*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 5
Sebuah mobil APV berplat nomor 28-79 melaju kencang menaklukkan jalanan. Berawal dari kota Konoha dengan kecepatan normal yang kemudian terus bertambah tiap detiknya dan terus berusaha melaju menjauh dari kejaran polisi yang sudah siap di tempatnya masing-masing. Nara Shikamaru mengemudikan mobil sedan hitam tepat dibelakang mobil itu. Skenario Yamanaka Inoichi sudah ditebak oleh targetnya, mengharuskan pria kuncir nanas dan jaksa muda Uchiha itu mencari strategi penangkapan baru dengan cepat. Mau tidak mau ia harus melakukan pengejaran berantai dan memblokade jalan keluar kota agar transaksi penjualan itu digagalkan.
.
.
DOORR... DOORRR
.
.
Dua kali peluru ditembakkan oleh salah satu kawanan penjahat didepan mereka agar mereka menjauh. Dengan sigap Nara Shikamaru mengemudikan mobilnya menghindari serangan itu. Sasuke mulai jengah sudah dua jam lamanya mereka terus bermain mengikuti mobil penjahat itu dari belakang.
"Shika,pinjamkan pistolmu padaku!" ujarnya meminta pistol.
"Tapi, pak anda bukanlah..."
"Sudah cepat berikan padaku!" Tak ada pilihan lagi Shikamarupun menurut pada jaksa muda Uchiha itu.
Sasuke segera membuka kaca jendela mobil yang ditumpanginya, iam mengeluarkan sebagian tubuhnya dan melihat targetnya tengah melaju didepan. Sasuke mulai memperhitungkan jarak dan kecepatan peluru yang nantinya akan ia tembakkan. Mengokang penutup geser kearah berlawanan dengan arah bidiknya, Sasuke mulai mempersiapkan telunjuk tangannya untuk menekan pelatuk yang membebaskan amunisi dari sana.
DOR... DOR...
Dua kali peluru terlepas pada dua buah sasaran yang bebeda.
SSSSSSHHHHHHHH
Ban mobil APV didepannya mendesis karena peluru yang terlontar oleh Sasuke, membuat mobil itu kian oleng dan kehilangan kemampuan melajunya. Seketika itu Shikamaru mempercepat kecepatan lajunya mendahului mereka dari arah kanan dan memblok kendaraan si penjahat. Mobil polisi lain kian berdatangan mendekat, menudingkan senjata mereka kearah penjahat. Dan meminta mereka segera keluar dari mobil itu.
Empat orang pria, dua diantaranya menggunakan setelan jas hitam dan dua lagi menggunakan jaket dan celana jeans keluar dari mobil itu sambil mengangkat taangan tanda menyerah. Shikamaru memrintahkan anggota polisi lain untuk segera bergegas mengamankan empat penjahat itu dengan memborgol lalu memasukkan mereka dalam mobil polisi. Sementara dia sendiri memastikan isi bagasi mobil APV yang baru saja di hentikannya bersama Sasuke.
"Pak, isinya semua adalah senjata laras panjang dan sebuah kotak kecil ini. Mungkinkah ini narkotika atau semacamnya?" Shikamaru bertanya sambil memberikan paket kotak yang masih terbungkus rapi itu.
Sasuke memfokuskan matanya pada kotak itu, menimbang kotak itu dengan satu tangan sebelum akhirnya memutuskan untuk membukanya.
KRAAAKKK
Karton pembungkus disobek dan sebuah cincin berlian merah tengah berkilau disana.
"Mereka menyelundupkan perhiasan hasil curian rupanya." Celetuk Shikamaru.
Dialihkannya cincin berlian merah yang tampak tidak asing dimata Sasuke itu dari tangannya lebih dekat dengan matanya. Ia mencoba mengidentifikasi lagi benda itu apakah benar dia mengenalinya.
Dan benar saja, sebuah ukiran huruf US ada dibalik lingkaran cincin mahal itu. "Ini milikku." Ucap Sasuke.
Shikamaru terkejut mendengarnya. Ia mendongak menatap Sasuke tanpa kata apapun.
"Ini adalah cincin tunangan yang kuberikan untuk Hinata. Itachi-ni mengatakan Hinata sedang diculik dan disekap di Kamagasaki,lalu cincin ini diselundupkan... kemungkinan motif penculikannya adalah uang kan?" Sasuke mulai beralibi.
Shikamaru mengangguk membenarkan. "Siapkan dirimu Shika, kau harus mengantarku kepemilik cincin ini sekarang!" Sasuke segera memasuki mobil sedannya kembali diikuti dengan Shikamaru.
.
.
.
Neji baru saja turun dari pembaringan instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit di kota Osaka itu. Dia berusaha mendapatkan kembali keseimbangan tubuhnya yang oleng karena kepalanya bercinta dengan kap mobil hingga membuatnya pusing. Setidaknya dia hanya mengalami patah tangan kiri dan memar dikepala tanpa ada pendarahan yang menyebabkan gegar otak atau semacamnya. Ia diperbolehkan pulang setelah infusnya habis dan sekarang ia berusaha untuk berjalan keluar ruangan serba putih berbau ethanol itu.
PLAK
Sepuah tamparan melayang dipipi kananya dengan keras. Seorang pria paruh baya menyeretnya untuk duduk di kursi tunggu samping IGD.
"Kau, bagaimana bisa kau jadi seperti ini?"Hyuga Hizashi langsung menginterograsi putra semata wayangnya.
"Aku minta maaf Tou-san, aku benar-benar ceroboh kali ini. Aku tidak bisa membawa Hinata pulang dnegan caraku, jadi aku meminta bantuan pada Itachi." Tandas Neji sambil menunjukkan hormat dan penyesalannya pada ayahnya.
"Apa yang kau lakukan pada Hinata sampai ia menolak ajakanmu pulang?"
"Aku..." Neji bingung memilih kata yang tepat untuk menjelaskannya."Aku,.. aku mencoba memperkosanya, dia kabur, melompat dari mobil..."
PLAK
Belum sembuh oleng kepalanya karena tindakan Naruto, ayahnya malah menghadiahi Neji dua kali tamparan.
"Bodoh!Sialan kau! Bagaimana bisa hal seperti itu bisa muncul dipikiranmu?" Hizashi kembali bertanya.
"Sudah kukatakan sebelumnya, jika aku menginginkannya sebagai seorang wanita, aku tidak bisa menghentikan keinginannku menyukainya sejak kecil. Dan aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri, aku bahkan tidak bisa menghentikan pertunangannya dengan Uchiha. Harusnya dia menikah denganku saja agar asset klan Hyuga tetap menjadi milik sendiri. Aku berfikir dia harus mengandung benihku sehingga aku bisa benar-benar memiliki Hinata."
"Hentikan ucapan bodohmu , Neji!Orang seperti kita tidak boleh punya hati atau perasaan semacam itu. Kita selalu dinomor duakan karena kehadiran kakakku, dan aku bersyukur karena kematiannya. Saat gadis itu menyingkir dan menikah dengan Uchiha Sasuke, satu-satunya pria yang akan mewarisi Hyuga Corp hanya aku dan kemudian kau. Dan kau malah merusak rencana kita yang sudah kita rencanakan dnegan skandal busukmu itu."
Neji terdiam tak lagi mampu bicara dihadapan ayahnya yang mengamuk.
"Dan bodohnya lagi kau menghubungi kepolisian untuk menarik pulang Hinata. Bagaimana jika Sasuke tahu kau melakukan pelecehan pada gadisnya? Kau pikir dia akan membiarkanmu lepas dari penjara huh?" sentak ayahnya mengeraskan suaranya tak peduli saat ini mereka ada di koridor rumah sakit.
Ya, Neji tidak berfikir sampai kesana. Akalnya sudah tertutup oleh kepanikan yang merajai tindakannya. Sekarang dia hanya bisa pasrah jika ayahnya menyalahkannya habis-habisan.
"Selain anak buahmu, siapa lagi yang mengetahui kelakuanmu?"
"Orang yang menolong Hinata dan tersangka utama penculikan Hinata, namanya Uzumaki Naruto." Neji menjelaskan
"Kalau begitu kita harus segera mencabut tuntutanmu dan mencegah penyelidikan orang itu,..Sebelum Sasuke dan Itachi membuka kedokmu. Kita lakukan sandiwara lagi besok. Semua dengan caraku dan jangan coba-coba merusaknya!" Tandas Hizashi.
Neji mengangguk menurut dan tidak lagi protes dengan keputusan ayahnya.
.
.
.
Kantor kepolisisan distrik Osaka sudah biasa mendapatkan pengaduan tentang kekerasan atau pelecehan seksual yang dilakukan oleh kawanan gangster baik yang kelas teri maupun kakap. Tapi ini pertama kalinya orang dari luar Osaka melaporkan penculikan yang tidak di dalangi oleh gangster.
Hinata baru saja selesai diperiksa oleh tim medis yang melakukan visum et repertum melihat Naruto tengah duduk dan ditanyai oleh seorang polisi gendut dengan perut besar yang sibuk mengunyah makanan kecilnya dari jendela kaca tempat ia menunggu. Ini sudah pukul 3.15 dini hari dan interograsi masih berlangsung alot di sana. Hinata yang dianggap sebagai saksi korban telah menyelesaikan interograsinya 2jam lalu yang berlangsung hanya setengah jam sebelumnya. Tapi tidak dengan Naruto. 120 menit dan belum selesai benar-benar membuat Hinata frustasi melihatnya. Hinata melihat Naruto tidak cukup banyak bercerita atau membuka mulut. Mungkin ia lelah karena pertandingannya yang sulit tadi.
"Uzumaki Naruto, tolong jelaskan apa motifmu menculik Hyuga Hinata?"
Naruto menunjukkan kebosanannya, " Apa kau tuli, Huh? Sudah berapa kali kukatakan aku sama sekali tidak menculiknya. Dia sendiri yang datang kerumahku malam itu. Mau ditanya berapakalipun jawabanku akan tetap sama."
"Lalu kenapa kau menghalangi Hyuga Neji menjemput dan menganiayanya?"
"Aku benar-benar bosan menjelaskan, kenapa kau tidak tanyakan saja pada gadis itu dan orang-orang yang melihat kejadian itu. Siapa yang sudah memukul lebih dulu."
Hinata merasa iba pada pemuda yang sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal untuknya. Naruto banyak mendapat kesusahan karena dirinya begitu yang berkecamuk dalam pikirannya. Mungkin harusnya ia menurut anjuran Naruto untuk segera pergi dari rumahnya lalu mencari tempat tinggal sendirian untuk bersembunyi dari Neji.
Dari kejauhan terdengar suara langkah tegap yang mulai mendekat. Ya Hinata mengenal langkah itu. Itu adalah pamannya, Hizashi dan sepupu bejatnya dengan tangan terbalut perban. Hinata langsung merasa terintimidasi sekarang. Ia tidak tahu apakah Hizashi berada dipihak Hinata atau sebaliknya. Yng jelas Hinata mulai kelabakan tidak menyukai kedatangan makhluk dibelakang pamannya yang membuat Hinata berjam-jam dikantor polisi.
"Hinata-sama." Hizashi segera berojigi saat mendapati Hinata, " Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan Neji, maaf kan aku aku tidak mendidiknya dengan baik. Kumohon dengan kerendahan hatimu, kami benar-benar minta maaf." Hinata tidak menjawab apapun.
Mulutnya bungkam, sehingga pamannya itupun melanjutkan.
"Aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi dimasa depan, sekali lagi aku mohon maaf. Dan aku segera mencabut tuntutan pada teman anda . Aku juga akan berterima kasih kepadanya karena sudah menjaga anda selama sepekan."
Hizashi segera berlalu melaksanakan apa yang ia ucapkan kepada Hinata, Neji mengekor dari belakang.
"Saya rasa ada kesalahpahaman yang harus saya luruskan disini." Hizashi memotong proses interograsi yang tengah berlangsung itu. "Puteraku yang memulai perkelahian karena panik dan tidak mengenali anda sebagai penolong keponakanku. Jadi kami putuskan untuk mencabut tuntutan atas tuduhan penganiayaan dan penculikan. Itu hanya salah paham saja. Saya harap pak polisi bisa mempermudah proses pembebasan pemuda ini."
Hizashi segera menempelkan sebuah amplop saat datang dan menyalami polisi gendut doyan makan snack itu. Sudah jelas bisa ditebak beberapa lembar ribu yen pastinya.
"Oh, ya.. pasti tentu. Sebentar, akan segera kupersiapkan segalanya." Polisi gendut itu segera berdiri dan mengambil beberapa berkas diruang sebelah meninggalkan mereka bertiga berbicara 6mata sekaligus.
"Tuan Uzumaki Naruto," Sapa Hizashi mengulurkan tangan, Naruto hanya menatap sinis tak membalas uluran itu dan Hizashi langsung kikuk karena sikapnya.
"Aku berterimakasih padamu karena sudah menjaga keponakan yang sudah kuanggap putriku sendiri saat dia kabur dari rumah. Mohon terima ini." Hizashi menyodorkan sebuah amplop putih yang lebih tebal dibanding yang dilipat dan diberikannya pada polisi gendut untuk Naruto.
Naruto masih diam, tidak berbicara menunggu reaksi selanjutnya dari ayah dan anak didepannya.
"Dan kuharap anda menyimpan kenangan kurang manis ini dihati saja. Ohya, Neji juga minta maaf atas kelakuan anak buahnya dan kecerobohannya dirumahmu mohon kau berkenan memaafkannya juga." Neji langsung berojigi sempurna cukup lama didepan Naruto.
"Jadi ini cara orang kaya menyelesaikan masalah."Naruto mulai angkat bicara, seperti biasa selalu pedas. " Kalian benar-benar dididik untuk membeli semua hal didunia ini dengan uang kalian. Tapi aku tidak punya hobby atau berniat membelanjakan uang orang lain. Mohon masukkan lagi kedalam kantongmu! " Ucapnya sinis.
Hizashi cukup terkejut melihat pemuda yang menolak rejeki nomplok atas kejadian buruk yang dialaminya. Mengingat pemuda itu tinggal di Kamagasaki, harusnya uang adalah kebutuhan utamanya. Tidak ada yang menolak uang pelicin langkahnya sebelumnya.
Si polisi gendut kembali dengan kertas ditangan, " Ah maaf menunggu,... silakan anda tanda tangan disini. " Polisi itu menunjukkan berkas kepada Hizashi yang harus ia tandai dibagian kanan bawah.
Mulai sekarang Naruto akan mengingat nama polisi itu, Chouji Akimichi polisi gendut mudah disuap dan doyan makan. Naruto menunggu Hizashi selesai menandatangani berkas itu dan iapun bersiap melangkah keluar dari ruangan itu. Dan sudah jelas Naruto tidak akan mau berterima kasih.
Hinata tersenyum lega melihat Naruto mulai berjalan keluar ruangan. Ia tersenyum bersiap menyambut Naruto yang melangkah kearahnya.
"HINATA!"
Seorang berteriak dari arah kejauhan derap kakinya yang berlari kian terdengar seiring suara teriakan itu menghilang pantulannya.
Ya, Hinata mengenal suara itu. Tentu.
Dari arah yang sama, lebih jauh dari jarak Naruto kearahnya, sepasang kaki tengah berlari. Pria itu menggunakan jas biru dan terlihat kuatir dari raut mukanya lelah dan tergesa. Pria berambut raven pemilik suara itu sudah pasti, dia. Uchiha Sasuke, bujang Uchiha itu berlari secepat mungkin kearah Hinata. Segera direngkuhnya tubuh kecil milik gadis indigonya itu. Dibawanya dalam pelukan hangat miliknya, bahkan Sasuke tak membiarkan angin ikut jadi jarak antara ia dan gadisnya. Setelah ia mendengar kabar tentang gadisnya, Sasuke merasa ia sangat bersyukur menemukan gadisnya baik-baik saja tanpa suatu kekurangan. Sasuke lega menemukannya baik-baik saja, ia tersenyum lebar menemukan Hinata diujung ruangan itu. Tentunya semua orang setuju jika Sasuke memeluk tunangannya yang seminggu menghilang tanpa kabar.
Berbanding terbalik dengan Hinata, ia bingung harus melakukan apa. Sasuke yang berlari dan memeluk tubuhnya itu mengejutkannya. Bukan,... bukan pria raven yang dia harapkan menemui dan menyapanya lebih dulu. Diapun benci mengakui perasaan itu bukan untuk tunangannya sendiri.
Hahh...hah..hahh...
Sasuke mengatur Nafasnya yang tersengal karena berlari. "Kau tidak apa-apa? Hime-chan? Kau baik-baik saja? Ini pakai ini kau pasti kedinginan. " Sasuke segera melepas jas warna birunya dan memasangkannya ketubuh Hinata. Ia tidak mau gadisnya yang telah mengalami hal buruk jadi terganggu kesehatannya.
"Maaf, ... maafkan aku. Aku benar-benar bersalah padamu. Aku kelewat sibuk." Sasuke menarik lagi gadis itu dalam pelukannya.
Hinata masih terdiam, matanya yang sayu karena kantuk dan kebingungan tak mampu menunjukkan ekspresi apapun. Bibirnyapun kian terkunci, ia melihat Naruto tengah menghentikan langkahnya beberapa senti dari tempat adegan ia dan Sasuke berpelukan. Seperti biasa Naruto memandang sinis kearahnya, tapi kali ini wajah sinis Naruto lebih menampakkan ekspresi kecewa dibanding kemarahan. Kecewakah dia melihat Hinata? Ataukah karena harga diri Naruto merasa terinjak saat paman Hinata membeli kebebasan untuk Naruto?. Hinata tidak tahu pasti.
Sasuke mengusap sayang helaian rambut indigo yang menjuntai. Membuyarkan Hinata yang terbang kealam penasarannya.
Hinata menggeleng dan berbalik menatap Sasuke dihadapannya. " Aku tidak apa-apa Sasuke-ni,.. jangan kuatir." Seketika itu ia melihat kaki Naruto melangkah menjauhinya.
Tidak, Hinata tidak rela Naruto meninggalkannya disana. Hinata terus menatap langkah kaki yang terus menjauh itu.
Kumohon Naruto-kun menolehlah dan panggil namaku maka aku kan berlari untukmu. Begitu bisik Hinata dalam hati. Tapi sepertinya Naruto tak lagi mau melihat kebelakang, ia terus berjalan menjauh meninggalkan Hinata disana.
"Kita pulang ke Konoha, Oke?" ajak Sasuke sambil menggenggam erat tangan gadisnya yang mendingin karena angin malam itu.
