*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 10

.

.

.

.

"Katakan apa yang terjadi padaku!"

Itachi menggebrak meja dihadapannya dengan keras. Seorang polisi gendut tengah terintimidasi dengan gebrakan itu. Kini ia kebingungan apa yang harus dia katakan pada atasannya. Ia tidak bisa mengungkapkan suatu hal yang bisa membuka aibnya sendiri, menerima suap agar menjebloskan seseorang di balik jeruji besi.

Sasuke menepuk pelan bahu kakaknya yang sudah mulai emosi menghadapi bawahannya.

"Akimichi Chouji, jika kau buka mulut tentang apa yang terjadi dan meminta maaf atas kesalahanmu mungkin kau hanya menerima sanksi ketidak disiplinan,tapi... jika kau tetap bersikeras tidak mengaku maka kaupun akan kami tetapkan bentuk keterlibatanmu sebagai tersangka." Sasuke mulai angkat bicara, "Kau melindungi tersangka utamanya, dan berkomplot pada pihak penjahat."

Akimichi Chouji bergemetaran tak karuan. Keriangat dingin mengaliri tubuh tambunnya, ia kini memetik hasil dari pilihan cerobohnya.

"B-baik, saya akan mengaku." Ucapnya dengan terbata-bata

Flashback on

"Kalian harus segera menangkap pria bernama Uzumaki Naruto!Dia sudah berani membuatku jadi begini! Dia juga sudah berani menculik adik sepupuku." Neji berteriak di kantor polisi distrik Kamagasaki.

"Apa anda memiliki bukti atas tuduhan yang anda berikan?" Tanya Chouji.

" Bukti?" Ulang Neji. "Bukti apalagi yang kalian butuhkan, ... sepupuku sudah ditawannya selama seminggu menurut kalian masih kurang?Kalian harus segera menangkap manusia berbahaya seperti dia!"

"Apa anda memiliki bukti jika dia meminta sejumlah uang tebusan pada anda, via sms, telepon, atau semacamnya?" Tanya Chouji lagi

Neji tercekat, ia kebingungan.

"Apa kau tahu siapa yang sedang diculik? Dia adalah calon adik ipar dari kepala kepolisian kota Osaka, dan kupastikan kalian bisa mendapatkan masalah jika terlalu memngulur waktu untuk tidak menyelamatkannya. Berikan teleponnya padaku! Aku akan segera mengatakan hal ini ke pada Itachi-ni!" Ucap Neji sembari mengancam.

Chouji mencoba menyambungkan Neji kepada orang yang baru saja di sebut-sebut sebagai kepala kepolisian kota Osaka itu.

"Moshi-moshi,..." Sapa Chouji pada Itachi lewat telpon dengan penuh hormat, " Konichiwa Gosaimasu.. Disini..."

"Hallo Itachi-ni!" Neji segera mnyambar telpon dalam genggaman tangan Couji itu dengan cepat dan kini beralih ketangannya. "Ya, Hinata diculik kau harus segera mennagkap pelakunya! Sudah seminggu dia menghilang dan aku menemukannya di Kamagasaki. Aku berusaha mengajaknya pulang tapi malah diserang oleh orang yang menculik Hinata. Kau harus cepat-cepat menolong Hinata. Orang yang menculiknya sangat berbahaya!"

Itachi mengiyakan agar berkas pengaduan Neji segera diproses dan dilaksanakan agar bisa segera menyelamatkan Hinata. Itachi meminta Chouji untuk melaksanakan sesuai prosedur sekalipun Hinata adalah tunangan Sasuke, adiknya sendiri. Dan Chouji mengerti.

"Untuk menangkap seseorang dengan tuduhan yang anda berikan," Chouji menjelaskan prosedur penangkapan yang biasa ia laksanakan, " anda harus punya cukup bukti, atau minimal dua orang saksi jika tidak anda tidak bisa..."

"Ini,...ini cukup untuk membeli barang bukti mu bukan? Aku hanya perlu membawa Hinata pulang, terserah mau kau apakan orang itu!." Neji memotong penjelasan Chouji dengan mengeluarkan beberapa lembar ribuan yen dari dalam dompet kulit miliknya.

Dengan tidak banyak bicara lagi Chouji menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk menjemput Uzumaki Naruto, si penculik yang dimaksud Neji. Beberapa orang dari kepolisian segera dikerahkan untuk mencari keberadaan Naruto. Mereka membuntuti Naruto yang pergi bertarung di arena tinjunya lalu mengikuti Naruto yang pulang kerumahnya sebelum akhirnya membawa Naruto dari rumahnya untuk di interograsi. Merka berhasil membawa pula Hinata, si korban penculikan.

"Uzumaki Naruto, usia 23 tahun, tinggi 180cm dan berat 74kg berprofesi sebagai petinju. Tempat tinggal apartemen Imamiya No.409." Kata Chouji menyebutkan biodata Naruto."

Dan korban Hyuga Hinata, usia 22 tahun, tinggi 165 dan berat 48kg berprofesi sebagai mahasiswa jurusan seni rupa di Universitas Konoha, tinggal di Hyuga Mansion-Konoha." Choujipun juga menyebutkan biodata Hinata setelahnya.

" Kapan kau bertemu dengan korban?" Tanya Chouji yang mulai mengintrograsi Naruto sambil mengetik laporan.

"Kira-kira seminggu yang lalu." Jawab Naruto singkat.

"Berapa lama kau mengenal korban?"

" Aku tidak mengenalnya, dia sendiri datang kerumahku dengan luka-luka ditubuhnya dan dalam keadaan pingsan,lengan bajunya terlihat dirobek. Aku hanya menolongnya dan mengijinkannya tinggal bersamaku untuk sementara waktu." Naruto menjelaskan.

"Apa motifmu menyandera korban?... apa itu karena uang, dendam atau..."
"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya menolongnya."

"Berapa jumlah uang yang kau minta pada keluarga korban sebagai tebusan?"
"Kau tidak dengar ya,... aku tidak meminta apapun pada keluarganya. Aku bahkan tidak mengenal siapa keluarganya. Aku juga tidak menghubungi keluarganya sama sekali. Dia sendiri yang melarangku untuk menghubungi keluarganya. Dia tidak mau dijemput keluarganya!"

"Lalu bagaimana kau bisa memukul Hyuga Neji tanpa alasan yang jelas?"
"Gadis itu tidak mau dijemput oleh sepupunya, dia bilang jika sepupunya itulah yang memperkosanya. Sepupunya itu membawa beberapa orang untuk memukulku dan mengajak paksa Hinata pulang. Aku hanya membela diri dan menyelamatkan gadis itu saja, karena dia ketakutan oleh dibawa oleh sepupunya itu!" Tandas Naruto.

Mengetahui bahwa pria yang ada dihadapannya bukanlah orang yang bersalah. Chouji mulai menyadari bahwa masalah yang dihadapinya akan jadi semakin besar. Ia sendiripun tidak punya cukup bukti yang mengarah pada Naruto. Chouji mulai mencari cara lain untuk memojokkan Naruto.

"Benarkah? Kau berani melakukan tindakan penganiayaan pada orang yang kau baru saja temui, tidak menutup kemungkinan bahwa kau melakukan tindakan hal yang demikian pada gadis itu. Kita akan menunggu hasil visum et repertum korban. Benarkah ada luka atau bukti-bukti yang bisa membantu untuk penyelidikan kasus ini." Ucap Chouji.

Tapi bukti hasil visum et repertum Hinata tidak menunjukkan hal yang demikian.

Terdapat bekas luka memar dengan diameter 3centimeter di ujung dahi sebelah kanan yang sudah mulai mengering. Pada siku lengan kiri dan kanan, ditemukan adanya luka lecet serut dengan ukuran lima centimeter kali enam centimeter. Pada kaki kiri korban, ditemukan sebuah luka lecet di bawah lutut kiri yaitu lima sentimeter dibawah lutut kiri, berukuran empat kali lima koma dua sentimeter, berbentuk oval yang mulai mengering. Semua luka teridentifikasi sebagai luka abrasi yang bersifat superfisial dan hampir sembuh dan mengering. Luka yang didapatkan oleh korban diperkirakan sudah berusia lima hingga enam hari.

Sadar bahwa hasil visum Hinata akan membahayakan Chouji, Chouji hanya bisa bermain-main dengan pemuda surai kuning dihadapannya. Jelas dia akan mendapat masalah lebih lanjut jika ia tidak segera menyelesaikannya sebelum Itachi dan atasannya mngetahui dengan jelas seluk-beluk kasus ini Ia mencoba menghubungi nomor telepon yang ditinggalkan Neji untuknya dan menceritakan jika Neji tidak menarik tuduhannya maka dengan mudah kebusukan dari kasus dan alat bukti rancu tersebut akan segera jadi boomerang untuk Neji sendiri. Akhirnya Chouji hanya bisa memilih terus mengulang pertanyaan-pertanyaan yang sama pada Naruto.

"Uzumaki Naruto, tolong jelaskan apa motifmu menculik Hyuga Hinata?"

Naruto menunjukkan kebosanannya, " Apa kau tuli, Huh? Sudah berapa kali kukatakan aku sama sekali tidak menculiknya. Dia sendiri yang datang kerumahku malam itu. Mau ditanya berapakalipun jawabanku akan tetap sama."

"Lalu kenapa kau menghalangi Hyuga Neji menjemput dan menganiayanya?"

"Aku benar-benar bosan menjelaskan, kenapa kau tidak tanyakan saja pada gadis itu dan orang-orang yang melihat kejadian itu. Siapa yang sudah memukul lebih dulu."

Seorang pria paruh berusia sekitar lima puluh tahunan itu segera memasuki ruangan intrograsi, dibelakangnya ada seseorang yang sangat Chouji kenal. Orang yang sama yang telah memberikan beberapa ratus yen untuknya tadisiang dengan lengan digendong terbalut perban. Dari wajah mereka yang sangat mirip, Chouji dapat menebak jika keduanya adalah ayah dan anak.

"Saya rasa ada kesalahpahaman yang harus saya luruskan disini." Hizashi memotong proses interograsi yang tengah berlangsung itu. "Puteraku yang memulai perkelahian karena panik dan tidak mengenali anda sebagai penolong keponakanku. Jadi kami putuskan untuk mencabut tuntutan atas tuduhan penganiayaan dan penculikan. Itu hanya salah paham saja. Saya harap pak polisi bisa mempermudah proses pembebasan pemuda ini."

Hizashi segera menempelkan sebuah amplop saat datang dan menyalami Chouji

"Oh, ya.. pasti tentu. Sebentar, akan segera kupersiapkan segalanya." Choujipun segera berdiri dan mengambil beberapa berkas diruang sebelah meninggalkan mereka bertiga berbicara 6mata sekaligus.

Flashback off

"Beraninya kau menerima suap dan bertindak memalukan Akimichi!" Itachi berteriak, tangannya terkepal dan kembali membanting meja yang ada dihadapannya. "Kau harusnya malu dengan tindakanmu!"

"M..mmm...Maaf Komandan, saya benar-benar minta maaf. Saya benar-benar terlena oleh uang dan melakukan hal yang memalukan saya harap anda masih bersedia memaafkan saya. " Chouji berojigi menyesal atas perbuatannya.

"Kau! Kau selama tiga bulan kedepan gajimu akan dipotong dan kau sudah bukan lagi kepala kepolisian distrik Kamagasaki. Sekarang ambil topimu dan mulailah berpatroli!" Seru Itachi tegas.

"Haiikk." Ucap Chouji segera berlari melaksanakan tugasnya.

Sasuke menghela nafas berat, setelah dia mengetahui kejadian sebenarnya tentang Hinata. Ia tidak menyangka Neji berani berbuat demikian pada adik sepupunya sendiri. Mungkin Sasuke juga harus berterimakasih pada Naruto yang sudah mematahkan tangan Neji untuknya. Sekalipun Sasuke lebih memilih mematahkannya sendiri jika ada kesempatan.

"Bagaimana sekarang?" Itachi membuyarkan pemikiran Sasuke tentang Hinata.

"Ya,... aku harus segera ke Konoha dan menjelaskan hal ini pada Hiroshi-Ji sama. Lalu aku juga akan menceritakan perbuatan paman Hizashi dan berharap dengan begitu Hinata bisa diajaknya kembali pulang kerumah. Bagaimanapun tinggal di Kamagasaki adalah hal buruk untuk gadis seperti dia." Ucap Sasuke.

Itachi mengangguk menyetujui langkah adiknya.

.

.

.

.

Hinata sedang sibuk meletakkan beberapa sendok nasi diatas hamparan nori dan makisu yang sebelumnya sudah ditata kemudian menata telur, alpukat, daging ikan salmon dan potpngan mentimun lalu menggulungnya bersama dalam makisu. Sudah terlalu siang untuk sarapan jadi sushi menjadi pilihan hidangan utama siang itu. Tubuhnya mendadak memanas saat sebuah tangan menjalari pinggang rambingnya dan bertengger diperutnya yang rata. Ia tahu tak ada lagi yang bisa melakukan itu diruangan tertutup seperti ini selain dia. Dia yang rela berbagi kamar dengan Hinata dan membuat Hinata merasa jatuh cinta, Uzumaki Naruto.

"Ohayo,.. Hinata." Sambil meletakkan dagu beratnya di tengkuk Hinata Naruto kian merapatkan tubuhnya pada gadis yang ada dalam pelukannya itu.

"Ini sudah siang, Naruto-kun, kau harusnya mengucap selamat siang!" ujar Hinata sambil tersenyum, tangannya masih sibuk memotong sushi buatannya.

"Hari ini aku akan latihan sampai malam. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu disini sendirian, terlalu berbahaya." Ucap Naruto. Kini Naruto mencoba menghirup aroma lavender dari rambut halus indigo Hinata. Memainkan beberapa anak rambut yang nakal dan mencoba ikut dalam kegiatan Hinata memasak.

"Berarti kau mau mengajakku?" Tanya Hinata sumringah. Hinata menyuapkan salah satu potongan sushinya untuk Naruto.

Naruto segera mengunyah dan menelan potongan sushi itu sebelum menjawab pertanyaaan Hinata," Tidak, aku akan menitipkanmu pada Sakura."

"Memangnya Sakura anjing pelindungku apa?" Hinata mulai kesal karena Naruto tidak mengajaknya pergi.

"Ya,... dia bisa menyalak lebih keras dan menggigit orang jahat sampai rabies." Naruto membenarkan sambil tersenyum.

Hinata tertawa. Naruto memundurkan tubuhnya dan bersandar pada dinding apartemennya.

"Aku tidak tahu kau cukup punya selera humor, Naruto-kun!" Hinata terbahak. "akhirnya kau tak lagi sinis padaku."

"Kau lebih suka kumarahi ternyata! Baiklah aku akan memarahimu setiap hari kalau begitu." Sahut Naruto sambil melipat kedua tangannya.

"Aku suka kau yang apa adanya seperti kemarin. Tidak menyembunyikan perasaan apapun untukku." Kata Hinata yang berhambur begitu saja pada pemuda surai kuning. Mereka saling berpelukan dan dimabuk cinta.

"Ayo pergi sekarang, aku bisa terlambat untuk latihan. Kau sudah mandikan?" Tanya Naruto.

"Sudah, tapi kau sendiri tidak mandi?" Tanya Hinata.

"Aku mandi nanti saja sehabis latihan." Seru Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hinata hanya mendengus dan mengetahui kalau itu alasan Naruto menutupi kebiasaannya malas mandi.

Hinata segera menata dan memasukkan sushi buatannya pada dua kotak bento berbeda. Yang satu untuk Naruto dan sisanya untuknya sendiri lalu bergegas pergi ke klinik Sakura. Sesampainya disana mereka bertemu dengan Sakura yang sibuk dengna berkas-berkasnya.

"Konichiwa Sakura-san!" Sapa Hinata ramah, Naruto merasa tidak perlu memberi salam pada Sakura karena itu bukanlah kebiasaannya.

Sakura mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dirapikannya kearah tangan Hinata-Naruto yang saling bertautan.

"Kau!" Sakura menuding genggaman itu, " Kau membuat sebuah keputusan yang salah meninggalkan pria seperti Sasuke untuk si bodoh seperti dia!Kau benar-benar tidak punya selera! Jangan menyesal yaa,...aku bersumpah kalau sampai Sasuke bertemu lagi denganku aku akan membuat Sasuke jatuh cinta padaku dan membuatnya tidak akan pernah kembali lagi kepadamu!" Ucap Sakura yang masih sewot dengan pilihan Hinata, ia memilih berkacak pinggang dan mendengus.

Hinata hanya tertunduk lesu, Naruto mencoba menjawab omelan gadis bersurai pink itu. "Hinata kan sudah minta putus, salah dia sendiri tidak memberi keputusan pada Hinata, malah minta tetap bertahan!"

"Ehm... etoo Sakura-san mau mengambil Sasuke-ni?." Tanya Hinata.

"Ya, memang kenapa?" Tanya Sakura balik. "Kalau bertemu lagi dengannya aku bisa jatuh cinta dengannya."

Hinata dan Naruto saling tertawa, nampaknya Sasuke menemukan salah satu penggemarnya disini.

"Boleh, kok!" Jawab Hinata. "Aku sudah mendapatkan yang aku mau, jadi Sasuke-ni untukmu saja." Jawab Hinata sambil menatap penuh cinta pemuda surai kuning dihadapannya, begitupun sebaliknya yang dilakukan oleh Naruto.

Sakura mulai geram, "Ahhh dasar kalian ini!"

"Kau mau pergi kemana, Sakura-san?" Tanya Hinata

"Aku mau ke konoha, ada seminar kedokteran herbal, mungkin aku akan pulang malam. Aku juga mau membeli bebrapa obat-obatan yang sudah hampir habis. Apa dia meninggalkanmu disini selama latihan?" Tanya Sakura sambil mendongakkan kepalanya kearah Naruto.

"Sepertinya begitu. " Jawab Hinata.

"Tidak apa, kau disini bersama Konohamaru. Dia akan menjagamu selama aku pergi dan kalau kau lapar ada makanan beku dikulkas tinggal kau hangatkan!" Ucap Sakura.

Sakura dan Naruto berpamitan pada Hinata. Meninggalkan gadis indigo itu di klinik kecilnya. Dan akan segera menemuinya jika urusan mereka masing-masing sudah selesai. Hinata melambaikan tangan dan berteriak hati-hati.

.

.

.

.

Sakura sudah menyelesaikan seminarnya satu jam yang lalu. Dan setelah berhasil mendapatkan beberapa tanaman obat-obatan herbal kering dia berjalan menyusuri jalanan kota Konoha. Langkah kaki kecilnya menuntunnya terus berjalan menuju stasiun di pinggiran kota itu. Tidak seperti Kamagasaki yang padat dan kumuh, Konoha punya cuaca yang bersih dan jalanan yang cukup sepi dan terhindar dari macet. Kebanyakan bangunan hanya memadati bagian pusat kota saja. Untuk bangunan didaerah pinggiran seperti jalan menuju stasiun yang akan menghubungkan Konoha-Kamagasaki terbilang cukup jarang dan betul-betul menikmati pemandangan yang tidak bisa ia dapatkan di Kamagasaki itu.

Sakura mendongakkan kepalanya dan menghirup nafas dalam-dalam lalu memenuhi paru-parunya dengan udara kota itu sebelum menghembuskannya. Pandangan mata sakura kini segera tertuju pada dua sosok tubuh yang tergeletak ditengah jalanan 50 meter dari tempatnya berjalan. Ia mendapati seorang paruh baya tidak sadarkan diri dan anak kecil yang menangis dengan kening berdarah disampingnya. Sepeda mereka yang penyok terlihat tidak jauh dari sana. Sakura segera berlari menghampiri mereka berdua. Ia tahu ada sebuah kecelakaan yang sudah terjadi dan korbannya dibiarkan begitu saja ditengah jalan tanpa pertanggung jawaban penabraknya.

Diangkatnya tubuh mungil anak yang masih berusia lima tahun itu dalam gendongannya. Ia melihat sebuah luka didahi itu dan menekannya dengan saputangan miliknya agar darahnya berhenti. Kemudian Sakura beralih memeriksa wanita paruh baya itu, denyut nadinya masih ada dan berdetak dengan begitu perlahan semntara darah masih belum berhenti mengucur dari tengkuk kepalanya. Tentusaja, jika wanita itu tidak segera ditolong bisa fatal akibatnya.

Sakura harus segera mencari pertolongan, mungkin harus segera menelpon ambulans tapi dia tidak tahu pasti di jalan apa tempatnya berdiri sekarang. Ia melihat ada sebuah mobil sedan warna Hitam tengah melaju kearah mereka. Sakura berpikir jika mungkin pemilik mobil itu mau berbaik hati memberi bantuan mengantarkan mereka kerumah sakit terdekat.

"BERHENTI!" teriak sakura sambil merentangkan satu tangannya yang tidak ia gunakan untuk menggendong balita yang tengah terluka itu.

Sedan hitam itupun berkecepatan tinggi itupun kian berhenti dengan kasar. Nyaris saja Sakura bisa jadi korban tabrak lari selanjutnya. Seorang pria berambut hitam raven membuka pintu mobilnya mmenghampiri wanita bersurai permen kapas yang menghalangi laju kendaraannya.

"Kau, disini?" Tanya Sasuke.

Masih syok dengan tindakan beraninya sendiri Sakura mencoba menenangkan diri saat mencoba menjawab pertanyaan Sasuke. Bertemu dengan Sasuke dikesempatan seperti ini benar-benar tidka pernah ia duga sebelumnya.

"Ya,... kita harus segera menolong mereka. Mereka korban tabrak lari, kita harus membawanya kerumah sakit." Ucap Sakura, sambil membimbing sasuke melihat wanita paruh baya yang tersungkur tidak sadarkan diri.

Tanpa banyak bicara, Sasuke segera membopong tubuh yang terkulai itu masuk kedalam mobilnya. Sakurapun duduk disamping Sasuke yang memegang kendali mobil sedan hitamnya bersama seorang balita yang masih menangis dalam pelukannya. Sasuke melajukan mobilnya menuju rumah sakit Konoha yang terletak 4kilometer dari situ.

" Kau mengenal mereka?" tanya Sasuke.

"Tidak. " Jawab Sakura, "Tapi mereka harus segera ditolong, terutama nenek itu bisa mati jika tidak segera mendapatkan pertolongan." Tambah Sakura lagi

"Hn" Sasuke mengangguk

Antara bingung, panik dan bahagia. Sakura yang kini tanpa sengaja bertemu dengan Sasuke merasa bahwa pertemuannya kali ini tidak lagi ada sangkut pautnya dengan hubungan cinta segitiga di kliniknya kemarin. Jadi bolehkan jika sakura berharap jika pertemuannya dengan sasuke sekarang adalah salah satu jalan takdir bersama Sasuke?

"Apa?"Teriak Sakura sambil menggebrak meja pendaftaran rumah sakit Konoha. "Dengar baik-baik,nenek ini mengalami pendarahan kepala yang berat dan jika nenek ini tidak segera disegera diselamatkan dalam tiga puluh menit nenek ini bisa fatal. Sekarang dengan mudahnya kalian bilang tidak bisa melakukan tindakan apapun tanpa persetujuan keluarga? Aku tidak mengenal siapa keluarganya! Tapi aku tidak bisa membiarkan mati dijalanan! Rumah sakit macam apa ini, huh?" Sakura menumpahkan amarahnya tanpa peduli jutaan mata kini tengah tertuju kearahnya.

"Demi Tuhan aku akan menuntut rumah sakit ini jika terjadi sesuatu dengan nenek itu!" Sakura menudingkan jari telunjuknya pada petugas yang melayaninya, petugas itu ketakutan melihat kemarahan Sakura.

Merasa Sakura sudah keterlaluan meluapkan amarahnya, sasukepun akhirnya turun tangan. "Permisi Nona, aku adalah Jaksa Penuntut Umum Konoha, Uchiha Sasuke, mohon kerja samanya." Sasuke mengeluarkan id-card yang bertuliskan nama dan pekerjaannya lalu menunjukkannya pada petugas itu.

" Kasus tabrak lari ini masih dalam proses penyelidikan kepolisian Konoha. Mohon lakukan usaha medis yang terbaik untuk menyelamatkan mereka. Aku yang bertanggung jawab penuh atas korban kecelakaan itu." Jelas Sasuke dengan tenang sambil berojigi.

Petugas pendaftaran itu kian mengerti dan melaksanakan perintah Sasuke. Ia menghindari tatapan tajam Sakura yang masih tertuju kepadanya dengan perasaaan was-was. Sasuke menarik tangan sakura dan mengajaknya pergi dari tempat itu, agar sakura jauh lebih tenang. Sebenarnya bukan tempatnya yang ada dimana, tapi karena Sasukelah Sakura bisa lebih tenang. Jika tidka ada Sasuke mungkin sakura bisa melakukan ancaman dengan sumpah serapah atau menghancurkan barang-barang di meja pendaftaran tadi dengan tangannya karena kesal.

"Kau tidak apa-apa?"Tanya Sasuke, sambil menyodorkan segelas kopi pada sakura yang terduduk lesu dibanku taman panjang rumah sakit itu.

"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Sakura.

Sasuke memandangi wajah sakura yang terlihat lesu dan kacau. Ada bekas darah balita yang tadi ditolongnya dipipinya. Tanpa banyak bicara Sasuke mengelap bekas darah itu dengan tissue yang ada ditangannya sambil tersenyum menatap Sakura yang sedang menyesap kopinya. Wajah Sakura bersemu merah karana tindakan Sasuke, ia menelan kopinya dengan cepat dan hampir saja tersedak karena kelakuan si jaksa itu.

"Kau sangat pemberani, Haruno-san." Puji Sasuke sambil tersenyum.

"Sakura saja, jangan bicara formal padaku. Itu menggelikan!" ucap Sakura. "Sebagai seorang dokter yang biasa mengobati orang-orang di Kamagasaki aku benar-benar benci prsedur rumah sakit. Itulah sebabnya aku tidak suka bekerja dirumah sakit."
Sasuke tersenyum, " Kenapa? Bukankah seorang dokter memang harus bekerja dirumah sakit?"

"Ya,.. itu yang seharusnya. Tapi sekarang kebanyakan rumah sakit jadi ladang bisnis saja, para dokter kebanyakan lupa dengan tugas dan sumpahnya sendiri. Bagiku tugas seorang dokter harusnya menolong orang tanpa peduli suku, ras atau agama yang berbeda. Beberapa dokter memilih pekerjaan itu karena mereka ingin mendapatkan uang banyak."

Menarik. Argumen idealis gadis bersurai permen kapas itu menarik rasa penasaran Sasuke tentangnya. "Jadi,... kenapa kau memilih menjadi seorang dokter?"

Sakura tersenyum. " Ayahku bilang jika kau mau menolong orang kau harus punya dua hal. Yang pertama niat dan yang kedua adalah kemampuan. Selama hidupnya ayahku menjadi seorang dokter yang mengobati pasiennya dengan cara yang berbeda. Ayahku tidak meminta bayaran atas tindakannya, meskipun begitu ia sangat menikmati perasaan lega dari tindakan menolongnya. Ibuku jatuh cinta padanya karena semangatnya, dan dia menginspirasiku untuk meneruskan semangatnya."

Sasuke menatap mata gadis yang berbinar-binar menceritakan tentang dirinya. Mungkin Sasuke sendiri terinspirasi atas niat tulus Sakura.

" Di Hokkaido kami hidup dikampung nelayan dan mereka biasa membayar jasa ayahku dengan tangkapan ikan mereka. Sebelum akhirnya ada fasilitas kesehatan dibangun disana. Lalu kami pindah ke Kamagasaki, ibuku bekerja sebagai karyawan dan ayahku tetap dengan pekerjaannya. Banyak sekali orang yang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal di Kamagasaki. Umumnya mereka adalah orang berusia lanjut. Kemudian ayahku membeli sebuah bekas kedai teh dan menjadikannya tempat praktek. Ayah mengobati orang-orang tanpa pamrih. Kadang orang-orang itu menjual botol-botol bekas untuk dibelikan beras ataupun lauk dipasar lalu memberikannya untuk kami. Ayahku meninggal dua tahun lalu karena sakit ginjalnya, dan Ibuku juga meninggal enam bulan setelahnya. Ah,... aku jadi rindu pada mereka." Jelas Sakura panjang lebar dan memberikan senyuman tulus diakhir ceritanya.

"Wah mengagumkan! Ayahmu pantas mendapatkan hadiah nobel untuk jasa-jasanya." Ucap Sasuke, ia terlihat bersemangat mendengarkan cerita Sakura.

"Ah, kau terlalu berlebihan!" Sakura menggoyangkan lima jari tanganya.

"Kau juga, sangat mengagumkan!Kau adalah wanita dengan tekad dan semangat yang mengagumkan, benar-benar menginspirasi orang lain berbuat bisa mengubah dunia dengan semangatmu. " Ucap Sasuke sambil menatap emerald hijau Sakura.

Sakura terkejut dan balik memandang kedalam onix Sasuke. Darah mereka berdesir satu sama lain. Sebuah perasaan aneh kian menjalari hati mereka masing-masing. Sasuke tidak pernah merasa menemukan seorang gadis dengan semangat mulia seperti Sakura. Ia terinspirasi oleh ceritanya yang tanpa pamrih menolong manusia lainnya, sebelumnya Sasuke tak pernah melakuan hal yang seperti Sakura lakukan. Ia mengagumi gadis dihadapannya itu. Seorang dokter yang menjadi relawan di red-light distrik dan jadi dewi penyembuh bagi mereka.

Sementara Sakura semakin menyadari bahwa simpatinya pada Sasuke bukan hanya perasaan simpati biasa. Kedua pasang mata mereka terus saling menatap, mungkin Sakura pun ikut terbius dengan pancaran mata yang Sasuke tujukan padanya. Sorot mata itu seakan membuka pintu hatinya. Dan perlahan desiran aneh terasa di dalam dada Sakura membuncah, degub jantungnya bergetar lebih cepat dari biasanya. Otaknya berputar, perasaan hangat ini mengalir mengisi hatinya seketika. Sakura mencoba merasakan sensasi tatapan Sasuke secara langsung ia tahu Sasuke pun tak hanya menatapnya dengan kekaguman biasa. Bolehkah Sakura berharap lebih pada seseorang yang masih tertulis nama gadis lain berstatus tunangan didalam hatinya? Itu benar-benar memilukannya.

Sasuke tidak bisa membiarkan dirinya terus menyelam kedalam zamrud itu, ia bisa jatuh terhipnotis dengan tatapan dokter cantik dihadapannya itu. atau mungkin sbaiknya ia jatuhkan saja dirinya mengikuti arus yang membawanya. Perasaan ini sangat asing baginya, tapi ia sadar bhwa Hinata akan selalu jadi prioritasnya.

"Handphonemu!" Celetuk Sasuke.

Sebuah deringan di ponsel milik Sakura membuyarkan acara kontes menatap mata yang dilakukan kedua manusia itu.

Sakura mengangkat telponnya, "Moshi-moshi adapa apa Konohamaru?" Tanya Sakura.

Sakura diam mendengarkan penjelasan Konohamaru, ia mengerti ia harus segera bertindak.

"Ada apa?" Tanya Sasuke ketika Sakura menyelesaikan panggilan telponnya.

"Kita harus segera ke Kamagasaki. Hinata ada dirumah sakit!"

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan,tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. Buat yang minta SasuSakunya dibanyakin sabar ya,... kan gak bisa buru-buru masuk konflik. kalo Sasuhina ada konflik baru deh Sakura bisa masuk, tapi janji nanti akan ada chapter khusus buat Sasu-saku yang gak kalah romantis dari naruhina kok, update agak lambat ya... nyelesein pesanan kue kering, lebarannya kurang 2 minggu lagi
:D tapi saya usahakan update secepatnya semampu saya...Terimakasih atas dukungan dan mohon maaf atas review yang tidak sempat dibalas, see you next chapter
:D