*All I Need Is You*

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

NaruHinaSasusaku

Chapter21

.

.

.

.

"Tidak, kau tidak bisa bertindak demikian!" Seru Sasuke.

Ia menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba memejamkan mata sejenak sembari berpikir langkah apa yang sebaiknya ia ambil sekarang.

Naruto baru saja menceritakan bagaimana ia dan Hinata bisa jadi target incaran Danzo,si Oyabun. Dihari itu semua terjadi begitu cepatnya, Narutopun sangat menyesalkan tindakan Hinata yang menusuk Iruka hingga tewas. Jika saja ia mampu menghalangi tindakan Hinata, mungkin hal yang seperti ini tidak akan pernah terjadi. Barusan saja Naruto menawarkan dirinya untuk datang menghadap Danzo sendirian dan menawarkan seppuku, tentu saja Sasuke menolaknya.

"Bagaimana jika kau sudah melakukannya tetapi Hinata tak kunjung mereka lepaskan? Kau tidak boleh bertindak sendiri saat ini. Bagaimanapun nyawa Hinata sedang jadi taruhannya, kau harus mengingat baik-baik akan hal itu!" Sasuke kembali mengingatkan.

Satu orang yang tercekat saat Sasuke menyebut 'nyawa Hinata jadi taruhannya' adalah si pinky yang tengah duduk disamping Sasuke. Mendengar masalah yang Naruto hadapi, Sakura merasa sangat prihatin. Hilang sudah semua pikirannya tentang Sasuke yang akan kembali pada Hinata. Sebagai seorang dokter dia tahu betul harga sebuah nyawa dan keselamatan manusaia sangatlah penting. Jadi bukan saatnya ia berpikir mengenai efek yang ditimbulkan jika Sasuke bertemu kembali dengan Hinata. Mungkin hanya sepersepuluh dari pikirannya yang meragukan sesuatu akan terjadi jika nama Hinata kembali muncul diantara dia dan Sasuke, tapi tentu saja Sakura memilih mencoba menyisihkan pikiran itu.

"Bagaimana jika kita menunggu sampai mereka menghubungimu, Naruto?" Sakura memecahkan keheningan. Ia mencoba ikut memikirkan solusi.

Naruto menggeleng.

"Kurasa Sakura ada benarnya,..Umumnya mereka akan menghubungi untuk bernegosiasi dan meminta tebusan, panggilan mereka bisa sadap dan kita bisa melacaknya." Ucap Sasuke membenarkan.

"Sampai kapan?" Naruto mulai gusar. "harus berapa lama aku menunggu mereka akan menghubungiku?"

Safir matanya memerah. Satu tangannya berhasil menggetarkan meja yang ada dihadapannya. Tergambar kekhawatiran yang teramat sangat disana. Kemarahan dan airmata yang tertahan jadi satu.

"Target mereka adalah aku, mereka menggunakan Hinata sebagai sandera agar aku kembali jadi mesin uang mereka. Jika aku menukar diriku dengan Hinata semua masalah akan lebih cepat selesai,kan?" Naruto mulai tak bisa mengendalikan kemarahan yang semakin menguasai diri yang panik akan keselamatan kekasihnya itu.

"Berhentilah jadi sok pahlawan dan egois!" emosi mulai menaikkan darah si Jaksa muda yang kini mulai terpancing untuk ikut gusar. Onix sharingannya menajam dan dahinya berkerut saat membalas tatapan Naruto kepadanya.

Naruto geram. Ia tak tahan lagi. Tak ada yang bisa mengerti dirinya, Hinata dalam keadaan yang sangat genting. Jika ia harus menunggu, Naruto yakin Hinata pasti mengalami tindakan kekerasan atau bahkan lebih buruk lagi.

"Aku mengenal mereka lebih daripada kau!" Naruto menudingkan satu telunjuknya kearah Sasuke. "Kau tidak tahu orang seperti apa mereka! jika kita tidak segera bertindak, Hinata..."

"Dan aku meringkus penjahat lebih banyak daripada kau!" Sentak Sasuke yang kini ikut menggetarkan meja dengan satu kepalan tangannya, sekaligus mengheningkan kembali suasana.

"Ini semua terjadi karena kau tak pernah layak untuk Hinata!" Tambah Sasuke. "Kau tak pernah bisa menjaganya,... ini bukan kali pertama sesuatu buruk terjadi padanya. Bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu!" Seru Sasuke

Naruto tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Lututnya lemas, tak ada lagi kekuatan seorang Kyuubi No Kitsune padanya. Sorot matanya kian menyerah akan keadaaan, dan iapun tak mampu mengubahnya dengan apapun. Bahkan mulutnyapun tak lagi punya kata yang bisa dirangkai untuk menyangkal ucapan Sasuke yang sepenuhnya benar itu. Kejadian ini terjadi karena kelalaiannya.

Safir dan onix yang kian gusar dan dipenuhi kecemasan itu masih saling beradu. Keduanya menyimpan kemarahan dan kepanikan masing-masing. Sekalipun tak ada kata yang terlontar dari bibir keduanya, tapi perang dingin kian hati kian berkecamuk dan menyumpah satu sama lain tanpa ucapan. Waktu yang terus berdetak tak ikut beku karena suasana yang mereka buat.

Cukup.

Sakura tak tahan. Sakura merasa benci diantara pertengkaran mereka berdua. Menjadi penengah antara dua orang yang bertengkar bukanlah keahliannya. Mungkin Sakura bisa memilih menancapkan jarum suntik berisi anti depresan agar kedua manusia di hadapannya ini lebih tenang.

"Kalian berdua kumohon hentikan!" Pinta Sakura dengan suaranya yang tegas dan meninggi.

"Sekarang bukan saatnya menyalahkan atau mempertanyakan siapa yang punya kualitas menjaga Hinata!"

Sakura menatap safir biru yang masih memerah, mencoba menjinakkannya dnegan tatapannya yang penuh arti.

"Naruto, kumohon jangan bertindak gegabah lagi! Kita pasti menemukan jalan keluar dari masalah ini, kita pasti menyelamatkan Hinata secepatnya. Aku sudah menelpon Konohamaru, dia akan menjemputmu sebentar lagi. Malam ini istirahatlah dirumahnya, Sasuke akan menemukan strategi yang terbaik dengan bantuan pihak kepolisian, jadi tenanglah. Aku akan segera menghubungimu." Sakura menggenggam kepalan tangan Naruto dan menatapnya dengan manik hijaunya yang menenangkan.

Sakura tidak yakin betul jika ia sudah memilih kalimatnya dengan tepat, tapi tampaknya itu cukup berhasil menjinakkan Kyuubi No Kitsune yang sedang gusar. Naruto tak membunyikan kalimat apapun lagi selain tatapannya kembali lebih tenang dari sebelumnya. Dan Sakura yakin amarah Naruto sudah mulai menurun.

.

.

.

.

Malam bergulir bersama tiupan angin,Sakurapun juga ikut merasakan dinginnya malam dari balik kaca mobil hitam Sasuke yang tengah melaju. Perang dingin sepertinya bukan hanya berlangsung antara Sasuke-Naruto tapi juga dirinya dengan si raven sharingan. Tak ada kata yang keluar dari mereka berdua seusai pertemuan mereka dengan Naruto. Tak ada pertanyaaan atau bahkan sapaan dari keduanya walaupun 30 menit sudah berlalu.

"Kau,..." Sasuke memcah keheningan dengan memulai sebuah pembicaraan.

"Kau tampak gelisah!"

Sakura menunduk, mencoba membuat raut wajah baru, menutupi kegelisahan yang memang sedang bersarang disana.

"Tidak, kok!" Jawab Sakura.

"Apa,.. kau berpikir jika aku akan tergoda untuk kembali pada Hinata?" Selidik Sasuke.

Sakura tercekat, ia tak menduga Sasuke mempertanyakan hal yang demikian.

"Haruskah?" Sakura bertanya balik.

Sasuke terhening, ia memilih tetap konsentrasi pada kemudinya.

"Hinata,...sudah seperti keluarga buatku. Tapi saat ini ada tujuan yang lebih penting dari keselamatan Hinata,..." Kalimat Sasuke terhenti.

Sasuke menekan tombol kemudi otomatis dan membuat mobil sedan miliknya berjalan dengan sendirinya.

Sakura menatap kosong kearah jalanan kota Konoha yang mulai sepi saat memasuki pukul sebelas malam. Ia mencoba mengatur nafasnya sendiri. Iapun harus siap jika jawaban yang akan Sasuke berikan mungkin bukanlah jawaban yang menyenangkan untuk didengar telinganya.

"Kau,... aku akan membuktikan jika aku tidak main-main dengan ucapanku." Sasuke menatap tajam kearah Sakura.

Sakura yang mengetahui kini dirinya jadi piroritas Sasuke langsung saja memberikan tatapan matanya kearah Sasuke. Ada unsur ketidakpercayaan di matanya, jadi ia menantikan penjelasan selanjutnya dari Sasuke.

"Kali ini, aku akan membuktikan jika aku sudah menetapkan hatiku padamu. Sekalipun Hinata dalam keadaan bahaya, aku sudah tahu jawabanya." Sasuke sangat ingin mendengar reaksi Sakura, tapi tampaknya Sakura tak bergeming.

"Aku lebih takut kehilanganmu dari pandanganku, dan aku yakin Hinata akan baik-baik saja." Tambah Sasuke.

Sasuke berhasil kembali membius Sakura dalam keheningan. Manik hijau Sakura kian tenggelam dalam onix sharingan yang kini menatapnya dengan teduh. Sakura merasa kali ini Sasuke serius dengan ucapannya, dan tak ada sedikitpun keraguan. Haruskah Sakura sekarang percaya pada gombalan si jaksa muda itu?

"Apa rencanamu untuk menyelamatkan Hinata?" Tanya Sakura, tak ingin terbuai lebih lama.

Sasuke menggeleng. "Belum tahu,"

" Penculikan Hinata tergolong cukup rumit, apalagi Hinata juga membunuh sesorang sebelumnya. Aku cukup kuatir dengan hukum yang mungkin bisa berbalik kepadanya."

" Tapi Hinata melakukan hal itu karena melindungi dirinya dan orang lain, bukan?" Sakura meminta penjelasan lebih.

"Ya,.. itulah yang jadi masalah. Pada saat kejadian pembunuhan yang dilakukan Hinata, tidak cukup saksi untuk menguatkan posisinya ... aku juga masih belum yakin motif penculikan ini untuk mengambalikan Naruto berlaga di atas ring."

"Maksudmu?" Sakura belum sepenuhnya paham.

" Entahlah. Kalau memang mereka menginginkan Naruto kembali, tidak perlu repot-repot menyembunyikan Hinata disuatu tempat yang belum terlacak, bukan? Terlebih mereka sangat mengenal Naruto. Mereka cukup datang dan membawa Hinata kehadapan Naruto lalu dengan sedikit goresan ditubuh Hinata mereka bisa mengancam agar Naruto harus kembali, aku yakin... tanpa berpikir panjangpun si bodoh itu akan segera mengiyakan." Tandas Sasuke.

" Jadi, apa tujuan mereka." Sakura penasaran.

Kembali Sasuke meggeleng.

"Kita lihat saja beberapa hari kedepan, sambil mengumpulkan bukti dan melacak keberadaan mereka. Mereka mafia besar tentu saja aku tidak bisa gegabah dalam bertindak." Ujar Sasuke menenangkan.

Tak adalagi penjelasan atau pembicaraan tentang kasus Hinata ataupun kelanjutan kisah mereka. Keduanya bungkam, mereka tidak ingin membahas kedua masalah itu. biarkan saja menggantunng, karena baik kasus Hianta dan kelanjutan hubungan Sasuke-Sakura sama-sama masih perlu bukti untuk memperjelas.

.

.

.

.

Naruto mondar-mandir melintasi ruangan kamar milik adik Sakura, Konohamaru. Entah sudah berapa kali putaran ia lakukan, tapi kegusaran dalam hatinya tak kunjung dapat jawaban. Hari sudah berganti, dan hari ini merupakan hari keempat semenjak kali terakhir ia bertemu dengan hanya rasa khawatir yang kian membuncah, ia bahkan merasa tidak mendapatkan jawaban apapun dari semua pertanyaannya. Tentang keadaan Hinata ataupun kapan Sasuke mengajaknya menemukan kekasihnya itu. Sudah bagus ia sabar menunggu telepon dari Sasuke tanpa harus menghubungi Sasuke terlebih dahulu. Tapi ternyata hingga sekarang handphone yang digenggamnya tak kunjung berdering.

Berkali ia menengok layar handphonenya, sambil meracau dalam hati agar ia mendapatkan salah satu jawaban yang dia harapkan. Tidak pernah ia berada dalam sebuah kegelisahan yang teramat sangat seperti sekarang. Tidurnya tak nyeyak, makanpun tak enak, melebihi manusia yang merasakan patah hati.

Rasanya ia tak sanggup menunggu lebih lama lagi. Berita yang ia tunggu baik dari Sasuke maupun Hinata tak kunjung ia dapat.

Kakinya kian gontai dan kehilangan kekuatan, ia mencoba mendudukkan tubuhnya di pembaringan. Jelas ia takkan mampu memejamkan mata sedetikpun mengingat keadaan kekasihnya ada disarang Yakuza. Safir matanya melemah, tergambar jelas sekali jika ia kurang nutrisi maupun istirahat. Ia terlihat menyedihkan. Naruto menjambak surai jabrik pirangnya dengan kasar dan penuh frustasi, harus kemana ia sekarang untuk segera mendapatkan jawaban atas kegelisahannya.

Sekian hari berlalu, ia yakin pasti ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Hinata. Ia tidak mau terjadi suatu apapun pada Hinata. Ia memutuskan ini adalah hari terakhirnya menunggu, selambat-lambatnya besok pagi ia sudah harus mendapatkan Hinata kembali kepelukannya.

Mendadak layar ponselnya berkerlip, sebuah panggilan telepon. Mungkin ia akan segera jawaban kali ini.

" Yo,... Kyuubi!" Panggil suara dari sana.

Naruto tercekat mendengar suara yang barusan terdengar dari seberang. Sebuah suara yang seharusnya sama sekali tidak mungkin ia dengar.

"I...iruka," Kenalnya, Naruto berbisik ngeri.

Bukankah Hinata sudah membunuhnya, jadi bagaimana mungkin Iruka menelponnya?

Terdengar suara tergelak mencemooh kengerian Naruto.

"Apa kau pikir aku menelponmu dari alam baka?" Ejek suara dari seberang lagi.

"Apa maumu?" Tanya Naruto. "kau,... apa kau tahu dimana Hinata sekarang?! Katakan!" Naruto mulai gusar.

Lagi, suara tawa kembali lebih merendahkan.

"Tenanglah Kyuubi,... dia baik-baik saja! Aku menjagakan dia untukmu!"

"KEPARAT!AWAS KAU JIKA BERANI MENYENTUHNYA DENGAN TANGAN HINAMU ITU!" Ancam Naruto.

"Ckckckck... jangan buru-buru mengancamku Kyuubi! Aku tidak mau menyentuh lagi gadis bekas sentuhanmu itu! Semenggoda apapun dirinya aku sudah tak lagi tertarik!"

"KUSOO! Cepat katakan diamana dia?!" Sergah Naruto panik.

"Dengar,... aku hanya akan memberitahumu bahwa kau hanya satu kali kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada gadismu itu, setelah itu kujamin kau takkan pernah mampu bertemu dengannya lagi!"

"APA? AKAN KAU APAKAN HINATA?"

Suara tawa kembali tergelak, sangat kontras dengan kepanikan dan kemarahan dalam kalimat Naruto.

"Hei,... dengar baik-baik bocah rubah! Bukan aku yang sedang kau hadapi! Kau harus bernegosiasi dengan orang yang akan menjadikan Hinata sebagai komoditas nomer satu Yakuza sekarang!" Iruka menjelaskan maksudnya dengan enteng, "Sudah ya,..."

Sambungan telepon diputus.

Komoditas nomer satu.

Sebuah kalimat yang terlontar dari simuka gores kembali menorehkan kegelisahan dihati Naruto. Naruto tahu betul jika seseorang sudah terlabeli dengan tiga kata itu maka hidupnya akan menjadi lebih buruk dibanding dengan hidup 100 tahun di neraka. Kini Naruto tak lagi bisa menunggu kabar atau instruksi yang menyuruhnya untuk tenang dan bersabar. Ia harus segera menyelamatkan Hinata secepat mungkin.

Tanpa ragu, Naruto segera menarik jaket hoodienya dan mengambil langkah untuk menemukan Hinata. Harusnya dia tahu bahwa kegelisahan bisa jadi racun yang fatal bagi pikiran yang jernih, tapi ia mengkesampingkannya. Baginya Hinata bisa berada dalam keadaan yang sangat buruk jika ia tidak segera bertindak. Iapun merasa tak perlu lagi menghubungi Sasuke mengenai langkahnya kali ini.

.

.

.

.

Bukan tentang seberapa jauh perjalanan yang bisa mempengaruhi beratnya sebuah langkah. Tapi tentang apa yang akan dihadapi saat langkah itu terhenti yang membuat langkah itu terasa berat. Naruto sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dihadapinya saat ia berani melangkahkan kaki di kediaman Danzo.

Sebuah pemandangan taman khas jepang yang indah ia lalui saat menyusuri rumah megah salah satu pimpinan mafia jepang itu. Ironi memang, seperti casing surga yang sejatinya neraka, sama sekali tak nampak dari luar jika rumah megah itu adalah sarang si oyabun. Bagi orang awam pasti akan menilai bangunan itu memiliki seni arsitektur yang tinggi. Tapi tidak bagi orang yang sudah terlibat masalah dengan Danzo, tempat itu sama dengan pengadilan terakhir hidup mereka didunia.

Dinding dan atap serta yang ada didalamnya pernah jadi saksi jeritan penyiksaan anggota yakuza yang dieksekusi. Kamar-kamar yang ada didalamnya juga pernah menjadi sangkar simpanan dan tawanan Danzo. Jangan harap jika wanita yang pernah dibawa kesini akan bahagia menjadi nyonya rumah. Kemurahan hati Danzo untuk wanitanyapun akan habis saat mereka tak mampu lagi menghangatkan ranjangnya. Sebagian kecil dari mereka hidup nista sebagai pelayan dirumah itu, dan sebagian lagi yang berani berontak harus berakhir mengenaskan dan terabadikan sebagai batu nisan tanpa nama di kebun belakang.

Danzo takkan membiarkan tawanan atau simpanan keluar dari rumahnya dalam keadaan mengingat apasaja yang pernah dilihatnya dari dalam rumah itu. Haruskah Naruto juga berakhir disana kali ini?

Sebuah pintu besar kian terbuka.

Safir biru Naruto segera menangkap sosok yang sangat ia kenal diantara beberapa penjaga dengan setelan jas hitam dan tato ditubuh mereka. Sosok yang sangat ditakuti dan dihormati oleh semua orang yang ada dirumah itu tampak tersenyum menyambut kedatangannya. Danzo, mengangkat sebotol anggur ditangan kirinya dan tampak senang dengan Naruto yang berjalan mendekat kehadapannya.

"Oh, Kyuubi... lama tak berjumpa! Duduklah aku akan menuangkan anggur untukmu!" Sapa Danzo ramah.

Tidak sama dengan sapaan ramah si oyabun, mata Naruto membulat. Ia tak mau lagi berbasa-basi.

"Dimana Hinata?"

Danzo menurunkan kembali botol anggurnya sambil menyunggingkan senyum licik disudut bibirnya.

"Kenapa buru-buru? Duduk dan nikmati saja dulu anggur mahal ini! Dia baik-baik saja kok! Jangan kuatir!"

Naruto semakin tak sabar ketika Danzo memainkan kegelisahannya dengan ucapan yang tak perlu. Ia hanya mau Hinata segera keluar dari rumah itu dengan selamat.

"CEPAT KATAKAN APA MAUMU!" sentak Naruto yang mulai kehilangan kesabaran.

Seketika itu bawahan Danzopun melakukan upaya defensif melindungi tuannya, namun Danzo mengangkat satu tangannya untuk memberi isyarat menahan laju mereka.

"Sebenarnya aku mengundangmu kemari untuk bernegosiasi baik-baik, tapi sepertinya kau tidak akan suka." Ucap Danzo mulai serius, ia meletakkan botol anggurnya dimeja.

"Bebaskan Hinata! Dan aku akan bertarung untukmu seumur hidupku!" Ucap Naruto mantap.

Ia yakin itu adalah kalimat yang sangat diinginkan oleh Danzo. Naruto menangkap senyuman kecil terlukis lagi dari si Oyabun.

"Hmmm... hanya itukah yang bisa kau tawarkan padaku?" Tanya Danzo.

"Apapun,..apapun yang kau minta akan kulakukan asal biarkan dia hidup tenang." Naruto tampak berputus asa.

Senyum yang lebih lebar kian tergambar dibibir Danzo, tampaknya ia puas dengan keputusasaan Naruto.

"Sepertinya kau juga salah mengerti, Kyuubi!" Seru Danzo. "aku sudah tidak lagi berminat dalam bisnis kekerasan dan taruhan!"

Naruto tercekat.

"Satu atau mungkin dua tahun lagi mungkin tubuhmu sudah tak lagi sekuat sekarang. Satu demi satu luka pertarungan akan memperburuk caramu dalam bertarung. Lalu tubuhmu tak lagi mampu bertarung, akupun tak mampu menyelamatkanmu lagi. Aku takkan bisa melakukan apapun selain membuangmu dan membiarkan mu mati membusuk dijalanan. Aku tidak mau melakukan itu,..itu terlalu kejam!"

Danzo melangkahkan kakinya mendekati Naruto, menepuk pundak Naruto sebelum kembali ia menjelaskan lebih rinci.

"Jangan salah sangka, aku sedang baik hati sekarang! Aku sudah memikirkan jalan agar kau tak tersiksa lagi lebih lama! Aku mencoba memikirkan bisnis baru diantara kita. Bisnis baru yang lebih menyenangkan dan menguntungkan!" seru Danzo.

Safir Naruto kembali menajam, ia mengira-ngira bisnis apa yang akan dijalankan Danzo dengannya. Pasti sesuatu seperti kurir shabu atau pembunuh bayaran, apapun itu yang jelas didunia hitam.

"Iruka!Bawa dia kesini!" Titah Danzo.

Naruto tahu betul jika apa yang dimaksud dengan 'dia' sudah pasti Hinata. Ia tak sabar bertemu dan memastikan keadaan kekasihnya. Ia juga berharap agar Hinatapun baik-baik saja.

Iruka kembali dengan gadis indigo yang berjalan dengan kondisi tangan terikat dibelakang tubuhnya, Iruka menodong dengan pisau pendek dari bagian belakang.

"Hi...Hinata!" Naruto segera berlari menghampiri gadisnya.

Naruto ingin segera memeluk gadisnya yang akhirnya bisa ia jumpai dalam keadaan yang masih baik-baik saja. Ia sangat rindu pada si mata bulan yang kini beruraian airmata karena terharu akan perjumpaan mereka kembali. Namun langkahnya tertahan oleh dua orang yang menangkap lengannya untuk membawa kembali Hinata kepelukkannya.

"Naruto-kun!" Pekik Hinata.

"Sabar dulu, Kyuubi!" Seru Danzo. "Kita belum melakukan negosiasi apapun."

"Apa maumu? " Naruto gusar. Ia tidak menyukai berada dalam pitingan penjaga Danzo yang membatasi gerakan tubuhnya yang refleks untuk segera meyelamatkan gadisnya.

"Lihatlah dengan baik, aku sama sekali tidak melakukan apapun pada gadismu. Dia baik-baik saja,bukan. Begitupun selanjutnya, aku ingin dia jadi mesin uangku. Tapi sepertinya kaulah satu-satunya penghalangnya." Danzo memberikan penjelasan.

Iruka mendudukkan Hinata dengan paksa kesebuah kursi. Menekan pundak Hinata dengan kedua tangan besarnya agar tak berontak.

Danzo kembali mengambil botol anggur yang tadi ia letakkan dimeja, meneguknya sembari berjalan dan memilih untuk mendampingi Hinata. Hinata memandang ngeri si Oyabun yang kini berani mengarahkan botol anggur itu menyusuri lekuk wajahnya.

"Kau benar-benar cantik, Hinata!" Puji Danzo.

Kini ia berani menurunkan leher botol anggurnya menyusuri leher jenjang Hinata. Hinata merasa ketakutan saat menangkap aura jahat Danzo, airmatanya kembali terurai dengan deras.

"Naruto-kun, tolong aku!" Pekik Hinata memelas.

"Keparat!" Seru naruto yang kini tak lagi tenang dengan perlakuan Danzo pada Hinata.

Danzo menjentikkan jarinya memberi isyarat pada bawahannya.

"Perhatikan baik-baik, Kyuubi. Sungguh ini akan jadi skenario yang sangat menarik!" Ujar Danzo.

"ACTION!"

Pekik si anak buah yang kembali dengan kamera disalah satu tangannya.

KRAAAKKK!

Danzo membuka paksa kemeja yang digunakan Hinata hingga kancing bajunyapun terlepas. Ia menumpahkan isi botol anggur ketubuh mulus Hinata, Hinatapun bergidik saat merasakan tubuhnya basah karena wine mahal yang tertumpah itu. Tanpa ragu Danzopun lalu menggesekkan leher botol yang telah habis disiramkan ketubuh mulus Hinata langsung ke kedua gundukan Hinata bergantian dengan berwarna hijau tua itu kini telah memainkan peran menggelitik puting yang masih tertutupi dengan sebuah bra hitam miliknya.

Tubuh Hinata menggelinjang tak karuan, bersamaan dengan perasaan sedih, malu, marah, tak berdaya kian menjadi satu. Hanya sebuah rintihan yang memohon agar gerakan kasar yang mengeraskan puting miliknya itu segera terhenti segera.

"TIIIDAAAKKK!" Pekik Hinata dan Naruto nyaris bersamaan.

Naruto tak lagi tenang melihat gadisnya kini mengalami kejadian mengerikan. Tangis Hinata kian terpecah, ia meronta dan berteriak memohon ia mencoba terlepas dari gesekkan yang mencoba memainkan salah satu bagian erotisnya dengan kasar. Naruto sangat ingin segera berlari menyingkirkan tangan hina yang berani melakukan hal biadab pada kekasihnya itu. Tapi apa boleh buat, dua kekangan yang menghalangi bergerak itu terlalu kuat untuk tubuhya yang kurang nutrisi dan istirahat itu.

"HENTIKAN!" Teriak Naruto.

Tampaknya Danzopun menurut.
"Bagaimana? Inilah yang kumaksud dengan bisnis baruku. Dia akan menjadi ratu sex baru di Jepang. Film porno memang sangat diminati, dan memberikan keuntungan lebih banyak daripada perteruhanmu diatas ring. Tanpa polesanpun tubuhnya sudah sangat menggoda,... ahh... kau benar-benar pintar memilih penghangat ranjangmu, Kyuubi! Dia memang sangat menggairahkan!" Ucap danzo dengan penuh pnekanan diakhir kalimatnya.

Mata Naruto dan Hinata membulat sempurna saat Danzo menjelaskan maksudnya dengan sangat rinci. Ketakutan kian menjalari dua manusia yang kini tak bisa saling melindungi. Tubuh mereka sama-sama tertahan, merekapun tak bisa lari sekarang. Tak ada jalan keluar atau cara agar mereka bisa terbebas. Hinata lebih ngeri lagi membayangkan dirinya menjadi budak sex komersial sekaligus menjadi mesin uang mereka.

Sama halnya dengan Naruto. Bagaimana mungkin ia bisa tahan melihat gadisnya dijamah oleh orang lain. Ia akan menjadi pendosa terkejam jika sampai menjerumuskan Hinata dalam dunia hitam. Tidak cukupkah hanya dirinya saja yang mereguk pahitnya?

"KEPARAT! Aku bersumpah akan membunuhmu,...aku sendiri akan yang mematahkan tanganmu jika kau berani menyentuhnya!" Sumpah Naruto yang kini diselimuti dengan amarah.

Sebuah tawa tergelak, meremehkan Naruto dengan sumpahnya yang dianggap tak mungkin pernah terjadi. Kembali Danzo mendekati tak menggubris sedikitpun sumpah Naruto. Danzopun malah menjadi lebih nekat karenanya. Segera saja ia menyibakkan rok yang dipakai Hinata dan menarik celana dalam Hinata hingga terlepas.

Danzo mengarahkan bibir botol anggur yang ada ditangannya kebibir bawah milik Hinata. Danzo bahkan berani memasukkan benda keras dan dingin berwarna hijau itu keluar masuk dalam liang Hinata. Seketika Hinata menjerit putus asa, ia tak terima saat tubuhnya diperlakukan demikian. Ia menendang apapun dimeja hadapannya dan mencoba melawan. Tapi sepertinya sia-sia. Ia semakin tak kuasa memberikan perlawanan saat dua orang lagi telah berani menghentikan pergerakan kakinya dan malah menjilati tubuh kaki jenjangnya. Menyesapi manisnya sisa-sisa anggur sekaligus menikmati kemolekan tubuhnya.

Panas, sakit dan menyedihkan.

Hinata menjerit sekeras-kerasnya, ia berharap siapapun kini bisa menolongnya. Narutopun demikian. Tangisnya terurai bersama dengan teriakan ketidakberdayaan, ia tak bisa menerima perlakuan biadab si oyabun dan anak buahnya. Jeritan kerasnya kian melemah dalam keputusasaan. Ia mencoba mengerahkan semua tenaga yang ada dalam dirinya, tapi percuma. Pitingan dua manusia kekar yang menghalangi terlalu kuat untuk manusia yang sudah terkalahkan dengan keputusasaannya sendiri. Ia tak mampu membebaskan gadisnya sekalipun kini bukan jarak lagi yang memisahkan mereka.

Rasanya sungguh sangat mengerikan menyaksikan kekasih sendiri diperlalukan orang paling tak berguna didunia ketika ia tak mampu berbuat apapun untuk menolong orang yang paling dicintainya itu. Sumpah demi apapun dia takkan pernah memafkan siapa saja yang berani memperlakukan Hinata dengan demikian.

Tangis Hinata kembali mengalir deras, ia merasa tubuhnya sudah tak lagi miliknya. Ia tak bisa melakukan apapun untuk tubuhnya yang kini sudah dijajah oleh pria selain Naruto. Hinata menjerit histeris, ngeri sendiri akan dirinya yang sadar bahwa lebih dari tiga orang kini berani menyentuh dan meremas apapun dari tubuhnya. Tak pernah ia merasakan keputusasaan yang menjalari seluruh tubuh dan pikirannya. Ingin berontak tapi ia tak sanggup, ia sendiri tak menyangka akan jadi begini. Cintanya pada Naruto membawanya pada sebuah tragedi yang mengerikan. Ia bahkan tak akan sanggup menghapus kejadian yang menimpa dirinya saat ini.

Danzo memberi isyarat, agar tak lagi mempermainkan dua manusia yang sudah tak lagi punya apapun untuk dipertaruhkan didunia itu. Danzo bisa mengerti ketika keduanya hanya mampu saling berteriak dan memohon pengampunan darinya. Hanya dengan satu jentikkan jari semuapun menurut pada isyarat oyabun,mereka menjauhkan tangan-tangan hinanya dari tubuh Hinata. Narutopun sedikit tenang saat Danzo menghentikan permainan mengerikannya itu. Danzo mencoba memberi sedikit ruang pada Hinata agar gadis itu bisa menguasai dirinya sendiri dan berbicara padanya.

"Hinata, perhatikan dia baik-baik! Dia adalah orang dari masa lalumu, ucapkan selamat tinggal kepadanya. Karena mungkin ini kali terakhir kalian bisa bertemu. Aku akan memberikan satu pilihan untukmu,..." Ucap Danzo.

"Kau harus bersedia dengan senang hati menggantikan posisinya jika kau ingin membuatnya terus hidup, atau sebaliknya... kubuat dia terhapus dari semua catatan dunia agar kau mau menerima pekerjaan barumu? Jadi, mari kita berbisnis!" Ucap Danzo.

Tubuh Hinata tergetar mendengar dua pilihan yang baru saja dia dengar. Perasaannya masih sangat campur aduk, saat dia menyadari bukanlah Naruto yang bernegosiasi dengan Danzo melainkan dirinya. Tentu saja ini tentang dirinya, Danzo menggunakan Naruto untuk melancarkan rencananya. Hinata mencoba menegarkan dirinya, berpikir jernih. Harus diakui jika negosiasi bukanlah keahliannya, tapi kali ini ia akan mencoba.

"Yang kau mau hanya uang, bukan?" Selidik Hinata yang mengkonfirmasi maksud Danzo sesungguhnya.

Danzo tersenyum licik, membiarkan Hinata meneruskan kembali kalimatnya.

"Aku punya segalanya, aku bisa menyerahkan uang berapapun yang kau minta asal kau membiarkan kami,..."

"Kau pikir semudah itu?" Danzo memotong kalimat Hinata, pemikiran Hinata sungguh terlalu naif bagi Danzo.

"Aku sudah tahu kau adalah pewaris Hyuga, dan aku juga tahu aset-aset kepimilikan Hyuga. Menurutmu, apa yang akan terjadi jika aku memaksa kakek tuamu itu menjadikan semua kepemilikan Hyuga itu atas namaku?"

"Aku akan mengalihkan semua yang kumiliki atas namaku menjadi milikmu sepenuhnya,..." Hinata mulai melihat celah ditengah masalah yang sedang dihadapinya.

Danzo menggoyangkan satu jari telunjuknya menyatakan kalau itu tidak sesuai dengan yang ada dalam otaknya.

"Berapa lama aku akan bertahan dengan uang yang kau beri? Setahun,.. dua tahun,... lagipula aku tidak ahli menjalankan perusahaan. Tentu akan terjadi lebih banyak masalah jika semua dunia tahu saat mafia sekelas yakuza menjadi pemilik sebuah perusahaan besar. Perusahaan itu bisa diboikot, dalam waktu dekatpun bisa merugi,... jadi sudah kupikirkan baik-baik. Itu terlalu beresiko buatku. Tapi,...Jika aku memilih untuk memilikimu sampai 10-15 tahun kedepan,.."

Danzo memberi jeda pada kalimatnya sebelum melanjutkan, "Takkan ada satupun dari pihak keluargamu yang mengakuimu anggota dari Hyuga dan tak satupun memperkarakan campur tangan yakuza dalam urusan ini. Tentu saja, karena kau mempermalukan Hyuga dengan adegan ranjangmu,..manis!" Danzo kembali tergelak.

Hinata hanya mampu terdiam mendengarkan rencana Danzo yang mengerikan. Entah dosa apa yang pernah diperbuatnya dimasa lalu hingga kini ia harus menjalani sebuah tragedi yang memilukan.

"Jadi,... apa keputusanmu Hinata?" Tanya Danzo.

Masih tak mampu menggerakkan lidahnya untuk menjawab pertanyaan yang sangat sulit itu. Tak mungkin bagi Hinata mengirim pria yang dicintainya itu mati dan terhapus dari dunia ini. Dan tak mungkin pula ia membiarkan tubuhnya dijajahi pria manapun selain Naruto. Terlintas kembali dalam ingatannya masa-masa indah yang pernah ia lalui bersama Naruto. Jika ada bertanya apa yang paling dia inginkan sepanjang hidupnya, tentu saja jawabannya hanya satu, Naruto. Airmatanya kembali tercurah, tak kuasa ia menahan perasaan pelik semacam ini.

"LARIII HINATA!CEPAT LARI SELAGI KAU BISA!"

Naruto berteriak. Hianatapun tersadar dari angannya, bahwa kini tak ada satupun orang yang memegangi tubuhnya untuk berlari. Tapi ia sendiripun tak yakin jika itu jawaban terbaik masalahnya.

"Jangan pedulikan aku, kau harus hidup dengan baik dan bahagia!" Sergah Naruto lagi, ia mencoba meyakinkan. "Bersumpahlah padaku, jika kau takkan melakukan apa yang mereka inginkan! Aku mohon,... jangan lakukan apa yang mereka katakan!" Naruto menangis sesenggukan sambil mengucap permohonan pada kekasihnya.

Bagaimana ia tidak menangis? Mungkin itu adalah permohonan terakhir yang bisa ia minta dari kekasihnya. Mungkin juga ini adalah akhir dari kisah cinta mereka berdua.

Hinata menatap safir Naruto yang tampak tak berdaya dari tempatnya berdiri. Ia tak punya lagi kekuatan untuk berlari kearah kekasihnya itu, sekalipun tak ada lagi yang menghalanginya. Hinata hanya bisa terpaku memikirkan yang terbaik yang bisa ia lakukan sekarang. Ia tak pernah menjumpai kekasih kuning jabriknya dalam keadaan semengenaskan itu sebelumnya. Bahkan pertarungan berat diatas ring tak pernah membentuk wajah Naruto sedemikian yang ia lihat sekarang. Narutolah yang kini menyadarkan Hinata bahwa ia masih punya satu pilihan terakhir. Kembali untuk sekian detik safir dan lavender itu tenggelam dalam bayangan bagahia masing-masing. Mereka saling menatap dan memuaskan keinginan mereka untuk menyaksikan orang yang mereka cintai jauh lebih lama tanpa kata.

"Apa keputusanmu,..Hinata?" Danzo memecahkan suasana hening yang dibuat oleh sejoli dalam tragedi itu.

"Aku,..." bisik Hinata lirih, ia tak yakin bisa melanjutkan kalimatnya.

"Jangan, Hinata... kumohon!" Pekik Naruto tak berdaya.

"Percayalah padaku,... Naruto-kun!" pinta Hinata memelas.

Suasana kembali hening menantikan Hinata yang kembali terdiam, Danzopun tak sabar menunggu keputusan Hinata.

"Aku tidak bisa,... sungguh aku tidak bisa jadi tambang emas kalian! Aku mohon, kalian boleh lakukan apapun asal jangan menjadikan aku ratu sex."

Danzo tersenyum licik, mengisyaratkan sesuatu pada anak buahnya untuk melakukan sesuatu pada Naruto.

"Hmmm,... Tampaknya kau memang perlu bukti jika aku tidak sedang bermain-main denganmu, Nona!"

Kini Naruto lah yang menjadi target penyiksaan. Suara pukulan yang menghujam tubuh Naruto bertubu-tubi kembali melinangkan airmata Hinata.

"HENTIKAN!" AKU MOHON HENTIKAN!"
Namun tak satupun yang memperdulikan pekikan Hinata. Semua masih dalam posisi menjadikan Naruto bahan penyiksaan mereka. Hinata menangis sejadi-jadinya melihat Naruto yang tak berdaya dan tak mampu memberikan perlawanan.

Danzo tampak geram. Naruto masihlah Kyuubi No Kitsune yang tak mudah ditumbangkan. Berkali pukulan yang terarah ketubuh Naruto masih belum mampu membuatnya sekarat. Ia segera menyambar kembali botol wine yang tadi ia letakkan dipinggiran meja marmernya.

PRAANNKK

Suasana mendadak berubah mencekam saat Danzo telah menemukan alat memutus urusan manusia itu ditangannya.

Botol wine itu telah dipecahkan. Danzopun bersiap memberikan eksekusi terakhir yang lebih cepat bagi Kyuubi. Ia mengarahkan dengan pasti bagian vital mana yang jadi sasarannya.

BLESSS

Panas.

Nyeri.

Sakit luar biasa rasanya.

Waktupun seakan ikut berhenti karena tusukan tajam botol wine yang kini menerobos memasuki rongga perut manusia. Mungkin karena tusukan itu pula, Danzo bisa mengirim seorang manusia ke alam baka lebih cepat dari takdirnya.

Mata bulan itu menangis, beruraian airmata. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang. selain menunggu waktu dan pasrah.

Ia hanya bisa pasrah jika ia harus bertemu dengan malaikat mautnya dengan cara sedemikian tragis seperti sekarang. Dengan menahan kesakitan yang teramat sangat, tubuh kecilnya-lah yang kini terkapar dilantai karena menyelamatkan kekasihnya. Darahnya bersimbah bersamaan dengan keseimbangannya yang menghilang perlahan.

"HINATAAAA!" Teriak Naruto kalap saat melihat kekasihnyalah yang menjadi tameng kematiannya.

"KUSSOO!" Umpat Danzo lirih.

Ia menyesal bukanlah Naruto yang terhujam oleh botol tajam ditangannya.

"ANGKAT TANGAN!"

" LETAKKAN SEMUA SENJATA!"

"KALIAN SEMUA SUDAH TERKEPUNG!"

Sebuah suara dan sirine peringatan kian terdengar. Naruto sangat mengenal suara yang berhasil membekukan tindakan mafia-mafia yang menghakimi dirinya dan Hinata.

Gerombolan polisi satuan khusus menyeruak masuk memenuhi ruangan dari segala penjuru. Mereka menodongkan senjata laras panjang dengan menggunakan baju anti peluru. Tak ada persiapan yang bisa digunakan para mafia untuk memberikan serangan balik pada polisi yang kini mengepungnya. Jumlah polisi itu dua kali lipat anggota yakuza yang ada dirumah itu. Jika mereka berani melakukan perlawanan, penembak jitupun takkan segan langsung menghabisi mereka dengan senjata laser. Mereka kini hanya bisa terpaku ditempat masing-masing dengan tangan terangkat dan menaati perintah. Polisi segera meringkus dan menborgol merka satu demi satu.

Naruto yang kini terbebas, segera menghampiri Hinata yang tergeletak dilantai tak berdaya.

Tangisnya kembali pecah, sesal pun sejadi-jadinya saat ia mendapati kekasihnya terluka parah. Dengan penuh kehati-hatian Naruto membawa Hinata dalam pelukkannya. Sebuah botol masih tertancap di perut kekasihnya, membuat Naruto semakin tak tega menatap wajah kesakitan gadisnya. Naruto melihat wajah cantik Hinata yang kini mulai memucat itu ternyata masih berani melukis senyum kecil diujung bibirnya.

"Hi..nata,.." Isaknya tak karuan. "maafkan aku, sungguh,..." Naruto tak mampu mengatakan apapun dari mulutnya selain kata maaf.

Perlahan tangan Hinata menggapai pipi Naruto yang basah akan airmata. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia mengusap lembut dan mencoba menghapus bekas airmata itu.

"Daijobu, Naruto-kun,.." bisik Hinata lemah.

Naruto segera meraih tangan Hinata yang mecoba menghapus kesedihannya. Ia menggengam tangan Hinata, seerat mungkin. Memastikan agar kekasihnya itu tak lagi hilang dari pandangannya. Tak mau lagi ia berpisah dengan kekasihnya.

"Aku,.. akan tetap jadi milikmu,..." Bisik Hinata.

Terlihat jelas dimata Naruto saat nafas gadisnya itu mulai tersengal tak teratur. Hinata tampak kesulitan menghirup udara untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya. Dan Naruto panik melihat gadisnya yang nyaris sekarat itu, tak bisa ia hentikan laju air matanya yang semakin deras mengalir.

"A..ku..ba..ha..gia..me..ne..mu..kan..mu,..." Kalimat Hinata semakin terdengar tak jelas dan terbata-bata.

Nafas Hinata pendek-pendek dan tubuhnyapun kian menegang menahan sakit yang teramat. Bibirnya bergetar,masih tetap bersikeras menyampaikan sesuatu dari dalam hatinya pada sang kekasih.

"A..ii shi..teru,..Naru..to-kun"

Kelopak pucat pemilik manik levender itu mulai terpejam seraya kesakitan yang mulai tak lagi bisa dirasakan olehnya sendiri.

"HINATA!" Pekik Naruto yang kalap saat Hinata tak lagi mampu menatap matanya.

Naruto mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Hinata yang ada dalam pelukannya itu, menepuk-nepuk pelan pipi mulus gadisnya. Mencoba apapun yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan kesadaran gadisnya. Tapi tampaknya Hinata tak merespon sentuhan-sentuhannya.

"Tidak,... aku mohon... Hinata... jangan tinggalkan aku!" suara baritonenya yang parau memelas tak berdaya.

Air matanya terus menghujani tubuh Hinata yang kini terbujur dalam dekapannya. Terus saja ia memanggil-manggil nama kekasihnya itu, sambil mengucap permohonan yang sama. Didekapnya tubuh Hinata seerat yang ia bisa, ia tidak mau dan tak kan berpisah dari indigo kesayangannya itu degan cara apapun.

Haruskah kisah mereka berakhir demikian?

.

.

.

.

Haii... haii semua... apa kabar? saya udah ijin bakal lama buat chapter ini.
terimakasih buat kalian yang sudah sabar menunggu dan sayang sama ff ini. saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader. terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini ohyaa maaf yaa kalo kali ini saya kejam,... tabahlah pemirsa hehehehe ini hanya ujian... masih ada chapter yang lebih kejam lagi... hehehe

ohya yang mau berteman sama saya lebih dekat, mungkin bahas soal naruto, drama korea atau masakan bisa follow ig saya naiiyyaa atau fb saya New Naiiyyaa,

Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D