*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 6
.
.
.
.
.
Tidur,itu adalah pilihan terbaik Hinata saat ia memasuki mobil polisi yang dibawa Sasuke. Hinata tidak siap menjawab pertanyaan apapun yang keluar dari mulut bungsu Uchiha itu. Hinata bahkan tidak siap memberikan keterangan keadaan kantuknya sekarang pada pria yang menyetir disebelahnya. Moodnya benar-benar jelek sekarang, pikirannya jauh pergi melayang ke sebuah apartemen di Kamagasaki. Tentu dia memikirkan pria rambut kuning dengan mata birunya yang beberapa jam lalu memberikan ciuman hangat untuknya, sebelum dia menghabiskan malam dikantor polisi.
Bungsu Uchiha itu menyalakan penghangat dalam mobilnya dan memastikan tunangannya tidak kedinginan karena udara pagi yang menusuk. Ia melihat gadisnya tertidur pulas dengan dengkuran halus dan nampak lugu. Nafasnya teratur dari perut dan mata sayunya terpejam. Selama dua jam empat puluh menit perjalanan dari Osaka menuju Konoha, gadisnya memilih tertidur dan Sasuke tahu itu efek kelelahan begadang di kantor polisi. Jadi sebagai tunangan yang bijak ia tidak memberikan pertanyaaan bertele-tele seperti saat dia mengadili seseorang. Dia menutup rapat bibirnya dan menyimpan pertanyaaanya untuk nanti.
Ia tahu betul gadisnya telah melewati hari yang berat dan ia tidak mau mengusik beberapa jam tidurnya untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan saking pahamnya gadisnya sangat lelah, ia memilih menggendong gadisnya yang tengah pulas itu dengan kedua tangannya kekamar si gadis indigo. Sekalipun dia tahu jarak antara parkir mobil dihalaman Hyuga Mansion kekamar Hinata lebih dari 50 meter. Pasti pegal, mengingat ia jarang melatih ototnya mengangkat beban 48kg seperti sekarang yang ia lakukan. Yah, Sasuke memang lebih sering duduk di kantornya membaca kasus-kasus rumit, tapi bukan berarti dia tidak sanggup membawa kekasihnya itu kedalam kamarnya. Kadang dia ikut dalam pengejaran penjahat yang cukup sulit dan berlari cukup cepat untuk orang yang kurang punya waktu berolahraga.
Diletakkan dengan penuh kehati-hatian gadis indigo ke pembaringan nyamannya. Sasuke melepas alas kaki yang masih Hinata kenakan tanpa ragu. Ditutupkannya sebuah selimut tebal agar dingin tak berani menyentuh kulit kekasihnya itu. Kini ia terlihat seperti seorang putri tidur yang anggun dalam dongeng. Sasuke membelai puncak kepala Hinata dengan penuh sayang, lalu membelai pipi gembilnya dengan punggung tangannya, dan meninggalkan ciuman kecil di pipi mulus itu sebelum ia pergi. Menuruni anak tangga dan koridor panjang Huyga Mansion ke tempat mobilnya terparkir lalu bersiap bekerja beberapa jam nanti. Sasuke pun tak cukup punya waktu istirahat sebetulnya. Tapi mau bagaimana lagi ia harus profesional.
.
.
.
"Kyuubi...!"
"Hajar dia sampai mati!"
"Pukul keras saja! Jangan beri ampun!"
Penonton mengelu-elukan panggilan untuk Kyuubi No Kitsune, tentu itu karena mereka juga telah mengeluarkan uang taruhan untuk petarung pilihannya. Sekitar dua ratus hingga tiga ratus orang memadati tribun penonton sore itu. Pertandingan malam ini dimajukan 2jam dari biasanya, pukul 8malam. Jika saja satu orang disana paling sedikitnya bertaruh sepuluh ribu yen, kalikan dengan jumlah orang yang ada disana tentu jumlah yang besar bukan. Tapi Naruto paling banyak hanya mendapatkan dua ratus ribu yen per pertandingan. Sisanya tentu masuk kantong makelar yang dibagi rata.
Begitulah Pride ilegal,UFC versi Jepang dibawah tanah itu berlangsung. Peraturan yang harusnya menyebutkan permainan itu berlangsung 3ronde kali lima menit berubah menjadi pertarungan hingga KO bagi salah satunya. Bagi orang awam itu terlihat bukan pertunjukan seni beladiri yang menarik. Dengan brutal mereka bertarung diatas ring. Mereka bertarung tanpa menggunakan pelindung kepala atau wajah, diwajibkan memakai pelindung gigi di dalam mulut, menggunakan sarung tinju, tapi bukan seperti yang digunakan di cabang tinju profesional atau amatir. Sarung tangan yang digunakan hanya menutupi telapak tangan sehingga masih memungkinkan untuk membanting dan mengunci. Tak heran bagi petarung yang kalah luka yang mereka dapatkan jauh lebih mengerikan daripada smackdown.
Pertandingan berlangsung sengit. Ini sudah masuk ronde kesembilan, biasanya Naruto menyelesaikannya pada ronde ini. Lawannya kali ini tidak terlalu besar. Tapi sebanding dengannya. Cukup berat, Pain Yahiko, masih tetap tegak sekalipun Naruto sudah menghajarnya. Pria tiga puluh tahunan dengan banyak tidnikan diwajah dan telinganya ini cukup berpengalaman diatas ring. Naruto cukup kualahan menghadapinya.
"Kenapa Kyuubi? kau lelah, mungkin sudah saatnya kau kalah. " Pain memprovokasi. Mereka saling berputar berhadap-hadapan mencari celah untuk menyerang masing-masing.
"Huh,... jangan mimpi pak tua. Kaulah yang harusnya pensiun dari ring ini!" Naruto menyeka keringat yang mengalir menuruni hidungnya yang mancung sambil mendengus.
BRUG
Dua tubuh petarung itu kian bertabrakan. Pain mendorong kuat tubuh Naruto. Naruto terpojok kearah pojok ring, Pain menghadiahinya serangan bertubi-tubi, Naruto pasrah dan melunglai terduduk disana.
"Rasakan ini, bocah rubah tengik. Hentikan mulut busukmu itu." Pain terus menghujani pipi Naruto dengan bogem kiri dan tangannya bergantian. Sepertinya tulang pipi Naruto mulai tak berbentuk karenanya.
BUG... BUG...BUG
Naruto hanya bisa merebahkan dirinya yang mulai kehabisan tenaga itu dengan pasrah. Merasa Naruto tidak mampu membalas lagi, Pain mundur mengangkat tangannya bersiap menerima gelar juara. Suara sorak sorai penonton pendukungnya mulai mengelu-elukan nama Pain Yahiko.
" Cih. Jangan senang dulu kau pak tua. Kau belum tahu sedang berhadapan dengan siapa huh?"
SET
Naruto bangkit melompat dari posisi rebahnya. Pain berbalik dan cukup terkejut melihat reaksinya. Naruto melayangkan tendangan kearah kepala Pain dengan kerasnya, seketika itu Pain ambruk. Dikuncinya kepala Pain dengan kedua kakinya. Hingga akhirnya Narutopun bisa duduk diatasnya. Kini Narutolah yang memegang kendali. Dihantamnya wajah banyak tindikan itu bertubi-tubi, beberapa anting itu bahkan terlepas karena pukulan keras Naruto yang menyebabkan robeknya kulit si lawan. Pain tergolek lemah tak mampu lagi melawan.
Naruto berdiri dan mengambil langkah mundur, wasit pun maju melihat keadaan Pain. Kemudian si wasitpun mengangkat satu tangan Naruto. Tanda pertarungan sengit itu telah dimenangkan olehnya.
Prok... prokk...prookk
Suara tepuk tangan riuh menggema. Seluruh penonton terkesan dan mengelukan namanya.
"Bagus Kyuubi!"
" Kau keren Kyuubi"
Naruto mengambil jatah uang hasil pertandingannya di kasir sebelum ia pulang seperti biasa. 150.000 yen untuk pertandingan sengit semacam tadi, tidak sebanding dengan wajah bonyok yang berdarahnya. Naruto berjalan gontai, sepertinya sebelum pulang dia harus menemui Sakura di kliniknya. Jika ada Hinata mungkin ia tidak perlu ke klinik si dokter galak karena pasti gadis itu bersedia dengan senang hati mengobati dan mengompres lukanya.
Ah,.. gadis itu membuat Naruto merasakan suatu kehilangan yang tidak bisa dijelaskan. Kejadian semalam membuatnya melawan perasaannya sendiri yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran gadis rambut panjang indigo dirumahnya. Beberapa hari sebelumnya ia terbiasa dengan ucapan okaeri ramahnya saat Naruto membuka kenop pintu. Tapi sekarang dia harus terima gadis itu sudah harus pulang kerumahnya dan tak ada lagi yang mengucap kan kalimat itu. Mungkinkah Naruto mulai menangkap kehadiran gadis dirumahnya sepekan itu juga mulai mengisi hatinya? Terlalu bodoh jika dia mengharapkan gadis sesempurna Hinata untuk orang dengan masa depan tidak tentu sepertinya. Sebaliknya pria mapan berjas biru dengan rambut hitam yang memeluk hinata adalah pilihan tepat bagi tuan putri seperti Hinata.
.
.
.
Hinata sibuk dengan lembaran-lembaran kertas berhamburan diatas ranjangnya. Mungkin itu kertas kedua belasnya. Ya dia menghabiskan seharian penuh menggambar sketsa wajah seorang pemuda. Hinata meminta maidnya membawakan makan siangnya kekamar tadi. Ia tidak ingin keluar bertemu Neji atau bertemu dengan pamannya. Kecuali jika ia terpaksa keluar kamar untuk bertemu dengan kakeknya yang sudah datang dari perjalanan bisnis di AS. Hinata tidak menyadari ini sudah beranjak dari pukul 8 malam, dan maidnya kembali membawakan nampan berisi makan malam di meja belajarnya.
Hinata masih asik menggambar objek yang sama dengan latar dan suasana berbeda. Pemuda dengan tiga garis pipi, jangkung jabrik dan berambut pirang. Hinata meletakkan pensil nya dan menjajarkan gambar-gambar sketsa itu. Ia mengusap tanda tiga goresan dipipi itu dengan lembut dan menatap gambar itu dengan sayu.
"Kau!" Katanya berbicara pada gambar bisu didepannya.
"Kenapa kau tidak pernah mencoba banyak tersenyum padaku? Apa kau tidak lihat semua gambarmu jadi jelek karena kau tidak mau tersenyum. Kau juga selalu jahat padaku, membuatku sweatdrop dengan ucapanmu." Hinata mengerutkan bibirnya menjadi lebih sempit.
"Apa kau rindu padaku?" tanyanya lagi. "Karena aku merindukanmu,... kuharap pertandinganmu berjalan baik dan kau tidak pulang dengan banayk luka." Hinata menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipinya membayangkan dia sedan berhadapan langsung dengan Naruto.
Hinata tidak mengerti kenapa ia bisa jadi seperti ini pada orang yang tidak cukup lama dikenalnya. Bahkan dengan Sasuke ia tidak pernah merasa rindu seperti yang dia rasakan sekarang. Sasuke memang baik dan penyabar, tapi Hinata tidka pernah merasa tunangannya itu mampu mebuat hatinya tergelitik seperti saat Hinata menatap Naruto. Mereka bahkan tidak pernah berciuman sebagai seorang kekasih.
Ohya... ciuman. Hinata kembali mengingat ciuman panasnya tadi malam dengan Naruto. Tangannya menyapu bibirnya sendiri,lalu tersipu malu, pikirannya melayang pada memori manisnya tadi malam. Tidak pernah dia merasakan sebuah perasaan yang memabukkan. Ia merasa begitu menikmatinya, tanpa beban. Ia kembali mengingat kehangatan bibir Naruto semalam dia tersenyum dan menjentikkan jarinya pada salah satu gambar didepannya. Meletakkan telunjuknya pada bibir digambar itu.
" Permisi, Hinata-sama. Tuan muda Uchiha sedang ada dibawah, tuan muda Uchiha berniat mengajak anda pergi makan malam diluar. Begitu pesannya." Hinata langsung kelabakan.
Ia bangkit dari tempat tidurnya menemui maidnya yang menunggu perintah dari Hinata.
"Kau tidak bilang apa-apakan?" Tanya Hinata, "Katakan padanya kalau aku sedang kurang enak badan jadi aku tidur lebih awal!" perintah Hinata pada maidnya itu.
Maidnya mengerti perintah Hime-sama nya itu. Dia segera berojigi dan melaksanakan perintah menemui Uchiha Sasuke dibawah.
"Apa dia baik-baik saja? Dokter sudah memeriksanya." Tanya Sasuke pada maid yang menyampaikan hal yang serti Hinata perintahkan.
"Sepertinya Hinata-sama hanya sedikit kelelahan. Hinata-sama sedang ingin beristirahat saja dikamarnya seharian. Saya sendiri yang mengantarkan makanan dan vitamin yang diresepkan dokter untuknya." Kata maid itu dengan penuh hormat.
Sasuke mengangguk mengerti,"Yah dia mengalami hal buruk beberapa hari yang lalu aku mengerti jika dia masih syok dan butuh istirahat. Katakan kalau aku menunggu telpon darinya." Sasuke tersenyum kemudia pergi meninggalkan maid yang berojigi lagi kepadanya.
Hinata melihat kepergian Sasuke dari balik jendela kamarnya. Sedan hitam buatan eropa itu melaju menjauhi pintu gerbang Hyuga Mansion. Hinata sendiri benci bersikap seperti ini. Ia tidak suka berpura-pura sakit untuk menghindari seseorang, terlebih itu tunangannya sndiri. Tapi Hinata seperti tidak siap menghadapi pertanyaan apapun yang mungkin terlontar dari jaksa muda penuntut umum kota Konoha itu. Jelasnya, sasuke akan mencium kepura-puraan Hinata yang menyembunyikan sesuatu. Peristiwa Neji, bermalam dirumah petinju bernama Naruto dan cincin berlian merah yang diserahkannya pada mafia untuk membantu Naruto. Ia tidak siap jika Sasuke mengamuk karena peristiwa beruntut yang juga menempatkan Hinata pada posisi bersalah tidak meminta bantuan pada tunangannya sendiri. Hinata tidak punya pembelaaan akan hal itu.
Bagaimana mungkin ia tidak menghubungi tunangannya sendiri dan memilih tinggal bersama pria baru dikenalnya, itupun masih diluar nalarnya. Hinata sendiri masih tidak mengerti kenapa ia bisa begitu terpesona pada pemuda petinju yang sering pulang kerumahnya dalam keadaan bonyok dan selalu bersikap pedas padanya. Hinata menyesalkan dirinya tertarik pada pemuda itu sejak ia bertemu dan menolongnya. Seperti kutub magnet yang menarik kutub berlainan, Hinata merasa menemukan ketertarikan yang begitu kuatnya pada pemuda pirang dengan kulit tan eksotis itu. Dan dia sendiri sekarang kebingungan menghadapi perasaan takut dan bersalahnya pada Sasuke sekaligus merindukan pemuda yang tinggal dikamagasaki secara bersamaan.
Sebuah mobil limosin mengklakson agar pintu gerbang Hyuga Mansion itu terbuka. Hinata tahu itu adalah kakeknya. Orang berusia paling tua dan berkuasa dikeluarga itu. Hiroshi, mendidik kedua putera kembarnya dengan tangan besi, ia pun begitu saklek menerapkan ajaran dan aturan keluarganya. Kehormatan keluarga adalah harga mati bagi Hyuga Hiroshi. Segera Hinata bersiap dan berpakaian menyambut kedatangan kakeknya, sekalipun dia tahu harus bertemu dengan Neji dan pamannya juga.
Pria yang memasuki usia tujuh puluh tahunan itu tidak kehilangan kharismanya sedikitpun. Dia berjalan dengan dua orang pria dari anggota keluarganya mengekor dibelakang, memasuki ruangan keluarga seluas 15x 15 meter itu. Hinata yang sudah berada disana terlebih dahulu sudah menyambutnya dengan ojigi. Pria tua itu mengambil tempat duduk dengan sandaran besar dan menghadap ketiga ahliwaris Hyuga yang tersisa dihadapannya.
"Selamat datang,Ji-sama. Semoga perjalanan ada menyenangkan." Hinata mengucap salam penuh hormat pada kakeknya itu.
Seperti biasa, kakeknya memang irit bicara jadi kakeknya hanya mengangguk membalas ucapan salam Hinata. Wajahnya selalu terlihat garang, senyuman tulus jarang terukir diwajah tuanya.
"Tou-sama, mungkin anda ingin beristirahat terlebih dahulu," Hizashi menawarkan," saya akan meminta pelayan menyiapkan,..."
Telapak tangan Hiroshi terangkat tanda tidak perlu. "Aku tidak tahan dengan berita diluar itu mana bisa aku beristirahat." Ucapnya geram.
Hizashi menunduk menurut.
"Hinata, apa benar sepekan ini kau sudah tidur dengan seorang pria yang tinggal di Kamagasaki." Selidik kakeknya.
" Ji-sama, aku.. mohon waktu menjelaskan, bahwa,.." Hinata terbata-bata memulai ceritanya.
"Namanya Uzumaki Naruto, dia seorang petinju." Potong Hizashi, "mohon Tou-sama tidak salah paham, pemuda itulah yang menolong Hinata-sama saat kabur dari rumah. Pemuda itu bersedia membagi kamarnya bersama Hinata-sama. Jadi sebaiknya kita,..."
"Kabur dari rumah dan tinggal bersama seorang pria, kau benar-benar melupakan kehormatanmu, Hinata!"
"Oji-sama mohon dengarkan penjelasanku, aku saat itu tidak bisa pulang karena... Neji-Niisan mencoba bertindak kurang sopan dan berusaha memperkosaku. Aku berusaha melindungi diriku, sehingga aku melompat dari jendela mobil dan,.."
"Hinata-sama mohon anda untuk tidak salah paham Neji menyayangimu dan peduli karena kau saat itu sangat terpukul karena kepergian Hiashi-sama. Dia melakukan itu hanya untuk berusaha menenangkan anda." Hizashi kembali memotong.
"Benar, Hinata-sama aku memelukmu bukan untuk melakukan hal sekotor itu, aku hanya berusaha menenangkanmu. Aku sungguh tidak tega melihat anda terus menangis. " Neji ikut nyeletuk.
"Ji-sama aku mohon percayalah, Neji telah berani menyentuhku. Neji,.."
"Aku berani bersumpah tidka melakukan yang Hinata-sama tuduhkan kepada saya Ji-sama. Bahkan dengan menggunakan visum dari tenaga medis jika memang ada bukti yang mengarah kepada saya, saya bersedia menanggung hukuman. Tapi disini sayapun menjadi korban saat dari pemuda brutal itu saat membawa Hinata-sama kembali pulang." Neji memutar balikkan fakta yang tengah terjadi.
Hinata mulai gemas melihat ayah dan anak itu kian kompak memberikan keterangan palsu. Hinata merasa ia harus memberanikan diri untuk membela dirinya, sekalipun tidak ada yang berusaha menjadi pengacaranya.
"Benar Tou-sama, Neji mengalami patah tulang lengan dan juga luka dikening saat membujuk Hinata-sama pulang, tetapi pemuda itu malah menyerang dan melumpuhkan beberapa pegawai kita. Harap Tou-sama bijak dalam memutuskan."
Hinata tak lagi tahan dengan semua ini, "Hizashi Ji-san, kumohon untuk tidak menutupi kesalahan yang dilakukan puteramu. Jika kehormatan adalah hal yang perlu dijunjung tinggi dalam keluarga Hyuga maka aku adalah orang pertama yang melakukannya dari tindakan bejat putramu. Bagaimana mungkin seorang ayah membenarkan tindakan pelecehan yang nyaris menghilangkan kehormatanku sebagai Hyuga." Hinata berteriak kepada pamannya sambil menudingkan telunjuknya kearah Neji.
"HINATA!HENTIKAN!" teriak Hiroshi menengahi pertengkaran itu, Hinata menunjukkan wajahnya yang mulai merah padam. Hiroshi mulai angkat bicara, "Bagaimana mungkin seorang putri bangsawan berani berkata sedemikian itu pada adik ayahnya. Dimana sopan santunmu?"
Hiroshi mengetuk tongkat kayu miliknya kelantai.
"Aku hanya membela diriku dan mengatakan yang sebenarnya, Oji-sama." Hinata mulai meneteskan air mata dari mata bulannya.
"Kau benar-benar lupa cara bertatakrama setelah tinggal diluar,Hinata." Hiroshi menandaskan kalimatnya. Hinata langsung tercekat, tak ada kalimat yang mampu keluar dari mulut kecilnya, dia memang telah kehilangan kendali.
"Sejak kapan kau berani membantah dan tidak menghormati orang yang lebih tua, huh? Berteriak seperti preman dan kau melupakan nilai-nilai luhu r keluarga Hyuga?" Lanjut Kakeknya, kini kakeknya lah yang marah.
"Jika memang benar kau Neji melakukan hal yang tidak senonoh padamu, kau bisa memberitahuku, menelpon polisi atau memberi tahu Sasuke. Bukan malah kabur dari rumah dan hidup bersama seorang pemuda dengan kelakuan buruk seperti itu. Sekarang katakan padaku bagaimana jika hal initerdengar oleh keluarga Uchiha? Bagaimana seorang gadis tidak mempedulikan kehormatannya dan tinggal bersama pria diluar sana?"
Hinata mencoba membuka mulutnya untuk menginterupsi, tapi kakeknya lebih dulu melanjutkan "Kau benar-benar tidak punya kehormatan!Segeralah minta maaf dan berlutut pada kakak sepupu dan pamanmu!"Ucap kakeknya lagi
Tidak. Hinata tidak mau melakukan itu. Ia tidak sudi meminta maaf pada orang yang menyalahinya. Pada manusia bejat dan seorang ayah pemutar fakta yang melindungi putrenya tanpa peduli kesalahan besar yang sudah dilakukan anaknya padanya. Bulir-bulir air mata kian menetes membasahi mata sayu Hinata, ia tidak menyangka kakenya tidak membela atau bahkan mau mendengarkan ceritanya. Entah racun apa yang sudah dipakai Hizashi untuk membuat sang kakek percaya bahwa Neji tidak bertindak sebagai pemeran antagonis disini. Ya Hinata tahu dia memang salah tidak menghubungi Sasuke, tapi diapun bingung tidak berani melakukan apapun saaat itu. Hinata benar-benar merasa menyesal. Ia menyesal telah kembali kerumah jika akhirnya ia malah dikhianati oleh pamannya juga kakeknya sendiri.
Hinata mengepalkan tangannya, menguatkan tekad yang ada didalam hatinya sebelum memilih kembali kata-katanya. "Jika keluarga Hyuga tidak memepercayai dan melindungi apa yang harus dilindungi, dan jika sebuah keluarga melindungi siapa yang harusnya dihukum, aku tidak akan minta maaf... AKU MENYESAL JADI SEORANG HYUGA" Teriak Hinata tidak terima.
PLAK
.
.
Sebuah tamparan mendarat disana, dipipi mulus milik tekejut sekaligus terjatuh karenanya.
"Kau, benar-benar telah kehilangan kehormatanmu! Mulai sekarang kau bukan lagi seorang Hyuga!" Hiroshi berteriak . "Pergi kau dari hadapanku! Hiduplah dengan caramu! Orang yang melanggar aturan Hyuga adalah sampah!"
Hizashi maju kearah ayahnya mencoba menenangkan dan menginterupsi, tapi sang ayah sudah dulu bicara. "Berani kau melawan keputusanku, kaupun juga bukanlah seorang Hyuga."
Sakit, sakit luar biasa yang Hinata rasakan karena tidak ada lagi keluarga yang harusnya membelanya. Ayah dan ibunya sudah meninggal kini semua keluarganya mengkhianatinya saat dia butuh perlindungan. Tidak ada lagi yang bisa menahannya untuk tidak pergi dari rumah itu. Kakenya sudah memutuskan mengusirnya. Ia segera bangkit berlari keluar secepat mungkin dari rumah besar itu.
"Hinata-sama!" Panggil Hizashi berusaha membuka langkah mengejar.
"Biarkan!" Seru Hiroshi memerintah, Hizashipun tidak melanjutkan langkahnya menurut sang ayah,"jangan ada seorangpun menghalanginya, atau ia akan berhadapan denganku!" Hiroshi kembali berbalik kekursi singgasananya.
Hizashi berbalik menatap Hinata yang semakin menjauhi mereka bertiga, memebelakangi sang ayahanda dengan seringai licik dibibirnya. Sandiwaranya sukses. Ia berhasil mengusir Hinata dari jajaran ahliwaris Hyuga sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
Note:UFC (Ultimate Fighting Championship)adalah kombinasi dari beberapa olahraga bela diri: jiu-jitsu, tinju, gulat, sumo, kick-boxing dan beberapa jenis bela diri yang lain. UFC versi Jepang, dikenal menggunakan nama Pride. Bedanya UFC dipertarungkan di arena yang dibatasi ring berbentuk heksagonal yang terbuat dari tiang dan kawat, Pride dipertarungkan di arena yang mirip dengan arena tinju.
.
.
.
.
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. Terimakasih atas dukungan dan review yang tidak sempat dibalas, see you next chapter
:D
