih dalam.
DEG
Degub jantung Hinata menjadi tak karuan, sama halnya dengan Naruto. Mereka bertemu pandang secara intens untuk pertama kalinya. Manik biru sapphirenya telah membius Hinata untuk terus menyelami lebih dalam. Dan lavender indah itu kian membuat Naruto tak berdaya lagi menatapnya. Darah mereka membuncah satu sama lain, ada perasaan tergelitik disana. Hangat dan menyegat seperti sengatan listrik. Tapi juga tenang dan meneduhkan satu sama lain. Keduanya tidak bisa melepas pandangan masing-masing. Aroma tubuh Hinata menguar saat Naruto memperpendek jarak diantara keduanya. Syaraf Naruto melemas karena mencium aroma itu. Deru nafas mereka masih dalam kapasitas normal kala itu.
Cup
Manis.
Sangat manis rasanya bibir peach yang akhirnya dipagutnya itu. Naruto tidak lagi mampu menahan rasa diantara jantung dan hatinya itu. Ia hanya tahu insting laki-lakinya tergerak menyentuhkan bibir miliknya pada bibir ranum itu. Dan Hinatapun hanya mengikuti nalurinya yang terus menyuruhnya menikmati pagutan lembut mereka yang berpadu. Nafas mereka saling memburu, mereka bertukar saliva dan berusaha menikmati permainan masing-masing. Lidah mereka bertautan satu sama lain, saling tersentuh dan hangat. Baik Naruto maupun Hinata tak punya pengalaman memulai ciuman panas itu, itu ciuman pertama mereka. Jadi jangan salahkan mereka jika mereka tidak tahu bagaimana meminimalisasi masalah suplai oksigen yang habis saat ini.
TING TONG
Ya ciuman panas itu berakhir. Sebuah bel kedatangan seorang di tengah malam harus memutuskan kebahagiaan dua manusia itu. Hinata tertunduk malu saat Naruto melepaskan ciumannya lebih dulu, dan dia tidak bisa protes jika ia harus merelakan kesenangannya terhenti sekarang. Naruto bersemu merah dan memakai kembali jaketnya tanpa dalaman ia bergegas menuju pintu dan membukanya.
"Permisi, apa kau Uzumaki Naruto?" Beberapa jajaran polisi tengah mampir dirumahnya.
"Ya, itu aku." Jawabnya.
"Mari ikut kami, dan menjelaskan status tersangka anda atas tuduhan penganiayaan dan penculikan Hinata Hyuga."
Naruto menoleh kearah Hinata dibelakangnya. Mendengar namanya juga ikut disebut Hinata tahu ini pasti ada hubungannya dengan kakak sepupunya.
Well, ini akan jadi malam yang panjang bagi mereka berdua.
.
.
.
.
*Irezumi adalah seni tatoo tradisional yang berkembang dijepang biasanya anggota Yakuza identik akan hal ini, pada punggung atau tubuh mereka
