*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 14
.
.
.
.
Setitik sinar berani menyeruak masuk melalui celah-celah tirai kelambu yang tak merapat. Cahaya kuning keemasan membagi kehangatan pagi di musim yang mencapai titik beku kali itu. Terang yang bergelayut manja seakan menipu mata entah pukul berapa tepatnya kini. Ratusan detik telah terlalui dan menit kian begitu berarti saat dua insan kian berbagi kehangatan dan bergumul dengan panasnya diatas ranjang. Adalah Hinata dan Naruto, yang masih tergolek lemah karena permainan kepuasan semalam. Sepertinya sekali tak cukup bagi mereka berdua, mungkin dua atau tiga.
Cercahan noktah merah sewarna darah masih tersisa karena tindakan mereka berdua. Sepasang safir biru kian mendapati warna itu saat kelopak matanya terbuka karena cahaya keemasan begitu menyilaukannya pagi itu. Ya, ini memang yang pertama bagi Hinata. Ini juga yang pertama baginya. Dan ia tahu harga dari sebuah noktah merah bukanlah sebuah kepuasan belaka. Bukan hanya sebuah kepercayaan yang Hinata berikan padanya. Si pemilik safir bersurai pirang itu tahu jika itu adalah sebuah harta paling berharga dan satu-satunya yang Hinata miliki. Pastinya ia tahu betul harus menukarnya dengan apa. –Hidupnya.
Ditatapnya tubuh mulus yang hanya berselimutkan kain yang sama, terbagi dua dengan yang juga dipakai tubuhnya itu. Gadis disebelahnya telah disulapnya jadi wanita semalam. Surai indigonya terhampar sedikit tak rapi tapi sama sekali tidak mengurangi pesona wajah cantik berpony miliknya. Kelopak mata yang masih terpejam menyembunyikan manik lavender keperakan didalamnya yang teduh menyayu. Bibir ranum merah muda menjingga merekah, seakan memanggil Naruto untuk kembali menyesap manisnya dunia melaluinya. Darah Naruto berdesir menatap lekat-lekat makhluk cantik yang masih terlelap disebelahnya. Tentu pemandangan indah yang tak terlewatkan pagi itu bisa membuatnya kembali menegang. Ia masih diawal duapuluh dan libidonya meninggi dikala pagi adalah hal yang sangat wajar. Tapi tiga kali sudah cukup membuat lututnya bergeming, tidak lagi ia lakukan untuk pagi ini kegilaannya semalam.
Hinata menggeliat, meregangkan otot-otat kaku dan mulai menguap mendapatkan kembali kesadarannya. Pemandangan indah itu bisa semakin mengusiknya jika Naruto tidak segera menguasai dirinya. Cepat-cepat Naruto menutup mata birunya dan kembali berpura-pura tidur dengan tenang. Ia tahu kini giliran gadisnya yang terbangun dari tidurnya.
Kini giliran Hinata yang kembali terhipnotis pada tubuh tan kekar yang mengungkungnya hampir sepanjang malam. Tampan. Satu kata yang bisa menggambarkan Naruto sejak awal, Hinata sangat menyukai garis wajah tegas yang diciptakan dewa untuk pemuda yang terpejam disampingnya. Surai kuningnya dibiarkan begitu saja dan membuat dahinya tertutupi dengan lugu. Tidak lagi ada jahitan garang seorang Kyuubi No Kitsune, tiga goresan dipipi Naruto malah membuat Hinata gemas. Ya, Hinata sangat mencintai pria itu. Tidak terbantahkan. Sekalipun ia sudah menyerahkan keperawanan miliknya pada pria itu tapi Hinata merasa jika yang dia lakukan sudah tepat. Pilihannya adalah Naruto. Kini dalam hidup dan hatinya hanya ada satu nama dan itu Naruto. Menikah? Ya, mungkin suatu hari itu akan terjadi. Tapi yang lebih penting adalah dia punya waktu yang sangat amat berharga yang ia habiskan bersama Naruto. Dan Hinata tidak menyesal melakukannya.
Kini pandangannya beralih pada kelopak tegas yang membungkus safir sebiru samudera didalamnya. Kelopak mata yang tegas itu sangat kontras dengan bulu mata lentik milik Naruto. Naruto punya sisi cantik dalam wajah garangnya yang tampan. Entah sudah berapa lama berlalu dari semenjak ia terbangun dan menatap Naruto. Hinata merasa bulu mata itu begitu lentik untuk dilewatkan dan iapun memutuskan untuk menghitungnya satu-satu. Hinata tak habis pikir bagaimana mungkin ia terus merasa kagum pada pria itu. sejak pertama bertemu hingga sekarang, tak ada hentinya ia terhipnotis berkali-kali pada wajah itu. Selalu saja ada hal kecil yang membuat dirinya tertarik pada objek hidup berkulit tan dihadapannya. Segaris senyum tipis tergambar dibibir mungil Hinata, ia tidak mengerti hal bodoh yang sudah ia lakukan pagi itu.
Mendadak kelopak mata yang menyembunyikan safir itu terbuka. Hinata segera bersemu merah, ia malu jika harus bertemu pandang dengan Naruto dengan keadaannya sekarang. Mata itu memburu lavender miliknya, Hinata tak kuasa melakukan apapun ia memilih menutup wajahnya dengan bantal. Takut-takut dia mengintip safir yang terlihat mengintimidasinya itu, ia malu sekaligus tidak berani menatap tajamnya safir itu.
Lucu. Bagi Naruto gadisnya itu terlihat menggemaskan saat terlihat malu-malu begitu. "Ohayo, Hinata." Ucap Naruto.
Dengan pipi bersemu merah Hinata masih berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik bantal, sedikit-sedikit ia mengintip dari balik bantalnya memastikan agar safir itu tidak lagi mengintimidasinya.
"O..ohay..yo Naruto-kun." Ucap Hinata tergagap.
Hinata menyembunyikan kembali wajahnya dibalik bantal miliknya. Ia malu berhadapan dengan pemuda surai kuning pujaannya dalam keadaan seperti itu. Dalam keadaan tidak rapi dan juga telanjang pastinya.
"Ada apa?" Tanya Naruto. Ia mencoba menyingkirkan bantal yang menghalangi pandnagan antara dirinya dengan gadis indigonya.
"Ttt...ttidak.. tidak akumohon jangan lihat aku!" Kata Hinata sambil mencengkeram kuat bantal dan berusaha menutupi wajah malunya agar tidak terlihat oleh Naruto.
"Kenapa?" Apa yang terjadi padamu?" Tanya Naruto mulai khawatir.
Hinata terdiam ia membalikkan tubuhnya agar Naruto tidak lagi bisa menatap wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus dan memunggungi partnernya bercinta semalam.
"A..aku malu Naruto-kun." Ucap Hinata lirih.
Seulas senyum tergambar di wajah Naruto. Gadisnya itu terlihat lebih menggemaskan lagi sekarang.
"Kenapa harus malu? Aku kan sudah melihat semuanya semalam." Ucap Naruto.
Hinata tersentak. Ia gigit kuat-kuat bibir bagian bawahnya dan seketika aliran darahnya terkumpul hanya di wajahnya. Sudah dapat dipastikan Hinata sangat malu saat Naruto mencoba menggodanya pagi itu. Hinata nyaris frustasi, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Tahu gadisnya semakin jadi malu, Naruto semakin ingin terkikik. Naruto berusaha tetap tenang dan mencoba kembali menggoda si cantik indigo disebelahnya.
"Kenapa? Aku semalam bahkan memegangnya. Kira-kira,... besarnya sebesarini kan?" Naruto mencoba membuat simulasi seperti saat ia memegang sebuah bola besar dengan satu telapak tangannya.
Hinata tak tahan lagi. Segera ia memutar kembali tubuhnya dan melempar bantal empuk kewajah Naruto.
"Dasar mesum!" Ujar Hinata jengkel.
Naruto menangkap dan segera melemparkan bantal itu ke sembarang arah. Ia tahu Hinata masih sangat mencintainya sekalipun ia jengkel dan berhasil melempar bantal itu padanya. Ditariknya tangan mungil yang tadi digunakan untuk melempar bantal kewajah tampannya. Naruto membawa Hinata kedalam pelukannya. Hinata terkejut dengan perlakuan Naruto yang begitu tiba-tiba.
" Aku mencintaimu,... sangat." Bisik Naruto di dekat telinga Hinata.
Jelas kalimat itu kian menggema dan menggetarkan jantung Hinata yang semula jengkel pada pria yang baru saja menggodanya itu. Kini ia tak mampu menolak pelukan hangat yang sangat menenangkannya itu.
"Terimakasih, sudah percaya padaku." Ucap Naruto lagi. Kini ia melonggarkan pelukannya agar ia bisa menatap lekat-lekat indigo kesayangannya itu,
Hinata tidak mampu mengucapkan kalimat apapun selain tersenyum pada Naruto.
Tapi, Naruto kini berwajah menyendu tak sesumringah saat ia menggoda Hinata tadi.
"Aku tahu kau sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga milikmu untukku. Dan,.. biarkan aku memberikan satu-satunya yang kupunya untukmu."
Hinata masih tidak bisa menangkap maksud perkataan Naruto, jadia ia memutuskan tetap menunggu penjelasan selanjutnya dari Naruto.
Naruto menghela nafas panjang, sebalum akhirnya membuka mulutnya kembali untuk bicara, " Aku tidak akan bertarung lagi sebagai petinju."
Satu kalimat itu justru membuat mulut Hinata ternganga tapi iapun masih tidak bisa mengucap apapun atas keputusan Naruto yang sangat tiba-tiba itu.
"Kulihat kau sangat suka melukis, dan membuat benda-benda unik semacam souvenir. Ayo kita menabung, kita buat Galery agar kau bisa terus melakukan bakatmu, aku akan mencari pekerjaan lain yang lebih baik dan aku juga yang akan mengantarkan pesanan barang dari galery itu. Kita akan punya rumah kecil dan sebuah dunia dimana hanya ada kau dan aku. Tidak lagi ada mafia, kejahatan, atau hal-hal buruk lainnya. Bagaimana? Kau suka?"
Itu adalah sebuah rancangan mimpi masa depan yang sempurna. Hinata sangat terkesan saat Naruto mengajaknya ada dalam sebuah mimpi yang terdengar sangat indah itu. Dan lebih lagi, Naruto meninggalkan dunia gelapnya untuk terus membangun mimpi bersamanya. Sebuah kehidupan yang lebih baik.
Hinata segera mendekapkan tubuhnya kedalam tubuh kekar dihadapannya, "aku mau Naruto-kun. Aku mau jadi bagian dari mimpi indah itu."
Naruto tersenyum ia membela puncak kepala Hianta dengan sayang dan menyusuri helaian panjang indigo milik wanita kesayangannya itu.
"Ya,... kita bisa mewujudkannya setelah aku mengelurkan uang yang cukup mahal atas kebebasanku dari mafia itu." ucap Naruto.
"Tapi,... aku sudah tidak punya cincin berlian lagi untuk kuberikan pada mafia itu untuk menebus kebebasanmu." Ucap Hinata yang menunduk dan sedikit kecewa.
"Jangan kuatir!" Naruto menyentuhkan telunjuknya di hidung mungil Hinata sehingga gadis itupun kini memandang kearah safirnya. Kini Naruto menggenggam pipi gembil mulus Hinata dengan kedua tangannya.
"Aku akan memenangkan pertandingan terakhirku. Dan menyerahkan semua uang untuk membayar hutangku kepada mereka. Sekalipun aku tahu pertandinganku kali ini tidak akan mudah." Ucap Naruto meyakinkan.
"Kalau kau kalah, bagaimana?" sedikit kepanikan kini bersarang di wajah cantik Hinata.
"Seorang Kyuubi No Kitsune tidak akan pernah kalah,... terlebih saat seorang dewi keberuntungan sepertimu berpihak padanya." Ucap Naruto menenangkan.
Hinata tersenyum, Naruto juga membalas senyuman itu dengan senyuman paling tulus yang bisa ia berikan. Ya sebuah mimpi dan keputusan tentang masa depan mereka telah dibuat. Kini hanya ada dua lagi yang mereka butuhkan untuk mewujudkannya yaitu tekat dan keberanian.
.
.
.
.
Sebuah dokumen kian dibuka dan sedang dipelajari oleh seorang pria jangkung bersurai hitam pekat berusia tigapuluhan memakai seragam kepolisisan dan terlihat sangat berwibawa. Usianya memang masih muda, tapi ia sudah bisa berhasil menjabat sebagai kepala polisi. Pasti ada segudang cerita keberhasilan dibalik kasus-kasus yang pernah diungkapnya sehingga ia kini bisa mencapai posisi itu. Seperti sekarang, ia terlihat cukup tenang mempelajari kelengkapan berkas-berkas yang ada ditangannya.
Amat sangat berbeda dengan gadis dengan rambut sewarna permen kapas dihadapannya. –Haruno Sakura- ia terlihat sangat gusar.
Bagaimana tidak. Pagi-pagi tadi setelah Konohamaru berangkat ke perusahaan tempatnya biasa bekerja, Klinik Sakura mendadak kedatangan tamu-tamu berseragam resmi dari kepolisian. Awalnya memang polisi-polisi itu sedang menertibkan pub yang disinyalir melakukan praktek perdaganan narkoba dan barang ilegal atas instruksi kepala kepolisian yang saat ini dihadapannya itu. Dan pada akhirnya klinik Sakura yang tidak memiliki izin resmipun ikut terjaring. Jelas, ia takkan lagi bisa membuka praktek disana.
Kini masalah besar yang ia hadapi ada dua. Yang pertama, tidak punya tempat praktek yang merangkap rumah baginya, yang kedua ia bisa dipenjara jika kasus ini diusut dan diperkarakan.
"Nona Haruno,...perkenalkan namaku Uchiha Itachi, aku ingin agar anda bisa bekerja sama dalam menyelesaikan masalah ini." Ucap kepala kepolisian itu menyapa.
"Apa? Uchiha? Bagaimana mungkin keturunan Uchiha sangat menawan? Pantas saja jika orang ini punya kemiripan dengan Sasuke, apa mungkin ini kakaknya? Ahhh... kakaknya pun juga tampan. Tapi kenapa keturunan Uchiha yang selalu membuatku dalam masalah? Sepertinya aku benar-benar tidak boleh berurusan dengan uchiha manapun. Aku harus segera pergi dari sini,"
Sakura mengomel panjang dalam hati. Ia berusaha menunjukkan wajah angkuh dan tidak mau disalahkan atas kesalahan membuka praktek dokter tanpa surat ijin itu.
" Begini, Nona dari segi hukum di jepang membuka praktek tanpa ijin dengan segaja bisa dijerat dengan pasal..."
"Hentikan!" Ucap sakura memotong.
Itachi mengatupkan bibir tipisnya untuk bungkam.
"Biarkan aku yang bertanya terlebih dulu padamu."
"Silakan." Itachi bersedia ia diinterograsi lebih dulu oleh sakura.
"Siapa mayoritas yang tinggal di Kamagasaki?"
"Tunawisma dan pengemis."
"Apa mereka punya cukup uang?"
"Tidak"
"Apa mereka tidak berhak sakit?"
"Tentu saja siapapun bisa sakit."
"Bagaimana jika mereka tidak mampu kerumah sakit dan membayar tagihannya? Mereka bahkan tidak dierima disana. Dan aku,... kau tahu... aku hanya seorang sukarelawan yang memberikan pengobatan tanpa mengkomersialkan keahlianku. Jadi seharusnya kau tidak bisa menahanku dnegan pasal-pasal bodoh yang dibuat pemerintah hanya untuk melindungi sebagian orang saja. Sementara orang-orang yang hidup di kamagasaki adalah orang-orang yang keberadaannya tidak diakui dan diasingkan." Ucap Sakura.
Itachi mengangguk mengerti. Tapi bukan berati dia akan dengan mudah membenarkan ucapan Sakura. Bagaimanapun saat ini Sakura bersalah atas pelanggarannya.
"Begini saja nona, bagaimana kau menelpon pengacaramu? Akan lebih mudah jika seorang kuasa hukum yang menyelesaikan masalah ini." Itachi memberi saran.
Pengacara? Yang benar saja. Selama bertahun-tahun setelah lulus Ssakura hanya berteman dengan orang-orang di Kamagasaki. Tidak ada satupun dari orang yang pernah datang ke kliniknya adalah seorang pengacara. Paling bagus, pemilik wisma pekerja dan menyewakan beberapa kamar miliknya agar mendapat penghasilan. Kini dengan menyesal, ia sadar jika selama ini ia tidak cukup menyambung hubungan dengan baik pada teman-teman kaya yang memiliki relasi-relasi yang memudahkan masalah hidupnya. Malah beberapa tahun terakhir hidupnya dihabiskan menjadi dokter dnegan bayaran seadanya.
Oh,... sepertinya Sakura lupa jika ia juga pernah seorang mengenal seorang pengacara yang pernah datang ke kliniknya. Seorang pengacara tampan yang pernah ia gigit sekaligus menjadikannya seorang putri Cinderella. Tidak. Sakura tidak mau Sasuke masuk dalam daftar orang yang bisa menolong masalahnya kali ini. Sakura sudah mengusir Sasuke dari hidupnya, jadi ia tidak mungkin meminta atau bahkan menghamba agar Sasuke menolongnya kali ini. Berhadapan dengan satu Uchiha sebagai kepala polisi sudah cukup merepotkan, ia tidak mau ditambah dengan Uchiha lainnya sekalipun tak bisa ia pungkiri ia merindukan si raven Uchiha yang tampan itu.
Ia bisa saja menelpon konohamaru untuk mencarikan pengacara agar ia terbebas dari masalah ini. Tapi masalahnya Sakura ataupun Konohamaru tidak punya cukup uang untuk membayar jasa pengacara itu. Sakura tahu betul prinsip kerja seorang pengacara, semakin banyak uang yang diberikan semakin hukum bisa dipermainkan. Oh Tidak,...tak ada satupun yang bisa ia lakukan lagi selain pasrah. Mungkin memang saatnya Sakura tidur sambil merasakan dinginnya lantai penjara.
Telepon pintar milik kepala polisi itu berdering dan lamunan Sakura buyar seketika.
"Aniki, aku di kantormu dan membawa jas untuk pernikahanmu tapi kau tidak ada. Kau dimana?"
"Oh, aku sedang ada urusan di Kamagasaki. Taruh saja, setelah aku menangani kasus ini aku akan segera kembali ke kantorku."
"Kamagasaki? Ada Kasus apa?"
"Tadinya aku sedang menyisir kasus Narkoba, tapi sekarang aku sekarang mendapatkan sebuah tempat praktek dokter tanpa lisensi legal."
"Dia temanku, aku akan jadi kuasa hukumnya. Jangan melakukan apapun padanya. Aku akan segera sampai dalam 20 menit."
Itachi memandang lekat manik hijau Sakura. Ia mencoba menganalisis bagaimana adiknya bisa mengenal seorang dokter ditempat semacam itu. tidak biasanya Sasuke berada ditempat-tempat kumuh dan lebih sering melakukan pertemuan bisnis dengan orang-orang kelas atas direstoran mahal. Jadi sangat tidak mungkin jika Sasuke mengenal seorang yang bertempat tinggal di daerah itu kecuali jika Sakura pernah terlibat kasus-kasus di kepolisian sebelumnya. Tapi, track record Sakura sama sekali tidak pernah berurusan dengan polisi sebelumnya.
"Kau mengenal adikku?" Tanya Itachi.
Sakura terkesiap. "Apa?" Ia berharap agar Itachi lebih memepertegas maksudnya.
"Sasuke, dia adikku. " Itachi menegaskan.
"Ehm,... ya ada apa? Apa itu penting dalam pemeriksaanku?" tanya Sakura.
Itachi mengangkat alisnya, "Aku tidak tahu bagaimana hubungan pertemanan kalian tapi kau wajib bersyukur, dia akan segera datang dan berniat menjadi pengacaramu." Itachi tersenyum kecil.
"Kita bicara lagi setelah kuasa hukummu datang, Nona." Seru Itachi lagi, ia meninggalkan Sakura terpaku ditempat duduknya dan beranjak pergi dari tempatnya.
Sakura sekarang tidak memiliki penangkal lagi untuk menghadapi kedatangan Sasuke kedalam hidupnya. Satu-satunya hal yang harusnya Sakura hindari, yaitu menjauh dari Sasuke agar ia tidak semakin jatuh cinta kepada pria itu. Tapi sekarang, jika Sasuke datang kemari dan membereskan masalahnya itu artinya membuat Sakura menjadi semakin berutang budi padanya dan jelas semakin tak mudah bagi Sakura melupakan pengacara tampan itu.
Tidak. Sakura tidak suka bertarung dengan perasaannya sendiri. Saat dia sangat lega dan bahagia ketika mendengar berita ada seseorang yang bisa menolongnya dan bersedia jadi kuasa hukumnya, tapi ia juga tidak mau Sasuke semakin mengakar dalam hati maupun pikirannya. Kini ia hanya bisa pasrah sembari menghitung detik waktu karena iapun tak bisa menghentikan kedatangan Sasuke.
Sasuke segera keluar dari mobil sedan hitam mewah miliknya. Ia tidak lagi menunda langkah kakinya untuk menuju tempat dimana ia bisa menjalankan perannya sebagai kuasa hukum Nona Haruno. Sasuke juga tidak mengerti kenapa ia harus ikut campur dalam urusan Sakura. Tidak ada hubungannya dengan uang dan pekerjaan. Mungkin Sasuke merasa harus berterimakasih saja pada gadis itu. Bagaimanapun gadis itu pernah mennjadi dokter yang mengobati luka dikepalanya juga seorang teman ke pesta dansa tanpa dibayar. Tapi sepertinya dua alasan itu terlalu biasa.
Tidak bisa Sasuke pungkiri jika keberadaan gadis musim semi itu cukup berkesan baginya. Bukan karena ia sudah mencuri ciuman pertama Sasuke, tapi gadis itu berhasil menjadi orang pertama yang Sasuke ingat saat ia terbangun dari tidurnya. Yah tidak biasanya. Bahkan Sasuke tidak pernah mengingat Hinata sebagai orang yang pertama diingatnya saat terbangun mengawali hari. Sasuke biasa mengingat Hinata saat ia melakukan hal-hal yang dulu sering mereka kerjakan bersama itu saja. Jadi dua perasaan itu sungguh sangat berbeda sekarang. Jika Sasuke bisa menyebut Hinata baik, cantik, pendiam dan anggun, Sasuke cukup melukiskan satu kata untuk Sakura. Menarik.
Harusnya dengan alasan ia merasa tertarik pada seorang dokter yang menarik inilah alasannya menjadi kuasa hukumnya. Sasuke ingin bertemu kembali dengan Sakura. Tidak perlu alasan-alasan aneh yang dibuat-buat lagi
"Aniki, tolong segera urus surat pembebasan Nona Haruno. Aku bisa menjamin jika ia tidak akan lagi membuka praktek ilegal semacamnya." Ucap Sasuke saat ia berhasil mendapati kakaknya yang tengah duduk berhadapan dengan Sakura.
"Sial, kenapa kau jadi sok keren begini,Sasuke? Tapi yang lebih sial kau memang benar-benar keren!"
Sakura mengumpat dan sekaligus memuji pria tampan yang baru saja datang untuk menolongnya agar tidak mendekam dalam jeruji besi kali ini. Tapi dengan sangat menyesal Sakura harus menyembunyikan baik-baik kesenangan dan semburat senyum kelegaannya dihadapan Sasuke. Sakura harus menyembunyikan semua itu dan mempertontonkan wajah masamnya. Ia tidak boleh membuat Sasuke terus kembali menemuinya. Tidak boleh. Itu adalah jadi hal yang lebih buruk lagi ketika ia benar-benar semakin tergantung pada Sasuke, ia membutuhkan nya setiap saat pria yang disangkanya tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadanya itu.
"Oh, tentu. Tapi aku tidak bisa mengembalikan kedai teh itu karena masih disegel pihak kepolisian. Mungkin untuk beberapa waktu."
Urat syaraf dikepala mendadak menegang, mengingat kini ia tak punya tempat tujuan untuk pulang. Ia sama dengan sebagian besar tunawisma dan pengemis yang pernah ditolongnya.
"Tidak apa, itu perkara mudah. Aku akan membantu Nona Haruno mendapatkan tempat tinggal sementara." Ucap Sasuke sambil tersenyum kearah kakaknya sendiri.
"Brengsek! Hentikan itu! jangan sok pahlawan, aku tidak akan dengan mudah melupakanmu! Kau benar-benar tidak kasihan padaku,ya?" Teriak Sakura dalam hati.
Sasuke juga melemparkan senyum menawannya pada Sakura. Tentu senyumnya semakin membuat jantung sakura berdetak tak karuan.
"Kita kembali bertemu, Sakura!" Sapa Sasuke pada Sakura. Sakura hanya bisa terdiam dan terpaku pada onix yang menatap kedalam matanya.
Tidak. Jangan diteruskan lebih lama lagi Sakura atau kau takkan pernah bisa kembali dari lautan pesona si bungsu Uchiha itu. Akhirnya Sakura menarik nafas dalam-dalam sebelum sempat ia menghembuskannya. Ia harus bisa menguasai dirinya dari wajah tampan Sasuke.
"Ohya, Aniki. Nona Haruno juga mengenal Hinata jadi dia juga tahu mengenai kasus Hinata. Dia juga pernah menolongku dari kejaran anak buah Raikage. Kuharap kalian berkenalan dengan cukup baik." Ucap Sasuke.
Itachi mengubah kerutan dahinya yang semula pertanda penasaran dari kepalanya menjadi senyum tipis menawan khas Uchiha sambil berojigi kepada Sakura. Sakurapun membalas dengan hal yang sama. Itachi tahu ototounya kali ini bertindak tidak seperti biasanya. Cukup aneh Sasuke terlibat dalam hubungan timbal balik manusia yang tidak dilatar belakangi dengan uang atau pekerjaan. Tapi Itachi tidak suka menanyai adik satu-satunya dengan berbagai pertanyaan interograsi tentang hubungan mereka berdua. Itachipun membiarkan mereka berdua pergi setelah menyelesaikan prosedur pembebasan.
Sakura berjalan dengan terburu-buru keluar dari kantor polisi itu. Ia tidak mau berterimakasih atau mengatakan apapun pada pria yang sudah membebaskannya dari jeratan hukum. Sebisa mungkin ia harus cepat lenyap dari pandangan onix bungsu Uchiha itu. Bodohnya, ia lupa tidak membawa cukup uang untuk memanggil taksi jadi setidaknya ia harus berjalan ke stasiun atau halte bis terdekat. Lebih bodoh lagi, Sakura tidak memakai baju hangat dicuaca bersuhu dibawah nol. Tentusaja ia tidak sempat membawanya karena polisi sudah menarik tubuhnya dan mengangkutnya kedalam mobil patroli.
Sakura harus berjalan dan menghilang dengan cepat. Sekalipun ia tahu Sasuke dengan mobil sedannya membuntuti dan mengklaksonnya dari belakang.
"Hei, Nona! Butuh tumpangan?" Teriak Sasuke sambil membuka kaca mobilnya.
Sakura masih bersikeras melangkahkan kakinya sembari bersidekap, berusaha mengurangi hawa dingin yang menusuk kulitnya.
"Mobilku hangat lho,... kau yakin tidak ingin masuk? Ini gratis!" teriak Sasuke lagi.
Sakura menghentikan kakinya. Sasuke juga menginjak perlahan pedal rem mobilnya.
Sakura berbalik dan menatap onix milik Sasuke. Tanpa bicara ia segera membuka pintu mobil dan duduk disebelah bangku kemudi dengan kasar. Sasuke tersenyum puas karena ia berhasil menjaring si permen kapas masuk dalam mobilnya.
"Kau,..kenapa kau berani datang padaku lagi? Aku kan sudah memperingatkanmu!" Tanya sakura sambil setengah berteriak, ia mencoba menunjukkan kemarahan agar Sasuke gerah pada sikapnya.
Sasuke tertawa. Wajah Sakura semakin geram.
" Berhentilah masuk kekehidupku! Setelah berhasil menjadi pangeran tampan yang mengajakku pergi ke pesta dansa dan menjadikanku Cinderella semalam sekarang kau jadi seorang kesatria penyelamat yang membebaskanku dari penjara seperti Rapunzel. Begitu, huh? Kau ingin agar aku berhutang budi padamu begitu?" Tanya Sakura lagi.
"Baiklah,...Bagaimana caranya agar kau tidak merasa berhutang budi padaku? Katakan saja." Tanya Sasuke mencoba mencari solusi dari kemarahan Sakura.
"Aku harus segera membayar jasamu sebagai pengacaraku barusan. Dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku." Ucap Sakura." Berapa yen aku harus membayarnya?"
Sasuke tersenyum tipis.
"Baiklah, kali ini aku akan memberimu diskon. Kau cukup mentraktirku makan malam." Jawab Sasuke.
"Apa? Makan malam?" ulang Sakura.
'Ya,... disana!" Sasuke mengisyaratkan gerak kepalanya pada sebuah restoran Italy mewah berkelas dan segera memarkirkan mobilnya.
Bodoh. Sakura menyesali keputusannya untuk memasuki mobil juga menyesalkan mulutnya yang mengucap sombong akan membayar jasa Sasuke sebagai pengacaranya. Bagaimana mungkin ia sanggup membayar makanan di restoran semahal itu. Uangnya mungkin hanya cukup membeli dua gelas minuman. Kini urat syaraf Sakura seakan bergerak naik keubun-ubun. Ia bingung harus bagaimana menghadapi si raven tampan yang sudah turun dan memasuki restoran sehingga ia mau tak mau ia harus mengikuti langkah berwibawa itu. Sakura benar-benar pusing menghadapi hal ini. Adakah yang bisa menolongnya sekarang?
.
.
.
.
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. terimakasih sudah bersabar karena sempet sakit mata kemarin. hehehe saya punya sharingan untuk sementara waktu. semoga kedepannya semakin sehat dan biar gak lama-lama updatenya. terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D
