"Hinata."
Hening.
"Hei, Hinata, kenapa kau melamun?"
"Ah! Maafkan aku Kaa-san!" "Haah~, kau ini. Tolong potongkan wortel itu, jangan sambil melamun ya."
"Ha'i."
Hyuuga Hinata saat ini sedang membantu Ibunya memasak makan malam, dia diberi tugas oleh Ibunya untuk memotong sebuah wortel berukuran cukup besar. Dia mengambil pisau yang disodorkan oleh Ibunya, lalu dia memotong wortel itu dengan lihai. Saat dia sedang memotong wotelnya, mendadak wajahnya menjadi merah, dia teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu dengan remaja berambut kuning cerah. Dia mulai melamun kembali, sampai-
"Ah!"
"Kenapa Hinata?"
"Kaa-san! Jariku berdarah!"
"Astaga, Hinata! Ibu tadi sudah bilang jangan melamun! Ceroboh sekali kau itu!"
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Comedy, Frienship, Etc.
Rated : T
Warnings : Typo(s), Melenceng dari EYD, OOC!, Gaje, Dan kecacatan lainnya, dan jika tidak suka silahkan klik tombol 'BACK'
.
.
.
-Don't Like, Don't Read-
Chapter 3
Sparkle
Korden berwarna biru muda di sisi jendela berterbangan terhempas oleh angin pagi yang masuk melalui jendela kamar. Terik matahari yang masuk lewat celah jendela kamar menerpa sebagian tubuh remaja berambut kuning yang masih asyik memeluk guling di atas kasur empuknya. Jam berbentuk bulat di sampingnya sudah berdering sejak lima menit yang lalu, namun sang empunya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Naruto, nama remaja berambut kuning itu yang masih terlelap tidur itu, justru kembali bergulat dengan gulingnya, berusaha untuk kembali ke alam mimpi.
Berantakan, adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan kamar ini. Bantal berserakan di lantai, charger laptop dan handphone yang melilit satu sama lain, hingga beberapa sampah plastik, botol kaleng jus buah, dan cup ramen yang kosong bertebaran di lantai maupun meja belajarnya yang tak pernah di gunakannya itu.
"Naruto! Sudah pagi! Bangunlah!" Pria setengah baya berambut putih panjang berantakan yang di ikat kebelakang, memasuki kamar Naruto yang berantakkan melebihi dari kandang hewan itu. Jiraiya, nama pria setengah baya itu yang sedang berkacak pinggang dengan celemek warna putih yang menggantung di tubuhnya.
"Lima menit lagi Kakek..." Dengan mata yang masih tertutup dan suara parau, Naruto memohon lima menit lagi kepadaorang yang disebut dengan kakek olehnya itu.
Jiraiya memunguti bantal-bantal yang berserakan di lantai kamar itu, lalu dia berjalan ke arah Naruto yang sedang terlelap. Dengan tanpa perasaan, di menyeret kaki Naruto hingga sang empu pemilik kaki itu terjatuh ke lantai dengan kerasnya.
"Ittaii!" Seketika itu juga Naruto berteriak sangat keras saat wajah tannya mencium lantai, membuat kedua kelopak matanya terbuka dengan lebar.
"Bodoh! Lima menit bagimu setara dengan satu jam! Ini sudah jam tujuh lewat lima menit! Kau ingin sekolah atau tidak!?" Jiraiya berteriak marah pada cucunya yang menyepelekannya itu.
"Menyebalkan!" Balas Naruto tak kalah sengitnya dari Jiraiya.
Akhirnya Naruto memilih untuk bangkit dari gaya jatuhnya itu sambil mengelus-elus wajahnya yang merah. Dia melangkah menuju kamar mandi mengabaikan Jiraiya yang sedang marah-marah padanya, diambilnya shower dan mulai berkecimpung di dunia airnya setelah melepaskan semua pakaiannya. Setelah selesai mandi, Naruto melangkah keluar dari kamar mandi dan mengambil seragam SMA Konoha yang menggangtung di kursi meja belajarnya, dia mengenakan pakaian itu satu persatu dengan santainya walaupun jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang sepuluh menit, dia benar-benar akan terlambat ke sekolahnya.
Naruto keluar dari kamarnya menuju meja makan, dimana Jiraiya sedang menyiapkan sarapan pagi berupa sandwich daging sapi. Naruto mengambil salah satu sandwich itu dengan terburu-buru. Jiraiya yang melihat tingkah Naruto hanya bisa menghela nafas, terkadang dia frustasi dengan cucunya yang susah diatur itu. Naruto tidak peduli dengan Jiraiya dan melangkah pergi dengan sandwich yang tergigit di bibirnya, dari dapur menuju ke pintu keluar. Dia berbalik sebentar untuk melihat Jiraiya yang kini sudah duduk di meja makan sambil memakan sandwichnya, ditemani dengan secangkir kopi hitam.
"Kakek, aku berangkat dulu."
"Lain kali, jika tidak ingin telat masuk bangunlah lebih awal."
"Tch!" Decak Naruto kesal, membalas suara menyebalkan yang keluar dari mulut Jiraiya. Terkadang Kakeknya itu bisa berubah menjadi menyebalkan sekali baginya. Kemudian Naruto mulai keluar dari tempat tinggalnya, angin menerpa wajah tannya saat membuka pintu kayu berwarna cokelat itu. Rambut kuningnya menari-nari saat angin pagi menerpanya, dengan langkah cepat Naruto mulai berlari keluar dari rumahnya tanpa menutup pintunya terlebih dahulu, membuat Jiraiya mendengus kesal melihat tingkah lakunya.
Setelah 10 menit berlari dengan lambat sambil mulutnya yang mengunyah Sandwich, akhirnya terlihat atap halte yang semakin dekat. Satu-satunya halte yang ada di daerah Naruto. Di halte tersebut sudah ada beberapa orang yang hendak pergi ke sekolah atau berangkat kerja dan juga bus yang berhenti di sana.
Naruto mulai melambat larian yang sudah lambat itu, dia berjalan dengan santai. Naruto melihat dari kejauhan para pemumpang yang memasuki bus itu satu persatu hingga penumpang terakhir, dia mulai tersadar dari jalan santainya saat bus itu sudah melaju dengan mulusnya. Naruto berlari dengan sangat kencang mengejar bus yang telah meninggalkannya itu.
Dia mulai berlari mengejar bus yang telah melaju dengan agak kencang itu tanpa menghiraukan kedua kakinya yang mulai lelah, dia menyemangati dirinya sendiri agar terus berlari. Naruto terus memacu kakinya untuk terus berlari dengan cepat. Dia berhasil tepat di belakang bus dan mengambil jalur kiri hingga kini mereka sejajar. Tangannya memukul badan bus agar berhenti, namun bus itu tetap melaju. Dan pada akhirnya dia menyerah untuk mengejar bus itu karena kakinya yang berteriak kesakitan. Dia mulai menunduk kelelahan seraya mencaci maki bus yang tidak bersalah itu, yang sebenarnya bersalah atas kejadian di pagi hari ini adalah dirinya sendiri karena susah untuk bangun pagi.
"Hei kawan, kau baik-baik saja?"
Naruto yang sedang mencoba mengatur nafasnya yang tersengal sambil menyeka keringat yang merembes keluar dari keningnya, menolehkan kepalanya ke arah orang yang baru saja menanyakan keadaannya itu. Dia mendapati orang yang mungkin seumuran dengannya itu yang memiliki ciri-ciri rambut hitam yang diikat keatas mirip dengan daun nanas dan mengenakan pakaian yang sama dengannya, yaitu seragam SMA Konoha. Orang itu sedang memegangi jok sepedanya, menjadikan tangannya sebagai penyangga agar sepeda itu tidak jatuh.
"Siapa kau?" Tanya Naruto melihat orang itu. Rambut pirangnya tampak basah karena keringat dan nafasnya masih belum teratur.
"Shikamaru. Naiklah, kau ingin ke sekolah Konoha kan?" Jawab orang itu menyebutkan namanya, dia juga menyuruh Naruto untuk menumpang dengannya.
Naruto yang tampaknya tidak memiliki alasan dan mulai menaiki sepeda Shikamaru di boncengan belakangnya. Shikamaru mulai mengayuh sepedanya dengan santai setelah Naruto sudah naik di kursi belakang sepedanya yang khusus untuk penumpang.
"Hei, jika tidak cepat-cepat nanti kita akan terlambat." Naruto berkata kepada Shikamaru yang mengayuh sepedanya dengan lambat itu.
"Santai saja, hari ini gurunya mungkin akan terlambat masuk." Shikamaru melirik Naruto yang memgang pinggangnya dengan tangan kirinya.
"Darimana kau tahu?"
"Karena kita satu kelas... Err... Bisakah jangan kau taruh tanganmu di pinggangku?" Naruto yang menyadarinya, melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Shikamaru.
"Aku tidak pernah melihatmu?"
"Terimakasih. Itu karena kau jarang memperhatikan sekitarmu." Jawab Shikamaru sambil berterimakasih atas tindakan Naruto yang melepaskan tangannya dari tanganya dari pinggangnya itu. Dia masih normal.
Sepeda milik Shikamaru berjalan lambat dijalanan kota Tokyo yang tampak padat itu. Sedangkan Sikamaru dan Naruto masih terus bercakap-cakap, walaupun kebanyakan Narutolah yang bertanya kepada Shikamaru.
Setelah kurang lebih lima belas menit perjalanan, akhirnya kedua remaja tersebut sampai di temapat yang dituju mereka. Sepeda Shikamaru berjalan melewati gerbang yang tampak terbuka dengan lebar itu tanpa ada sosok Tazuna yang berada di sana, Shikamaru memarkirkan sepedanya di antara jajaran sepeda lainnya yang terparkir dengan rapi di parkiran sepeda. Kemudian kedua remaja tersebut bergegas memasuki gedung SMA Konoha yang tampak besar itu.
Naruto membuka pintu kelas 1-C yang tampak sangat ramai itu, ternyata benar apa yang diucapkan Shikamaru tadi di jalan bahwa guru pengajar pelajaran matematika mereka belum datang. Naruto kemudian memasuki kelas itu dengan Shikamaru yang mengikutinya dari belakang sambil menguap dengan lebar, dia duduk di samping gadis berambut biru tua panjang yang sedang membaca buku dengan serius walaupun keadaan kelas yang sangat ramai itu. Naruto kini mulai memandangi Hinata.
"Ohayou Hinata-chan!" Sapanya pada gadis itu dengan senyum lebarnya.
Sementara itu gadis yang bernama Hinata itu menolehkan kepalanya kearah Naruto, wajahnya mendadak memerah saat melihat Naruto. Dia menjadi teringat dengan kejadian kemarin malam, lalu dengan cepat dia membuang wajahnya untuk menghindari tatapan Naruto. "O-ohayou, Naru-Naruto-kun." Balasnya dengan suara yang sangat pelan.
Naruto yang melihat tingkah aneh Hinata, mulai bertanya padanya, "Ada Hinata-chan?
Hinata merasa bingung dengan Naruto yang tampak biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Apakah dia amnesia sehingga tidak mengingat kejadian kemarin malam? Tanya Hinata kepada hati kecilnya. Hinata masih enggan untuk menatap Naruto, dia masih teringat dengan kejadian kemarin sehingga mengabaikan pertanyaan Naruto, dan bahkan mengabaikan remaja berambut kuning itu yang kini sedang memanggil-manggil namanya itu.
"Hinata-chan. Apa Hinata-chan membenciku saat ini?" Tanya Naruto mendadak pada Hinata yang mengabaikannya. Dia takut kalau-kalau Hinata mulai membencinya setelah apa yang dilakukannya kepadanya kemarin. Ya, Naruto sebenarnya ingat tentang kejadian kemarin, hanya saja dia malu untuk meminta maaf kepadanya.
"Ak-aku tidak membenci, mu kok!" Balas Hinata dengan panik. Dia buru-buru menolehkan kepalanya ke arah Naruto. Wajahnya kini disembunyikannya di balik buku yang menutupi rona merahnya.
"Ha-hanya saja-."
"Aku minta maaf! Aku tahu kalau aku salah!" Mendadak Naruto berteriak ke arahnya, memotong ucapannya sambil menundukkan kepalanya. Perbuatannya menarik seisi kelas yang awalnya ramai mulai mendadak sepi. Kini semua mata tertuju ke arah mereka, membuat Hinata semakin panik. Dia buru-buru melambaikan tangannya kepada Naruto.
"Ti-ti-tiidak! Kau, tidak salah Naru-naruto-kun!" Ucapnya panik dengan tangan yang melambai-lambai kepada Naruto. Meminta agar Naruto berhenti dari sikapnya yang membuat semua mata tertuju kepada mereka.
"Hinata-chan? Jarimu kenapa?" Tanya Naruto saat melihat jari-jari Hinata yang dilapisi oleh plester berwarna cokelat muda itu. Kini pandangan semua orang-orang sudah tidak tertuju pada mereka, walaupun mulai terdengar bisik-bisik yang membuat telinga risih. Naruto mengabaikan itu.
"Eh? Ah.. Tidak apa-apa kok." Jawab Hinata berbohong kepada Naruto dengan senyum di wajahnya.
Naruto mulai meraih tangan Hinata, dia mengusap-usap jari telunjuk Hinata yang dilapisi plester dengan lembut. Hinata tampak tercengang dengan perilaku Naruto, dia memalingkan wajahnya yang mulai memanas.
"A-apa yang kau, kau lakukan?" Ucap Hinata dengan terbata. Gugup dengan tingkah Naruto yang sedemikian dengannya itu.
"Lain kali, berhatilah-hatilah... Hinata-chan." Balas Naruto dengan senyum diwajahnya. Hinata yang melirik sekilas ke arahnya mendadak wajahnya bagaikan kepiting rebus, sangat merah. Naruto yang melihat Hinata hanya tersenyum saja, tangannya masih mengusap-usap jari-jari Hinata yang terbungkus oleh plester.
...
Berbagai lukisan yang mulai dari berbentuk kupu-kupu hingga gambaran yang tak jelas bentuknya, terpajang di dinding kamar Hinata. Buku-buku dengan berbagai macam ukuran tertata dengan rapi di rak buku dekat lemari belajar Hinata. Jika kebanyakan kamar perempuan memajang boneka maupun benda-benda imut lainnya di setiap sudut kamarnya, berbeda dengan Hinata yang memajang lukisan hasil tangannya sendiri maupun buku-buku tebal yang menghiasi kamarnya. Saat ini Hinata duduk di meja belajarnya, sibuk dengan buku-buku yang sedang dibacanya dengan diam.
"Hinata! Ada tamu! Tolong bukakan pintunya!" Tiba-tiba ibunya berteriak dari arah dapur.
Hinata baru ingat jika adiknya Hanabi sedang pergi kerumah neneknya dan baru pulang besok, jadi dialah yang akan mengambil beberapa tugas Hanabi, termasuk membuka pintu. Hinata mulai keluar dari kamarnya dan melangkah menuju pintu kayu yang dicat putih. Dia meraih handle pintu dan membukanya, terlihat pria tampan yang tersenyum ke arahnya saat dia membukakan pintu.
"Neji Nii-san?" Hinata tersenyum gembira saat mengetahui sepupunya yang datang dari jauh berkunjung kerumahnya.
"Konbanwa Hinata." Sapa pria tersebut dengan ramah.
Hinata mempersilahkan sepupunya itu untuk duduk, kemudian dia segera berlari ke arah dapur untuk memanggil Ibunya. Sedangkan Neji, nama pria itu duduk dengan tenng di sofa rumah tersebut. Mata yang agak putih miliknya menjelajahi seisi rumah tersebut, tidak ada yang berubah dari rumah ini kecuali hiasan seperti vas bunga atau foto yang tertempel didinding sedikit bertambah dari terakhir kali dia kemari.
"Ya ampun Neji! Kau akhirnya berkunjung ke mari juga." Wanita berambut senada dengan rambut Hinata yang diikat model ponytail muncul dari dapur dengan celemek biru yang menempel di badannya. Wanita itu menyambut Neji dengan hangat. "Apa yang membuatmu kemari Neji?" Lanjut wanita itu.
"Aku sedang libur kuliah, jadi Otou-sama menyuruhku untuk liburan di sini." Jawab Neji dengan tenang, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Benarkah?"
"Iya, bibi." Neji menjawabnya dengan mantap.
Hinata berjalan dari dapur sambil membawa nampan berisi teh hijau, dia menaruh teh hijau tersebut di meja depan Neji. Neji yang melihat Hinata semakin lebar senyumnya. Sudah lama dia tidak melihat Hinata, terakhir kali melihat Hinata saat rambutnya masih pendek. Hinata mulai duduk di samping ibunya.
"Wah, Hinata. Kau semakin cantik ya." Goda Neji kepada Hinata. Hinata yang di goda oleh sepupunya itu hanya bisa menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ibu Hinata yang melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa tertawa. Kemudian Neji yang menyadari bahwa ada yang kurang, bertanya kepada bibinya.
"Dimana paman dan Hanabi? Aku tidak melihat mereka berdua." Tanyanya sambil meminum teh hijau yang sudah disediakn.
"Oh, mereka berdua pergi kerumah nenek. Terpaksa Hanabi harus ijin beberapa hari."
"Hanya berdua saja? Kenapa bibi dan Hinata tidak ikut?" Tanya Neji sambil meletakkan gelas kaca berisi teh hijau itu ke meja.
"Tadi bibi ada urusan sehingga tidak bisa ikut pamanmu, sedangkan Hinata sebentar lagi akan ujian. Benarkan Hinata?"
"Ah, iya." Jawab Hinata saat ibunya bertanya kepadanya. Neji hanya menganggukkan kepalanya, tanda bawha dia paham.
"Oh, astaga! Aku lupa sedang memasak!" Ibu Hinata mulai ingat kalau dia sedang memasak di dapur sebelum keponakannya itu datang. Dia mulai bergegas menuju dapur.
Hinata yang melihat ibunya hanya menghela nafas saja, sedangkan Neji menggelengkan kepalanya. Ternyata sifat ceroboh bibinya belum hilang. Kini mereka hanya duduk berdua saja di ruang tamu setelah ibu Hinata pergi ke dapur. Hening terjadi diantara mereka berdua, sebelum Neji membuka percakapan.
"Hinata, kenapa kau semakin menjadi pendiam sekarang?" Neji bertanya kepada Hinata dengan senyum tipis di wajahnya. Menyadari bahwa Hinata sekarang lebih pendiam dari beberapa tahun yang lalu. Hinata hanya bisa tersenyum menanggapinya, tidak tahu harus menjawab apa.
"Jika begini, bagaiman kau akan mendapatkan pacar?" Lanjut Neji, mencoba menggoda Hinata.
Hinata yang mendengarkan ucapan Neji, mendadak teringat dengan remaja berambut kuning dengan mata biru sapphire yang sedang tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya. Gambaran itu terlalu jelas di otak Hinata, hingga membuat gadis bermata lavender itu tertunduk dengan wajah memerah. Neji yang melihat gerak gerik Hinata tersenyum penuh puas karena tampaknya dia berhasil menggoda Naruto.
...
"Hachim!"
Tampak remaja berambut kuning sedang bersin disela-sela tawanya yang sedang menonton televisi. Dia mulai mengusap hidungnya yang tampak mengeluarkan cairan bening. Saat ini, Naruto beserta Jiraiya sedang menonton salah satu acara lucu yang ada di televisi. Kakek dan cucu tersebut tampak damai tidak ada perseteruan diantara mereka, tidak seperti tadi pagi. Bahkan kini Naruto melanjutkan tawanya sambil berguling-guling di atas lantai sambil memegangi perutnya.
Jiraiya mengambil gelas kaca yang berisi teh, kemudian diameminum tehnya itu untuk membersihkan tenggorokkannya yang terasa kering karena tertawa tadi. Naruto kini kembali duduk di sofa. Nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja melakukan lari jauh, padahal itu akibat dia yang tertawa terus-menerus. Jiraiya yang melihatnya kemudia mengajukan pertanyaan kepada cucu itu, "Bagaimana keadaan gadis yang datang kerumah kita beberapa hari yang lalu?"
"Maksudmu Hinata? Dia baik-baik saja." Jawab Naruto sambil memainkan helaian rambut pirangnya.
"Begitu... Kau menyukainya?"
"Entahlah." Jawab Naruto singkat. Dia tidak tahu kalau dirinya menyukai Hinata atau tidak, tetapi terkadang merasakan jantungnya berdebar-debar saat beradabersama Hinata.
Jiraiya yang melihat Naruto yang menunduk mulai mengucapkan kata-kata lagi, "Aku bahkan menyukainya loh."
"Hah?!"
.
.
.
...
.
.
.
To Be Continued...
Author Note's :
Kritik dan saran kalian akan saya terima dengan baik. Maaf bila penulisan saya terkesan cepat dan kaku, saya masih butuh belajar, sekali lagi mohon maaf.
Sekian dan Terimakasih atas perhatiannya~
See you next time~
