*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 13

.

.

.

.

Hinata tak henti-hentinya takjub memandangi pemandangan sepanjang perjalanan bersama Naruto. Hakodate benar-benar menakjubkan. Sebuah kota yang dikelilingi laut, sangat berbeda dengan Konoha yang tidak memiliki akses laut. Ratusan atau bahkan ribuan kali Hinata mengcapturenya melalui smartphone putih pemberian Sasuke. Tidak lupa iapun berselfie membuat foto bersama Naruto. Sekalipun hal itu sempat membuat Naruto mengerucutkan bibirnya tapi Naruto harus mau tidak mau mengalah pada perasaan cintanya pada Hinata. Merekapun berkali-kali berpose dengan background pemandangan musim dingin di Hakodate saat berda di tengah perjalanan.

Setelah mendarat dibandara Hakodate, Hinata dan Naruto melanjutkan perjalanan mereka kerumah Naruto yang letaknya ada di Toyokawacho. Naruto menunjukkan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi pada Hinata, termasuk sekolah dasar dan menengah pertamanya dan Hinata sangat antusias. Hinata benar-benar menikmati keberadaan Naruto sebagai guide dalam sampai dirumah Naruto, merekapun mampir di sebuah kedai ramen langganan Naruto.

"Kau sering kesini?" Tanya Hinata menyelidik.

"Dulu,.. dan ini juga salah satu tempat kencan ibuku dan ayahku bahkan tempat pertama mereka bertemu." Seru Naruto sambil menyesap ocha nya.

"Benarkah?" Pekik Hinata penasaran.

Naruto mengangguk.

Dua mangkok ramen panas pesanan merekapun datang menghampiri. Dan tanpa perlu dikomando lagi dua manusia kelaparan yang berjalan melewati musim dingin itupun segera menyantap makanan legendaris itu.

"Wahhh... oishi!" Seru Hinata yang membuat Hinata begitu gembira bukan hanya makanannya yang enak tapi ini adalah pengalaman pertamanya makan di kedai ramen pinggir jalan.

"Makanlah, seteleh ini kita akan berjalan selama lima menit untuk sampai dirumahku!" Naruto mengelus puncak kepala gadisnya yanga makan dengan lugu itu.

Tidak beberapa lama setelah makan malam mereka habis, perjalanan menuju rumah Narutopun dimulai. Jalan disepanjang kota itu benar-benar membuat orang terkesima. Lampu-lampu berkelap-kelip dan musim dingin bersalju membuat suasana malam itu begitu romantis. Naruto tak pernah sekalipun melepas genggamannya pada Hinata, ia tidak ingin gadisnya tersesat atau hilang dari pandangannya. Ia juga berharap bisa saling berbagi kehagatan dalam genggaman itu. Dan benar saja, kehangatan bukan hanya dirasakan Hinata dalam tangan yang saling bertautan. Hatinya kian menghangat bersama cinta mereka yang bersemi dimusim dingin. Sesekali mereka saling berpandangan lalu tersenyum satu sama lain. Tidak ada yang bisa mereka sampaikan saat kata tak lagi bisa jadi penghubung. Seulas senyum menggambarkan hati mereka yang penuh cinta dan dipenuhi kebahgiaan hari itu.

"Itu rumahku!" tunjuk Naruto pada sebuah rumah kayu dengan taman kecil di hadapannya.

Hinata melepaskan genggaman tangan Naruto dan berjalan mendahuluinya mendekati rumah itu. Ia tidak menyangka rumah itu sangat berbalik dengan apertemennya yang ada di Kamagasaki. Sekalipun rumah itu jarang ditinggali Naruto tapi jelas terlihat begitu nyaman. Ada tiga buah anak tangga kecil untuk mencapai pintu utamanya dan beberapa tanaman perdu didalam pot yang tertutup oleh salju. Ya, seperti itulah rumah yang pernah Hinata idamkan sebagai rumahnya. Rumah yang terkesan seperti pondokan musim panas memang terlihat sangat nyaman untuk ditinggali. Naruto segera membuka pintu rumahnya dan mengajak Hinata masuk.

Hinata masih terpesona pada rumah kayu itu. ia tidak bisa mendiamkan kaki kecilnya terus melangkah menyusuri sudut rumah dengan perabotan dan design interior didalamnya.

"Rumah ini benar-benar keren. Kau merawatnya dengan baik!" ucap Hinata.

Pandangan mata Hinata kini tertuju pada sebuah foto besar yang terpajang di tengah ruang tamu itu. Ada Naruto yang menggunakan seragam sekolahnya ditengah-tengah foto itu. disampingnya ada seorang pria dengan rambut kuning dan mata biru sama seperti Naruto sedang tersenyum teduh menampilkan kharismanya. Dari kemiripan itu Hinata bisa menebak jika pria itu adalah tousan-Naruto. Seorang wanita berambut merah sepinggang tersenyum lebar sambil mengusap surai Naruto difoto itu.

"Itu kau?" Tanya Hinata pada Naruto sambil menunjuk foto besar dihadapan mereka.

"Ya, itu aku!" Naruto mengiyakan, ia mengangkat kain-kain penutup sofa nyaman dan membersihkan debu dengan vacum cleaner kecil ditangan kirinya.

Lavender milik Hinata masih terus menatap foto besar itu. Sebuah keluarga kecil yang bahagia dan Naruto tersenyum lebar tanpa beban disana. Ia masih terlihat seperti 12 tahun saat foto itu diambil. Dibawahnya ada sebuah meja dengan foto-foto dengan bingkai lebih kecil. Terlihat dua orang yang sama tanpa Naruto sedang memakai hakama dan kimono saat pernikahan mereka, selanjutnya sebuah foto seorang bayi kecil dengan surai kuning dan tiga garis pipi,dan satu foto seorang anak kecil yang mengangkat piala dan memakai medalinya terbingkai dengan manis. Kali ini Hinata seperti sedang berada disebuah museum bersejarah perjalanan hidup orang yang dicintainya, Naruto.

"Ceritakan padaku, mereka seperti apa!" pinta Hinata yang kini memilih duduk di sofa nyaman yang sudah Naruto bersihkan sebelumnya, Narutopun kini duduk disampingnya.

"Tousan-ku tidak banyak bicara, tapi dia adalah orang yang hangat dan penyabar. Sekalipun aku melakukan kesalahan tou-sanku akan menasehatiku tidak dengan marah-marah." Naruto mulai bercerita.

"Wah, seperti Sasuke-ni!" Pekik Hinata. Langsung saja Naruto membentuk perempatan didahinya.

"Ups,..gomen" Hinata mengatupkan bibirnya dan kini menunjukkan wajah manjanya, biasanya Naruto tidak akan tahan dengan rajukannya, " Ayo lanjutkan,..cepat cerita lagi aku penasaran." Rengek Hinata.

Mau bagaimana lagi, Naruto memang tidak bisa menahan perasaannya saat gadisnya bersikap seperti cantiknya terlalu imut dan Narutopun melanjutkan ceritanya.

" Kaa-san ku adalah orang yang berisik dan cerewet, seorang yang perhatian tapi dia juga mudah marah. Kadang aku merasa Kaa-sanku adalah orang paling meyeramkan didunia, bayangkan saja jika aku tidak kunjung datang makan malam karena malas atau tidak suka dengan makanannya Kaa-sanku pasti tidak akan segan merusak meja, memecahkan mangkok atau mendobrak paksa pintuku dan menyeretku kemeja makan." Naruto menggariskan senyum tipisnya dan biru matanya berbinar saat bercerita. Safirnya berkelana jauh kesebuah tempat yang jauh, mungkin latar dari cerita ayah dan ibunya.

Hinata membayangkan keadaan itu dengan sebuah senyuman.

"Mereka sangat kontras, aku juga heran bagaimana mereka bisa jatuh cinta dan akhirnya menikah hingga mempunyai aku." Senyuman Naruto semakin lebar.

"Ceritakan... ceritakan aku ingin tahu!" Seru Hinata antusias

"Dari cerita Kaa-sanku, dia bercerita saat bertemu tou-sanku dia cuma seorang anak SMA yang baru saja lulus sekolah dan mencari pekerjaan, saat itu hujan dan dia berhenti di sebuah kedai ramen tempat kita makan tadi. Sebenarnya ia tidak punya uang untuk memesan ramen jadi dia hanya berteduh sampai hujan lebat berhenti. Kaa-sanku sebenarnya sangat lapar dan kedinginan. Saat itu tousan-ku memberikan semangkuk ramen panas yang ia pesan dan masih belum disentuhnya untuk Kaa-sanku. Dari sana mereka sering bertemu dan berkencan lalu menikah."

Pikiran Hinata melayang membayangkan dua orang yang Naruto ceritakan. Melihat dua insan jatuh cinta dari sebuah hal kecil benar-benar menarik baginya.

"Kalau itu aku, aku tidak akan jatuh cinta pada wanita seperti Kaa-san!" Naruto terkikik.

"Kaa-san sangat ceroboh dan suka sekali menghancurkan barang-barang saat marah tapi tou-san terlihat sangat mengerti dan mencintainya. Mereka sangat bahagia, pertengkaran mereka jarang terjadi dan aku tahu mereka saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. Mereka bahkan berjanji sehidup semati bersama juga bertemu dikehidupan yang akan datang sebagai pasangan sebuah kecelakaan mobil terjadi ketika mereka berniat sama seperti janji mereka berdua, mereka meninggal bersama-sama. Bagiku kisah mereka lebih abadi dari kisah romeo dan juliet yang melegenda itu." Pandangan Naruto yang tadinya bersemangat kini menyendu.

Hinata menatap manik biru Naruto yang kini menatap kedalam lavendernya. Naruto tersenyum menatap gadis cantiknya yang terkesan atas cerita cinta ayah dan ibunya itu.

"Besok, aku akan mengajakmu bertemu dengan mereka. Aku yakin mereka pasti senang melihat gadis yang kubawa secantik dirimu." Ucap Naruto.

"Naruto-kun,.." Seru Hinata lirih.

"Ya." Jawab Naruto sambil menatap manik lavender dengan safir birunya yang teduh.

"Maukah kau berjanji seperti kaa-san dan tou-sanmu denganku?" tanya Hinata.

Naruto tidak menyangka gadis dihadapannya meminta dirinya untuk sehidup semati dengannya. Naruto sangat gembira mendengarnya sekaligus ragu bisa memenuhi janji itu untuknya.

"Kau mau kita sehidup semati?" Tanya Naruto menegaskan.

Hinata mengangguk, "Dan bertemu lagi dikehidupan lain sebagai pasangan selama-lamanya." Tandas Hinata.

Naruto tidak menjawab. Ia menarik tangan Hinata dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Sudah lama sekali tidak ada orang yang bersedia hidup denganya dan gadis dalam pelukannya menawarkan diri untuk terus bersamanya seumur hidupnya, bahkan dikehidupan yang akan datang selama-lamanya.

"Tentu, asalkan kau janji hanya aku satu-satunya yang kau inginkan dan butuhkan, aku akan selalu -lamanya." Jawab Naruto sambil memejamkan matanya, menghirup aroma harum dari indigo yang tergerai indah dan membelainya.

"Janji?" Tanya Hinata.

"Janji!" Ujar Naruto mantap.

Naruto membawa beberapa photo album untuk diperlihatkan kepada Hinata. Hinata benar-benar kagum pada kaa-san dan tou-san Naruto yang menjadi fotografer terbaik dan mengabadikan moment-moment lucu yang berharga ketika mereka bersama. Sebuah foto bisa mengungkapkan lebih banyak makna daripada ribuan kata. Hinata semakin memahami jika pemuda yang dicintainya tidak jauh berbeda dengannya, sama-sama kesepian dan menghadapi kehidupan yang sulit. Mungkin jika Hinta bertemu dengan Naruto sepuluh tahun lalu dia akan melihat seorang bocah yang lebih periang dan suka tertawa lebar seperti yang ia temui dalam foto-foto masa kecilnya dan tidak cenderung menyembunyikan perasaannya seperti sekarang. Naruto dengan masa lalunya yang indah, dengan sebuah keluarga kecil lengkap sangat berbeda dengan yang ia temui di Kamagasaki. Tapi biarpun begitu justru Hinata jatuh cinta pada pria sang Kyuubi No Kitsune dengan banyak sisi gelap dan tinggal di red-light distrik itu. Pria dengan banyak sisi gelap itulah yang membuatnya melihat dunia yang lebih luas dari yang ia lihat, mempelajari suatu penolakan dan sebuah pilihan juga keberanian yang nyaris tak pernah ada dalam dirinya. Entah siapa yang lebih dulu tertidur, mungkin keduanya sama-sama lelah hingga tak mampu membawa tubuh mereka kekamar. Hinata tertidur dalam dekapan Naruto, dengan sebuah mimpi indah tentang pemuda surai kuning jabrik dan senyum lebarnya.

.

.

.

.

Naruto mengamit tangan Hinata yang berjalan beriringan disisi kirinya, ini adalah hari kedua mereka di Hakkodate. Karena semalam hanya makan ramen hal utama yang mereka cari setelah bangun tidur adalah sarapan. Dan sarapan terbaik di Hakkodate tentu saja santapan laut yang baru saja ditangkap di Hakodate Asaichi (Pasar pagi Hakodate) yang letaknya tidak jauh dari stasiun kereta Hakodate. Tentu saja setelah sarapan dan membeli dua buket bunga besar mereka bersiap melanjutkan perjalanan menuju makam Minato-Kushina, orang tua Naruto. Letak pemakaman mereka beberapa kilometer dari Onuma park sehingga mereka harus menempuh perjalanan dengan kereta selama beberapa menit.

Naruto meletakkan dua buah buket bunga didepan makam bertuliskan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Naruto menekuk lututnya dan melipat kedua tangannya menjadi satu sembari berdoa memejamkan mata didepan makam itu. Hinatapun mengikutinya tanpa diperintah.

"Kaa-san, Tou-san, lama tidak bertemu. Ini Hinata,..dia cantik bukan? Aku sudah menepati janjiku untuk mengenalkan pacarku kepada kalian dan kalian juga harus janji tidak boleh menghantuiku dengan permintaan aneh-aneh lewat mimpi,ya...!" Ucap Naruto Berdoa sambil mengancam.

Hinata menepuk kasar dahi pemuda surai kuning yang berlututut disisi kirinya, "Hush! Mana boleh doa kepada orang tua yang sudah meninggal seperti itu, Naruto-kun!"

Naruto memegang dahinya sambil terkekeh, Hinata berojigi di depan batu nisan dengan raut wajah serius.

"Paman, Bibi, apa kabar? Semoga paman dan bibi baik-baik disana. Kami berdoa agar Paman dan Bibi tenang disana. Dan jika boleh kami memohon doa dan restu kalian untuk kelangsungan hubungan kami, semoga kami bisa selalu bersama dalam suka dan duka hingga maut menjemput seperti kalian." Hinata kemudian berojigi didepan kedua batu nisan itu.

Naruto menggariskan senyumnya menatap tingkah formal Hinata. Hinata tahu kalau Naruto sedang meledeknya tapi Hinata malah menggariskan senyum malu-malunya. Bagaimanapun menurut Hinata mereka berdua adalah keda orang tua Naruto jadi bersikap hormat dan formal wajib baginya apalagi dipertemuan pertama. Naruto menggenggam tangan Hinata dan berjalan bersisian disebelahnya.

"Naruto-kun kenapa tidak menggunakan Namikaze?" Tanya Hinata.

"Pakai kok!" Jawab Naruto.

"Benarkah?" Tanya Hinata tidak percaya.

"Nama itu selalu tercantum dalam piagam-piagamku, penghargaan serta medali. Tapi aku tidak bisa merusak nama kebanggaanku itu saat bertanding di pertarungan bawah tanah. Jadi aku menggunakan marga milik ibuku saat berada di Kamagasaki." Ucap Naruto sambil menyisakan sedikit penyesalan diujung kalimatnya.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Hinata.

"Kita akan memancing wakasagi dan menginap di penginapan dekat sini."Jawab Naruto.

Hinata tersenyum, Naruto benar-benar merencanakan liburan ini dengan cermat. Bahkan acara memancing dan menginap didekat Onuma Quasi National Park adalah salah satu destinasi terbaik saat kita mengunjungi Hakodate. Tapi memancing bukanlah kegiatan yang tepat bagi wanita. Belum dua jam berselang, Hinata sudah bosan menunggu tangkapan ikan kecilnya terkumpul. Hinata malah sibuk menarik pancingnya dan menyiratkan air dingin pada wajah Naruto yang serius memancing.

"Kyaaa... maaf Naruto-kun, aku memang sengaja kok." Ucap Hinata menggoda, ia menyembunyikan senyum nakalnya dibalik pony ratanya.

Naruto mengelap bekas cipratan air dengan satu telapak tangannya dan tersenyum sangat manis pada Hinata. Kemudian ia berkonsentrasi lagi pada alat pancingnya.

Lagi. Hinata memainkan pancing dan mencipratkan air ke muka Naruto. Hinata terkikik menyaksikan kelakuannya sendiri.

"Hihihi... dingin ya, Naruto-kun?" goda Hinata.

Naruto sudah mulai tidak lagi tahan dengan gadis yang terus menggodanya. Tapi Hinata masih terus menyeringai puas dengan tingkah jahilnya.

"Hinata..." Seru Naruto kesal.

Hinata Sadar, Naruto bersiap membalas perbuatannya. Hinata segera bangkit dan berjalan menjauh dari Naruto.

"Ya,... Naruto-kun." Goda Hinata sambil terus menjauhi Naruto.

"Jangan sebut aku Naruto kalau tidak bisa menangkapmu, yaa...!"Ujar Naruto melemparkan alat pancing dan berlari mengejar Hinata yang lebih dulu berlari menghindar dari kejaran Naruto.

Mereka berlari mengitari danau yang memebeku dimusim dingin kala itu. Cinta telah membawa mereka dalam petualangan baru penuh kebahagiaan. Naruto membawa Hinata dalam pelukannya, mendekapnya dan menghilangkan jarak diantara keduanya. Tanpa segan lagi Naruto memeluk gadisnya dengan sayang. Tawa dan keriangan mereka terbang bersama butiran-butiran salju keudara. Waktu yang telah mereka lalui bersama membawa mereka pada atu waktu dimana hanya merekalah subjek dan objek utamanya. Senja menyambut dan malam berselang, bintang berkerlip mulai menyapa dua insan yang tengah dimabuk cinta itu.

.

.

.

.

Matahari senja telah menghilang dari balik tirai kamar penginapan dan mengadu diperaduannya saat Hinata masih terbenam dalam pelukan Naruto. Rembulan dengan wajah pucatnya seperti malu –malu muncul menatap Hinata dan Naruto yang masih berpelukan di balkon penginapan itu. Perlahan tangan Naruto mulai mempererat pelukannya. Naruto mendesah di telinga Hinata, gadis itu jadi merasakan ada sesuatu yang aneh yang mengaduk-ngaduk perutnya. Jantung Hinata berdetak kencang saat Naruto berani menjilati tengkuk dan lehernya dengan gairah yang aneh. Bibir Naruto mulai merambah ke bibir ranum milik Hinata. Naruto membimbing langkah kecil kaki Hinata berjalan mundur mengikuti arah sentuhannya. Perlahan, ia nikmati segenap hasrat yang mulai menggebu dan menyeruak keubun-ubunnya dan ia pun menuruti nalurinya. Dikecupnya bibir gadis itu, ia membagi hangat bibirnya untuk gadisnya kini. Hinata sedikit tersentak, tapi entah kenapa dia begitu menikmatinya, ia biarkan bibir Naruto menjamah dan menguasainya. Naruto sepertinya tahu jika Hinata juga menikmati ciumannya, iapun mulai memberanikan diri memagut bibir Hinata dengan gairah yang semakin memburu, dan menggigit bibir bawah Hinata

"Ahh ...,Naruto-kun,..." desah Hinata di tengah-tengah ciuman yang dilakukan Naruto.

Tak berhenti sampai di situ, Naruto berani bergerilya lebih jauh lagi, lidahnya mulai menjelajah masuk ke dalam mulut Hinata. Naruto mengulum bibir ranum itu dengan penuh nafsu. Tangan Naruto yang semula hanya memeluk punggung Hinata kini semakin berani. Tangan kirinya mulai menyusup di balik kaos ketat Hinata dan meremas buah dada gadis itu.

"Ukhh ..." Hinata merasakan sensasi itu.

Naruto mendorong tubuh Hinata hingga jatuh ke bawah, dalam sebuah pembaringan hangat yang empuk. Sekarang posisi Hinata di bawah Naruto. Perlahan tangan Naruto mulai menyibakkan kaus yang menghalangi antara tubuhnya dengan Hinata. Naruto tak hentinya menghujani tubuh Hinata dengan ciumannya yang bertubi-tubi. Hinata mendesah dan tak kuasa menolak sensasi yang ditawarkan Naruto. Walau sebenarnya Hinata ingin mendorong tubuh Naruto, tapi entah kenapa hasratnya menolak.

"Tidak!" Ucap Hinata dengan mata menyendu. Hinata menggelengkan kepalanya tanda ia tidak bisa meneruskan permainan panas yang hampir saja mereka mulai. "Maaf, aku tidak bisa, Naruto-kun."

Manik ungu keperakannya menangkap sosok Naruto terduduk di sebelahnya dengan masih memandangnya dengan penuh hasrat.

"Ada apa?" Tanya Naruto menunggu sebuah penjelasan.

Hinata terdiam mencari sebuah alasannya sendiri, "Aku,.. aku tidak bisa,... Neji,..."

Naruto segera bangkit dari tempat tidurnya dan menatap kearah jendela. Mata Hinata mengikuti pergerakan tubuh Naruto yang cukup cepat itu. ia tahu ada sebentuk kemarahan dalam hati kekasihnya itu. ketidak puasan, entah karena sebuah penolakan atas permainan yang tak berlanjut atau sebuah nama yang mendadak Hinata sebutkan barusan. Tapi, tidak bisa Hinata pungkiri jika sebuah nama itu meninggalkan kenangan buruk didalam hidupnya. Neji, nama itu teringat dalam benaknya ketika ia memulai permainan panasnya dengan Naruto.

"Aku,... pernah mengalami hal buruk itu dan itu sangat,..." Hinata menjelaskan alasannya lebih mendetail tapi ternyata itu tidak mengubah raut wajah Naruto sedikitpun.

"Kita pulang sekarang." Potong Naruto.

Hinata tersentak.

"Kemasi barangmu, malam ini juga kita pulang kerumahku! Mungkin besok baru kita pikirkan perjalanan selanjutnya. " Ujar Naruto segera merapikan barang-barangnya.

Hinata tidak punya pilihan selain menurut dan mengikuti apa yang dikatakan Naruto.

Ya, mungkin ini adalah sepenuhnya salah Hinata yang mengubah mood Naruto 180 derajat dengan beberapa menit yang lalu. Tapi tidak bisa Hinata pungkiri bahwa ini semua terlalu berat dijalani baginya. Ia tidak menolak berbagai macam bentuk ciuman yang bisa Naruto berikan padanya. Tapi ia tidak bisa berguling dan berbagi kehangatan lebih banyak lagi dengan Naruto.

Naruto duduk bersebrangan dengannya dalam perjalanan kereta terakhir dari Onuma ke Hakodate. Kontras sekali dengan kedatangan mereka beberapa jam lalu yang masih tersenyum dan saling berpegangan tangan. Beberapa jam lalu mereka saling menggenggam tangan masing-masing dan bahkan tak membiarkan dingin memisahkan mereka berdua. Tapi, sekarang Naruto memilih menatap jauh keluar jendela kereta yang memebawa mereka pulang ke Hakodate. Hinata hanya bisa diam menatap pemuda surai kuning itu bersikap demikian karena tindakannya menolak adegan ranjang.

"Selamat malam, Hinata." Ucap Naruto memasuki kamar yang berbeda dengan Hinata ketika ia sampai dirumahnya. Naruto menutup pintu kamarnya dan berpamitan tanpa menatap kewajah Hinata.

Hinata hanya bisa tertekuk lesu dan memasuki kamar disebelah kamar Naruto yang tertutup itu. ini kali pertama baginya tidur tidak dengan naruto. Ia harus terima jika Naruto mengacuhkannya. Mungkin Hinata hanya bisa membiarkan pemuda itu lebih tenang dan mungkin Hinata akan mencoba berbicara lagi dengannya besok. Ya, saat naruto lapar adalah saat tepat merayunya.

Salah. Hinata salah besar. Hinata tidak menemukan Naruto dikamarnya saat ia mencoba menawari makan siang. Naruto sudah pergi entah sejak kapan tanpa Hinata tahu. Hinata kira kali ini Naruto akan melunak dengan perut laparnya seperti sebelum-sebelumnya. Tapi ternyata Hinata sendiri harus menelan kekecewaan ketika Naruto memilih mengacuhkannya. Apakah inilah akhir bagi hubungan mereka? Tidak. Hinata tidak ingin berakhir dengan seperti ini. Ia tidak mau kehilangan Naruto. Ia tidak bisa kehilangan pria seperti dia.

Tapi sangat sulit baginya memulai sebuah kontak fisik yang begitu memngingatkannya pada memori buruk. Tidak mungkin juga jika ia tidak bisa terus menyudahi ketakutannya. Naruto bukanlah Neji. Hinata harus tahu itu. dan Naruto adalah orang yang berbeda. Hinata sudah memilih bersama Naruto, bahkan berjanji hidup bersamanya. Cepat ataupun lambat kontak fisik itu pasti terjadi.

.

.

.

.

Hinata terjaga ketika sebuah derap langkah kaki memasuki ruang tamu rumah kayu itu. Hinata segera mendudukkan tubuhnya yang hampir saja pulas dan lelah menunggu kehadiran sosok Naruto. Naruto berjalan menaiki tangga tanpa menyapa Hinata terlebih dahulu. Hinata menatap langkah Naruto yang semakin menjauh dan memunggunginya. Hinata segera berlari mensejajari Naruto sebelum naruto mencapai pintu kamarnya.

"Naruto-kun, aku mau bicara."" Ucap Hinata sambil menepuk pelan bahu naruto.

Naruto berbalik, ia menatap lavender milik Hinata yang terlihat begitu menderita karena Naruto mengacuhkannya.

"Apa kau marah?" Tanya Hinata.

Tidak ada jawaban, Naruto masih mengacuhkannya.

"Tadi aku memasak untukmu, apa kau sudah makan?"Tanya Hinata lagi.

"Makanlah sendiri, aku tidak lapar!" Ucap Naruto ketus. Ia mulai berbalik dan melangkahkan kaki.

"Ma..af, aku..."

"Berhentilah minta maaf, aku hanya butuh waktu sendiri." Ucap Naruto. Ia menutup pintunya keras keras dan meninggalkan Hianat terdiam disana.

Sakit. Hinata tidak menyangka jika Naruto akan mengacuhkannya. Ia masih menatap daun pintu yang tertutup itu, ia tahu Naruto berada dibaliknya.

"Tidak bisakah kau memahamiku, Naruto-kun?" Tanya Hinata. "Aku tidak bisa sendirian tanpamu." Ujarnya dari balik pintu.

Naruto yang mendengar ucapan gadisnya itu segera membuka pintu kamarnya.

"Sekarang aku tanya, siapa yang tidak memahami siapa? Aku yang tidak mengertimu atau kau yang tidak percaya padaku?" Tanya Naruto menyelidik.

Hinata terdiam. Ia tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Mungkinkah benar yang dikatakan Naruto jika ia belum mencoba percaya pada Naruto.

"Kau datang kerumahku,... kita sudah berbagi kamar bersama berhari-hari, berminggu-minggu, dan sekarang kau baru menolakku dengan alasan kau mengingat Neji? kau menganggapku sama seperti dia, huh? Kenapa tidak dari awal saja kau bilang jika semua laki-laki itu sama seperti sepupumu yang hidung belang? Ini sama artinya jika dari awal kau bahkan tidak pernah percaya padaku? Begitu, kan?"

Setitik air mata terurai dari mutiara lavender Hinata. Hinata tak mampu menjawab atas kekhawatirannya sendiri.

"Jika memang kau tidak bisa percaya padaku,..kita sudahi saja sampai disini." Ucap Naruto parau.

Naruto melangkahkan kakinya tapi tangan kecil Hinata menangkup pinggangnya dan membawa kedalam pelukan gadis bersurai indigo itu.

"Tidak, kumohon. Jangan pernah mengatakan itu." Ucap Hinata sambil berurai air mata. " maafkan aku yang meragukanmu. Maaf,... aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyudahi ketakutanku yang tak beralasan,.. maaf."

Disana, dipunggung tegap itu, Hinata kian menumpahkan semua kekhawatirannya atas apa yang selama ini ia pikirkan tentang Naruto. Ia tidak mau kehilangan pria itu. ia juga tidak akan pernah sekalipun melepasnya. Naruto tak punya kata-kata lagi untuk mengacuhkan gadisnya. Sehari sudah cukup membuat rindu bertumpuk dan hatinya gelisah tak karuan. Ia mengerti Hinata memang sangatlah rapuh. Dan Naruto tahu hanya dirinyalah yang Hinata butuhkan. Naruto membalikkan badannya, dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Kini ia tahu bahwa tak ada keraguan, Hinata percaya kepadanya. Sepenuhnya. Bukan hanya sebagai seorang kekasih tapi juga seorang pria yang tidak akan pernah menyakiti Hinata.

"Ajari aku,... ajari aku menghapus semua kenangan buruk itu dari ingatanku. Kau mau kan?" Tanya Hinata sambil menatap kedalam safir Naruto.

Naruto tak menjawab. Naruto memeluknya, sangat erat seperti tak ingin sesuatu terlepas, begitu juga Hinata, ia memeluknya begitu erat, sangat erat, seperti seorang anak menggenggam kembang gula agar tidak diminta seseorang. Mereka saling terdiam dalam pelukan yang saling erat, begitu lama, sampai larut malam. Biru safirnya sendu, dan lavenderpun kian memerah karena bekas tangis. Mata Naruto masih teduh memandang Hinata yang terdiam dengan pasrah. Lalu tak lama Naruto menenmpelkan bibirnya ke bibir Hinata. Sebuah ciuman hangat yang begitu menenangkan dan berlangsung cukup lama.

Hinata merasa panas dan tak sadar kali ini,Hinatapun kian membalas dengan membuka bibirnya, mengepaskan letak bibirnya dengan bibir Naruto. Naruto pun menarik kepala Hinata lebih kuat hingga ia bisa menekan bibirnya lagi, lalu mengulum dan melumat bibir ranum saling menikmati sensasi aneh dan saling berpagutan lama setelahnya. Hinata merasa ciuman Naruto begitu memabukkannya kali ini.

Naruto mengelus rambut panjang Hinata, lalu mengelus pipinya dengan sayang. Dengan sangat lembut ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Hinata lagi. Kembali mata mereka bertemu, debar aneh membuncah dan bertalu dalam tubuh masing-masing. Naruto tahu dadanya tengah bergolak oleh api asmara yang telah ditahannya sejak lama. Naruto mendaratkan kecupannya lagi dengan sangat mesra. Mata Hinata terpejam, takut-takut ia kembali ragu melihat pemuda yang tengah mencumbuinya itu.

"Buka matamu,... ini aku, hanya aku." Ujar Naruto lirih. Suara baritonenya kian menenangkan Hinata yang mulai gusar. Hinata menurut. Ia mendengar bisikan yang memintanya untuk lebih tenang dan percaya.

Mereka kembali saling memagut dan mengulum bibir hingga lama. Hawa panas mulai merayapi seluruh tubuh mereka yang sedang dilanda asmara. Hinatapun menurut pasrah saat naruto membuka kancing kemejanya satu persatu. Menciumi setiap jengkal tubuh Hinata dengan ciumannya. Tubuh Hinata memanas. Ia mendapati sebuah sensasi aneh yang tidak dapat lagi ditahannya. Apalagi saat Naruto mulai mengecup dan menjelajahi puting payudaranya. Saat dikulumnya lembut buah dadanya, Hinata menjerit.

"Akhh... Naruto-kun." Rintih Hinata sambil menatap Naruto dengan sayu matanya.

Dengan tersenyum mesra Naruto terus meneruskan ciumannya ke perut Hinata. Nafas Hinata kian memburu, ia tidak lagi mendapati akalnya yang jernih. Kini Hinata hanya mampu mendesah menahan gairahnya yang semakin membuncah. Hinata hanya tahu bahwa ia ingin terus membiarkan Naruto melaksanakan tugasnya. Naruto menindih tubuh Hinata. Naruto mulai memasangkan kelakiannya yang telah mengeras ke milik Hinata yang membasah. Hinata mendesah penuh gairah. Naruto mengecupi, mengulum dan melumat bibir Hinata sambil pinggulnya terus menaik-turunkan pinggulnya menjadi satu dengan Hinata.

Naruto terus meremas payudara Hinata dengan lembut, mengulum bibir Hinata dengan rasa cinta, dan memompa kelakiannya semakin dalam ke lorong rahim Hinata. Suara rintihan nikmat bersatu padu. Hinata merintih sangat panjang hingga menjerit dan melenguh begitu kerasnya.

"Nn...Narutooo-kun,..."

"HINATAAA..." Jeritan Naruto tak kalah kerasnya.

Sesaat kedua tubuh itu kian mengejang mencapai kenikmatan yang tertinggi bersama.

Keduanya kini merasakan sebuah kelelahan yang merajai sendi mereka setelah bergumul panas diatas ranjang. Lelah, tapi mereka saling terpuasakan satu sama lain. Malam berlalu. Sebuah pelukan masih kian terpaut dari dua orang yang tak lagi menyisakan ragu dalam hati masing-masing. Cinta telah mengubah mereka jadi lebih dewasa.

.

.

.

.

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. terimakasih sudah bersabar karena sempet sakit kemarin. semoga kedepannya semakin sehat dan biar gak lama-lama updatenya. terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas..
:D see you next chapter
:D