*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 18
.
.
.
.
Naruto menatap kosong pemandangan senja dari tempat duduknya. Dahinya masih berkedut karena luka yang dikepalanya. Sekalipun ia sudah mengikatkan robekan lengan bajunya untuk membalut luka itu tapi Naruto masih bisa merasakan sakit dikepalanya itu. Nyeri dan pening, mungkin ia terlalu banyak mengeluarkan darah, atau mungkin beban dalam pikirannyalah yang menambah sakit dikepalanya itu. Semua dalam pikirannya berjudul Hinata.
Naruto masih bisa merasakan tangan Hinata bergetar dalam genggamannya. Perempuan disampingnya itu masih mengenakan baju mandi handuk dan jaket hoodie miliknya tanpa alas kaki. Ada cukup banyak luka goresan dikaki jenjang Hinata, karena berlari tanpa sempat membawa atau memakai apapun yang layak . Surai indigonya terurai, tampak lusuh dan kusut. Naruto tahu betul, Hinata sangat resah, takut,kuatir dan Narutopun tak kalah kuatirnya dengan Hinata.
Naruto memang seorang petarung, tapi dia tidak pernah membunuh dengan sengaja. Semua yang terjadi begitu cepat, Hinata melakukan upaya pembelaan bagi dirinya. Tapi sungguh, Naruto tidak menyangka jika Hinata sampai bisa membunuh Iruka. Kejadian ini membuat hidupnya tak lagi dalam posisi aman. Danzo, akan terus mengejarnya. Menjadikan dia dan gadis disampingnya target buruan.
Senja merah keemasan dibulan penuh cinta semakin membisukan kedua manusia dalam keresahan yang teramat. Entah sudah berapa kilometer berlalu dari kota Kamagasaki, merekapun tak tahu. Naruto bahkan tidak tahu kemana laju kereta yang sedang ditumpanginya membawa ia dan Hinata pergi. Naruto hanya bisa menjauhkan gadis itu sejauh mungkin dari tragedi yang baru saja mereka berdua alami. Pikirannya melayang, menghitung dan menafsirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Kejadian yang baru saja terjadi terekam begitu kuat dalam benaknya. Semua yang baru saja terjadi seperti menjauhkan dari bayangan pernikahannya yang sudah direncanakan sebelumnya. Kehidupan baru yang tenang dan bahagia seakan terhapus dalam otaknya.
Ditatapnya manik lavender yang tampak lelah dan masih menyimpan tangis ketakutan luar biasa. Safir biru Naruto mencoba mengamati gadis yang bersandar di bahu kirinya itu lebih dalam. Biasanya Naruto akan mendapat energi baru hanya dengan melihat pancaran wajah ayu Hinata, tapi kali ini tidak. Wajah cantik itu seakan tertutup kegundahan, menjadikan auranya menghitam. Naruto bingung, ia merasa tidak mampu mengusir bayangan hitam dari wajah Hinata.
"Naruto-kun, apa yang akan terjadi setelah ini?" Bisik Hinata dengan suara parau, menahan tangisnya.
Naruto tidak menjawab, ia memutuskan menutup safir birunya dan sejenak berpikir. Mencoba bernafas lebih dalam dan membuat dirinya lebih tenang sebelum menjawab pertanyaan Hinata. Tentu, ia sudah bisa meramalkan jika jawaban yang dia berikan adalah jawaban yang tidak ingin Hinata dengar.
"Kumohon, katakan kalau semua akan baik-baik saja dan kita tidak akan berpisah Naruto-kun?" Pinta Hinata yang tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Naruto membawa Hinata kedalam pelukannya, ia masih bungkam. Masih mencoba memilih kata-kata yang bisa ia gunakan untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Membunuh anggota yakuza merupakan masalah yang sangat besar,...dan hukumannyapun sangatlah berat." Naruto mulai angkat bicara
"Hukuman? Hukuman seperti apa yang kau maksud Naruto-kun?" Tanya Hinata mencoba mengendurkan rengkuhan Naruto dari tubuhnya.
"Danzo, adalah seorang oyabun yang kehilangan wakagashira-nya, mungkin hukuman yang akan diberikan lebih dari sekedar yubitsume,.."
"Tidak mungkin... " Seru Hinata sembari menggeleng tidak percaya, airmatanya kembali meleleh. Ia tidak sanggup membayangkan dirinya atau Naruto menjalani hukuman yang mengerikan itu. Naruto hanya bisa terdiam melihat Hinata tenggelam dalam tangisnya.
"Aku akan menjalani Seppuku,..." Bisik Naruto lirih.
Mendengar kata yubitsume sudah membuat Hinata semakin sesenggukan, apalagi Seppuku.
Hinata bergidik ngeri, membayangkan ucapan Naruto membuat kesedihan dalam dirinya semakin bertambah. Ia tidak akan pernah merelakan pria yang sangat dicintainya itu menjalani sebuah eksekusi hukuman mati. Apalagi sebenarnya Hinatalah yang membunuh Iruka bukan Naruto.
"TIDAK!" Teriak Hinata histeris. "Bukankah kita berjanji untuk terus bersama? Kita bahkan akan segera menikah,... bagaimana kau bisa melupakan hal itu,...? Kenapa,..." Hinata tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. Otaknya penuh dengan kemarahan dan penyesalan. Dan ia tidak bisa lagi memilih kata-kata yang tepat untuk menjelasakan segala keinginannya untuk tetap bersama Naruto.
"Lupakan soal menikah!" Ucap Naruto dengan baritone nya yang memeberat, kini a tertunduk dan bersiap mengatakan hal yang lebih buruk dari itu.
Hinata tersentak, tak mampu berucap. Baru saja ia mendengar Naruto melupakan tentang pernikahan mereka, apakah artinya mereka harus berpisah sekarang?
"Pulanglah,... Biar aku yang menghadapi semua ini!" Naruto tak berdaya.
"Tidak,.. aku mohon... " Hinata menggeleng dengan keras tidak percaya, ia mencoba menjelaskan, ia tetap tidak ingin terpisah dari Naruto "Semua akan baik-baik saja, kan? Kita bisa datang ke Oji-sama dan meminta perlindungan,... aku yakin dengan kekuasaan Hyuga membuat keadaan ini lebih baik. Atau... atau kita bisa minta bantuan Sasuke-ni,... dia... dia pengacara hebat dan pasti akan mencoba melindungi aku dan.. kau. Kita,..." Hinata menatap birunya safir Naruto dan mencoba meyakinkan agar mereka berdua agar tetap bersama.
"Hinata,... kumohon dengarkan aku." Potong Naruto, ia menangkup pipi gembil Hinata dengan kedua tangannya.
"Aku mengenal mereka lebih baik darimu, mereka yakuza,... mereka punya hukum gang yang sangat kau bersikeras bersama, kita berdua akan menjadi target buruan, hidup dalam pengejaran, jauh dari layak dan tanpa identitas, tidak ada kehidupan bahagia lagi setelah ini. Apa kau mengerti?"
Hinata menggeleng, " Aku yang membunuhnya, kenapa kau harus menjalani hukuman itu sendirian? Kau harus membawaku bersamamu!" Ujar Hinata yang mulai tak bisa menguasai dirinya sendiri.
"Aku mengenal yakuza bertahun-tahun,... dan mungkin tujuan utamanya adalah melenyapkan aku. Jadi, sebaiknya kau harus kembali dalam lindungan Oji-sama. Aku akan mengantarkanmu pulang,setelah itu...aku akan kembali kesana dan menghadapi mereka."
Hinata terdiam, ia tidak peduli penjelasan tentang sekejam apa yakuza itu. Yang dia mau hanya terus bersama Naruto. Hinata memilih memalingkan wajahnya menatap senja yang memerah dari balik jendela.
Naruto mulai kehabisan akal, ia harus bisa memulangkan Hinata dengan selamat. Ia yakin kakek Hinata akan melindungi cucunya itu. Dia adalah orang yang memiliki kuasa sangat besar, pasti dia akan melakukan sesuatu yang lebih baik dari yang bisa dilakukannya.
"Kau mungkin, tak pernah tahu sekejam apa mereka, tapi aku tahu. Mereka bahkan tak membiarkan korbanya mati dengan meninggalkan bekas. Setelah mereka dibunuh,.. jasad mereka di jatuhkan dalam aspal cair hingga seluruh tulang belulangnya tak berbekas, tak ada yang tersisa. Semua identitas akan dihilangkan, tak akan ada catatan bukti kejahatan mereka di ,.. Bagaimana mungkin aku bisa membawamu bersamaku untuk menghadapi akhir hidup yang demikian?" Naruto berteriak dan mulai kehilangan kendali menghadapi gadisnya yang keras kepala.
"Tidak,...!"Hinata berteriak menolak.
Ia takkan bisa membayangkan tubuh Naruto yang sangat dicintainya itu terluka, bersimbah darah dan sekarat lalu harus meleleh dalam aspal cair. Kejam. Hinata menutup matanya, membayangkan harus hidup terpisah dengan Naruto saja ia tak sanggup bagaimana mungkin dirinya merelakan kematian Naruto dengan cara sadis seperti itu. tidak sanggup menjalani hidup sendiri, sementara Naruto menghadapi kematian dengan cara mengerikan.
"Bagaimana aku bisa membuatmu mengerti,...kau.." Naruto kehabisan kata-kata, suaranya melemah, ia tak tahu bagaimana caranya menyuruh gadisnya itu pulang agar terselamatkan.
"Kaulah yang tidak mengerti aku Naruto-kun! Kau adalah hidupku, Naruto-kun,... Jika kau berani mendatangi mereka dan menyerahkan hidupmu aku juga tidak akan segan menancapkan belati keleherku. Atau aku harus mencari apapun agar aku mati."Hinata kini yang mengancam
"Kumohon, Hinata... jangan katakan itu berjanjilah jika kau tak akan melakukannya demi aku!" Mata Naruto memelas, akhirnya tetes-tetes air mata itu mengalir juga dari safirnya.
"Kenapa tidak?" Hinata balik bertanya. " Aku sudah berani membunuh orang yang berani melukaimu, dan kau... kau berani berkorban menebus dosaku itu dengan menyerahkan nyawamu kepada mereka. Jadi,.. kenapa... kenapa aku tidak boleh mati?" Hinata berteriak sambil memalingkan wajahnya kearah jendela kembali.
Naruto menggeleng, ia tidak tahu bagaimana caranya menyingkirkan perempuan kesayangannya itu agar tidak terkena imbas dunia mencoba menatap manik lavender Hinata. Biasanya ia mendapati mata itu kian sayu dan teduh, kini mata itu berisi perasaan kalut, marah, sedih, panik takut dan entah apalagi Naruto tak bisa menebaknya. Digenggamnya kuat-kuat jemari lentik yang mulai mendingin dalam tangannya, Naruto juga tidak bisa melihat Hinata mengakhiri hidupnya sendiri. Nyawa Hinata jauh lebih berharga dari seluruh yang dia miliki didunia mencoba menciumi ujung jemarinya dengan lembut.
"Kumohon Hinata,...mengertilah. Hidupmu sangat berharga. Jangan menyia-nyiakan kematianmu untuk orang buangan sepertiku." Ucap Naruto sembari meletakkan tangan yang digenggamnya itu ke pipinya. Hinata bisa merasakan airmata yang mengalir membasahi jari-jemarinya.
Hinata menangkis sentuhan Naruto, ia masih menatap pemandangan senja yang tersuguh dari jendela kereta yang mereka tumpangi. Harusnya sore ini mereka berdua ada dalam sebuah kabin pesawat menuju Hakodate, bukan berlari dan mengucap salam perpisahan. Ia tidak mau terpisah dengan kekasihnya. Apapun yang terjadi, Hinata tidak mau jauh dari Naruto.
"Kau sangat berbakat, kau adalah putri bangsawan dari keluarga terpandang, kau bisa jadi apapun yang kau inginkan. Sementara aku,... aku hanya manusia sebatang kara tak berharga yang hanya punya tubuh untuk bertarung... jika akupun mati, takkan ada yang perlu dikhawatirkan. Jasadku akan membusuk dan jadi makanan ini aku hanya mencoba bertahan hidup dan mati adalah perkara waktu,... jangan... jangan... aku mohon demi aku jangan membuatku jadi manusia yang lebih tidak berguna karena menjadikanku alasan kematianmu... Bertemu denganmu sudah cukup membuatku bahagia. Berjanjilah jika kau tidak akan melakukannya, kau...harus terus hidup." Tandas Naruto yang menunduk dan berisak dalam baritonenya.
" Kau,... bisa dengan mudahnya menyingkirkanku,setelah semua yang terjadi dan kita lewati, melupakan semua janjimu padaku, menghapus semua mimpi indah yang kita bangun bersama,... kau bahkan menebus dosaku dengan menjalani seppuku... dan kau masih menginginkanku untuk terus melanjutkan hidupku sendirian?" Hinata terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan,
"Itu sama saja dengan menghukumku seumur hidup. Aku memang cuma seorang wanita yang sangat dan sangat mencintaimu, semua yang ada di pikiranku adalah kau,...kaulah hidupku jiwaku,nyawa dalam setiap jengkal kehidupanku, tanpamu aku tidak akan pernah sanggup hidup. Tidak ada jiwa didalam tubuhku!" Tangis Hinata tak tertahankan, menghentikan ucapannya sejenak. Tapi Hinata masih belum selesai.
"Bagaimana aku bisa menghadapi hari-hari setelah kau tidak lagi disampingku? Aku,... akulah yang mengantarkanmu jadi pendosa dimata mereka sehingga kau harus menjalani hukuman demi aku?Begitu?" Tanya Hinata menuntut kejelasan.
"Hinata, kumohon mengertilah,... aku tidak mungkin bisa membawamu bersamaku menghadapi mereka. Untuk kali ini kumohon,..." Ucapan Naruto terhenti karena Hinata menutup kedua daun telinganya, tak menggubrisnya ataupun mau mendengarkannya.
Tapi Hinata memilih menutup telinganya tak peduli penjelasan Naruto. Artinya ia akan tetap bersama dengan tidak akan pernah menerima kenyataan jika ia harus berpisah dengan orang yang sangat dicintainya itu. Ia memilih untuk tidak mendengarkan kalimat perpisahan atau penolakan dari Naruto. Apapun yang terjadi dia akan tetap bersama Naruto.
"Hinata sayang,..." Perlahan dibukanya kedua tangan Hinata yang menutup telinga dan mencoba menolak semua penjelasan Naruto.
Naruto memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menghirup oksigen banyak-banyak untuk bisa menguasai dirinya sendiri. Mata birunya menyendu, ketika ia harus beradu dengan manik lavender keperakan yang basah oleh airmata. Menjalani adegan perpisahan dengan orang yang sangat dicintai adalah hal terburuk yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.
"Kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan?" tanya Naruto mencoba menenangkan. "Kau... harus pulang,..." Dengan suara berat Naruto mengakhiri kalimatnya.
Ya, ada sebuah perasaan ragu tersirat dari ucapannya, mungkin inilah saaat dimana ia dan Hinata harus benar-benar berpisah.
Hinata tidak tahan lagi. Naruto terus saja mengusirnya, menolak keinginannya untuk terus berada disisi pria itu. Hinata mengambil langkah cepat dan menjauh dari pandangan Naruto, Naruto mencoba mengikutinya. Ia mencoba membuka pintu gerbang kereta.
"Kau ingin agar kita berpisah bukan? Kau ingin agar aku pulang,... Lalu kau juga akan tetap bersikeras menyerahkan nyawamu kepada mereka sebagai penebusan dosaku,...? Intinya kita akan tetap berpisah, kan?" Tanya Hinata,Naruto hanya bisa diam karena memang itulah yang akan dia lakukan.
"Lihat ini baik-baik, disinilah hubungan kita diakhiri...aku akan menunjukkan jika aku tidak main-main dengan ucapanku."
Sebuah kereta dari arah berlawanan akan segera bersisipan dengan kereta yang mereka tumpangi. Hinata seakan mengambil ancang-ancang dan bersiap melompat dari pintu gerbang kereta yang dibukanya itu.
"Sayonara,..Naruto-kun" Ucap Hinata.
"TIDAKKK!HENTIKAN!" Sergah Naruto.
Dengan sigap tangan Naruto terulur untuk menangkap tubuh kecil Hinata yang baru saja bersiap menghadapi maut. Naruto mendekap bagian belakang tubuh Hinata dan membawa kedalam rengkuhannya. Sementara Hinata tengah meronta dan mecoba menolak pelukan Naruto sekuat yang ia bisa. Dalam pikiran Hinata lebih baik mati daripada ia harus hidup tanpa Naruto.
"Biarkan aku mati, Naruto-kun!Lepaskan aku." Teriak Hinata yang masih meronta, tangisnya pecah dengan derasnya mengalir.
Air mata Narutopun tak terbendung, ia juga tidak akan pernah sanggup melihat gadisnya menjemput maut. Sungguh dalam hati Naruto tidak ingin mengatakan kalimat perpisahan dengan manusia cantik paling dicintainya itu.
"Aku mencintaimu, kumohon,... jangan tinggalkan aku!" Bisik Naruto dengan baritonenya yang serak karena airmata.
"Kumohon, bawa aku kemanapun kau pergi,... sekalipun itu ke gerbang kematian." Hinata memutar tubuhnya ia memeluk Naruto seerat yang ia bisa. Ia sangat,...sangat... teramat sangat mencintai Naruto.
"Maaafkan aku,.."Ucap Naruto "Aku sungguh tidak ingin jauh ataupun berpisah darimu,... aku sangat mencintaimu,... maafkan aku yang hanya bisa memberikan kehidupan yang seperti ini untukmu."
"Berjanjilah, kita takkan pernah terpisah... apapun yang terjadi.. tetaplah bersamaku!" Pinta Hinata.
"Tentu,...Tenntu... aku mencintaimu,... aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Hinata." Sambil terus menghujani ciuman di surai indigo Hinata.
Malam mulai menjemput, saat dua insan akhirnya memutuskan untuk terus bersama. Mereka berdua pun tahu tak mudah untuk terus bersama hingga waktu yang tak bisa ditebak. Hidup memang tidak bisa menjanjikan apapun, dan kenyataan bisa jadi sangat kejam untuk dijalani. Merekapun belum tahu kemana arah tujuannya. Yang jelas mereka akan akan menjalani hidup sebagai pelarian. Cukupkah cinta menyelamatkan kehidupan mereka?
.
.
.
.
.
Sasuke berjalan kemeja resepsionis Rumah sakit Konoha. Untuk menemukan dokter yang bisa mengobatinya ia harus tahu betul kapan dokternya bertugas.
"Permisi,aku ingin bertemu dengan dokter Haruno Sakura. Bisa beritahu jadwal prakteknya?" Tanya Sasuke pada salah satu petugas resepsionis itu.
"Dokter Haruno Sakura saat ini sedang menjalani shift sore, beliau ditugaskan di instalasi gawat darurat." Jawab petugas itu tersenyum ramah, tangannya menunjukkan arah dimana Sakura sedang bertugas.
Langkah kaki Sasuke segera mengikuti petunjuk arah yang diberikan petugas itu sebelumnya. Entah apa yang membuat langkah Sasuke terasa ringan saat melangkah kesana. Beban dikepalanyapun seperti hilang begitu saja saat mendengar Sakura saat ini sedang ditugaskan. Jadi sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan gadis bersurai permen kapas itu.
Tapi Sasuke sepertinya sudah melupakan aturan, bahwa tidak ada yang boleh masuk ke ruang IGD selain pasien yang ditangani, dokter dan perawat. Ah,... tentu saja dia bisa mengeluarkan kartu tanda kejaksaan yang mencantumkan dia sebagai jaksa negeri. Diapun bisa mengarang alasan sedang melakukan penyelidikan terhadap kasusnya.
"Permisi,..." Sasuke menyapa seorang perawat yang berjalan berlawanan dengannya.
"Iya silakan, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu ramah.
"Dimana aku bisa menemui dokter Haruno,...
"Shizune-san!" Teriak seseorang dari arah kejauhan.
Perawat dihadapan Sasukepun merasa namanya dipanggil, ia segera meminta maaf dan berojigi sebelum meninggalkan Sasuke karena harus segera pergi tanpa menjawab pertanyaan Sasuke terlebih dahulu. Tapi justru Sasuke merasa sangat sumringah, karena suara yang baru saja memanggil perawat itu adalah suara dari seseorang yang sedang dicari-carinya. Sebentuk senyum kini terlukis dibibir Sasuke. Ia mengikuti langkah cepat si perawat itu untuk berjalan mendekati arah si pemanggil, sekalipun bukan namanya yang dipanggil.
Sakura sangat sibuk. Sakura benar-benar terlihat seperti dokter pada umumnya yang menggunakan jas warna putih dan menangani pasiennya. Sepengelihatan Sasuke hanya sakura satu-satunya orang yang menggunakan jas berwarna putih, yang lain menggunakan seragam biru muda dan topi perawat. Sakura sangat berbeda dengan yang Sasuke temui ketika di kamagasaki dulu. Tapi ada yang tetap sama, Sakura nyentrik dan pemberani. Pasien yang dihadapi Sakura terlihat cukup merepotkan,walaupun Sakura sudah dibantu oleh beberapa perwat tapi Sakura masih terlihat sangat kerepotan. Pasien itu berteriak dan meronta-ronta diatas ranjangnya. Sakura bahkan naik keatas ranjang pasien untuk menangani pasien itu.
"Tolong, suntikannya!" Perintah Sakura dari atas tubuh pasien.
Seorang perawat memberikan sebuah suntikan pada Sakura. Sakura segera menginjeksi pasien tersebut dan pasienpun perlahan tenang dan tak lagi meronta. Sakura segera turun dari ranjang pasien saat pasien itu mulai kehilangan kesadarannya.
"Mana berkasnya?" Tanya Sakura sembari mengulurkan tangan pada perawat yang tadi dipanggilnya tanpa menatap si pembawa berkas, perawat itupun menyerahkan sebuah berkas untuk ditandatangani Sakura.
"Kau sudah menghubungi dokter Yamanaka?" Tanya Sakura dan perawat itu menjawab dengan anggukan, Sakura melanjutkan.
" Pasien itu lukanya tidak cukup parah, hanya saja sepertinya memang dia harus menjalani psikoterapi. Ini segera hubungi keluarga dan siapkan ruangan untuknya!" Sakura menyodorkan kembali berkas yang baru saja ditandatanganinya pada perawat dihadapannya.
Kini Sakura tidak menyangka ternyata bukan hanya perawat Shizune yang ada dihadanpanya, tapi juga seseorang dengan rambut ravennya tengah memperhatikan dirinya. Sasuke membentuk senyum kecil dibibirnya, menurutnya itu cukup ampuh untuk memikat seorang gadis bersurai kapas yang biasanya selalu kelabakan saat menatap senyum itu. Yah, benar memang adanya, Sakura memang sangat menyukai senyum itu. Sakura juga sangat merindukan senyum yang sudah selama seminggu tak ia jumpai itu. Tapi Sakura juga harus ingat senyuman itu bisa juga melukainya seperti seminggu yang lalu.
"Hai, Sakura! Aku merindukanmu."Sapa Sasuke.
Oh tidak, itu adalah sebuah kata yang sangat manis!. Hampir saja Sakura menggerakkan tangannya untuk memeluk pria yang sangat dirindukannya. Manik hijau cemerlang itu berbinar saat ia bertatapan dengan onix tajam Sasuke. Ya, onix Sasuke memang berhasil menghipnotis Sakura kembali. Tapi justru tak ada kata yang bisa terucap dari keduanya.
Sakura tidak bisa membiarkan dirinya jatuh kedalam lubang yang sama. Tidak bisa disangkalnya jika onix sasuke selalu saja berhasil membuatnya terlena, ia masih mencintai Sasuke dan tentu saja sangat merindukannya. Tapi Sakura juga sadar bahwa jadi wanita yang selalu dinomorduakan lalu diusir seenaknya itu sangat menyakitkan. Lebih dari itu sangat terhina rasanya karena menempatkan dirinya sebagai pengemis yang mendamba cinta seorang laki-laki.
Tak ada kata yang mampu diucapkan Sakura, begitupun Sasuke. Keduanya masih tenggelam dalam beberapa menit yang membisu. Memang Sakura masih marah dan Sasukepun tahu akan hal itu. Mendatangi seseorang yang pernah Sasuke salahi lalu mengatakan merindukannya itu sama sekali bukan gaya Sasuke. Bagi Sasuke mungkin itu sudah cukup untuk merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria.
Sebuah brankar dorong kini menghalangi pandangan mereka berdua. Seorang pasien sedang terbaring dan mengeluhkan sakit ditangannya yang mengalami luka. Jelas Sakura tidak bisa mengabaikan pekerjaannya sebagai seorang dokter, ia segera berlalu menangani pasiennya tanpa peduli lagi pada Sasuke.
"Tidak berhasil? Apa dia tidak merindukanku?" Bisik Sasuke dalam hati, ia merasa terabaikan. Biasanya Sakura akan segera berlari dan menghampirinya, tapi kini tatapan onixnyapun tak lagi berhasil menghipnotis Sakura. Tanpa peduli keributan yang ada di bangsal IGD itupun Sasuke mengekor pada gerak Sakura yang tengah menangani pasiennya. Bagaimanapun ia harus bicara pada gadis itu, sekalipun ia masih diabaikan oleh si dokter.
"Hai, Nona... Bisakah kau tinggalkan pasienmu dan beristirahat sebentar? Aku ingin bicara suatu hal yang sangat penting." Sasuke berdiri disamping Sakura yang sedang sibuk.
Sakura tidak menggubris atau bahkan memandang kearah orang yang memintanya untuk meninggalkan kegiatannya itu. Sakura lebih memilih berkonsentrasi pada jarumbengkok dengan needleholder dan benang jahit untuk menutup luka pasien dihadapannya.
"Kau tinggal dimana sekarang?" Menurutku gaji dokter baru disini tidak terlalu besar kan? Bagaimana kalau kembali tinggal diapartemenku?" Tanya Sasuke lagi.
Sakura merasa dirinya kembali diremehkan oleh Sasuke. Menyebalkan, Sakura benar-benar tidak suka posisinya sekarang. Sakura harus berpura-pura tenang dan datar, mengacuhkan semua tindakan Sasuke sekalipun ia sangat ingin melakukan sesuatu pada si jaksa tampan itu.
Melihat reaksi Sakura masih datar, Sasuke berpikir tentang kata yang bisa ia gunakan untuk merayu dokter muda ini agar beralih dari pasiennya.
"Dokter,... aku sudah katakan jika aku merindukanmu,... malam ini aku ingin sekali menghabiskan waktu berdua denganmu. Mungkin kita bisa makan malam dengan melihat bintang-bintang?Bagaimana?" Tanya Sasuke menggoda.
Tidak. Digubris. Tentusaja, pasien dihadapan Sakura mengalami luka robek yang cukup lebar, jadi Sakura memutuskan mengabaikan Sasuke.
"Ohya,... aku ingat kau bilang kau sangat ingin pertunjukan opera bukan? Aku sudah memesan tempat VVIP untuk kita berdua malam ini? Jadi sekarang kau harus segera pergi dari kursimu untuk berdandan!" Tandas Sasuke.
Sasuke yakin siapapun pasti tak akan menolak ajakannya. Sakura juga sangat memimpikan bisa melihat pertunjukan opera dengannya, hal itu pernah diungkapkan Sakura pada Sasuke beberapa hari sebelum inseden pesta dansa kedua mereka.
Tapi bagi Sakura, Sasuke sudah kelewatan. Sakura sedang menangani pasien dengan luka yang cukup lebar dan Sasuke malah menggodanya. Entah apa yang dipikirkan Sasuke, menerobos bangsal IGD dan mengganggu pekerjaannya. Sakura kini memutuskan mengalihkan pandangannya kearah Sasuke. Bukan dengan ekspresi bahagia tapi sangat jengkel.
"Dengar baik-baik Bapak Jaksa Uchiha yang terhormat... jika anda tidak bisa tenang, saya bisa menjahit mulut besar anda!" Kata Sakura yang bicara formal dengan nada ketus sambil mengangkat jarum bengkok setinggi panjang tangannya. Mencoba mengancam Sasuke jika ia tidak ingin diganggu.
"Ah,... kau mau menjahit bibirku ini?" Sasuke menunjuk bibirnya sendiri, "Boleh,... tapi kau takkan bisa mendengarkan aku mengucap aku merindukanmu."
Sebuah perempatan muncul diantara jidat lebar Sakura. Sebuah lirikan penuh intimidasipun ia lemparkan kearah Sasuke. Sasuke tersenyum kearah Sakura yang mulai merespon ucapannya itu, sekalipun dengan kekesalan. Sakura masih tidak beranjak dari kursinya dan mencoba berkonsentrasi pada luka yang ia jahit.
"Kau bahkan takkan bisa merasakan ciumanku lagi!" Ancam Sasuke yang membisikkan kalimatnya dengan mendekatkan bibirnya ketelinga Sakura. Wajah Sakura langsung bersemu merah, itu memalukan,ia takut tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.
Cukup. Itu gombalan yang sangat-sangat manis dan menggoda. Sakura benar-benar tak tahan lagi mendengarnya. Untung saja jahitannya sudah selesai. Sakura harus bergegas membereskan pengganggu yang merusak konsentrasinya bekerja itu. Secepatnya mengusirnya, baik dari tempat kerja atau hidupnya karena Sakura tidak mau terluka lagi.
"Shizune-san, tolong balut lukanya lalu siapkan antibiotik dan painkiller untuk pasien ini, jika hasil rongent nya sudah keluar tolong panggil aku. Aku harus mengusir seorang pengganggu yang tak tahu malu ini!" Sakura memanggil kembali perawat yang tadi memberikan berkas lalu pergi keluar ruangan, Sasuke mengikutinya dari belakang.
"Apa maumu?" Tanya Sakura sambil berkacak pinggang.
"Bukankah sudah jelas?" Tanya Sasuke balik.
Sakura mencoba tidak peduli, ia membuang muka dan mengabaikan senyuman Sasuke yang menggodanya.
"Ayo kita makan malam! Bisa kau tinggalkan pekerjaannmu sekarang?" Ajak Sasuke.
Sakura mendelik. Keterlaluan sekali Sasuke! Bagaimana mungkin Sakura bisa meninggalkan bangsal IGD yang sibuk dengan pasien gawat yang terus saja datang silih berganti hanya untuk makan malam. Tidak. Tentu saja jawabannya tidak, Sakura tidak mau. Sakura memijit keningnya yang pusing menghadapi ulah Sasuke. Ia mencoba menguasai dirinya, mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia menjalaskan keinginannya pada Sasuke.
"Pergilah, jangan ganggu hidupku lagi!Akupun tak ingin bicara denganmu." Ujar Sakura. "Seperti yang kau bilang, kan? Kita sudah selesai. Terimakasih atas kebaikanmu, maaf jika aku belum bisa membalasnya. Ohya, pintu keluarnya ada disebelah sana!" Sakura menunjukkan arah kepintu keluar dan segera berlalu.
"Sakura,aku minta maaf." Ucap Sasuke yang berhasil menghentikan langkah kecil Sakura yang baru saja dimulai.
Sakura terdiam. Ia tidak menoleh sedikitpun kearah belakang, karena jika ia menoleh kebelakang maka harga dirinya sungguh sangat terinjak. Ia tidak punya apa-apa lagi sebagai seorang wanita jika ia kembali terbujuk oleh ucapan-ucapan sasuke. Lain waktu, Sasuke pasti akan menyingkirkannya kembali.
"Aku menyesal dengan sikapku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya." Tambah Sasuke lagi.
Kaki kecil Sakura mulai menapakkan langkahnya kembali, ia mencoba membuat langkah menjauh dari Sasuke. Bagaimanapun Sakura tidak boleh membuat dirinya mudah percaya begitu saja pada Sasuke.
"Sakura, kumohon kita harus bicara." Tangan sasuke terulur menyentuh pundak Sakura agar tak berlalu semakin menjauh.
"Kita sudah selesai, maaf aku banyak urusan dan pasienku banyak yg menunggu." Sakura menangkis tangan Sasuke yang bertengger di bahunya lalu bersiap melangkah pergi.
"Aku merindukanmu, selama seminggu ini aku mencoba menyingkirkanmu dari pikiranku tapi ternyata aku tidak bisa. Aku mendatangi apartemen dan kau selalu tak mau membukakan pintu untukku. Aku menelponmu, mengirimu pesan berkali-kalipun kau tidak pernah peduli. Aku merasa sangat kehilanganmu,..." kembali Sasuke menceritakan hal yang dialaminya selama seminggu ini, berharap agar Sakura luluh kepadanya.
Tidak boleh, Sakura memaksa dirinya tidak boleh lagi percaya pada ucapan Sasuke. Ucapan Sasuke minggu lalu masih sangat melekat di pikiran Sakura. Dengan tegasnya, Sasuke mengatakan jika Hinata akan selalu jadi prioritasnya dan Sakura tidak bisa menerima hal itu. Jika memang Sasuke tidak bisa menyingkirkan Hinata dari hatinya sendiri maka tak akan ada jalan bagi dirinya untuk bahagia. Diduakan, sama sekali tak ada dalam kamus Sakura. Jadi jawaban Sakura akan tetap sama, ia tidak mau. Sakura juga tidak ingin memberi jawaban apapaun untuk pernyataan penyesalan Sasuke.
Sakura memilih melangkahkan kakinya kembali memasuki ruang IGD dan Sasuke masih mencoba mengikutinya. Sakura tidak suka itu.
"Tolong, Shizune-san,.. hubungi security rumah sakit agar mengusir orang ini!" Sakura menitahkan untuk mengusir Sasuke. "Tolong pastikan yang boleh masuk IGD hanya tenaga medis dan juga orang yang sakit! Dan orang ini tidak cukup memenuhi kriteria sakit untuk masuk IGD. Tolong segera singkirkan dia, dia bisa mengganggu pasien lainnya!"
"Tunggu... Sakura... kita harus bicara..." Suara Sasuke samar-samar menghilang saat security yang dipanggil Shizune segera datang lalu membimbingnya ke arah keluar rumah sakit.
Jujur, sesungguhnya ia sangat ingin memberikan kesempatan itu pada Sasuke. Tapi tidak bisa, ia tidak bisa membiarkan dirinya disakiti lebih jauh lagi. Sasuke harus tegas pada dirinya sendiri untuk memutuskan tujuannya terlebih dahulu, Sakura atau Hinata. Sakura tidak akan mampu membagi Sasuke dengan orang lain.
Lutut Sakura melemas, ia butuh duduk dan menenangkan dirinya sekarang. Sangat berat memang menghadapi pasien-pasiennya hari ini yang terus saja datang membuat energinya cukup terkuras. Ditambah dengan Sasuke yang kembali membuat hatinya kacau petang ini. Sungguh, jika ada rumah sakit yang bisa menyembuhkan sakit hati dan kegalauannya pada Sasuke, Sakura akan mendaftar sebagai pasien pertamanya. Sakura akan mengikuti treatment apapun agar ia bisa melupakan perasaannya pada Sasuke, baginya ini sangat menyiksa.
PRAAAANNKK
Terdengar suara benda yangs sedang dipecahkan. Semua orang di bangsal IGD pun kian terkejut mendengarnya. Sakura segera berlari keluar ruangan dan memastikan apa yang terjadi. Mungkin saja terjadi sebuah insiden sedang terjadi di Rumah Sakit Konoha.
Nanar hijau emerald Sakura membesar, insiden itu memang benar adanya. Sebuah kaca jendela rumah sakit Konoha yang terletak beberapa langkah dari ruang IGD pecah karena hantaman seorang pria. Kerumunan orang kian memenuhi koridor hanya untuk menyaksikan kejadian itu. Sakura melangkahkan kakinya perlahan mendekati pusat kerumunan, berharap semoga tidak ada korban.
"Apa aku bisa masuk IGD dan menemuimu sekarang?" tanya seseorang yang telah berhasil memecahkan kaca rumah sakit dengan tangan kanannya pada Sakura.
Hati Sakura mencelos. Yah, benar Sasuke memecahkan jendela untuk mengubah statusnya dari pengunjung rumah sakit menjadi pasien sekarang. Entah dari mana pikiran bodoh dan terlalu mainstream itu muncul dikepala seorang jaksa semacam Sasuke. Tangan kiri Sasuke mengeluarkan banyak darah, Sakura juga bisa melihat ada sebuah serpihan kaca masih menancap dipunggung tangan Sasuke. Sasukepun meringis, memejamkan mata menahan rasa sakit ditangannya.
"Heii kau harus bertanggung jawab atas kerusakan yang kau timbulkan!" Teriak seorang petugas rumah sakit itu pada Sasuke.
Sasuke tak menjawab, ia mencoba mengeluarkan dompet dari saku celananya dengan tangan kanannya. Segera ia melemparkan dompet kulit berwarna coklatnya kearah suara yang berani meneriakinya.
"Ini ambil! Jika masih tidak cukup juga kirimkan tagihannya kekantorku! Aku tidak punya cukup waktu sekarang, karena aku harus mengobati luka ditanganku." Kini Sasuke menjawab dengan nada congkak dan sombongnya berjalan dari posisi awalnya mendekati Sakura yang masih terdiam.
"Benarkan Dokter Haruno?" Tanya Sasuke yang melewatinya dan memasuki ruang IGD lebih dahulu daripadaSakura. Kini Sakuralah yang mengekori Sasuke.
" Jadi dimana aku bisa duduk?" Sasuke bertanya pada Sakura yang masih bungkam tak mengeluarkan kata.
Sakura membuka tirai yang menutupi sebuah ranjang pasien di bangsal IGD, lalu mengisyaratkan tangannya agar Sasuke bisa meletakkan tubuhnya disana. Masih mencoba diam. Sakura geram sebenranya, Sasuke benar-benar gila hari ini.
"Oh, disini ya? Aku harus duduk atau berbaring." Tanya Sasuke memancing pembicaraan dengan dokternya.
"Terserah kau." Ucap Sakura pasrah dan kesal.
Sasuke akhirnya memilih duduk berhadapan dengan dokter yang ada dihadapanya itu. Sakit dan perih sepertinya tidak masalah baginya akrena berhasil mendapatkan kesempatan bertemu dengan Sakura.
"Sasuke, kumohon hentikan semua ini!" Ucap Sakura.
"Coba saja, jika kau bisa!" Balas Sasuke angkuh.
Sakura kini merasa sangat kesal pada Sasuke, "Kau,... apa kau pikir dengan menyakiti tanganmu aku akan memaafkanmu, begitu?"
"Mungkin,... tapi setidaknya kau mau berbicara padaku." Jawab Sasuke sambil melempar senyum yang menggoda Sakura.
Sakura masih mencoba tidak terpengaruh pada gombalan-gombalan manis Sasuke. Sakura memaksa bibirnya membentuk huruf M dan serapat mungkin menghentikan lidahnya agar tidak mengoceh apapun pada Sasuke yang sangat bermulut besar sekarang. Sakura lebih memilih melakukan pekerjaannya, berkonsentrasi untuk mencabut serpihan besar kaca yang masih bersarang di punggung tangan Sasuke. Sepertinya Sasuke memang perlu diberi sedikit pelajaran agar tidak lagi bertindak bodoh dan memalukan seperti saat ini.
"Itttaiii...!" Seru Sasuke yang berteriak saat Sakura sengaja mencabut serpicah kaca yang tadi menancap ditangannya tanpa pemberitahuan lebih dulu.
Sasuke meringis, sakit karena tusukan terasa menjadi-jadi saat benda yang menusuk tangannya dicabut. "Kau sama sekali tidak menggunakan obat bius untuk mencabut luka sedalam ini?" Tanya Sasuke mencoba menuntut penjelasan.
"Tidak, memang kenapa?" Tanya Sakura ketus.
"Sakit kan? Bagus jika kau masih bisa merasakan, biar tahu rasa! Siapa suruh berbuat begitu bodoh?" Sakura menyeringai puas bisa mengerjai Sasuke.
Sasuke tersenyum, akhirnya ia bisa mendengar dokter bersurai merah jambu itu kembali berbicara padanya. Sadar akan hal yang dilakukannya barusan, Sakura segera berkonsentrasi kembali pada pekerjaannya.
"Aku senang kau sudah kembali galak seperti biasa." Ucap Sasuke sambil tersenyum kecil, sepertinya dia melupakan rasa sakit ditangannya.
Sakura kembali bungkam dan menutup senyum lebarnya. Ia menjahit luka Sasuke, lalu membersihkan dengan menyiramkan cairan iodine sebelum membalut dengan perban. Dijahit tanpa anestesi, sakit pastinya,... tapi apa boleh buat sepertinya Sakura memang sengaja mengerjai Sasuke. Mungkin ini adalah salah satu bentuk balas dendamnya karena Sasuke sering kali menyakitinya. Sasuke harus menerimanya sekarang, sekalipun Sasuke harus berkali-kali memincingkan onixnya karena menahan perih.
"Maaf karena sudah menyakitimu,... aku berharap kau masih mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Akhirnya aku tahu apa itu perbedaan perasaaanku padamu dan pada Hinata,...aaarrgghh" Sasuke menjerit kecil tak bisa menyelesaikan kata-katanya kembali, ketika Sakura sengaja mengikatkan perban dilukanya kuat-kuat.
"Kau,..." Ucap Sasuke merasa tangannya cukup nyeri karena kelakuan Sakura. "Aku bisa menuntut rumah sakit ini karena pelayananmu buruk kepadaku!" Ancamnya pada Sakura
Sakura tertawa, menjahili Sasuke sebenarnya sudah cukup membuat Sakura memaafkan si raven tampan itu. Tapi sepertinya Sakura masih belum bisa bersama Sasuke kembali. Sakura lebih memikirkan tentang efek yang Sasuke timbulkan kembali jika ia meninggalkan Sakura lagi. Mungkin Sakura tidak akan pernah mebuka hati untuk pria manapun , apalagi menerima pria manapun selain Sasuke jika Sasuke terus saja mempermainkan perasaanya seperti itu.
"Ayo, pergi makan malam, aku lapar!" Ajak Sasuke. Sasuke terlihat sumringah saat Sakura kini sudah bisa tertawa. Sasuke menarik tangan Sakura dan membawa gadis itu kepelukannya.
"Aku merindukanmu. " Bisik Sasuke.
Alih-alih Sakura membalas pelukannya. Sakura malah menekan luka ditangan Sasuke yang masih basah itu, membuat Sasuke kembali meringis kesakitan dan melepas pelukannya.
"Kuberi tahu ya,.. kalau sudah terasa sakit maka kau akan belajar sesuatu. Sama dengan tanganmu kan? Kau pasti tidak mau merasakan rasa sakit lagi! Jangan berani-berani lagi datang kesini, mengganggu pekerjaanku juga membuatku malu! Itu hal gila dan bodoh! Dan asal kau tahu berapa kalipun kau mengucapkan maaf, penyesalan, atau apapun itu, aku tidak akan memberikannya lagi kepadamu. Pergilah sendiri aku sudah ada janji!" Ucap Sakura dengan angkuh kemudian berlalu pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke tersenyum melihat tingkah Sakura, baginya sangat menggemaskan. Mungkin hari ini bukanlah hari keberuntungannya. Semua pesonanya ternyata tak mampu membawa si dokter surai merah jambu itu takluk dan mau bicara padanya. Tapi bagi Sasuke tak masalah, mungkin kini dialah yang harus meyakinkan perasaannya kepada Sakura.
.
.
.
.
.
* oyabun/oyaji/ kumicho= sebutan untuk sosok tertinggi Yakuza
*wakagashira/ wakashira =Posisi kedua di rantai komando (letnan pertama) yang mengatur beberapa geng di daerah dominasi
*Yubitsume =tradisi yakuza yang di lakukan jika seorang yakuza melakukan kesalahan dengan cara memotong jari mereka sendiri. Awalnya jika mereka melakukan kesalahan mereka akan memulai dari jari kelingking, dan setiap kali melakukan kesalahan, mereka akan terus memotong jari-jari yang lain hingga habis tak bersisa.
*Seppuku ' suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugasatau kesalahan untuk kepentingan rakyat. di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri,biasa digunakan sebagai metafora seseorang melakukan "self punishment" sebagai tanggung jawab bila melakukan kesalahan.
Ritual ini telah membudaya di Jepang, sehingga apabila seseorang melakukan kesalahan dan melakukan bunuh diri, maka hal itu sah-sah saja dan dianggap sabagai upaya menebus kesalahan.
Haii... haii semua... apa kabar? Ohya makasih buat kalian yang masih sayaang sama saya dan mau berkenan membaca ff ini. Minggu kmren ada guest yg reviewnya agak gak patut dibaca publik maaf gak saya approve, karena nanti sifatnya provokatif, jadi mohon buat siapapun yang mau baca bisa lebih dewasa. saya tidak marah kalau dikritik, saya juga pasti akan mencoba memahami keinginan pembaca, tapi yuk mari saling belajar untuk menghargai satu dengan yang lainnya. saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader. terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini, soal informasi mengenai yakuza saya googling
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D
