*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 7

.

.

.

.

Hinata berjalan gontai setelah lari berlari sekuat tenaganya menyusuri jalanan gelap kota Konoha. Dengan masih menggunakan full skrit dress warna ungu tua dan bolero rajut putih, prada wedges hak 5cm sewarna boleronya jadi teman setia melarikan diri dari rumah malam ini. Habis sudah airmatanya untuk menangis. Ia lelah harus menangisi nasib dan kesialannya menjadi seorang Hyuga. Mungkin memang harus begini jalan hidup yang harus dilaluinya, meninggalkan status bangsawandan pergi dari rumahnya. Bagaimana mungkin ia kembali kerumah dimana orang-orang terdekatnya disana, keluarganya sendiri tega mengkhianati.

Hinata merasa payah dan lapar. Ia tidak sempat memakan makan malam jadi 1 km dari rumahnya sudah cukup membuat kaki kecilnya lelah. Ini sudah masuk pukul 22.00 dan 2jam lagi perhitungan tanggal sudah berganti. Yang Hinata bingungkan sekarang adalah kemana dia harus pergi, ia tidak punya teman atau tempat tujuan bermalam. Hinata hanya sempat menyambar tas selempang berbahan kanvas, mengisinya degan peralatan melukis dan kertas-kertas hasil karyanya yang berserakan, sebelum ia meninggalkan rumah besarnya itu. Ia lupa memakai jaketnya saat berlari meninggalkan rumah. Harusnya iapun memperhitungkan bahwa suhu udara akan turun saat pagi menjelang. Hinatapun bahkan tidak lagi sempat membawa handphonenya, satu-satunya alat agar ia bisa minta tolong dijemput ditengah malam seperti ini.

Ini sudah terlalu jauh dari pusat kota Konoha, dan hanya ada taksi yang ia sendiri belum menghitung jumlah uangnya cukup atau tidak untuk sampai kesuatu tempat yang mungkin bisa menerimanya malam-malam begini. Mana lagi kalau bukan kediaman keluarga Uchiha. Tapi sebelumnya ada dua hal yang berkecamuk didalam pikirannya. Yang pertama bagaimana ia menjelaskan kepada tunangannya itu tentang alasan diusirnya dia dari rumah besarnya bukan karena Neji hampir memperkosanya tapi karena ia berbagi kamar dengan pria lain. Bisa saja itu memancing kemarahan si sabar Sasuke.

Dan yang kedua, Hinata tidak tahu persis dimana alamat Sasuke. Jangan menyalahkan Hinata karena kebodohannya itu. Hinata bahkan tidak pernah menaiki transportasi umum seumur hidupnya sebagai bangsawan Hyuga. Jadi dia tidak tahu betul kemana arah bis atau jalur kereta yang harus ia tempuh menuju untuk suatu tempat. Dia terbiasa pergi dengan sopir yang mengantar-jemputnya. Dia tidak perlu menunjukkan alamat, ia cukup mengatakan tujuannya pada sopirnya dan ia akan sampai tanpa tersesat. Jadi ia akhirnya memutuskan meminta tolong pada tunangannya sendiri bukanlah hal yang tepat.

Hinata mendapati sebuah anak panah yang menyebutkan beberapa meter lagi terdapat sebuah stasiun kereta. Ia mempercepat langkahnya menuju tempat itu, mungkin dia akan mendapatkan sedikit pencerahan dari sana.

Bingung, tentu. Pusing, pasti. Hinata tidak tahu persis bagaimana ia berurusan dengan stasiun. Ia tidak tahu tempat ia harus memulai mengantri atau membeli tiket dan memilih jalur keretanya dimesin penjual tiket online itu. Ia tidak sanggup jika ia tidak bertanya pada orang yang mengerti. Beruntung dia menemukan seorang petugas stasiun yang memberinya petunjuk bagaimana caranya ia membeli tiket.

"Permisi, apa aku bisa minta tolong bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke Kamagasaki?" Tanya Hinata pada seorang petugas stasiun yang bertugas.

"Anda berniat ke Kamagasaki malam-malam begini?" petugas itu balik bertanya, "Apa anda yakin pergi kesana malam-malam begini, Nona?" Tanya petugas itu

Hinata mengangguk. Tentu saja petugas itu ragu menunjukkan caranya kesana, red-light distrik dimalam hari itu cukup berbahaya untuk gadis cantik yang masih muda seperti Hinata.

"Anda bisa naik kereta yang akan datang 5menit lagi, Nona. Anda bisa turun di stasiun Shin-Imamiya." Jawab petugas itu "Anda bisa mendapatkan tiketnya disana." Kata petugas itu sambil menunjuk mesin penjual tiket otomatis.

"Ano.. ehm... bisa kau tunjukkan caranya?" tanya Hinata lugu. Petugas stasiun itu menggigit bibirnya menahan tawa. Bagaimana tidak, bahkan anak sekolah dasar pun tahu melakukan hal mudah itu sementara gadis cantik sepertinya malah sama sekali tidak mengetahui.

Hinata berhasil mendapatkan tiketnya, itu adalah tiket pertamanya. Dengan mengeluarkan 1.100 yen miliknya dari dompet dan menyisakan 900 yen disana. Ya hanya itu memang uang yang bisa ia bawa. Memang dalam dompetnya terdapat beberapa kartu kredit yang bisa ia gunakan membeli sesuatu. Tapi bukankah kakeknya bilang ia bukanlah seorang Hyuga lagi, jadi pasti kakeknya sudah memblokir semua kartunya itu. Hinata tidak lagi mengeluhkan hal itu, ia harus segera masuk ke dalam keretanya. Dan bersiap memulai perjalanan pertamanya dengan kendaraan umum sebagai manusia biasa.

.

.

.

.

Naruto menghangatkan bubur dan sup pemberian Sakura tadi sore. Perkelahian dengan Pain sedikit meretakkan tulang rahangnya, sehingga ia cukup kesulitan mengunyah makannanya. Sakura memasangkan perban memutari kepalanya. Tidak terlalu parah dan bisa dilepas jika nyerinya sudah berkurang. Ini jam 12 malam tetapi perutnya lapar dan tidur ternyata tidak menyembuhkan perut keroncongannya itu.

Ia menatap kursi kosong disebelahnya. Lagi, dia melihat sesosok gadis berambut panjang tengah makan disana. Ia tersenyum dengan senyum termanisnya saat menyadari Naruto menatapnya. Ah,.. hati Naruto bisa meleleh karena hal kecil itu. Tapi mendadak Naruto menyingkirkan jauh-jauh ingatannya pada gadis rambut panjang saat ia juga mengingat adegan pelukan si gadis dengan pria berjas biru. Naruto merasa ada lubang dalam perutnya ketika itu.

Ia tidak pernah merasakan perasaaan aneh itu sebelumnya. Ia melihat Hinata menatap kearahnya tapi Hinata tidak menolak dipeluk oleh pria rambut hitam itu. Kalau saja perasaan gengsi tidak merajainya pasti tangannya sudah menarik pergi tubuh pria itu menjauh dari Hinata. Ahhh... susah dijelaskan! Apa haknya melarang pria itu memeluk Hinata? Dan Naruto harus ingat jika ia bukan siapa-siap bagi Hinata. Tinggal bersama selama seminggu bukan status signifikan sebuah hubungan kan?

Ia megambil beberapa sendok bubur dan menuang sup diatasnya sebelum ia menyendok suapan pertamanya itu. Ia ingat betul beberapa hari yang lalu ia juga makan sup telur dan tofu. Menurutnya sup ayam yang dibuat Sakura yang dia nikmati sekarang, masih kalah enaknya dengan sup yang dia rasakan beberapa hari yang lalu. Untuk kesekian kalinya dia mengingat Hinata. Gadis yang seminggu masuk kedalam hidupnya itu, ternyata sudah punya tempat disana tanpa Naruto sadari.

"Apa kabarmu disana, kuharap kau pasti bahagia." Naruto bermonolog sendiri. "Ahhh... dia pasti bahagia kok,.. dia orang kaya dan punya segalanya jadi dia pasti bahagia! Kenapa aku tidak bisa berhenti seharian ini memikirkan gadis bangsawan lugu itu?" cercanya sendiri.

TIING TONG

"Kuso!siapa yang berani datang malam-malam begini kerumahku? Kalau itu polisi seperti kemarin akan langsung kupatahkan saja tangannya yang berani menekan bel rumahku!" umpatnya.

Ia membuka pintu.

"Tadaima!" seru seorang gadis yang muncul disana.

Naruto cukup terkejut bahwa gadis yang baru saja dibayangkannya kini hadir didepan pintu apartemennya. Hinata ada disana dengan menunjukkan senyum termanisnya. Sial! Naruto tidak menyiapkan pertahanan apapun untuk menghadapi gadis itu. Akhirnya seperti biasa, ia harus bersikap sinis, menurutnya itu adalah jalan aman buatnya.

"Kau,.. kenapa kau berani mengatakan tadaima hah? Kau pikir ini rumahmu?" tanya Naruto.

"Wah... sepertinya luka karena pertandinganmu cukup parah, apa kau baik-baik saja Naruto-kun?" Hinata kuatir

Tidak malah menjawab pertanyaan Naruto, Hinata malah mengulurkan tangannya membelai perban dikepala Naruto, memastikan keadaan si pemuda kuning baik-baik saja. Tapi sebelum tangan kecil Hinata itu mendarat disana Naruto sudah lebih dulu menangkisnya.

"Tidak perlu bersikap baik dan mengkhawatirkanku! Katakan apa maumu?"tanyanya sinis

Hinata tertunduk sebelum ia menjelaskan, "Aku tidak tahu harus kemana, jadi aku rasa aku bisa kembali menumpang dirumahmu sementara ya?" Hinata membujuk.

Naruto mendengus kesal sebelum bicara, "Tck,kau benar-benar gila!" ujar Naruto.

"Kemarin malam kau membuat aku harus berkelahi dengan kakak sepupumu dan beberapa jam selanjutnya kita berdua diintrograsi semalaman di kantor polisi, sekarang apa?" Naruto menaikkan nada bicaranya lebih tinggi

"Gomennasai, Naruto-kun aku tidak berniat untuk merepotkanmu." ucap Hinata penuh penyesalan, "Aku benar-benar minta maaf atas hal yang sudah kau alami kemarin. Apa boleh aku masuk?"

Naruto menatap geram gadis dihadapannya ini, sambil memutuskan langkah apa yang harus ia ambil. Kembali menampung gadis itu atau tetap menyuruhnya pergi demi kebaikannya dan gadis itu.

"Tidak!" Ucap Naruto seraya membanting pintu.

Ia tidak habis pikir Hinata yang tadi bermain dalam pikirannya kini ia temui di depan pintu apartemennya.

TING TONG

Naruto menghela nafas beratnya. Ia tahu bel itu masih ditekan oleh orang yang sama diluar. Naruto merasa harus segera mengusir gadis itu.

"Apa?" Tanya Naruto.

"Diluar dingin dan aku lapar, apa aku boleh meminjam jaket dan meminta sedikit makanan, aku belum makan malam?"Tanya Hinata polos.

"Kau kaya, jadi jangan berpura-pura tidak punya uang! jadi pergi sana belilah makanan dan baju hangatmu sendiri jangan lagi merepotkanku! Dan pergi carilah hotel, doya, tempat bermalam atau bergulinglah distasiun... atau dimanapun aku tidak akan lagi peduli!

Bibir Hinata mengerucut, dihentakkan kecil salah satu kakinya ketanah berusaha merajauk dengan salah satu sifat manjanya. Berharap Naruto akan berubah pikiran, diapun masih tetap berdiri ditempatnya.

"Pergilah! kau tidak akan mendapatkan belas kasihan ku mulai sekarang!" Perintah Naruto.

BRAAK

Pintu dibanting. Sekali lagi Naruto menutup pintu rumahnya dan tidak mengizinkan Hinata masuk keadalam rumahnya karena ia sendiripun takut. Takut jika gadis itu berani memasuki rumahnya sekali lagi sama halnya membiarkan gadis itu memasuki hatinya. Dan ia yakin saat gadis itu berani memasuki hatinya dia takkan punya kesempatan melepaskan gadis itu pergi. Ia tidakkan sanggup jika ia harus berpisah lagi dengan gadis itu dengan cara apapun.

TING TONG

Bel, berbunyi lagi. Naruto kesal, ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengusir gadis bangsawan keras kepala itu. Mungkin kali ini Naruto harus mengantar gadis itu stasiun atau terminal bis. Terpaksa ia harus membuka pintu rumahnya sekali lagi.

Hinata masih berdiri disana dengan mata yang sudah berair. Ia menatap penuh pengharapan pada pemuda surai kuning pemilik apartemen itu. Hinata sudah tidak punya jurus memohon lagi selain menunjukkan tangisannya. Dan Naruto juga tahu ia tidak boleh goyah oleh tangisan perempuan. Itu memang senjata pamungkas perempuan agar seorang pria memaafkan atau bertindak sesuai keinginnannya.

Naruto tidak berkata apapun, direngkuhnya pundak Hinata dan diputarkan 90 derajat kearah kanan. Naruto mendoroang tubuh gadis itu, sehingga ia harus berjalan karena perlakuan Naruto.

"Disana..! Kaulihat disana,..." Katannya menunjuk lorong yang menuju jalan keluar apartemen itu," disana adalah tangga turunnya, kau bisa belok kiri dan menemukan pintu keluar. Pergilah aku sudah muak mengusirmu! PERGI!" teriak Naruto, meninggalkan Hinata dan kembali menutup pintu rumahnya.

.

.

.

Hinata tidak punya pilihan lagi, kali ini ia harus menerima kekecewaan diusir Naruto. Ia tidak menyangka pria itu tidak lagi mau berbagi tempat tinggal sementara waktu. Naruto tega membiarkan gadis sepertinya berjalan sendiri tengah malam di Kamagasaki. Hinata harus meneguk tangisnya sendiri malam itu sambil terus berjalan perlahan menjauhi apartemen Naruto.

Langkah kakinya semakin berat. Jalanan Kamagasaki penuh dengan tunawisma yang tidur tergeletak disembarang tempat. Mereka tidak punya tempat tinggal, tujuan dan pekerjaan, tidak jauh berbeda dengan dirinya sekarang. Mungkin benar ia harus mencari tempat bernaung sekarang, tapi dengan 900 yen untuk waktu yang tidak bisa ditentukan sanggupkah dia bertahan. Hinata jadi menyesalkan pilihannya naik kereta dan menumpukan harapannya pada seseorang. Seseorang yang nyaris merebut hatinya, yang kini menolak dirinya untuk memasuki kehidupan miliknya itu.

KLEK

Salah satu sepatu Hinata patah. Hinata harus menghentikan langkahnya sekarang. Sepatunya sudah tidak lagi jadi temannya setianya yang menemani malam itu. Sambil menyeka matanya yang masih mengalir ia berusaha membetulkan sepatu itu.

"Sepertinya kau butuh bantuan, Nona.?" Beberapa orang pria dengan tampang sangar mendekati Hinata.

Terbelalak sudah mata berairnya itu menatap mereka. Ia tahu bahwa kali ini Hinata dalam posisi tidak aman. Ia bisa berakhir lebih buruk dari skandalnya dengan Neji. Airmatanya semakin deras mengalir, dia harus secepatn mungkin menghilang dari kawanan pria dengan dandanan preman yang mulai mendekat. Dilepaskan lagi sebelah sepatunya, Hinata yakin akan berlari lebih cepat jika ia berlari tanpa sepatu. Segera mencoba bangkit dan berdiri, mengambil ancang-ancang berlari. Ia harus segera terlepas dari pria-pria berseringai mesum yang memandang ,

HAP

Ia tertangkap. Salah seorang berhasil menangkap tubuh kecilnya itu mengangkatnya ke trotoar dan membaringkan Hinata. Mereka tertawa karena mendapati buruannya masuk perangkap. Kawanan itu mengelilingi Hinata yang masih mencoba untuk bangkit dan melawan dengan tubuh payah lapar dan kelelahan itu. Hinata sudah ketakutan setengah mati karenanya. Ini buruk. Dan ia tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berteriak.

"TOLOOONG,! Kumohon siapapun tolong aku,... hiks... hiks" Katanya sambil berteriak dan menangis.

"Berteriaklah sekuatmu, Nona! Tidak akan ada yang peduli!" Ucap salah satu dari sekawanan pria itu.

HAHAHAHAHAHA
Tawa mereka menggelegar. Menyeramkan bagi Hinata. Mungkin benar kata kakeknya dia sudah benar-benar tidak punya lagi kehormatan kali ini.

SREK

Seorang menarik paksa bolero putih rajut Hinata itu. Lengan putih mulus itupun terekspos dengan indahnya. Pemandangan indah itu kian memacu adrenalin dan hormon kelaki-lakian mereka untuk segera menikmati hewan buruannya. Hinata menangis menunjukkan wajah ibanya seperti seekor domba yang siap diterkam kawanan serigala buas yang lapar. Ia hanya bisa memohon dan berharap mereka meloloskannya. Seseorang menangkap kaki Hinata dan dua lagi memegang tangan Hinata agar tidak mampu berontak. Tubuh Hinata meregang dan gemetar ketakutan.

"TIDAAAKKK!TOLOOONGG"

.

.

.

BUG

Sebuah balok kayu besar ditebaskan, 3 dari kawanan itu segera langsung pingsan karenanya dan sisanya harus menghadapi seorang manusia yang berani melakukan hal itu. Kawanan itu langsung merasa mengerti harus menyingkirkan pemuda penghalang kesenangan mereka terlebih dulu. Kawanan itu segera berhamburan mendekati arah pemuda yang berani membuat tiga dari mereka pingsan. Pemuda itu sudah siap sepertinya menyambut serbuan mereka.

SET

SET

Beberapa dari kawanan itu memulai kepalan balasan agar sipemuda pengganggu itu pergi, tapi dengan mudah si pemuda bersurai kuning menghindari serangan, langsung menghajar manusia yang berani menggunakan tangannya melakukan tindakan tidak senonoh itu. Nanar matanya memandang mereka penuh intimidasi, tak ada lagi warna biru yang meneduhkan itu. Kemarahan atas perbuatan buruk kawanan itu seperti tengah membakar sekujur tubuh si pemuda. Tangannya mengepal siap menghkum mereka satu persatu.

PLAK

BUG

Panas, pukulan panas itu terasa panas saat mendarat ditubuh mereka yang terkena. Mungkin api amarah yang begitu besar itu sampai berimbas dalam sebuah pukulan. Hantaman demi hantaman yang cepat itu terdengar diikuti dengan rintihan kesakitan mereka yang berhasil ditumbangkan.

Satu..

Tigaa...

Empat ...

Mereka tumbang, tinggal dua lagi yang harus Naruto lumpuhkan. Naruto bersiap dengan kuda-kudanya. Ia bersiap untuk menyelesaikan dua orang dihadapannya dengan satu tendangan maut. Tapi ternyata sebelum Naruto melakukannya mereka memilih untuk menyelamatkan diri. Tak sanggup berhadapan dengan pemuda itu.

Naruto mendapati Hinata gemetar, pandangan matanya kosong dan ketakutan. Kedua tangannya menangkup bagian depan tubuhnya sambil menyentuh perlahan gadis itu, berniat menyadarkannya dari keadaan mengerikan yang baru usai.

"Hinata,..maafkan aku..." serunya perlahan.

Hinata menangkis tangan yang terulur padanya itu tanpa menatap tangan siapa itu. Sepertinya Hinata benar-benar syok dan tidak menyadari kedatangan tahu ia harus menyadarkan gadis yang tengah dilanda depresi spontan itu dan mengamankannya.

"Hinata, ini aku,... lihat aku! Ini aku!" Seru Naruto sambil merengkuh lengan Hinata, menggoyang-goyangkan tubuhnya kecil gadis itu agar si gadis menatapnya.

Menyadari bahwa orang yang tengah merengkuhnya itu bukanlah orang jahat seperti mereka yang datang sebelumnya, Hinata mendongakkan wajahnya memberanikan diri menatap siapa yang datang untuknya. Hinata tahu itu adalah Naruto, tumpuan pengharapannya malam ini telah datang untuk menyelamatkanya. Tangis haru sekaligus lega segera terurai dan Hinata segera memeluk pemuda yang datang untuknya itu sambil terus sesenggukan.

"Maaf," Kata Naruto tangis Hinata semakin pecah saat tubuh Naruto juga memleluknya. membelai indah surai indigo yang tergerai halus. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu mengalami kejadian buruk." Ucapnya lembut.

Itu adalah ucapan dengan nada terlembut yang pernah diucap oleh Naruto untuk Hinata. Tidak seperti kata-kata sinis yang biasa terucap dari mulutnya. Kali ini Naruto berusaha menenangkan gadis dalam pelukannya itu. Diangkatnya tubuh kecil Hinata dengan kedua tangannya. Kakinya melangkah menuju apetemennya berteduh dari hujan salju pertama yang mulai turun musim itu.

.

.

Hinata terduduk lesu menatap meja dihadapannya, Naruto meletakkan segelas teh hangat dihadapannya. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian milik Naruto. Ia terlihat jauh lebih segar dari dirinya yang kacau dijalanan tadi. Naruto menyiapkan sebuah ramen cup juga untuknya. Sesuatu yang berkuah dan panas adalah pilihan tepat untuk seorang yang baru saja menghadapi hal buruk.

"Minum dan makanlah, kau akan lebih baik." Ucap Naruto tanpa kalimat sinis.

Hinata menurut, teh hangat itu sukses mengaliri kerongkongannya yang haus dan perutnya yang kedinginan setelah berjam-jam berada diluar sana.

"Kenapa kau datang malam-malam kesini?" Tanya Naruto lagi.

Hinata tertunduk meletakkan gelas tehnya dimeja yang masih separuh diteguknya itu. "Aku diusir dari rumah."

"Kenapa?"

"Mereka tidak percaya padaku. Mereka tidak percaya bahwa aku hampir diperkosa oleh kakak sepupuku dan mengusirku keluar karena aku berbagi kamar denganmu selama sepekan."'Hinata menjelaskan.

Naruto tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Hinata menyantap ramen cup panasnya. Mengisi perut kelaparannya, memberi ia sedikit tenaga dan pengalihan kejadian buruk itu.

Naruto tidak punya pilihan lagi selain menerima gadis itu. Ya, gadis indigo yang sempat ia rindukan kehadirannya hari ini. Tapi Naruto juga tahu bahwa konsekuensi yang ia ambil sekarang, memasukkan gadis itu dalam hidupnya dan berbagi kamar lagi dengannya adalah sebuah keputusan besar.

Keputusan membuat dia menerima orang lain dan melindungi orang yang tinggal bersamanya itu. Sudah jelas juga bahwa hatinya mulai terbuka untuk gadis itu. Jatuh cintakah ia pada gadis dihadapannya? Ia sendiri belum yakin. Tapi ia tahu ia bisa jatuh cinta dengan mudah pada gadis itu. Saat ini yang Hinata butuhkan mungkin hanyalah seorang pelindung seperti dirinya. Dan itu adalah sebuah prestasi yang tidak pernah didapatkan oleh Naruto sebelumnya: diharapkan kehadirannya oleh orang lain. Gadis bangsawan yang anggun, lemah, lembut dan penuh masalah seperti Hinata terus berusaha masuk kedalam hidupnya yang kelam. Naruto tak kuasa menolak kehadiran gadis itu lagi.

Ia gusar da khawatir saat Hinata tak ada dalam pandangannya. Ia merasa gelisah saat tangannya tak mampu menjangkau jarak antara dia dan gadis itu. Dan sekarang gadis itu telah kembali kerumahnya. Mungkinkah Kami-ssama menitipkan makhluk indah seperti Hinata untuk pria dengan banyak sisi gelap seperti dirinya itu?

"Setelah makan pergilah tidur! Kau lelah pastinya." Ucap Naruto mendahului Hinata yang masih menghasbiskan ramen cup, ia menuju kasurnya.

Hinata menghabiskan sendok terakhir ramen cupnya itu. ia bergegas memasuki selimut tebal dalam pembaringan yang sama dengan Naruto. Hatinya memang sedang kacau tapi ia lega karena Naruto sudah menolongnya dan memperbolehkan ia kembali tinggal di apartemen kecilnya itu.

"Naruto-kun, kau sudah tidur?" Tanya Hinata dari balik selimutnya. Ia menutup separuh wajahnya dnegan selimut tebal,alasannya ia ingin menyembunyikan sebagian perasaannya yang senang karena bisa bertemu kembali dengan Naruto.

"Belum" balas Naruto yang masih memunggunginya.

"Apa yang kau rasakan saat aku tidak ada didekatmu? Apa kau merindukanku?"

Naruto tidak menyangka gadis itu menghadiahinya sebuah pertanyaan semacam itu. naruto harus berhati-hati memilih kata yang menjelaskan perasaannya saat Hinata tidak disampingnya. "Aku,... merasa duniaku hampa."

Hinata tersenyum mendengarnya. Ia menurunkan selimutnya dan kembali bertanya, "Apa itu tandanya kau menyukaiku?"

Naruto segera berbalik menghadapi lansung gadis itu. hinata terkejut naruto berbalik dan menatapnya. Hinata begitu mengharapkan jawaban yang menunjukkan persetujuan dari si pemuda. Iris mata Hinata menangkap sapphire biru yang menatapnya. Ia kembali menyelam dalam lautan rasa penasaran tentang pemuda itu.

"Kau, simpan itu dan segeralah tidur!dan jangan berani berpikir macam-macam!" Naruto kembali sinis seperti biasa.

Hinata memunculkan bibir monyongnya yang menampakkan kekesalan. Hinata tidak mendapat apapun dari pertanyaannya dan kini ia memilih membelakangi Naruto dengan sebal dna memilih untuk segera tidur. Ia tidak tahu bahwa Naruto tersenyum melihat tingkah lucunya. Menyimpan misteri dari perintah sinisnya pada Hinata.

.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. kalau ada keterangan tempat yang salah saya juga minta maaf. mungkin mulai beberapa hari kedepan gak bisa fast update seperti biasa udah mulai produksi kue kering lebaran soalnya, tapi pasti saya usahakan update kok.. kan sekarang Hinata sama Narutonya juga lagi bobok kalo udah bangun ntar updte lagi hehhehehehhe...Terimakasih atas dukungan dan mohon maaf atas review yang tidak sempat dibalas, see you next chapter
:D