Pagi itu di SMA Konoha, para penghuninya sedang melakukan aktifitas yang berbeda dari sekolah lainnya, karena hampir semua siswa siswinya sedang melakukan bisik-bisik dengan riang gembiranya. Sedangkan orang yang menjadi bahan bisik-bisik mereka tampak tidak peduli sama sekali, dia berjalan santai mengacuhkan bisik-bisik ataupun tatapan penuh tanda tanya dari mereka, tujuan utama orang itu adalah kelasnya. Setelah sampai di kelasnya, dia langsung duduk di samping kanan gadis berambut biru tua yang sedang membaca sebuah buku dengan serius. Dia menatap gadis itu dengan mata blink-blink miliknya, tetapi tampaknya gadis itu tidak menyadarinya sama sekali dan masih membaca bukunya dengan serius.

"Hei! Itu tempat dudukku pirang!"

Protes salah satu siswa yang tidak terima tempat duduknya ditempati oleh orang asing, sedangkan orang yang disebutnya pirang menatapnya dengan aura membunuh yang sangat pekat.

"Lu-lupakan saja! Itu tempatmu sekarang! Maafkan aku!"

Sementara itu, gadis yang sedang membaca buku dengan serius tadi tampaknya mulai terganggu dengan keributan yang sedang terjadi di sekitarnya. Dia mulai menolehkan kepalanya ke arah kanannya, tempat dimana orang berambut kuning mencolok sedang menatapnya dengan mode mata blink-blink. Gadis itu tersenyum dengan lembut dan menyapa orang yang menatapnya dengan hangat.

"Se-selamat pagi, Naruto-kun."


.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Comedy, Frienship, Etc.

Rated : T

Warnings : Typo(s), Melenceng dari EYD, OOC!, Gaje, Dan kecacatan lainnya, dan jika tidak suka silahkan klik tombol 'BACK'

.

.

.

-Don't Like, Don't Read-


Chapter 2

Sparkle


Bel pertanda waktunya istirahat telah berbunyi, para siswa siswi mulai berhamburan keluar dari kelas mereka menuju kantin, ada juga yang masih tinggal di kelas untuk memakan bekal mereka masing-masing yang di bawa dari rumah ataupun hanya untuk tidur dan membaca novel atau komik.

Di kelas X-C ada seorang siswi berambut biru tua yang mulai merapikan buku-bukunya saat mendengar bel berbunyi, di samping kanan siswi tersebut terdapat siswa berambut pirang yang tertidur pulas. Setelah selesai membereskan buku-bukunya, siswi itu segera melangkahkan kakinya pergi keluar kelas, dia berjalan sambil menundukkan kepalanya tanpa takut kalau dia akan menabrak seseorang sewaktu-waktu. Ya, siswi itu memiliki sifat pemalu yang berlebihan walaupun wajahnya tergolong cantik, bahkan dia hanya kenal beberapa orang yang berada di kelasnya. Jika siswa siswi lainnya berjalan menuju kantin atau kelas tetangga, siswi ini berjalan menuju kantor guru. Bukan tanpa alasan dia pergi ke tempat para guru-guru berkumpul, dia hanya ingin menemui wali kelasnya.

Dia berhenti tepat di depan pintu masuk ke kantor guru, dengan perlahan-lahan dia menggeser pintu itu sambil mengucapkan permisi yang hanya dapat di dengar olehnya saja, dia mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu dan segera menuju meja wali kelasnya berada.

"Mi-mitarashi sensei." Ucapnya memanggil wali kelasnya yang sedang menikmati bekalnya setelah dia sampai di mejanya.

"Hm? Oh, Hyuuga-san~ ada apa?" Jawab wali kelasnya yang beranama lengkap Mitarashi Anko itu setelah melihat kedatangan salah satu muridnya.

"Umm, Aku, aku minta ma-maaf telah mengganggu anda." Ucap siswi itu meminta maaf, dia merasa tidak enak telah mengganggu waktu makan siang wali kelasnya.

"Tak apa Hyuuga-san~, Jadi ada apa?" Balas Anko dengan santai sambil memasukkan potongan daging babi ke dalam mulutnya.

"Ano, aku hanya... Ingin menyampaikan bahwa Na-naruto telah hadir ke sekolah lagi." Anko berhenti mengunyah daging yang berada di dalam mulutnya itu, dia menatap siswi yang bernama Hinata itu setelah mengedipkan matanya satu sampai dua kali. "Benarkah?" Tanyanya memastikan ucapan Hinata.

"Ya." Jawab Hinata dengan yakin.

"Yokatta~ Akhirnya bocah nakal itu tidak jadi di keluarkan oleh pihak sekolah~."

"Eh? Di... Keluarkan?"

"Yup! Pihak sekolah berencana akan mengeluarkannya hari ini jika dia tidak hadir ke sekolah."

"A-apa?"

"Tapi karena dia sudah hadir kembali, kemungkinan rencana itu batal!"

Hinata menghela nafas lega, entah kenapa hatinya merasa lega setelah mendengar perkataan dari wali kelasnya. Setelah memberitahukan wali kelasnya tentang Naruto yang mulai bersekolah kembali, dia pamit undur diri, tidak mau mengganggu lebih lama waktu makan siang wali kelasnya itu. Waktu istirahat masih panjang, Hinata yang merasa dirinya tidak sedang lapar itu memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kantor guru. Baru beberapa langkah dia meninggalkan tempat itu, bahunya di tepuk oleh seseorang. Dia menolehkan kepalanya kebelakang mencari orang yang menepuk pundaknya itu, di dapatinya remaja berambut kuning yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.

"Hinata-chan, kau ingin kemana?" Remaja berambut kuning itu masih tersenyum dengan lebar saat menanyakan itu ke Hinata.

"Naru-Naruto-kun?!" Hinata terkejut saat melihat remaja berambut kuning yang dipanggil olehnya Naruto itu berdiri di depannya sekarang. Bukankah dia tadi tidur dengan nyenyak di kelas? Batin Hinata yang bertanya-tanya di benaknya. Dia heran kenapa Naruto bisa berada di sini dengan sangat cepat, padahal jarak kelasnya dan kantor guru cukup jauh. Ia abaikan itu untuk sementara, lalu bertanya kepada Naruto yang masih tersenyum.

"Kau, ingin kemana, Na-naruto-kun?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku Hinata-chan."

"Eh? Ano, aku, aku ingin pergi ke perpustakaan." Hinata menjawab pertanyaan Naruto yang sebelumnya dengan gugup.

"Benarkah?" Tanya Naruto memastikan.

"Ya."

"Baiklah! Aku ikut denganmu!"

Naruto membalas ucapan Hinata dengan semangat. Dia memutuskan untuk ikut dengan Hinata dengan cepat. Padahal Naruto sendiri tidak pernah pergi ke perpustakaan waktu dia masih SD, SMP, sampai saat ini, SMA. Dia bahkan enggan untuk menyentuh buku-buku pelajaran, dia lebih suka dengan buku dongeng, itulah sebabnya kenapa nilainya sangat buruk, dia bisa masuk ke SMA Konoha kerena sebuah keajaiban. Hinata hanya menganggukan kepalanya saja, dia setuju Naruto ikut dengannya. Toh, perpustakaan adalah tempat umum di sekolah ini. Dia mulai melangkahkan kakinya terlebih dahulu, melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda menuju ke perpustakaan. Sementara itu Naruto mengekorinya dari belakang.

...

Gadis berambut biru tua yang panjang itu mengarahkan tubuhnya menuju perpustakaan sekolah yang sudah menjadi temannya selama bebarapa bulan terkahir bagi gadis itu, Hinata. Terlihat ruangan yang luas dengan rak-rak buku tinggi berjajar membentuk sebuah barisan yang rapi saat dia membuka pintu dan masuk ke dalam perpustakaan. Jendela besar yang mengelilingi ruangan itu cukup membuat cahaya matahari masuk, menarangi setiap penjuru ruangan itu. Suasananya begitu sunyi dan tenang. Hanya terdengar suara buku yang di balik lembar demi lembar oleh orang-orang yang juga mengunjungi perpustakaan. Naruto melangkah dengan hati-hati di belakang Hinata, ini pertama kalinya dia memasuki perpustakaan selama hidupnya. Dia mengikuti langkah Hinata kemanapun dia pergi. Hinata berhenti di depan rak nomor enam dari pintu masuk perpustakaan, dia terlihat mulai memilih buku sejarah negara jepang yang hendak dibacanya di waktu istirahat ini. Ia angkat tumitnya, tangannya terulur untuk menggapai buku tebal bersampul merah yang terletak di barisan paling atas dari rak buku, tetapi tidak sampai karena tubuhnya yang tergolong pendek. Melihat Hinata yang kesusahan, Naruto yang tubuhnya lebih tinggi darinya berinisiatif untuk mengambil buku itu untuk Hinata. Hinata tersenyum dan berterimakasih pada Naruto yang dibalas dengan senyuman lebar dari remaja beramata biru sapphire itu.

Hinata berjalan menuju meja di pojok ruangan yang dekat dengan jendela, tempat baca yang telah menjadi favoritnya itu jika setiap sekali mengunjungi perpustakaan sekolah. Dia duduk dan mulai membaca lembar demi lembar buku sejarah negara Jepang di tangannya, sementara itu Naruto hanya duduk di depannya sambil terus memandangi Hinata. Bebarapa menit berlalu, Naruto mulai merasa bosan hanya duduk diam dan memandangi Hinata saja. Dan pada akhirnya ia mengambil buku dari rak dekat dia duduk. Dia membolak-balik buku itu terlebih dahulu sebelum membukanya, terlihat gambar warna-warni yang memenuhi lembar demi lembar dibuku tersebut. Itu adalah buku dongeng, buku kesukaan Naruto. Dia tersenyum, merasa tertarik dan mulai membaca buku dongeng anak-anak itu. Hinata yang melihat Naruto begitu serius membaca buku tersebut, mulai tersenyum senang, akhirnya ada sebuah buku yang cocok bagi Naruto. Sedangkan Naruto yang terus membaca buku dongeng tersebut, mendadak dia tertawa dengan begitu kerasnya saat mendapati kalimat yang menurutnya lucu itu terdapat di dalam buku tersebut. Seketika itu juga pandangan seluruh pengunjung perpustakaan tertuju ke arahnya, mereka menatapnya dan tatapan terganggu. Kemudian guru pengawas perpustakaan yang kebetulan berada di dekat sana mengampiri mereka.

"Sstt!" Guru pengawas yang mengenakan kaca mata bulat itu meletakkan telunjuk di bibirnya sambil melihat ke arah Naruto yang masih tertawa. Meminta agar Naruto berheti tertawa terlalu keras.

"A-ah... Maaf!" Ucap Naruto yang merasa bersalah, entah kenapa sifat berandalnya berkurang sedikit demi sedikit.

"Jangan kau ulangi lagi!" Dengan wajah yang menyebalkan, guru pengawas itu berjalan pergi.

Hinata yang melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah Naruto. Tak lama kemudian, bel berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat telah habis. Hinata segera menutup buku sejarah negara Jepang yang dibacanya, Naruto yang melihatnya mulai bertaya kepadanya.

"Mau kembali?"

"Y-ya, bel sudah berbunyi."

"Baiklah."

Naruto mulai berdiri dari tempatnya setelah melihat Hinata yang sudah berdiri terlebih dahulu. Hinata kembali ke tempat dia mengambil buku tersebut dan berniat mengembalikannya, tetapi lagi-lagi dia tidak sampai untuk mengembalikan buku tersebut karena raknya yang terlalu tinggi baginya. Naruto yang melihat Hinata bersusah payah mengembalikan buku tersebut, mulai mengambil buku itu dari tangan Hinata dan mengembalikan ke tempat semula untuk Hinata. Lagi, Hinata berterimakasih kepada Naruto sambil tersenyum manis. Mereka melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan sekolah, diikuti dengan pengunjung lainnya yang juga keluar dari sana setelah mendengar bel berbunyi. Naruto yang berjalan beriringan dengan Hinata sambil menyandarkan kepala pirangnya di lipatan kedua tangannya, mulai membuka sebuah percakapan.

"Hinata-chan,"

"Umm?"

"Walaupun di sana membosankan, tapi lain kali kita ke sana lagi ya!"

"Ya!" Hinata menjawabnya dengan tersenyum riang.

...

Taman kecil dengan beberapa pohon maple yang mengelilinginya, telihat sangat indah dengan hiasan daun maple yang berwarna hijau kemerahan akibat warna dari cahaya senja di sore hari. Naruto duduk disebuah ayunan sambil mengayunkan secara pelan ayunan tersebut, di samping kanannya ada gadis berambut biru tua dan bermata lavender yang juga duduk di ayunan sambil melihat ke arah matahari yang saat itu hampir tenggelam. Mereka duduk di ayunan disebuah taman bermain yang mulai sepi pengunjung itu setelah pulang dari sekolah, hanya untuk menikmati keindahan alam di sore hari serta melepaskan beban pikiran mereka sewaktu masih belajar di sekolah.

Hinata melihat ke arah Naruto dengan diam-diam, dia menyibabkan rambut panjangnya yang terhempas oleh angin. Mata polosnya menatap Naruto dengan bingung. Dia mulai membuka mulutnya untuk mengajukan sebuah pertanyaan ke padanya. "Naruto-kun, kalau boleh kutahu... Kenapa, kau mengajakku kesini?" Naruto menolehkan kepalanya ke arahnya, dia tersenyum manis mendengar pertanyaan Hinata.

"Aku ingin mengajakmu untuk melihat matahari yang terbenam, tapi kayaknya gedung itu menghalanginya." Naruto menjawab pertanyaan Hinata dengan mendengus sebal, dia menatap malas gedung yang berada di depan taman tersebut. Gedung yang menghalangi pandangannya untuk melihat matahari terbenam.

Hinata tertawa pelan melihat tingkah Naruto yang bagaikan anak-anak itu. Ini pertama kalinya dia bisa tertawa bersama dengan orang lain selain keluarganya, ini karena dia memiliki sifat yang pemalu sehingga membuatnya memiliki sedikit teman. Dia menatap wajah Naruto yang sebagian di terpa oleh cahaya senja, entah kenapa dia merona saat melihat pemandangan itu.

"Hinata-chan," Hinata tersadar dari pesona Naruto saat mendengar remaja berambut kuning itu memanggilnya, dia cepat-cepat membuang mukanya dari Naruto yang kini menatapnya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Menyesalkah kau berdekatan denganku?" Naruto melanjutkan ucapannya tadi yang berhenti mengayunkan ayunannya itu sambil melihat ke arah Hinata. Dia bertanya kepada Hinata.

Sedangkan Hinata yang mendengar pertanyaan Naruto tersebut, mengerutkan dahinya. Dia segera membalas tatapan Naruto yang tersenyum kepadanya dengan bingung. Heran kenapa Naruto bertanya seperti itu kepadanya. Dia menunggu Naruto untuk menjelaskan maksud dari pertanyaannya tersebut, tetapi remaja berambut kuning itu tidak memiliki tanda-tanda jika akan menjelaskan pertanyaannya tadi. Pada akhirnya, Hinata berusaha menjawab pertanyaannya tersebut.

"Umm, A-aku tidak menyesal, berada, didekat Naru-to-kun." Hinata menjawab semampunya.

"Benarkah?"

"Ya... Menurutku, Naruto-kun itu, orang yang baik dan.. Menyenangkan. Aku-aku juga merasa aman, saat berada di dekatmu. Dan lagi, sebelumnya, aku belum pernah sedekat ini, dengan, seseorang." Jelas Hinata panjang lebar, walaupun dia menjelaskannya dengan gugup tetapi jawabannya itu murni berasal dari Hinata. "Intinya, aku sangat senang berada di dekatmu, Naruto-kun." Lanjut Hinata lagi dengan senyum hangat yang mengembang di wajah cantiknya itu.

Naruto yang melihatnya, hanya bisa di buat merona olehnya. Diam-diam dia menutup sebagian wajahnya dengan tangan kananya untuk menyembunyikan rona merah yang muncul di wajah tannya.

"Begitu ya... Umm, sudah malam, kita pulang saja." Naruto berdiri dari ayunanya, dia mengambil tassnya yang tergeletak di samping ayunan yang didudukinya. Entah kenapa jantungnya merasa berdebar-debar saat melihat senyuman Hinata tadi. Dia mulai berjalan pelan meninggalkan taman bermain kecil tersebut dengan wajahnya yang masih terasa hangat, dengan Hinata yang mengikutinya dari belakang.

Mereka berjalan beriringan meninggalkan taman bermain tersebut dengan ditemani oleh sinar bulan yang bersinar dengan terang. Hinata yang berjalan di samping Naruto menatap lurus kedepan, menatap jalanan yang kini sudah mulai sepi walaupun baru pukul tujuh malam, mereka berjalan dengan diam. Hembusan angin malam menyentuh kulit kedua remaja tersebut, membuat rambut kuning dan biru tua itu menari-nari dengan lembut. Hinata yang merasakan hembusan angin menyentuh kulit lembut putihnya merasakan kedinginan, dia mulai mengusap-usap kedua telapak tangannya untuk menghagatkannya. Naruto yang berada disampingnya tampaknya tidak menyadari keadaan Hinata yang kedinginan itu.

"A-Aku lewat sini..." Hinata menunjuk arah kiri saat mereka berhenti melangkah di pertigaan jalan.

Naruto melihat ke arah Hinata yang menunjuk jalan berlawanan arah dari rumahnya itu. Kemudian dia menganggukan kepalanya dan membalas ucapan Hinata tadi, "Baiklah, jaa ne~."

Mereka berdua mulai berpisah di pertigaan jalan ini, Hinata mulai melangkahkan kakinya setelah membalas ucapan Naruto dengan sebuah anggukan. Baru dua langkah dia berjalan, tangan kanannya seperti ditarik oleh seseorang hingga tubuhnya berbalik. Orang yang menariknya, yang tidak lain adalah Naruto. Menarik ke arahnya, di peluknya pinggang yang ramping itu dengan tangannya. Wajahnya bergerak maju mendekati wajah Hinata yang masih kebingungan itu, di daratkan bibirnya ke arah bibir mungil Hinata dengan lembut. Hinata yang mendapatkan perlakuan seperti itu oleh Naruto, mendadak tubuhnya menegang bagaikan patung tanpa perlawanan.

Kedua remaja itu kini sedang berciuman dengan mesra ditemani oleh cahaya bulan yang sangat terang, seolah-olah bulan sedang tersenyum melihat kearah mereka berdua.

...

"Tadaima." Ucap Hinata sambil membuka pintu berwarna putih dan masuk kerumahnya.

"Onee-chan, darimana saja kau?" Ujar gadis berambut cokelat dengan paras yang mirip dengan Hinata begitu melihat Hinata datang sambil berbamain dengan ponselnya. Bukannya membalas ucapan kakaknya tersebut dengan ucapan selamat datang, dia malah mengajukan sebuah pertanyaan.

"Sekolah." Jawab Hinata singkat sambil merebahkan badannya di sofa samping dengan Hanabi, adiknya.

"Kau bohong, kenapa wajahmu memerah?" Tanya Hanabi lagi kepada Hinata. Kini dia berhenti bermain dengan ponselnya dan melihat wajah Hinata yang memerah.

"Ti-tidak apa-apa kok!" Hinata mulai bangkit dari duduknya, hendak menuju kamarnya.

"Kau pasti habis berpacaran!?" Tuduh Hanabi kepadanya, membuat wajah Hinata semakin memerah.

"A-a-apa yang kau katakan!?" Hinata menjawab pertanyaan Hanabi sambil berlari kearah anak tangga, menuju kamarnya.

"Ternyata benar! Akan ku adukan ayah loh!" Teriak Hanabi kepada Hinata yang berlari menuju kamarnya di atas. Dia tersenyum kecil melihat tingkah laku kakaknya yang aneh itu, kemudian Hanabi mulai bermain dengan ponselnya lagi dengan serius.

Tidak lama setelah Hinata berlari kekamarnya. Hiashi datang dari pintu yang sama dengan Hinata lewati tadi dengan tangannya yang membawa koper hitam, setelan jas kantornya tampak sedikit berantakan, dia juga mengenakan kacamata dengan lensa berbentuk korak. Dia melihat Hanabi yang sedang bermain dengan ponselnya kembali, tidak peduli atau mungkin tidak tahu bahwa dia sudah pulang.

"Tadaima." Ucap Hiashi pada akhirnya karena Hanabi tidak memperdulikannya. Dia melepas kacamata yang membingkai kedua matanya.

"Oh, Otou-san... Okaeri." Balas Hanabi yang baru saja mengetahui bahwa ayahnya sudah pulang. Hiashi hanya menghelas nafas, memaklumi sifat anak bungsunya.

"Lain kali, jangan berteriak terlalu keras. Ayah mendengarnya dari luar tadi. Mana Ibumu?"

"Eh? Anu... Di dapur." Jawab Hanabi kebingungan. Dia tidak tahu kalau suaranya dapat didengar oleh ayahnya dari luar. Sedangkan Hiashi melangkahkan kakinya menuju dapur sambil mengacak-acak rambut panjangnya, menemui istrinya.

.

.

.

...

.

.

.

To Be Continued...


Author Note's :

Hallo~

Saya minta maaf karena chapter 2 saya tulis ulang karena faktor tertentu, walaupun keliatannya sama saja. Dan saya minta maaf karena ceritanya pendek maupun kecepatan, itu karena saya kehabisan ide dichapter 2 dan saya juga masih newbie. Jadi mohon bimbingannya. T-T

Dan lagi, saya juga mengucapkan terimakasih banyak kepada pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk mereview, memfollow ataupun memfav fanfic gaje ini. Dan juga saya akan menjawab beberapa pertanyaan pembaca seperti, kenapa Hinata tidak mengenal Naruto walaupun mereka berdua satu kelas? Itu karena sifat Hinata yang pemalu dan jarang bersosialisasi di sekolah sehingga hanya mengenal beberapa orang saja. Dan juga FanFic ini terinspirasi dari anime yang berjudul Tonari no Kaibautsu-kun (Tontonlah, anime ini benar-benar lucu.) dan juga terinspirasi dari novel korea yang saya pinjam dari teman saya.

Sudah itu saja, dana terimakasih atas perhatiannyanya...

See you next time~