*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter 20

.

.

.

.

Di tengah keremangan kamar dan diselingi suara ombak lembut yang terpecah saat bertemu pasir pantai, Naruto memeluk tubuh mungil Hinata ke dadanya. Dihujaninya Hinata dengan tatapan penuh pendar cinta yang berhasil membuat Hinata lemas tak berdaya. Diusapnya lembut pipi Hinata, lalu ditariknya dagu tirus itu ke atas, ke arah bibirnya. Dikecupnya bibir ranum itu lembut selama beberapa detik. Hinata pun membalasnya dengan sepenuh cinta. Gejolak di dada mereka kian berkecamuk dan membuncah menaikkan nafsu berselimut cinta.

Lagi.

Malam ini keduanya kembali memutuskan akan memuaskan seluruh perasaan hati dan gairah masing-masing hingga ke puncak yang tertinggi. Dengan pagutan-pagutan mesra yang semakin kuat dan memanas, gairah mereka pun kian menggelegak.

Naruto mulai menelusupkan tangan kekarnya ke balik kaos berwarna salem milik Hinata lalu perlahan menyingkapnya. Melepas kancing bra hitam didalamnya dengan satu kali jentik lalu menyembulah dua gunung yang penuh dan menggoda. Naruto semakin tak kuasa menahan gairahnya saat mulai beranjak mengecupi bongkahan kenyal itu.

Kembali Naruto menelusuri tubuh mulus Hinata, menikmati setiap jengkal lekuk indah yang kini ada dalam kungkungannya. Naruto menghadiahi setiap inchinya dengan ciuman. Hinata hanya bisa menjerit kecil menahan kenikmatan yang tersirat dari perlakuan Naruto.

Rasa panas birahi mulai membakar tubuh mereka. Kedua tangan Naruto terulur untuk menurunkan rok beserta celana dalam yang masih membungkus tubuh bagian bawah Hinata. Sama halnya Naruto, kini tangan Hinata mulai menarik kaos hitam polos sekaligus membuka celana jeans biru muda yang dipakai Naruto. Pemandangan lambang kejantanan sudah tergambar jelas saat tubuh Naruto tak lagi terhalang satu benang apapun. Kini pikiran-pikiran mereka semakin menjerumuskan dalam birahi cinta.

Perlahan Naruto mengelus paha mulus Hinata, menelusupkan tangan kekarnya ke dalam liang yang mulai basah itu.

"Ahh..." Hinata memekik lirih.

Dengan gerakan sangat lembut Naruto memainkan jemarinya disana. Hinata tak kuasa menahan perasaan sendiri. Pikirannya kosong. Ia hanya bisa mengikuti dan menikmati permainan Naruto. Hinata merasa tubuhnya begitu ringan, terbang dan melayang ketempat yang membuainya dengan perasaan indah entah apa namanya.

Naruto kini mulai menggesekkan kepala kelakiannya yang mencuat tegang itu ke pintu lorong kewanitaan Hinata.

"Na..ruto-kun!" Bisik Hinata merintih.

Naruto mendesah, memainkan perannya yang lebih mendominasi dan terus memagut bibir Hinata. Mengulumnya, mengecup setiap inci wajah Hinata sambil mendesahkan perasaan bahagia dan nafsu jadi satu.

" Hinata,..." Desah Naruto

"Ah,... Naruto-kun"Balas Hinata sambil merintih.

Keduanya saling berpagutan, menghisap dan berciuman.

Hinata merasa semakin tak kuat lagi menahan perasaan luar biasa yang masih ditahannya. Hinata merasa kini ia berada dipuncak tertinggi yang bisa digapainya. Ia merasa sesuatu telah berani membanjiri miliknya dengan cairan cinta. Hingga akhirnya milik Hinatapun kian menghisap milik Naruto jauh lebih kuat lagi dan semakin membuatnya bergairah.

Naruto kian bersemangat melihat ekspresi Hinata yang menggairahkannya itu. Disesapnya bibir merah Hinata yang mulai terengah karena permainan mereka sendiri dengan gelora cinta yang membara. Tubuh Hinata semakin menggelinjang tak karuan, hingga akhirnya Narutopun menyusulnya dengan satu hentakankan keras. Naruto menarik tubuh Hinata jauh lebih erat lagi kedalam tubuhnya, mendesis perlahan dan terengah setelah ia pun sampai di puncaknya.

Hamparan bintang berkerlip kontras dengan warna langit yang menggelap. Bukit indah melengkung, membingkai tepian samudera beriak kecil di kota Ine. Angin malam menyejukkan, menyapu lembut kulit mulus seputih susu yang terlihat masih mengkilat oleh lapisan keringat. Begitupun pemilik kulit tan yang sudah mengungkunginya bersemu merah dan kian basah.

Nafas pemiliknya masih memburu walaupun keduanya telah menyudahi permainan panas mereka. Keduanya masih terbuai walaupun kepuasan sudah menghamipiri. Kebutuhan biologis adalah sedikit treatment bahagia ditengah pelarian masalah cinta menjadikan permainan mereka seperti candu yang membujuk keduanya terus melakukan berulang kali.

Naruto memilih merebahkan tubuhnya disamping tubuh polos Hinata, merangkulnya agar dingin tak berani memisahkan mereka. Hinata pun masih ingin bergelayut manja pada tubuh kekar yang baru saja berhasil memuaskan hasratnya itu, tidak mau jauh-jauh dari pria yang teramat sangat dicintainya itu.

Naruto biasa pergi menangkap ikan dimalam hari bersama paman Teuchi dan pulang saat matahari mulai meninggi. Tak masalah jika Hinata ditinggal biasanya, tapi malam ini Hinata ingin terus didekat Naruto. Entah kenapa malam ini ia tidak mau ditinggal Narutonya, Hinata merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Hinata mengeratkan pelukannya pada tubuh Naruto, mencoba mengobati kegelisahan yang berkecamuk dalam hatinya sendiri dengan apa yang dia lakukan.

"Ada apa,..hmm?" Tanya Naruto.

Tak ada jawaban, Hinata memilih meletakkan kepalanya di dada bidang Naruto. Hinata sendiripun tidak menjelaskan perasaannya malam itu.

Naruto mengelus lembut puncak kepala Hinata, lalu mengecupnya dengan penuh rasa sayang.

"Aku hanya pergi mencari ikan, kau tidurlah dengan nyeyak dirumah. Aku akan pulang secepatnya besok pagi-pagi, okey?" Tanya Naruto menenangkan.

Dengan malas akhirnya Hinata mau merenggangkan pelukannya pada kekasih yang diakuinya sebagai suami itu. Iapun menyamai tindakan Naruto yang menutup kembali tubuh mereka pakaian dengan masing-masing.

Raut wajah Hinata masih terlihat ragu untuk berpisah, justru itulah yang membuat langkah kaki Naruto begitu berat untuk melangkah. Diperhatikan kembali dengan seksama wajah ayu si-indigo. Naruto metangkup pipi gembil Hinata dengan kedua telapak tangannya, mencoba menenangkan dengan safirnya yang teduh.

"Percayalah, tidak akan terjadi apapun kepadaku!" ujar Naruto.

Hinata masih bungkam, bibirnya berkerut.

"Bagaimana ya,...apa kau ingin ikut saja? Mungkin aku bisa memasukkanmu ke salah satu kotak ikan hiu." Naruto menggoda.

Hinata mendelik, ia gemas. Dicubitnya perut berotot milik Naruto yang berani menggodanya, sementara Naruto senyumnya merekah sempurna. Sudah lama sekali ia tak melihat ekspresi wajah menggemaskan seperti yang baru saja Hinata tampilkan. Bukan hanya berhasil membawa kekasihnya itu kembali tersenyum, tapi juga kini membawa Hinata dalam pelukannya.

"Aishiteru,Hinata!" Bisik Naruto lembut.

"Aishiteru yoo!" Balas Hinata.

Keduanya sangat saling mencintai, tak ingin berpisah ataupun dipisahkan. Tapi mungkinkah takdir benar-benar berpihak pada mereka? Tidak mungkin Hinata dan Naruto bersembunyi seterusnya dari kejaran Yakuza. Dunia tidaklah milik mereka berdua, tidak terlalu luas tapi juga tak terlalu sempit. Cepat atau lambat antek-antek Yakuza pasti akan menemukan mereka. Sama halnya yang harus dilakukan Hinata dan Naruto sekarang, tidaklah lain menunggu waktu yang menegur mereka. Memberitahukan waktu yang tepat untuk segera lari atau justru anggota yakuza menemukan mereka terlebih dahulu.

Tak ada yang bisa Hinata lakukan lagi, melaut dan mencari ikan bukanlah tugas perempuan sepertinya. Setelah menyiapkan perbekalan untuk Naruto dan paman Teuchi, melambaikan tangan saat kepergian keduanya, Hinatapun akhirnya kembali tidur. Yah, Hinata harus mau bersahabat dengan malam yang dingin dan kesendirian. Hinata berharap pagi akan segera menjelang dan mempertemukannya kembali dengan Naruto.

.

.

.

Hinata baru saja selesai menyiapkan makan pagi sekaligus siang di meja makan kecil. Ia yakin betul sebentar lagi Naruto-nya dan paman Teuchi segera pulang. Ia ingin sekali menyambut pria penantang ombak dengan makanan buatannya yang lezat.

Ditiliknya jam dinding yang tergantung ditengah ruangan itu, masih menunjukkan pukul 9 pagi. Mungkin paman Teuchi dan Naruto masih menjual tangkapan tadi malam dipasar baru kemudian pulang. Hinata merapikan kembali tatanan meja makannya yang semarak dengan menu-menu yang bisa dipastikan membuat orang tak sabar lagi menyantapnya. Baginya pagi ini sangat istimewa. Ia merasa sangat, sangat merindukan Naruto. Mungkin pergulatan panas mereka diatas ranjang semalam menyisakan rindu yang sangat dalam dihatinya pagi ini.

TOK TOK TOK

Suara pintu diketuk.

Hinata yakin mungkin kali ini orang yang sedang dinanti-nantinya pulang. Hatinya gembira dan wajahnya kian sumringah saat kakinya melangkah menuju pintu.

Ia bahkan melupakan jika mengetuk pintu bukanlah kebiasaan paman Teuchi maupun Naruto. Mereka berdua lebih biasa mengucap 'tadaima' dibanding membunyikan pintu. Jadi jelas bukanlah orang yang Hinata harapkan yang datang kali ini.

CEKLEK

Pintu terbuka.

"Ohayo, Hinata!" Sapa seorang dari balik pintu yang baru saja terbuka.

Hinata tak mampu menjawab. Tenggorokkannya tercekat dan nafasnya nyaris terhenti saat ia mendapati orang yang sangat dikenalnya. Ya, orang yang sangat ingin di hindarinya. Ada tiga orang dengan wajah sangar dan menyeramkan. Dan salah satunya yang baru saja menyapa adalah pria berjenggot yang nyaris memperkosanya tempo hari, Asuma.

Seketika ketakutan menjalari tubuh Hinata. Mungkin inilah pertanda dari firasat buruknya semalam. Bertemu dengan orang-orang ini sama menyeramkannya dengan bertemu malaikat maut Hinata sendiri.

Otak Hinata berpikir, ia harus lari dari manusia yang mendatanginya kali ini. Harus. Sejauh mungkin,sebisa yang ia lakukan. Hinata segera mendorong kuat-kuat pintu dengan tenaganya, tapi sia-sia. Asuma berhasil mendorong balik tindakan Hinata itu dan membuat pintu kembali terbuka.

"Dengar, Nona Hinata!" Ucap Asuma, "kali ini kami akan membawamu,... jadi siapkan ucapan perpisahanmu untuk Kyuubi-mu karena kau akan berpisah dengannya untuk selamanya!"

Sebuah seringai licik tersungging diujung bibir Asuma. Tawa mereka bertiga meledak dan meremehkan. Hinatapun kian takut mendengarnya. Bagi Hinata, itu senyuman iblis yang kini teah mendatangkan malapetaka kepadanya. Kakinya melangkah mundur dan mencoba berlari sebisanya. Menjauh dan mencoba melpaskan diri dari tatapan yang menintimidasinya. Tapi, Asuma dan dua lainnya malah semakin mendekat.

"TIIDAAAAKK!" seru Hinata saat tangan Asuma sudah menggapai tubuhnya dan mulai menyeretnya keluar untuk mengikuti perintah mereka selanjutnya.

Tak ada lagi, tempat untuknya bersembunyi. Tak ada lagi kesempatan baginya untuk lari. Haruskah ia menyerah sekarang?

Karena dapat dipastikan tak ada siapapun lagi yang bisa mendengar teriakan permintaan tolongnya.

Sekuat tenaga Hinata meronta dan berteriak, tapi tidak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun.

.

.

.

.

Sakura mengintip dari balik pintu IGD tempat ia bertugas. Selama seminggu ini ia terus mengendap-ngendap saat ia harus keluar ataupun masuk kerumah sakit. Sebisa mungkin ia tidak meninggalkan bangsal IGD selama jam tugasnya. Saat istirahat pun ia akan memastikan jika jaksa itu tidak datang menemuinya, baru dia akan pergi ke kafetaria untuk membeli makanan dan segera kembali. Ia tidak mau mendengarkan gossip tentangnya selama makan siang berlangsung. Jadi itulah alasannya ia enggan berkeliaran dirumah sakit dan menghindari kontak dengan beberapa dokter yang tahu tentang gossipnya, terlebih Karin.

Sakura juga memilih jalan yang memutar saat tugasnya sudah selesai agar ia tidak melewati lobby utama rumah sakit. Alasannya jelas. Ia tidak mau bertemu atau ditemukan oleh sitampan bermata sharingan.

Jika ada yang bertanya tentang apa yang terjadi setelah kejadian malam itu,jawabannya masih sama. Sakura masih tidak bisa menerima kembali Sasuke untuk masuk kehidupnya. Sekalipun malam itu Sakura mendengarkan parade musik terindah dari degub jantung Sasuke yang disinyalir hanya untuknya, tetap saja Sakura tidak bisa menerima.

Bagaimana dengan Sasuke? Apa dia menyerah?

Tidak.

Setiap hari ia mendatangi rumah sakit Konoha, menghafal jadwal shift Sakura dan menunggu gadis pinky itu pulang, setiap harinya. Dan akhirnya permainan kucing-kucinganpun kian terjadi.

"Keluarlah, hari ini dia gak datang kok!" Sahut si pirang yang yang memergoki sahabatnya itu sedang mengintip. Ia sedang menunggu Sakura di luar bangsal IGD dan mengajaknya pulang, jam kerja mereka sudah usai.

Ada perasaaan lega, sekaligus kecewa menggelayuti hati Sakura. mungkinkah Sasuke sudah muak dengan caranya yang terus menghindar?

"Mau sampai kapan kau terus menghindarinya, huh?" Tanya Ino

Sakura mengernyit.

Ia menghela nafas dan mensejajari Ino yang memilih duduk di kursi tunggu depan IGD sambil meluruskan kaki jenjangnya.

"Ah, entahlah" Ucap Sakura frustasi.

"Kau ini aneh!" Tukas Ino, "Jelas-jelas dia mencintaimu, kau juga sama,... tapi malah menghindar!"

Sakura masih bungkam, ia sendiri tidak mengerti dirinya. Ia masih sangat dan sangat takut untuk kembali percaya pada Sasuke.

"Kau ini ingin diyakinkan dengan cara apa?" Tanya Ino lagi. " Apa dia harus datang dan mengajakmu menikah, huh?"

Sakura menggeleng.

"Andai kau jadi aku, mungkin kaupun tidak punya cara lain selain menghindar. Dia terlalu sempurna untukku." Sakura menjelaskan.

"Tapi bukan berarti kau terus menghindar. Kau tidak kalah pengecutnya dengan dia waktu itu, kan? Tidak berani menghadapi perasaan sendiri!" Tanya Ino lagi.

Sakura tak mampu menjawab. Terang saja, apa yang dikatakan sahabat pirangnya itu sepenuhnya betul. Dia tidak berani menghadapi perasaannya sendiri dan memilih menghindari Sasuke.

Sakura mengalihkan zamrud hijaunya kearah koridor rumah sakit yang sepi, hanya untuk mengalihkan sejenak tentang pilihannnya yang dirasa sahabatnya kurang tepat itu. Ia tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi atau menghindar, tapi Sakura sendiri tidak yakin keputusan terbaik apa yang bisa dibuatnya sekarang.

Karena dari ujung koridor kini ia berhasil menemukan si rambut raven tengah berjalan dengan penuh wibawa kearahnya membuat manik hijaunya membulat sempurna. Dirinya mulai panik menghadapi keberadaan pria itu yang hanya dnegan tersenyum saja bisa membuat Sakura terhipnotis untuk kesekian kalinya pada pria itu.

Oh Tidak! Sakura benar-benar terlambat dan tak punya jalan keluar lagi kali ini. Jadi mungkin saat ini ia harus tertangkap.

"Hai, Uchiha-san!" Ino menyapa Sasuke terlebih dahulu, iapun memegangi kuat-kuat lengan sahabat pinky disebelahnya yang berusaha beranjak dari tempat mereka.

Sasuke tersenyum, mempesona. Ia berojigi sebelum membalas sapaan Ino. Sasuke tahu betul Sakura ingin segera pergi dari hadapannya tapi Ino memeganginya dengan kuat.

"Ah, Yamanaka-san aku sangat berterima kasih karena kau sudah mau repot-repot menangkap buruan yang sudah seminggu ini kuincar." Ucap Sasuke, ia kini menarik salah satu tangan Sakura yang teruntai bebas.

"Tentu tidak,.." Tangan Ino mengekspresikan kalau ia tidak kerepotan menangkap sahabat disebelahnya yang mulai geram dengan tindakan ino sendiri.

"Aku hanya merasa kadang untuk menangkap seekor tikus kecil dan manja kau butuh perangkap yang lebih baik, Uchiha-san!" Tambah Ino.

Sakura mendelik, ia kesal Ino malah tidak mendukungnya sekarang. Alih-alih jadi tamengnya malah menahannya beranjak dan memberikannya pada si kucing.

Sasuke tersenyum geli mendengar ucapan Ino. Sasuke menggenggam kuat tangan Sakura lalu mendekap dengan lengannya agar semakin tak mudah terlepas. Ternyata kini Sasuke punya pendukung untuk memperjuangkan cintanya pada Sakura.

"Arigatou, kuharap kau tidak keberatan jika aku memberi sedikit pelajaran pada tikus buruanku!" Ucap Sasuke dengan tatapan menggoda pada Sakura.

Ino tergelak. Ia tak tahan melihat ekspresi kesal Sakura padanya.

"Hahaha, sudah ya JIDAT! Jangan marah padaku! Kau sudah dewasa, selesaikan masalah kalian dengan baik!" Tandas Ino pada Sakura, Sakura malah mengerutkan bibirnya pada Ino.

"Dan Uchiha-san kali ini kesempatanmu, aku tidak akan lagi bekerja sama menangkap tikus kecil lagi untukmu. Jadi kau harus bisa menjinakkannya, okey?" Tanya Ino yang semakin menggoda.

Sasuke menahan kikikannya dalam hati, ia hanya mengankat satu jempol untuk tindakan Ino. Ino melambaikan tangan dan mengambil langkah seribu, tak mau mengganggu kesempatan yang dibuatnya itu.

Sasuke memandang raut wajah Sakura yang menyiratkan rasa kekesalan padanya. Sasuke malah semakin gemas pada ekspresi Sakura, haruskah dia memakan hasil tangkapannya sekarang?

"Lepaskan!" Sakura menyentakkan tangannya agar terlepas dari gapitan Sasuke.

Sakura berjalan gontai, ia memilih menyandarkan punggungnya kedinding rumah sakit.

"Apa maumu?" tanya Sakura ketus.

"Tentu saja,... memakan hasil buruanku!" Ucap Sasuke menggoda.

Sakura gemas. Entah Sasuke yang bebal atau dia yang kelewat sabar menghadapi Sakura, Sakura hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Sasuke.

"Ayo pergi makan malam!" Ajak Sasuke.

Tidak. Tentu saja jawabannya akan tetap tidak, Sakurapun enggan menjelaskan lagi, iapun yakin Sasuke sudah sangat hafal dengan penolakannya. Jadi ia hanya menggeleng.

"Kenapa? Belum gajian ya?" Tanya Sasuke meledek, Sakura kembali membulatkan matanya sementara sasuke tersenyum.

Sore itu bangsal IGD sepi, tak ada pasien. Tak ada satupun manusia yang lewat untuk mengganggu interaksi mereka. Sakura masih tetap bersikukuh, bersikap keras dan tak mau menuruti permintaan Sasuke. Sebaliknya, Sasuke tidak mau meninggalkan buruannya.

Tak ada kata walau beberapa menit telah berlalu. Hening bukanlah alasan bagi Sasuke untuk mengalihkan pandangan dari buruannya. Sasuke terus menatap kearah manik hijau Sakura, sementara Sakura berusaha terlepas dari tatapan itu dengan mencoba mengalihkan pandangannya kemana saja asal bukan kembali ke onix Sasuke. Cukup mirip dengan kucing lapar yang sedang memperhatikan betul pergerakan mangsanya dan yang akan dimangsapun mulai kelabakan.

Gemas.

Sakura tidak suka terus-terusan dihujani tatapan Sasuke yang menggodanya. Ia bisa gila.

"Kau, pergilah!" Usir Sakura.

"Aku sudah bosan mengingatkanmu berkali-kali aku takakan lagi kembali terbujuk dan percaya pada ucapanmu! Jadi aku ingin kau pergi dari hidupku!" Tambahnya.

"Benarkah?" Tanya Sasuke mencari penjelasan.

"Tentu!" Jawab Sakura mantap.

"Sama." Sasuke mengangguk kecil, Sakura mulai bernafas lega.

"Aku juga bosan mendengar ucapan pengusiranmu! Karena sebanyak apapun kau mengusirku, sesering itu juga aku akan datang membujukmu kembali padaku. Jadi sebaiknya kau tak lagi mengusirku." Tambah Sasuke.

Oh... tidak Sasuke sama kerasnya dengan Sakura. Negosiasi ini akan terus saja berjalan alot.

"Dengar ya, aku tidak lagi mencintaimu! Aku membencimu! Aku benci pria pengecut yang menarik ulur perasaanku. Aku akan menemukan pria yang lebih baik darimu! Aku berjanji, akan kutunjukkan jika aku sudah benar-benar melupakanmu, jadi pergilah dari hidupku!" Tandas Sakura gemas.

Sasuke merasa dirinya ditampar begitu kerasnya. Kepalanya mendadak oleng, tak mampu berpikir lagi. Ia tidak menyangka Sakura bisa mengucapkan hal semacam itu padanya. Sakit, tentu saja. Sakura terus saja menguji kesabarannya. Selama seminggu lebih berlalu harga dirinya sudah ia kesampingkan untuk mendapatkan Sakura kembali, tapi tetap saja Sakura bersikap demikian.

Jadi,... Haruskah Sasuke menyerah sekarang?

"Benarkah, kau sudah tak mencintaiku lagi?" tanya Sasuke.

Sakura menguatkan tekadnya, ia menahan nafasnya beberapa detik. Ia tak mau terlihat ragu-ragu mengucapnya didepan Sasuke.

"Ya,Aku tidak lagi mencintaimu! " Jawab Sakura tanpa ragu-ragu. "Aku sudah tidak menginginkanmu! Aku sudah melupakan semua tentangmu!"

CUP

Sasuke mengambil langkah untuk mempertemukan bibirnya dengan Sakura, menerjang bibir tipis merah muda milik Sakura dengan cepat. Sontak saja Sakura terkejut, tak ada pertahanan apapun yang dipersiapan untuk serangan mendadak kali ini. Tak ada lagi ocehan yang bisa keluar dari bibir Sakura.

Manik hijau jernih Sakura terbulat sempurna saat ia menyadari bibirnya telah dipagut dengan Sasuke. Kini jantung Sakura berdegup kencang saat ia merasakan hangatnya ciuman bungsu Uchiha itu. Ribuan kupu-kupu kian berkepak memenuhi perutnya dan beterbangan membebaskan kerinduannya pada ciuman manis itu. Dan untuk kesekian kalinya ia tak lagi mampu menampik perasaannya sendiri. Ciuman itu benar-benar telah menyadarkannya bahwa perasaan yang dimilikinya untuk Sasuke tak pernah berubah sekalipun bibirnya mengucap kalimat kasar pengusiran pada Sasuke.

Tak kuat lagi rasanya ia bersembunyi, iapun hanya bisa memejamkan mata dan menikmati ritme permainan lidah Sasuke yang sudah berani menyapu lidahnya. Tak bisa dibantah lagi jika Sakurapun haus akan ciuman mesra Sasuke. Sudah lama bibirnya tak merasakan manisnya kecupan si raven. Dan tentu saja Sasuke tahu Sakura sudah mulai terbuai dengan saat Sakura mulai membalas ciumannya itu. Dengan sengaja ia segera menghentikan ciumannya.

"Sekarang bagaimana?" Tanya Sasuke.

Sakura masih terdiam mencoba menutupi ketidak relaannya saat permainan mereka dihentikan sepihak. Ia harus terlihat baik-baik saja agar, walaupun sebenarnya lututnya mulai melemas tapi ia berusaha kuat dan tegak berdiri di kedua kakinya.

"Kita lihat bagaimana kau akan melupakan aku!" Ucap Sasuke.

Tangan Sakura mengepal, mengumpulkan kekuatan dari balik hatinya yang mulai menghangat kembali karena ciuman Sasuke. Entah kekuatan untuk menghadapi kembali ciuman Sasuke atau pertengkaran lagi dengan jaksa itu.

"Aku membencimu! Aku tak mencintaimu!" Dusta Sakura.

Oh tidak! Beraninya bibir mungil Sakura kembali mengusir pria tampan yang mencium dan menggetarkan jantungnya barusan! Kali ini Sakura harus berani menanggung akibat perbuatannya kembali. Sasuke tidak akan segan-segan menghukum orang yang sudah berani membohonginya itu.

Lagi. Sasuke kembali mendaratkan ciumannya kebibir Sakura tanpa ampun. Kali ini ia semakin bergelora mulai menghanyutkan keduanya dalam cinta dan rindu masing-masing. Selama beberapa menit mereka saling bercumbu, memagut dan menyesap manisnya perasaan mereka yang tak terbendung lagi. Suplai oksigen mereka kian menipis karena mereka sudah bermain-main dengan nafas mereka yang mulai ada lagi kebohongan didalamnya. Tak ada lagi kata yang sanggup memisahkan, ataupun pikiran-pikiran yang meracuni mereka dengan kalimat berjauhan.

Sakura harus mengakui kekalahannya atas ketangguhan hati Sasuke untuk mendapatkan kembali. Sakurapun harus rela saat Sasuke menghentikan permainannya lebih dulu. Sasuke baru ingat jika mereka masih ada di koridor rumah sakit, dan tentunya Sasuke menyadari jika gadisnya sudah berhasil dijinakkan.

Segaris senyum nakal tergambar dari wajah tampan Sasuke. Bukan karena ia berhasil mengalahkan keangkuhan Sakura, tapi karena menangkap basah wajah malu Sakura yang bersemburat semu kemerahan. Sungguh Sasuke merasa gemas pada gadis dihadapannya. ekspresi kontras yang ditampilkan sakura semakin menyadari kegilaannya pada dokter pinky itu.

Sakura sadar tatapan Sasuke itu meledek ekspresi kekalahannya, iapun mulai menutupi ekspresi aslinya," Apa?" tanyanya ketus.

"Dengar Nona, jangan berani mencintai pria lain selain aku! Juga jangan berani-beraninya kau melupakanku! Kau harus ingat baik-baik bahwa orang yang boleh kau cintai didunia ini,... hanyalah aku... jika tidak aku akan menghukumu dengan menghujani lebih banyak ciuman lagi! Kau mengerti?!" Ancam Sasuke.

Adakah yang bisa memegangi tubuh Sakura sekarang? Ia nyaris saja jatuh setelah tubuhnya yang terasa begitu ringan melayang tinggi kelangit mendengar ancaman yang kelewat manis. Rasanya ia tak kuat lagi menahan berat tubuhnya yang diberi dua kali hukuman dalam satu waktu. Tentu saja Sakura tak keberatan jika Sasuke sendiri yang mengeksekusi hukumannya dengan cara semacam itu. Entah bagaimana kini ia harus berekspresi, perasaannya sudah tak lagi bisa dibohongi dan iapun tak kuasa lagi menolak keseriusan Sasuke.

Sasuke mesih memandanginya dengan senyum menawannya, hati sakura menghangat karenanya. Sehangat senja yang menutup pertengkaran panjang mereka berdua. Mungkin segaris senyum kecil dirasa Sakura tak ada salahnya menjawab akhir pertengkaran ini. Sehingga Sakura dengan malu-malu menyisipkan senyum tipis diujung bibirnya yang masih basah oleh ciuman Sasuke itu. Sasuke yang menangkap keberhasilan usahanya itu tersenyum lebih lebar dan lega, perjuangannya tak sia-sia. Ia pun merasa sangat bahagia berhasil membawa Sakura kembali kehidupnya.

Mendadak, perhatian Sasuke teralihkan pada ponselnya yang bergetar dari balik saku celananya. Ia pun tak segan mengangkat teleponnya dihadapan Sakura.

"Ya... moshi-moshi,..." Sasuke terdiam sejenak, raut wajah Sasuke mndadak berubah serius. "Kau dimana? Aku akan menemuimu sekarang!" Tukasnya.

Segera setelah Sasuke mendapatkan jawaban dari pertenyaannya sambungan telepon pun diputus. Sakura tahu ada sesuatu yang genting sedang terjadi. Air muka Sasuke mendadak gusar dan kuatir.

"Ada apa?" Tanya Sakura.

"Hinata, diculik. Baru saja Naruto menelponku." Jawab Sasuke singkat.

Ada perasaan tidak nyaman dalam hati Sakura saat nama itu kembali disebut. Apakah nama itu lagi yang akan memalingkan kesungguhan Sasuke dari Sakura sekarang? Baru saja senyuman merekah diantara keduanya, baru saja pertengkaran mereka berakhir dan nama Hinata kembali muncul. Tapi, jauh dari dalam hati Sakura ada rasa khawatir pada si empunya nama itu. Jadi harus bagaimanakah sikapnya sekarang? Membiarkan Sasuke pergi atau menahannya saja?

.

.

.

.

.

Haii... haii semua... apa kabar? saya gak telat update loh... hehehhee...
tapi saya jamin chapter depan saya butuh waktu yang lebih lama buat ngetik,... lah kok gitu? Ada yang bisa tebak? tepat sekali chapter depan adalah puncak klimaksnya...dan jelasnya chapter depan bakalan jadi chapter terberat yang saya ketik sepanjang ffn ini. saya ingatkan lagi, chapter depan penuh sama adegan vulgar, kejam dan menyedihkan jadi kuatin hati dan mental kalian readers buat chapter depan yaa... bahkan saya yakin gara2 chapter depan mungkin bakalan ada lagi guest yang ngirimin saya kata2 provokasi dan protes buat saya hehehhe...tapi
saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader. terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D