*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 15

.

.

.

.

Sasuke mencoba mencari daftar makanan kesukaannya dalam sebuah buku yang berisi daftar menu sebelum ia yakin memesan makanan itu. Ini bukan kali pertamanya untuk berada disebuah restoran dengan kelas internasional. Bertemu klien dan menjamu beberapa tamu penting dari kepolisian biasanya lebih ia titik beratkan ke restoran italia. Bukan alasan mahal dan berkelas yang jadi pertimbangannya, tapi restoran italia pasti menyajikan banyak menu dengan saus tomat kesukaannya. Onix matanya menyusuri setiap tulisan dan mencoba menyelidiki apakah hidangan tersebut akan disajikan dengan banyak potongan tomat atau saus tomat. Berbeda dengan emerald hijau yang sedang duduk dengan perasaan panik, gelisah, gusar dan keringat dingin yang mulai meluncur dari dahinya. Sakura sama sekali tidak membaca nama makanan disisi kiri daftar menu. Mata hijaunya terus menelusuri bagian kanan dari daftar menu. Tentu saja, yang ia cari adalah tentang harga makanan itu sendiri.

Sakura tidak yakin berapa jumlah uang yang ia bawa. Mungkin sekitar seribu atau dua ribu yen dan jelas dengan jumlah itu ia tidak akan mungkin membayar makan malam untuk dua orang. Ia juga panik jika Sasuke memesan makanan dengan harga mahal, tetapi ia lebih takut lagi tidak mampu mambayarnya. Dan ujung-ujungnya ia akan lebih tidak enak lagi pada pria yang sudah membebaskannya dari tuntutan pidana itu. Bagaimana mungkin ia menolak keinginan Sasuke, jika Sasuke hanya meminta imbalan berupa makan malam saja. Kini Sakura semakin panik saat Sasuke mengisyaratkan seorang waiters melayani mereka.

"Aku ingin Roasted Tomato Bruschetta untuk antipasto, pastanya aku ingin Tuna Spaghetti with tomato sauce." Sasuke membalikkan halaman daftar menu ke halaman yang menyajikan daging sebagai main course nya.

Hati Sakura semakin mencelos mengkoreksi harga pesanan Sasuke yang baru disebutnya sudah lebih dari 500 yen, tapi Sasuke yang terlihat masih belum menyelesaikan pesanannya. Ia masih membolak-balikkan daftar menu dan memilah-milah. Sakura benar-benar panik bagaimana jika pesanan Sasuke melebihi kapasitas uang yang ia bawa.

" Secondo, Chicken Parmigiana dengan ekstra tomat dan sedikit saja saus kejunya...dan segelas jus tomat. Jangan menawariku dessert karena aku kurang suka manis. Itu saja." Sasuke menutup dan mengembalikan buku menu itu pada waiters yang tersenyum padanya.

"Apa yang ingin kau pesan?" tanya Sasuke pada Sakura yang sedang sibuk memprediksi total harga pesanan Sasuke dengan jarinya.

Tentu itu membuat Sakura kelabakan dan mencoba bersikap untuk lebih tenang didepan Sasuke.

"A.. Aku pesan Crème d'asperges. itu saja cukup." Ucap Sakura lemas dan mulai mengembalikan buku menu ditangannya pada waiters yang menunggu pesanan darinya.

"Ada apa? Kau tidak lapar seharian di kantor polisi?" Tanya Sasuke.

Sakura hanya tersenyum kecut. Tentu saja ia luar biasa lapar tapi ia tidak mungkin berani memesan lebih lagi, takut uanganya tidak cukup.

"Perutku sedang tidak nyaman, kurasa makan soup asparagus akan lebih baik." Jawab Sakura mengelak.

"Benarkah? Sayang sekali... padahal aku baru saja berpikir agar aku saja yang membayar semua makanannya. Aku kurang suka ditraktir oleh seorang wanita." Sasuke menyayangkan.

Mata sakura mendelik. Ia tahu jika baru saja ia keluar dari masalah dan bukan dia yang membayar semua pesanan malam ini, tapi Sasuke. Darahnya langsung tersulut, matanya segera menajam, ia kembali memanggil waiters yang tadinya sudah mulai menaruh pesanan mereka untuk kembali dan segera datang kepadanya.

"Pelayan. Kesini!" seru Sakura melambaikan tangan dengan bersemanagat

Sasuke hanya bisa menyembunyikan senyuman dibalik bibirnya yang terkatup. Gadis dihadapannya ini betul-betul objek yang sangat menarik.

" Tolong pesananku yang tadi diganti,... aku mau Piadina with Fontina and Prosciutto, satu Beef Lasagna, satu porsi Veal Marsala, satu porsi Tiramisu, satu porsi Strawberry Panna Cotta, dan Sicilian Cannoli. Ohya, aku hampir lupa memesan... aku juga ingin segelas Italian raspberry cocktail." Sakura kini menutup buku menunya dengan senyum yang lebih membahagiakan dari sebelumnya.

Sasuke hanya bisa menahan tawa geli dalam hati melihat kelakuan Sakura yang lucu baginya. Memang bukan kebiasaannya makan dibayari oleh wanita tapi wanita, dan ia tidak menyesal membawa Sakura yang berubah mood dengan drastis benar-benar tontonan yang menarik baginya. Wanita dihadapannya ini memesan 3 porsi dessert sekaligus dengan menu 3 buah menu yang lain sebelumnya. Makanan itu cukup untuk dimakan dua sampai tiga orang, tapi semuanya dipesan oleh seorang wanita bertubuh kurus dan rambut pink. Ia semakin tidak sabar melihat pertunjukan menarik dari gadis bersurai pink itu lagi.

Sebenarnya Sasuke cukup senang jika Sakura memesan cukup banyak menu untuk dimakan. Selain karena ini adalah hari yang buruk bagi Sakura, Sasukepun punya banyak waktu untuk bicara sambil makan malam dengan Sakura. Beberapa hari berselang setelah ancaman Sakura memang menyisipkan sebuah perasaan baru di hati Sasuke. Perasaan rindu.

Tapi sepertinya Sakura sangat mengurangi pembicaraan. Ia sibuk dengan urusan mengisi perutnya yang hampir seharian belum sempat ia isi apapun. Sasuke paham akan hal itu, ia menunggu waktu sampai makanan penutup datang dan berbicara lebih santai lagi.

"Sekarang bagaimana rencanamu?" Sasuke mulai mengajukan pertanyaan ketika Sakura mulai menyendok dessert dengan bahan dasar Strawberry yang telah ia pesan.

"Kau akan tinggal dimana?" Tambah sasuke.

Sakura tetap sibuk menyendok dessert dan memasukkan cepat-cepat kedalam tenggorokkannya sebelum ia menjawab sasuke. "Jangan kuatirkan aku, aku tidak mau semakin berhutang lagi padamu." Katanya sambil melambaikan tangan pada Sasuke.

Jujur, sebuah perasaan tidak nyaman kembali menjalari hati Sasuke. Ia merasa tetap harus ikut campur pada masalah Sakura kali ini. Terlebih, selama makan malam sekalipun Sakura mengurangi keadaan yang memungkinkan mereka untuk saling bertemu pandang dan saling menatap. Sakura mencoba tetap fokus pada makanan yang ia makan dan Sasuke tahu jika gadis dihadapannya sedang menghindar.

"Aku punya sebuah apartemen. Dan aku tidak pernah menggunakannya, jika kau mau kau bisa tinggal disana sementara waktu sampai kau menemukan tempat tinggal dan pekerjaan baru. " Sasuke mencoba tetap mencampuri kehidupan Sakura, ia hanya merasa harus melakukannya sekarang.

"Kau sudah menjadikanku Cinderella, lalu hari ini kau jadi pangeran yang menolong Rapunzel dari jeruji besi sekarang kau ingin agar aku menerima kebaikanmu dan membuatku ada diposisi Candy dan kau Anthony?" Sakura meletakkan sendoknya dan menghentikan aktivitas mengunyahnya.

Berhasil. Sasuke kini berhasil membuat Sakura berani metap onixnya.

"Tidak usah sok kuat, juga tidak perlu mengakupun aku tahu kalau kau tidak punya uang. Lebih baik terima saja." Ucap Sasuke. Sasuke tidak bisa mengucap kata yang lebih manis untuk Sakura.

Sakura masih menatap tajam kearah Sasuke. Sakura merasa harga dirinya direndahkan kali ini, tapi di tempat berkelas seperti ini ia harus menjaga betul-betul agar emosinya tidak meluap. Ada sebuah kesedihan, semua yang dikatakan Sasuke tentangnya adalah benar. Ia tidak punya cukup uang untuk bertahan hidup dan tak punya arah tujuan. Jadi Sakura merasa tidak punya kata-kata yang bisa ia ucap untuk membalas ucapan Sasuke.

"Kau pernah bertanya padaku,... jika saja kau bertemu denganku lebih dulu daripada Hinata, apa aku mau memberi kesempatan untuk menyukaimu." Ucap Sasuke memecah keheningan. "Bagaimana jika kita mencobanya?"

Jantung Sakura seakan terhenti saat itu juga. Ia tidak mungkin salah dengar saat ini, iapun tidak sedang bermimpi. Mungkinkah Sasuke benar-benar menyukainya atau hanya sedang dalam masa kesepian tanpa Hinata yang lebih dulu berpaling darinya. Sakura hanya bisa menatap onix Sasuke yang mencoba menatap kedalam manik hijaunya. Sakura tahu betul jika Sasuke tidak main-main kali ini. Ia serius dengan ucapannya, tapi kini Sakura yang tidak yakin akan dirinya sendiri.

"Bagaimana, kau mau?" Ucap Sasuke memecah keheningan.

Harus, kali ini harus ia ambil kesempatan itu dengan segenap keberaniannya. Sekalipun mungkin perasaannya pada Sasuke jauh lebih besar dibanding dengan Sasuke kepadanya. Tapi ada yang bilang jika cinta sejati itu bukan dicari tapi dibentuk. Mungkin saja kali inilah kesempatannya untuk mendapatkan cinta. Bagaimanapun mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Sontak sakura ingin segera melompat dari tempat duduknya, hanya saja ia sedang berusaha tertahan duduk manis diatas kursinya agar pengunjung restoran yang lain tak memandang kearahnya yang mulai merasa hatinya gila karena kegirangan.

"T..tentu." Ucap Sakura dengan tergagap. "Apa kau mencintaiku?" Tanya sakura saat dirinya sudah mulai mampu menguasai diri.

Ia meletakkan sendok hidangan penutupnya dan mendadak perutnya penuh karena kebahagiaan yang begitu meluap-luap.

Sasuke memberikan senyuman bagi Sakura, tapi Sakura tak mampu membalas senyuman itu. ia hanya bisa memandang onix itu dan semakin terhipnotis untuk jatuh lebih dalam dan mengikuti perintah Sasuke yang menitahnya.

"Kalau boleh aku jujur aku merasakan suatu dorongan untuk terus masuk dalam hidupmu. Semacam desakan adrenalin yang menyenangkan dan kesenangan itu seperti saat aku menyelesaikan teka-teki kasusku. Kau melarangku untuk bertemu denganmu tapi karena suatu ketidak sengajaan kita bertemu, dan aku tidak bisa membiarkanmu ada dalam masalah. Aku,... juga merasa sangat menyesali keputusanmu mengusirku saat pertemuan terakhir kita. Sedikitpun aku tidak pernah mengharapkan itu jadi yang terakhir. Oh ya,...ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu."

Sasuke memanggil kembali seorang waiters, dan seorang waiters itu memberikan sebuah kotak untuk Sasuke. Sasuke membuka kotak itu, sepasang sepatu yang sangat dikenal Sakura. Sepatu itu pernah membawa langkah kecilnya menuju ballroom dan berpesta lalu berdansa dengan pangeran tampan yang kini berjongkok untuk mengganti sepatu keds-nya dengan sling back shoes warna emas. Sakura ingat betul, ia pernah meninggalkan sisi kirinya di gedung dimana pesta itu digelar dan sisi kanannya ia lemparkan seenaknya diatas dashboard mobil Sasuke. Kini, Sakura tidak bisa melarang puluhan pasang mata yang menatap tindakan manis Sasuke kepadanya. Si Cinderellapun kembali memakai sepatunya dan keajaiban kian terjadi, cinta mereka saling bertaut. Mungkinkah akan jadi abadi?

"Ada sebuah pepatah, kita harus punya sepasang sepatu yang bagus karena sepatu yang bagus suatu hari akan membawa kita pada sebuah jodoh dan kisah yang kita harapkan." Ucap sasuke sambil menatap manik hijau Sakura yang menyelidik tindakannya, " Pakailah, ini memang milikmu."

Sakura hanya bisa bungkam. Tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Pria dihadapannya itu berhasil membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Jantung Sakura berdetak dengan kuat, dan iapun tahu bahwa cintanya pada Sasuke juga bukanlah sebuah perasaan sementara. Sementara Sasuke sendiri mendapati kupu-kupu kian berkepak didadanya menari dan membuatnya tersenyum dengan tulus untuk gadis musim semi yang menarik itu. Malam itu keduanya memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi hatinya masing-masing untuk sebuah perasaan yang mulai menguat.

.

.

.

.

Setelah mengunjungi makam kakek Jiraiya di Okushiri selama dua hari, malam ini akan menjadi malam terakhir bagi Naruto dan Hinata di Hakodate. Mau tidak mau mereka harus berpisah dengan tempat indah dikelilingi air dan kembali menyelesaikan suatu pekerjaan demi sebuah tiket kebebasan. Ya, Naruto harus menyelesaikan pertandingan terakhirnya sebelum ia bisa membangun sebuah mimpi yang indah bersama Hinata.

Tanpa menyia-nyiakan waktu mereka yang kurang dari duapuluh empat jam, mereka ingin menikmati pemandangan malam terindah dari puncak gunung Hakodate. Sebenarnya Naruto mengkhawatirkan kesehatan Hinata. Ia takut jika si indigo cantik kesayangannya itu kelelahan. Tapi hinata tetap merengek untuk pergi kesana karena ini adalah malam terakhir mereka di Hakodate.

Hinata menatap jauh kearah lampu berkelap-kelip dari gunung Hakodate. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan menaiki kereta gantung dan berakhir pada sebuah balkon dipuncak gunung Hakodate. Sekalipun ia belum pernah melihat indahnya surga yang sesungguhnya, tapi pemandangan yang dilihatnya kali ini cukup mewakili keindahan surgawi. Di puncak gunung Hakodate, terhampar pemandangan malam yang begitu menakjubkan. Kota Hakodate terletak di semenanjung Kameda, dan gunung Hakodate berada di ujung semenanjung itu. Dari puncak gunung terlihat jelas Hakodate diapit oleh dua bagian perjalanan Hinata dan Naruto yang sudah ditempuhnya di Hakodate, tempat inilah yang paling romantis.

Surai indigo panjang nan halus itu malambai tertiup oleh hembusan angin dimusim dingin dengan indahnya. Seulas senyum kian tergambar manis di wajah cantik yang takjub melihat keindahan. Naruto tak mau berpisah dari kesayangannya dimalam yang bisa membekukan mereka berdua jika tak saling berbagi kehangatan. Disusupkannya jari-jemari melalui celah pinggang Hinata dan kedua tangan kekarnya kian bertemu di perut Hinata. Senyum yang lebih lebar bersamaan dengan pipi bersemu merah semakin jelas tampak di wajah Hinata.

"Kau senang?" Tanya Naruto.

"Ya, tentu. Ini sangat indah Naruto-kun." Hinata memutar tubuhnya dan berbalik agar ia bisa menatap safir yang biasa meneduhkan sekaligus bisa membakarnya dalam api cinta yang bergelora.

Naruto mengeratkan pelukannya pada Hinata. Semakin hari ia semakin mencintai si indigo bermata lavender keperakan itu.

"Ada sebuah legenda,tentang gunung Hakodate. Kau ingin tahu?" Naruto menawari sebuah kisah kecil pada Hinata dan Hinata membalas dengan anggukan antusias.

" Ada sebuah hati yang tersembunyi disuatu tempat di gunung ini. Siapa yang berhasil menemukannya, dia akan menemukan cinta sejatinya. Cinta itu akan jadi sebuah kisah cinta yang berbuah manis atau semakin diperdalam satu sama lain. Jika mereka terpisah, maka hati mereka tetap satu. Sekalipun mereka menempuh berbagai rintangan tapi mereka akan tetap dipersatukan kembali. Kami-sama akan memberikan restunya pada orang yang menemukan hati itu supaya cintanya abadi." Naruto mengisahkan.

Segera Hinata melepaskan pelukan Naruto dan mencari objek berbentuk hati seperti yang Naruto maksudkan.

"Kalau begitu kita harus segera menemukannya Naruto-kun!" Hinata bersemangat.

Urat mata Hinata berkerut mencari objek berbentuk hati. Ia sangat berharap bisa menemukannya, agar kisah cintanya juga bisa seperti legenda. Ia juga mulai melangkahkan kakinya mencari-cari hati yang dimaksud, sekalipun ia sendiri tidak yakin hati yang dimaksud itu bentuknya seperti apa. Jelas tingkah Hinata sekarang telah mengacuhkan Naruto yang menunggu momen romantis dimalam terakhir mereka di Hakodate.

"Itu hanya sebuah legenda, Hinata!Bagaimana mungkin kau bisa percaya hal semacam itu! Aku benar-benar menyesal telah menceritakannya padamu!" Naruto menyesalkan ceritanya sambil bergeleng-geleng sementara gadisnya tak menggubris dan masih tetap sibuk mencari objek berbentuk hati.

"Itu!" Sergah Hinata. Lihat itu Naruto-kun!" Hinata menunjuk sebuah lampu yang berbentuk hati dengan kegirangan.

"Aku menemukannya... aku berhasil melihatnya!" Seru Hinata kegirangan.

Naruto menghela nafas dan hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadisnya.

"Kita akan punya kisah cinta yang abadi kan? Selamanya kita akan terus bersama." Ucap Hinata begitu sumringah.

Naruto berjalan mendekati gadisnya, "Kenapa kau begitu percaya?"

"Karena aku ingin selalu denganmu, Naruto-kun. Aku mau agar kisahku juga direstui oleh Kami-sama dan jadi abadi." Tukas hinata meyakinkan.

"Kau tidak perlu mencari hati itu lagi. " Kata Naruto dengan raut wajah datar.

"Kenapa?"dengan nada merendah, Naruto tampaknya tidak menyukai usahanya menemukan hati itu.

Naruto terdiam, ia mencoba memperpendek jarak antara mereka berdua tapi masih bungkam.

"Apa kau berpikir jika suatu hari kita bisa terpisah?" Tanya Hinata dengan nada sendu.

Hinata menunduk dan merubah raut wajahnya yang tadinya sumringah jadi lebih datar, tentu ia sangat penasaran menanti penjelasan Naruto. Mungkinkah jika Naruto tidak ingin kisah mereka jadi abadi? Atau bahkan mengubah keputusannya untuk memutuskan Hinata suatu hari nanti. Ya, bisa saja Naruto tidak percaya tentang cinta sejati yang bisa abadi. Pikiran-pikiran itu kian berkecamuk dalam kepala Hinata membuat suasana menjadi hening. Tak ada suatu kaata atau kalimat yang terucap dari keduanya.

Naruto memandang lekat manik bulan milik Hinata, dipagutnya dagu tirus yang tertuntuk itu dengan telunjuknya agar ia bisa menatap kembali manik bulan yang selalu ia rindukan. Hinata hanya bisa menunggu penjelasan pemilik safir yang kini membuat senyum dengan bibir tipis dihadapannya itu.

"Karena hati itu ada disini." Naruto mengamit tangan hinata dan meletakkannya pada jantungnya yang berdetak.

"Disinilah hati yang akan terus mencintaimu. Didalam sini akan ada namamu yang mengalir setiap detiknya bersama darahku. Kita yang akan membuat takdir cinta kita sendiri jadi abadi bukan karena kita berhasil membuktikan sebuah legenda. Jadi jangan mencari hati yang lain lagi." Naruto memandang lekat manik levender Hinata.

Jantung Hinata berdegup dengan kencang saat safir biru Naruto kembali membakarnya dalam sebuah gejolak. Ia merasakan cinta yang begitu dalam dari sebuah niat yang akan dibuktikan Naruto dalam ucapannya cintanya yang ekspilisit. Ya ia tahu betul jika pria dihadapannya bisa diandalkan. Kini ia tak punya kalimat apapun untuk membalas kalimat manis Naruto, terlebih setelah Naruto menatapnya. Hanya sebuah senyum bahagia yang bisa ia berikan saat ini.

"Soredewa kekkon shimashou!" Ajak Naruto.

Hinata begitu terharu, ia nyaris menangis bahagia karena ucapan itu. Hinata semakin membulatkan mulut kecilnya yang ternganga, jari lentiknya berusaha menutupi mulut yang tak lagi mampu berkata apapun lagi sekarang. Ini membuat Hinata terkejut sekaligus bahagia. Ia merasa seluruh tubuhnya dilingkupi cahaya berkerlip semarak nan membahagiakan dan tubuhnya menjadi begitu ringan hingga ia bisa terbang ke angkasa seketika itu saja ini semua karena ucapan dari Naruto. Baru saja Naruto melamarnya.

Naruto mengeluarkan sebuah cincin berwarna perak dari dalam sakunya. Ia segera memasangkan cincin itu pada jari manis tangan Hinata yang tadinya ia letakkan dijantungnya.

"Ini adalah cincin yang diberikan ayahku untuk Ibuku. Ibuku bilang agar aku memberikannya pada seorang gadis yang nantinya akan bersedia menemaniku, membangun mimpi, membuat sebuah dunia dan kebahagiaan. Dan sekarang aku telah menemukan gadis itu. " Naruto tersenyum sembari mengecup ujung jari Hinata.

Darah Hinata berdesir, ciuman diujung jarinya itu kian membakarnya.

"Aishiteru yo.., Zettai ni shiawase ni suru kara! Anata mushi dewa ikite ikenai" Naruto membawa gadis indigonya itu kedalam pelukan eratnya.

"Hontouni daisuki, zutto zutto sobani iru yo" Jawab Hinata sambil mengangguk.

Gemerlap bintang langit malam musim dingin di puncak gunung Hakodate awal januari itu telah jadi saksi mereka berdua yang memutuskan untuk segera terikat sebuah tali pernikahan. Hinata merasaa saat ini ia sedang melayang bersama bintang-bintang diangkasa. Sama halnya Naruto yang begitu bahagia dan beruntung menemukan gadis seindah dan secantik Hinata. Keduanya saling melepas perasaan cinta masing-masing.

Lengan mereka saling terpaut menghangatkan dan hati mereka saling bersatu bersiap membangun saling terbuai satu dengan lainnya. Naruto mencoba menyentuhkan bibirnya yang hangat ke bibir Hinata. Bibir itu memang telah haus akan cinta dan tengah menunggu untuk dikecupnya sedari tadi. Hinatapun tidak menolak saat Naruto memperdalam ciuman dan menyesap bibirnya. Hinata tidak mampu mengimbangi ciuman Naruto yang menghujaninya lebih dulu, ia hanya bisa pasrah menikmati ciuman itu dan mengikuti nalurinya. Keduanya berbagi kehangatan dalam ciuman panas dari cinta mereka yang bergelora satu sama lain. Selama empat menit berselang, adegan penuh kemesraan itu harus terhenti akibat suplai oksigen yang tak lagi mereka punyai. Dengan berat hati keduanyapun harus melepaskan ciuman itu.

Hinata bersembunyi dibalik dada bidang Naruto, ia tidak lagi ingin terbang dengan angan tapi justru ia ingin terus tinggal dan bertahan bersama pelukan hangat yang menaunginya. Begitupun dengan Naruto, ia telah menemukan pengantinnya.

"Ayo kita pulang!" Ajak Naruto.

"Uhumm" angguk Hinata.

Mereka berjalan dibawah lampu kota temaram menuju rumah Naruto. Sesekali Hinata manja dan meminta agar Naruto menggendongnya. Memang mereka harus berjalan menempuh 5 sampai 6 kilometer. Tentu ada kendaraan untuk menempuh jarak itu, hanya saja pemandangan malam dengan lampu kota di Hakodate sangat sayang untuk dilewatkan. Sebuah cinta yang menguat, sebuah hubungan yang kian erat, dan kenangan indah yang romantis di Hakodate adalah buah tangan yang akan mereka bawa pulang esok hari.

Hakodate seperti kota impian yang meninggalkan kisah dan kesan mendalam bagi mereka berdua. Sebuah kota penuh keajaiban yang mengubah Hinata dan Naruto untuk kembali kekehidupan yang sesungguhnya. Mereka seperti hidup bahagia di negeri dongeng tapi kini sudah waktunya mereka kembali hidup di dunia nyata. Dunia penuh ingar bingar yang penuh dengan berbagai intrik kejahatan dan sisi gelap, Kamagasaki.

.

.

.

.

Soredewa kekkon shimashouayo kita menikah

Aishiteru yo.., Zettai ni shiawase ni suru kara! Anata mushi dewa ikite ikenaiaku mencintaimu, aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu

Hontouni daisuki, zutto zutto sobani iru yoaku benar-benar menyayangimu dan aku akan terus berada disampingmu

Kayaknya lihat sasusaku menemukan cinta dan naruhina dilamar pengennya end disini aja yaa... hehehhee tapi bukankah badai itu muncul pada saat laut dan angin yang tampak tenang. jadi chapter depan bersiaplah saat konflik sebenarnya muncul hahahahah *ketawasetan*
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. terimakasih sudah bersabar karena sibuk banyak pesenan catering dan ngajar, mudah2an kedepannya makin bisa bagi waktu biar gak lama-lama updatenya. terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D