*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 8

.

.

.

.

Seorang pria berambut raven tidak mampu membagi otak dan fokus pandangannya pada dua objek berbeda. Yang satu menyangkut urusan kaji kasus dengan berkas ditangan kanan, yang memaksa otak kirinya berpikir menganalisa kasus lebih keras dalam memutuskan. Dan satunya lagi pada smartphone putihnya yang tak kunjung berbunyi, menanti balasan pesan dan memaksa otak kanannya berpikir tentang gadisnya.

Ia menyerah. Diletakkannya berkas itu dan pipijitnya bagian tengah dahinya. Memikirkan perempuan sekaligus pekerjaan benar-benar membuat kepalanya pusing. Diangkatnya smartphone itu dan ia mulai membaca kembali ringkasan pesannya yang sudah terkirim.

To: Hime-chan

Ohayo, Hime-chan! Semalam aku datang tapi kau sudah tidur, apa kabarmu hari ini? Kau sudah lebih baik?

Message sent:07.22

To: Hime-chan

Hime-chan beberapa kali aku menelponmu tapi kau tidak mengangkatnya, kau dimana sekarang? Sudah makan? Mau makan siang bersamaku? Kalau iya balas dan kujemput.

J

Message sent:10.50

To: Hime-chan

Kau baik-baik saja? Aku mengkhawatirkanmu, 2 jam lagi aku selesai. Kita bisa pergi melihat matahari terbenam di Odaiba dan makan malam, bagaimana?"

Message sent:15.35

To: Hime-chan

Aku mengkhawatirkanmu,..ada apa? Kenapa kau seperti sedang menghindariku? Apa kau marah karena aku tidak ada untukmu disaat sulitmu kemarin? Aku benar-benar minta maaf. Kau benar-benar marah padaku,ya? Baiklah, sekarang aku tidak peduli jika kau sedang sibuk, marah atau tidur. Aku akan segera datang kerumahmu secepatnya dan jangan coba berpura-pura tidur lagi. Aku merindukanmu.

Message sent: 17.40

Itulah keputusan yang dia buat sore ini. Seharian ini konsentrasinya terpecah dan bahkan jika ia tidak bisa menaklukkan gadisnya ia pun tidak akan mampu menaklukkan kasusnya. Ia berkemas merapikan berkasnya, sepertinya ia harus segera menemukan tunangannya itu dan menyelesaikan rasa penasarannya. Tapi mendadak smartphone berdering, ia berharap Hinatalah yang menelponnya.

Tidak, bukan Hinata. Aniki itu yang tertulis dilayar smartphonenya. Terpaksa iapun harus kecewa.

" Ya, ada apa aniki?"
"Kau sudah menghubungi Hinata?"

"Kemarin aku datang kerumahnya, pelayannya bilang dia sedang tidur, aku berniat kerumahnya sebentar lagi."

"Ada yang janggal, tentang tuduhan Neji. Paman Hizashi mencabut tuduhannya dengan alasan bisa mempengaruhi saham Hyuga Corp. Dan hasil visum et repertum menunjukan kalau Hinata sama sekali tidak mengalami tindak kekerasan. Bekas lukanya teridentifikasi sebagai luka memar kecelakaan. Keterangan Hinatapun menyebutkan bahwa dia tidak diculik, dia sendiri yang melarikan diri dari rumah dan ditolong oleh pemuda itu. sepertinya tuduhan itu adalah tuduhan palsu. "

"Hn, aku harus mengklarifikasinya sebentar lagi."

"Kau tahu,... hari ini aku bertemu dengan bibi kurenai di chuo line, dia bilang tadi malam hinata diusir dan pergi meninggalkan rumah. Dia tidak berani menjelaskan apa alasannya"
"Apa? Dan Hinata sama sekali tidak minta tolong kepadaku bahkan tidak menghubungiku hingga hari ini? Ahh... sial...Apa bibi kurenai tahu Hinata pergi kemana?"

"Tidak,dia tidak bilang apapun.."

"Ohya siapa nama orang yang jadi tersangka di tuduhan palsu itu? aku akan coba mencari tahu, siapa tahu kali ini akan berhubungan."

"Dia seorang petinju yang tinggal di Kamagasaki, namanya Uzumaki Naruto."

"Oke aku segera berangkat."

"Ya pergilah, hati-hati."

Akhirnya kegalauan Sasuke membawa sebuah berita buruk baginya. Hinata kembali hilang dan ia harus segera tahu dimana gadisnya sekarang. Ia memejamkan mata, meraih kunci mobil dimejanya dan merapikan jasnya. Kemudian ia menekan sebuah tombol dan mengangkat gagang telepon. "Shika, tolong jika ada yang mencariku aku sedang cuti sampai dua hari kedepan. Katakan jika aku sedang melakukan study kasus." Tombol ditekan kembali dan gagang telepon diletakkan. Sasuke segera beranjak pergi dari ruangannya. Hinata kini jadi prioritasnya.

.

.

.

Hinata menggunakan sebuah sweater rajut dengan ukuran kebesaran dan celana olahraga yang nyaris terlipat ujungnya lebih dari limakali lipatan. Ia mengikuti pemuda surai kuning yang sudah menggunakan pakaian musim dingin lengkap dengan sebuah sweater tebal warna merah di lehernya. Hinata tidak tahu kemana pemuda itu menuntunnya pergi hingga pemuda itu berhenti disebuah klinik kecil berjarak 1km dari apartemen kecil yang jauh terlihat seperti cafe dari luarnya. Hinata mengenali seorang gadis bersurai pink sedang sibuk menyajikan suatu minuman hangat untuk dua orang tamunya berusia paruh baya. Sakura segera mengenali Hinata dan menyapanya.

"Ah, Hinata, apa kabar? Kudengar dari Naruto kau dintrograsi polisi dan sudah pulang, tapi hari ini kau datang memakai baju Naruto sepertinya kamu bermalam dengannya lagi ya?" Sakura menggoda.

Hinata tidak bisa menjawab, ia hanya menunduk menyembunyikan wajah bersemu merah miliknya.

"Sakura pinjamkan dia baju! Aku tidak mau berjalan dengan orang yang berpakaian kebesaran dan terlihat seperti pencuri akan mengajaknya ke Shinsaibashi suji untuk membeli beberapa baju." Ucap Naruto sinis

"Cih, bilang saja kau berniat mengajaknya kencan dan kau ingin agar dia terlihat cantik!" balas sakura

Giliran Naruto tak menjawab dan memilih membuang pandangannya kearah luar jendela. Sakura mengajak Hinata untuk masuk lebih dalam kekliniknya, meninggalkannya dengan satu set perlengkapan baju musim dingin dikamarnya. Sakura kembali menghampiri Naruto yang menunggu dengan tenang disudut pintu kliniknya.

"Dia kembali?" Tanya Sakura

"Ya, semalam dia diusir dari rumahnya. Cukup mengejutkan." Jawab Naruto "aku kasihan padanya, sepertinya aku akan membiarkan ia tinggal bersamaku."

"Benarkah?" Sakura menyelidik. "Sepertinya ada yang cukup senang dengan hal itu, sampai berniat untuk mengajak gadis itu berkencan ke Shinsaibashi Suji." Sakura tersenyum menggoda.

"Dia tak membawa apapun dari rumah, aku tidak mau bajuku dipakai orang lain." Ucap Naruto sinis.

Sakura masih melontarkan senyumannya yang berniat menggoda Naruto itu dan Naruto tetap memasang wajah sinisnya tak mau ketahuan ekspresinya yang sedang ditutupi.

Hinata keluar dari kamar Sakura dengan sudah berganti pakaian. Sakura memilihkan sebuah kaos ketat putih berleher v-neck lengan panjang, rok rempel berlipit warna hitam sejengkal diatas lutut dipadukan dengan stoking paha tinggi sewarna rok mini itu. Sakura juga meminjamkan sepatu boots pendek setengah betis musim dingin warna coklat muda bulu-bulu miliknya. Sukses membuat Hinata seksi dan casual disaat bersamaan. Hinata berjalan menghampiri Naruto dan Sakura yang sedang berbincang sambil menutupi bagian paha putih mulusnya yang masih terbuka dengan malu. Hinata tidak pernah memiliki pakaian musim dingin seperti itu sebelumnya, pakaian itu terlalu mencolok untuk kaum bangsawan sepertinya.

Tapi itu cukup menarik perhatian Naruto selama lima belas detik tanpa kalimat apapun yang keluar dari mulutnya. Naruto semakin menyadari bahwa perasaannya pada Hinata sudah bukan sekedar perasaan aneh tergelitik lagi, tapi perasaan kagum yang mendebarkan hatinya lebih cepat. Mungkin Naruto bisa membenarkan pertanyaan Hinata tadi malam, jika dia memang menyukai gadis itu. Naruto melayang, ia nyaris tak ingin kembali pulang dari lamunannya tentang Hinata. Gadis itu sedang sibuk berbincang dengan Sakura yang meyakinkan jika pakaian yang dipakainya baik-baik saja, Sakurapun memasangkan Jaket hangat tebal bertudung pada tubuh gadis itu.

"Sudah, cepat ayo pergi!" Ohya Sakura, kuharap kau hati-hati dengan pria kaya dengan setelan jas hitam. Dia bisa memberikan tuduhan palsu dan membuatmu bermalam dikantor polisi seperti yang dilakukan mereka padaku kemarin!" Naruto menyindir kelakuan keluarga Hinata dan mengingatkan Sakura sambil beranjak pergi.

Hinata melambaikan tangan ke arah Sakura, dengan susah payah karena Naruto menarik tangan Hinata.

"Wooiiyyy Naruto! Jangan lupa membelikan pakaian dalam untuk Hinata, dan ingat jangan yang murahan ya!" Teriak Sakura mengingatkan ketika langkah mereka berdua semakin menghilang dari pandangannya.

.

.

Sasuke memarkir mobilnya di salah satu stand makanan di Kamagasaki, melihat sekeliling dan benar-benar merasa heran bahwa tempat kumuh seperti itu menjadi tujuan pelarian Hinataselama seminggu. Dibalik stand makanan itu terdapat alamat yang diberikan oleh kakaknya lewat sms, sebuah apartemen nomor 409 milik Uzumaki Naruto. Ia sudah mencoba memencet bel disana bahkan mengetuk pintunya beberapa kali tapi Sasuke tidak mendapati siapapun keluar dari kamar itu. Seorang disebelah kamar itu merekomendasikan agar Sasuke pergi kesebuah klinik didekat apartemen itu, kemungkinan pemilik klinik itu tahu kemana Naruto pergi.

Tanpa perlu pikir panjang lagi Sasukepun menurut jika hal itu menyangkut pencariannya terhadap Hinata. Ia segera mengubah destinasinya ke sebuah klinik, Imamiya Sakura klinik.

"Aku heran sebetulnya ini klinik atau kedai yakiniku?" Tanyanya dalam hati ketika ia memasuki klinik itu.

Terang saja Sasuke heran, jika itu sebuah klinik kesehatan harusnya ia mendapati seorang asisten dokter sedang berjaga dan sibuk dengan antrean pasien. Tapi yang didapatinya berbeda, bebrapa orang paruh baya sedang duduk dan menikmati minuman hangatnya di musim dingin. Sama sekali tidak menunjukkan sebuah klinik kesehatan yang layak.

"Seperti yang kuduga, tempat ini ilegal!" gumam Sasuke.

Sakura mendapati seorang yang asing dan belum pernah ia temui sebelumnya. Dari cara berpakaiannya menggunakan jas mahal dan sepatu kulit mengkilat merk ternama. Rambut raven hitamnya tertata rapi, terlihat seperti ekskutif muda dengan pekerjaan dan karir menjanjikan. Tampan dan kharismatik, Sakura bisa saja jatuh cinta dengan orang model seperti ini. Seratus persen itu tipenya dan mungkin dia harus mendapat nomor telepon pria ini dan mengajaknya kencan. Ups,...Ia kembali mengingat pesan Naruto, untuk berhati-hati pada orang dengan setelan jas hitam semacam orang yang berani memasuki kliniknya. sekarang

"Kau , siapa? Kau terlalu sehat untuk jadi orang sakit disini? " selidik Sakura sambil berkacak pinggang.

"Oh, aku Uchiha Sasuke, aku seorang jaksa, bisa aku bertemu dengan pemilik, klinik ini?" Tanya Sasuke balik.

"Pemiliknya adalah aku. Aku adalah Dokter Haruno Sakura. Apa kau kesini karena ingin tahu tentang Naruto?"

"Ah,.. kau ternyata orang yang tepat. Apa kau tahu dimana Uzumaki Naruto sekarang? Apa dia bersama gadis ini?" Sasuke mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar Hinata disana.

Benar yang dikatakan Naruto, Sakura harus berhati-hati. Kali ini dia berhadapan dengan orang kaya yang bisa mempermainkan hukum.

"Pergilah!" seru Sakura sambil melambaikan tangan, " kau tidak akan mendapatkan apa-apa disini."

"Kemana mereka pergi? Aku harus segera menemukan mereka."

"Berhentilah ikut campur kebahagiaan orang lain, tuan muda! Pulanglah, mereka tidak disini dan aku tidak akan pernah memberikan informasi tentang mereka." Ucap Sakura yang mulai fokus dengan pekerjaannya bersih-bersih.

Sasuke tahu kalau sepertinya ia harus mengancam atau menakut-nakuti gadis itu agar bisa buka mulut. Sasuke memotret bagian-bagian klinik itu.

"Oh, kalau begitu baiklah, Haruno-san kalau kau tidak mau memberi keterangan tentang mereka tidak apa. Sebaiknya kau memberikan keterangan di kantor polisi saja." Ucap Sasuke mulai mengintimidasi.

Sebuah perempatan muncul dikening Sakura. Ia sangat benci dengan orang kaya yang suka mengancam dengan kekuasaan mereka. Ia berbalik menatap Sasuke dengan kemarahan yang masih dibendungnya. Ia melihat Sasuke sedang asyik memotret bagian-bagian kliniknya.

"Kau harus menjelaskan klinik ilegalmu ini disana!dan berdoalah agar tidak ditutup." Ucap Sasuke lagi sambil tersenyum meremehkan.

Sakura menghela nafas perlahan mencoba menguasai dirinya. Kali ini dia harus mencoret pria dengan model seperti ini dari daftar orang yang ingin dikencaninya. Ia membalas senyum kepada si jaksa dan mendekatinya.

"Pak Jaksa,..apa aku harus memohon padamu agar kau tidak melaporkanku kepolisi?" tanya Sakura menggoda.

"Tidak perlu." Sasuke memasukkan kembali ponsel itu kedalam sakunya, :Kau cukup beri keterangan tentang Uzumaki Naruto dan Hyuga Hinata, itu saja." Sasuke tersenyum, sepertinya ia akan mendapat jawaban. Ancamannya berhasil.

Sakura tersenyum lima jari dan mengulurkan tangannya, "Deal?" Tanyannya.

Sasuke tersenyum senang, "Deal!" Jawabnya mantap dan menyambut tangan Sakura.

Salah! Itu bukan sebuah kesepakatan. Sakura segera mendekatkan tangan pemuda itu dan menggigit kuat-kuat dengan giginya. Sasuke berteriak kesakitan.

"Aaaaarrrggghhhh! Hentikan apa yang sedang kau lakukan!Lepas,..! Akan kupastikan aku akan menuntutmu karena berani menyerang orang!" Sasuke menyumpah.

"Kau pantas diserang, kau bahkan berani mencoba memeperkosa Hinata!"Ucap Sakura segera setelah puas menggigit tangan Sasuke.

"Diperkosa?" ulang sasuke. "Kau harus menceritakan kejadian yang kau tahu! Dengar Nona, aku adalah tunangan Hinata sepertinya kau sedang salah paham padaku. Aku kesini mencari tahu tentang tunanganku yang diusir dari rumah."

Ya, sepertinya kali ini Sakura juga salah karena sudah berani menggigit jaksa muda itu. tapi siapa suruh juga jaksa itu berani mengancamnya. Ada yang lebih buruk, pria ini adalah tunangan Hinata, Sakura bingung harus mendukung sahabatnya agar sukses berkencan atau membela pria dengan status tunangan Hinata itu.

"Tunangan? Kalau kau benar tunangannya kenapa kau tidak bisa menjaganya sampai bisa diperlakukan seperti itu?" Sakura balik bertanya.

Sasuke masih memegangi bekas gigitan sakura dengan mengurutkan perlahan tangannya yang lain, berharap sakitnya bisa sedikit berkurang. "Sejak kematian ayahnya, Hinata menjadi lebih pendiam dia lebih sering menghabiskan waktu dirumah untuk melukis dan jarang mau menerima telpon. Dia tidak ingin diganggu disaat seperti itu, dia biasanya memilih menyembunyikan tangisnya. Jadi akupun menghargai pilihannya dan aku baru tahu dia sudah hilang seminggu sebelumnya dihari yang sama saat dia dibawa kekantor polisi."

Sepertinya si raven tampan dihadapannya itu tidak sedang berbohong, sakura jadi menyesal telah meninggalkan gigitan mautnya tangan kirinya.

"Apa yang kau tahu tentang pemerkosaan Hinata?" Tanya Sasuke lagi, kini Sasuke memilih duduk di salah satu bangku panjang dipojok ruangan. Sakura mengambil kotak obat dan membersihkan luka yg sudah dibuatnya.

"Aku dengar dari Naruto, dia menemukan seorang gadis yang sedang bersembunyi dengan luka-luka, dan robekan dibajunya siapapun pasti menebak kalau gadis itu adalah korban pemerkosaan, tapi kami tidak tahu pasti siapa orang yang mencoba memperkosa Hinata. Ia tidak banyak menceritakan tentang dirinya." Sakura mengobati luka Sasuke sambil melanjutkan bercerita.

" Naruto bilang Hinata tak kunjung mau pergi diusirnya dengan alasan dia tidak bisa pulang sementara waktu, jadi Naruto menampungnya. Naruto juga tidak serta merta berani mengusirnya karena Hinata memberikan cincin berlian mahal kepada orang yang sudah memberikan pinjaman pada Naruto."

"Maksudmu, ini?" Sasuke mengeluarkan sebuah cincin dari saku kirinya. Sebuah cincin berlian merah yang mahal.

Sakura langsung terbelalak karena benda berkilau itu terlihat sangat indah dan jelas mahal harganya.

"Wah, jadi ini cincinnya? Ah,..ini bisa laku sampai jutaan dolar kan?" emerlad Sakura tak bisa tahan memandang benda bagus itu. ia mengambil dari tangan Sasuke dan diterawangnya. Ia mengembalikan cincin itu kembali pada Sasuke setelah puas mengobservasi. "Eh, cincin ini sangat mirip dengan matamu, pak jaksa." Sakura menimpali lagi

"Yah, aku sengaja memilihkan Hancock Red Diamond yang langka dan mirip dengan mataku, berharap Hinata akan selalu mengingatku saat memakainya. Itu adalah cincin tunangan yang kuberikan untuknya. Aku tidak menyangka dia memberikannya untuk balas budi." Sasuke memandang cincin yang kembali ketangannya itu dengan tatapan lesu.

Sakura tahu pria dihadapannya itu tulus menyayangi Hinata. Membelikan sebuah hadiah tanda cinta yang dengan mudah diberikan kepada orang lain, kini ia sendiripun bingung bagaimana mencari kejelasan tentang tunangannya yang kabur dari rumah dan malah menumpang dirumah pria selain tunangannya. Jika manusia seperti Sasuke bisa sabar menghadapi kenyataan itu, mungkin Sakura bisa menganggapnya malaikat yang menyamar. Siapapun yang menghadapi tunangan yang sudah mengalihkan perasaan tulus Sasuke harusnya marah atau tahu jika pertunangannya tidak bisa dipertahankan. Tapi itu versi Sakura.

"Apa Hinata juga mencintaimu seperti kau mencintainya?"Sakura penasaran.

"Kami memang dijodohkan sejak kecil, dan bertunangan empat tahun lalu. Aku tidak tahu bagaimana pastinya perasaannya padaku. Tapi aku menyayanginya. Dan sekarang aku merasa bersalah karena tidak mampu menjaganya dengan baik. Jadi aku harus memperbaiki ini semua."Sasuke tersenyum tulus dalam penjelasannya

Sakura benar-benar iri dengan Hinata kali ini. Ah,... kenapa bukan dia saja yang dicintai dengan cara seperti itu oleh pria tampan sesabar dan sebaik ini? Pria ini malah masih menginginkan kejelasan tunangannya yang berbagi kamar dengan pria petinju penuh masalah dan tinggal di tempat kumuh seperti ini tanpa peduli Hinata sudah mengabaikannya. Hinata benar-benar bodoh, batinnya.

"Hinata dan Naruto pergi berbelanja, mungkin ia akan pulang sebentar lagi, jika kau mau kau bisa menunggu mereka disini."

Pemuda dihadapannya itu terlalu mencintai gadisnya, bukan hal mudah jika Sakura harus terus mencoba masuk mendekati. Mungkin untuk sekarang Sakura harus memupuskan harapannya mengencani pemuda dihadapannya. Semua perhatian tertuju pada Hinata. Hinata memang cantik, kalem ,seksi dan Sakura jadi minder karena ia kini bukan lagi manusia tercantik di Kamagasaki setelah kehadiran Hinata tapi bukan berarti dia boleh bersikap buruk dengan sifat irinya sendiri.

.

.

.

.

Naruto heran pada Hinata. Ia benar-benar tidak tahu cara berbelanja. Tidak seperti perempuan semacam Sakura atau yang lain yang heboh ketika tulisan SALE tertulis di etalase sebuah toko pakaian. Selama dua jam lamanya dia berputar Shinsaibashi dan terus mengekor pada pemuda disebelahnya itu. Dia terlihat kikuk dikeramaian dan tidak mampu memilih satu pilihan pada satu bajupun.

"Kenapa? Dari sekian banyak toko, kenapa kau tidak memilih satu bajupun untuk dibeli? Aku kan sudah bilang jika aku akan membayarnya untukmu." Tanya Naruto.

"A..ano, Naruto-kun... aku tidak pernah memilih baju yang kupakai dalam hidupku. Jadi aku bingung dengan berbagai macam pilihan semacam ini." Katanya sambil menoleh kekiri dan kekanan melihat orang yang sibuk berbelanja.

"Lalu siapa yang memilihkan bajumu?" Tanya Naruto.

"Biasanya akan ada beberapa orang datang kerumah, seorang designer dan asistennya mengukur tubuhku dan membuatkan baju yang aku butuhkan. Kalau sepatupun juga mereka akan datang dengan beberapa model yang sekiranya cocok denganku. Jadi aku tidak pernah pergi shopping sebelumnya."

"Dasar orang kaya!" Umpat naruto kesal. Naruto menarik masuk Hinata kedalam sebuah distro dengan banyak tulisan SALE.

Naruto memilih beberapa kaos yang dikiranya seukuran dengan ukuran Hinata. Pink,putih, ungu, oranye dan biru muda menurutnya itu adalah warna netral yang tidak merepotkan dipadukan. Naruto meminta tolong pada petugas distro untuk mencarikan 2 buah celana jeans, 2 buah rok lipit selutut, sebuah baju hangat dan satu celana santai yang ukurannya sama dengan Hinata. Naruto memilihkan sepasang sepatu kets merk adidas warna navy blue dan sepasang flat shoes warna putih dengan pita kecil manis dan tersulit, Naruto harus mencarikan kira-kira selusin pakaian dalam untuk Hinata.

"Kau harus memilih sendiri pakaian dalammu!" Kata Naruto. Minta tolonglah pada petugas yang ada disana! Ini uangnya dan masuklah!" Naruto memerintah.

Naruto tidak berani masuk kedalam toko pakaian dalam bersama Hinata. Pikiran kotornya bisa malah mempengaruhi akal sehatnya. Apalagi sudah jelas jika Hinata punya bagian aduhai dengan ukuran yang wow. Ahh... itu bisa membuat milik Naruto bangun dan Naruto tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya sendirian ditempat seramai itu. Naruto menunggu dengan sabar Hinata yang masih berada didalam toko pakaian dalam. Ia membeli minuman cola dan menikmatinya diluar.

"Naruto-kun!" Panggil Hinata dari dalam balik kaca toko itu. "Apa yang ini bagus?"

Hinata memamerkan sebuah lingerie transparan berwarna pink muda dengan renda di bagian bawah dan hiasan pita tali didadanya.

BUURRR

Uhuk-uhuk-uhuk

Naruto terbatuk melihat Hinata memanggil dan melambai kearahnya menanyakan komentar tentang lingerienya itu. Darah Naruto berdesir karena melihat Hinata tampak seperti model majalah dewasa saat itu. Tubuh mulusnya hanya tertutupi kain tipis yang menggairahkan untuk segera disingkapnya. Dada besarnya tampak penuh dan menggoda. Naruto membalikkan badan dan mengacungkan jempolnya tanda setuju. Naruto masih sadar otaknya tidak boleh memikirkan hal-hal itu lama-lama atau dia sendiri yang kelabakan. Ia tidak boleh lepas kendali ditempat umum. Haduh Naruto benar-benar bingung menghadapi gadis lugu seperti Hinata. Itu adalah hal yang sangat ia hindari hari ini tapi malah Hinata sendiri yang menunjukkan kepadanya.

Dielusnya dadanya perlahan, menguatkan dirinya sendiri agar tak tergoda pemandangan yang barusan dia lihat secara live. Ia menggeleng-geleng bingung menghadapi gadis indigo itu. Sebuah tepukan dipundaknya menyelesaikan penyiksaan batinnya.

"Aku sudah selesai, Naruto-kun." Ucap Hinata."Apa kita akan pulang sekarang?" tanyanya.

Naruto terdiam memberikan satu lagi minuman cola yang masih utuh untuk Hinata.

"Apa kau pernah naik bianglala di Tempozan?" Tanya Naruto.

"Bianglala?" ulangnya. Senyum Hinata merekah, itu terdengar seperti ajakan yang menakjubkan.

Naruto menggandeng tangan Hinata berjalan menuju Stasiun Namba, mereka harus menempuh kira-kira 20menitan perjalanan kereta api dan transit di stasiun Kujo dan Osakako lalu berjalan ketempat yang dimaksud. Hinata merasakan hangat tangan Naruto yang mengisi sela-sela jemarinya melewati musim dingin itu. Hangatnya juga mengaliri hati Hinata dengan kebahagiaan, Hinata pun lupa akan kegalauan yang ia rasakan tadi malam. Tempozan Giant Ferris Wheel, merupakan bianglala terbesar dijepang, pemandangan sungai dan kota Osaka yang indah bisa terlihat saat kita berada diatasnya. Malam menjelang dan lampu warna-warni terlihat indah menghiasinya. Hinata tidak sabar menanti pengalaman pertamanya menaiki bianglala takjub melihat keindahan kota Osaka dari balik jendela bianglala itu. Dari bianglala ini bisa terlihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota Osaka, pemandangan teluk di sekitarnya sangat indah terlebih dimalam hari semua berkerlip menggoda.

"Naruto-kun, apa aku boleh bertanya?" Tanya Hinata

"Mau bertanya apa? Jangan yang aneh-aneh aku tidka suka." Jawabnya sinis.

"Kenpa kau selalu mau terlihat seperti orang jahat? Kau selalu berkata sinis, padahal hatimu baik. Seperti sekarang kau mau mebelikan baju dan mengajakku kencan."

"Kencan?" Ulang Naruto, "jangan mimpi!" Katanya menunjukkan senyum a simetrisnya mengejek.

"Kenapa kau tidak mencoba jujur dan menjawab pertanyaanku, daripada harus terus sinis begitu. Kau tidak bosan terus jahat padaku?" tanaya Hinata.

Naruto terdiam, ia harus berhati-hati kali ini. Diam-diam gadis didepannya bisa menjebaknya dalam sebuah pernyataan. Tapi gadis itu benar, Naruto sudah cukup lelah untuk terus sinis pada gadis itu

"Karena aku merasa tidak mampu." Naruto mencoba menjawab, Hinata semakin bingung karena jawaban itu.

" Aku tidak mampu mengusirmu yang terus saja mengetuk pintu rumahku. Aku berniat untuk membuatmu menjauhiku, bersikap sinis dan menakutimu, karena aku tidak berani berharap banyak pada gadis kaya dan sempurna sepertimu. Tapi kau benar-benar keras kepala, kau terus saja bersikap manis dan dan membuatku semakin terbiasa, dan aku tidak mampu jujur atau bahkan menunjukkan sikapku yang sebenarnya jika aku mengakui keberadaanmu dalam hatiku. Kurasa kau benar, saat kau pergi aku mulai merindukanmu. Aku menyukaimu dan aku tidak lagi mampu untuk menahannya. Kau puas?"

Sebuah jawaban panjang lebar yang menunjukkan sebuah pengakuan terpapar. Hinata merasa ada jutaan kupu-kupu dalam perutnya, dia seperti ikut terbang bersama mereka. Sungguh itu jawaban yang sangat mengejutkan. Ia beranikan diri menatap batu saphire yang menatap kedalam lavendernya. Tidak ia dapati kebohongan disana. Hinata tak punya pertanyaan lagi. Ia sudah dapatkan jawabannya dari pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Sebuah rasa yang dirinya sendiri tak mengerti, sebuah perasaan yang juga Naruto miliki untuknya.

Naruto terbuai dalam mata yang menenangkan dihadapannya. Jantungnya kembali berdegub dua kali lebih kencang dari keadaan normal. Ia tidak menyangka ia harus mengakui perasaannya kali ini pada Hinata. Gadis yang sselalu mebuatnya bersikap sinis menutupi perasaannya sendiri. Ia tahu apa yang barusan ia katakan pada putri bangsawan itu membuatnya tak mampu berkata apapun lagi.

Kembali naruto mengikuti insting kelaki-lakiannnya, didekatkan bibirnya kebibir ranum milik Hinata. Menghapus jarak dan dinginnya musim dingin itu. Hinata tak kuasa menolak perasaannya sendiri, saat bibir Naruto terus meminta lebih lagi dan memperdalam ciumannya untuk Hinata,diapun menginginkannya. Bibir dan hati mereka saling terpaut, berbagi kehangatan dan menyesap kata-kata yang tak lagi mampu keluar dari lidah masing-masing. Membawa mereka berdua terbang tingggi ketempat yang jauh dalam penjelajahan imajinasi cinta mereka berdua. Tak ada nafsu, hanya cinta yang tersalur dari keduanya .Cinta telah bersemi dihati mereka berdua. Cinta telah mengaliri hati petarung berdarah dingin dan putri yang kabur dari istana dingin yang menyiksa. Kini mereka tinggal menunggu keberanian, mengisi hari mereka dengan sebuah konsensus atas hati mereka masing-masing bersiap menghadapi hari esok.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. kalau ada keterangan tempat yang salah saya juga minta maaf. saya sendiri belum pernah kejepang referensinya hasil googling jadi mohon maaf sekali lagi kalo ada keterangan tempat yang salah. hehhehehehhe...Terimakasih atas dukungan dan mohon maaf atas review yang tidak sempat dibalas, see you next chapter
:D