*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 9

.

.

.

.

Sasuke menatap langit yang menggelap dari balik jendela klinik Imamiya Sakura, ia duduk dengan menyilangkan kakinya dan wajahnya menggambarkan bahwa ia cukup menikmati suasana petang itu. Meskipun sebenarnya ia gelisah menanti kepulangan Hinata. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu dan berharap agar tunangannya segera datang.

Sambil menunggu, Sasuke mencoba menebak-nebak runtutan kejadian yang mungkin dialami oleh Hinata. Diperkosa dan pergi dari rumah, juga merasa tidak bisa pulang untuk sementara waktu, bukankah jika demikian kemungkinan pemerkosanya adalah orang yang bisa ditemui Hinata dirumahnya. Dirumah besar itu hanya ada Neji, Paman Hizashi dan juga Kakeknya yang jarang pulang karena lebih sering menjalankan bisnis di Amerika. Para pelayanpun semuanya perempuan, kecuali beberapa security dipintu masuk dan keluar. Jika kejadian itu terjadi dirumah, setidaknya para pelayan akan mengetahui teriakan Hinata yang berusaha mencoba melarikan diri dari pemerkosanya. Itachi juga menyebutkan bahwa hasil visum et repertum Hinata bukanlah luka hasil penganiayaan ditubuh Hinata terdapat luka bekas kecelakaan.

Lalu beralih ke tuduhan penganiayaan Neji dan penculikan Hinata oleh Uzumaki Naruto. Jika Neji sudah mendatangi kediaman Uzumaki Naruto, dan penculikan yang dilakukan dengan motif ekonomi itu benar adanya, Neji pasti menyebutkan sejumlah nominal uang yang harus diserahkan kepada Naruto sebagai ganti penyanderaan Hinata dalam tuduhannya. Tapi itu sama sekali tidak tertulis dalam tuduhannya. Neji mengalami patah tulang dan luka memar yang cukup banyak tetapi Paman Hizashi malah mencabut tuntutan puteranya sendiri dengan alasan saham Hyuga, bukan malah menjebloskan orang yang sudah memukuli puteranya sendiri. Seorang ayah yang anaknya menerima perlakuan penganiayaan seperti yang Neji terima dan malah membatalkan tuduhan puteranya terhadap Uzumaki Naruto.

.Sasuke kemudian segera menarik nafas dalam-dalam.

"Mungkinkah pelaku pemerkosanya Neji?" Tanya Sasuke dalam hati. "Paman Hizashi pun berusaha menutupi kesalahan Neji sehingga ia menarik kembali tuduhan anaknya agar kasus pemerkosaannya tidak terungkap." Gumam Sasuke dalam hati

Sesosok manusia paling ditunggu Sasukekemudian terlihat dari jendela kaca klinik Imamiya Sakura itu. Seorang gadis indigo ditengah hujan salju dan disampingnya seorang pemuda jangkung bertubuh kekar dan bersurai kuning mulai memasuki klinik.

"Hinata!" Sasuke menyapa begitu Hinata memasuki klinik. Sasuke segera meluruskan kakinya yang tadinya terlipat dan berdiri sempurna menghampiri Hinata. "Akhirnya kau datang juga.

Hinata tidak mampu berkata apapun bahkan kembali menjawab sapaan Sasuke terhadapnya. Seperti biasa Hinata lebih memperhatikan teman sekamarnya yang cukup terkejut dan tidak cukup senang dengan kehadiran Sasuke yang mendadak. Naruto yang dilihatnya sudah cukup mencair setelah menyelesaikan wahana Tempozan Giant Ferris Wheelnya dan tak lagi bermuka sinis, sekarang kembali melemparkan wajah sinisnya pada Sasuke dan Hinata sekaligus.

"Kau pasti Uzumaki Naruto, Namaku uchiha Sasuke, tunangan Hinata maaf tidak sempat menyapamu dengan baik saat dikantor polisi." Sasuke berojigi pada Naruto sambil memperkenalkan diri, Narutopun membalas ojigi yang sama tanpa bicara apapun.

"Duduklah, Hime-chan aku ingin bicara padamu." Sasuke mempersilahkan Hinata untuk duduk disebuah kursi panjang yang tadi sempat ia duduki, Hinatapun menurut.

Sasuke berniat untuk mengikuti Hinata dari belakang, tapi Naruto mendahuluinya. Narutopun duduk disamping Hinata, padahal ia tidak disebutkan untuk ikut dalam undangan duduk itu. Sasuke terpaksa duduk dikursi yang menghadap mereka berdua.

"Kau habis berbelanja, Hime-chan?" Tanya Sasuke.

Hinata dan Naruto tidak menjawab apapun. Mereka masih bungkam. Sasuke menghela nafas sebelum akhirnya memanggil kembali Hinata-nya.

"Hime,..."
"Sasuke-Ni," Potong Hinata. "Apa maksud kedatanganmu kemari?"

Sasuke tersenyum simpul, "Yang pertama jelas karena aku merindukanmu, dan aku tak kunjung bisa menghubungi ponselmu. Apa ada yang salah jika aku mengunjungi tunanganku sendiri?" Tanya sasuke ramah seperti biasa.

Hinata masih bungkam,tak menunjukkan ekspresi apapun berbeda dengan manusia kalimat itu menunjukkan kegusaran di wajah Naruto, Naruto memilih membuang muka agar Sasuke tidak menangkap raut wajahnya yang seperti itu. Gadis yang baru beberapa jam lalu diciumnya sekarang sedang digombali tunangannya tepat dihadapannya. Sepertinya sekarang giliran Naruto yang menghela nafas lalu membuangnya. Mungkinkah Sasuke bisa melihat uap panas mulai keluar dari telinganya karena ucapan Sasuke pada Hinata?

"Yang kedua karena kau lupa memakai ini." Sasuke mengeluarkan cincin berlian merah dari sakunya dan meletakkannya dimeja.

Hinata melihatnya, itu adalah cincin miliknya. Cincin yang sama saat ia berikan kepada kawanan yang datang memukuli Naruto hari itu. Cincin yang selama empat tahun pernah dipakainya dan membelenggunya dengan status tunangan tuan muda Uchiha.

"Tunanganmu adalah seorang Hyuga , Sasuke-ni." Hinatapun menjawab. "Dan aku yakin kau sudah tahu bahwa aku bukanlah seorang Hyuga lagi sekarang." Hinata menajamkan kalimatnya.

Ada sebuah senyum yang tertahan, terlukis dari bibir Naruto, dia berharap dua orang didekatnya itu tak melihatnya.

"Bodoh!" Sakura berteriak kecil dari balik dinding pembatas yang menghalangi mereka dengan ruangan obat, "Hinata benar-benar bodoh meninggalkan pria seperti Sasuke! Awas saja ya,.. kalau kau kembali pada Sasuke! Sasuke bisa jadi milikku nanti."

"Hime-chan, aku kesini ingin minta maaf karena aku tidak ada disaat masa tersulitmu, padahal aku sudah berjanji untuk selalu menjagamu. Dan aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi denganmu." Ucap Sasuke menjelaskan. "Aku khawatir padamu, biarkan aku membela dan membawa kebenaran untukmu."

"Terimakasih, Sasuke-ni. Kau sangat baik. Tapi, kali ini tidak ada kebenaran yang harus aku jelaskan, aku pergi dari rumahpun itu adalah keinginanku sendiri tak ada hubungannya dengan apapun. Dan terima kasih sudah menjagaku selama ini."Tepis Hinata,menolak.

Sasuke sadar, gadisnya itu sedang mencoba mengajukan gugatan putus dengannya. Sasuke diam memikirkan keputusannya sambil terus menatap mata Hinata yang kali ini hanya tertuju padanya, menunjukkan keseriusannya untuk putus. Sasuke tidak pernah menangkap perasaan semacam itu pada Hinata selama ia mengenalnya. Hinata yang anggun, pendiam, kalem dan juga jarang berani menatap kedalam onix-nya sendiri kini berani menatap mata Sasuke cukup lama. Haruskah Sasuke menuruti keinginan gadisnya? Ditimbangnya lagi baik-baik keputusan yang akan segera diambilnya.

"Baiklah, aku mengerti." Sasuke menghela nafas berat sebelum menghembuskannya dari mulutnya. "Tidak mudah memang menjalani hubungan pertunangan ini selama empat tahun lamanya. Dan aku tahu kita sama-sama masih muda. Aku juga mengenalmu dengan cukup baik Hime-chan jadi aku akan memberikanmu waktu."

Hinata langsung mengubah ekspresinya, ia benar-benar tidak habis pikir ada manusia sesabar si raven yang duduk dan menatapnya sekarang. Narutopun semakin gelisah, bagaimana jika Sasuke berhasil membujuk Hinata. Tapi iapun tidak punya hak apapun melarang Hinata atau mempengaruhi keputusan yang akan dibuatnya.

Sasuke tersenyum dengan matanya yang meneduhkan, "Tidak apa Hime-chan, jika kau bosan padaku. Aku akan tetap berusaha percaya padamu dan menunggu sampai kau kembali padaku. Aku yakin hatimu yang sekarang hanya sesaat. Dan pada akhirnya kau akan kembali padaku setelah kau lelah dan menyadari hanya aku tempatmu kembali." Ujar Sasuke mantap.

"Ahhh... aku benar-benar iri pada Hinata! Kenapa bukan aku saja yang jadi Hinata? Aku pasti akan segera berlari pada pria kaya yang baik dan setampan Sasuke! Hinata benar-benar melwatkan kesempatannya. Seleramu benar-benar buruk, Hinata." Sakura kembali berbisik kecil.

Jika Sasuke dengan tenang menghadapi gadisnya, berbeda dengan Naruto yang mulai gemas dengan pria dihadapannya. Sasuke mengatakan hal yang sedemikian artinya ia tidak memberikan izin penyelesaian hubungan mereka disini. Dan status tunangan Uchiha Sasukepun masih melekat pada Hinata.

"Dan pakailah kembali cincinmu!" Sasuke mengambil cincin yang tadi ia letakkan dimeja dan mencoba meraih tangan Hinata untuk memasangkannya.

Naruto segera menyahut tangan yang hampir dipasangi cincin itu dan menggenggamnya dengan erat. " Ayo pulang sekarang, Hinata!" Ajak Naruto yang sudah berdiri dari posisi duduknya.

Sasuke meneguk ludahnya bersamaan dengan nafas beratnya, "Aku akan menjaga cincinmu sampai kau kembali, Hime-chan. Dan kupastikan tak ada yang berani menyentuhnya atau memakainya selain dirimu." Ucap Sasuke tenang.

Naruto menarik tangan Hinata dan menggiring Hinata untuk pergi dari ruangan itu. Tapi sebelum ia sempat melangkahkan kaki mengikuti naruto lebih jauh, sasuke memanggil Naruto.

"Uzumaki-san!" Panggil Sasuke. Narutopun menghentikan langkahnya tanpa menoleh, hanya Hinata yang menatap kearah pemilik suara. "Tolong jaga tunanganku dengan baik sampai dia kembali padaku, dan maaf sudah banyak merepotkanmu." Sasuke berojigi menunjukkan terimakasihnya sebelum Naruto berlalu membawa Hinata pergi menjauh dari pandangannya.

Sakura keluar dari tempat persembunyiannya mengupig dan mendekati pria raven yang kini tertinggal sendirian di kliniknya. Tidak ada raut wajah penuh amarah atau bahkan kecemburuan dalam wajah sang tidak pernah mengerti cara mencintai yang seperti itu.

"Tuan Jaksa, kau sudah gila ya? Kau bilang kau menyayangi tunanganmu, tapi kau malah membiarkan dia pergi dan menunggu dia kembali padamu. Hubungan macam apa itu? Bagaimana mungkin kau bisa jadi seorang jaksa penuntut umum dengan otak seperti itu.?" Sakura sewot.

Sasuke tersenyum,"Tidak apa-apa jika Hinata menyerah sekarang aku akan memberikan dia waktu tapi aku tidak pernah menyerah pada Hinata. Jadi anggap saja jika aku sedang bertaruh untuk mendapatkan hati Hinata kembali."Jawab Sasuke

"Lalu bagaimana? Bagaimana jika hati tunanganmu tidak kembali padamu? Apa kau bisa menerimanya,huh?" selidik Sakura.

"Kalau sampai itu terjadi, jika aku sudah berusaha dan masih tetap hasilnya hatinya tidak kembali padaku...aku akan merelakannya. Tapi aku tidak menjamin aku bisa berhenti untuk tidak menyayanginya." Sasuke kembali tersenyum

Sakura melongo benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin pria dihadapannya punya pemikiran nyeleneh. Karena dalam kamus Sakura jika dia sudah mencintai seseorang, maka Sakura tidak akan membiarkan orang lain masuk diantara mereka bahkan melepaskan orang yang dicintainya. Sakura akan memilih bertahan sampai akhir dan memilih melawan takdir jika memang harus begitu.

"Terimakasih, Haruno-san. Mungkin beberapa hari lagi aku akan kesini menengok Hinata. Maaf aku sudah banyak merepotkanmu. Selamat malam." Ucap Sasuke sambil melambaikan tangan dan semakin menghilang dari pandangan Sakura.

"Jangan kembali lagi, kau bisa membuatku jatuh cinta jika kita bertemu lagi!" sakura berucap lirih.

.

.

.

.

Naruto membuka pintu apartemennya yang menuju arah balkon dengan keras. Sudah jelas suasana hatinya sedang buruk sekarang. Ia merasa bingung sendirir terhadap perasaannya pada Hinata. Bebrapa jam lalu ia seperti terbang kelangit tertinggi dengan perasaan yang ringan dan menenangkan tapi kemudian harus rela terjun bebas dari langit itu ke dasar bumi terdalam. Bagaimana tidak? Naruto pantas patah hati bukan? Hinata adalah tunangan orang lain dan Hinata tidak resmi putus dengan Uchiha Sasuke yang ditermuinya bberapa waktu lalu.

Sambil berkacak pinggang, Naruto berjalan memutari balkonnya dengan tidak tenang. Ya, dia merasa punya saingan. Ia memang terbiasa bersaing dan bertanding untuk memenangkan sebuah pertandingan diatas ring. Tapi jika itu urusannya wanita, dia tidak pernah sama sekali. Terlebih saingannya nyaris sempurna. Didunia ini jika diadakan sebuah jajak pendapat dimana gadis-gadis diharuskan antara dia dan Sasuke, maka jawabannya pasti Sasuke begitu pikirnya. Pria baik, kaya, pekerjaan mapan, penyabar, dan sangat sopan pasti bisa membuat siapapun jatuh cinta dengan mudah. Berbeda dengan dirinya yang berwajah pas-pasan,dengan pekerjaan yang manaruhkan nyawanya sendiri serta tidak punya cukup materi apapun untuk bersaing. Naruto merasa kalah telak.

Sekarang diapun merasa bahwa Hinata yang sempurna memang diciptakan untuk pria sesempurna didongeng-dongeng diceritakan bahwa seorang putri akan selalu berjodoh dengan pangeran. Sasuke adalah pangeran yang mungkin dibutuhkan oleh Hinata walaupun Hinata baru saja mengajukan proposal putusnya pada Sasuke, Sasuke tidak mengiyakan. Lalu apa haknya uring-uringan dan menarik pergi Hinata? Hinata bukanlah kekasihnya, Hinata adalah tunangan Sasuke yang resmi. Justru dialah yang jadi pemeran antagonisnya yang berusaha merebut sang putri. Sekalipun ia sudah memproklamirkan perasaannya pada Hinata, Naruto sendiripun tidak yakin jika Hinata akan memilih dan membalas perasaannya.

"Naruto-kun.." Hinata mendekati Naruto yang sedang gusar di balkon itu. "diluar dingin, kenapa tidak masuk?"

Naruto mendengus kesal dan memalingkan muka, "Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya tunangan,huh?"

"Apa itu perlu ?" Hinata balik bertanya dengan polosnya.

Naruto mendesis dan menatap tajam kearah Hinata, "Kau ini ya... bodoh atau polos? Kalau kau punya tunangan dari awal harusnya kau minta tolong sana kepadanya! Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menjagamu, bahkan sampai harus berkelahi dan semalaman dikantor polisi karenamu!"

Bukannya malah merasa bersalah Hinata malah kembali bertanya, "Apa jika aku tidak punya tunangan, kau akan mau terus menjagaku?"

Naruto mengetuk-ngetukkan ujung kakinya dengan kesal. "Kau berhentilah bersikap manis!" Naruto menuding Hinata dengan telunjuknya Hinata jadi mengerucutkan bibir mungilnya salah tingkah.

"Jangan mentang-mentang kau sudah tahu perasaanku dan sekarang kau mencoba mempermainkan perasaanku, ya!" Naruto mengancam. "Kalau memang benar berniat putus dengannya kenapa tidak sekalian bilang dihadapannya kalau kita sudah berciuman dua kali?"

Api cemburu sudah menguasai Naruto sekarang. Naruto sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Naruto menghela nafas berat dan mengacak surai kuningnya dengan frustasi. Kepalanya kian pusing memikirkan si gadis indigo yang notabene adalah tunangan orang lain disaat perasaannya untuk Hinata kian bersemi. Naruto kini memilih diam dan membelakangi Hinata.

Hinata tersenyum dibalik punggung tegap Naruto, kini ia tahu bahwa Naruto menyukainya. Naruto juga cemburu pada Sasuke, Hinata merasa puas sekaligus lucu. Hinata merasakan ada jutaan kupu-kupu dalam perutnya terbang bebas menerbangkan perasaan bahagianya.

"Naruto-kun, kau sedang cemburu ya?Hihihi" Hinata terkikik.

Naruto kembali menutupi perasaannya dengan ekspresi sinis. "Cemburu, katamu?" ulang Naruto dengan kesal.

Hinata masih tidak bisa menahan tawanya dan berusaha menutup mulut kecilnya dan satu tangannya dan tangannya yang lain memegangi perut kecilnya yang sakit karena tawa itu.

"Tertawa saja terus, sana!Puas kau mempermainkanku!" Naruto kesal. "Lagipula aku sudah tahu kau hanya sedang memanfaatkanku karena perasaan bosanmu pada tunanganmu kan? Kau pasti akan kembali lagi pada tunanganmu jika sudah saatnya."

Hinata menghentikan tawanya. Diraihnya rahang tegas Naruto agar hanya dia seorang yang jadi fokusnya sekarang.

"Dengar baik-baik Naruto-kun... Kami memang dijodohkan sejak kecil dan bertunangan secara resmi tapi aku tidak pernah merasakan jatuh cinta padanya. Menurutku, kedewasaan Sasuke-ni membuatku merasaakan ia seperti kakakku sendiri. Kami bahkan tidak pernah berpegangan tangan atau berciuman. Segalanya sudah diatur sesuai kehendak tetuakami. Kami bahkan tidak pernah bisa menolak atau membantah sebuah aturan."

Naruto terdiam, ia mencerna baik-baik ucapan gadis indigo yang sedang menatap kedalam matanya itu.

"Apa kau jatuh cinta padaku?" Tanya Naruto polos dan ragu-ragu, ia tidak yakin jika Hinata mengiyakannya.

"Bagaimana ya,..." Hinata menaruh satu telunjuknya didagunya dan matanya memandang langit musim dingin yang penuh bintang, mencari jawaban dan penjelasan yang tepat untuk Naruto. Tawanya kembali pecah saat melihat ekspresi Naruto begitu mengharapkan jawaban 'ya' dari bibirnya.

"Hihihi... Naruto-kun,.."

"Hentikan!" Seru Naruto yang kesal karena Hinata menertawakannya, ia kemudian mulai melangkahkan kaki dan mencoba beranjak masuk kerumahnya.

GREP

Hinata menarik tubuh Naruto dan melingkarkan tangannya dipinggang Naruto dari belakang. Mengeliminasi jarak dan kemarahan pemuda surai kuning itu.

"Aku tidak pernah menginginkan apapun didunia ini karena aku punya semuanya,... semua sudah ditentukan dan disiapkan untukku. Tapi saat aku bertemu denganmu, aku punya keberanian untuk memilih. Aku berani meminta sesuatu untukku sendiri, aku punya sebuah keninginan. Dan keinginan terbesarku saat ini cuma satu... berada disampingmu."

Naruto membalikkan badannya menatap mata bulan Hinata dan mencari kebenaran disana. Ada sebuah kejujuran dari pengakuan gadis itu. ia tersenyum melihat lelakinya sedang menanti pengakuan yang jauh lebih serius darinya. Mau tidak mau Hinata harus melepaskan pelukannya. Ia masih terus menatap sapphire biru itu lekat-lekat

"Tidak percaya?" tanya Hinata, Naruto masih bungkam, tapi matanya sudah tidak lagi sinis seperti tadi.

"Bolehkah aku berada disisimu, Naruto-kun? Aku tidak butuh apapun lagi selain dirimu,... yang aku butuhkan hanya kamu,...uang, harta,kekuasaan, bahkan pertunanganku atau apapun yang ada didunia ini bisa aku tinggalkan. Tapi aku tidak sanggup lagi jika aku harus jauh darimu. Aku merindukanmu sepanjang waktu dan perasaan itu seperti membunuhku. Aku merasa ada lubang dalam perutku yang tidak pernah bisa kututupi saat kau tidak ada. Aku tidak mengerti dengan perasaanku ini, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Apa kau juga merasakan hal yang sama sepertiku, Naruto-kun?"

Naruto merasa terhipnotis saat Hinata menceritakan panjang lebar tentang perasaannya. Matanya hanya menatap lekat-lekat gadis indigo dihadapannya. Ungkapan gadis itu membuatnya seakan tidak berpijak di bumi. Tatapan mata Hinata yang sayu menatapnya penuh cinta membuat jantungnya kembali berdegup. Kali ini Naruto tahu jika gadis itu sudah memantapkan hatinya untuk memilih Naruto.

Kedua mata Hinata terpejam sempurna ketika merasakan sesuatu yang lembab menekan bibirnya lembut, melumatnya, mencurahkan semua perasaannya saat ini , tangan Naruto bergerak menekan tengkuk Hinata membuat ciuman mereka semakin dalam dan bergairah. Kedua insan itu mulai terbuai, saling melumat satu sama lain, tak peduli angin musim dingin bertiup mencoba memisahkan, mereka tetap saling berbagi kehangatan. Selama enam menit berlalu, bibir mereka masih bertautan dengan mesranya. Merasa Hinata sudah hampir kehabisan nafas, ciuman Naruto turun menuju leher putih Hinata. Hinata menggeliat kecil ketika Naruto menghisap lehernya dalam-dalam, meninggalkan beberapa tanda merah keunguan disana menandakan Hinata adalah miliknya sekarang. Hinata hanya bisa meleguh karena tindakan Naruto semakin mencengkram kuat bahu Naruto ketika Naruto melumat bibirnya kembali. Jantungnya berdegub sangat kencang saat ini.

"Aku hampir gila saat kau jauh dariku, jadi jangan coba-coba jauh dariku lagi, Hinata." Ucap Naruto ketika ia melepas ciumannya. Naruto mendekapkan lengan kekarnya ketubuh mungil dihadapannya, dan Hinatapun membalas sebuah anggukan dalam pelukan itu.

Kini tidak ada lagi kebohongan diantara keduanya. Tidak akan ada lagi yang saling menutupi perasaan satu sama lainnya. Naruto mencintai Hinata dan begitu pula sebaliknya.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan,tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. Maunya sih adegan ciuman panasnya langsung berakhir diranjang tapi entar kesannya terlalu terburu-buru disimpen abis lebaran aja ya... hehhehehehhe... saya mau nyelesein 20kg kue kering dulu tapi saya usahakan update secepatnya semampu saya...Terimakasih atas dukungan dan mohon maaf atas review yang tidak sempat dibalas, see you next chapter
:D