*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 12

.

.

.

.

WARNING: SASUSAKU MOMENT

.

.

.

Sakura merapikan rambut merah mudanya dengan sisir yang berada ditangan kanannya. Kini ia memilih memoles bibir tipisnya dengan sebuah lipstik sewarna rambutnya. Hari ini memutuskan memakai satu-satunya baju terbaiknya; midi dress warna biru tua dengan lengan yang menutupi sampai panjang sikunya. Hanya itu satu-satunya gaun yang dia punya dan hanya dipakainya sekali dalam hidupnya saat wisuda. Ia memilih menggunakan sebuah bandana dengan pita kecil berwarna sama dengan dressnya. Sebagai sentuhan terakhir ia menggunakan stiletto warna hitam berhak 7 centimeter. Ia juga memasukkan perlengkapan make up nya kedalam baguette bag warna putih miliknya.

Jam dinding di kliniknya masih menunjukkan pukul 2 siang, dan Sakura sudah bersiap dijemput. Entah karena terlalu bersemangat atau dia yang terlalu gugup menghadapi jam 4. Jam yang dijanjikan sang jaksa rupawan untuk menjemputnya. Jantungnya berdegub dua kali lebih kencang dari detik jam dinding di kliniknya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dari mulut kecilnya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ini kencan pertamanya bersama seorang pria tampan sekaligus selama hampir empat tahun lamanya tidak berkencan.

Gaya berpakaian Sakura sebenarnya terlalu formal untuk acara pesta yang akan dihadirinya bersama Sasuke. Sakura justru terlihat seperti seorang yang lebih tua dari usianya mengingat gayanya yang sudah tidak lagi up to date. Tapi mau bagaimana lagi,jika hanya itu koleksi terbagusnya untuk ke pesta. Selama ini ia hanya memilih baju-baju musiman yang membuatnya leluasa bergerak karena aktivitasnya sebagai dokter di kamagasaki lebih menuntutnya jadi casual. Tidak pernah ada acara kencan selama empat tahun belakangan ini dan ia pun tidak memiliki teman pria seusia dengannya. Pasien? Jangan harap, hampir semua pasiennya adalah orang paruh baya dan pekerja kasar. Naruto, adalah pengecualian di Kamagasaki dan petinju itu berusia empat tahun lebih muda darinya.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti didepan klinik Sakura. Seorang jaksa muda turun dari mobil itu. ia terlihat sangat mempesona dengan balutan tuxedo warna hitam dan dasi kupu-kupu. Dengan sepasang sepatu pantofel model oxford mengkilat dikakinya iapun kian melangkah mantap. Auranya terpancar dengan sangat memukau siapapun yang melihatnya. Tampan, mapan dan menarik, tiga buah kriteria umum yang harus dimiliki dalam daftar pria yang dikencani Sakura dan semua ada pada pria yang tengah berjalan kearahnya itu.

.

"Hai Sakura-san!" Sapa Sasuke lebih dulu, Sakura segera tersadar dari lamunannya menatap jaksa muda dnegan aura berkilau itu.

"Ini kan masih jam 3? Kau bilang akan menjemputku pukul 4 kan?" tanya Sakura.

"Tampaknya kau sudah siap sebelum jam 4." Jawab Sasuke meledek.

Sakura hanya menundukkan kepalanya menutupi rasa canggungnya.

"Apa hanya ini pakaian yang kau punya?" Tanya Sasuke.

Sakura tersentak, "Kenapa? Apa ada yang salah dengan baju ini?" Tanya Sakura balik.

"Hn... sebenarnya tidak hanya saja terlalu sederhana untuk pergi kepesta. Di pesta itu mungkin hampir seluruh orang kaya di negeri ini berkumpul jadi baju rancangan designer juga akan jadi topik perbincangan."

"Apa? Pesta macam apa yang sebenarnya ingin kau hadiri itu? Ini baju terbagusku yang kupunya,.. aku harus bagaimana?" Sakura mengeluhkan bajunya sendiri dengan wajah yang tertekuk lesu.

"Ini masih jam 3." Ucap Sasuke sambil melirik jam ditangan kirinya. "Kalau begitu kita akan berbelanja sedikit."

Sakura membelalakkan matanya dan berusaha memahami perkataan sasuke. Tapi sebelum ia mampu mengerti kalimat itu baik-baik, tangan Sasuke sudah meraih tangannya dan menariknya memasuki mobil sedan hitam milik sang jaksa itu.

"Kau tidak bilang padaku kan kita mau kemana?" Tanya Sakura, "kau juga tidak bilang pesta macam apa yang kita hadiri."

"Nanti juga kau akan tahu. Tenang saja, jika kau takut kau bisa berpegangan padaku." Ucap Sasuke sambil menggariskan senyum tipis dibibirnya.

"Bagaimana jika orang-orang disana menanyakan kenapa kau malah datang denganku dan bukan dengan tunanganmu?" Tanya Sakura lagi.

Sasuke mengangguk, "Ya pertanyaan itu pasti akan ada yang menanyakan. Dan kau harus bersiap jika dikira merebut tunangan orang."

Sakura mengerutkan dahinya dan menatap ketus pada orang yang sibuk mengemudikan mobil sedan hitam itu.

"Sebenarnya apa maumu, tuan muda Uchiha?" Tanya Sakura meledek dengan nada sinis.

"Jangan kuatir, aku akan mengenalkanmu sebagai rekan bisnisku, dan aku juga akan mengenalkanmu pada kakek Hinata. Aku memang seharusnya membawa Hinata, tapi seperti yang kau bilang Hinata pergi bersama Naruto ke Hokkaido, dan aku tidak mungkin mencarinya dalam waktu 2hari. Jadi kuputusan aku membawamu. Kau adalah salah satu orang yang juga mengetahui keadaan cucunya jadi kau bisa menceritakan seperti apa yang kau ceritakan padaku saat aku bertanya tentang Hinata." Jawab Sasuke.

Sakura akhirnya paham, sebenarnya ajakan pesta kali ini masih sama saja. Pemuda raven yang tampan masih mencari celah membawa tunangannya itu untuk kembali ke Konoha. Sedikit kekecewaan kini ada dalam hatinya yang semula bersemangat berpesta itu. ia akhirnya menatap pemandangan dari balik kaca jendela mobil sedan yang melaju itu. ia tahu betul kemana arah laju mobil itu.

"Kita mau ke Namba?" Tanya Sakura.

"Ya, aku punya seorang teman disana, dia akan membantumu berpenampilan lebih baik lagi." Jawab Sasuke.

Entah mengapa Sakura kini malah merasa dirinya sedang dihina dengan cara yang halus dan juga dimanfaatkan sebagai alat untuk membawa kembali Hinata. Tapi daripada harus menghabiskan malam akhir tahun bersama Konohamaru anggap saja pergi bersama Sasuke yang hatinya masih terpaut dengan Hinata adalah pilihan yang lebih baik.

"Turunlah, itu butik temanku." Sasuke menunjuk sebuah butik modern dengan sebuah brand terkenal berhasil membelalakkan mata Sakura.

Sakura hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki sasuke dihadapannya. Sasuke berbincang-bincang pada pemilik butik itu sementara Sakura hanya bisa takjub pada baju-baju glamor yang jelas nilainya sangat mahal sedang terpajang disana. Sasuke kemudian mengenalkan Sakura pada pemilik butik itu. Pemilik butik itu kemudian memilihkan sebuah koleksi terbaru untuk di pakai Sakura.

Sasuke duduk manis di sebuah kursi sambil membaca beberapa majalah yang terpapar dimeja. Dilirik jamnya masih menunjukkan pukul lima, pesta sebenarnya baru akan dimulai pada pukul tujuh, tapi terlambatpun tak kan jadi masalah baginya. Sakura muncul dari balik kamar pas, ia mengenakan low cut back dress berwarna merah maroon dengan lengan panjang. Pemilik butik pun membawakan sling back shoes warna emas dan juga clutch dengan warna yang sama. Sasuke menekuk salah satu alisnya dan kemudian mengangguk pada pilihan pemilik butik itu untuk acara yang dimaksud Sasuke. Pemilik butik itu benar-benar tahu cara membuat gadis biasa seperti Sakura tampak glamor.

"Kawaii!." Ucap Sasuke mendekati Sakura, Sakura langsung bersemu merah. Tentu itu membuatnya tersanjung.

"Tapi kau kurang sempurna." Kata Sasuke lagi.

Sasuke memberi isyarat pada pemilik butik itu dan kemudian ia membimbing Sakura memasuki sebuah ruangan itu. Ya, Sakura tahu jika ruangan yang dimasukinya adalah ruangan make up. Jelas jika si pemilik butik itu juga akan me-make over riasan wajahnya yang biasa. Pemilik butik itu mencepol rambut merah muda Sakura dan membuat sedikit jambul dengan rambut bagian depannya. Pemilik butik itu membubuhkan bubuk-bubuk ajaib warna-warni yang bisa mempercantik wajah Sakura dan juga memoleskan lipstik warna merah dibibirnya, tentu itu membuat kesan glamor semakin melekat padanya. Sepasang anting berbentuk bulat dan panjang juga dipasang melengkapi penampilan Sakura sekarang.

Sakura sendiri merasa takjub melihat dirinya dicermin. Ini seperti mimpi melihat dirinya seperti Cinderella yang akan menghadiri sebuah pesta dansa. Bolehkah Sakura berharap jika Sasuke adalah pangeran yang jatuh cinta dan menikah dengannya kelak?

"Nah, sekarang kau baru terlihat sempurna!" Puji Sasuke sambil membimbing Sakura berdiri dari kursinya. "Sekarang kau siap pergi kepesta!"

"Apa aku sedang bermimpi? Aku bisa jadi secantik ini?" Tanya Sakura polos sambil memegangi pipinya dengan satu tangannya bergantian.

"Kenapa? Anggaplah sekarang kau jadi seorang Cinderella, ohya,.. kau bisa berdansa kan?" Tanya Sasuke.

Bagaimana mungkin pria dihadapannya ini bisa membaca pikirannya. Benarkah dia akan pergi kepesta dansa bersama pangeran raven tampan ini?

"Pesta dansa?" Ulang Sakura.

"Ya, kita memang akan pergi ke sebuah pesta dengan sebuah ballroom dan kita bisa berdansa jika kau mau." Tandas Sasuke sambil menawarkan lengannya untuk dipegang oleh Sakura.

Sakura hanya bisa menurut saat Sasuke meletakkan tangannya agar memegang lengan yang sudah ditawarkan lebih dulu. Sakura hanya kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa sekarang. Sasuke mengajaknya kepesta dansa, dia sudah tidak lagi kesal jika alasan utamanya karena Hinata. Bagaimanapun pergi kepesta bangsawan kelas atas dan berada dijajaran kaum borjuis sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya. Apalagi jika ia harus berdansa dan yang lebih membahagiakan lagi dengan seorang Sasuke. Oh, bisakah ia tidak terbangun dari mimpi indah ini?

Sasuke kembali mengemudikan mobilnya menuju sebuah gedung tinggi yang bertuliskan Hyuga Corporation. Ia membantu membukakan pintu untuk Sakura setelah sampai disana. Ini sudah sangat terlambat. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Sasuke dan Sakura memasuki ruangan pesta. Jelas, kini semua mata tertuju pada mereka.

"Kau tunggu disini! kau akan mencari kakek Hinata dan segera kembali." Titah Sasuke.

Sakura mengangguk pasrah.

Sakura memandangi hiruk-pikuk manusia yang tumpah ruah diruangan itu. Mereka benar-benar berbeda dari orang yang kebanyakan sakura temui di Kamagasaki. Jika biasanya Sakura bertemu dengan orang-orang lusuh, tunawisma, pengemis dan pekerja kasar paruh baya, kini dihadapan Sakura berlalu-lalang manusia-manusia berbalut busana mahal dan sangat terpelajar. Sakura benar-benar tidak menyangka kini dia ada ditengah-tengah mereka. Selama bertahun-tahun ia habiskan waktunya membantu ayahnya di Kamagasaki dan menyelesaikan kuliah kedokterannya di Osaka lalu meneruskan kegiatan ayahnya menjadi dokter di klinik kecil.

Hinata terlahir sebagai bangsawan dan memiliki sebuah kerajaan besar perusahaan di Jepang dan beberapa negara lain. Pergaulan kaum jetset seperti ini sama sekali tidak pernah tersentuh atau bahkan terpikir oleh Sakura sebelumnya. Seorang putri dari keluarga bangsawan tentu saja dijodohkan dengan seorang pangeran dari dinasti pemerintahan atau kalangan kaum terpandang. Sakura masih tetap merasa jika dia bukanlah lawan yang sebanding dengan Hinata untuk merebut hati Sasuke. Tapi jika boleh ia berharap, malam ini saja Sasuke menghabiskan malam bersamanya.

"Kita terlambat, Kakek Hinata sudah pulang setelah menyampaikan pidato pembukaan acara ini." Ucap sasuke membuyarkan pemikiran-pemikiran Sakura.

"Lantas bagaimana? Apa kita harus menemuinya kerumah mungkin?" tanya Sakura.

Sasuke menggeleng. "Tidak usah masih banyak waktu, nikmati saja pestamu." Ucap Sasuke sambil memberikan segelas minuman untuk Sakura.

Alunan musik mulai mengalun. Bebrapa orang sudah siap dengan pasangan masing-masing dan melenggang ke ballroom.

"Mau berdansa denganku?" Tanya Sasuke.

Sakura kelabakan menjawab pertanyaan jaksa mudaitu. Jantungnya serasa mau copot tentu saja dia mau tapi dia tidak sebenarnya bukanlah orang yang mahir dilantai dansa, akhirnya ia menggeleng pelan, "Aku tidak bisa." Seru sakura.

"Kau tidak akan tahu jika kau belum mencobanya." Ujar Sasuke, ia mngulurkan tangan kirinya untuk sakura.

Sakura tidak lagi punya pilihan selain meletakkan minuman ditangan kanannya dan memegang tangan pria tampan yang terulur untuknya.

Sasuke melangkah ke arena dansa bersama sakura dalam genggamannya. Ia mengamit tangan kanan Sakura dengan tangan kirinya. Lalu meletakkan tangannya yang lain pada punggung bagian tengah Sakura yang terbuka. Darah Sakura berdesir karena sentuhanitu.

"Jangan gugup, aku akan mengajarimu berdansa." Ucap Sasuke.

"Bagaimana jika aku menginjakmu dan terlihat bodoh?" Tanya Sakura.

Sasuke tersenyum. "Tidak akan, pegang bahuku dengan tangan kirimu, mendekat dan lihat kedalam mataku kau akan tahu langkah yang kupilih dan mengikutinya!"

Sakura hanya bisa menurut. Ucapan pria dihadapannya seolah menghipnotisnya mengikuti permainan kaki Sasuke kekiri dan kekanan. Mata mereka saling bertemu. Degub yang tak karuan itu kian muncul lagi secara bersamaan pada keduanya. Darah mereka berdesir dan mereka kini hanya mengikuti naluri masing-masing yang menjadi harmoni spontan ditengah pesta. Terlepas dari semuanya, Sakura berharap waktu berhenti sekarang, dimana berpihak padanya. Disebuah lantai dansa bersama Sasuke. Ia tidak ingin pulang pada jam 12 malam dan kehilangan semua sihirnya ia hanya ingin terus memiliki waktu ini bersama Sasuke. Lebih lama dan lebih lama lagi.

Sasuke sangat piawai berdansa, bahkan kpiawaiannya menutupi kali pertama sakura berdansa di ballroom. Keserasian dan keselarasan mereka berdansa membuat Sakura dan Sasuke pusat perhatian di tengah ballroom itu. Beberapa orang memilih untuk menyudahi dansanya dan menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh Sakura dan Sasuke. Mereka minggir dan memberi ruang bagi muda-mudi yang sedang asyik berdansa itu.

"Aku tidak percaya, aku bisa berdansa!" Pekik Sakura kegirangan sambil terus mengikuti langkah Sasuke.

Sasuke tersenyum lebih lebar lagi.

"Darimana kau belajar ini, tuan Uchiha?" Tanya sakura lagi.

"Hal seperti ini diajarkan di sekolahku. Bagaimana cara berdansa dan memperlakukan wanita dengan cara barat." Kata Sasuke sambil memerkan senyumnya yang menawan.

"Benarkah?" Tanya Sakura.

Tanpa menjawab Sasuke setengah merebahkan tubuh sakura dalam topangan tangannya membuat sakura tak sengaja menyilangkan dan menekuk lututnya dibalik lutut Sasuke dan berharap tidak jatuh.

Sasuke tersenyum, "Menurutmu?" Sasuke balik bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura lalu mengembalikan sakura pada posisi semula dan kembali memulai langkah waltz nya.

Sasuke kemudian membimbing langkah Sakura lebih jauh dan kemudian menyentakkan salah satu tangan Sakura hingga terlepas dan memberikan ruang bagi Sakura berputar. Gaun yang dipakai Sakura terurai menampakkan keindahannya. Sasuke kembali menarik tangan Sakura kini berada dalam pelukannya dari lagi ada jarak diantara mereka berdua. Sasuke mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu di telinga Sakura.

"Kau menyukainya?" Tanya Sasuke, sakura mengangguk mengiyakan.

Sasuke memutar kembali tubuh Sakura dan merentangkan tangannya sebelum ia menyudahi dansanya.

Sasuke membungkukkan badannya memberi hormat, dan begitupun Sakura memberi hormat dengan anggun.

Sasuke tersenyum menatap Sakura dengan senyumannya, kemudian membimbingnya kearah balkon. Semilir angin malam dipenghujung tahun itu menyambut mereka. helaian anak rambut Sakura semakin menunjukkan bahwa kecantikan gadis itu terpancar sempurna malam ini. Bahkan Ssuke pun tidak membantahnya, jika gadis yang dibawanya ke pesta dansa itu menarik perhatian banyak orang yang melihatnya.

"Sebentar lagi akan ada pesta kembang api. Akan lebih baik jika kita melihatnya langsung dari sini, tidak dari dalam ruangan. Masih 30 menit lagi." Seru Sasuke.

Sakura memandang Sasuke yang berdiri disampinya. Kali ini sudah jelas, ia jatuh hati pada pria raven disampingnya. Malam ini pangeran tampannya lah yang merubah seorang upik abu menjadi putri jelmaan dewi dan menari di pesta dansa. Sungguh hal yang sangat berkesan dan membahagiakan Sakura. Andai ia punya waktu dan kesempatan lebih lama lagi untuk bersama pria disampingnya itu.

Pria raven itu menatap langit musim dingin yang bertabur bintang-bintang. Entah kemana onixnya itu mengembara, mungkin kesuatu tempat dimana Sakura tidak bisa mengikutinya.

Ia mendapati Sakura masih terpesona pada dirinya, tanpa kata dan tanpa ucap ia tahu jika gadis itu sedang menatapnya.

Sasuke balik manatap emerald Sakura yang hanya tertuju pada onix hitamnya. Sekalipun ribuan yen harus rela ia keluarkan untuk membeli baju dan perlengkapan pesta Sakura, sepertinya ia rela mengeluarkan uangnya untuk mengubah gadis bersurai merah muda itu jadi lebih cantik dari biasanya. Sasuke memandangi dari puncak kepala hingga ujung kaki, gadis itu sempurna. Gadis itu cantik. Ya sedikit saja polesan membuat dia berubah jadi seorang putri. Tidak, sepertinya itu tidak cukup menggambarkan Sakura sekarang, gadis itu memukau Sasuke. Ada gadis lain yang bisa disebutnya cantik, apakah Sasuke sudah siap menggeser kebaradaan Hinata dengan Sakura? Mungkin bisa saja dia jatuh cinta pada gadis yang ada dihadapannya sekarang, jika dia berani tentunya.

Darah mereka kembali berdesir. Jantung mereka saling bergetar hebat. Keduanya rela tenggelam dalam tatapan mata makhluk dihadapannya. Hanya ada Sakura dimata Sasuke sekarang, begitupun sebaliknya. Sebuah rasa menggelitik kian muncul disana. Tapi keduanya tak berani memastikan itu apa. Lama mereka saling bertemu pandang dan bertatapan dalam diam. Hingga masing-masing saling tersadar dan saling canggung menyadari kelakuan diri mereka satu sama lain

"Kau pasti kedinginan!" tebak Sasuke sambil menutupi kecanggungannya. Segara dia melepaskan coatnya dan melingkupkannya pada tubuh Sakura

Lagi, hal klasik yang dilakukan pria-pria di film-film romantis juga dilakukan Sasuke untuk Sakura. Sakura sudah benar-benar dibuat jatuh cinta pada pria dihadapannya kali ini.

"Kau masih sangat mencintai Hinata?" tanya Sakura

Sasuke terdiam, ia tidak menyangka Sakura menayakan hal itu padanya disaat seperti ini.

"Bagaimana ya,..." Sasuke menghirup banyak-banyak udara malam ke paru-parunya sebelum dia menjelaskan.

" Dia adalah satu-satunya gadis yang kukenal saat kami pindah ke Konoha. Dia sangat terpukul karena kematian ibunya, tidak punya teman bermain dan kesepian. Begitupun aku yang juga baru saja kehilangan kedua orang tuaku. Kami tumbuh bersama-sama dan saling menguatkan. Aku menyayanginya, mungkin itu adalah cinta monyet bocah dua belas tahun pada seorang gadis cilik ingusan. Aku masuk sekolah khusus anak laki-laki dan mengunjunginya setiap akhir pekan dengan sekotak coklat lalu menghabiskan waktu bersama. Aku sering mengajaknya berjalan-jalan mencari pemandangan yang bagus sebagai objek lukisannya. Begitu banyak kenangan masa kecilku bersamanya, dan itu sangat melekat buatku. Tapi lambat laun aku sadar jika Hinata adalah gadis yang sangat rapuh, dia harus selalu dilindungi. Dan akupun berjanji untuk terus menjaganya, sampai aku mati."

"Hemm... menurutku kau tidak mencintainya.' Ujar Sakura.

"Kenapa? Kau bersikap seperti gadis-gadis lain yang menggilaiku dan tidak ingin aku segera menikah dengan Hinata. Biasanya mereka tidak rela orang setampan aku menikah. Aku tidak menyangka kau juga begitu? " Tanya Sasuke meledek.

Sakura melengos lalu mendecih, "Bukan! Hubungan kalian menurutku lebih seperti saudara. Kau begitu protektif padanya tapi kau tidak bisa membedakan antara cinta terhadap lawan jenis dan untuk saudaramu sendiri."

Sasuke terdiam. Mungkin saja yang dikatakan Sakura itu benar, tapi jika benar apa sesakit ini rasanya cemburu oleh Naruto.

"Kalau kau benar-benar mencintai Hinata, kau pasti mencari cara membuatnya jatuh cinta kembali padamu. Bukan malah membiarkannya pergi bersama Naruto. Kau lebih terlihat mengkhawatirkan keadaan Hinata dibanding mendapatkan hatinya kembali."

Sasuke terdiam. Ia tak punya jawaban atas peryataan-pernyataan tegas Sakura.

" Kau sudah sangat terbiasa dengan Hinata, tidak ada ruang bagi orang lain masuk dan kau tidak pernah mencoba merasakan perasaan jatuh cinta pada gadis lain kan?"Tanya Sakura semakin menyelidik.

Sasuke tersenyum, dan Sakura tidak mengerti arti dibalik senyumannya yang misterius. Sasuke memilih menatap langit dengan bintang berkerlip melalui tatapannya yang hampa. Sakura semakin tidak bisa sabar menunggu jawaban dari Sasuke, ia pun kembali bertanya pada si bungsu Uchiha itu.

"Sasuke,..jika saja aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Hinata, apa kau mau memberi kesempatan untuk menyukaiku?" Tanya Sakura lagi.

Sakura memang sangat terang-terangan. Ia adalah seorang gadis realistis yang tidak ingin membuang waktunya dengan percuma atau membuang-buang waktu demi sebuah harpan kosong.

Sasuke tercekat. Ia tidak menyangka Sakura menghadiahinya pertanyaan semacam ini, mungkin ini salahnya yang memberikan sebuah pesta dansa akhir tahun yang sempurna untuk seorang dokter yang kesepian. Sasuke sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya saat mata hijau itu kian menunggu jawaban dari dirinya. Sasuke kembali menggariskan sebuah senyum tipis dibibirnya. Misterius dan tidak dimengerti oleh Sakura kembali.

"Jujur saja, Sasuke-kun,...mengajakku pergi di akhir tahun, membelikanku gaun mahal dan mengajakku berdansa. Jantungku terus bergetar hebat saat kita berdansa di lantai dansa. Jika aku terus membiarkan perasaan itu tumbuh, aku bisa benar-benar mencintaimu. Ini semua seperti mimpi. Mimpi jadi seorang Cinderella semalam. Tapi aku juga mengerti posisiku, juga kau yang masih berstatus tunangan Hinata. Bolehkan aku jadi Cinderellamu untuk malam ini saja?" Tanya Sakura.

Sasuke selebarkan senyumannya. Yah, gadis dihadapannya menawarkan dirinya untuk jadi gadisnya malam ini saja. Dan dari senyuman Sasuke, Sakura tahu jika Sasukepun setuju dengan permintaannya. Sasuke mengangguk dan Sakura memberikan senyum termanisnya untuk Sasuke.

"Sudah hampir dimulai!" Pekik Sasuke, mengalihkan pembicaraan tentang arah hubungan mereka berdua malam ini. "Sebentar lagi pesta kembang apinya dimulai!"

"Wah, berarti ini menandakan awal pergantian tahun?" Sakura memekik kegirangan.

Sasuke menatap jam tangan miliknya, ia mengangkat telunjuk kanannya sambil menghitung, "Satu,... Dua... Tiga..."

Dan warna-warni kembang api menghiasi langit Sakura terkesan melihat langit dipenuhi semburat cahaya warna-warni. Semua orang didalam ruangan menyambut dengan perasaan riang. Tahun telah berganti sebuah pengharapan barupun kian dimulai.

.

.

.

BLETAK

PYARRR

.

.

.

Sebuah gelas berisi wine melayang ke dahi Sasuke. Entah darimana gelas itu berasal yang jelas gelas itu berhasil membuat darahnya mengucur dari sana. Sasuke menangkup lukanya dengan salah satu tangannya dan memincingkan matanya karena darah kini menghalangi pandangan onix miliknya. Sakura terkejut dan segera menolong Sasuke yang mendadak jadi berlutut karena lemparan gelas itu.

"Kau tidak apa-apa?" Sakura mencoba memastikan luka Sasuke.

"KAAAUUU! UCHIHA BRENGSEK! BERANINYA KAU MEMENJARAKAN ADIKKU! KUBUNUH KAU!"

Seorang pria paruh baya mengumpat dan berjalan dengan cepat menuju Sakura dan Sasuke. Ia menuding Sasuke yang masih mencoba mendapatkan kembali keseimbangannya dengan bantuan Sakura yang membopong tubuhnya. Sakura merasa heran siapa sebenarnya pria yang ebrani melempar gelas kewajah tampan pangerannya. Sakura segera merentangkan kedua lengannya menghalangi pria itu mendekati Sasuke.

."Kau? Siapa? Beraninya mengganggu ketertiban umum, huh?" Sakura berkacak pinggang dan bertanya pada pria yang sepertinya berurusan dengan Sasuke itu.

"Aku adalah seorang Raikage, dan dia beraninya menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara pada adikku. Minggir kau, nona kecil!" Ia segera menyisihkan tubuh Sakura."Aku akan segera menghajarnya!" Kata pria itu geram.

Pria itu mulai mengepalkan tangannya dan mulai melayangkan tinjunya untuk Sasuke.

DUAK

"Ini, rasakan!" Sakura ternyata lebih dulu melepaskan salah satu sling back shoesnya dan menghantamkan kekepala pria paruh baya itu membuat pria paruh baya itu kini jatuh terduduk.

"Kalau kau tidak puas dengan putusan pengadilan, harusnya kau naik banding! Buka menghakimi seorang jaksa penutup umum di tempat umum! Kau benar-benar tidak punya otak ternyata." Ucap sakura sambil menenteng heels di satu tangannya dan tangan lain ia gunakan berkacak pinggang.

"Keparat Kau gadis kecil!" Sergah Raikage yang kini mengisyaratkan anak buahnya maju untuk mengakimi Sakura dan Sasuke.

"Sakura kita harus minta maaf dan menelpon polisi, lalu secepatnya pergi dari sini." Bisik Sasuke.

"Bagaimana caranya keluar? Semua orang sudah mengepung kita! Mau tidak mau kita harus mencari cara menghadapi mereka lalu pergi!"

"Jumlah mereka terlalu banyak dan aku tidak ingin kau terluka!" Kata Sasuke mencoba meyakinkan.

"Apa kau tahu? Syarat pertama tinggal di Kamagasaki?"

Sasuke menggeleng.

"Bisa beladiri." Jawab sakura singkat.

Sakura segera memasang kuda-kudanya, bersiap menghadapi anak buah Raikage yang sudah bersiap melumpuhkan mereka berdua. Sasuke keheranan melihat sikap Sakura yang malah lebih heroik dibanding dengan dirinya. Sakura segera melemparkan jas Sasuke yang tadinya ia pakai untuk menghalangi dingin menyentuh kulitnya

"Maju kalian semua! KYAAA!" Teriak Sakura menantang.

Sakura melepaskan satu lagi heels yang masih dipakainya dan memilih bertelanjang kaki menghadapi anak buah mengepalkan tanganya dan meninjukan pada siapa saja yang bantuan satu heels lagi ditangannya Sakura kini siap menghantam satu persatu orang yang menyerang. Sasukepun demikian ia tidak boleh kalah heroik dari gadis bersurai merah muda yang memakai gaun malam dan menghajar tanpa ampun. Sadar akan kekuatan lawan yang masih lebih besar, dan gaun malamnya adalah penganggu gerakannya Sakura segera menarik tangan Sasuke dan melarikan diri.

"Ayo cepat! Sasuke kita harus lari!" Sakura menarik kuat tangan Sasuke.

Sasuke berlari secepat mungkin bersama Sakura. Ia bahkan tidak menyadari ratusan pasang mata sedang menatap kearahnya. Mereka berdua terus berlari menghindari kejaran anak buah Raikage. Menuruni tangga dan sesegara mungkin mencapai mobil sedan hitam milik Sasuke. Sakura bahkan tidak mempedulikan kakinya telanjangnya, ia harus cepat-cepat mencapai tempat dimana mobil mereka diparkir.

"Aku yang menyetir!" Sergah Sakura.

"Oke!" Sasuke melemparkan kunci mobilnya dan Sakura segera menangkapnya.

Mereka segera memasuki mobil sedan hitam milik Sasuke. Sakura segera menyalakan mobil, terlihat beberapa orang sudah mulai menghalangi laju kendaraan yang akan mereka gunakan untuk pergi itu bahkan mulai mengetuk kaca mereka dan meminta mereka segera keluar.

"Kau yakin bisa mengemudi?" Tanya Sasuke.

"Percayalah,... aku bisa membuatmu muntah karena ini. Jadi lebih baik pakailah sabuk pengamanmu!" Sakura mengingatkan.

Sakura segera memutar kemudinya kekiri dan memundurkan mobil sedan hitam itu. Hal itu membuat beberapa orang dibelakang mobil terkena imbasnya. Lagi, Sakura segera menancapkan gasnya dan melaju secepat kilat pergi dari para pengejar mereka. Sasuke menghela nafas lega saat mereka berhasil keluar dari sana tanpa dibuntuti.

"Apa mereka mengejar kita?" Tanya Sakura.

"Tidak!" Jawab Sasuke. "Darimana kau belajar cara menyetir seperti itu? Apa kuliah doktermu juga diajari cara menyetir gila seperti itu? kau bisa ditangkap polisi karena kecepatanmu di jalanan."

"Aku tidak lagi takut dengan polisi semenjak aku mengenal jaksa muda sepertimu." Ucap Saskura sambil nyengir.

Sasuke menggeleng, wanita disampingnya benar-benar memberinya kejutan malam ini. Ini bukan kejar-kejaran penjahat seperti yang dia lakukan bersama polisi biasanya. Tapi rasanya sangat menengangkan berada diposisi terkejar layaknya penjahat. Sasuke merasa benar-benar luar biasa.

"Lukamu..?" Bagaimana?" Tanya Sakura.

"Kurasa ini hanya luka ringan, kau pasti mau membagi obat merah diklinikmu, bukan?" Tanya Sasuke sambil tersenyum.

Sakura melirik luka di dahi Sasuke, memang tidak cukup serius tapi perlu diobati. Ia kemudian baru sadar jika ia masih memegang salah satu sling back shoes nya yang sempat ia gunakan sebagai senjata di tangan kirinya.

"Ah... kau benar-benar berhasil menjadikanku Cinderella pak Jaksa!" Seru Sakura kesal sambil melemparkan sling back shoesnya ke dashboard.

Sasuke tak bisa lagi menahan tawanya. Gadis disebelahnya ini benar-benar unik. Yaa,.. seorang Cinderella betulan yang pulang dengan sepatu sebelah dan sebelah sepatunya lagi masih tertinggal di pesta dansa.

"Impianmu terkabul berarti, bukan?" Tanya Sasuke sambil terus tertawa.

Bibir Sakura mengerucut dan sebuah perempatan kecil tercetak didahinya. "Aku heran, aku selalu saja tidak bisa tampil anggun!Aku selalu saja begini!Aaaiishhh...!" Sesalnya sambil memukul setir.

Sasuke masih tertawa melihat tingkah si dokter pink disebelahnya. Mereka bercerita satu sama lainnya, sepanjang jalan Konoha-Kamagasaki. Hanya ada obrolan tentang mereka berdua. Perasaan mereka saling lepas masing-masing sekalipun malam akan segera berakhir. Dan akhirnya mobil itu sampai di klinik Sakura. Sakura segera menyuruh Sasuke masuk dan berniat mengobati luka di dahinya.

"Hn.. cukup aneh!" Ujar Sasuke.

"Apanya?" Tanya Sakura sambil membersihkan luka Sasuke dengan kapas dan larutan antiseptik.

"Pertama kali kesini kau juga mengobati lukaku, sekarang kau juga mengobati lukaku."

"Benar juga ya." Jawab Sakura. "Tapi satu-satunya luka yang tidak bisa kusembuhkan adalah luka hatimu. " Sakura menekan perban dan melekatkan plester agar perban itu tertempel dengan baik disana. Dan kini ia kembali menatap onix hitam milik Sasuke

Sasuke terperangah. Ini pertama kalinya matanya melihat emerald hijau Sakura dari jarak sedekat ini. Jantungnya berdegup. Nafasnya kian tak lagi teratur. Kini ia hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan nalurinya pada gadis itu. dengan jari-jemarinya ia meraih pipi mulus milik dokter bersurai pink itu. lalu meninggalkan sebuah kecupan kecil disana.

"Terimakasih, atas semuanya." Ucap Sasuke.

Sakura merasakan bibir seseorang mendarat begitu saja di pipi kananya. Hanya seperkian detik itu terjadi membuat tubuhnya menegang seketika. Disentuhnya pipi miliknya yang begitu beruntung mendapatkan ciuman itu. Ciuman yang tak pernah disangkanya. Matanya masih menatap kedalam onix Sasuke lekat-lekat. Jantungnya seperti berlari secepat mungkin mencapai garis finish. Sakura mengalungkan kedua tangannya di leher Ssuke dan menarik tubuh jaksa itu mendekat padanya. Onix sasuke semakin membelalak saat Sakura menyentuhkan bibir tipisnya di bibir miliknya. Sebuah kecupan hangat selama beberapa detik sebelum Sakura berdiri dan berbalik mengusir jaksa muda itu.

"Pergilah!" Tandas Sakura. "Aku sudah mengobati lukamu!"

Sasuke masih syok dengan ciuman spontan gadis itu, ia tidak punya respon yang lain lagi selain menurut.

"Ohya, kuperingatkan sekali lagi!Jangan Coba-coba muncul kembali dihadapanku jika kau tidak ingin aku jatuh cinta padamu!Kau dengar itu, huh?" Tanya sakura mengancam.

Sasuke tidak menjawab, sekalipun langkahnya terhenti didepan pintu.

"Juga, terimakasih sudah menjadikanku Cinderellamu malam ini." Tambah Sakura lagi.

Sasuke beranjak dari tempatnya berdiri menuju mobilnya. Ada sebuah perasaan aneh semakin bersarang dalam dadanya. Sakit, bahagia dan terbebani diwaktu yang sama. Gadis itu benar-benar membuatnya merasakan suatu adrenalin baru malam ini yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Cintakah? Atau gejolak saja?

Berbeda dengan Sakura, didalam perkataaanya yang tegas mengusir Sasuke ia menyimpan tangisnya. Ia berharap jika ini bukanlah malam terakhirnya bersama Sasuke. Tapi dia tahu jika ia tidak segera pergi menghindar dari pesona jaksa itu ia akan jatuh jauh lebih dalam lagi dan tak menemukan jalan kembali. Kisah Cinderellanya semalam bersama pria paling tampan yang pernah ia temui dalam hidupnya sudah lebih dari cukup menutup kisahnya dipenghujung tahun itu.

Tak ada kisah yang sempurna, dan tak ada rasa yang benar-benar abadi. Ia pun berharap ia bisa melupakan perasaannya yang tidak sempurna pada pria bermarga Uchiha itu bersama pagi yang mulai menjelang.

.

.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan,tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. nih... yang minta SasuSaku moment... ini panjang loh buatnya... Tapi yang NaruHina nya jangan sedih ya... chapter depan gak kalah romantis kok! NaruHina-nya yang lagi liburan di Hakodate dan bahagia banget di chapter depan see you next chapter yaa...
:D