*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 11

.

.

.

.

Hinata terkesiap. Ia benar-benar tidak menyangka saat ini sedang terbaring diatas pembaringan pasien dengan selang infus dan memakai sebuah masker bening dengan selang yang terhubung langsung pada tabung oksigen. Ia mencoba mengenali keadaan sekelilingnya, ada beberapa pasien yang juga sedang ditangani. Hinata bisa memastikan jika ruangan tempatnya terbaring adalah instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit. Ia mencoba bernafas lebih dalam dan ia merasakan sedikit nyeri didadanya, membuat nafasnya jadi sedikit lebih pendek. Ritme nafasnya kini lebih susah dari yang biasanya ia lakukan.

Hinata sekarang sudah bisa kembali mengingat bagaimana bernafasnya jadi seperti ini. Seingatnya Konohamaru memintanya untuk menutup jendela klinik Sakura dari luar, tiba-tiba ada ratusan orang berlari dari dua blok berlainan dan saling menyerang, Hinata terjebak ditengahnya. Hinata kehilangan kendali atas dirinya, ia tak mampu berdiri. Hinata roboh dan beberapa orang kian berlari dan menginjak tubuhnya. Lalu samar-samar ia mendengar suara kericuhan dimulai. Nafasnya berat, nyeri didadanya membuatnya begitu tersiksa. Ia tak lagi mendapat supplai oksigen sesuai dengan kebutuhan paru-paru perdetiknya. Pandangannya kian mengabur seiring dengan kemampuan tubuhnya yang mulai tak sadarkan diri. Ia tidak tahu pasti siapa yang membawanya kesini, tapi ia punya keyakinan jika yang membawanya adalah konohamaru.

Seorang dokter dan perawat mendekat pada Hinata. Menanyai beberapa prosedur pemeriksaan kesadaran dan keluhan Hinata sebelum akhirnya memutuskan Hinata boleh dipindahkan keruang rawat. Dengan sebuah kursi roda, dibantu seorang perawat dan Konohamaru yang mengekor dibelakangnya kini ia pindah ke ruang perawatan yang lebih nyaman.

"Maaf, sudah banyak merepotkanmu, Konohamaru-san." Ucap Hinata yang tersenyum sambil dibantu seorang perawat merebahkan diri.

"Tidak apa-apa, Hinata. Aku lah yang merasa tidak enak karena menyuruhmu menutup klinik, dan malah membuatmu jadi seperti ini."Konohamaru menyesal.

"Tidak, aku tahu kau tidka bermaksud demikian. Aku juga mengerti. Kata dokter aku hanya perlu istirahat saja, tidak ada luka serius tinggal menunggu pernafasanku kembali normal."

Tandas Hinata.

"Aku sudah menelpon Naruto-ni tapi tidak diangkat jadi aku mengiriminya pesan, aku juga sudah menelpon Sakura-ni. Mungkin sebentar lagi akan sampai."

"Sudah berapa lama aku pingsan?" Tanya Hinata.

"Sekitar 4jam."

Suara derap langkah kaki yang bergegas mulai terdengar, kenop pintu terbuka dan dua orang muncul dari sana. Sasuke dan Sakura, wajah mereka sangat khawatir pada seseorang yang masih terbaring di ruangan itu.

"Hime-chan!" Seru Sasuke, sambil mendekat dan segera memeluk tubuh Hinata. " Kau tidak apa-apa kan?"Sasuke memastikan keadaan Hinata dan memandangi lekat-lekat gadis itu lalu mengelus pipi gembilnya perlahan.

Sakura mencelos melihatnya,baru saja dia berhasil merasakan sesuatu dalam hatinya untuk Sasuke. Tapi melihat perlakuan Sasuke pada Hinata suhu tubuhnya memanas dan biar bagaimanapun dia harus bisa mengendalikannya sendiri.

Seorang pria bersurai kuning muncul dari balik pintu, nafasnya terengah-engah. Sudah dipastikan dia baru saja berlari untuk mencapai ruangan itu. wajahnya tak kalah lelah dan kuatir pada seorang pasien di pembaringannya.

"Hinata!" Teriak Naruto, tapi langkah kakinya terhenti saat mendapati Sasuke lebih dulu berada di dekat orang yang baru saja dipanggilnya.

"Naruto-kun!" Seru Hinata dengan mata berbinar-binar, tanpa memperdulikan keberadaan Sasuke didekatnya.

Naruto mendekati gadisnya yang masih terlihat begitu lemah itu. Diulurkan tangan tan miliknya menggapai tangan mungil berjari lentik milik Hinata. Naruto tak mengatakan apapun, ia hanya menatap manik mutiara keperakan sigadis dengan safirnya yang sendu.

Seakan tahu apa yang ingin ditanyakan Naruto kepadanya melalui mata itu, Hinata segera menjawab, "Aku tidak apa-apa Naruto-kun. Aku baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Aku akan segera pulih kok!"

Sasuke merasa geram, harusnya Hinata menjawab pertanyaan miliknya dengan jawaban yang baru saja ia berikan pada pria surai kuning itu. Pria surai kuning itu datang tanpa bertanya apa yang sedang terjadi seperti dirinya. Sasuke tahu, yang sebenarnya gadis itu inginkan bukanlah dirinya. Tentu membuat Sasuke semakin sadar bahwa Hinata sudah tidak lagi memperhitungkannya lagi. Hinata sudah tidak lagi menganggap keberadaan Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto pada Konohamaru,safirnya menajam saat memberikan pertanyaaan itu.

"Ada dua kelompok gangster yang memeulai perkelahian, saat itu aku menyuruh Hinata untuk membantu berkemas tutup klinik dan Hinata terjebak ditengahnya. Hinata pingsan, aku segera membawanya kesini." Konohamaru menjelaskan.

"KAU!" Sakura menjitak kepala adiknya dengankepalan tangannya. "Kenapa menyuruh Hinata menutup klinik? itukan tugasmu bodoh?" Tanya Sakura. Konohamaru mengampun pada kakak perempuannya yang sibuk menghadiahinya pukulan.

"Sudahlah, tidak apa-apa Sakura! Lagipula Hianta sudah baik-baik saja sekarang, aku yakin Konohamaru tidak bermaksud seperti itu." Naruto menenangkan.

"Tidak apa-apa katamu?" Sasuke menyela dengan wajah stoic-nya

Sontak seluruh isi ruangan memandang kearah Sasuke. Aura Sasuke yang tadinya tenang kini mulai menggelap. Onixnya kian menajam meminta sebuah pertanggung jawaban dari orang yang ditatapnya. Tentu tatapan tajam Sasuke disambut dengan tatapan yang tak kalah mengintimidasi dari seorang Kyuubi No Kitsune dihadapannya.

"Kau... perhatikan baik-baik!" Tanya sasuke mengancam. "Aku rela meninggalkan Hinata tinggal bersamamu dan kau tidak bertanggung jawab dengan kejadian yang seperti ini?"

Naruto diam tak menjawab, tatapannya masih sama tajamnya dengan Sasuke.

"Aku akan segera mencari cara membawa Hinata kembali ke Konoha, dengan cara apapun aku tidak akan membiarkan Hinata tinggal ditempat kumuh terkutuk itu!" Umpat sasuke diakhir kalimatnya.

Naruto tak punya jawaban apapun, Sasuke benar tempat itu memang tidak aman untuk gadis seperti Hinata.

" Dan asal kau tahu, aku tidak perlu izinmu membawa kembali Hinata keKonoha, aku masih tunangan Hinata. Kau tidak boleh melupakan hal itu! Kau mengerti?."

"Sasuke-ni," Sela Hinata. "Sudah kubilang aku bukan seorang Hyuga lagi, jadi aku bukan tunanganmu, dan Sasuke-ni juga harus tahu kalau aku dan Naruto-kun saling menyukai. Jadi,.."

"Aku tahu,... dan aku masih menyayangimu, Hime-chan." Ucap Sasuke mantap, ia kembali menatap manik biru sinis dihadapannya "aku akan berusaha melindungi orang yang aku sayangi tanpa perlu diminta. Siapapun yang mendampingimu, harus bisa melindungimu. Aku tidak akan membiarkan kau jatuh pada orang yang salah, sekalipun orang yang kau pilih itu bukan aku. Tapi, jika dia tidak mampu melindungimu maka aku takkan pernah melepaskanmu, Hime-chan. "

Melihat semua orang tidak memberikan respon apapun, Sasuke kembali melanjutkan, "Kau ingat Hime-chan? Itu adalah janjiku padamu,.. janji yang pernah kita ucapkan dibukit itu saat kita bertaruh hidup dan mati, bukan?"

Sasuke sengaja mengingatkan kembali sebuah memori masa kecil antara dirinya dengan Hinata, berharap Hinata luluh dan memihak padanya. Lebih dari itu ia mengharap Hinata kembali padanya. Saat itu Hinata hampir terperosok ke jurang dan Sasuke menolongnya, Sasuke yang berusaha melindungi Hinata malah terjatuh dan mendapatkan bonus patah tulang kaki kiri dan kaki kanannya tertusuk salah satu akar pohon. Sasuke kesakitan dan hampir tidak sadarkan diri, tapi demi Hinata dia berusaha tetap bertahan sampai bantuan datang menolong mereka berdua. Hinata meminta pada Sasuke agar Sasuke harus hidup untuknya, menjaganya sampai Hinata mati dan terus berada disisinya sampai kapanpun juga tidak menyerah pada keadaan apapun. Sasuke mengiyakan, dan iapun meminta Hinata untuk tidak berhenti percaya padanya juga selalu ada disisinya sampai kapanpun. Tanpa Sasuke sadari, janjinya pada Hinata telah mengubah hidupnya jadi malaikat pelindung bagi Hinata. Sasuke menyimpan perasaan sayang yang teramat untuk gadis kecil kesayangannya. Rasa sayangnya bertumbuh jadi sebuah cinta monyet dan membesar setiap harinya. Lalu keluarga Hyuga-Uchiha yang sudah dekatpun menyetujui jika kedekatan mereka bisa disatukan ke jenjang pernikahan suatu hari nanti.

Hinata tercekat, Sasuke memang tidak pernah mengingkari janjinya. Tapi bagaimanapun kini hatinya milik Naruto sepenuhnya."Sasuke-ni,.. saat itu kita masih anak-anak dan aku hanya terlalu kuatir pada lukamu." Ucap Hinata lirih

"Tidak apa Hime-chan, aku juga berjanji demikian pada Tou-sama mu, jadi akupun akan terus menjagamu semampuku. Seumur hidupku, kaulah yang selalu ku utamakan."

Seluruh ruangan kembali jadi hening.

"Jadi, jangan berharap kau pantas mendampingi Hinata sebelum kau benar-benar mampu menjaganya dan layak baginya! Karena hanya aku akan terus memegang janji itu sampai kapanpun." Sasuke menuding Naruto dengan telunjuknya

Pernyataan Sasuke benar-benar jadi sebuah ultimatum. Baik untuk Naruto, yang artinya jika ia orang yang dipilih Hinata, ia harus mampu menjaga Hinata dan layak bagi gadis bangsawan Hyuga itu. Dan juga bagi Sakura, kalimat Sasuke berarti dia tidak akan menerima Hinata di nomor duakan, itu juga berarti Sasuke tidak bisa menerima gadis lain selain Hinata dalam hidupnya. Sungguh sebuah posisi rumit berada diantara keempat manusia itu.

Naruto menggenggam telunjuk jaksa muda Uchiha yang kian tertuju pada dirinya. Segaris senyuman sinis tergambar dibibirnya. Matanya masih tajam tapi kini ia lebih meremehkan pria raven dihadapannya.

"Uchiha-san, terimakasih banyak sudah mengkhawatirkan kekasihku. Dan juga aku sangat tersanjung atas tantangan dan peringatanmu. Aku, sebagai kekasih baru Hinata sangat berterimakasih sebesarnya juga kupastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi." Ucap Naruto berojigi sambil menghempas telunjuk Sasuke. "Ah... kuharap anda juga tidak lupa, kekasihku sedang kurang sehat dia butuh istirahat jadi anda bisa meninggalkannya untuk beristirahat." Naruto berbicara formal.

Sasuke semakin geram mendengar kalimat pengusiran keluar dari Naruto,onixnya masih memancarkan semburat kemarahan yang terselubung.

"Tentu." Jawab Sasuke, "Tapi setelah aku berpamitan pada tunanganku." Tambahnya lagi.

Sasuke mendekati ranjang Hinata dan meneduhkan tatapan garangnya menjadi lebih tenang. "Hime-chan, jaga dirimu baik-baik dan kau harus segera sehat. Aku akan mencari cara membawa kehormatanmu kembali dalam keluarga Hyuga, sabar ya!" Ucapnya sambil mengelus puncak kepala Hinata.

Naruto hanya bisa melengos membuang mukanya tidak menyukai tatapan Sasuke yang masih mesra untuk kekasihnya itu.

"Ini,.. untukmu, bawalah ini. Kau bisa menghubungi ku jika kau ada apa-apa. Kapanpun dan dimanapun aku akan segera datang menolongmu, jadi jangan sungkan!Aku harus segera pergi." Ucap Sasuke sambil memberikan ponsel smartphone miliknya.

Tentu hal itu semakin membuat darah Naruto naik ke ubun-ubunnya dua kali lebih cepat, tapi Naruto hanya bisa meneguk ludahnya keras-keras agar ia tidak mengeluarkan kemarahan apapun. Naruto berharap Hinatapun menolak pemberian Sasuke, tapi ternyata tidak Hinata malah menerimanya, jelas itu membuat Naruto bermuka merah seketika.

"Sakura-san, biar aku yang mengantarmu pulang dengan mobilku." Sasuke mengajak Sakura yang masih berdiri disamping ranjang Hinata pergi bersama-sama dengannya, Sakura mengangguk dan segera berpamitan pada Naruto dan Hinata.

Sasuke menyenggol bahu kasar kyuubi no kitsune tanpa berpamitan. Pandangan mereka bertemu sekali lagi dengan saling mengintimidasi satu sama lainnya. Mulai hari ini mereka adalah rival, dan itu tak terbantahkan. Langkah Sasuke semakin samar ketika ia meninggalkan ruang rawat itu bersama dua Haruno bersaudara. Kini Hanya ada Naruto dan Hinata di ruangan itu.

"Heii... kenapa malah menerima ponsel pak jaksa itu!" Tanya Naruto kesal papda Hinata yang sibuk memainkan ponsel Sasuke itu, Naruto mendekat dan duduk di pinggiran ranjang Hinata.

"Hihi... dengan ini aku bisa menelponmu kan? Jadi berapa nomor telponmu?" Tanya Hinata sambil tersenyum sementara naruto masih mengeruccutkan bibirnya tanda tidak suka.

"Sudahlah, jangan kuatirkan Sasuke-ni... dia tidak akan melakukan apapun asal aku bahagia. Aku sudah mengenalnya selama lima belas tahun lebih, jadi jangan berpikir macam-macam!" Hinata menenangkan Naruto yang masih cemberut itu.

Hinata sibuk memotret Naruto dengan kamera di ponsel itu. Hinata kini menangkap ada sebuah raut wajah kesedihan.

"Ada apa? Kau tidak suka melihatku selamat dari tawuran antar gangster yaa?" Tanya Hinata menatap manik biru milik Naruto.

"Kau harusnya memang tidak bersamaku, Hinata. Aku tidak punya apapun, jika dibandingkan dengan Uchiha itu aku tidak ada apa-apanya." Naruto tertunduk sebelum melanjutkan. "Kau harus kembali kerumahmu, kejadian hari ini merupakan peringatan jika aku tidak mampu menjagamu. Aku minta maaf karena aku tidak ada disisimu. "

Hinata melepaskan alat bantu pernafasan yang masih dipakainya lalu berhambur kearah Naruto. Dilingkarkan lengannya melingkupi pinggang Naruto dan ia meletakkan kepalanya dipunggung nyaman Naruto, menghirup aroma maskulin dari tubuh pemuda surai kuning itu. Nafas Hinata kini lebih baik, dan diapun merasa tidak membutuhkan bantuan oksigen lagi, baginya pria dipelukannya inilah sumber oksigennya.

"Sudah kubilang, kan... didunia ini yang aku butuhkan hanya kau. Kejadian ini terjadi karena tidak bersamamu, jadi kau harus terus bersamaku. Kita tidak boleh terpisah lagi. Kau tidak boleh meninggalkanku, aku merasa takut saat aku jauh darimu. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi." Ucap Hinata.

Naruto berbalik kearah Hinata dan meletakkan kepala Hinata didadanya lalu memeluknya lebih erat.

"Aku tahu, tapi aku tidak yakin aku adalah orang yang layak dan mampu untuk terus berada disampingmu." Ucap Naruto sambil mencium puncak kepala Hinata.

"Katakan,...apa kau mencintaiku?" Tanya Hinata melepaskan pelukan kekasihnya dan kembali menatap manik biru Naruto.

"Ya,...sangat, Watashi wa hontōni anata o aishiteimasu." Jawab Naruto mantap.

Hinata tersenyum, "Aku juga." Hinata mengeratkan pelukannya lagi pada tubuh kekar Naruto. "Jangan pernah meninggalkanku,... janji?" Tanya Hinata

"Janji!" Jawab Naruto tersenyum sambil membalas pelukan Hinata.

Cukup lama, mereka berdua saling berpelukan. Naruto sadar kini ia bertanggung jawab sepenuhnya pada gadis dalam pelukannya itu. ia mencintai gadis itu, lebih dari apapun didunia ini. Begitupun Hinata, ia membutuhkan Naruto.

"Tidurlah, aku akan menjagamu!" Ucap Naruto.

Hinata menggeleng, Naruto jadi heran kenapa Hinata menolak.

"Lakukan seperti biasanya, Naruto-kun!" Pinta Hinata.

"Tapi ini kan rumah sakit?" balas Naruto.

Hinata menggeleng dengan keras, "kau harus tidur disampingku seperti biasa, dan kau juga harus terus memelukku."

Naruto menghela nafas, "Ah,... bagaimana aku bisa mencintai seorang gadis manja sepertimu? " Naruto tersenyum dan kemudian merebahkan tubuhnya diranjang pasien lalu Hinata mengikutinya.

Hinata tersenyum penuh arti sambil menatap Naruto yang ada disampingnya. Ia menjadikan lengan kekar Naruto bantalannya dan bersembunyi didada bidang Naruto. Naruto melingkarkan satu tangannya lagi untuk memeluk Hinata sekaligus membagi kehangatan yang ia miliki untuk gadisnya. Hinata sangat merindukan pria itu, seharian tak bertemu dengan pria itu menghasilkan rindu yang seperti ini. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus berpisah dengan Naruto untuk waktu yang lama. Naruto adalah satu-satunya yang ia butuhkan,satu-satunya yang membuatnya merasa aman.

"Aku berencana mengenalkanmu pada orang tuaku." Ucap Naruto.

"Apa? Secepat itu?" tanya Hinata terkesiap. "bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?" Tanya Hinata yang mendadak gugup, ia merapikan pony ratanya.

Naruto tersenyum lima jari melihat kelakuan gadisnya, lalu menjentikkan telunjuknya pada pony rata Hinata.

"Setidaknya mereka tidak akan bangkit dari alam kubur dan mencekikmu bukan?" Naruto membalas dengan gurauannya.

Hinata nyaris lupa jika Naruto tidak punya orang tua, ia meringis konyol dengan tingkahnya sendiri.

"Lusa adalah peringatan hari kematian mereka, jadi aku berniat mengajakmu ikut bersamaku ke Hakodate. Tapi itupun jika kau sudah dinyatakan sehat oleh dokter." Naruto menjelaskan.

"Hakodate?" ulang Hinata, "Kau berasal dari sana?"
Naruto mengangguk.

Hinata berbinar-binar, ia tahu Hakodate adalah sebuah kota di pulau Hokkaido bagian selatan. Hakodate berada di tengah-tengah Semenanjung Kameda,di bawah kaki Gunung Hakodate . Pemandangan malam dari puncak Gunung Hakodate termasuk ke dalam tiga pemandangan malam terindah di Jepang. Pemandangan malam dari Gunung Hakodate juga termasuk ke dalam tiga pemandangan malam terkenal di dunia. Sekalipun dia sudah pernah mengunjungi beberapa tempat di Eropa dan Amerika tapi ia sendiri belum pernah ke Hokkaido.

"Aku berniat mengajakmu kemakam kakekku juga, makam kakek ada di Okushiri, jadi kita akan berlibur selama seminggu disana. Musim dingin disana sangat dingin, jadi kita harus membeli beberapa baju hangat lagi buatmu. Dan kita bisa bermain ski atau memancing di es. Kau mau?" Tanya Naruto lagi.

Hinata mengangguk dengan keras dan tersenyum lebar, itu adalah rencana yang sangat sempurna. Syaratnya, dia hanya harus pulih sesegera mungkin.

Malam kian menggelap, dua insan kian terlelap dalam pelukan diperaduannya. Saling mencintai satu sama lain. Tak ada yang berani mengusik ketenangan mereka berdua yang tengah terlelap dalam selimut cinta yang bersemi di musim dingin.

.

.

.

.

Sasuke memarkir mobil sedan hitam miliknya dihalaman luas mansion itu. ia berharap bisa bertemu dengan orang tertua dan paling berpengaruh di keluarga itu, Hyuga Hiroshi sebelum ia pergi ke kantornya. Langkah kakinya sudah tak lagi asing menginjak lantai marmer mahal mansion itu. jelas separuh usia yang dimilikinya dihabiskan di mansion ini bersama Hinata. Diapun sudah tidak lagi dianggap sebagai orang asng dikeluarga itu. Bahkan sandangan Hyuga sudah tak lagi milik gadisnya lagi, diapun tetap dianggap sebagai bagian dari Hyuga.

Seorang maid membimbing dan mengantarkan Sasuke keruang kerja Hyuga Hiroshi. Disana tampak orang yang paling ingin ditemuinya sedang sibuk membaca dan menandatangani dokumen.

"Oh, Sasuke! Masuklah!" Seru Hiroshi sambil memberi isyarat pada maid agar keluar ruangan dan meninggalkan mereka berdua.

Sasuke tersenyum dan berojigi penuh hormat pada lelaki berusia tujuhpuluh tahunan itu. "Apa kabar, Oji-sama? Saya harap anda sehat selalu." Sapa Sasuke.

"Lama tidak jumpa kau terlihat semakin dewasa, hum?" Tanya Hiroshi sambil memegang bahu Sasuke dan membimbingnya untuk duduk di sebuah sofa beludru didekat mereka. "ada apa pagi-pagi sekali kau menemuiku?Ini karena Hinata?"

Tampaknya lelaki tua ini sudah tahu betul apa yang ada dipikiran Sasuke. Sasukepun mengangguk.

Hiroshi menghela nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya, "aku benar-benar merasa malu, Hinata telah melupakan kehormatannya dan bertindak begitu buruk. Aku yakin kau sudah tahu jika dia tinggal diluar dan tidur sekamar bersama seorang pria, bukan?" sikakek Hyuga itu menggeleng.

"Aku hanya bisa pasrah jika kau tidak ingin melanjutkan pertunanganmu dengan Hinata, aku akan mengerti. Ini semua memang salah Hinata, dan aku benar-benar minta maaf padamu." Kakek itu menampakkan sebuah kekesalan dikalimat penyesalannya.

"Tidak, bukan begitu Oji-sama. Mohon anda jangan berpikir demikian. Rasa sayang yang kumiliki pada Hinata begitu besar, dan aku menyadari jika kami masih sama-sama muda jadi mungkin Hinata hanya sedang dalam desakan adrenalin. Mohon Oji-sama mau memaklumi."
Sebuah telunjuk di goyangkan oleh kakek Hyuga itu, "Aturan tetaplah aturan. Tidak ada yang berubah, dan aturan tidak bisa dilanggar. Seseorang akan kehilangan kehormatannya jika ia tidak menaati peraturan." Ucap si Kakek tegas.

"Sebenarnya, saya tidak menyalahkan Hinata karena saat itu ada motif dia melarikan diri dari kejaran Neji yang mencoba memperkosanya." Ucap Sasuke.

"Neji hanya memberikan uluran tangan nya dan Hinata menanggapinya terlalu serius, yang kupermasalahkan adalah dia tidak pergi kekantor polisi mencarimu atau minta bantuan dan malah tinggal bersama seorang pria asing ditempat menjijikkan seperti Kamagasaki."

"Ini bukan yang pertama kalinya, Oji-sama." Sasuke menjelaskan. "Hinata pernah mengadu pada saya jika Neji pernah membekapnya saat dia masih 15 tahun, dan berdasarkan keterangan saksi dan juga kasus Hinata yang sudah diselidiki Neji bahkan menggunakan tuduhan palsu untuk membawa kembali Hinata pulang."

Hiroshi diam mendengerkan, ia masih menunggu penjelasan Sasuke selanjutnya.

"Kemungkinan hari itu Hinata lari dari mobil ketika Neji mencoba memperkosanya dan bersembunyi dirumah pria itu. Saya berharap pertunangan kami masih bisa berlanjut. Saya mengenal Hinata lebih dari lima belas tahun jadi saya yakin jika Hinata pasti akan menjaga kehormatan Hyuga. Saya juga berharap Hinata bisa kembali pulang kerumah ini dan Neji mendapatkan balasan atas perbuatannya." Sasuke menjelaskan secara rinci.

Si kakek manggut-manggut mengerti.

"Aku tahu jika Hizashi dan putranya memang ingin menyingkirkan Hinata, biar aku yang mengurusnya. Sekalipun begitu aku tidak akan membiarkan mereka mengambil hak Hinata. Aku sengaja membiarkan Hinata pergi dari rumah untuk menguatkan hatinya berhadapan dengan manusia yang lebih jahat lagi, tapi tetap dengan cara terhormat. Aku berpikir jika saat itu dia akan minta tolong padamu tapi ternyata tidak. Kau kuberi satu kesempatan lagi jika Hinata benar-benar ingin kembali ke rumah ini kau harus bisa membujuknya. " Ucap Hiroshi.

"Baik,Oji-sama." Ucap Sasuke berojigi, "Saya harus segera pergi bekerja sekarang."
Sasuke berpamitan.

"Oh ya,.. Sasuke! Lusa datanglah ke acara ulang tahun perusahaan bersama Hinata. Jika kau tidak bisa membawanya, aku tidak akan memberi kesempatan padamu lagi! Kau mengerti?" Tanya Hiroshi saat kaki Sasuke mulai melangkah meninggalkan ruangan.

"Baik, Oji-sama!" Ucap Sasuke mantap. Ia tersenyum dan kembali berojigi sebelum pergi meninggalkan Hiroshi diruang itu.

.

.

.

.

Naruto memasuki kabin pesawat dengan menggandeng tangan mungil dibalik badannya. Setelah mendapatkan izin dan dinyatakan sehat oleh dokternya Hinata segera berkemas dan bersiap pergi ke kampung halaman Naruto. Hinata tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sumringah. Ia akan berlibur bersama pujaan hatinya untuk pertama kalinya ke Hokkaido. Setelah sebelumnya membeli beberapa baju hangat dan menempuh perjalanan menuju bandara internasional di Osakamelalui kereta, Hinata dan Naruto akan menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 1 jam 35 menit untuk sampai di bandara Hakodate.

Sudah sangat lama Hinata tidak berlibur. Pertama kalinya ia menaiki pesawat komersial dengan kelas ekonomi bersama Naruto. Biasanya Hinata akan duduk manis di pesawat pribadi milik Hyuga dan pergi melancong keluar negeri.

"kau baik-baik saja?" Tanya Naruto sambil mengeratkan genggamannya pada Hinata.

"Ya, aku sangat gembira. Kau tidak lihat hatiku sampai ingin melompat keluar?" tanya Hinata.

Mereka tertawa.

"Aku mencintaimu, Hinata" Ucap Naruto sambil mencium jari-jemari yang digenggamnya.

Hinata tersenyum.

Senja sore itu sangat indah. Perjalanan sore hari dimusim dingin dengan matahari terbenam diatas langit menjadi sebuah lukisan yang menjadi saksi saat kedua bibir mereka bersatu. Hinata memejamkan matanya. Mereka saling memberikan kecupan-kecupan hangat menikmati sentuhan dimusim yang itu memabukkan keduanya, mereka bahkan lupa saat ini tengah berada dalam sebuah perjalanan diatas ketinggian 3.400kaki dan puluhan pasang mata menyaksikan dua manusia yang tengah dimabuk cinta itu.

Hinata melepas ciumannya lebih dulu dan segera bersembunyi di dada bidang Naruto. Ia malu, saat ia sendiri kehilangan kendali dan baru sadar saat dirinya berani menerima serta mebalas ciuman panas kekasihnya, padahal puluhan orang juga terbang bersamanya dalam satu kabin. Wajahnya bersemu merah dan tidak lagi berani melihat kesekelilingnya. Naruto benar-benar membuatnya lupa keberadaannya ditempat umum. Naruto hanya tersenyum melihat tingkah lugu gadis dalam pelukannya itu.

.

.

.

.

Sakura sibuk mengelap meja di kliniknya. Musim dingin seperti ini akan banyak pekerja tua yang datang meminum obat herbal dan mengeluhkan flu atau nyeri sendi mereka kumat dimusim dingin. Yah, musim dingin masih berlanjut 2 bulan kedepan. Dan sebentar lagi tahun baru, pasti banyak acara menyenangkan. Tapi bagi Sakura sama saja. Ini adalah tahun keempatnya sendirian tanpa pasangan. Hidupnya ramai karena pasien-pasien di Kamagasaki. Mungkin akhir tahunnya kali ini dia akan pergi bersama Konohamaru melihat pesta kembang api.

Mengeluh tidak akan ada habisnya. Sakura adalah ornag yang optimis sekaligus mudah frustasi pada saat yang ebrsmaan. Ia tidak cukup banyak punya waktu memacari pria-pria yang baik. Sebagian orang kurang menyukai sikapnya yang cenderung tomboy dan independent, bagi sebagian laki-laki gadis sepertinya agak kurang menarik didekati. Pria-pria umumnya memilih gadis kalem, feminim dan cenderung terlihat malu-malu tidak sepertinya yang punya kepercayaan diri dan pemberani.

KRIIEETT

Pintu kliniknya terbuka, sesorang muncul dari balik pintu.

"Heii... nona! Kalau kau terus mengelap meja kau tidak akan punya waktu berkencan!" Seru pria yang muncul dari balik pintu itu.

Sial! Ucapannya nyaris benar seratus persen. Sakura bisa saja langsung melemparkan satu serangan maut menebas kepala orang itu dengan sebetan serbetnya. Tapi tidak, Sakura tahu siapa pemilik suara itu.

"Sasuke..." Sakura terhenyak. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sakura.

"Aku pergi kerumah sakit, katanya Hinata sudah pulang, aku ke aprtemen naruto tidak ada jawaban. Apa kau tahu mereka pergi kemana?"

Jadi alasan utamanya menemuinya masih sama, yaitu mencari keberadaan Hinata. Menyebalkan memang tapi itulah kenyataan "Oh,... Hinata pergi bersama Naruto. Naruto ingen mengenalkan kekasihnya pada orang tuanya. Mereka pergi ke Hokkaido selama sepuluh hari kedepan. Kenapa kau tidak mencoba menghubungi Hinata saja?"

Sasuke terdiam. Sakit. Hatinya sakit saat ia mengetahui tunangannya pergi berlibur di akhir tahun bersama orang lain. Terlebih tungangannya pergi bersama orang lain untuk bertemu keluarga dari saingannya. Bukankah itu artinya mereka juga memasuki tahap hubungan serius? Sasuke merasakan perih, ia tidak menyangka kesempatannya membawa Hinata kembali akan sesulit ini.

Mungkin benar, jika Hinata tidak pernah mau kembali. Tapi apa sekarang ia harus mengejarnya? Hatinya terlalu sakit untuk melakukannya. Ia tidak sanggup menerima penolakan lagi dari mungkin tidak sanggup melihat tunangannya bermesraan dengan Naruto. Mungkin benar seperti pilihannya dari awal, dia akan memberikan Hinata waktu untuk berpikir dan membiarkan dirinya menunggu. Mau bagaimana lagi, ini adalah pilihannya sendiri jadi iapun harus berani menanggungnya.

"Sakura,.." Panggil Sasuke.

Emerald Sakura menatap onixnya tanpa menjawab.

"Apa lusa kau sibuk? Maukah kau menemaniku kesebuah pesta?" Tanya Sasuke.

Punggung Sakura mendadak jadi dingin, seperti tersiram bongkahan es yang mencair. Apa ia sedang bermimpi? Barusan saja Sasuke mengajaknya pergi kesebuah pesta. Ada apa dengan jaksa muda itu? Sakura masih terdiam dan belum mampu tersadar dari pertanyaan-pertanyaannya sendiri dalam kepalanya. Hatinya yang kegirangan mendengar kalimat semacam itu terlontar dari mulut si raven tampan , pasti. Mungkin inilah kesempatannya merayakan akhir tahun tidak dengan saudara laki-lakinya yang meneybalkan.

"..T..t..tidak dan yyyaa.." ucap sakura terbata-bata.

Sasuke masih kebingungan menangkap jawaban Sakura, tapi bibirnya membentuk senyum asimetris dan berbalik melangkah pergi.

"Aku akan menjemputmu lusa jam 4 sore jadi bersiaplah!" Sasuke melambaikan tangannya dan kemudian pergi meninggalkan Sakura yang mematung di kliniknya.

Sakura bingung, bahagia, terkejut dan entah apalagi perasaan yang dirasakannya. Ia akhirnya melompat dan berteriak saat ia sudah tersadar dari lamunannya.

"AKU AKAN BERKENCAN DENGAN SASUKE-KUN!HOREEE!"

Sakura melompat-lompat dan berputar-putar mengelilingi kliniknya kegirangan.

.

.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan,tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. Oh yaa, saya berusaha konsisten dari awal ini kan fanfic nya Naruhina-Sasusaku jadi yaa ini cerita antara mereka berempat. mohon para readers untuk bijak. terimakasih atas saran dan reviewnya juga terimakasih atas dukungannya mohon maaf atas review yang tidak sempat dibalas. chapter depan momentnya Sasusaku dan chapter depan lagi baru Naruhina lagi. yang adegan percintaan diatas ranjang abis lebaran yaa readers see you next chapter yaa...
:D