*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 16

.

.

.

.

Banyak hal yang terjadi dan berubah sekembalinya Naruto dan Hinata ke Kamagasaki tapi merekalah yang terakhir tahu. Dari penjelasan Sakura melalui sambungan teleponnya Sakura bercerita tentang kliniknya yang disegel,saat ini sedang menjalani proses hukum dan kemungkinan ia takkan kembali lagi ke Kamagasaki sebagai dokter pribadi Naruto sekaligus dokter non komersil. Sakura juga bercerita dia tinggal di sebuah apartemen milik temannya di Konoha untuk sementara waktu. Tapi Sakura tidak menyebut dengan jelas siapa temannya. Siapapun pasti bisa menebak, manusia yang berasal dari kota itu sudah pasti seorang jaksa muda penuntut umum, Uchiha Sasuke.

Tidak ada lagi tempat aman untuk menitipkan Hinata saat Naruto pergi latihan, jadi naruto selalu mambawa Hinata serta kemana ia pergi. Jelas seluruh Kamagasaki tertuju pada pemandangan indah si indigo yang mempesona. Seperti permata bersinar diantara tumpukan sampah masyarakat, dan Naruto selalu menggandeng tangannya agar batu itu tidak jatuh tergores atau hilang. Tapi tak dapat dielakkan juga jika Hinata menumbuhkan pikiran-pikiran nakal dari lelaki yang memandang kemolekan tubuhnya.

Mau bagaimana lagi, Naruto kini harus mengkesampingkan pikiran-pikiran yang membuatnya tidak nyaman itu dan membawa Hinata kepertandingan terakhirnya. Seru-seruan riuh bergemuruh dan semakin menggema saat detik-detik pertandingan hampir dimulai. Sebuah spanduk besar 'The Last Fight of Kyuubi No Kitsune' terpampang di atas pintu masuk. Berbanding terbalik dengan Naruto yang sudah berulang kali bertanding dan berada ditengah lautan manusia kini, Hinatalah yang merasa dirinya tidak aman. Berbagai macam bentuk manusia tengah bertaruh demi kemenangan atau kekalahan lelaki yang sangat dicintainya itu. Tentu Hinata akan sangat terpukul jika Naruto tidak bisa memenangkan pertandingan terakhirnya dan berakhir dengan kekalahan dan luka parah. Atau yang lebih penting lagi, tiket kebebasan merekapun kian dipertaruhkan. Ini adalah pertandingan hidup dan mati. Kemenangan adalah janji dari sebuah kehidupan baru yang lebih damai, tetapi kekalahan akan tetap menempatkan mereka pada sisi gelap kehidupan Kamagasaki.

"Ada apa?" Tanya Naruto yang menangkap kegelisahan di raut wajah Hinata.

"Ano,.. bagaimana jika kau kalah Naruto-kun?" Seru Hinata penik dalam kalimatnya. "Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu? Lawanmu menghajar bagian-bagian vital hingga kau tak mampu..."

Kalimat itu terhenti oleh sebuah jari yang mengatupkan bibir ranum milik Hinata yqnag masih bergetar.

Naruto menggeleng, "Kau tidak percaya padaku?"

Hinata hanya bisa menampilkan matanya yang berkaca-kaca dan menahan agar air matanya tidak tertumpah. Naruto tahu gadisnya perlu ia tenangkan terlebih dulu sebelum ia naik keatas ring.

Ditangkupnya pipi gembil seputih susu dengan kedua tangannya, "Hinata,... ingat saat kau berhasil melihat sebuah hati di Gunung Hakodate? Mari kita buktikan kebenaran legenda itu. Bukankah dewa akan merestui cinta kita? Jadi sekarang doakan aku yang telah berjanji memberikan seluruh hidupku untuk terus menjagamu dan memperoleh kebebasanku. Kau mengerti?" Naruto menampilkan segaris senyum termanisnya agar siindigo itu bisa jauh lebih tenang.

Ya, kembali Hinata terpesona oleh wajah tampan dengan tiga pasang goresan dihadapannya, iapun membalasnya dengan senyuman.

"Sekarang cium aku agar aku bisa menang!" Naruto mencoba menggoda Hinata dan menghilangkan kepanikan gadis itu dengan candaannya.

Hinata menggeleng dengan tersipu malu. Naruto pun tahu jika ia tidak akan mungkin memberikan ciuman dihadapan ribuan pasang mata yang sedang tertuju pada bintang ring. Naruto hanya tersenyum melihat kini gadisnya sudah bisa mengalihkan kepanikkannya. Hinata melepas ikat rambut miliknya dan membiarkan indigonya tergerai menutupi seluruh punggungnya.

"Ini,... "Hinata memasangkan ikat rambut itu di pergelangan tangan Naruto. "Anggap ini jimat dariku. Kau harus janji menemuiku dalam keadaan selamat dan baik-baik saja juga berhasil memenangkan pertandingan ini ya?"

Naruto tidak menjawab, ia hanya meninggalkan sebuah ciuman dipuncak kepala Hinata dan segera melambaikan tangan sebelum akhirnya ia meninggalkan Hinata duduk manis di tribun penonton dan ia naik keatas ring sendiri. Hinata hanya bisa terus memanjatkan doa bagi keselamatan Kyuubi No Kitsune kesayangannya itu.

Naruto mengangkat kedua tangannya saat memasuki ring,memberi sapaan bagi para penggemar dan pendukung yang bertaruh untuknya.

'Kyuubi...Kyuuubii...Kyuubii'

Seruan penonton kian bersorak saat Naruto bersiap menghadapi lawannya. Tentu saja tanpa pernah Naruto tahu sebelumnya, lawannya kali ini dirahasiakan. Naruto sama sekali tidak pernah bertemu atau bahkan mengetahui seperti apa lawannya sebelum dia naik ke atas ring. Suara komentator pertandingan dari pengeras suara akan mengumumkan siapa yang akan menjadi lawan Naruto. Dan para penonton sudah tak sabar lagi menanti laga pamungkas jawara mereka.

"Selamat malam para penonton. Ini akan jadi malam yang akan kalian kenang seumur hidup. Malam ini akan menjadi pertandingan terakhir sekaligus malam perpisahan bagi Kyuubi No Kitsune. Jadi pastikan anda menyiapkan taruhan yang pantas bagi jawara bertahan kita ini. Dan di malam istimewa kali ini, Kyuubi No Kitsune akan melawan dua musuh tangguh sekaligus,..."

Sontak seluruh penonton yang tadinya riuh kini mulai tenang. Narutopun juga tidak menyangka jika ia bertemu dengan dua lawan sekaligus dalam sebuah pertandingan. Jelas ini adalah pengeroyokkan. Tapi pride ilegal ini tidak punya aturan jelas, semua pertandingan sudah ditentukan empunya acara, Danzo. Danzo tahu betul Naruto adalah mesin pencetak uang selama beberapa tahun ini, tentu ia tidak akan melepaskan Naruto dengan mudah. Pertandingan inipun disetting sedemikian agar Naruto tidak bisa keluar dari aturannya.

"Baiklah, mari kita panggil dari kubu penantang jawara kita,... Yang tangguh dan tak terkalahkan Jugo dan Jirobo."

Bertanding dua lawan satu dalam satu pertandingan sudah dapat dipastikan jika Danzo bertaruh atas kekalahan Naruto dan mendapatkan penawaran tinggi akan itu. Ia kenal betul dua nama yang menjadi lawannya telah mendapat pelatihan yang sangat baik oleh Orochimaru, mafia setingkat Danzo. Orochimaru akan mengambil alih bisnis pertarungan manusia ini ,sementara Danzo ingin mendapatkan keuntungan lebih dari kekalahan Naruto. Sekali lagi alasannya uang.

Seorang bertubuh gempal, besar dan lebih tampak seperti pegulat sumo daripada seorang petinju mulai naik keatas ring. Jelas bukan lawan yang mudah bagi Naruto menghadapi manusia sebesar ini. Selang beberapa detik kemudian, seorang pria berambut oranye kecoklatan yang tinggi dan kekar mengikuti dari belakang. Seluruh penonton yang tadinya sudah mampertaruhkan uangnya pada Kyuubi No Kitsune kini merasa pilihannya salah. Aura pembunuh begitu kuat dari keduanya, tapi Naruto tak boleh menyurutkan tekatnya demi janjinya pada Hinata.

'Kau harus menang, Kyuubi! Barjuanglah!'

'Yo... Kyuubi jangan menyerah sampai akhir! Kami bertaruh untukmu'

Teriakan penonton tidak menenangkan sedikitpun Hinata yang gusar, lelakinya sedang menghadapi musuh yang diluar dugaan. Dua musuh yang melebihi besar ukuran tubuh Naruto. Ngeri dan keringat dingin kini mulai menjalari tubuh Hinata. Ia tidak sanggup melihat prianya kalah atau terluka parah. Ia hanya bisa berdoa sambil terus berharap keajaiban bisa terjadi.

Seorang wasit memasuki ring,Naruto kini dihadapkan secara langsung pada kedua lawannya. Mereka saling menatap satu sama lain, pertarunganpun segera dimulai. Wasit menjauh memberi jarak aman akan dirinya dan memeberi ruang bagi mereka bertarung.

Jirobo segera mendorong tubuh Naruto yang lebih kecil darinya itu kepojokoan ring, dengan lengan kekarnya ia membanting tubuh Naruto dengan mudah.

BRUG

Naruto terpental. Tulang punggung Naruto seperti bergemeretak saat ia mendarat diatas ring. Benar-benar sebuah serangan pembuka yang sangat tiba-tiba.

Jugo kini mulai beraksi. Ia mendekati Naruto yang masih berusaha untuk bangkit dan menghadiahinya dengan pukulan mautnya bertubi-tubi.

BUG...BUG...BUG..BUUG...

Naruto sendiri masih belum bisa membalas pukulan Jugo, akibat tubuhnya yang oleng karena bantingan Jirobo sebelumnya. Penonton memandang ngeri pertarungan dua lawan satu itu lebih terlihat seperti penyiksaan pada Kyuubi No Kitsune. Terlebih Hinata ia ingin segera menarik keluar pria yang paling daicintainya itu dari ring.

Jugo memberi sela dalam pukulannya, membiarkan tubuh Naruto yang masih terkulai diatas ring itu memutuskan masih sanggup bertarung atau tidak. Naruto menoleh kerah tribun penonton, ia melihat gadisnya tengah menangkupkan kedua jarinya dengan tatapan memelas melihat kearahnya. Tidak, tidak akan pernah ada kata menyerah dalam kamus Naruto. Ia segera mengumpulkan kekuatannya untuk bangkit kembali.

Naruto kini bangkit dan kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali melawan. Bagaimanapun dua lawan satu bukanlah hal yang mudah ia harus bisa menumbangkan salah satu dengan cepat dan menghemat tenaga untuk menghabisi yang lebih kuat.

Lagi, Jirobo yang sudah beringas itu mencoba memojokkan tubuh Naruto. Ia mencoba menyundul perut Naruto dan menyudutkannya sebelum kemudian meraih kedua betis Naruto lalu membantingnya beberapa kali.

BRUGG...BRUG..

Naruto yang kembali mulai terkapar itu kini tengah menerima pitingan kuat dari tubuh besar Jirobo. Jirobo nyaris mencekik lehernya dengan pitingan. Naruto segera menyatukan kedua lututnya dan menendang kuat tubuh Jirobo agar menjauh dari dirinya dan itu brhasil. Naruto kini mencoba kembali berdiri.

PLAK

Sebuah tendangan kini menyambutnya, Jugo bersiap menghadapi Naruto yang baru saja terbebas dari Jirobo. Kini Naruto mencoba bertarung dengan Jugo dna mulai membalas tendangan itu dengan pukulan ke dada Jugo. Jugo menyadari bahwa naruto adalah lawan yang tangguh, ia menyerang Jugo cukup intens. Tapi satu kesalahan Naruto, ia hanya terfokus pada serangannya pada Jugo tidak menyadari bahwa Jirobo sudah bersiap menangkap tubuhnya dari arah belakang.

SET

Kini kedua lengan Naruto yang tadinya sibuk memberikan pukulan pada Jugo kini terhalang oleh sepasang lengan yang menghalangi ia untuk bergerak. Jelas itu adalah sebuah kesempatan bagi Jugo untuk segera menumbangkan lawannya. Dihadiahinya tubuh Naruto yang tengah terkunci itu dengan pukulan bertubi-tubi.

Tubuh Naruto mulai melemas, teriakan-terikan penonton mulai terdengar samar-samar ditelinganya. Ia juga tak berhasil menemukan tempat duduk gadisnya sebagai penyemangatnya. Naruto mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena pukulan Jugo. Kini para penontonpun tak yakin Naruto bisa menang melawan dua manusia mengerikan itu. Tentu mereka iba melihat Naruto jadi bulan-bulanan, tapi tentunya mereka jauh lebih menyayangkan kesalahan mereka dalam mempertaruhkan uangnya.

Naruto kini hanya bisa pasrah menerima pukulan-pukulan Jugo. Mungkin kini wajah tampan kesukaan gadis indigonya sudah tak berbentuk lagi. Ia bahkan tak dapat melihat dengan jelas arah pukulan Jugo akibat luka berdarah dipelipis matanya. Tapi ia bisa melihat dnegan jelas sebuah ikat rambut dipergelangan tangannya. Haruskah dia menyerah sekarang?

Tidak. Naruto tidak akan pernah dan tidak mau kalah. Ya ia harus bertindak, ia masih belum kalah.

Dengan susah payah Naruto mencoba meraih pembatas ring dengan satu tangannya. Ia memegang kuat-kuat pembatas ring itu. ia pusatkan seluruh kekuatan pada kakinya kini ia mencoba mencari celah agar ia bisa menghadiahi Jugo dengan satu tendangan dan jika mungkin menumbangkannya seketika.

PLAK

Sebuah tendangan berhasil ia daratkan di perut Jugo, Jugopun terduduk karena tendangan itu. tanpa menyia-nyiakan kesempatan pula. Perut Jugo berhasil menjadi tolakan Naruto untuk melakukan lompatan salto kebelakang. Kini ia berhasil mengunci kepala Jirobo diantara kedua pahanya. Tak perlu lagi ia menunggu, segera ia patahkan leher pria tambun yang sudah berani membanting tubuhnya berkali-kali sebelumnya.

KRETEGGG..

Lalau Narutopun menghantamkan kepalannya dikepala Jirobo hingga tubuh besar yang ditungganginya itu Jirobo terkulai tak berdaya diatas ring. Penonton kini mulai kembali meneriakkan nama Kyuubi.

"Bagus Kyuubi...!"
"Hajar dia sampai mati!"

"Pukul keras saja! Jangan beri ampun!"

"Jangan berani kalah dengan mereka!"

Naruto tahu mematahkan leher bukanlah hal yang diperbolehkan dalam pertarungannya, tapi ia telah dicurangi lebih dulu dengan dua lawan satu. Oleh karena itu, boleh atau tidak boleh bukanlah penentu dalam pertarungan kali ini. Seperti biasa pride ilegal semacam ini adalah tentang siapa yang lebih lama dan mampu bertahan hingga akhir. Dan yang kalah atau mengalah adalah pecundang yang bukan hanya babak belur tapi juga benar-benar dilumpuhkan kemampuan bertarungnya oleh pukulan-pukulan mematikan.

Kini ia melihat Hinata dibawah ring dengan berurai air mata, Naruto memberikan senyuman kecil. Dan berharap Hinata mengerti arti dari senyumannya itu, "Aku baik-baik saja dan aku akan segera memenangkan pertandingan ini untukmu". Sekiranya begitu yang ingin diucap Naruto untuk gadisnya.

Jugo kembali menyerang, dengan agresif segera ia menghantam Naruto sebisanya. Narutopun sama, memberikan balasan yang tak kalah dari pukulan Jugo. Tapi kini Naruto mulai kehabisan tenaga, ia harus segera menyelesaikan pertandingannya atau dia sendiri yang akan habis karena pukulan Jugo.

"Maaf,.. tapi kali ini aku harus menyelasaikan pertandingan terakhirku dengan sebuah kemenangan." Ucap Naruto saat Ia berhasil menangkis bogem Jugo dengan salah satu lengannya.

PPAAKKKK

Satu pukulan dibagian mata berhasil membuat Jugo oleng hingga ia mundur lalu merebah dibatas ring, kini ia merasa pengelihatannya kian terganggu . Tapi Naruto tahu tubuh itu mampu bangkit sebentar lagi. Naruto segera berlari mundur beberapa langkah, ia membuat sebuah tolakan sebelum akhirnya melompat.

BBUUUGGG

Sebuah tendangan maut terakhir melayang dari atas dan mendarat di tengkuk Jugo langsung membuat Jugo lunglai tak berdaya. Kini Narutolah yang terakhir bertahan diatas ring. Wasit segera memeriksa keadaan Jugo sebelum akhirnya memutuskan kemenangan Naruto. Wasit itu kini mengangkat tangan Naruto tinggi-tinggi sekaligus menjadi pernyataan secara simbolis kemenangan Kyuubi No Kitsune pada laga terakhirnya. Sudah dapat dipastikan seluruh penontonpun kian meneriakkan kemenangan jagoan mereka.

Berlawanan gemuruh sorakan penonton,safir Naruto menyendu mendapati gadisnya berdiri di bawah ring sambli beruraian airmata. Tidak ada senyum yang terukir dari gadis itu kepadanya. Seluruh syaraf yang Naruto punya kini seakan menjerit karena pukulan-pukulan maut yang diterima tapi otak Naruto menuntunnya untuk segera menemui gadis cantik bersurai indigo itu.

Hinata menyambut kedatangan Naruto kepadanya dan segera memakaikan jaket oranye yang tadi ia pakai sebelum ia naik ke atas ring.

"Aku tidak apa-apa, aku sudah memenangkan pertandingan ini untukmu." Seru Naruto sambil membawa masuk Hinata kedalam pelukannya.

" Sudah kupenuhi janjiku kepadamu." Naruto mengusap pipi mulus Hinata yang terasa lengket karena bekas airmata.

Hinata menganggukkan kepalanya tanda ia akan menuruti perkataan Naruto.

"Ayo kita selesaikan semua ini!" Ajak Naruto yang mulai membimbing tangan Hinata untuk mengikuti jalannya.

Hinata bergidik ngeri sepanjang ia mengikuti jalan yang Naruto maksudkan. Hinata mendapati lawan Naruto yang telah kalah bertanding itu terbaring dengan bercucuran peluh dan darah ditubuh mereka. Khususnya yang baru saja dikalahkan, ia sedang berada diatas ranjang dorong dan bersiap dinaikkan ke ambulan. Naruto terus fokus membimbing Hinata hingga sampai disebuah ruangan di akhir lorong gelap itu. Disana beberapa orang bertampang sangar tengah berkumpul, beberapa juga pernah Hinata temui saat Hinata menyerahkan cincin berlian merah agar Naruto tidak mereka pukuli. Sekarang Hinata yakin merekalah yang disebut dengan gangster atau mafia.

"Oh,... Kyuubi!" Sapa seorang paruh baya yang satu matanya ditutup tutup perban , ia menikmati cerutu mahal dan tengah duduk di sebuah sofa besar. "Kuucapkan selamat atas kemenanganmu." Ucap pria itu datar,Danzo namanya.

Naruto tak menjawab,ia terfokus pada gerakan pria mata satu yang menyamankan duduknya dikursi itu.

"Oh, kau datang mengambil hadiahmu bukan? Kuharap kau tidak terburu-buru, Asuma sedang menyiapkannya untukmu. Sambil menunggu bagaimana jika kita duduk dan saling berbincang, ah... siapa nona muda ini,...pacarmu?" pria itu memposisikan dirinya sebagai tuan rumah namun Naruto sedang tidak ingin berlama-lama.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak bisa bertarung untukmu lagi." Naruto mulai menjelaskan maksud kedatangannya.

"Apa kau berniat menikah dengan gadis cantik ini?" Tanya Danzo ia melempar seringai iblis dan memperhatikan Hinata dari atas hingga keujung kaki, "pilihanmu benar-benar bagus Kyuubi."

Naruto memepererat genggaman tangannya pada Hinata, menyembunyikan Hinata dibalik tubuh kekarnya. Ia harus menjaga gadis itu, bagaimanapun perkelahian masih bisa terjadi dan Naruto tak mau Hinata sampai terluka.

"Bukan urusanmu!" Ucap Naruto. "Aku sudah tahu jika kau ingin agar aku kalah malam ini dengan memperkenalkan jawara baru agar bisnismu bisa terus berjalan dan tentunya mendapatkan uang taruhan lebih banyak, iya kan..Pak tua?."

Naruto segera meraih tas selempang yang Hinata bawa lalu melemparkannya kehadapan Danzo. "Ini ...semua hutangku kepadamu lunas kubayar! Dan aku bukan lagi mesin uangmu! Mulai sekarang tolong jangan campuri lagi kehidupanku."

Naruto menarik paksa tangan Hinata agar mengikutinya berjalan meninggalkan ruangan itu. Hinata pun menurut. Danzo tersenyum licik ketika mereka berdua sudah tak lagi nampak dari pandangannya.

"Asuma, Iruka!" Danzo memanggil bawahannya, dan yang disebut namanyapun menghampiri sambil menundukkan kepala dihadapan Danzo.

"Cari tahu tentang gadis itu! Lakukan negosiasi dengan keluarga gadis itu dan Naruto. Aku menginginkannya!jika kalian tidak bisa membawanya,... lakukan dengan caraku!"Danzo memberi perintah.

"Baik, Danzo-sama!" Jawab kedua bawahan Danzo yang ber ojigi dan siap melaksanakan perintah.

.

.

.

.

Hinata sibuk berkutat denga kompres dingin dan juga antiseptik. Malam ini malam yang sibuk baginya. Naruto memberi pekerjaan lebih baginya untuk menjadi perawat pasca laga terakhirnya diatas ring. Hinata tentu tidak keberatan melakukan hali itu untuk pria yang sangat dicintainya. Pria yang dengan susah payah mendapatkan tiket kebebasan dengan usaha dan darah. Jadi kalau ada yang bilang sebuah kebebasan milik semua orang maka Hinata dan Naruto tidak mendapatkan hal itu dengan mudah. Hinata mendapatkannya setelah dia diusir dari rumah, dan Naruto harus membayar mahal untuk bisa bebas seperti sekarang. Hinata juga berani mempertaruhkan harga mahal sebuah keperawanan untuk cintanya pada petinju tampan bersurai pirang. Dan Naruto memberikan seluruh uang yang ia kumpulkan selama ia jadi petinju untuk bisa bebas dan menjaga gadis yang sudah berjanji hidup bersamanya.

"Jangan bertarung lagi, Naruto-kun!" Ucap Hinata dengan lirih dan mata yang masih menyendu.

" Tidak... tentu tidak, aku sudah berjanji ini yang terakhir dan kita akan memulai hidup yang baru." Ucap Naruto meyakinkan.

"Jantungku rasanya mau copot saat melihat pukulan-pukulan itu mendarat di tubuhmu. Aku tidak bisa membayangkan pukulan keras itu bisa merusak organ vital atau bahkan membunuhmu." Hinata menutup wajah dengan kedua tangannya dan kembali ia sesenggukan dalam tangisnya.

Seulas senyum tergambar diwajah dengan tiga pasang goresan dipipi itu, ia tahu betul gadisnya sangat mencintai dan mengkhawatirkannya. Naruto segera membuka tangan yang digunakan Hinata untuk menutup wajahnya dan menampilkan senyum terindahnya agar tangis itu mereda. Dibelai dengan sayang wajah ayu seputih susu milik hinata dengan jari-jemarinya yang kasar. Gadis itulah yang kini jadialasan terbesar Naruto untuk terus bertahan dan belajar hidup lebih baik.

Di tariknya dagu Hinata mendekati wajahnya. Bibir ranum Hinata seakan berteriak memanggil Naruto untuk ditenangkan, agar tak ada lagi kata gelisah yang keluar dari bibir manis itu. Tanpa harus menunggu lebih lama lagi, Naruto menyentuhkan bibirnya ke bibir Hinata. Tak ada lagi kata yang mampu menjelaskan perasaan mereka saat ini. Keduanya saling menyesap manis perjuangan mereka untuk memperoleh kebebasan.

Hinata memberanikan diri membalas ciuman Naruto yang semakin mulai mencoba memainkan lidahnya dan beradu dengan lidah milik Naruto yang hangat. Hinata menggenggam kuat kaus naruto dan tak kuasa menahan aliran listrik yang menyengati dirinya. Naruto menarik tubuh ramping Hinata untuk lebih leluasa mengkesplorasi ciumannya lebih dalam dan berada membawa Hinata dalam pangkuannya. Pria ini adalah satu-satunya yang ada dalam hati dan pikiran Hinata, satu-satunya yang ia butuhkan.

Sang Kyuubi merasa telah mendapatkan kembali lagi staminanya melalui sesapan –sesapan manis Hinata. Darahnya berdesir dan nafsunya mulai menggebu untuk semakin menikmati permainan panas satu sama lain. Naruto kini memutuskan ciuman panjang itu dan beralih mencium leher jenjang Hinata. Sepertinya Naruto takkan keberatan kembali bergelut dengan Hinata diatas ranjang sekalipun tubuhnya cukup lelah setelah pertarungan dua lawan satu. Bagi Naruto ini adalah treatment sekaligus obat pengantar tidur tercepat dan terenak sepanjang sejarah.

TING TONG

Sekali bel masih belum menghentikan permainan panas mereka.

TING TONG

TING TONG

Memang sudah terlalu malam untuk bertamu, dan Naruto merasa cukup terganggu saat permainan panasnya terhenti karena tamu tak diundang. Mau tidak mau Hinata yang berada diposisi atas beralih dari posisinya dan berjalan untuk membukakan pintu.

Seorang pria berusia tujuh puluh tahunan dengan mantel dan baju hangat tengah berdiri dibalik pintu. Hinata sangat mengenal pria itu. Pria tua yang sangat dihormatinya sekaligus pria yang mengusirnya keluar dari rumah keluarga Hyuga, Hiroshi Hyuga. Hinata tak bisa mengeluarkan kata salam sedikitpun pada pria itu. ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan, menyuruh masuk atau mempersilahkan kakaeknya pergi.

"Siapa yang datang Hinata?" Naruto mengikuti Hinata dan berjalan kearah pintu.

Hinata tak menjawab, tentu saja itu membuat Naruto khawatir. Naruto cukup terkejut ketika orang yang berada dihadapan Hinata adalah orang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dari cara berpakaian pria tua itu Naruto bisa menebak jika ia orang yang sangat berkelas. Dan dapat dipastikan dia memliki hubungan kekerabatan dengan Hinata dari warna mata yang sama seperti Hinata.

"Beliau, Oji-sama ku." Ucap Hinata lirih.

"Oh,..." Naruto segera berojigi "Silakan masuk!" Seru Naruto mempersilahkan.

Canggung dan kaku. Hinata tidak bisa memberi hormat pada pria yang sudah mencopot nama Hyuga sebagai marganya. Pria yang duduk di meja makan Naruto itupun masih belum membuka pembicaraan atau alasannya datang kemari. Dari sorot matanya, Hinata tahu jika objek pertamanya adalah Naruto.

"Apa kabarmu?" Tanya sang kakek pada cucunya.

"Baik Oji-sama kuharap anda juga demikian." Jawab Hinata.

Naruto yang sedang menyiapkan teh hangat untuk tamunya itu jadi merasa tidak nyaman karena berada ditengah pembicaraan formal.

"Terus terang saja, aku datang kemari berniat mengajakmu pulang." Tandas Hiroshi.

Cangkir teh yang disuguhkan Naruto untuk pria tua itu nyaris saja terjatuh karena ungkapan itu. Ia sendiri ragu jawaban yang akan Hinata berikan, sekalipun saat ini Hinata masih bungkam. Naruto memilih menggeser kursi dan mendudukkan dirinya dengan tenang bersiap mendengarkan pembicaraan antara kakek dan cucu tersebut.

"Aku sudah membagi perusahaan untuk Hizashi dan Neji. Mereka akan mengurus cabang perusahaan kita di Amerika. Aku juga meminta mereka menandatangani surat perjanjian untuk tidak lagi menginjakkan kakinya ke Jepang. Jadi sekarang kau bisa pulang dengan tenang. Untuk kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf." Ucap sang kakek itu lagi.

Lagi, Hinata tidak menjawab. Mungkin memang beginilah sikap seorang bangsawan kepada yang lebih tua, tidak banyak membantah dan menurut pikir Naruto.

"Kau pasti, Uzumaki Naruto yang telah menyelamatkan kehidupan cucuku. Aku juga berterimakasih atas kebaikan hatimu telah menjaga keturunan Hyuga dirumahmu. " Ucap Sang kakek sambil menundukkan kepalanya pada Naruto dan Narutopun membalasnya dengan hal yang sama.

"Sasuke sudah menjelaskan semua yang terjadi, dan aku juga menyadari kesalahanku yang tidak mempercayaimu. Dan tentu aku juga masih menganggap hubungan kalian berdua bisa kembali baik-baik saja seperti dahulu."

Melihat cucunya belum merespon Sang Kakek pun kembali menambahkan.

"Kumohon lupakanlah kejadian itu, dan aku..."

"Kami akan segera menikah, Oji-sama." Potong Hinata. "Kami mengharap anda merestui hubungan kami."

Sang kakek terbungkam. Kalimat pendek itu artinya Hinata tidak akan kembali bersamanya. Mungkin memang benar ini salahnya dan terlambat untuk membawa kembali Hinata. Kakek itu memejamkan mata dan menimbang-nimbang lagi ucapan apa yang harus akan ucapkan.

"Oji-sama, saya sangat senang Oji-sama mau repot-repot datang kesini. Saya merasa sangat tersanjung anda masih menganggap saya bagian dari Hyuga. Tapi saya telah mendapatkan pelajaran berharga dari kehidupan saat saya tinggal disini, dan mohon kali ini anda menghargai keputusan saya untuk tidak kembali ke rumah keluarga Hyuga. Dan kami memutuskan untuk segera menikah." Hinata menjelaskan

Hiroshi menghela nafas dalam-dalam, kini gilirannya tak mampu berkata-kata.

"Mohon anda jangan beranggapan jika saya membenci anda, bagaimanapun anda adalah orang yang paling saya hormati dan tetaplah kakekku. Tapi saya mohon dengan sangat, saya ingin hidup dengan cara saya sekarang termasuk meninggalkan Sasuke-ni dan membatalkan pertunangan." Hinata kini menggenggam tangan kakeknya itu.

Seulas senyum, tanpa kemarahan tergambar diwajah renta namun bersahaja. "Tolong pikirkan baik-baik tawaranku, pintu keluarga Hyuga akan selalu terbuka untukmu."

"Oji-sama, tidak ada niatan dalam hati untuk memutus hubungan keluarga ini, hanya saja saya benar-benar tidak bisa kembali sebagai penerus keluarga Hyuga dan mohon restuilah hubungan kami." Ucap Hinata dengan wajah memohon.

"Datanglah ke acara ulang tahun perusahaan lusa, keputusanku akan di buat disana. Dan undangan ini berlaku juga untukmu Uzumaki-san." Hiroshi menyudahi kalimatnya dan kini mulai beranjak dari tempat duduknya.

Tanpa menoleh kebelakang lagi, punggung Hiroshi Hyugapun kian menjauh dan semakin menghilang dari pandnagan Hinata dan Naruto. Tidak ada kata perpisahan. Hinata kini bungkam ia benar-benar bingung keputusan apa yang akan diberikan kakeknya. Bukan tidak mungkin jika kakeknya memisahkan dirinya dengan Naruto. Tapi, kakeknya bukanlah orang yang suka menyembunyikan perasaan dan bisa menggoreskan senyum absurd saat sedang menentang keputusan orang lain. Mungkin memang Hinata harus mendatangi pesta itu dan mendapatkan jawabannya disana. Apapun yang terjadi, Narutolah pilihannya.

.

.

.

.

Sakura berjalan membuka pintu apartemen Sasuke yang kini ditinggalinya, dan satu-satunya tamu yang datang ketempat itu juga bisa dipastikan, hanya Sasuke.

"Ini sudah cukup malam untuk apa datang kesini?" Tanya Sakura ketus ketika menyambut si raven tampan.

Si raven tidak peduli, ia terus melenggang dan menuju dapur tanpa memberikan jawaban pada Sakura lebih dulu. Ia kemudian memutuskan membasahi kerongkongannya dengan segelas air sebelum kembali menatap manik hijau Sakura.

"Ini rumahku, mungkin malam ini aku akan menginap disini." Tukas Sasuke.

"A..aapa? Menginap?" Jawab Sakura kelabakan.

"Kenapa? Ada masalah jika aku seatap dengan pacarku?" Sasuke melempar senyumnya dan kembali menggoda si rambut merah jambu dihadapannya.

Terang saja Sakura tidak punya alasan untuk menolak si empunya pipinya mulai bersemu merah dan tubuhnya menjadi tegang karena jawaban dari seminggu tinggal diapartemen mewah itu, Sasuke tidak pernah menginap atau datang selarut ini. Sasuke lebih sering menemui Sakura ketika pekerjaannya selesai untuk pergi makan malam bersama. Tapi hari ini Sasuke cukup sibuk sehingga ia tidak mengajak Sakura keluar untuk makan malam.

"Kau sudah makan?" Tanya Sakura, ia berniat membuka lemari es dan membuat makan malam untuk jaksa muda itu.

"Belum, kau berniat membuatkanku makan malam? Tidak perlu repot aku tidak mau sakit perut setelahnya." Sasuke menolak dengan nada meremehkan.

Sebuah perempatan muncul dikening Sakura, ia segera membanting pintu kulkasnya Sasuke tersenyum karenanya. Yah, menggoda Sakura jadi hiburan tersendiri bagi Sasuke. Sasuke memperpendek jarak antara dia dan Sakura, onixnya menatap jauh kedalam manik hijau Sakura. Sakura salah tingkah, tatapan semacam ini tentu membuat jantungnya berdegub tak karuan. Darah Sakura berdesir menangkap aura Sasuke begitu kuat dan seakan menghipnotisnya. Mungkinkah Sasuke akan melakukan sesuatu padanya?

"Aku melamar pekerjaan di rumah sakit Konoha hari ini." Ucap Sakura mencairkan suasana yang cukup menegangkan itu.

"Benarkah? Kau diterima?" Sasuke menghentikan tatapan tajamnya menjadi lebih sayu dan bersiap mendengar cerita Sakura.

"Ya, aku akan bekerja mulai senin depan." Jelas Sakura.

"Itu bagus." Kata Sasuke.

Sasuke menarik tangan Sakura mendekat kearahnya, ia memposisikan dirinya berada dibalik punggung Sakura dan memeluk gadis itu dengan salah satu tangan yang digunakannya untuk menarik Sakura. Sakura terkejut, jantungnya berdegub kencang kembali karena ulah Sasuke. Sakura tidak ingin menolak, tentu saja ia menyukai posisinya berada dalam dekapan Sasuke seperti sekarang. Sasuke meletakkan dagu tirusnya di pundak Sakura. Dengan penuh hati-hati Sasuke menyibakkan surai merah jambu yang terurai halus agar ia mendapat ruang bersandar yang lebih leluasa. Sakura bisa merasakan hembusan nafas Sasuke begitu hangat menyapu daun telinganya.

"Lihat kesana!" Titah Sasuke pada Sakura. Jarinya menunjuk pantulan cermin dari kamar mandi yang terbuka pintunya.

Sakura hanya bisa mengikuti perintah Sasuke. Dari pantulan cermin itu, ia melihat Sasuke mengalungkan sebuah liontin berbentuk hati di leher jenjangnya. Sebuah kalung berlian merah jambu dan berkilau kini menghiasi lehernya. Sakura kehabisan kata-kata yang bisa ia ucapkan, pita suaranya mendadak bermasalah dan kini ia jadi terhipnotis akan kilau kalung berlian itu.

"Kau suka?" Tanya Sasuke.

"I..ini.. pasti sangat mahal." Ucap Sakura terbata-bata.

"Kita akan kembali berdansa, dan pakailah ini. Aku juga sudah memesankan gaun dan sepatu baru untukmu. Kuharap kau meluangkan waktumu di hari jumat malam." Ucap Sasuke.

Sakura menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sasuke meninggalkan sebuah kecupan kecil di pipi Sakura.

"Tidurlah,... jangan merindukanku besok karena aku besok harus ke Shibuya. Aku akan menjemputmu jumat malam, dan aku ingin semua mata tertuju padamu." Sasuke melambaikan tangannya dan segera berjalan menjauh dari Sakura yang sedang tersipu karena ulahnya.

Bagaimana Sakura tidak semakin jatuh cinta pada pria tampan dan pemikat hati perempuan semacam Sasuke. Sasuke memang kadang suka mengesalkan Sakura dengan kalimat-kalimat frontalnya, tapi juga acap kali membuat pipi gadis itu bersemu merah dan tersipu. Dengan tatapan tajamnya jantung Sakura bisa melompat dan menari seketika itu juga. Sepanjang hari Sakura selalu menantikan Sasuke membalas pesannya atau sebaliknya, lalu berjanji bertemu untuk makan malam. Bolehkan Sakura beranggapan jika Sasuke sudah mulai mencintainya?

Jika ada yang bilang jaksa muda Uchiha itu kaku dan kurang menyenangkan itu salah,maksudnya tidak sepenuhnya benar. Menurut Sakura, Sasuke hanya punya tersendiri dalam berbicara, ia lebih sering menyusun kata-katanya secara sistematis atau mungkin secara frontal meremehkan dan Sakura tetap menyukai pria semacam itu. apapun itu yang menyangkut Sasuke, Sakura pasti menyukainya. Dia benar-benar tergila-gila pada si bungsu Uchiha itu.

Hari jumat malam pun tiba. Sasuke memesankan sepasang sepatu merk ternama dengan model peep toe untuk Sakura. Sakura memakai low cut dress warna hitam dengan belahan dada yang cukup rendah, itupun dipesan Sasuke dari designer yang dulu memberikan gaun untuk Sakura. Sakura mengepang bberapa helai rambutnya agar lebih rapi kebagian belakang. Iapun memberanikan diri bereksplorasi dengan bubuk ajaib warna-warni yang ia bubuhkan diwajahnya. Tentunya, ia mengingat-ngingat betul cara bermake-up sebelum ia sampai kepesta pertamanya bersama Sasuke. Dan yang akan menjadi sorotan bukan tentang isi atau belahan dadanya tapi kalung berlian yang bertengger di leher jenjangnya.

Seperti yang Sasuke janjikan, dia menjemput Sakura tepat waktu. Sakura sudah tidak lagi seterkejut saat ia pertama kali dibawa Sasuke kepesta. Malam ini bukan lagi Cinderella tapi kali ini dia benar-benar jadi tuan puteri sungguhan, itu membuat hatinya bahagia. Tapi saat Sasuke kembali memarkirkan mobilnya, ternyata semua masih sama. Ini adalah tempat pertamanya berdansa bersama Sasuke, Sakura menduga bahwa ini pasti ada hubungannya dengan Hinata.

"Ada apa?" Tanya Sasuke saat berjalan sambil mengamit tangan Sakura di lengannya, ia bisa menangkap raut kekecewaan diwajah Sakura.

"Tidak, aku hanya teringat aku pernah melempar sepatu disini dan berusaha melarikan diri." Ucap Sakura.

Sasuke terkikik geli, ia kembali mengingat kejadian malam itu. Dimana dia membawa Sakura ke pesta dansa tapi kemudian berlari tanpa menggunakan alas kaki.

Musik baru saja di dendangkan, dan pasangan-pasangan kian berputar di ballroom. Nostalgia, kembali Sakura tersenyum mengingat kencan pertamanya bersama Sasuke malam itu. seluruh mata mulai mendapati objek menarik yang baru saja memasuki ruangan. Sepertinya Sasuke berhasil membuat Sakura bersinar. Mata Sakura mencoba menyembunyikan kegembiraannya saat orang melihat takjub kearahya. Ia cukup bahagia jadi pusat perhatian malam itu. ia mencoba berjalan dan tersenyum dengan anggun.

Tapi, onix Sasuke tidak demikian. Sakura tahu betul jika pria yang sedang menggandeng tangannya itu tengah memperhatikan sudut ruangan. Sakura mencoba ikut menelusuri pandangan Sasuke, benar saja Hinata dan Naruto berada disudut ruangan dan sedang berdansa. Sakura tak lagi melihat Sasuke seperti yang ia kenal dan temui beberapa hari terakhir, hanya sebersit kemarahan dan kekesalan tergambar diwajah tampannya.

"Hei, nona... ayo kita berdansa!" Ucap Sasuke datar.

"Apa?" Tanya Sakura mencari kejelasan.

Sasuke lebih memilih menarik paksa Sakura ketengah lantai dansa. Musik baru saja berganti menjadi lebih keras. Tanpa penjelasan lagi Sasuke membimbing Sakura untuk mengikuti gerakannya ber-salsa. Sakura sangat kaku. Tarian ini membuatnya pusing, tidak seperti saat ia berdansa dengan Sasuke sebelumnya. Tapi anehnya Sasuke terlihat begitu menggebu-gebu dalam menarikan tarian Spanyol selama tiga menit lebih. Sakura tahu jika tarian ini tidak seperti sebelumnya. Sasuke sedang mencoba menunjukkan kepada Hinata tentang dirinya. Sakura bisa menangkap hal itu dari mata Sasuke yang tidak berhenti menatap Hinata dari kejauhan.

Sakit. Hati Sakura cukup tidak menyukai cara Sasuke sekarang. Untungnya musik sudah berhenti. Sakura kesal ia berusaha menenangkan diri ditengah pesta meriah dan tepuk tangan yang menyorakkan kepiawaian Sasuke berdansa. Ia harus segera keluar ruangan dan mencari angin untuk mendinginkan kepalanya. Tidak demikian ternyata, mata Sakura terbelalak, ia begitu terkejut saat Sasuke menarik paksa tubuhnya dan mengecup bibir Sakura dengan kasar dimuka umum.

Semua orang bertepuk tangan, Hinata dan Narutopun melihat apa yang sedang terjadi ditegah lantai dansa. Tampak jelas, Sasuke memaksa agar bibir Sakura terpagut oleh bibirnya. Sakura tidak habis pikir apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Sasuke. Tindakannya ini tidaklah benar menurut Sakura. Sakura memandang mata Sasuke dengan tatapan sendu, nyaris saja air matanya terjatuh dari sana. Bukan ia tidak sedang terharu, Sasuke mempermalukannya di depan semua orang. Perlakuan Sasuke seperti demikian akan jadi sorotan bahwa jaksa muda itu bertingkah kurang sopan pada seorang gadis, dan orang akan berpikir jika gadis itu bukanlah gadis baik-baik. Sakura benci bertarung dengan pikirannya sendiri mengenai dugaan itu.

"Ikut denganku! Kita harus bicara sekarang, Sasuke!" Ucap Sakura.

Sasuke melirik Hinata yang memandang kearahnya sebelum ia memutuskan mengikuti langkah Sakura. Hinata mengerti betul apa yang barusan terjadi, diapun ingin segera meluruskan sesuatu. Langkah kecilnya mengikuti arah mereka yang menjauhi keramaian pesta.

PLAAK

Sebuah tamparan melayang dipipi Sasuke, tentu saja Sakuralah yang menghadiahinya.

"Apa maumu Sasuke?" Tanya Sakura dengan nada meninggi. " Kau menyuruhku berdandan dan mengajakku berpesta, dan kau... kau berhasil mempermalukanku dihadapan semua orang?" Tanya Sakura.

Sasuke tidak punya penjelasan, ia tidak menyangka sebuah tamparan kini ia terima dari Sakura.

"Kau... menjadikanku sebagai alat untuk menarik perhatian Hinata agar dia kembali kepadamu begitu?" Tanya Sakura meminta penjelasan, tapi Sasuke masih bungkam.

"Kuakui aku sangat menyukaimu, tapi sampai kapan kau bisa meremehkanku? kau menjadikan perasaanku sebagai alat agar kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau terus masuk kehidupku, menolongku dan membuat aku semakin jatuh cinta padamu, dan dengan semaumu kau bisa menyakitiku seperti sekarang, begitu huh?. Katakan apa maumu.!" Sakura semakin tidak sanggup menahan kemarahannya.

"Sudah kukatakan dari awal, Hinata akan jadi yang utama bagiku! Selamanya! Jika kau tidak bisa menerimanya,.. maka jangan lagi bersamaku!" Tandas Sasuke yang mulai tersulut emosinya.

Sakit. Hati Sakura semakin sakit mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Sasuke. Ternyata perasaan yang dikiranya telah berbalas, semua hanyalah palsu. Tidak ada namanya dalam hati Sasuke, sekali lagi yang ada hanya Hinata didalam hati pria itu. Ya, anggap Sakura memang bodoh, terlalu percaya pada Sasuke. Harusnya ia juga tahu jika Sasuke dan Hinata masih belum memutuskan pertunangan mereka secara resmi. Sakura menahan air mata kebodohan yang mulai mengetuk di pelupuk matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha tegar.

Sakura merasa ia tidak bisa lagi bertahan dengan pria dihadapannya ini. Sakura tahu, jika pria dihadapannya telah berhasil mendepaknya keluar darikehidupannya. Dan jika Sakura tidak menurutinya artinya Sakura benar-benar semakin tidak punya harga diri lagi.

"Arigatou, Sasuke-kun." Ucap Sakura dengan nada bergetar.

Sakura membalikkan badannya dan berusaha menjauhi tubuh jangkung Sasuke yang tertunduk. Ia tak kuasa menahan tangisnya yang mulai berjatuhan Tapi ia juga tidak mau terlihat lemah dihadapan Sasuke. ia tak mau lagi mengemis cinta pada pria yang sangat dicintainya hatinya ia meneguhkan niatnya. Ia memilih memutar arah agar ia tidak kembali menoleh kebelakang, tempat Sasuke berdiri. Ia terus berjalan menjauh bersama angin dingin yang begitu menyayat kalbu. Semua mimpi indah tentang kebahagiaan bersama Sasuke kini harus ia hapus segera. Semua sudah jelas, pengakuan dan ucapan pengusiran dari mulut Sasuke adalah alasan baginya untuk angkat kaki dari kehidupan jaksa muda itu.

.

.

.

.

kira-kira ada yang bisa nebak apa yang terjadi setelah ini gak ya? buat yang Sasusaku lovers maaf yaa mereka harus saya putuskan... buat Naruhina loversnya juga harus bersiap tentang badai besar itu hehehwehwe... terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini, saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader.
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D