*All I Need Is You*
Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
NaruHinaSasusaku
Chapter22
.
.
.
.
Langkah kaki kecil itu berjalan menyusuri kerumunan orang-orang yang saling berkumpul duduk menangis dan terisak. Bunga-bunga berwarna putih kian kontras dengan balutan busana mereka yang ada disana. Hitam, semua yang tengah berada disana berwarna hitam. Jadi dapat dipastikan, acara itu adalah upacara persemayaman jenazah.
Tak ada yang bisa ia kenali dengan baik, kecuali pemuda dengan wajah stoic dan rambut raven gelap yang tengah bersandar pada seorang gadis berambut pink sebahu yang sangat dikenalnya. Keduanya saling menangis dan tak mampu menguasai diri. Membuat pemilik langkah kecil itu semakin gontai saat harus menyelesaikan langkahnya kegaris depan.
Seorang pria tua dengan wajah kharismatiknya terlihat bersedih dan masih sangat tertegun menyaksikan sosok yang terbaring dalam sebuah peti kayu jati mahal. Ya, pemilik langkah kecil itupun juga mengenalnya. Hyuga Hiroshi, beruraian air mata menatap lemah peti mati yang dihiasi bunga dan lilin dihadapannya.
Langkah kaki yang gontai semakin tergetar, tak ingin ia meneruskan langkahnya tapi ia harus memastikan siapa yang ada dalam peti mahal itu.
Safir itu kian menajam saat mendapati sosok yang berada dalam peti itu adalah orang yang sangat dikenalnya melebihi siapapun didunia ini. Seseorang yang sangat dicintainya, melebihi hidup nistanya kini. Seseorang yang memiliki senyum paling ia rindukan selama ini. Seseorang yang pernah berjanji hidup bersama dengannya, seseorang yang masih sangat ingin ia rengkuh kedalam pelukannya saat ini. Separuh jiwanya,...Hinata.
Perlahan air matapun membasahi safir yang tak kuasa lagi membendung kesedihannya. Lututnya serasa tak lagi mampu menyangga berat tubuhnya sendiri.
Bukan.
Hatinya ingin mengatakan jika itu bukanlah Hinata-nya.
Bukan.
Bukan, Hinata yang harusnya terbaring tak terbangunkan.
Bukan.
Bukan ini perjumpaan yang dia inginkan dengan gadis itu.
Sama sekali bukan.
"Hinata,..." Sebutnya, suara paraunya bergetar memanggil nama itu.
Si indigo kian terbujur kaku dalam balutan kimono berwarna putih. Kedua tangannya kian tertaut memegang bunga. Wajahnya memang tak lagi memancarkan aura kehidupan tapi tetap tak kehilangan kecantikannya. Dengan ragu tangan tan itu bergetar memastikan lagi tanda kehidupan gadis itu, disentuhkan pada jantungnya. Tapi yang ia dapati hanyalah tubuh kaku yang sudah mendingin menjadi mayat.
Tak ada helaan nafas ataupun degub jantung yang tersisa disana.
Airmatanya kembali pecah, ia semakin tak lagi mendapati dirinya. Tak sanggup rasanya ia menerima kenyataan itu. Hinata, sudah pergi selama-lamanya.
"Tidak,...aku mohon bangunlah! " Serunya meminta dengan nada putus asa. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk gadis itu.
"Aku mohon,bangunlah,..." pintanya sekali lagi sambil terisak lebih parah. "Aku sudah disini, Hinata. Aku sudah disini untukmu..."
Beberapa orang kian mendekat, mencoba menolong pria kuning jabrik yang tampak menyedihkan itu. Mencoba menegakkan tubuh yang nyaris tak punya kekuatan lagi menghadapi kehidupannya setelah ini. Beberapa orang lagi menutup peti mati itu dan mengangkatnya menjauh dari hadapan pria menyedihkan itu.
"Tidak, kumohon!" Teriak si surai kuning.
"Jangan bawa Hinata pergi!" Teriaknya semakin histeris, kesedihannyapun kian menjadi.
Tak ada yang menggubrisnya. Peti mati itu terus berlalu semakin menjauh. Membawa raga gadisnya yang sudah tak lagi bernyawa. Naruto semakin tak bisa menguasai dirinya, tangisnya sesenggukan sejadi-jadinya.
"TIDAAAKK...!"
.
.
.
.
Sepasang kelopak mata kian terbuka, manampakkan sepasang safir yang gusar. Mimpikah ia barusan? Ataukah ia telah hidup setelah menghadapi soushiki kekasihnya itu?
Sakura.
Ia mendapati Sakura sedang menatap lemah kearahnya menggunakan jas dokternya.
"Kau sudah bangun, Naruto?" Tanya gadis bersurai pink itu.
"Dimana, Hinata?" Tanya Naruto cemas.
"Kau tak bisa bertemu dengannya sekarang,... tenanglah biar kujelaskan keadaannya." jawab Sakura
Naruto segera menyibakkan selimut yang menjadi penutup tubuhnya itu. Secepat mungkin ia mencoba turun dari ranjangnya. Ia harus memastikan apakah yang baru saja dilihatnya mimpi atau nyata.
Tubuh kepayahan baru siuman itu terlalu memaksakan diri. Ia bahkan ia tak cukup punya kekuatan untuk berjalan dengan tegak. Tapi keinginannya mencari tahu lebih besar dari rasa sakitnya. Dikuatkannya kaki untuk menopang dan mencoba berjalan tanpa peduli lagi selang infus yang masih terpasang ditangan kirinyapun ikut terseret.
"Hinata,.. dimana Hinata...?" Racaunya dengan keadaan masih sangat lemah.
Terus saja Naruto menjalankan tubuhnya yang sempoyongan itu, sekalipun Sakura sudah melarangnya pergi. Sakura mencoba segera berlari menopang sahabatnya itu yang terus berjalan keluar dari kamarnya. Sekalipun Naruto tidak tahu dimana Hinata kini berada dia masih terus melangkahkan kakinya. Hanya perasaan yakin dalam hatinyalah yang menuntunnya untuk kembali menemukan Hinatanya.
"Dia tidak mati,kan?" Tanya Naruto.
Sakura menggeleng. "Tenanglah, kujelaskan dulu."
Sakura kini mecoba mendudukkan Naruto pada sebuah bangku panjang dikoridor rumah sakit
"Hinata belum siuman. Operasinya memang sudah dilalui,walaupun begitu..." Sakura tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
"Apa?" Potong Naruto, penasaran.
"Luka yang ditimbulkan karena tusukkan itu sangatlah fatal. Luka itu tidak hanya menimbulkan luka robek yang lebar dan dalam tapi juga membuat Hinata kehilangan banyak darah. Masa kritisnya belum lewat, dia masih harus ditangani secara intensif di ICU. Jadi untuk sementara kau masih belum bisa menengoknya,.."
"Tapi dia akan selamat kan?" Tanya Naruto yang masih gelisah.
Sakura terdiam. Ia tidak tahu bagaimana caranya menguatkan sahabatnya itu. Karena memang sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan terus berdoa.
"Kita sekarang hanya bisa menunggu dan berdoa, Naruto. Kau harus kuat,... apapun yang terjadi nantinya team dokter sudah menjalankan semuanya sesuai prosedur dan berusaha sebaik mungkin menyelamatkannya!"
Kembali kegelisahan menggelayuti hati Naruto. Ia tidak bisa diam disitu. Ia harus berjumpa dengan kekasihnya, apapun caranya. Ia segera bangkit tempat duduknya, mencari petunjuk atau apapun yang bisa menuntunnya untuk segera bertemu dengan Hinata.
Kembali Naruto melangkahkan kakinya tanpa menggubris Sakura yang memanggil namanya.
"Hinata,..Hinata,...Hinata,..." begitu terus Naruto memanggil kekasihnya dalam hati.
Bukan. Belum.
Bukan Hinata yang ternyata ia temukan sekarang tapi Hyuga yang lain yang ada dalam mimpinya barusan. Ia juga bertemu dengan si raven dalam mimpinya berjalan bersisian dengan Kakek Hinata, Hyuga Hiroshi.
"Kau,..." Bisik Hiroshi sambil mengeratkan genggaman pada tongkat di tangannya.
Jelas. Naruto bisa mengerti sebuah kemarahan yang teramat besar di wajah Hiroshi. Siapapun yang menyayangi Hinata tentu akan sangat marah pada Naruto. Karena Narutolah, subjek yang membuat Hinata terjun mengenal dunia hitam yang harusnya tak terjamah. Dan tak bisa lagi ditampik, jika Naruto yang paling harus disalahkan atas insiden yang menimpa Hinata sekarang.
"Beraninya kau membuat cucuku jadi seperti ini!" Sergah Hiroshi.
Sebuah tudingan tak bisa terelakkan lagi pada Naruto, dan satu telunjuk yang diarahkan kepadanyapun menunjukkan sebuah bentuk kemarahan yang sulit diredakan. Tak ada jawaban yang bisa Naruto berikan. Tentu saja ia juga sangat menyesali semua kejadian ini.
Bahkan kalau bisa biar dirinya saja yang menghadapi oyabun sehingga Hinata tak perlu berbaring dan bertarung melawan rasa sakitnya.
"KAU MEMANG TAK PERNAH PANTAS UNTUK HINATA!" Seru Hiroshi.
Kakek berusia 70 tahunan itu mengangkat tongkat setinggi pundaknya mengarahkannya ke Naruto. Tanpa segan lagi, tongkat itu terayun dengan sepenuh tenaga oleh Hiroshi yang mengungkapkan kemarahan atas apa yang sudah menimpa cucunya pada Naruto.
"Kau, benar-benar pambawa sial! Enyah kau dari hadapanku! Kau hanya bisa memberikan keburukan pada Hinata! Kau terus saja membawanya pada kesialan! Harusnya cucuku tidak mengenalmu! Harusnya dia tidak jatuh cinta padamu! Pergi kau dari hadapanku! Jangan berani lagi kau menyentuh Hinata! Kau,...Kau hanya mimpi buruk bagi Hyuga!"
Naruto tak mengelak sedikitpun ketika Kakek tua dihadapannya menganugerahi pukulan dari tongkat kayunya bertubi-tubi. Bibirnya bungkam, dan airmatanya kembali lagi mengalir. Sakit rasanya saat hal yang dikatakan oleh kakek Hinata itu adalah sebuah kenyataan. Hatinya kian terpukul oleh kata yang diucap. Naruto hanya mengucapkan maaf yang nyaris tak terdengar, yang kalah oleh suara kemarahan kakek Hinata yang terus saja menghakiminya itu.
"Oji-sama, mohon kendalikan diri anda,... " Sasuke menangkap agar tongkat Hiroshi agar tak kembali terayun memukul Naruto.
Pria tujuh puluh tahunan itu kian terengah setelah melampiaskan sedikit kemarahannya dengan memukul Naruto.
"Lebih baik kita berkonsentrasi pada kesembuhan Hinata saja. " pinta Sasuke.
Hiroshi membetulkan kerahnya yang terasa ketat saat kemarahan mencekik tenggorokannya barusan. "Dengar baik-baik Sasuke,...jika terjadi sesuatu pada Hinata kau harus ingat untuk membuat pria ini membusuk di penjara! Aku tidak akan sudi menikahkannya dengan Hinata!"
Oh tidak. Kalimat terakhir yang keluar dari bibir Hyuga apakah akan menjadi pemisah antara Naruto dan Hinata kali ini? Dengan tegas, tetua Hyuga itu mengucapkan kalimat yang benar-benar tak disangka. Naruto hanya bisa terdiam di tempatnya, berkubang dalam kesedihan yang semakin menjadi.
Sasuke membimbing Hiroshi berjalan disisinya dan menjauh. Sementara Sakura mencoba menolong sahabat malangnya yang sudah tak punya kekuatan apapun untuk hidup.
"Ayo,... Naruto! Kuantar kau kekamarmu!" Ajak Sakura yang kini menopang tubuh lemas Naruto.
Bukan hanya Naruto yang sebenarnya gusar. Sakura juga demikian. Jelas, kakek Hinata lebih mempercayakan cucunya itu ditangan Sasuke dibanding dengan orang seperti Naruto. Lalu, dimanakah tempatnya ketika Hinata tersadar? Haruskah dia ikut tersingkir juga dari kehidupan Sasuke.
.
.
.
.
.
Sepuluh hari lamanya kelopak mata seputih kapas itu terpejam. Alunan suara eletrokardiogram menjadi lagu tidur bagi si pemilik rambut indigo yang masih terbaring lemah di ranjang ruang ICU. Belum ada tanda-tanda dirinya akan siuman atau sembuh seperti sedia kala. Hanya saja, ia boleh dijenguk bergantian dengan waktu yang tidak lama. Pastinya yang menjenguknya harus melapisi bajunya dengan pakaian yang dipakai dokter untuk operasi.
Selama sepuluh hari pula si surai kuning jabrik itu terus menunggu kabar. Kabar yang menyatakan tentang Hinata telah siuman dan berhasil melewati masa sehingga ia bisa sembuh. Naruto hanya bisa datang dan memandang dari balik jendela kaca yang mebatasi dirinya dengan ruangan ICU tempat Hinata berbaring. Naruto,pun tak berani melawan perintah kakek Hinata yang tertuju untuknya. Sehingga selama sepuluh hari, tak sekalipun ia berani melangkah kedalam ICU. Ia hanya menatap kekasihnya dari balik jendela kaca seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Sekalipun sangat ingin dirinya masuk dan merengkuh Hinata dalam pelukkannya.
Sangat ingin dia membisikkan kalimat agar kekasihnya itu segera membuka matanya dan kembali menampakkan senyuman. Sangat ingin rasanya menggenggam tangan Hinata, menggenggam tangan halus itu dan menariknya terbangun.
"Masuklah!" Suara itu memecah keheningan.
"Mungkin jika dia mendengarkan suaramu, dia akan segera terbangunkan. Dokterpun juga menyarankan demikian" beberapa menit yang lalu ia ada didalam ruang itu tapi kini ia ada disamping Naruto menatap Hinata dari balik jendela kaca.
Naruto tak menjawab, kakinya belum melangkah sekalipun ia sungguh sangat ingin berlari kearah kekasihnya. Tentu saja ia lebih mengkhawatirkan ultimatum si kakek. Ia tidak ingin kejadian yang lebih buruk terjadi karena ia membantah larangannya.
"Aku sudah bicara pada, Oji-sama. Beliau mengijinkanmu, hanya demi kesembuhan Hinata."
Naruto masih mencari kelanjutan penjelasan Sasuke, safirnya mencari kebenaran dengan menatap kedalam onix Sasuke. Tapi Sasuke tidak ingin memberikan penjelasan apapun lagi kecuali anggukan mantap tanda perkataannya memang nampaknya Naruto masih belum punya keberanian untuk masuk kedalam ruang berbatas bilik kaca itu. Masih ada sebuah keraguan besar yang menggelayuti hatinya. Hingga beberapa menit pun berlalu tanpa ada ucapan, dan Sasukepun mulai merasa keberadaannya disitu tak lagi nyaman.
"Sasuke,..." Seru Naruto yang menghentikan langkah Sasuke.
Sasuke menghentikan langkahnya, sepertinya si surai jabrik itu ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.
"Apa yang kau lakukan jika kau jadi aku?" Tanya Naruto ragu-ragu.
Sasuke membalikkan badannya, mendapati seorang pria dua puluh tiga tahunan tak lagi berdaya dan tak tahu jalan hidupnya. Yah,... Sasuke tahu betul jika Naruto sangat butuh saran atau tepatnya semangat. Tapi Sasuke masih menimbang-nimbang apa yang tepat untuk Naruto saat ini.
"Aku,... benar-benar meraa sangat bersalah membuat Hinata seperti sekarang. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti atau,..."
"Naruto,.." Panggil Sasuke lirih dan penuh penekanan.
"Bukan satu atau dua kali aku mengingatkanmu untuk menjaga Hinata! Siapapun didunia ini yang menyayanginya pasti akan menyalahkan dirimu dan kecerobohanmu! Aku juga sudah memperingatkanmu untuk tidak bertindak gegabah, bukan?" Tanya Sasuke tegas, tapi sama sekali tak ada kemarahan di kalimatnya mungkin hanya sebentuk kekecewaan.
Sama, Narutopun juga sangat kecewa pada tindakannya yang sangat buru-buru. Ia juga menyesalkan dirinya yang bertindak menuruti naluri untuk segera menyelamatkan Hinata.
"Tapi semua sudah terjadi,..." Sasuke menghela nafas panjang dan mengalihkan kembali perhatiannya pada si indigo yang terbaring di balik jendela kaca itu.
"Kau masih sangat muda Naruto,..." lanjut Sasuke. "Aku tahu Oji-sama sudah melarangmu untuk bertemu dengan Hinata, tapi aku yakin jika beliau akan melakukan apapun demi kesembuhan Hinata. Akupun percaya Hinata juga akan sembuh seperti semula,... hanya saja yang kupikirkan adalah kau!"
Naruto terkesiap. Ya, mungkin Sasuke benar dialah perusaknya, jadi mungkin dialah yang harus dibenahi.
"Kau belum membuktikan jika kau benar-benar bisa melindungi Hinata, Naruto! Kau bahkan nyaris gagal sekarang. Jika kau ingin mendapatkan kelayakan atas Hinata, maka jadilah pria terbaik yang bisa ia andalkan. Jangan terus membuat dia tersakiti ataupun menangis! Temukan jalan untuk kalian berdua, dan kau harus memastikan jika jalan itu bukan dengan cara menyeret nyawa seseorang masuk didalamnya." Tandas Sasuke.
Safir itu membulat menatap sosok pria yang ada dihadapannya. Dia mencoba melihat kedalam sosok Sasuke. Sangat berbeda dengan dirinya. Sasuke terlihat sangat matang dan dewasa,dia punya banyak sisi baik daripada sisi buruk jika dibandingkan dengan dirinya. Seperti seorang pangeran yang memang ditakdirkan untuk seorang putri seperti Hinata. Dan jika dia menelisik lebih jauh, apalah dirinya bagi Hinata? mungkinkah seorang penjahat dan seorang putri?
"Jika terjadi sesuatu denganku,... maukah kau menjaga Hinata untukku?" Tanya Naruto memecah keheningan sesaat diantar mereka.
Jujur saja, Sasuke tak paham, apalagi yang dimau oleh manusia dihadapannya ini. Tapi sebuah jawaban pasti yang Sasuke miliki, "Ya,.. tentu. Aku sudah mengatakannya padamu berulang kali, bukan?" Kini sasuke meberikan pertanyaan balik pada Naruto.
Seulas senyum kecil terlukis diujung bibir Naruto penuh kelegaan, Sasukepun paham akan maksud Naruto. Sasuke mengangguk, lalu menepuk pelan pundak si surai jabrik sebelum kemudian melangkah pergi.
"Masuklah,... lakukan yang terbaik dan buktikan kau layak jika kau masih ingin bersamanya!" seru Sasuke sembari menjauh.
Kini tak ada lagi keragu-raguan yang membuat Naruto segan memasuki ruang ICU untuk bertemu kekasihnya itu. Ia segera memasuki ruangan dan mentaati semua prosedur yang bisa ia lakukan agar ia bertemu dengan Hinata.
Antara sedih-bahagia, disanalah yang Naruto rasakan sekarang. Ia menyaksikan gadisnya masih tak sadarkan diri, bertarung antara hidup dan mati. Sungguh ia sangat senang setelah melewati kejadian mengerikan dan tak tersadarkan selama dua hari ia masih harus menunggu sepuluh hari lagi untuk bertemu dengan Hinata. Tapi tentunya ia tak bisa menyingkirkan rasa kesedihan dan penyesalan yang teramat atas kejadian yang membuat Hinata
Perlahan ia mengambil posisi dimana ia bisa duduk nyaman disamping pembaringan kekasihnya. Ditatapnya Hinata-nya yang masih belum menunjukkan perubahan sejak hari mengerikan itu. Perlahan, jari-jemarinya mengamit jemari Hinata dengan penuh rasa harap. Sungguh ia masih sangat ingin menggenggam kembali jemari itu untuk melihat indahnya dunia dan menjalani waktu yang indah bersamanya. Tak sabar ia menunggu kelopak mata itu menunjukkan manik lavender yang meneduhkan dan menenangkannya. Dibawa jemari Hinata itu kesalah satu bagian pipinya, berharap Hinata merasakan jika saat ini jemarinya telah mampu meraih wajahnya.
"Hinata,..." Bisiknya lemah.
"Ini, aku,...Naruto-mu. Aku disini,... merindumu.. amat sangat merindumu." Naruto tak lagi sanggup menahan air mata rindu yang bercampur dengan kesedihan dihatinya itu.
"Aku disini, untuk menepati janjiku padamu, janji tak pernah meninggalkanmu... janji untuk terus berada disisimu,... janji akan menjagamu,... janji akan menghabiskan sisa hidup yang kumiliki bersamamu,..."
Naruto semakin sesenggukan dan larut dalam tangisnya. Tak sanggup lagi ia menahan kegalauannya yang berkecamuk. Hatinya kian dikuasai rindu dan seluruh jiwanya digelayuti rasa penyesalan atas apa yang menimpa kekasihnya itu. Dua belas hari lamanya ia menunggu untuk bertemu kembali dengan Hinata. Dua belas hari lamanya juga dia menghakimi dirinya sendiri atas kesalahannya. Dan tak satu detikpun dalam dua belas hari itu ia berhenti menyebut Hinata dalam doa di hatinya agar bisa kembali kepelukannya. Agar bisa kembali lagi menampakkan senyumnya dan mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah mereka ucapkan bersama. Naruto bahkan meminta pada Yang Maha Kuasa jika dia mengembalikan Hinata seperti sedia kala, ia bersumpah tak akan meminta apapun lagi didunia ini untuk dirinya. Asalkan, Tuhan mau berbelas kasih untuk menyembuhkan Hinata.
Menit-menit berlalu dalam keheningan. Naruto masih berkubang dalam tangisnya yang terus memohon akan kesembuhan bagi Hinata. Narutopun tak lagi terjaga. Entah, tak tahu berapa lama ia berada disamping Hinata sambil terus menggenggam tangannya tanpa beranjak. Kesadarannyapun telah habis saat lelah dan kantuk menguasai tubuhnya.
Keajaiban itu ada. Dalam setiap jejak langkah manusia didunia ini, kadang tanpa pernah disadari ada keajaiban yang bermain dalam sebuah takdir. Manusia mungkin terlalu sibuk berorientasi pada sebuah hasil yang harus ia capai, hingga ia tak peka pada setiap prosesnya. Bahkan ketika Tuhan mendengar doa manusia yang ada dalam keputusasaan, Tuhan pun senantiasa mengirim tangan-tangannya untuk mewujudkan suatu keajaiban yang mungkin sangat dinanti.
Jari jemari itu bergetar. Dalam genggaman hangat telapak tangan tan, jari-jemari itu mulai menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari banyak keajaiban didunia ini. Perlahan Kelopak mata seputih kapas itu berani memebiarkan cahaya memasuki iris lavedernya. Mengirim gambaran-gambaran yang telah disaksikan oleh matanya ke pada pusat dari semua kendali tubuhnya.
Hinata, mulai mendapatkan kembali kesadaran dari tidurnya selama dua belas hari. Sebuah nyeri hebat masih ia rasakan di satu titik di tubuhnya. Ia mendapati dirinya terbaring dengan menggunakan oksigen dan elektrokardiogram ditubuhnya. Dan tak ada yang bisa dia sangsikan jika tempat berbaringnya ini adalah rumah sakit. Tapi tak ada yang lebih membahagiakannya jika orang pertama yang dilihatnya saat terbangun adalah pemilik hatinya, Naruto.
Seulas senyum terlukis diwajah ayu yang masih pucat itu. Sosok yang kini menggenggam jemarinya memberi sedikit kekuatan untuk semakin sadar. Ia masih sangat ingin menjalani hidup yang lebih baik dengan pria disisinya. Kini, Hinatapun mengalihkan satu tangannya yang lain dan menyentuhkan pada puncak kepala pria yang paling dicintainya itu. Dibelainya dengan rasa sayang pemilik surai jabrik yang tampak kelelahan itu. Hinata tahu betul jika Naruto menangis untuknya dari bekas airmata yang tertinggal di pipi Naruto.
Naruto merasakan lembutnya sentuhan yang membelainya, iapun merasa sangat mengenal sentuhan itu. Sentuhan yang sangat dirindukannya,seakan membimbingnya terbangun dari mimpi. Tapi ia sendiri tidak yakin jika sentuhan yang dirasakan itu nyata, jadi hanya ada satu cara untuk memastikannya.
"Hi... nata,..." Baritonenya pun tergetar, saat safirnya menangkap gadis dalam genggamannya itu sedang tersenyum kearahnya.
Ia sangat bahagia bisa kembali melihat Hinata-nya kembali tersadar dari tidurnya. Tangis bahagia menitik dipelupuk mata Naruto. Ia tidak menyangka jika Tuhan telah mendengarkan doa-doanya untuk kembali melihat Hinata. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu, Hinata sudah melewati masa kritisnya dan bersiap untuk pemulihan.
"Suster,... Suster...! "Teriaknya sumringah mengabarkan kesadaran Hinata, meminta suster yang bertugas untuk memeriksa keadaan Hinata.
Rona kebahagiaan tergambar di wajah Naruto. Tak sabar rasanya ia memberitahukan semua orang jikalau kekasihnya telah terbangunkan. Kegelisahan atas Hinatapun kian tersisih. Semua orang yang mengharapkan kembalinya Hinata tentunya akan sebahagia dirinya mengetahui kabar ini. Selangkah lagi Hinata akan segera sehat kembali.
Tapi,... diantara semburat kebahagiaan yang tercetak di wajahnya, ada satu guratan besar bersarang dalam ingatannya. Satu guratan yang terukir dengan tajam dalam memori yang kini menggelayuti hati Naruto akan satu hal. Sebuah janji. Sebuah bukti yang nyata untuk ia ciptakan. Dan mau tak mau Naruto harus menepati perkataannya sendiri untuk mewujudkan kesemuanya itu.
.
.
.
.
Hari bergulir, minggu berselang dan musimpun mulai berganti. Hangatnya mentari selalu menemani masa-masa pemulihan Hinata. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menjalani hari-hari bersama Naruto disampingnya. Setiap waktu yang kini dilaluinya adalah pengganti dari hari-hari mengerikan yang ia lalui tanpa Naruto. Hari yang mengantarkannya dalam situasi antara hidup dan mati. Hari paling menegangkan yang pernah ia lalui sebagai seorang manusia. Dan hari dimana ia nyaris terpisahkan dengan Naruto selamanya, tapi kini ia berhasil kembali. Sekalipun tak bisa ia pungkiri hari mengerikan itu menorehkan luka pada tubuh, hati dan pikirannya.
Luka tubuhnya sudah dipastikan akan mengering, namun luka dalam hati dan pikirannnya masih belum. Tentu saja, siapapun takkan pernah lupa kejadian mengerikan yang pernah dilaluinya. Hinata bahkan takkan sanggup melalui hari jika Naruto tidak ada disisinya dan menguatkannya. Menyemangati dan membesarkan hatinya dan akan terus ada untuknya. Bagi Hinata menatap senyum Naruto adalah suplemen penyembuh terbaik yang pernah ada didunia sehingga ia berangsur-angsur pulih dengan cepat. Sungguh tak ada yang lebih menakjubkan dari itu bukan?
Tapi entah, benar atau hanya perasaan Hinata saja. Dari balik lavendernya, Hinata menangkap perubahan pada diri Naruto. Seringkali ia menemukan pria paling dicintainya itu menyepi, menatap pemandangan dari balik jendela kamar rawat Hinata dan memaku tanpa suara cukup lama. Ia merasa Naruto jadi lebih sering menyendiri, pendiam dan sedikit tertutup. Beberapa kali Hinata mendapati Naruto tampak memikirkan sesuatu yang menggalaukan dirinya, membuat wajah cerianya jadi lesu dan tak bersinar seperti yang Hinata ingat sebelumnya. Agaknya, sebuah peristiwa besar yang terjadi diantara mereka telah sedikit banyak mengubah sikap masing-masing. Tapi tentu saja cinta Hinata tak pernah berkurang padanya, masih sama membaranya seperti sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
"Danzo memecahkan sebuah botol wine dan kemudian mengarahkannya untuk melukai Naruto-kun, tapi aku berlari dan menghalanginya. Sehingga, aku yang tertusuk dan kemudian kudengar polisi datang." Terang Hinata sembari mengingat-ingat pengalamannya.
Si kuncir nanas yang duduk disamping Hinatapun tak lupa menulis keterangan Hinata dalam buku kecilnya. Kemudian ia mematikan aplikasi perekaman suara yang menjadi sumber kesaksian Hinata. Tentu saja kasus ini masih diproses, dan keterangan Hinata sangat diperlukan dalam memberatkan hukuman si Oyabun.
"Kurasa keterangan Hinata merupakan kunci yang bisa memberatkan Danzo!" Sahut si raven yang berdiri disamping detektif Nara itu.
"Tentu saja!" balas Shikamaru yakin.
"Baiklah kalau begitu,.. kami harus segera kembali kekantor!" tukas Sasuke menyudahi sesi wawancara korban.
"Hime-chan, jaga dirimu baik-baik!" Tambah Sasuke sambil mengusap puncak kepala Hinata, iapun bergegas memulai langkah dan memberi sebuah anggukan pada Naruto dipojok ruangan sebagai tanda pamitnya.
Hinata tersenyum dan mengucap terimakasih pada dua orang yang baru saja pergi meninggalkannya diruang rawatnya, meninggalkan dirinya dan Naruto berdua disana.
Hinata kembali melemparkan senyum manisnya pada satu-satunya pria yang tertinggal di kamar itu. Pria surai jabrik yang tadinya ada disudut ruangan itupun kian mendekat padanya.
"Aku bosan dikamar!" Seru Hinata manja.
Naruto tersenyum,ia mengangguk. Ia senang karena wajah manja yang Hinata tampakkan masih sama manjanya seperti yang ia ingat sebelumnya. Dan sudah bisa Naruto tebak, jika gadisnya sangat ingin jalan-jalan bersamanya.
"Baiklah, cuaca juga sedang cerah. Ayo kita jalan-jalan keluar ruangan!"
Naruto mengangkat tubuh mungil Hinata dan memindahkannya dari ranjang ke kursi roda. Setelah merasa posisi gadisnya sudah tepat, Narutopun mendorong kursi roda itu menyusuri koridor rumah sakit menuju taman.
"Naruto-kun,..." Panggil Hinata riang.
Naruto mengiyakan dengan nada yang sama riangnya.
"Terimakasih karena terus ada disisiku selama ini!" Seru Hinata bahagia.
Naruto tersenyum. Tentu saja Narutopun juga sangat senang bisa berada disisi Hinata selama ia bisa.
"Jika tak ada kau disisiku, aku yakin tidak akan bisa menjalani hidupku. Naruto-kun lah penyemangat hidupku." Seru Hinata lagi.
Naruto menghentikan laju kursi roda saat ia membawa Hinata ketaman rumah sakit yang hijau dan asri. Naruto juga mematikkan kunci kursi roda itu agar tak lagi bergerak. Naruto menekuk lututnya dan mencoba meminimalisasi tingginya dengan posisi Hinata.
"Jangan terus berterimakasih padaku, Hinata." Naruto menggenggam kedua tangan Hinata dengan tangannya dan membawa tangan Hinata lebih dekat kejantungnya.
"Aku lah yang berterimakasih kepadamu karena kau telah mengorbankan nyawamu untukku. Dan terimakasih, karena kau telah kembali untukku. Aku berjanji dimasa yang akan datang aku akan terus selalu jadi pelindungmu, aku tidak akan membiarkanmu sedikitpun terlukai." Ucap naruto sungguh-sungguh.
Hinata tersenyum. Tak ada yang lebih melegakannya selain selamat dari maut dan kembali berjumpa dengan pria yang sangat dicintainya itu. Hinata tak punya kata lagi yang bisa menggambarkan perasaannya selain menyusupkan tubuhnya pada dada bidang Naruto. Narutopun memeluk gadis yang sangat dicintainya, lalu dibelainya dengan sayang rambut indigo yang mulai kembali menjuntai. Sungguh sebenarnya ia sangat mencintai Hinata dengan sepenuh jiwanya.
"Hinata, kau harus tahu..." Naruto mengendurkan pelukannya dan mulai menatap lavender milik Hinata lekat-lekat.
"Apapun yang akan terjadi, aku akan selalu mencintaimu. Semua yang kulakukan dulu, sekarang atau nantinya itu semua untuk membuktikan jika aku sangat,.. sangat...sangat mencintaimu. Dan kau adalah satu-satunya orang didunia ini yang sangat aku cintai. Sampai kapanpun, akan selalu dirimu. Kau harus percaya itu!" Seru Naruto dengan penuh kesungguhan.
Safir itu membawa manik lavender dihadapannya tenggelam dalam sebuah keyakinan. Keyakinan yang memang benar dan tak terbantahkan jika memang Naruto sangat mencintai Hinata. Rasanya kata-kata yang diucap Naruto sungguh kembali memabukkannya. Hinata merasa terbuai dan kembali merasa jatuh cinta pada Naruto untuk kesekian kalinya
"Aku percaya padamu, Naruto-kun... Aku juga sangat..sangat...sangat mencintaimu." Seru Hinata sambil kembali menampakkan senyum termanisnya.
"Ayo kita menikah!" Seru Hinata semangat. "Kita berjanji untuk menikah di musim awal musim panas, tapi sekarang musim panas sudah hampir usai. Jadi kita harus segera melaksanakannya, bukan?"
Hinata kembali menampakkan senyum yang bersemangat. Sebuah senyuman yang juga sampai ke hati Naruto, mebuatnya jadi menghangat sehangat musim yang sedang mereka jalani. Tapi, sesungguhnya didalam hati Naruto sendiri, ia bahkan tak mampu membedakan perasaan hangat itu bahagia atau sedih.
Menikah. Tentu Naruto ingin. Tapi sepertinya Naruto tak mampu mewujudkan hal itu sekarang.
Bukan, bukan karena ia ragu akan peraaannya Hinata. Bukan juga karena ia tak bisa menerima Hinata karena kejadian mengerikan sebelumnya. Bukan, sungguh bukan.
Tak terelakkan lagi jika senyum Hinata yang selalu ingin ia lihat tiap hari selama hidupnya. Sebuah senyuman yang juga mengingatkannya agar menciptakan sebuah kehidupan yang lebih baik untuknya dan Hinata. Naruto akan melakukan apa saja untuk menepati janjinya itu. Ia harus tunjukkan pada dunia, bahwa ia memang pantas memiliki Hinata disisinya. Sebuah pembuktian janji atas harga diri seorang lelaki, dan hanya satu cara yang sudah dia pikirkan. Narutopun yakin jika cara itu takkan mendapat persetujuan dari kekasihnya sendiri.
Sudah dipikirnya berkali-kali sebelumnya. Proses pembulatan tekadnyapun sudah ia perhitungkan. Tak ada yang bisa dilakukan selain melewati cara yang ekstrim seperti yang ada dipikirannya. Walau jika ia boleh jujur, takkan pernah ada kata siap untuk melakukannya. Berat,...tapi ia harus melebur keraguannya.
"Kau tahu, apa yang kulakukan saat kau belum sadar?" Tanya Naruto memecah suasana hening diantara mereka.
"Ehm,... Merindukanku dan berdoa agar aku segera terbangun dari tidurku?" Selidik Hinata.
Naruto tersenyum. Tepat sekali, memang itu yang dilakukan Naruto saat Hinata tidak sadarkan diri. Naruto juga ikut tersenyum membenarkan.
"Itu salah satunya!" Seru Naruto dengan wajah tersipu.
"Lalu,..?" Hinata tampak tak puas dengan jawaban Naruto. "Jangan-jangan kau sudah mulai berkencan dengan gadis lain?" Goda Hinata.
Naruto gemas rasanya mendengar Hinata sudah bisa menggoda dengan cara seperti itu. Sebuah senyuman yang lebih lebar tergambar dibibir Naruto, ia sadar jika gadis dihadapannya sudah hampir sepenuhnya pulih.
"Aku mendadak jadi romantis!" Seru Naruto sambil mencubit lembut pipi Hinata.
"Benarkah?" Tanya Hinata tak percaya.
"Aku mendengarkan sebuah lagu dan mencoba menenangkan pikiranku yang terus-terusan memikirkanmu. Dan aku mencoba menuliskan liriknya untukmu." Naruto menjelaskan.
"Sebuah lagu? Lagu apa?" Tanya Hinata penasaran.
Naruto tak memberikan penjelasan. Ia segera memasangkan sebuah headset pada Hinata yang terhubung pada handphone miliknya. Naruto juga memberikan selembar kertas yang terlipat dari saku celananya untuk Hinata.
"Kau dengarkan lagu ini baik-baik, aku akan segera kembali!" Titah Naruto.
Hinata mengangguk sambil tersenyum.
Naruto mengecup puncak kepala Hinata dengan sayang dan menatapnya lekat-lekat beberapa detik sebelum ia mengambil langkah pergi.
Hinata mulai menekan tanda play dan memulai mendengarkan lagu ketika punggung naruto mulai menjauh darinya. Hinatapun juga membuka kertas dan membaca syair itu dengan seksama. Sebuah lagu indah mengalun, sebuah lagu sedih yang mendayu.
TRUE LOVE
furi kaeruto
(ketika aku berbalik melihat kebelakang)
itsumo kimi ga waratte kureta
(kau selalu tersenyum untukku)
Kaze no you ni sotto
(Lembut bagaikan angin)
Mabushi sugite
(Begitu menyilaukan, mempesonaku)
me o tojite mo ukande kuruyo
(meski menutup mata bayanganmu terus datang kepikiranku)
Namida ni kawatteku
(Lalu berubah jadi airmata)
kimi dake o shinjite
(hanya kau satu yang kupercaya)
kimi dake o kizutsukete
(hanya kau satu yang terus kusakiti)
bokura wa itsumo, haruka haruka tooi mirai o
(kita akan selalu, lebih jauh, jauh dari masa depan)
yume miteta hazuza
(melihat mimpi yang tak seharusnya)
Tachidomaru to,
(Berhenti dan berpikir sejenak )
naze ka kimi wa utsumuita mama
(mengapa kau menunduk)
Ame no youni sotto
(Lembut bagaikan hujan)
Kawaranai yo ano hi kimi to deatta hi kara
(Tidak ada yang berubah sejak hari kita bertemu)
Namida ni kawattemo
(Juga berubah menjadi airmata)
Kimi dake o mitsumete
(Hanya kau yang ada dalam pandanganku)
kimi dake shikainakute
(Hanya kau yang dalam hatiku)
bokura wa itsumo, haruka haruka tooi mirai o
(kita akan selalu lebih jauh, jauh dari masa depan)
yume miteta hazuza
(melihat mimpi yang tak seharusnya)
Hinata terlarut dalam alunan nada sendu-mendayu dan kalimat sedih yang menjadi syairnya. Hinata tak mengerti kenapa lagu ini yang didengarkan Naruto selama ia tak sadarkan diri. Lagu yang baru saja Hinata dengar terkesan seperti sebuah lagu perpisahan, dimana dua orang yang saling mencintai tapi tak mampu bersatu. Hinatapun menyusuri lagi setiap kata dari syairnya, dan di bagian paling bawah ia menemukan sebuah tulisan tambahan. Sebuah tulisan yang ia yakin bukan bagian dari syair lagu yang baru ia dengarkan.
"Aku mencintaimu, selamanya,...
setiap detik dalam hidupku hanya namamu dalam hatiku...
dan aku akan segera kembali untukmu. Aku berjanji padamu."
Sebuah senyuman kembali terukir di bibir Hinata. Bagaimana tidak kekasihnya mendadak jadi manis sekali sekarang. Sungguh tak ada lagi yang lebih membahagiakan selain jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Sama seperti judul lagu itu, dia telah menemukan 'true love' didunia ini. Dan sudah pasti, Naruto-lah orangnya.
Ia kini tak sabar menunggu kekasihnya kembali. Dalam hatinya berjanji akan menghadiahi kekasih jabriknya itu dengan sebuah senyuman dan pelukkan yang tak terlepaskan.
Tapi,...
.
.
.
Satu jam berlalu dan Naruto belum juga muncul.
.
.
.
Dua jam berlalu Naruto masih juga belum muncul, dan Hinata mulai gusar.
Hinata putuskan untuk beranjak dari taman itu dan mulai mencari kekasihnya. Iapun menggerakkan kursi roda dengan kedua tangannya sendiri. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit, tapi Narutopun tak kunjung ia temui. Ia mencoba bertanya pada sebagian orang yang ia temui tentang kekasih surai jabrik pirangnya itu, tapi hasilnyapun sama. Kini hanya satu cara menemukan Naruto. Ruang keamanan dimana ada ruang pusat monitoring yang menampakkan seluruh rekaman CCTV rumah sakit itu.
" Permisi,.. aku mencari orang yang yang menungguku, dia tinggi berambut pirang dan bermata biru. Bisakah anda memastikan apakah ia sudah meninggalkan rumah sakit ini?" Hinata menyampaikan masalahnya pada petugas keamanan rumah sakit itu.
"Tapi Nona, untuk alasan yang tidak..."
"Aku mohon!" Potong Hinata yang meminta pada petugas keamanan. " Ini sangat penting bagiku,... sudah sejam aku mencarinya keseluruh penghujung rumah sakit ini tapi aku tidak bisa menemukannya!
Sebuah kegelisahan menguasai gadis itu,setitik airmatapun menetes dari manik lavendernya. Membuat petugas keamanan itupun tak tega dan tak punya pilihan lagi. Hinatapun mencoba menyebutkan kapan kira-kira waktu kejadian ia ditinggalkan sendiri ditaman oleh Naruto agar ia mendapatkan hasil yang lebih mudah dan akurat.
Manik lavender itupun kini beralih untuk terfokus pada rekaman CCTV. Dengan mudah iapun mengenali sosok Naruto dan dirinya sendiri saat ia berhasil menjumpainya dalam rekaman.
"Itu,..itu aku dan dia!" Serunya.
Kembali rekaman CCTV itupun memberikan gambaran akan kejadian dirinya dan Naruto beberapa jam lalu. Yang membuatnya penasaran adalah, kemanakah perginya Naruto hingga tak kunjung rekaman itu Hinata menemukan Naruto yang berjalan keluar menuju lobby rumah sakit setelah ia meninggalkan Hinata ditaman. Dari lobby rumah sakit itu Naruto terlihat jelas membawa tas ransel dan menghentikan taksi dan masuk kedalamnya lalu pergi.
Hinata mencoba memahami apa yang Naruto lakukan. Ia merangkai kembali syair-syair lagu yang tadi ia dengarkan dengan kepergian Naruto. Ia mencoba memahami sebuah pesan di bagian akhir syair yang Naruto tulis untuknya. Manik lavendernya membulat saat kepanikan akan sebuah kenyataan kini hadir dipikirannya.
"TIDAK!" Seru Hinata gusar dan gelisah.
Hinata segera mendorong kursi rodanya secepat yang tangannya bisa lakukan. Hinata paham, kali ini Naruto sudah mencoba mengalihkan perhatiannya. Lagu dan syair itu,... adalah ucapan perpisahannya pada Hinata.
Tidak.
Sama sekali tidak.
Hinata tidak mau terpisah lagi dengan Naruto apapun caranya. Setelah berjuang melawan maut dan melewati berbagai rintangan ia tidak akan mau berpisah dari Naruto dengan cara begini. Ia ingin akhir yang bahagia.
"TIDAAKK,... Aku mohon Naruto-kun kembalilah!" Hinata berteriak histeris, menangis dan terjatuh dari kursi rodanya.
Ia tersungkur dan putus asa. Ia merasakan sebuah nyeri kini menjalari rongga perutnya, tapi masih bisa ia kesampingkan. Ia tidak peduli apapun lagi didunia ini jika tanpa hadirnya Naruto.
Beberapa orang pun kian menghampirinya menolongnya kembali kekursi roda. Tapi bukan itu yang ia harapkan. Ia berharap agar siapapun bisa menolongnya untuk menemukan atau membawa kembali Naruto padanya. Tapi tak satupun dari orang itu mengerti teriakan dan permintaan Hinata. Sekumpulan orang yang menolong Hinata itu malah panik saat darah segar mulai berbekas di bagian perut Hinata.
Hinata masih terus memanggil-manggil nama Naruto dan berontak dari pertolongan yang mencoba membawanya kembali kerumah sakit. Membuat jaraknya dengan Naruto semakin jauh dan nyata.
Haruskah begini akhir kisah mereka?
.
.
.
.
.
Haii... haii semua... apa kabar? saya gak terlalu lama kan updatenya?
terimakasih buat kalian yang sudah sabar menunggu dan sayang sama ff ini. saya akan berusaha konsisten pada garis besar cerita yang saya bayangkan dari awal penulisan. saya juga berterimakasih atas dukungan dan masukan atau bahkan kritik dari para reader. terimakasih sudah bersabar menanti update dari ff ini ohyaa maaf yaa yang saya maksud dengan 'kejam' adalah kejam memisahkan Naruto-Hinata untuk sementara waktu hehhehehe Tinggal 1 atau 2 chapter untuk mengakhiri ff ini.
Saya juga minta maaf gak meng-approve review yg tidak sopan dan memprovokasi, yah lebih baik saya simpan sendiri daripada banyak orang ikut marah2 karena hal itu.
Jujur saya ikut senang kalian terbawa dalam dimensi yang saya ciptakan (sampai sempet benci saya karena saya jahat dan tega bikin Hinata disiksa begitu.) hehehe tapi yakinlah ini hanya cerita pemirsa... hehehe :D ohyaa, soal lagu itu terjemahannya sedikit saya rubah agar lebih mengena maksudnya. ada yang tahu itu lagu siapa?
yang mau berteman sama saya lebih dekat, mungkin bahas soal naruto, drama korea atau masakan bisa follow ig saya naiiyyaa atau fb saya New Naiiyyaa,
Mohon maaf bila ada kesalahan, sekali lagi FF ini dibuat untuk hiburan dan merupakan karangan fiktif. dari segi penulisan, tata bahasa dan yang lain masih banyak kekurangan. . sekali lagi terimakasih atas doa dan dukungannya juga mohon maaf atas review yang belum sempet dibalas.
:D see you next chapter
:D
