"Hoy kuning!"

"Hah? Kuning?"

"Iya! Aku memanggilmu kuning! Kau tuli ya?!"

"Kau cari mati ya?"

"Terserah kau saja, cepat serahkan uangmu atau kami pukul kau! Kami butuh uang sekarang!"

Perempatan muncul di dahi seorang remaja berambut kuning saat ada seseorang yang memalaknya ketika dia sedang berjalan-jalan sendirian di taman kota di hari libur sekolah dan mungkin kerja sedunia ini, hari Minggu. Dia melihat ke arah empat orang berandalan yang sedang mengacungkan tangannya ke arah dirinya dengan wajah angkuh. Jika dilihat dari penampilannya, tampaknya empat orang itu masih seumuran bocah SMP.

Naruto, nama remaja berambut kuning itu kini menggulung kedua lengan panjang bajunya. Dia menatap keempat bocah tengik itu dengan wajah bengisnya, kemudian tanpa ba bi bu lagi dia langsung menghajar keempat bocah yang berani memalak dirinya itu tanpa ampun sambil tertawa ala psychopath. Para orang-orang yang sedang berjalan di sekitar dirinya, melihat Naruto yang sedang menghajar keempat bocah SMP itu dengan tatapan ngeri.

'Tsadesss!' Batin salah satu orang yang sedang menatap mereka dari kejauhan.


.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Comedy, Frienship, Etc.

Rated : T

Warnings : Typo(s), Melenceng dari EYD, OOC!, Gaje, Dan kecacatan lainnya, dan jika tidak suka silahkan klik tombol 'BACK'

.

.

.

-Don't Like, Don't Read-


Chapter 4

Sparkle


"Naruto!" Shikamaru memanggil Naruto yang sedang asyik memukuli empat orang di tengah-tengah taman kota, tidak lupa dengan tawa anehnya yang masih keluar dari mulutnya.

Taman kota yang cukup luas dan sangat ramai dikunjungi orang, terutama saat pagi maupun sore hari. Dari anak kecil, remaja, hingga orang tua banyak yang datang mengunjungi taman ini untuk berolahraga atau sekedar menikmati pemandangan taman dengan air mancur cantik nan indah yang menjadi pusatnya. Pohon-pohon yang rindang mengelilingin taman itu juga membuat banyak orang betah berlama-lama di sana hanya sekedar menikmati keindahannya ataupun melamun tak jelas.

Naruto berhenti memukuli keempat bocah tengik itu dan membalikkan badan, dia melihat Shikamaru yang berlari ke arahnya. Remaja yang memiliki nama lengkap Nara Shikamaru ini selalu terlihat dengan rambut hitamnya yang diikat seperti nanas dan juga wajahnya yang selalu tampak mengantuk di manapun kapanpun dia berada.

"Rupanya kau Shikamaru." Ucap Naruto pada Shikamaru yang sedang berlari ke arahnya itu. Dia mengernyit heran saat melihat Shikamaru yang memakai celana panjang olahraga berwarna hijau tua dengan garis-garis kuning berada di sisi samping celananya dan mengenakan baju kaos olahraga berwarna hitam dengan gambar centang kecil berwarna hijau terang di dada kirinya, padahal jam segini biasanya Shikamaru masih tidur. Bagaimana Naruto bisa tahu padahal dirinya baru mengenal Shikamaru beberapa hari yang lalu? Itu karena dia sering melihat Shikamaru yang tertidur setiap kali pelajaran dimulai di kelas, jika di kelas saja dia tertidur dengan lelap bagaimana jika di rumahnya. Begitulah asumsi Naruto saat itu tentang Shikamaru.

Shikamaru berhenti di samping Naruto. Dia bisa melihat keempat orang yang tadi dihajar oleh Naruto yang kini wajah keempat orang tersebut terdapat banyak lebam biru dan darah yang keluar dari hidung maupun sela-sela bibir mereka, bahkan dia bisa melihat gigi mereka yang patah. Benar-benar pemandangan yang mengerikan.

"Apa yang kau lakukan pada mereka?" Shikamaru melihat keempat orang yang sudah dianiaya oleh Naruto itu dengan wajah prihatin.

"Ini akibatnya jika mereka berani meminta uang kepadaku." Jawab Naruto yang tampaknya masih kesal itu.

"Hentikanlah memukuli mereka, kau menarik perhatian orang-orang."

Naruto mengangguk sekilas lalu melihat orang-orang yang sedang menatapnya dengan wajah tak peduli, sedangkan orang-orang yang menatapnya kini mulai berhenti menatap Naruto dan melanjutkan aktifitas mereka yang sempat tertunda tadi. Seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi sama sekali.

"Oh iya! Kenapa kau berada di sini Shikamaru?" Naruto bertanya kepada Shikamaru sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

"Memangnya kenapa? Kau pikir aku akan tidur sepanjang hari karena hari libur begitu? Asal kau tahu saja Naruto, aku rela ber-jogging setiap pagi di hari libur untuk menghindari ibuku yang selalu menyuruhku ke pasar setiap hari libur." Shikamaru berbicara dengan cepat yang sulit untuk Naruto mengerti.

"Apa yang kau bicarakan Shikamaru? Bicaralah pelan-pelan. Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan sama sekali."

"Lupakan saja." Shikamaru berkacak pinggang sambil menguap, sia-sia dia menjelaskannya kepada Naruto.

Di sudut taman yang lain terlihat seorang gadis berambut pirang keemasan yang diikat empat di belakang rambutnya. Dia sedang memperhatikan Shikamaru dengan tangannya mengelus-elus dagunya, memastikan kalau dia adalah Shikamaru atau bukan. Tampaknya Shikamaru dan Naruto menyadari keberadaan gadis itu.

"Yo Temari." Ucap Shikamaru ke arah gadis itu sambil melambaikan tangannya.

"Ternyata benar kau, Shikamaru." Gadis itu menghampiri Shikamaru. Tersenyum kecil saat memandangi Shikamaru, dia melambai kecil membalas lambaian Shikamaru.

"Ada apa Temari?" Tanya Shikamaru kepada gadis yang bernama Temari itu sambil menguap lagi.

"Tidak, aku kebetulan melihatmu di sini saat ingin kembali pulang."

"Oh, kau baru pulang dari rumah orang tuamu di Yokohama ya?" Shikamaru menebak seperti itu saat melihat tas dan koper besar yang berada di tangan gadis tersebut.

"Iya, aku benar-benar lelah melewati pejalanan panjang dari Yokohama ke Tokyo." Curhat gadis itu kepada Shikamaru. Sedangkan Shikamaru hanya mengangguk paham mendengar curhatan gadis itu.

"Pantas saja aku tidak melihatmu selama satu minggu ini. Ya sudah, kau pulang saja dan langsung istirahat."

"Oke! Jaa... Shikamaru." Gadis itu melangkahkan kakinya setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Shikamaru yang hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas.

"Tunggu!" Naruto tiba-tiba saja berteriak memanggil gadis yang baru saja berbicara dengan Sehikamaru tadi.

Gadis itu berhenti tanpa membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Naruto. Shikamaru mengerutkan dahinya sambil menguap untuk yang kesekian kalinya, mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh Naruto terhadap gadis yang dikenalnya itu. Naruto memegang tangan gadis itu, dan perlahan tapi pasti gadis bernama Temari itu membalikkan badannya.

'PLAK!'

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Naruto bung! Tamparan yang cukup keras hingga membuat remaja berambut pirang itu jatuh tersungkur sambil memegangi pipinya yang terasa panas itu. Melihat hal itu, Shikamaru menahan tawanya hingga pipinya mengembang.

"Aku tidak mengenalmu. Jangan menyentuhku!" Ucap Temari sesudah melakukan tindakan yang tidak berperasaan itu dan berjalan meninggalkan mereka sambil membawa tas dan kopernya yang besar.

Shikamaru berjalan mendekati Naruto. Ditatapnya Naruto yang masih syok karena kejadian yang baru saja menimpanya. Shikamaru membantu Naruto berdiri. Tamparan itu benar-benar keras hingga menimbulkan bekas merah berbentuk telapak tangan di pipi Naruto, pikir Shikamaru.

"Shikamaru... Ah... Apa salahku?" Naruto memegangi pipinya yang masih terasa sakit itu. Suaranya terdengar begitu polos di telinga Shikamaru.

"Kau tidak bersalah. Hanya saja dia cukup sensitif kepada orang yang belum dikenalnya. Atau, apa mungkin dia pernah mengenalmu?" Shikamaru menjelaskan apa yang ada dipikirannya itu kepada teman satu kelasnya.

'PLAK!'

Naruto menampar Shikamaru. Membalas tamparan Temari kepada dirinya yang tidak lain adalah kenalan Shikamaru tersebut.

"Kenapa kau menamparku?! Apa salahku!?" Shikamaru mulai naik pitam. Dia Memegangi pipinya yang memiliki tanda yang sama dengan tanda yang berada pipi Naruto.

"Itu yang aku rasakan! Dan itu pertanyaan yang akan ku tanyakan pada wanita itu! Kalau dia menemuimu lagi, tanyakan padanya hal yang baru saja kau ucapkan tadi." Naruto menyeringai karena sukses membuat Shikamaru merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Shikamaru tidak menyangka bahwa Naruto, teman satu kelasnya ternyata memiliki pikiran yang benar-benar kreatif di balik penampilannya yang bodoh itu.

"Hinata-chan. O-ha-you~." Naruto berbisik dari belakang Hinata. Gadis bermata lavender itu terkejut dan menolehkan kepalanya.

"Na-naruto!?" Hinata yang masih terkejut saat menolehkan kepalanya mendapati ada Naruto yang sedang berdiri di belakangnya dengan senyum lima jarinya.

"Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini!" Naruto duduk di sampingnya, sangat dekat dengannya di kursi panjang yang tersebar mengelilingi air mancur pusat taman kota tersebut.

"Ya." Hinata menjawab singkat, dia masih belum terbiasa dengan sikap Naruto.

"Sedang apa kau di sini Hinata-chan?" Naruto mengamati gadis berambut biru tua tersebut.

"Umm, hanya, mencari... Udara segar, saja." Hinata berbicara padanya dengan pupil mata yang bergerak liar, tanda bahwa dia gugup. Naruto hanya mengangguk saja.

Saat ini Naruto dan Hinata sedang menatap air mancur yang menyembur ke atas lalu turun lagi ke bawah dengan derasnya. Sinar matahari yang perlahan-lahan mulai naik, melapisi air mancur tersebut sehingga tampak berkilau. Naruto yang tadi melihat Hinata sedang duduk sendirian di kursi panjang di taman kota sedang menatap air mancur dengan matanya yang tampak penuh minat itu menghampirinya segera. Sedangkan Shikamaru yang tadi bersamanya, kini sudah pulang terlebih dahulu saat ponselnya berdering. Mereka kini sedang duduk bersebelahan.

"Bagaimana dengan jarimu yang terluka Hinata-chan? Masih sakit kah?" Naruto menatap jari-jari Hinata yang masih di plester cokelat itu.

"Se-sedikit sih, saat mengangkat barang dengan tangan kiri dan, saat sedang mandi, ter-terkadang masih sakit." Susah payah Hinata menjelaskan kondisi jarinya kepada Naruto. Hinata benar-benar gugup saat berdekatan dengan Naruto, dia akan teringat kejadian yang sebelum-belumnya.

"Lain kali berhatilah-hatilah Hinata-chan."

"Ka-kau sudah mengatakan itu, kemarin-kemarin."

"Siapa tahu kau lupa Hinata-chan, Hihi."

Saat mereka sedang berbincang-bincang dengan asyiknya, ada sepasang mata berpupil agak putih yang menatap tajam ke arah mereka dari belakang. Kemudian orang itu yang ternyata adalah Neji, sepupu Hinata menghampiri mereka berdua dengan rambut panjangnya yang berkibar akibat tertiup angin menambah efek dramatis itu. Tanpa basa-basi, Neji langsung menjauhkan wajah Naruto dari Hinata dengan telapak tangannya, meminta agar Naruto menjauh dari adiknya itu.

"Hei!" Naruto tampak tidak terima saat diperlakukan seperti itu, dia menolehkan kepalanya pada seseorang yang baru saja mengganggunya itu. Sedangkan Hinata tampak terkejut untuk yang kedua kalinya.

"Jangan dekat-dekat pada Hinata... Bodoh." Neiji menatap tajam ke arah Naruto.

"Siapa kau brengsek?!" Naruto berdiri dari kursinya, dia menatap Neji dengan tatapan yang tak kalah tajam darinya itu.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu brengsek!"Neji membalas ucapan Naruto dengan tidak kalah kerasnya itu.

"Kau! Ada masalah apa kau denganku buta? Hah?!"

"Siapa yang kau sebut buta kuning bodoh!?"

"Grrrr!"

Hinata terlihat begitu bingung melihat tingkah laku temannya dan sepupunya itu. Dia duduk dengan gelisah dan menatap kedua orang yang saling memelototi satu sama lain. Naruto dan Neji sedang beridiri di hadapannya, mata mereka saling bertatapan dengan tajam, bahkan tampak percikan listrik di sana. Naruto menatap Neji dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Neji sama saja dengan Naruto. Hinata tampak berpikir untuk menghentikan tingkah mereka yang saling berpandangan dengan tajam itu.

"A-ano-." Akhirnya Hinata memberanikan diri untuk berucap. Tapi langsung di potong oleh kedua manusia yang berdiri di hadapannya.

"Hinata-chan! Siapa si buta ini?!"

"Hinata! Siapa si kuning bodoh ini!"

Kedua orang itu mengucapkannya secara bersamaan dan menatap ke arah Hinata, meminta penjelasan kepadanya. Hinata yang di tatap oleh Naruto dan Neji sempat menyentakkan bahunya, kemudian dia berusaha menjelaskannya kepada mereka berdua.

"Naruto-kun dia adalah sepupuku yang datang dari Sapporo, namanya adalah Neji. Neji Nii-san, dia adalah Naruto, temanku!" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya saat menjelaskannya, nafasnya tampak terputus-putus setelah selesai menjelaskannya tanpa nadanya yang terputus-putus.

Naruto dan Neji yang sudah mendapatkan penjelasan dari Hinata, memandang satu sama lain sebelum tangan mereka terjulur untuk bersalaman dengan mata mereka yang menatap tajam satu sama lain. Hinata yang melihatnya tersenyum lebar. Tulang pipinya bergerak naik hingga matanya yang bulat itu berubah menjadi garis bulan sabit yang cantik.

"Perkenalkan namaku Hyuuga Neji, kakak sepupu dari Hinata." Neji memperkenalkan dirinya lebih dulu dengan senyumnya yang angkuh.

"Namaku Uzumaki Naruto! Teman Hinata-chan!" Kemudian Naruto yang memperkenalkan dirinya dengan senyum bangganya yang terpampang di wajah angkuhnya.

"Baguslah jika kau hanya temannya." Ucap Neji lagi dengan senyumnya yang masih setia di wajahnya.

"Memangnya kenapa?" Naruto membalas ucapan Neji dengan tatapan tajam tetapi senyumannnya masih ada di wajahnya.

"Tidak, hanya saja jika lebih dari itu akan kuremukkan tulangmu itu." Neji membalas tatapan tajam Naruto. Tangannya yang masih bersalaman dengan Naruto mulai mengeratkan genggamannya itu.

"Aku tidak tahu apa maksudmu brengsek." Naruto membalas genggeman tangan Neji dengan begitu eratnya.

"Kau terlalu bodoh untuk memahami ucapanku sialan."

Hinata yang melihat mereka berdua sedang meremas tangan satu sama lain hanya bisa menghela nafas saja, dia mulai memijat-mijat keningnya dengan pelan, mulai jengah dengan sikap mereka. Dan pada akhirnya Hinata mulai berdiri dari bangku yang di dudukinya, dia mulai berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Mata lavendernya merasa lelah menatap Naruto dan Neji yang saling bertengkar terus menerus.

Naruto dan Neji yang melihat Hinata pergi, mulai mengejarnya. Mereka mengikuti kemanapun Hinata pergi dengan mata masih bertatapan itu. Terkadang mereka berdua beradu mulut kembali, tetapi berhenti setelah Hinata menatap ke arah mereka dengan datar. Tidak lama kemudian, Hinata mendadak berhenti di depan truk penjual es krim yang di kerumini oleh banyak anak kecil itu. Dia melangkah mendekati truk itu.

"Hinata-chan, kau ingin es krim itu? Aku bisa membe-."

"Akan ku belikan es krim itu untukmu Hinata, dan mungkin temanmu ini juga akan ku belikan."

"Umm, arigatou Neji Nii-san." Hinata tersenyum ke arah Neji.

'Terkutuk kau brengsek!' Naruto menyumpahi Neji yang telah memotong kalimatnya tadi. Dia juga dapat melihat wajah Neji yang menyebalkan itu sedang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya, dia sedang mengejeknya. Naruto berusaha menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak menendang bokong Neji saat itu juga.

"Kau juga mau es krim Naruto-kun?" Tawar Neji pada Naruto dengan senyum manisnya.

"Tidak, terimakasih. Aku mampu untuk membelinya sendiri." Jawab Naruto dengan ketus. Dia mulai mengeluarkan selembar uang kertas dari saku celananya.

Sesudah membeli es krim, mereka bertiga kini duduk di salah satu bangku taman dengan Hinata antara Neji dan Naruto agar mereka tidak saling bertengkar kembali. Hinata menikmati es krimnya dengan tenang, Neji menjilat es krimnya dengan senyum bangganya, sedangkan Naruto... err... Dia sedang memakan es krimnya sekali lahap saja. Mulutnya mengunyah es krim yang dingin tersebut dengan penuh kekesalan, tidak terima dengan sikap Neji yang membuatnya kesal tadi. Bahkan dia tidak peduli dengan giginya yang merasa ngilu akibat es krim dingin tersebut.

"Naruto-kun."

"Umm?" Naruto menolehkan kepalanya saat Hinata memanggilnya.

"Ada krim cokelat di sudut bibirmu..." Hinata menjulurkan tangannya ke arah bibir Naruto. Layaknya seperti adegan di film-film bergenre Romance, dia ingin membersihkan krim cokelat di bibir Naruto dengan tangannya. Tetapi belum sempat tangannya menyentuh bibir Naruto, sebuah sapu tangan berwarna putih terlempar ke wajah Naruto.

"Untunglah aku membawa sapu tangan. Bersihkan mulutmu itu Naruto, kau seperti anak kecil saja." Ucap sang pelaku yang melemparkan sapu tangan ke wajah Naruto yang tidak lain adalah sepupu dari Hinata, Neji. Wajahnya saat ini benar-benar tidak peduli sama sekali dan masih menjilat es krimnya dengan sikap sok polosnya itu.

Diam-diam Naruto menggigit sapu tangan pemberian Neji tersebut dengan air mata yang berlinang begitu derasnya dari matanya, dia benar-benar ingin menendang bokong Neji sekarang.

Naruto duduk di samping Jiraiya. Saat ini mereka sedang menonton TV di ruang keluarga. Jiraiya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Naruto hanya diam, menjadikan tangan kirinya sebagai penyangga untuk kepalanya. Jiraiya tertawa semakin keras saat ada adegan yang menurutnya lucu itu. Naruto hanya menoleh sebentar ke arah kakeknya itu, kemudian kembali dam.

"Tidak seperti biasanya, apa kotak suaramu habis? Tertawalah." Jiraiya mengamati Naruto sekilas, kemudian melanjutkan tawanya lagi.

"Berhentilah tertawa. Suaramu itu membuatku pusing, kakek." Protes Naruto.

"Kenapa memangnya? Suka-suka aku yang ingin tertawa ataupun menangis sekalipun. Masalah untukmu? Hah?" Jiraiya menyeringai, menunjukkan wajah yang paling menyebalkan milikinya itu bagi Naruto saat ini.

"Berhentilah bercanda atau aku ambil pot bunga dan kulemparkan ke wajah tuamu itu!" Naruto menatap tajam ke arah Jiraiya, sedangkan Jiraiya hanya tertawa terbahak-bahak saat cucunya itu menatapnya.

"Ada apa denganmu? Sejak pulang dari taman kota, wajahmu tampak begitu murung? Kenapa memangnya? Ceritakanlah!" Jiraiya memaksa Naruto untuk menceritakan sesuatu yang terjadi padanya. Pasalnya cucunya itu berawajah murung serta kesal saat dia kembali dari taman.

"Aku malas menceritakannya padamu kakek." Naruto kembali ke posisinya semula, menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.

"Apa sedang terjadi sesuatu dengan pacarmu? Si Hinata itu loh." Jiraiya kembali bertanya, memancing cucunya untuk bercerita kepadanya tentang masalahnya itu.

"Dia bukan pacarku! Hanya saja... Saat di taman tadi, ada orang brengsek yang menggangguku dengan Hinata!" Ungkap Naruto pada akhirnya. Jiraiya menutup mulutnya, berusaha untuk menahan tawanya karena mimik wajah Naruto yang tampak lucu di matanya itu.

"Kau di tikung!?" Teriak Jiraiya dengan kerasnya, tawanya meledak seketika.

"Bukan! Orang brengsek itu adalah sepupunya."

"Oh! Jadi kau kalah dengan sepupunya?! Menyedihkan sekali kau ini!" Tak henti-hentinya Jiraiya memperolok Naruto dengan tawanya yang menyebalkan tersebut.

"Kau menyebalkan sekali kakek!" Naruto mulai kesal dengan kakeknya itu, dia lalu melempar bantal yang ada di sofa itu ke arah kakeknya yang sedang tertawa terbahak-bahak hingga terjungkal ke belakang. Dia mulai meninggalkan Jiraiya yang masih tertawa sambil memukul-mukul lantai walaupun dia sudah dilempar olehnya dengan bantal tersebut menuju kamarnya yang ada di lantai atas sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras.

.

.

.

...

.

.

.

To Be Continued...


Author Note's :

Hallo.

Maaf kalau chapter 4 kurang memuaskan, tapi saya sudah berusaha! Suer!

Sebenernya saya sudah beberapa kali membaca fanfic bergenre romance dan berusaha untuk meniru gaya penulisan mereka, tapinya nyatanya benar-benar susah. Alhasil saya menggunakan gaya penuisan saya sendiri.

Terimakasih bagi yang sudah mau meluangkan waktunya untuk mereview, memfoll ataupun memfav FanFic ini dan Terimakasih juga untuk silent reader yang mau membaca FanFic ini. Kritik dan saran kalian akan saya terima dengan baik.

Sekian dan terimakasih atas perhatiannya~

See you next time~