*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter 19
.
.
.
.
Sakura berjalan dengan tertunduk menyusuri lorong rumah sakit tanpa memperhatikan siapapun yang ada dihadapannya. Jas putih identitasnya sebagai seorang dokter sudah tertenteng dilengannya sebelah kiri, tandanya ia sudah tak lagi bertugas sebagai dokter. Sedangkan jari-jemarinya kian sibuk bermain di handphone layar sentuhnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh lima, Sakura merasa sangat terlambat menepati janjinya makan malam. Ia mencoba mengetik pesan melalui ponselnya itu.
To: Ino_PIG
From: Pink_Sakura
Aku baru saja selesai maaf kalau terlambat,...kalian masih mau menungguku kan?
Message sent:09.38 pm
To: Pink Sakura
From: Ino_PIG
Tenang saja, Karin dan Tenten juga baru saja datang. Cepatlah!
Message sent:09.41pm
To: Ino_PIG
From: Pink_Sakura
OK
Message sent:09.42pm
Sakura masih asyik dengan ponselnya, ia mencoba memeriksa notifikasi dari sosial medianya. Sudah beberapa hari ini Sakura tidak memeriksanya, belum lagi pasien nya akhir-akhir ini sangat menguras tenaga dan kesabarannya. Mendadak Sakura melihat bayangan sesosok manusia sedang berpapasan dengannya, itu artinya dia harus diam dan menepi. Tapi ternyata saat Sakura diam menepi, bayangan itu juga tetap berada dihadapannya. Sakura mengalihkan manik hijau cemerlang dari handphone ke manusia yang berani menghalangi jalannya.
"Konbawa,.. Sakura!" Suara merdu berwibawa dari sesosok manusia menyapanya.
Sasuke. Dia masih menunggu Sakura sekalipun Sakura sudah meminta agar perawat dan security memulangkannya . Sasuke juga masih tetap menunggu Sakura walaupun empat jam berlalu dari proses pemberian resep dan izin pulang diberikan oleh merasa manusia dihadapannya sangat menyebalkan.
"Kopi?" Sasuke memberikan sebuah minuman kaleng dingin untuk Sakura, tapi Sakura sama sekali tak menyentuh kopi dingin yang diatawarkan Sasuke untuknya.
Sakura menghela nafas dengan kasar, tandanya ia kesal.
"Kau mau apa, sih?" tanya Sakura sambil berkacak pinggang dengan nada kesal.
"Aku sedang menunggu kekasihku pulang." Jawab Sasuke sambil tersenyum.
Ayolah,... empat jam bukan waktu yang singkat. Terlebih jika perutmu sudah kelaparan dan tanganmu baru saja dijahit tapi Sasuke memilih tetap menunggu Sakura. Tentu saja alasannya untuk meluluhkan hati Sakura.
"Ayo pergi makan malam!" Kata Sasuke, "Aku merasa kelaparan karena menunggumu."
"Siapa suruh menungguku?" Balas Sakura ketus.
Sasuke tahu, kemarahan Sakura masih belum bisa ia taklukkan. "Kau harus bertanggung jawab atas ini!" Sasuke mengangkat tangan kirinya yang diperban.
Bukankah Sasuke sendiri yang memilih mengubah statusnya dari pengunjung jadi pasien dengan cara ekstrim? Jadi kenapa sekarang harus Sakura yang harus bertanggung jawab. Sakura merasa alasan Sasuke sangat tidak masuk akal dan konyol.
"Aku?" Tanya Sakura sambil menunjuk sendiri kearahnya.
"Hn.." Sasuke mengangguk, Sakura menggeleng tidak percaya.
"Tentu saja kau,... kau yang berani-beraninya menolak kunjunganku dan akhirnya membuatku memutuskan memecahkan kaca jendela. Kau juga sangat berani menjahit tanganku tanpa anestesi,juga... karena itu semua sekarang aku tidak bisa menyetir, jadi kau harus bertanggung jawab mengantarkanku pulang." Jelas Sasuke.
Sakura memijit keningnya dan merasa kesal. "Yaampun, Sasuke benar-benar bertindak bodoh, konyol, idiot atau apalah itu. Dia masih punya satu tangan yang baik-baik saja, bahkan sedang menggenggam sebuah minuman kaleng. Sasuke juga punya cukup banyak uang untuk memanggil taksi yang bisa mengantarnya pulang dengan selamat." Begitu pikir Sakura dalam hati.
Melihat Sakura masih bermimik muka kesal, tandanya Sasuke masih belum berhasil mengajak gadis bersurai pink itu menjadi teman makan malamnya.
"Aku ada janji." Ucap Sakura ketus.
"Dengan siapa?" Tanya Sasuke.
"Bukan urusanmu!" Jawab Sakura semakin ketus.
"Seorang pria?" Tanya Sasuke lagi.
Sakura hanya memandang langit-langit sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya kelantai, enggan menjawab pertanyaan Sasuke.
"Kalau begitu segera batalkan!" Ucap Sasuke tegas.
Sontak Sakura langsung melongo mendengar Sasuke memerintahnya.
"Katakan kalau kau sedang menangani pasien darurat!" Tambah Sasuke lagi.
Sakura semakin tak habis pikir, Sasuke benar-benar menjadi manusia kekanakan yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya. Hal kekanakan yang pernah dilakukan pria dua puluh delapan tahun dihadapannya benar-benar jauh dari batas logis. Sakura harus memikirkan cara menyingkirkan pria ini secepat mungkin, entah dengan cara apa.
"Aku lelah, aku tidak mau menyetir. Kita naik taksi saja. Oke?" Ucap Sakura.
"Oke. "Sasuke setuju. Ia senang akhirnya Sakura berhasil melunak dan mengikuti ajakan makan malamnya.
Sasuke mengikuti langkah kecil Sakura yang menuju tempat diamana mereka berdua bisa mendapatkan taksi. Sakura tak bicara sepatah kata apapun sampai taksi itu datang menghampiri mereka berdua. Sakura segera meraih gagang pintu dan masuk dengan kasar ke bangku penumpang, menutup pintu dan meninggalkan Sasuke yang masih belum berhasil masuk kedalam taksi.
"Jalan!" Seru Sakura memerintah supir taksinya, dia kemudian melambaikan tangan dengan raut wajah meledek pada Sasuke yang mulai berusaha mengejarnya dari belakang.
"Heii! Tunggu!" Sasuke berteriak saat ia sudah mulai kalah dengan kecepatan laju taksi,dan taksi yang ditumpangi Sakura semakin menjauh.
"Ah,... sial!" Umpat Sasuke.
Sasuke segera mengambil ponsel yang ada disakunya dengan tangan kanannya, "Shika,.. kau ada dimana?" Tanya Sasuke.
"Aku dirumah, jangan bilang kalau ada kasus! Aku harus menjemput Temari sejam lagi jadi jangan minta bantuanku!" jawab Sasuke
"Menjemput?" Ulang Sasuke, " Kau tidak sedang berkencan dengannya?"
"Tidak, dia bilang sedang makan malam dengan teman-teman dokternya. Katanya ini wktu khusus perempuan."
Sasuke menyeringai, ada kebahagiaan terlukis disana. Ya, Sasuke baru saja mendengar jika pacar Shikamaru baru saja akan makan malam dengan teman-teman dokternya. Dengan pernyataan itu artinya ada kemungkinan Sakura termasuk didalamnya bukan?
"Aku mengalami kecelakaan, tolong jemput aku di rumah sakit Konoha sekarang lalu ajak aku menjemput mereka."
Sasuke menutup sambungan telepon walaupun Shikamaru masih mengoceh dengan pertanyaan yang meminta alasan Sasuke.
.
.
.
.
Sakura segera mendapati sahabat pirangnya yang tengah duduk ditengah-tengah cafe bersama dengan tiga dokter lain dari rumah sakit Konoha. Ia segera melangkahkan kaki ke meja tempat mereka sedang asyik mengobrol dan ia segera disambut gembira oleh para dokter muda yang sudah berkumpul.
"Maaf, aku terlambat." Ucap sakura menyapa sekaligus meminta maaf.
"Tidak apa, duduklah!" Ucap Ino ramah sambil mempersilahkan sahabatnya yang berambut pinky itu duduk disebelahnya." Kau ingin makan apa?"
"Aku minum saja, perutku sedang tak ingin diisi apapun selain sesuatu yang menyegarkan." Sakura segera memesan jus jeruk yang akan menemani acara mereka malam ini.
"Ohya, Sakura kudengar hari ini ada pengacau di bangsal IGD,... kau baik-baik saja kan?" Temari membuka pembicaraan dan tampak peduli pada keadaan Sakura.
Sakura tersenyum, setelah kejadian pasien ekstrimnya tadi ia harus mengatakan kalau dia masih baik-baik saja. " Aku baik-baik saja, Temari-san. Terimakasih sudah khawatir padaku."
"Ah,.. kau ini belum tahu ya insiden tadi sore bukan dikarenakan oleh pengacau tapi penggemar fanatik Sakura!Iya kan,.. Sakura" Ino menyenggol pundak Sakura dengan pundaknya juga berhasil membuat Sakura tersipu.
"Benarkah, kudengar dari suster Shizune orang yang membuat kekacauan tadi seorang jaksa muda tampan dari Konoha?" Tenten mulai penasaran.
Sakura hanya bisa tersenyum datar, ia tidak tahu ekspresi apa yang bisa ia berikan saat orang-orang mempertanyakan kejadian tadi sore.
"Apa maksudmu?" Karin, si rambut merah malah menghadiahi pertanyaan lagi pada Tenten. "Apa dia Uchiha Sasuke?"
"Ah... betul!Tepat sekali! Uchiha Sasuke memang sedang tergila-gila pada Sakura!"sahut Ino yang sumringah sambil terus menggoda Sakura disebelahnya.
Sakura tidak menjawab, ia memilih membasahi kerongkongannya yang kering dengan jus jeruk yang baru saja dihidangkan pelayan untuknya.
Karin membentuk wajah meremehkan dan tidak percaya oleh jawaban Ino. Tentu saja, sudah lama sekali Karin memuja jaksa muda yang sedang jadi bahan pembicaraan mereka. Sasuke merupakan kakak tingkatnya, dan tentu saja Karin tahu jika tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi tunangan Sasuke, Hyuga Hinata. Kalaulah memang ada yang boleh menggantikan Hinata pastinya dia adalah gadis yang sangat mengenal Sasuke setelah Hinata, dan Karin ada didalam daftar itu.
Lebih dari lima tahun Karin resmi menyandang status stalker si jaksa tampan rambut raven, bahkan rela tidak menerima ajakan kencan siapapun. Ia ingin dicap 'setia' menunggu Sasuke mengajaknya kencan. Bahkan mengatakan dirinya terlahir untuk bungsu Uchiha itu. Jadi ia tidak mungkin percaya jika sidokter baru dari Kamagasaki menggeser kandidatnya sebagai orang nomor dua yang bisa dikencani Sasuke setelah Hinata. Karin pun memang masih berhubungan baik dengan Sasuke, baik melalui sosial media tau hanya sebatas teman se-almamater. Yang jelas ia tidak terima bahwa kedekatannya dengan Sasuke bisa dikalahkan oleh Sakura.
"Tidak mungkin!" Seru Karin. " Sasuke-ni sudah punya tunangan, jadi tidak mungkin dia mengejar perempuan yang kelewat biasa... "
Karin berhenti sejenak dan memilih kata, "maksudku seorang dokter dari kota lain sepertimu." Karin mengkoreksi pernyataannyanya dan menyisakan kalimat akhir penuh tekanan.
"Kenapa tidak?" Ino membela sahabatnya, " Sakura pernah mendapatkan kalung berlian berbentuk hati sewarna rambut Sakura. Sakura bahkan mendapatkan kunci apartemen Sasuke, mereka sering pergi berkencan dan berdansa seperti cerita-cerita di negeri dongeng!" Tandas Ino.
"Wah,... Apartemen? Apa jangan-jangan kalian sudah tidur bersama!" Sergah Temari setengah berteriak.
Sontak saja meraka yang tergabung dalam satu meja itu mendelik tak percaya, begitupun Sakura karena ia belum sampai melakukan hal yang dikatakan Temari. Sakura terbatuk karena pertanyaan yang menggelitik itu, nyaris menyemburkan jus jeruk dalam mulutnya.
"Benarkah? Wah jangan-jangan kau tidak enak makan karena sedang hamil? Wah, selamat!" Temari bersemangat.
Sakura mengggoyangkan kedua telapak tangannya tandanya ia tidak seperti yang mereka bicarakan,
" T..tt..tidak, kok.. bukan seperti itu!" jawabnya dengan wajah malu-malu.
Sakura hanya bisa tersenyum mendengar penyataan Ino, ia memang sudah menceritakan semua tentang dirinya dan Sasuke pada Ino. Tapi sekarang Sakura menangkap raut wajah Karin diselimuti aura gelap dan kemarahan pada dirinya. Meja yang awalnya digunakan untuk mengakrabkan satu sama lain sepertinya menjadi memanas setelah membahas tentang Sasuke.
"Kalau begitu,... orang yang berani merebut tunangan orang lain dan berada diantaranya bisa disebut... Jalang. Begitu kah?" Karin kembali mencari klarifikasi, ia bahkan berani menekan kata 'jalang' dengan kuat.
Sakura mendelik, ia benci mendengar kata itu tertuju untuknya. Tapi apa mau dikata jika memang benar dia ada diantara hubungan Sasuke dan Hinata. Sakura menundukkan pandangannya, dan sebaliknya Karin menyeingai puas bisa memberi sebuah penghinaan kecil.
"Sudah-sudah, kalian berdua ini! Kita tanya saja langsung apa yang terjadi sebenarnya pada Sakura!"Temari memberi solusi.
"Ayo, ceritakan Sakura kami ingin mendengar kisahmu!" Seru Tenten.
Sakura tidak punya pilihan. Ia harus menyelesaikan kesalah pahaman dokter muda yang sedang membahas gossip terbaru tentangnya. Sakura menghela nafas dalam-dalam sebelum ia memulai bercerita, dan yang lain sudah memasang wajah penuh penasaran. Terkecuali Karin, ia menambahkan bubuk kebencian diantara rasa penasarannya.
" Aku memang cuma seorang dokter yang jarang dibayar di Kamagasaki, tugasku hanya membantu beberapa orang yang datang berobat keklinikku. Suatu hari ada seorang pria tampan, mapan dan sangat mempesona datang keklinikku. Tentu dia tidak mencari seorang gadis biasa sepertiku. Seperti yang Karin bilang, dia mencari tunangannya Hyuga Hinata."
Karin tersenyum mendengar alasan Sasuke bukan murni ingin mengenal Sakura.
"Aku tidak memberitahu soal tunangannya karena memang tidak tahu, dan dia malah mengancamku. Aku menggigit tangannya saat bersalaman denganku." Sakura terkikik saat terkenang, " Itulah awal perjumpaan kami."
Empat pasang mata masih menunggu kelanjutan kisah Sakura, Sakurapun kemudian melanjutkan.
"Hinata jatuh cinta pada orang lain dan memutuskan pertunangan dengan Sasuke secara sepihak, sekalipun Sasuke masih bersikeras tetap ingin bersama dengan Hinata. Tapi apalah dayaku, pesona Sasuke memang mampu membuatku jatuh cinta setiap kali aku berani menatap matanya. Sampai suatu ketika dia mendatangiku untuk menemui kakek Hinata dan membantunya menyelesaikan masalahnya. Aku setuju, tapi siapa sangka dia malah mengajakku berbelanja ke salah satu butik terkenal di Namba. Dia membelikanku gaun malam dan mengajakku pergi kesebuat pesta. Disana kami berdansa dan bersenang-senang, tapi diakhir pesta dansa aku sadar tentang siapa aku. Jadi aku memintanya untuk tidak lagi muncul lagi dihadapanku karena aku tidak mau semakin jatuh cinta padanya." Tandas Sakura.
"Wah, aku sangat iri...kau terlihat seperti Cinderella dalam bayanganku." Sahut Temari dengan mata yang berbinar
"Mana mungkin kau mau meninggalkan orang sesempurna dirinya, aku yakin itu cuma tekhnikmu melihat reaksi Sasuke-ni, bukan? Dan kau tidak betul-betul meninggalkannya! " Karin mencibir, Sakura hanya menghela nafas menahan emosinya agar tidak naik.
"Lalu bagaimana dengan apartemen dan kalungnya?" Tenten lebih tertarik mendengar kelanjutan cerita Sakura daripada pertengkaran yang hampir dimulai oleh karin.
"Ya, kami tidak lagi bertemu dalam beberapa minggu, sampai aku terjebak dalam masalah yang membuatku kehilangan rumah dan tempat praktekku. Saat tak ada orang lagi yang bisa kuandalkan, Sasuke datang menolong dan menyelesaikan masalahku. Dia juga memberikan izin padaku untuk tinggal diapartemennya, memintaku untuk mencoba menjalin hubungan dengannya. Dia memberikanku sebuah kalung berlian , lalu kembali mengajakku pergi ke pesta. "
"Dan mereka jadian!" Sahut Ino gembira.
Sakura tersenyum kecut, ia harus menceritakan bagian akhir kisah selanjutnya yang tidak cukup membahagiakan pendengar,
"Tapi entah apa yang ada dipikirannya malam itu. Dia mempermalukanku dihadapan semua orang, akhirnya kami bertengkar dan berpisah. Aku mengembalikan semua pemberiannya dan pergi dari hidupnya."
Tiga pasang mata menunjukkan simpatinya mendengar cerita Sakura. Semntara Karin tersenyum cukup puas setelah mendengar Sakura berhasil dicampakkan Sasuke.
"Benar, kan kataku? Kau cuma pelarian saja! Mana mungkin kau bisa menandingi Hyuga Hinata!"Karin menyeringai.
"Aku sadar jika aku harus menjauh dari seorang pria bangsawan sepertinya, tapi jujur memang sangat sulit menepis perasaanku sendiri yang masih berharap padanya. Sekuat tenaga dan sebisaku... aku menjauh darinya, walapun rasanya sangat menyakitkan. Tapi setidaknya aku pernah punya beberapa waktu luar biasa dengan pria tampan yang aku cintai itu." Sakura tertunduk ia menahan sekuat mungkin airmatanya agar tidak terjatuh.
Ino menepuk bahu Sakura dengan lembut dan menggenggam jemari sahabat yang duduk disisinya itu, mencoba menguatkan. Yang lain pun berempati pada Sakura, kecuali Karin pastinya. Hanya Karin yang menyeringai puas, ia tidak rela jika sampai kesempatan sebesar itu dimiliki oleh Sakura, bukan dirinya.
Suasana menjadi hening sejenak karena diantara mereka. Sakura mulai tak kuasa menahan perasaan yang ada dalam dadanya, iapun berurai airmata. Ya, bagaimanapun sebenarnya Sakura masih sangat menginginkan hubungannya bisa berlangsung lebih lama, tidak berakhir secepat ini. Mengingat kenangan-kenangan manisnya sungguh membuatnya tidak rela menghadapi kenyataan.
"Permisi,...selamat malam semuanya. Maaf jika aku menyela, tapi sepertinya orang yang sedang kalian bicarakan adalah aku." Sebuah suara memecah keheningan.
Semua orang yang tengah duduk dimeja itu terkejut. Mereka segera mengalihkan perhatian kesumber suara. Terlebih Sakura, ia tahu betul suara itu adalah suara topik pembicaraan mereka malam ini, Sasuke.
Sakura nyaris tidak percaya, bagaimana mungkin Sasuke bisa mengetahui tempatnya makan malam. Sakura pun juga berhasil meninggalkannya di lobby rumah sakit tiga puluh menit lalu. Dan sejak kapan Sasuke mendengarkan pembicaraan mereka? Sakura semakin panik, ia tidak ingin Sasuke menangkap sisi lemahnya yang masih sangat mengharapkan Sasuke. Sakura tidak mau Sasuke tahu jika ia masih menyimpan perasaan yang begitu besar untuk dirinya.
Sasuke menatap datar ekspresi Sakura yang terkejut karena kehadirannya. Ia tahu gadis yang tengah berdiri menatap tajam kedalam matanya itu tidak sekuat tampilan luarnya. Ia tetaplah seorang gadis yang sudah diperlakukannya dengan kurang baik. Sasuke sadar jika ia tidak tegas pada dirinya dan membuat Sakura terlihat buruk dimata semua orang, semua yang sudah terjadi adalah kesalahannya.
Sasuke tidak mengerti lagi cara membuat Sakura agar mau memaafkan dirinya. Sepanjang hari ini dia hanya ingin terus membuat agar Sakura kembali ada disisinya, sehingga ia mencari berbagai cara untuk bertemu Sakura. Tapi tampaknya Sakura mencoba terus menghindar tak mau lagi tersakiti. Tak ada pilihan, Sasuke hanya bisa menururti hatinya yang sudah bergejolak. Kini nalurinya hanya menyuruhnya untuk membawa gadis yang sudah berhasil meniupkan angin rindu dihatinya itu kembali . Sasuke tak lagi ragu menarik tubuh Sakura dalam pelukkannya sekalipun kini ia sedang berada ditempat umum.
"Maafkan aku, aku benar-benar berlaku buruk padamu. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku,.. aku janji akan membahagiakanmu." Ucap Sasuke.
Ino menutup mulutnya yang terbuka dengan salah satu tangannya, tidak percaya. Sementara Tenten dan Temari saling berpandangan dan menyimpan ketakjuban atas adegan itu. Karin terlihat geram, kedua tanganya tampak mengepal dan matanya membulat tajam melihat adegan pelukan itu.
"Sasuke-ni" Sergah Karin yang bangkit dari posisi duduknya, tentu saja membuat Sasuke memandang kearahnya tapi ia masih belum mau melepas pelukannya dari tubuh Sakura.
"Dia adalah gadis yang merusak hubunganmu dengan Hinata, harusnya kau sadar jika wanita jalang sepertinya tidak pantas disisimu!" Ucap Karin kesal.
Sasuke mengendurkan pelukannya pada Sakura, kini ia mengarahkan kembali tatapannya pada Sakura. Di elusnya tulang pipi Sakura,iapun menghapus sisa airmata Sakura yang membekas akhirnya ia menjawab kalimat pedas yang memojokkan Sakura.
"Tidak,..." Seru Sasuke.
"Sakuralah yang menyadarkanku tentang apa itu perasaan cinta yang sebenarnya. Dia membuat perasaanku bergejolak, menyisakan rindu saat kami tak bisa saling bertemu, juga membuatku tahu tentang bagaimana sebenarnya perasaan cinta,... hanya dialah satu-satunya wanita yang membuat jantungku berdebar saat ada disisinya. Aku bahagia jika bisa membawa kembali dia dalam hidupku..." Sasuke menjelaskan dengan kesungguhannya, iapun menatap mata Sakura dalam-dalam saat mengucap kalimatnya.
Manis. Rayuan termanis yang pernah disengar Sakura sekaligus mampu membungkam semua orang yang ada dimeja itu. Semuanya takjub. Sasuke terlihat sangat bersungguh-sungguh dan meyakinkan hingga mampu menghipnotis semua pertanyaan atau pikiran-pikiran keempat dokter muda yang menyaksikan pengakuannya pada Sakura.
Rasanya tenggorokkan Sakura mengering dan pita suaranya tak lagi mampu menghasilkan satu suara apapun untuk menjawab atau menyela apa yang sedang Sasuke lakukan. Tubuhnya kian melemah, tak lagi punya kekuatan untuk berbohong menutupi semua perasaannya. Semua pertahanannya sudah hancur, ia tak lagi punya serangan balasan ataupun topeng yang bisa menyembunyikan raut bahagia ataupun haru yang kian bercampur diwajahnya.
Sasuke mengecup jari-jemari Sakura, lalu menyisipkan jarinya sendiri diantara jemari Sakura menggenggamnya kuat-kuat.
"Maaf jika aku sudah mengganggu makan malam kalian, tapi kuharap kalian bisa melanjutkan makan malam tanpa kehadiran Sakura. Karena aku harus menghabiskan malam ini bersamanya, banyak hal yang harus kami selesaikan. Permisi." Sasuke berojigi berpamitan, kemudian menarik tangan Sakura mengikuti langkahnya menjauh pergi.
...
...
...
"Berhenti!"
"..."
"Berhenti kataku!" Sakura berteriak sambil menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Sasuke.
"Ada apa?" Sasuke berbalik, ia mendapati Sakura terengah-engah mengikuti langkahnya.
Sakura memilih menepikan langkahnya dan duduk disebuah bangku panjang sebuah taman yang mereka lewati. Menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Kumohon, jangan lagi masuk kehidupku!" Pinta Sakura memelas."Kumohon, kau akan terus menyakitiku dengan perasaanmu yang masih tak karuan itu. Aku bukan layang-layang yang bisa kau mainkan atau kau kendalikan."
Sasuke merasa permintaan Sakura padanya langsung bisa membuat hatinya berlubang. Nafasnya mendadak memberat, ia merasa tidak lagi bisa menjauh dari Sakura.
"Sasuke,.. jangan mengucapkan kalimat gombal yang palsu atau membodohiku dengan kata-kata manismu. Aku tidak lagi mau jadi wanita yang ada diantara kau dan Hinata." Sakura mulai beranjak dari tempat duduknya dan mencoba untuk melangkah pergi.
"Bagaimana dengan perasaanmu padaku?" Tanya Sasuke.
Yah, tepat sekali Sakura melupakan hal yang masih sangat kentara.
"Aku,dan perasaanku,...tidak lagi penting!" Bisik Sakura yang mulai membuat langkah menjauh tapi Sasuke memegangi tangannya kuat-kuat agar tidak berlalu.
"Bagaimana dengan ini?" Sasuke membawa telapak tangan Sakura tepat ke arah jantungnya yang berdetak.
Sakura terperangah, ia merasakan degub jantung Sasuke begitu cepat dan tak beraturan. Haruskah Sakura mendiagnosis sebagai penyakit kardiovaskular dengan pengetahuannya tentang dunia kedokteran? Ataukah benar jika perasaan yang Sasuke rasakan begitu nyata untuknya?
"Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan jika aku selalu seperti ini saat didekatmu atau memikirkanmu?" Tanya Sasuke.
.
.
.
.
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian mengerikan diapartemen Naruto. Meraka berhasil menyewa sebuah tempat kecil setelah menggadaikan cincin mendiang ibu Naruto yang dulu sempat diberikan Naruto pada Hinata pada pemilik tempat itu. Sekalipun keduanya harus berdebat kusir lebih dulu sebelumnya. Tentu saja Naruto tak rela cincin itu terlepas dari jari Hinata, selain cincin itu adalah kenang-kenangan dari ibunya, cincin itulah yang ia gunakan untuk melamar Hinata. Tapi Hinata meyakinkan jika suatu hari jika mereka pasti mendapatkan cincin itu kembali, dan akhirnya Narutopun setuju.
Mereka memutuskan Ine adalah kota yang cukup tenang untuk persembunyian mereka berdua. Ine terletak di pantai sebelah utara Kyoto, dimana hampir semua rumah di kota Ine terbuat dari kayu dan memiliki garasi dengan Funaya.Ine berpagar pegunungan dan bukit yang tinggi, menghadap kearah pantai dengan ombak utama penduduk merekapun menangkap ikan dari tradisi yang diturunkan. Naruto berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai nelayan. Pemilik tempat yang mereka sewa,Teuchi, sungguh sangat baik dan menawari pekerjaan pada Naruto sebagai nelayan di kapalnya.
Teuchi merasa iba pada kedua manusia yang nyaris tampak seperti gelandangan itu. Yang laki-laki kepalanya terluka dan yang perempuan kakinya lecet tanpa mengenakan alaskaki memakai baju yang tak layak. Teuchi tidak menanyakan kepada Hinata ataupun Naruto bagaimana keadaan mereka bisa seperti demikian. Teuchi merasa tidak tega melihat sepasang manusia yang terlihat sangat mengenaskan itu sehingga hati kecilnya menawarkan bantuan bagi mereka.
" Ittadakimasu!" Teuchi bersiap menyantap makan malam yang Hinata hidangkan. Teuchi hidup sebatang kara, anak istrinya sudah meninggal karena sakit.
"Wah,... Oishi" Puji Teuchi.
"Syukurlah, jika paman suka!" Ucap Hinata sumringah.
"Ah, sudah lama sekali aku tidak makan tuna bersama-sama seperti ini. Biasanya aku makan sendirian!"
Tersirat sedikit haru diujung kalimat Teuchi saat ia mengingat keluarganya yang sudah pergi meninggalkannya.
"Kami sangat tersanjung karena paman dengan senang hati sudah mau menerima kami disini, kami sangat berterima kasih." Ucap Naruto sambil membungkukkan kepalanya.
"Ah,... kau ini kau kan tidak gratis tinggal disini... kau banyak... sangat banyak membantu orang tua sepertiku ini. Anggaplah seperti rumahmu sendiri. Jangan sungkan!" Seru Teuchi.
Teuchi sangat senang karena tidak lagi dirinya sendiri yang mendiami rumahnya. Hinata yang sangat pandai memasakpun seakan membuatnya kembali merasakan kehadiran putrinya. Teuchi merasa menemukan kembali keluarga baru setelah bertahun-tahun kehilangan. Sama halnya dnegan Naruto dan Hinata yang sangat senang bisa diterima baik oleh orang setulus Teuchi. Orang yang bahkan tidak tahu latar belakang dari keduanya dengan tulus menolong, benar-benar orang yang sangat baik.
Tentu saja Naruto tidak mengatakan jika mereka berada dalam pelarian dan pengejaran yakuza. Mereka menyamar, mereka hanya mengatakan pada paman Teuchi jika hubungan pernikahan mereka tak berjalan baik dan di tentang banyak pihak. Akhirnya mereka harus pergi mencari tempat yang lebih baik dan bisa menerima mereka. Merekapun mengganti nama mereka menjadi Hikaru dan Natsu bermarga Takahashi.
Tak hanya itu, Naruto memangkas rambut kuning jabriknya menjadi cepak dan rapi, bagaimanapun rambut kuning jabriknya sangat mencolok dan mudah dikenali. Hinata juga, kini rambut indigo panjangnya tinggal sebahu. Mereka berdua sadar sedang menjadi target buruan yakuza jadi mereka harus melakukan sedikit penyamaran itupun tidak menutup kemungkinan mereka bisa terlepas dari kejaran mafia-mafia itu. Mengingat jaringan mafia itu begitu luas,mata-mata mereka bisa saja menemukan mereka sewaktu-waktu.
Hinata pun tak jua bisa menyingkirkan kegelisahan yang datang padanya saat teringat apa yang bisa saja mereka hadapi. Perpisahan tragis atau terbunuh. Bayangan tentang hal terburuk itu membuatnya bergidik ngeri. Ia hanya bisa berdoa agar ia bisa menjalani hidup selamanya bersama Naruto, apapun yang terjadi.
"Hinata!" Panggil Naruto perlahan saat ia memasuki kamar, ia mendapati Hinatanya sedang menatap jauh kearah laut dari jendela dan tak menggubris panggilannya.
"Ah... sepertinya aku lupa jika sekarang kau hanya akan menoleh jika aku memanggilmu dengan,...Natsu!" Naruto membisikkan nama panggilan baru Hinata sambil melingkarkan tangan kekarnya kepinggang ramping Hinata.
Hinata tersenyum, ditangkupnya tangan tan Naruto yang merengkuhnya dengan tangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Naruto.
"Hikaru-kun,..." Hinata balas memanggil Naruto dengan panggilan barunya walapun belum terbiasa, meski sebenarnya saat berdua begini tak masalah bagi mereka berdua memanggil nama mereka sebenarnya masing-masing.
"Bintang malam ini sangat indah mengingatkanku pada Hakkodate dan hati yang kita temukan disana. Aku berharap legenda itu benar adanya." Tambah Hinata.
Naruto mengendurkan pelukannya dan memilih memposisikan diri berdiri disamping Hinata dan ikut melihat hamparan bintang berkerlip dilangit. Ia menghela nafas dengan beratnya, dadanya mulai sesak lagi kalau mengingat hidupnya sekarang sangat ironi.
"Maaf,...Hinata" Bisik Naruto.
Hinata menangkap raut wajah kesedihan diwajah Naruto. Ia tahu bahwa Naruto juga sama kuatirnya dengan dirinya.
"jika saja aku bukanlah petinju bayaran dan aku punya kehidupan yang lebih baik dari ini sebelum aku bertemu denganmu, kau mungkin tidak akan menderita dan hidup dalam pelarian seperti sekarang." Sesal naruto.
Hinata menggeleng.
"Tidak!" Hinata membalikkan tubuh Naruto agar menghadap kepadanya,
"Aku baru merasa hidup setelah bertemu denganmu. Kalau saja aku tidak menemukanmu mungkin akupun akan hidup lebih mengerikan lagi karena sepupuku. Kumohon jangan berkata seperti itu!"
Safir Naruto memelas, matanya menatap sendu manik lavender keperakan gadis rambut indigo sebahu yang sangat mencintainya itu.
"Aku janji akan bekerja keras dan membahagiakanmu, Hinata" Naruto bersungguh-sungguh, ia bahkan menundukkan kepalanya saat mengucap janji.
Hinata tersenyum. Ia tahu betul jika Naruto benar-benar melakukan apa yang akan dilucapkannya, Hinata percaya itu. Tapi menundukkan kepala adalah tindakan yang terlalu klasik dilakukan antara pasangan ditahun modern, membuat Hinata merasa geli melihat tingkah Naruto. Hinata berinisiatif meletakkan kepala Naruto dibahunya, ia mencoba mengungkapkan tanpa kata agar Naruto tidak perlu kuatir tentangnya.
"Aku sudah bilang, jika aku akan terus dan terus ada disisimu Naruto-kun. Apapun yang terjadi. Bahkan jika seandainya kita tidak bisa bersama sekarang pun aku akan tetap meminta agar kita kembali dipersatukan dikehidupan selanjutnya."
Naruto tersenyum. Ia benar-benar merasa sangat tenang saat ia bisa berpelukkan dengan kekasihnya itu.
"Terimakasih, Hinata!" Ucap Naruto perlahan.
Tak ada lagi jarak antara mereka berdua, keduanya saling mengeratkan pelukan masing-masing dan menyamankan diri satu sama lain. Mereka bahagia dengan cara yang sederhana, bahkan dalam pelarian. Tak ada kata susah ataupun sengsara saat mereka mengarungi kesulitan bersama. Mereka saling menguatkan dan melindungi satu sama lainnya, apapun yang terjadi mereka memilih untuk menghadapinya.
...
.
.
.
."Moshi-moshi,... mereka ditemukan! Siapkan rencana menangkap buruan kita! Akan segera kukirimkan alamatnya!"
.
.
.
.
.
Funaya:Rumah perahu adalah rumah-rumah pribadi di KyotoYoasa-gun, Ine-cho (kota Ine), kabupaten Ine, di mana lantai pertama adalah dermaga kapal atau perahu penyimpanan daerah. Rumah Funaya dibangun di permukaan laut dalam Ine-wan (teluk Ine ) dan kapal berlabuh di lantai pertama bisa langsung ke laut. Nelayan dermaga perahu mereka di lantai pertama rumah ini dan juga melaksanakan pemeliharaan kapal, serta proses pengeringan ikan Lantai kedua Funaya yang tinggal nelayan, atau kadang-kadang digunakan sebagai penginapan.
.
.
.
.
Haii... haii semua... apa kabar? Ohya makasih buat kalian yang masih sayaang sama saya dan mau berkenan membaca ff ini. miss you so guys, saya lagi ikut2 test kerjaan nih doakan lulus yaa readers, biar bisa sukses di dunia nyata hehehe. jadi selama sebulan ini sibuk banget nyiapin berkas-berkas dan melanglang buana memenuhi persyaratan... ngetiknya jadi sedikit-sedikit hehehe
saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader. terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D
