*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 17
.
.
.
.
Sasuke memijit keningnya yang terasa begitu penat. Bukan, bukan karena kasus yang akan disidangkan minggu depan, tapi tentu saja kasusnya sendiri yang tidak terselesaikan. Sudah seminggu lamanya sejak kejadian hari itu, Sakura tak pernah lagi menampakkan dirinya dihadapan Sasuke. Pertengkaran dengan Sakura mungkin menimbulkan luka yang sangat serius di hati dokter muda itu. Sepertinya kata-kata yang dipilih Sasuke untuk mengusir Sakura dari hidupnya benar-benar ampuh.
Sakura bahkan memutuskan untuk tidak menghubungi Sasuke lagi, padahal Sasuke sudah berkali-kali mengirimkan pesan ke ponselnya. Sebuah ucapan maaf, ajakan makan malam atau sekedar bertanya tentang kabar gadis bersurai pink itu sudah tak terhitung jumlahnya ia kirimkan. Dan tidak sekalipun dari pesan Sasuke terbalas. Sakura tidak pernah sekali saja mengangkat sambungan telepon yang berasal dari Sasuke setelah kejadian minggu lalu. Yang lebih membuat Sasuke merasa tidak nyaman, dua hari lalu seorang kurir mengirimkan kunci apartemen miliknya, dan jelas itu menunjukkan jika Sakura tidak lagi tinggal disana. Entah kini Sakura tinggal dimana Sasukepun tidak tahu, tentu saja pertanyaan itu menambah dalam sebuah perasaan frustasi di hatinya.
Ia menyandarkan tulang belakang yang menopang tubuh jangkungnya pada kursi malas, berharap bisa sedikit mengurangi beban dikepalanya. Kembali memorinya menempatkan dirinya kembali pada kejadian malam itu.
"Sasuke-Nii!" Pekik Hinata yang berjalan mendekati pria jangkung berambut raven di luar ruangan pesta.
Sasuke hapal betul panggilan itu, hanya Hinata yang biasa memanggil itu kepadanya. Hinata berjalan mendekatinya dengan senyum ramah,tapi entah mengapa Sasuke sendiri tidak terlalu senang mendapat senyuman dari si cantik surai indigo. Dulu senyuman itu sangat mampu membuatnya sumringah, tapi sekarang Sasuke merasakan bahwa senyuman itu tidak cukup menutup lubang dihatinya saat ini. ya, sebuah lubang yang baru saja ia sadari semakin membesar sepeninggal Sakura dari hadapanya. Sasuke bahkan tidak mampu membalas senyuman Hinata, ia memilih menyandarkan punggungnya kesebuah pohon didekatnya.
"Apa kabar, Sasuke-nii?" Tanya Hinata ramah.
Sasuke tak menjawab, kini ia membuat senyuman di bibirnya sambil mengangguk sedikit.
" Maaf jika aku mendengar percakapan kalian,..." Hinata memperpendek jarak antara dirinya dan Sasuke, "Sasuke-ni,... maukah kau mendengarkan aku sekarang?"
Lagi, Sasuke hanya mengangguk.
"Aku dan Naruto berencana untuk segera menikah. Kami saling mencintai dan membebaskan perasaan masing-masing, Naruto juga meninggalkan kehidupan gelapnya dan memulai kehidupan baru bersamaku. Maukah Sasuke-nii memberiku selamat?" Tukas Hinata dengan wajah berbinar.
Dengan menghela nafas panjang Sasuke mulai angkat bicara, "Hime-chan, keputusanmu ini... sungguh sangat mendadak dan terlalu kita..."
"Sasuke-nii, " Potong Hinata. " Kita tidak saling mencintai sebelumnya. Setelah bertemu Naruto-kun aku sadar bahwa perasaan yang kurasakan padamu dengan perasaan yang kurasakan padanya sungguh sangatlah berbeda. Aku tidak pernah merasakan darahku berdesir dan sangat ingin bersama dengan seorang pria sebelum Naruto. Aku tidak pernah merasakan perasaan bahagia dan takut kehilangan seperti saat aku menatap kedalam matanya. Jantungku selalu berdegub kencang saat berada didekatnya atau memikirkannya, dan kesemuanya itu membuatku sadar bahwa Naruto-kun lah yang kubutuhkan. Aku sangat mencintainya." Tandas Hinata mantap.
Yah, Sasuke juga merasakan hal yang disebut Hinata sebagai gejala cinta itu pada seorang dokter muda bersurai permen kapas. Sasuke hanya bisa memandang jauh kearah langit mencoba mencerna kata-kata Hinata lebih dalam.
"Sasuke-nii, hubungan kita tidak pernah seprti itu bukan?" Tanya Hinata lagi, ia butuh persetujuan dari Sasuke.
"Sasuke-ni,... Sakura adalah orang yang sangat baik. Dia bahkan menyukaimu saat pertama kali kau mampir ke kliniknya. Dan yang kulihat sekarang adalah kau terlalu keras pada dirimu sendiri, selalu menyangkal perasaanmu pada Sakura, dan yang kulihat sekarang kalian sama-sama saling tersakiti." Ucap Hinata lagi.
Sasuke kini menatap manik lavender Hinata, ia mencoba mencari penjelasan dari gadis itu.
"Sasuke-nii, percayalah pada kata hatimu. Jika kau tidak mengikuti perasaanmu yang sebenarnya yang kau rasakan hanyalah sebuah rasa sakit. Dan aku sudah mengikuti perasaanku yang sebenarnya, jadi... kau juga harus melakukannya. " Hinata meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya. " Kau harus membawa Sakura kehidupmu, aku yakin dialah yang bisa membahagiakanmu." Hinata tersenyum menatap wajah tegas Sasuke.
Sasuke membalas senyuman Hinata dengan senyuman, Hinata menuntunnya untuk memasuki ruangan yang lebih privat, ruangan C.E.O Hyuga. Sasuke melihat Oji-sama Hinata tengah bercakap-cakap dengan Naruto.
"Oh,.. Sasuke kami sudah menunggumu... masuklah!" Hiroshi mempersilahkan Sasuke untuk duduk di kursi kosong yang terletak disebelahnya.
Sasuke sebenarnya sama sekali tidak ingin bicara apapun saat ini. Perasaannya campur aduk tapi apa mau dikata ia tidak mungkin menolak pembicaraan dengan orang yang sangat dihormatinya dan sudah dianggapnya sebagai kakeknya juga.
"Kulihat tadi kau berdansa daengan seorang gadis, kenapa tidak mengajaknya kemari?" Tanya Hiroshi.
"Dia adalah Dokter Haruno Sakura oji-sama, karena kurang enak badan Sasuke-ni baru saja mengantarkannya pulang." Hinata mencoba menjawab pertanyaan kakeknya yang sebenarnya diperuntukkan pada Sasuke.
Sasuke cukup lega Hinata memberikan klarifikasi tanpa harus Sasuke yang mengarang alasan. Bukan apa-apa, Sasuke hanya merasa tidak siap.
Entah mengapa kakek Hinata mengumpulkan dirinya, Hinata dan Naruto dalam satu ruangan mungkin kali ini ada hubungannya dengan kelanjutan pertunangan mereka.
"Sasuke,.. langsung saja aku ingin bertanya tentang perasaanmu kepada Hinata. Apa kau masih ingin melanjutkan pertunanganmu dengan cucuku?"Hiroshi menatap tajam onix Sasuke dan meminta jawaban segera dari sana.
'Ya',... harusnya Sasuke bisa mengucap sebuah kata pendek itu dengan bibirnya tak mampu membunyikan apa-apa sekalipun pertanyaan itu sudah semenit berlalu. Ia mencoba melempar pandangannya pada Hinata dan Naruto yang saling menggenggamkan jari-jemari mereka dengan erat. Ia mencari sebuah alasan agar ia bisa menjawab kata 'YA' dengan melihat adegan itu, tapi ternyata Sasuke salah. Tidak ada perasaan sakit walau ia melihat Hinata berpegangan tangan dengan Naruto begitu erat. Justru ia merasa begitu ingin mencari Sakura, bagaimana bisa dia membiarkan Sakura pulang sendiri malam-malam begini. Sasuke sungguh merasa begitu bersalah pada gadis itu. Sekuat apapun Sakura, dia tetaplah seorang gadis .Buruk, sikapnya terlalu buruk pada gadis itu.
"Sasuke,..." Hiroshi mencoba membuayarkan lamunan Sasuke pada gadis yang ia usir dari kehidupannya beberapa menit lalu.
"Oji-sama,... bukankah anda sudah tahu bagaimana jawabannya?" Sasuke melemparkan kembali pertanyaan itu tanpa mengurangi rasa hormatnya. "Hinata,... telah menemukan perasaannya sesungguhnya, sekuat apapun saya menghalanginya Hinata akan tetap kembali pada orang yang dia suka." Jawab Sasuke.
Hinata dan Naruto bernafas lega, tapi Sasuke belum menyelesaikan perkataannya.
"Aku tetap menyayangi Hinata" Ujar Sasuke yang kemudian sukses membuat Naruto membelalakkan safirnya lebih lebar. "Bagaimanapun Hinata akan selalu ada dihatiku, di akan tetap jadi prioritasku. Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tidak peduli pada dirinya, apalagi apa bila Hinata berada dalam bahaya aku tidak akan segan kembali memasuki kehidupan Hinata."
Hinata tersenyum, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Naruto. "Arigatou, Sasuke-ni. Percayalah bahwa Naruto akan menjagaku dengan baik."
Sasuke menyeringai, ia sendiripun tak tahu maksud dibalik seringainya kali ini. "Dengar Naruto, sudah kukatakan kepadamu sebelumnya, jika kau tak bisa menjaga Hinata aku mencari cara untuk membawa Hinata kembali padaku. Ingat itu baik-baik." Ucap Sasuke.
Naruto memilih membalas ucapan Sasuke yang dianggapnya tidak cukup penting itu dengan segaris senyum tipis dari bibirnya. Dan Sasuke menangkap senyuman itu seperti jawaban setuju yang mengandung sarkasme. Sasuke merasa dirinya tak lagi tenang,ada suatu hal yang harus segera ia selesaikan. Masalah kelanjutan pertunangannya dengan Hinata kini sudah jelas, Hime-chan-nya itu sudah tak lagi kembali untuknya. Pikirannya terus menitikberatkan pada penyelesaian masalahnya dengan si rambut kapas.
"Oji-sama, Saya rasa saat ini semua masalah sudah jelas, saya sudah merelakan Hinata kepada orang yang dianggap oleh Hinata lebih mampu menjaganya. Saya harus segerqa pergi, ..." Sasuke berojigi pada Hiroshi yang duduk dengan nyaman dihadapannya sebelum ia memulai langkahnya untuk pergi. Setelah mengeliminasi Sakura dari hidupnya sepertinya Sasuke juga tereliminasi dari daftar calon menantu Hyuga.
"Sasuke,..." Hiroshi menghentikan langkah Sasuke yang hampir beranjak.
Pria tua nan kharismatik itu kini berdiri mensejajari bungsu Uchiha yang sudah tak lagi nyaman berlama-lama diruangan itu. Hiroshi menepuk bahu Sasuke dengan tangannya,mencoba memberi kekuatan melalui Sasuke benar-benar pemuda yang sangat baik, dan cukup berat melepaskan calaon menantu Hyuga seperti Sasuke. Belasan tahun Sasuke dan Hinata tumbuh bersama, tapi ternyata Hinata lebih memilih bersama Naruto.
"Kau yakin dnegan keputusanmu, Sasuke?" tanya Hiroshi, Sasuke mengangguk dan Hiroshi melanjutkan, "Ku harap kau tidak merasa buruk karena ini semua, kau sudah seperti cucuku sendiri, aku bahkan sudah menganggapmu seorang Hyuga. Kuharap kau juga mau menganggapku demikian, sehingga aku tidak merasa bersalah padamu." Tutur Hiroshi.
"Tidak, Oji-sama...Kumohon jangan merasa demikian. Saya sangat menghargai keputusan Hinata untuk memilih pendamping hidupnya, dan sayapun akan tetap menghormati dan menyayangi keluarga Hyuga sama seperti keluarga saya sendiri. Jadi saya harap anda tidak perlu merasa sungkan meminta bantuan pada saya sehingga sayapun bisa berlaku sama seperti sebelumnya." Ucap Sasuke dengan tenang dan kembali menyisipkan senyum tipisnya diakhir kalimat.
Hiroshi menyambut baik respoin Sasuke yang tidak menolak keputusan cucunya. Ia pun kini merelakan jaksa muda itu pergi dari hadapannya.
Tiba-tiba pintu ruangan kerja Sasuke terbuka. Membuyarkan semua hal-hal yang diingatnya seminggu lalu pada kenyataan bahwa jam kerjanya belum usai. Seorang pria dengan kuncir nanas menerobos masuk keruangannya tanpa permisi dan langsung bersembunyi dibawah meja kerjanya. Sasuke yang baru saja kembali dari lamunan panjangnya kini mendapat isyarat dari si rambut nanas agar bungkam. Entah mengapa Shikamaru bersikap seperti itu. sepertinya Sasuke tahu jika Shikamaru sedang bermain petak umpet.
BRAK
Lagi, pintu kerja Sasuke terbuka tanpa diketuk. Kali ini seorang pria paruh baya berambut pirang dan berkuncir muncul dihadapannya. Yamanaka Inoichi tampak begitu marah dan gusar. Sekarang Sasuke tahu jika Shikamaru sedang dalam masalah dengan Kepala Badan Intelejen Kepolisian Konoha itu.
"Permisi, apa anda melihat Shikamaru?" Tanya Inoichi dengan gusar.
Sasuke melirik Shikamaru yang mengkode-nya, menangkup bibirnya dengan satu jari dan terlihat panik.
"Oh, sepertinya saya kurang tahu. Terima kasih anda sudah membangunkan tidur saya, Yamanaka-san. Apa ini sudah jam pulang kantor?" Sasuke menangkup mulutnya yang berpura-pura menuap dengan kepalan tangannya.
"Oh,.. maaf saya tidak tahu anda sedang beristirahat. Sekali lagi maaf." Ucap Inoichi berojigi dan kembali menutup pintu ruangan Sasuke dengan perlahan sebelum pergi.
"Heii, ada apa? Kenapa bersembunyi dari calon mertuamu sendiri?" Tanya Sasuke pada Shikamaru yang sudah keluar dari persembunyiannya saat merasa sudah cukup aman.
"Ah... aku tidak pernah bertunangan dengan putrinya, jadi mana bisa dia disebut dengan calon mertuaku?" tanya Shikamaru balik.
Sasuke menggeleng keheranan. Siapapun tahu keluarga Yamanaka dan Nara sudah sangat dekat. Jadi kemungkinan agar mereka tetap berhubungan baik mereka menjodohkan anaknya.
"Ini semua gara-gara Ino!Mendokusei!" Sergahnya sambil merebahkan tubuhnya di kursi klien dan berhadapan langsung dengan Sasuke.
"Kenapa?" Tanya Sasuke ingin tahu.
"Dia masih menutupi siapa pria yang dikencaninya, sementara aku sudah berniat untuk mengenalkan gadisku pada Ka-sanku." Ujar Shikamaru. "Ya, memang keluarga kami sudah sangat dekat dan baik orangtuaku ataupun orang tua Ino sangat berharap kami bisa menikah. Ino memang cantik, tapi aku merasa perasaanku padanya bukan perasaan yang bisa diteruskan kepernikahan, dia seperti adikku saja." Tandas Shikamaru menjelaskan.
Sasuke mengelus dagunya dan mulai mencoba memahami permasalahan Shikamaru, sepertinya posisi Shikamaru hampir sama dengan posisinya.
"Lalu siapa gadis yang akan kau kenalkan pada Ka-sanmu itu?" Selidik Sasuke.
"Kau ingat kasus pembunuhan berantai setahun yang lalu? Kau memintaku untuk menemui ahli patologi di rumah sakit Konoha kan? Dia lah orangnya." Tandas Shikamaru.
Sasuke menggeleng,artinya dia tidak tahu atau tidak pernah bertemu dengan gadis yang Shikamaru maksud.
"Sebentar,..." Shikamaru segera mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan menunjukkan sebuah photo sekumpulan gadis-gadis yang sedang bercengkrama di cafetaria.
Sontak mata Sasuke menajam, ia mengenal salah satu dari jajaran gadis yang ada dalam photo yang ditunjukkan Shikamaru.
"Ini Ino, dan sebelah kirinya inilah gadis yang kumaksud akan kukenalkan pada Ka-san ku. Namanya Sabaku Temari dari Sunagakure." Shikamaru menunjuk gadis berambut pirang dengan empat kucir. "Mereka semua saling berteman, dan mereka adalah dokter muda di Rumah Sakit Konoha. Ino sendiri sangat mendukung hubunganku asal aku mendukung hubunganya dengan pacarnya." Jelas Shikamaru
Tidak,Sasuke tidak peduli dengan Ino atau Temari yang merebut hati teman sejawatnya itu. ia memang mengenal beberapa dari foto itu karena beberapa kasus atau pernah berobat kesana sebelumnya. Ada Karin dengan rambut merah, ia seorang dokter gigi dan adik kelas Sasuke sekaligus penggemar abadi Sasuke. Dan duduk diantara mereka gadis dengan cepol dua, dan sasuke mengenalnya sebagai dokter bedah termuda dirumah sakit itu, Tenten. Tapi Sasuke justru terfokus pada sisi kanan Ino, ada seorang gadis dengan surai merah jambu dan mata hijau cemerlang yang tersenyum manis kearah kamera. Ia yakin jika itu adalah Sakura.
"Oh ya bos, kau harus sering-sering bermain kesana!" Shikamaru memelankan nada bicaranya dan tampaknya membisikkan sebuah rahasia penting, "Seorang dokter terlalu sibuk sehingga mereka tidak punya pacar! Kau bisa mengajak salah satu teman Ino berkencan, Bos."Kata Shikamaru dengan nada menggoda.
Rumah Sakit Konoha,... ya harusnya Sasuke ingat lebih awal jika Sakura sudah bekerja disana sejak kemarin senin jadi ia tidak perlu bingung kemana harus menjumpai gadisnya tersenyum kecil, mungkin benar kata shikamaru jika ia harus sering-sering ke rumah sakit Konoha untuk bisa berkencan dengan salah satu dokter disana.
"Ah, jam berapa sekarang?" Tanya Sasuke.
"Ini masih jam 3, Bos jam pulang kantor masih 2 jam lagi. Aku berencana sembunyi disini sampai paman Yamanaka pulang. Kenapa memangnya?" Shikamaru menangkap gerakan Sasuke yang mengenakan jasnya dan bersiap untuk segera pergi.
"Kalau begitu kau bisa sembunyi disini sesukamu, dan jika ada yang mencariku katakan saja jika aku kurang sehat jadi aku harus berobat ke dokter pribadiku."jawab Sasuke sambil meninggalkan ruangan.
Shikamaru yang melihat tingkah aneh Jaksa muda itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Respon Sasuke terhadap wanita cantik benar-benar cepat, begitu pikir si kepala nanas itu sembari merebahkan dirinya ke sofa diruangan itu. baru saja ia menceritakan tentang dokter muda di Konoha terlalu sibuk hingga tak punya pacar Sasuke sudah pandai membuat alasan untuk menemui mereka.
.
.
.
.
Hinata sibuk menumpuk pakaian miliknya dan milik Naruto dalam satu kardus besar. Ia menatanya dengan rapi dan memplester kardus itu dengan isolasi besar. Ya,... tepat sekali... ia dan Naruto sedang sibuk mengepak barang untuk memulai hidup baru mereka. Setelah berhasil mengantongi restu dari kakek dan juga mantan tunangannya, akhirnya Hinata dan Naruto memutuskan akan pergi kesuatu tempat dimana hubungan keduanya menguat, Hakodate.
Naruto sudah membeli tiket pesawat untuk petang nanti dan barang-barang diapartemennya akan diangkut oleh truk pengangkut barang pindah rumah. Tujuannya sudah pasti, Naruto akan membawa Hinata kembali dalam kehidupan normalnya dahulu sebagai Namikaze Naruto di Hakkodate, kampung halamannya. Mereka berniat menikah di awal musim panas dengan tanggal yang telah dipilihkan oleh kakek Hinata.
Siapa sangka pria yang sudah hampir diujung usianya itu merestui pernikahan Hinata dan Naruto. Bahkan beliau juga bersedia mengurus semua hal yang berhubungan dengan pernikahan Hinata. Sang tetua Hyuga itu juga merekomendasikan agar resepsi pernikahan mereka dilaksanakan di sebuah kapal pesiar pribadi milik Hyuga yang dilabuhkan di Bay Area, saat senja tampak apik disana. Ini benar-benar jadi kejutan yang sangat luar biasa bagi Hinata dan Naruto. Membayangkan bisa menikah saja sudah sangat bahagia apalagi jika bisa menggelar pesta pernikahan disalah satu tempat paling romantis disana.
Yah, Naruto awalnya ingin protes dengan pernikahan mewah ala borjuis dan lebih memilih untuk menikah secara sederhana saja dengan pihak dari keluarga. Tapi, Kakek Hinata bersikeras untuk mengadakan pesta besar bagi Hinata, karena bagaimanapun keluarga Hyuga adalah keluarga bangsawan elite dengan banyak kolega yang sangat berpengaruh. Daripada harus berdebat dan ujung-ujungnya restu tidak diberikan, Naruto akhirnya menurut, toh yang penting dia menikah dengan Hinata.
"Naruto-kun perekatnya habis!" Seru Hinata sambil menunjukkan kertas gulungan kertas perekat yang sudah habis itu.
"Aku akan membelikannya ke minimarket sebentar, kau mandilah!" Ucap naruto sambil mengecup kening Hinata sebelum pergi, Hinata tersipu karenanya.
Hinata sudah tak sabar lagi rasanya, ia akan segera kembali ke Hakodate dua jam kedepan dan dua bulan kemudian ia akan berganti marga menjadi Namikaze. Sejuknya air yang membasahi tubuhnya saat mandi sepertinya juga turun menyejukkan hatinya. Ia bergegas mengenakan baju mandi handuknya seusai semua ritual mandi terlaksana. Sepertinya ia mendengar pintu apartemennya itu baru saja terbuka. Jadi menurut tebakannya Naruto sudah kembali.
"Naruto-kun..." Teriaknya ketika Hinata keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Naruto.
Alangkah terkejutnya Hinata, yang didapatinya bukanlah Naruto. Seorang pria dengan sebuah luka gores melintang diwajahnya tengah berdiri sambil melihat sekeliling ruangan, dan pria yang lainnya memiliki jenggot kini sedang sibuk mematikan putung rokoknya kelantai. Jika Hinata tidak salah ingat, Hinata memeberikan cincin berlian merahnya pada mereka agar tidak memukuli Naruto. Mereka berdua juga orang yang sama Hinata temui saat Naruto menghadap Danzo, si pria dengan balutan perban.
"Oh,... Selamat sore Nona, Hinata...Kau masih ingat aku? Aku, Iruka." Tanya si pria dnegan luka gores.
Hinata tak menjawab, entah perasaan Hinata saja atau memang benar demikian adanya. Hinata menangkap aura jahat melingkupi dua manusia itu. Hinata memilih untuk berjalan mundur menghindari langkah kaki mereka yang semakin memperpendek jarak pada Hinata.
"Sepertinya mata Danzo-sama benar-benar jeli. Benarkan, Asuma?" Tanya Iruka pada temannya yang kini juga melangkahkan kakinya mendekati Hinata, Hinata tahu dua pria itu berniat kurang baik padanya.
"A-a-pa yang kalian inginkan?" Tanya Hinata dengan tergagap. Keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya.
"Tenang saja,... kami hanya ingin sedikit bermain denganmu." Ucap pria yang dipanggil Asuma oleh temannya itu, ia mulai menarik tangan Hinata dengan paksa dalam satu kali hentakan, Hinata terjatuh karenanya.
"Ahh..." Hinata meringis ngilu karena ia jatuh terduduk dilantai.
"Kau tahu nona, Danzo-sama sangat menginginkanmu,... tapi tentu saja sebelum kau jatuh ke tangannya,... izinkan kami menikmati tubuhmu terlebih dahulu." Iruka menyeringai iblis, sambil mengelus pipi mulus Hinata.
Hinata bergidik ngeri. Ia tidak mungkin melayani dua manusia ini dengan pikiran bejatnya. Ia segera menepis tangan kasar yang berani mendaratkan sentuhan dikulitnya itu.
"Tidak,... Jangan!" Hinata segera berusaha bangkit dari posisinya dan mencoba berlari.
Terlambat, tangan Iruka berhasil menarik kaki kecil Hinata sehingga ia kembali terjatuh. Segera ia meraih tali baju mandi handuknya dan tentu saja, sebuah pemandangan indah tersingkap disana. Sekalipun Hinata masih menggunakan pakaian dalam berenda dan bra dengan warna yang sama tapi pikiran kotor mereka sudah berhasil menerobos masuk kedalamnya terlebih dahulu. Dua pria itu tertawa dengan bahagia melihat pemandangan itu. Hinata panik ia mencoba menghalangi baju mandinya yang terbuka dnegan menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak, kumohon,... jangan lakukan apapun kepadaku!" Hinata menahan tangis dipelupuk matanya. Ia tidak mau jadi budak nafsu biologis kedua manusia ini. Hinata mencoba melempar barang apapun didekatnya agar bisa menghalangi mereka menikmati tubuhnya.
Tapi mereka malah mulai membuka ikat pinggang celana mereka dan bersiap menerkam makhluk cantik yang ketakutan dihadapannya. Iruka menangkap dan segera mengikat kedua kaki Hinata dengan ikat pinggangnya.
"Tidak... aku mohon,..Jangan!" Seru Hinata dengan wajah memelas, ia meronta. Berusaha menolak perlakuan Iruka yang sudah berhasil mengikat kakinya dan kini mulai mencoba mengungkung gadis indigo itu dengan tubuhnya.
"TOLOOOONNGG" Teriak Hinata sekuatnya, tapi dari bagian tubuh belakangnya sebuah tangan membekapnya.
"Diam kau! Jalang!" Ujar si pria berjenggot yang membekap kuat mulut Hinata dengan satu tangannya dan tangannya yang lain ia gunakan untuk merangkul tubuh kecil Hinata agar tak banyak bergerak.
"Sebelum upeti sampai kepada seorang raja, seorang pengawal harus mendapatkan upahnya terlebih dahulu, jadi... mari kita bersenang-senang sebelum Danzo yang melakukannya." Ucap Iruka sambil membuka kedua tangan Hinata yang ditangkupkan menutupi tubuhnya, dan Hinata masih berusaha sebisa mungkin menghalangi.
Asuma yang mempunyai satu tangan untuk mendiamkan tubuh kecil yang berada dalam lengannya itupun turut membantu agar tak ada lagi pemberontakan dari gadis cantik yang akan mereka mangsa.
Panik, takut dan ngeri. Yah, ini mungkin sudah ketiga kalinya Hinata menghadapi adegan dimana menempatkan dirinya sebagai korban perkosaan. Dalam hatinya, Hinata terus meracau mengucap doa agar Naruto segera datang menyelamatkannya dari kejadian ini. Tangis dari air matanya sudah tak lagi terbendung saat jemari kasar Iruka merambati paha mulusnya yang tersingkap. Mungkin bagi mereka berdua ini adalah stimulasi rangsangan yang hebat, tapi bagi Hinata mereka berdua seakan menyeret Hinata ke gerbang neraka. Memang benar Hinata sudah tak lagi perawan, tapi ia tak pernah mau melakukan hubungan selain dengan Naruto.
"Hemmm...Kulitmu benar-benar halus nona,...dan kaupun begitu harum..." Iruka mendengus, menghisap aroma tubuh Hinata yang memabukkannya dalam hasrat durjana melalui indera penciuman yang ia dekatkan ke paha mulus dihadapannya.
Hinata tak berdaya, ia tak bisa menggerakkan sedikitpun tubuhnya untuk berontak menghadapi dua mafia yang sudah sangat terlatih itu. Tangisnya pecah, tak tertahankan, ia tak lagi bisa menolak eksplorasi penuh paksaan yang dilakukan diatas tubuhnya itu. Ia hanya bisa terus meracau dalam hati, berharap agar Naruto segera datang menyelamatkannya. Entah sudah ratusan atau ribuan kali naruto tak kunjung kembali. Hinata kian panik saat tangan kasar Iruka menyentuh liang miliknya, sekalipun ia masih mengenakan dalaman putih berendanya. Seakan sengatan listrik menjalari tubuh Hinata. Panas dan menyiksa. Tapi iapun tak mampu menghentikan tindakan apapun dari penyengatnya.
Dari balik mata keperakan yang telah basah dengan air mata itu, Hinata seaakan menyerukan teriakan kepanikan dan ketidak berdayaannya. Ia benci pada dirinya sendiri yang tak mampu meneriakkan apa-apa agar ada yang bisa datang menolongnya, atau sekedar berlari dari perbuatan biadab dua manusia yang sedang mencoba menikmati tubuhnya. Ia benci tubuhnya hanya bisa bergerak sebisanya dan tak mampu melakukan perlawanan. Dimanakah Naruto? Atau siapapun bisakan menolongnya dari kejadian mengerikan ini?
"Mari berpesta, Nona manis!" Seru Iruka yang menyisakan senyum kecil diujung kalimatnya.
Tangan kasar Iruka menarik paksa bra berwarna putih yang menutupi dada besar Hinata dengan satu kali hentakan. Segera mata mafia itu langsung terfokus pada dua gundukan milik Hinata yang kini tak terhalang apapun lagi. Tangan-tangan kotor merekapun segera memainkannya dengan gemas dan kasar. Hinata berteriak histeris dengan suaranya yang tertahan, ia tidak rela tubuhnya dimainkan oleh orang selain Naruto. Ini mengerikan. Hinata tak berdaya menanggapi perlakuan manusia bejat seperti mereka. Tangisnya semakin menjadi, tapi tubuhnya sama sekali bukan lagi miliknya. Ia tak mampu bergerak dalam kungkungan kuat pria-pria kejam itu.
"Tadaima,..." Seru seseorang dibalik pintu. "Hinata, buka pintunya. Ini aku."
Lega. Hinata tahu suara yang baru saja didengar oleh telinganya adalah suara Naruto. Ya, ia yakin Naruto pasti akan datang menolongnya. Segera Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya sekuat tenaga,mencoba terlepas dari bekapan si pria berjenggot yang membuatnya bisu.
"Naruto-kun,.. TO.." Asuma segera membekap kembali gadis dalam kuasanya itu. Baru saja ia lengah dan membuat Hinata berhasil berteriak.
"KUSOOO!" Umpat Iruka, yang kini mulai bangkit dari posisinya. "Asuma, segera ikat gadis ini, bagaimanapun caranya kita harus membawanya pulang untuk bertemu Danzo dengan keadaan utuh! Kita bereskan dulu si Kyuubi itu!"
Asuma tak menjawab, segera saja ia menyumpal mulut Hinata dengan bra miliknya yang tadi dilepas oleh Iruka dan mengikat kedua tangan gadis itu agar tak bisa berkutik.
"Hinata, ada apa? Cepat buka pintunya,... kau baik-baik saja kan Hinata?" Naruto mulai panik, ia yakin pasti ada sesuatu terjadi pada Hinata. Tak perlu pikir panjang segera ditendangnya pintu apartemennya hingga terbuka.
BRAAKK.
Naruto terperanjat, saat ia mendapati Hinata duduk dengan tubuh setengah telanjang di ujung ruangan. Kaki dan tangannya terikat, mulutnyapun dibekap. Tangis Hinata terurai ketika menangkap sosok Naruto yang diharapkannya akhirnya datang merasa sedih sekaligus bahagia, Naruto menemukannya dalam keadaan nyaris telanjang, entah apa yang dipikirkannya kini tentang tubuhnya.
Tentu, Naruto sama sekali tidak meragukan Hinata, pasti ada seseorang yang berniat buruk pada gadis itu. Sayangnya, Naruto belum menemukan keberadaan manusia selain Hinata yang memporak-porandakan apartemennya. Otaknya hanya memerintahkannya untuk segera menolong Hinata. Naruto benar-benar merasa iba pada keadaan indigo kesayangannya. Iapun masih belum tahu siapa yang berani melakukan hal sekeji itu pada Hinata. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk segera menolong Hinata, dan memastikan calon istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. Tapi...
GLEK
Sebuah ikat pinggang kini berhasil melilit leher Naruto, jalan nafas Naruto rasanya terhalang benda itu sehingga Narutopun merasa sulit bernafas. Naruto melihat seorang dengan luka melintang kini berjalan mendekatinya dan,..
BUG
Sebuah pukulan keras kian mendarat di tulang pipinya. Kini Naruto tahu, pasti Danzo adalah dalangnya.
"Halo,.. Kyuubi..! Sepertinya hari ini kau harus mati ditangan kami. Dan ucapkan selamat tinggal pada pacar cantikmu itu!" Sebuah pukulan kini mendarat di ulu hati Naruto, sepercik darah keluar dari mulutnya.
Jangan remehkan Naruto, bagaimanapun dia adalah Kyuubi No Kitsune si petarung tangguh dari Kamagasaki. Satu atau dua pukulan takkan mampu menumbangkannya. Naruto memegangi ikat pinggang yang melilit lehernya, merapatkan kedua kakinya dan mencoba melakukan gerakan salto kebelakang.
"Aku tidak akan mati hari ini!" Teriak Naruto yang kini berhasil membelakangi Asuma dan terlepas dari lilitan yang membelenggu lehernya.
Mungkin bertarung sudah mendarah daging bagi Naruto, dan menghadapi dua mafia suruhan Danzo sudah bukan hal baru. Dengan sengit Naruto menghadapi dua manusia dengan kemampuan nyaris setara dengannya itu. Mereka sudah bertahun-tahun mengabdi pada Danzo jadi tidak diragukan kemampuan beladiri merekapun juga sangat mumpuni. Jadi siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?
Jelas, sudah pasti pemenangnya adalah Naruto. walaupun dengan susah payah Naruto akhirnya berhasil menekuk dua mafia itu dengan pukulan mautnya. Setelah bergelut selama tigapuluh menitan akhirnya dua mafia itu terkapar dilantai. Asuma bahkan tak lagi mampu membuka matanya setelah Naruto berhasil menghantamkan pecahan kayu meja makan yang roboh karena perkelahian dua lawan satu itu. Sementara Iruka, ia masih nampak terengah-engah akibat pukulan Naruto yang bertubi-tubi ke rongga perutnya.
Tak perlu mengulur waktu yang terbuang lagi, Naruto segera menghampiri Hinata. Membebaskannya dari segala ikatan yang membatasi gerakannya. Ia menatap mata Hinata yang sayu dan tak berdaya. Naruto mencoba mengatupkan baju mandi Hinata lalu membawa Hinata kedalam pelukannya. Membelai dan menepuk punggung Hianatanya dengan maksud menenangkan.
"Daijobu, Hinata,... Maaf aku meninggalkanmu sendirian. Kau baik-baik saja.?" " Tanya Naruto menenangkan.
Hinata menggeleng dengan keras dalam pelukan hangat yang telah menyelamatkannya dari pria-pria bejat itu. Tangisnya kembali pecah, ia begitu lega akhirnya Naruto datang untuknya. Naruto melonggarkan pelukannya memberi ruang bagi dirinya untuk menatap wajah Hinata yang sangat dicintainya itu. Tapi ternyata Hinata masih tak mau jauh dari jarak sependek itu. Kembali ia menarik Naruto memeluknya dan meletakkan kepalanya yang begitu berat di bahu yang kokoh itu lalu menumpahkan airmatanya lagi disana.
"Jangan meninggalkanku sendirian lagi!" Isak Hinata.
"Tentu, aku janji takkan meninggalkanmu lagi. Maaf." Sesal Naruto sambil mengecupi rambut panjang Hinata yang tergerai. "Kau bisa tenang sekarang."
Tidak.
Hinata melihat pria dengan luka melintang kini membuka sebuah pisau lipat dan bersiap menikam Naruto dari belakang.
"Naruto-kun,.. Awas belakangmu!" Teriak Hinata.
Naruto tidak bisa menghalangi pisau lipat itu tidak mengenai tubuhnya. Ya, pisau itu memang berhasil menggores lengannya. Kini ia mencengkeram tangan dari Iruka yang mencoba untuk melawannya kembali dengan satu tangan sedangkan tangan yang satunya lagi Naruto gunakan untuk mencekik leher Iruka, hingga pisau lipat itu akhirnya bisa terjatuh. Iruka merasa sangat tidak nyaman dengan lehernya yang tercekik, Segera ia benturkan kepalanya kedahi Naruto dengan keras.
JEDUG
Naruto merasa pandangannya berkunang, dan kepalanya oleng seketika. Tak bisa dipungkiri jika melawan dua orang dengan kemampuan yang setara dengannya sangat menguras tenaga. Narutopun melepas cengkeraman tangan yang ia cekikkan pada Iruka, ia memegangi kepalanya yang masih belum mendapatkan pandangan seperti sedia kala. Iruka memutuskan ia harus menghabisi Naruto secepatnya, sekaranglah saatnya ketika Naruto oleng karena sundulannya. Iruka menjambak surai pirang Naruto dengan kasar dan membenturkannya kedinding keras-keras. Entah sudah berapa kali, hingga darah yang mengucur dari kepala Naruto tapi Naruto tak sanggup memberikan serangan balik pada Iruka.
Ngeri, Hinata merasa ketakutan kian menjalari tubuhnya. Ia melihat kekasihnya kini sedang tidak berdaya memberikan balasan pada orang yang beberapa waktu lalu hampir memperkosanya. Jantungnya kian berdegup kencang, ia berdoa dan meracau, berharap Naruto bisa segera membalas . Tapi Naruto malah jatuh terduduk dilantai, Naruto tampak tidak berdaya lagi melawan.
Hinata merasa harus melakukan sesuatu, ia harus menolong kekasihnya itu. ia tidak mau Naruto mati. Bagaimanapun mereka akan menikah, mereka segera membagun hidup bahagia tidak dengan akhir tragis salah satu meninggal atau terpisah. Mengingat akan hal itu, sebuah perasaan kian memasuki pikiran Hinata. Sebuah keberanian, yang kini mencoba mengatur tindakan dari otaknya. Hinata mendapati sebuah pisau lipat yang dijatuhkan Iruka dilantai. Hinata segera memungutnya, ia mencoba mengalirkan seluruh kekuatannya pada pisau itu dan...
JLEBB
Hinata menancapkan pisau lipat itu ke tengkuk Iruka tapi pria dengan luka melintang itu masih belum tumbang. Dicabutnya dan ditancapkan kembali pisau lipat ditengah punggung pria yang baru saja dilukainya itu. Dan tubuh pria itupun kini tumbang.
Naruto cukup terkejut Hinata bisa melakukan hal itu, benar-benar sesuatu yang tak bisa disangkanya. Darah Iruka mengalir kelantai,tubuhnya tak bergerak. Mungkin saja ia sudah mati karena tusukan Hinata. Semantara Hinata hampir tak menyadari apa yang barusan dilakukannya.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terkejut, menangis dan takut, bukankah baru saja ia membunuh seseorang. Tidak. Ini suatu hal yang benar-benar sangat menyeramkan. Hinata tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dialah yang membunuh Iruka. Naruto menatap manik lavender keperakan yang tak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Naruto mencoba menerka-nerka kejadian apalagi yang akan dihadapinya sekarang.
"Tidak mungkin,..." seru Naruto yang mencoba memastikan denyut Iruka dengan menyentuhkan dua jari dibawah telinga Iruka.
"Bagaimana ini, Naruto-kun?" tanya Hinata sambil terisak.
Naruto memutar otaknya dengan keras. Pembunuhan Iruka ini akan menjadi sumber masalah baru bagi mereka berdua.
Naruto segera melepas jaket yang dikenakannya dan memakaikannya pada Hinata lalu menarik tangan Hinata untuk segera pergi menjauh dari tempat itu. Tidak ada penyelesaian lain yang bisa Naruto pikirkan saat ini.
"Kita harus lari Hinata, sejauh mungkin." Seru naruto sambil terus berlari dan memaksa Hinata mengikuti langkah kakinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo-halo ada yang kangen sama saya? hehehe maaf selain sibuk selama seminggu ini kompie rusak jadinya baru bisa ngetik lagi... terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini, saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader.
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D
