Shikamaru menggerakkan pedal sepedanya dengan sangat santai, tujuannya saat ini adalah SMA Konoha walaupun jam sudah menujukkan pukul tujuh pagi. Mata hitam berbentuk kuaci miliknya menatap ke arah barat, dimana gumpalan awan hitam menutupi langit biru di sana.

Shikamaru masih menatap malas gumpalan awan itu sambil mengayuh sepedanya, sesekali dia menguap saking malasnya menuju SMA Konoha. Saat dia tinggal seperempat jalan lagi menuju sekolahnya, dia merasakan ban sepeda belakangnya terasa bergoyang. Membuatnya tidak nyaman untuk melanjutkan perjalanannya.

Dia mulai menepi ke pinggir jalan saat ada mobil yang menglakson dirinya karena berjalan terlalu lambat dengan sepedanya. Shikamaru turun dari sepedanya, lalu dia mulai mengecek ban belakang sepedanya. Dia menghela nafas berata saat melihatnya.

"Kenapa harus bocor di sini? Dasar sepeda merepotkan." Desahnya menyalahkan sepedanya yang tak bersalah itu.

Dia mulai mendorong sepedanya dengan malas, mencari bengkel terdekat di tempat dia berada sekarang. Jikapun tidak bertemu dengan bengkel, setidaknya seperempat jalan bukanlah masalah baginya karena dia sudah terbiasa berlari beberapa kilo meter di hari libur... Dan mungkin dia akan telat masuk sekolah. Shikamaru menghela nafas berat kembali, dia sudah menyiapkan mentalnya akan di ceramahi guru yang tidak bisa diajak kompromi yang beberapa menit lagi akan mengajar di kelasnya.


.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Comedy, Frienship, Etc.

Rated : T

Warnings : Typo(s), Melenceng dari EYD, OOC!, Gaje, Dan kecacatan lainnya, dan jika tidak suka silahkan klik tombol 'BACK'

.

.

.

-Don't Like, Don't Read-


Chapter 5

-Sparkle-


Langit yang awalnya berwarna biru cerah, kini mulai berubah warna menjadi kelabu yang menutupi sinar matahari untuk menerangi kota Tokyo. Jam menujukkan pukul sebelas tepat, harusnya siang ini langitnya cerah seperti yang dikatakan prediksi cuaca. Namun tampaknya prediksi tersebut meleset saat gumpalan awan berwarna gelap menutupi sebagian langit Tokyo, menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

Saat ini adalah jam istirahat di SMA Konoha. Di perpustakaan sekolah terlihat gadis berambut biru tua sedang duduk di dekat jendela sambil membaca sebuah buku, mimik wajahnya saat ini tampak sangat serius. Akhir-akhir ini Hinata, nama gadis tersebut sering menghabiskan sisa waktunya di jam istirahat untuk pergi ke perpustakaan hanya sekedar untuk membaca buku-buku pelajaran daripada duduk diam di kelas sambil memakan bekalnya. Di depan Hinata terdapat kursi kosong dan buku dongeng yang terbuka tergeletak di meja, kursi itu tadinya di tempati oleh seorang remaja yang sedang membaca buku dongeng tersebut. Tapi kini remaja tersebut sudah lenyap, menghilang entah kemana.

Tidak jauh dari tempat gadis berambut biru tua itu duduk, terlihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Orang itu berwajah malas dengan kedua matanya yang sayu, rambutnya diikat ke atas mirip seperti buah nanas, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Orang itu berjalan santai ke arah Hinata sambil sesekali mulutnya menguap kecil maupun lebar, orang itu adalah Shikamaru. Shikamaru kemudian duduk di depan Hinata setelah sampai di dekatnya, dia mulai menyangga kepalanya dengan tangan kanannya sambil menatap Hinata dengan pupilnya matanya yang berwarna hitam.

Hinata tampaknya terganggu dengan tatapan Shikamaru, dia mulai mengangkat kepalanya dari bukunya yang dibacanya untuk menatap Shikamaru. Wajahnya tampak kebingungan saat menatap wajah Shikamaru, sedangkan Shikamaru masih bertahan dengan sikapnya, yaitu terus menatap Hinata. Hinata mulai ketakutan oleh tingkah laku Shikamaru tersebut dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hinata ingin menangis sekarang juga karena perilaku Shikamaru yang menurutnya mencurigakan.

"Sumimasen." Shikamaru bersuara saat melihat tubuh Hinata yang bergetar. Tetapi sayangnya Shikamaru tidak tahu kalau tubuh Hinata bergetar karena ditatapnya. "Kau Hinata bukan?" Lanjutnya bertanya padanya walaupun dia sudah tahu nama gadis tersebut.

"A-apa, a-aku mengenalmu?." Jawab Hinata tergagap dengan sebuah pertanyaan. Dia masih enggan untuk mengangkat kepalanya.

"Tidak." Balas Shikamaru dengan datar dan hanya dibalas lirikan oleh Hinata. Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Namaku Shikamaru, aku satu kelas denganmu. Kau seharusnya memperhatikan sekitarmu agar dapat mengenali wajah dan nama seseorang."

"Maafkan aku." Hinata merasa bersalah karena tidak mengenal teman satu kelasnya sendiri. Dia menundukkan kepalanya lagi sambil meminta maaf.

"Tak apa." Balas Shikamaru yang tampaknya tidak mempermasalahkannya sama sekali.

Obrolan singkat mereka terhenti karena Hinata tidak merespon ucapan Shikamaru. Hening untuk beberapa menit sebelum Shikamaru membuka mulutnya untuk melanjutkan melanjutkan obrolan mereka yang terputus.

"Apa yang kau lakukan di sini saat cuaca sedang mendung Hinata?" Tanyanya basa-basi mencoba akrab dengan Hinata.

"Membaca buku." Jawab Hinata dengan jawaban yang logis itu. Dia menatap Shikamaru dengan matanya yang polos.

"Umm, baiklah... Apakah ini berkaitan dengan ujian di minggu depan?" Tanyanya lagi sembari menatap keluar jendela.

"Mungkin." Jawab Hinata singkat.

Shikamaru hanya menghela nafas ketika Hinata menjawab setiap pertanyaannya dengan singkat. Lalu dia menyadari sesuatu, "Dimana Naruto?"

"Huh?"

"Bukankah kalian selalu bersama jika di sekolah?" Tanya Shikamaru kembali kepada Hinata yang sedang menatapnya bingung.

"Na-naruto-kun, sedang keluar." Hinata menjawabnya kembali dengan kepalanya yang menunduk lagi, entah kenapa rona merah muncul di wajahnya.

"Kemana?" Tanya Shikamaru kembali sambil menguap.

"A-aku tidak tahu, umm, mem-mangnya, a-ada apa?" Hinata mulai menatap kembali Shikamaru yang sedang menguap dengan cueknya.

"Tidak ada apa-apa sih." Jawab Shikamaru sambil mengibas-ngibaskan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang menyangga kepalanya.

"Souka." Jawab Hinata dengan suara pelan.

Shikamaru berhenti bertanya kepada Hinata karena sudah tidak ada yang harus ditanyakan kepada Hinata lagi. Mata hitamnya melihat buku yang terbuka berada di depannya, dia mulai mengambil buku tersebut dan mulai membolak-balik buku tersebut sebelum akhirnya di buka halaman demi halaman tanpa berniat membacanya. Shikamaru mengerjapkan matanya beberapa kali saat mengetahui baha buku yang sedang dipegangnya adalah buku dongeng anak-anak. Hinata hanya melihatnya sekilas, kemudian dia kembali membaca buku yang sedang dibacanya tadi.

Ketika Hinata dan Shikamaru sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing, di jendela dekat tempat mereka sekarang duduk tampak seseorang berambut kuning sedang berdiri di luar sana. Orang berambut kuning yang ternyata adalah Naruto itu sedang meminum yogurt kotak sambil menatap mereka. Hinata yang menyadari adanya Naruto, mulai menolehkan kepalanya. Dia tampak terkejut melihat kehadiran Naruto yang tiba-tiba itu.

"Na-naruto-kun?!" Ucap Hinata terkejut. Shikamaru yang tadi bermain dengan buku dongengnya mulai ikut menolehkan kepalanya ke arah Naruto yang saat ini sedang melambaikan tangannya sambil meminum yogurt.

"Darimana saja kau?" Tanya Shikamaru sambil memutar-mutar buku dongengnya seperti sedang memutar-mutar bola basket.

"Aku habis dari kantin. Aku tadi ingin mengajakmu Hinata, tapi karena kau sedang serius membaca buku, aku jadi tidak tega untuk mengganggumu." Jelas Naruto sambil melihat ke arah Hinata yang juga sedang menatapnya. Dia mengabaikan orang yang bertanya padanya.

"Aku yang bertanya padamu." Shikamaru menatap malas Naruto yang mengabaikannya itu.

"Shikamaru? Sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Naruto dengan suara polos sambil masih meminum yogurtnya.

"Lupakan saja." Shikamaru menghela nafasnya.

"Haha, aku hanya bercanda Shikamaru." Balas Naruto sambil tertawa renyah. "Sedang apa kau di sini?" Lanjutnya bertanya pada Shikamaru.

"Menggoda Hinata mungkin."

'Tuk!'

"Ittai!"

Shikamaru meringis kesakitan saat di lempar kotak yogurt yang kosong oleh Naruto tepat di dahinya. Dia mengusap-usap dahinya yang merah itu.

"Enyahlah." Ucap Naruto sambil menatap tajam Shikamaru. Sedangkan Hinata hanya diam menatap mereka berdua.

"Aku hanya bercanda Naruto." Shikamaru tidak memprediksi tindakan Naruto yang melemparinya dengan kotak yogurt itu.

"Hinata kau belum selesai membaca bukunya?" Tanya Naruto sambil melompat masuk melalui jendela. Hinata dan Shikamaru dibuat cengo olehnya, untunglah guru pengawas perpustakaan tidak memperhatikan tindakan Naruto yang nyleneh itu.

"Na-naruto-kun, jangan kau ulangi lagi untuk melompati jendela seperti tadi." Hinata measehatinya dengan seyuman serta keringat sebesar biji jagung di belakang kepalanya.

"Kenapa?" Tanya Naruto yang sudah duduk di sebelah Shikamaru.

"Kau akan ditendang keluar oleh guru penjaga perpustakaan jika dia tahu." Shikamaru menjawab pertanyaan Naruto sambil menguap bosan.

"Baiklah~." Balas Naruto dengan tidak peduli. Hinata menghela nafa melihat sikap Naruto.

"Daripada kau melakukan hal yang tidak berguna, lebih baik kau belajar untuk ujian minggu depan." Ucap Shikamaru dengan ketus. Dia mulai jengah oleh sikap Naruto.

"Apa peduliku?" Jawab Naruto dengan wajah yang seolah-olah mengatakan masa bodoh itu.

Shikamaru ingin menonjok mukanya itu. Kemudian dia mulai tersenyum miring saat menemukan kalimat yang akan membuat Naruto terpancing, "Jika nilaimu berbeda jauh dengan Hinata, kemungkinan besar kau tidak akan sekelas lagi dengan Hinata."

"Apa maksudmu?" Tampak Naruto mulai terpancing oleh ucapan Shikamaru. Sedangkan Shikamaru kini sedang tersenyum bangga.

"Pahami saja ucapanku tadi."

"Apa itu benar Hinata?" Tanyanya pada Hinata. Hinata mulai gelapan saat ditanya oleh Naruto.

"En-entahlah Naru-naruto-kun, bisa saja iya. Ta-tapi aku tidak tahu juga sih." Jawab Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya dengan gugup.

Naruto langsung bangkit dari duduknya, sedangkan Hinata dan Shikamaru hanya mentapnya penasaran. Lalu Naruto mulai berjalan dengan cepat ke arah rak-rak buku pelajaran dan kembali lagi ke tempatnya semula sambil membawa sebuah buku tebal di tangannya. Dia mulai membuka halaman demi halaman dan membacanya dengan raut wajah serius. Shikamaru dan Hinata hanya bisa sweatdrop melihat tingkahnya.

"Daripada kau repot-repot membacanya sendiri, dan aku yakin kau tidak akan paham apa yang kau baca. Lebih baik kau meminta Hinata untuk mengajarimu saja, Naruto. Lagipula sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Ucap Shikamaru sambil menatap jam dinding yang terpajang di tembok perpustakaan. Naruto dan Hinata saling pandang setelah mendengar ucapan Shikamaru.

. . .

Suara air hujan yang menyentuh atap maupun tanah membangunkan Neji yang sedang tertidur lelap, dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang baru terbuka itu, menyesuaikan penglihatannya. Kemudian Neji menolehkan kepalanya ke arah jam yang terpajang rapi disisi dinding, pukul lima sore. Dia meregangkan tubuhnya sampai berbunyi 'krek' lalu mengucek matanya yang berair. Tak lama kemudian Neji mulai mengambil posisi duduk dari tidurnya, mengumpulkan nyawanya yang masih belum penuh sehabis bangun tidur itu. Lama dia melamun sampai akhirnya tersadar dengan sendirinya, lalu dia mulai bangkit dari duduknya dan berjalan untuk meninggalkan kamar tamu, yang saat ini adalah kamarya.

Langkah kakinya menimbulkan bunyi decitan halus saat dia menuruni tangga kayu untuk menuju lantai bawah. Neji berdiam diri saat sampai diujung bawah tangga, matanya yang agak keputihan itu mengitari seluruh ruangan rumah yang dia tempati saat ini. Sudah satu minggu dia menginap di rumah bibi dan pamannya dan dua hari lagi dia akan pulang kerumahnya yang asli, memulai kehidupannya sebagai mahasiswa di salah satu universitas terkenal di kotanya. Setelah puas menjelajahi seluruh penjuru ruangan rumah dengan matanya, dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Saat sampai di dapur, matanya menangkap sosok bibinya yang masih muda itu sedang menulis sesuatu di kertas kecil di meja makan.

"Neji, kau sudah bangun?" Tampaknya bibinya menyadari akan dirinya yang sedang menatapnya itu. Seulas senyum mengembang di wajah cantik bibinya itu.

"Ya begitulah. Sedang menulis apa bibi?" Jawab Neji sambil membalas senyuman bibinya itu. Dia mulai mendekati bibinya itu sambil bertanya kepadanya.

"Daftar belanja untuk besok pagi." Jawab bibinya sambil menekan-nekan pulpen yang digunakannya di dagunya secara terbalik.

"Memangnya persediaan di kulkas sudah habis? Nanti malam akan masak apa bi?" Tanya Neji secara bertuntun. Dia melangkah ke belakang bibinya.

"Masih bisa untuk dimasak nanti malam, dan soal masak apa nanti malam itu rahasia." Balas bibinya dengan muka yang di imut-imutin itu.

"Bibi suka main rahasia-rahasiaan."

Bibinya hanya terkekeh mendengar balasan keponakannya itu. Sedangkan keponakannya, Neji hanya bisa tersenyum kecil di wajah putihnya. Lalu dia berjalan ke arah kulkas di belakang bibinya dan mengambil sebotol air mineral dan meminumnya, padahal udara sedang dingin akibat hujan tapi dia malah meminum minuman dingin. Setelah selesai minum, Neji duduk di dekat bibinya yang saat ini kembali menulis lagi. Lagi, matanya yang agak keputihan mulai menjelajahi setiap sudut ruangan dengan diam sebelum dia membuka mulutnya untuk bertanya pada bibinya yang sedang menulis daftar belanjaan yang harus di beli besok itu.

"Paman belum pulang bibi?" Tanya Neji dengan matanya yang masih bergerak liar menjelajahi setiap sudut dapur.

"Belum, biasanya paman pulang jam berapa?" Balas bibinya dengan sebuah pertanyaan kepada Neji. Tangannya masih bergerak menulis di kertas kecil.

"Setengah jam sebelum makan malam." Jawab Neji cepat dengan matanya yang kini menatap bibinya. Dia sudah hapal jam berapa pamannya pulang karena sudah satu minggu dia berada di rumah ini.

"Nah, itu kau tahu." Bibinya terkekeh saat melihat keponakannya menjawab dengan cepat itu.

"Baiklah, kalau Hanabi sudah pulangkah?" Tanya Neji kembali.

"Sudah, dia ada di ruang tamu. Mungkin menunggu ayah dan kakaknya pulang." Bibinya berhenti menulis, dia meletakkan ujun pulpennya di dagunya secara terbalik.

"Memangnya Hinata belum pulang?" Neji kembali berdiri lagi. Dia berjalan menuju kulkas di belankang bibinya.

"Belum, dia masih di sekolahnya. Lagipula Hinata lupa membawa payungnya. Anak itu.. Benar-benar ceroboh." Jawab bibinya menatap Neji yang sedang membuka kulkas.

"Bagaimana bibi tahu jika dia masih di sekolah?" Jawab Neji sambil mengambil sebotol minuman dingin. Kali ini dia tuangkan di gelas dan tidak meminumnya secara langsung.

"Tadi dia meneleponku. Juga, dia ditemani oleh temannya."

"Begitukah?"

"Ya."

"Bibi, bolehkah aku menjemputnya?" Neji meminta izin pada bibinya. Dia meminum air dingin yang berada di gelasnya itu.

"Tapi diluar sana hujan deras disertai angin." Bibinya menunjukkan ekspresi cemas pada Neji. Dia sebenarnya juga cemas pada Hinata, tetapi perlahan-lahan kecemasan mulai turun saat mengetahui Hinata bersama temannya.

"Tak apa. Bolehkan bibi?" Paksa Neji dengan wajahnya yang menatap lurus kebibinya.

"Haaah, baiklah kalau kau memaksa." Bibinya menghela nafas. Dia menyetujui Neji yang akan menjemput Hinata tersebut.

Neji membalas ucapan bibinya dengan anggukan beserta gumaman, lalu dia bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Langkah kakinya yang menginjak lantai tangga yang terbuat dari kayu itu berbunyi sangat keras, membuat bibinya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah sampai di kamarnya, Neji bergegas melepas semua pakaian yang saat ini di kenakannya. Rasa dingin akibat hujan langsung menerpa tubuhnya saat dia bertelanjang dada. Dia langsung mengambil baju berlengan panjang berwarna putih di lemarinya dan langsung memakainya, lalu mengambil celana panjang jin berwarna abu-abu dan mengenakannya. Kemudian dia berjalan ke arah kaca dan menatap dirinya yang ada di kaca, tangannya membenarkan rambutnya yang terlihat acak-acakan akibat bangun tidur. Setelah selesai, dia berjalan keluar dari kamar setelah mengambil jaket cokelatnya yang berbulu di kerahnya lalu memakainya.

Dia berjalan menuruni tangga ke arah dapur, di sana dia melihat bibinya yang tersenyum ke arahnya seraya mengucapkan hati-hati itu dan dibalasnya dengan anggukan kepala. Neji berjalan menuju ruang tamu, matanya yang agak keputihan menangkap sosok Hanabi yang sedang berbaring di sofa sambil bermain dengan ponselnya. Hanabi yang merasakan kehadiran seseorang mengalihkan matanya dari ponsel meuju ke arah Neji yang kini sedang menatapnya. Dia mengernyit bingung melihat penampilan Neji yang rapi.

"Ingin kemana Nii-san?" Tanya Hanabi pada Neji.

"Menjemput kakakmu."

"Saat hujan deras begini?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku ikut!"

"Tidak usah."

"Kenapa?" Tanya Hanabi setelah mendapatkan penolakan dari Neji untuk ikut menjemput kakaknya dengannya. Sedangkan Neji saat ini sudah memakai sepatunya.

"Kau akan terkena demam bila ikut denganku, di luar sana hujan deras... Lagi, berangin loh." Jawab Neji sambil membalikkan kepalanya ke arah Hanabi dengan sebuah senyuman. Hanabi hanya mendengus mendengar perkataan Neji.

"Baiklah kalau begitu." Hanabi kembali bermain dengan ponselnya.

"Jaa." Neji berdiri setelah seusai memakai sepatunya. Dia mengambil dua payung yang terletak di belakang pintu lalu membuka pintunya dengan di sambut angin dingin. Neji mulai melangkahkan kakinya keluar.

Neji berjalan di tengah-tengah derasnya hujan yang menerpa sebagian kota Tokyo, di tangan kanannya sedang menggenggam payung berwarna hitam yang terbuka untuk melindunginya dari tetesan air hujan walaupun tidak sepenuhnya, sedangkan di tangan kirinya juga membawa payung berwarna biru tua yang tertutup rapat di genggaman tangannya. Neji melangkahkan kakinya dengan santai di genangan air yang mengalir menuju selokan di tepi jalan yang sedang di laluinya itu. Tujuannya saat ini adalah menjemput Hinata di sekolahnya, dia melirik tangan kirinya untuk melihat jam dan menyadari bahwa dia lupa untuk memakai jam tangannya, lalu menghela nafas.

Sudah 10 menit Neji berjalan meninggalkan rumah bibinya, tinggal belok kanan di sudut gang dia akan segera sampai di jalan raya dan tinggal beberapa langkah lagi dari belokan gang dia akan sampai di halte bus. Saat Neji akan berbelok kanan tiba-tiba saja angin kencang menerjang dirinya disertai dengan tetesan air hujan yang juga ikut terbawa angin, membuat pakaiannya menjadi basah kuyup. Neji tidak memperdulikan angin itu dan tidak juga berusaha untuk meneduh terlebih dahulu, dia masih berjalan membelah angin yang menerjangnya dengan sangat kencang tersebut. Hingga pada akhirnya, payung yang digunakannya terbang seketika saat terlepas dari genggaman tangannya. Neji melihat sebentar payungnya yang terbang bebas, lalu dia berlari dengan sangat kencang.

Berlari menempuh jarak sekitar 1 km, akhirnya Neji sampai juga di halte bus. Neji segera berteduh di halte tersebut dengan badannya yang basah kuyup itu, dia langsung duduk di kursi halte sambil mendengus kesal akibat payungnya yang terbang entah kemana, kini hanya tingga satu payung saja. Dia melepas jaketnya yang basah itu, lalu duduk diam menunggu bus datang. Saat menunggu bus datang, matanya yang agak keputihan melihat sosok pria setengah baya berbadan besar yang sedang berjalan ke arah halte yang di tempatinya itu. Pria itu membawa kantong plastik besar di tangan kirinya sedangkan di tangan satunya lagi sedang mengenggam payung dengan erat, pria itu tampak kesusahan berjalan saat ada angin yang kencang menerpa tubuhnya yang besar itu. Sampai pada akhirnya payung yang di kenakannya rusak seketika akibat angin kencang yang menerpa tubuhnya, berbeda dengan nasib Neji yang terbang payungnya. Neji merasa iba pada pria itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk menolong pria tersebut, dibukanya payung yang masih tertutup rapat miliknya lalu Neji langsung berlari ke arah pria setengah baya malang tersebut.

. . .

Hujan deras masih melanda sebagian kota Tokyo, tetapi awan hitam tidak sepekat tadi. Daun-daun basah yang berada di ranting pohon sekitar SMA Konoha bergesekkan satu sama lain, bahkan ada juga beberapa ranting yang tumbang akibat angin kencang. Di dalam gedung sekolah SMA Konoha, tepatnya di kelas 1-C terdapat gadis bersurai biru tua yang tak lain adalah Hinata. Di depan gadis tersebut terdapat pria bersurai kuning cerah -Naruto- yang sedang menulis sesuatu di kertas. Yeah, saat ini Hinata sedang mengajar Naruto layaknya seorang guru les karena diminta oleh Naruto sendiri, sungguh sebuah keajaiban.

"Kenapa ini susah sekali!?" Keluh Naruto, dengan kesal dia menyalahkan soal Matematika yang sedang dia kerjakan. Dia membanting pensilnya di meja.

"Ka-kau, harus mengalikan yang ini terlebih dahulu, baru ditambahkan, Naruto-kun." Hinata membantu Naruto mengerjakan soal-soal pemberiannya itu dengan sabar walaupun sedikit terkejut dengan tindakan Naruto yang membanting pensilnya di meja.

Untunglah Hinata cukup sabar menghadapi tingkah Naruto yang agak unik itu. Dengan sabar dia membimbing Naruto ke jalan yang benar untuk mengerjakan soal Matematika yang di buat olehnya. Hinata menolehkan kepalanya ke arah seluruh penjuru kelas yang sudah sepi itu, hanya ada mereka berdua di kelas ini. Tidak, tidak harusnya ada tiga orang di sini karena ada sebuah tas yang duduk manis di bangku yang paling pojok. Yang Hinata ingat pemilik tas itu tadi berbicara padanya bahwa dia akan pergi ke toilet setengah jam yang lalu, entah apa yang dilakukannya selama setengah jam di toilet. Hinata berusaha tidak peduli pada orang itu.

Hinata menolehkan kepalanya lagi ke arah jendela. Tidak ada tanda-tanda hujan akan segera berhenti. Diam-diam, dia menyesali dirinya yang tidak membawa payung tersebut, dia menghela nafas berat. Naruto menolehkan kepalanya ke arah Hinata yang menghela nafas, dia mengernyit bingung. Apakah Hinata merasa lelah mengajarinya? Atau tidak suka? Pertanyaan itu mulai muncul di kepalanya. Naruto mulai memutuskan untuk bertanya daripada bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Ada apa Hinata-chan?"

Hinata mengalihkan pandangannya pada Naruto yang saat ini sedang menatapnya. Seulas senyum muncul di bibir mungilnya.

"Tidak ada apa-apa Naruto-kun."

"Benarkah?"

"Y-ya, tenang saja." Naruto mengangguk sekilas setelah mendapatkan jawaban Hinata. Dia kembali menatap lembaran kertas yang berisi coretan-coretan angka tersebut. Entah kenapa perutnya jadi mual setelah melihat angka-angka itu.

"Hwaa! Kepalaku pusing!" Naruto mengacak-ngacak rambutnya yang berantakan. Jika bukan karena ucapan Shikamaru siang tadi, dia tidak akan pernah belajar segiat ini.

"Na-naruto-kun, berjuanglah."

"Aku sudah menyerah~."

"Ganbate." Hinata tersenyum lembut, membuat Naruto menatap gadis bersurai biru tua itu tanpa berkedip. Dia terpesona olehnya untuk yang kesekian kalinya.

"Hinata-chan, maukah kau pergi berkencan setelah ulangan selesai?"

Terkejut adalah sebuah kata yang dapat mengekspresikan raut wajah Hinata saat ini. Mungkin terkesan berlebihan maupun lebay, tapi ini adalah ajakan kencan pertamanya jadi wajar jika dia terkejut. Pria yang telah menciumnya di jalan mengajaknya berkencan? Rasanya wajah Hinata menjadi panas mengingat kejadian itu.

Sedangkan di sisi lain, Naruto menatapnya dengan mata biru laut yang mengkilap penuh harap. Jika di perhatikan seksama, terdapat semburat merah tipis yang muncul di kedua pipinya. Dia harap-harap cemas akan Hinata yang menolak ajakan kencannya itu.

Hening. Mendadak ruang kelas menjadi hening, hanya ada suara rintikan hujan yang terdengar dari luar. Baik Hinata maupun Naruto sama-sama diam, tidak ada yang berniat membuka suara untuk memulai percakapan. Naruto lupa dengan kertas berisi soal-soal Matematika yang harus dia kerjakan, pikirannya kalut seketika. Sedangkan Hinata pun sama dengan Naruto, hanya saja dia menundukkan kepalanya. Naruto mulai merasa risih dengan keheningan mendadak ini, perlahan Naruto mulai bangkit dari duduknya. Naruto mulai berjalan ke arah Hinata yang kini sedang menatapnya dengan bingung, ketika dia sudah sampai di samping Hinata, dia meraih tangan putih Hinata. Dengan suara lantang Naruto berteriak.

"Hinata-chan, aku suka kau!"

Ucapan Naruto tadi sukses membuat Hinata terkejut untuk yang ke dua kalinya. Matanya melebar menatap Naruto, sedang bibirnya bergetar. Apa-apaan ini? Kenapa orang di depannya ini suka sekali membuatnya terkejut?! Belum sempat dia membalas ucapan Naruto yang mengajaknya berkencan, kini sudah ditambahi pernyataan suka padanya. Hinata melambai-lambai tangannya cepat di depan dadanya sebagai reaksi, wajahnya yang sudah merah kini menjadi lebih merah layaknya udang rebus. Dia salah tingkah.

"A-apa yang ka-kau katakan, Naru-naruto-kun!?" Ucap Hinata tergagap. Tangannya masih melambai-lambai di depan dadanya.

"Aku suka kau Hinata-chan, kalaupun kau tidak suka padaku... Aku akan membuatmu suka padaku."

Naruto kembali menggenggam tangan Hinata yang terlepas dari genggamannya tadi. Matanya menatap lurus pada Hinata, lalu melanjutkan perkataannya, "Bagaimanapun caranya." Ucapnya penuh tekad itu.

Perlahan tapi pasti, tangan kanan Naruto mulai menyentuh dagu Hinata. Di dekatkannya wajah Hinata padanya. Hinata yang di perlakukan begitu oleh Naruto hanya bisa menutup kedua matanya, pasrah akan apa yang terjadi padanya selanjutnya. Tinggal beberapa centi meter lagi bibir mereka akan bersentuhan, Hinata mulai meneguk ludahnya sendiri.

"Ah... Leganya~."

Pintu kelas mendadak terbuka, menampakkan sosok perempuan cantik berambut pirang panjang yang diikat ponytail. Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil mengusap-usap perutnya yang langsing, matanya yang berwarna biru aqua menatap heran Naruto dan Hinata. Sedangkan Naruto tampak kaget akan kehadiran perempuan itu, dia melepaskan Hinata dengan cepat dan menatap perempuan itu. Disisi lain Hinata membuang mukanya.

"A-ah! Apa aku mengganggu?" Tanya perempuan itu merasa ngeri akan tatapan Naruto yang tertuju padanya.

"Sang-"

"Tidak kok Yamanaka-san."

Hinata menatap perempuan yang berada di depannya dengan senyum kecil, semburat merah tipis masih terlihat di kedua pipinya. Sedangkan Naruto mendengus saat ucapannya dipotong oleh Hinata.

Yamanaka Ino, nama perempuan yang sedang berdiri diambang pintu, kini berjalan kearah tasnya yang berada dipojokan. Matanya masih tertuju pada Hinata yang tersenyum padanya dan juga Naruto yang melihat ke arah lain dengan kesal, dia bingung akan sikap mereka.

. . .

Neji duduk diam di sofa berwarna merah sambil memandang foto berbingkai cokelat mengkilap yang tertempel rapi di dinding di hadapannya. Alis matanya mengkerut, merasa tidak asing dengan anak kecil yang berada di dalam foto tersebut. Dia mencoba mengingat-ngingat dimana dia pernah bertemu anak yang berada di foto sampai dahinya mengerut.

"Dia cucuku."

Neji menoleh cepat ke arah lelaki setengah baya berambut putih panjang berantakan yang baru saja di tolongnya dekat halte. Pria itu berjalan dari arah dapur -menurut Neji- menuju ke arahnya sambil membawa nampan dengan dua gelas di atasnya. Yeah, Saat ini Neji sedang berada di rumah orang yang ditolongnya tadi karena alasan tertentu. Bahkan, kini dia lupa tujuan awalnya adalah menjemput Hinata.

"Pakaian yang kau kenakan juga adalah pakaian cucuku." Lanjut pria itu sambil tersenyum hangat. Pria itu meletakkan dua gelas berwarna putih yang berada di nampannya ke meja di hadapan Neji duduk.

Neji melihat gelas yang berada di hadapannya yang mengeluarkan asap tebal. Dia mengambil gelas itu yang ternyata berisi cokelat panas, tangannya yang kedinginan mendadak menghangat saat mengambil gelas tersebut.

"Lalu, dimana cucu anda?" Tanyanya.

"Dia sekolah, dan belum pulang sampai saat ini, mungkin karena hujan." Jawab pria itu dengan tenang. Dia duduk di sofa depan Neji.

Seperti dilempar oleh bola, Neji mulai ingat tujuan awalnya. Dia mengangguk sekilas merespon ucapan pria yang duduk di hadapannya. Neji meminum cokelat panas yang berada di tangannya dengan pelan, takut kedua bibirnya bengkak karena kepanasan.

"Ah, ngomong-ngomong... Aku berterimakasih karena kau mau menolongku dan mengantarkan kakek tua ini kerumahnya." Pria itu tertawa pelan saat mengakui dirinya sudah tua. Neji hanya tersenyum kecil menanggapinya, di taruhnya gelas yang di tangannya ke meja. "Siapa namamu nak?" Lanjut pria tersebut bertanya.

"Neji, Hyuuga Neji." Jawab Neji menyebutkan namanya. Dia berpikir, mungkin 10 menit lagi dia akan bergegas menjemput Hinata.

"Aku seperti pernah mendengar margamu." Pria itu memasang poseberpikir.

"Benarkah?"

"Tadaima~."

Mata Neji langsung beralih ke orang yang baru saja masuk keruang tamu. Terkejut adalah apa yang dirasakan Neji saat menatap orang yang baru saja masuk keruang tamu dengan keadaan basah kuyup. Naruto, orang yang baru saja hadir itu juga terkejut akan adanya sosok Neji dirumahnya, matanya melotot menatap Neji.

"Kau!" Mereka berdua membuka suara secara bersamaan setelah cukup lama saling menatap.

"Okaeri Naruto, kelihatannya kalian saling kenal." Jiraiya menyambut kedatangan cucunya. Dia tersenyum melihat Naruto dan Neji yang menurutnya sudah saling kenal itu.

"Kenapa dia ada di sini kakek?!" Naruto menatap Jiraiya, meminta sang kakek untuk menjelaskan padanya.

"Tunggu! Kakek? Dia adalah cucu anda?" Neji juga menatap Jiraiya, meminta penjelasan juga padanya.

Jiraiya tersenyum kebapakan menanggapi kedua orang yang sedang menatap minta penjelasan kepadanya itu. "Naruto, kau ganti pakaianmu dulu, nanti akan kujelaskan."

Sudah 10 menit berlalu, Narutopun juga sudah mengganti seragamnya yang basah dengan pakaian berlengan panjang, Neji yang duduk beberapa centi meter darinya juga sudah mulai agak tenang dengan tangannya yang menggenggam gelas berisi cokelat yang sudah tidak panas lagi. Jiraiya menatap mereka berdua secara bergantian sebelum bersuara.

"Neji-san... Naruto adalah cucuku, dan Naruto... Neji-san tadi menolong kakek di jalan." Jelasnya dengan suara tenang. Neji hanya mengangguk paham.

"Kakek, sekarang kau kembalikan dia ke tempat kau menemukannya tadi."

"Kau pikir aku binatang peliharaan!?"

"Kau tahu!? Aku phobia denganmu!"

"Aku bahkan keringat dingin melihat wajahmu yang tolol itu!"

"Siapa yang kau sebut tolol, buta?! Hah!?"

Jiraiya hanya bisa melihat cucu dan orang yang menolongnya sedang mengolok-ngolok satu sama lain tersebut. Dia mulai memijat pelipisnya, entah kenapa zaman sudah berubah, pikirnya.

"Kakek! Cepat kembalikan dia! Dia sudah mulai menggila!"

"Kau yang sudah muai gila kuning brengsek!"

"Kau yang brengsek! Kampret!"

"Berhentilah berteriak padaku dengan suara cemprengmu!"

"Kau juga berteriak!?"

Oke, Jiraiya mulai tidak tahan dengan tingkah mereka berdua yang bagaikan anjing dan kucing itu. Perempatan mulai muncul di dahinya yang sedikit keriput itu. Jiraiya menggebrak meja dengan tangan kanannya hingga menimbulkan suara yang kencang dengan matanya yang melotot.

"BERHENTILAH KALIAN BERDUA!"

Teriakannya sukses membuat kedua orang yang sedang beradu mulut di depannya itu diam seketika. Naruto dan Neji yang awalnya berdiri mulai duduk kembali dengan tenang setelah melihat Jiraiya yang menatap tajam ke arah mereka. Jiraiya mengangguk puas melihat mereka berdua yang mulai tenang.

"Astaga~ Ayolah.. Kalian sudah dewasa, jangan bersikap seperti anak kecil! Bersikaplah sewajarnya!" Jiraiya menceramahi kedua orang yang sedang duduk di hadapannya itu. Sedangkan Naruto dan Neji hanya bisa menundukkuan kepala mereka masing-masing, "Dan Naruto, bersikaplah sopan pada tamu mu." Lanjutnya.

"Tapi-"

"Naruto."

"Baiklah..."

Naruto mendengus kesal mendapati kakeknya yang menatap tajam ke arahnya, dia membuang muka ke sembarang arah. Neji terkekeh melihatnya dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Naruto.

"Kutinggal sebentar kebelakang." Jiraiya bangkit dari duduknya. Dia melangkah menuju kebelakang, entah mau apa dia di belakang.

Ruangan mendadak hening saat Jiraiya pergi, hanya tetesan hujan yang terdengar dari luar. Baik Naruto maupun Neji, sama-sama membuang wajah mereka ke arah lain. Mereka berdua enggan untuk menatap "Hei, bukankah kau bersekolah di SMA... Konoha?" Tanya Neji pada akhirnya. Tetapi dia masih enggan untuk menatap Naruto.

"Memangnya kenapa?" Balas Naruto dengan sebuah pertanyaan. Dia juga masih tidak sudi untuk menatap ke arah Neji.

"Hinata masih berada di sana?"

Naruto yang mendengar nama Hinata di sebut, mulai menatap Neji yang menatap ke arah lain walaupun dengan tatapan malas. "Dia sudah pulang bersamaku tadi. Kenapa memangnya?" Tanyanya.

"Begitu ya, aku ingin menjemputnya tadi." Neji menghela nafas, merasa bersalah pada bibinya karena tidak menepati janjinya untuk menjemput Hinata.

"Tenang saja, dia pulang dengan aman bersamaku tadi." Entah kenapa Naruto mencoba menenangkan Neji setelah melihat pria itu menghela nafas.

"Aku belum sepenuhnya percaya padamu."

"Terserah kau saja."

Hening kembali. Tidak ada yang membuka suara untuk melanjutkan obrolan. Rintikan hujan sudah tidak terdengar lagi, menandakan bahwa hujan telah berhenti. Neji menatap jam di dinding yang menunjukkan wajah sama lain, seolah-olah hal itu hal yang tabu bagi mereka berdua.

Neji menatap payungnya yang berada di samping sofa dekatnya. Dia mulai teringat pada Hinata. Neji melirik ke arah Naruto yang sedang menatap ke arah lain, bukannya Naruto bersekolah di sekolah yang sama dengan Hinata? Tanyanya dalam hati.

pukul setengah tujuh malam. Setengah jam lagi makan malam akan segera di mulai, Neji menghela nafas kembali.

Neji menolehkan kepalanya, menatap Naruto yang sedang menatap foto yang terpanjang di dinding dengan matanya yang sayu. "Mereka orang tuamu?" Tanyanya sambil mengikuti arah pandang Naruto.

"Ya." Jawab Naruto singkat.

"Lalu dimana mereka?"

"Mereka sudah mati."

Neji terkejut akan jawaban Naruto. Dia merasa bersalah telah menanyakan hal yang tabu menurutnya itu, lantas dia langsung meminta maaf pada Naruto, "Maafkan aku."

"Tak apa." Naruto menatap ke arah Neji dengan sebuah senyuman. Senyuman pertama yang dilihat oleh Neji menyimpan sebuah rasa kesepian.

"Oh, hei... Dua hari lagi aku akan pulang." Neji mengubah topik pembicaraan. Dia merasa tidak enak pada Naruto karena telah menyinggung hal pribadinya.

"Baguslah kalau begitu." Naruto terkekeh senang menatap Neji.

"Jika kau macam-macam pada Hinata, akan kubunuh kau." Lanjutnya sambil menatap horror Naruto dihadapannya.

"Tidak akan." Naruto membalas ancaman Neji dengan sebuah senyum miring.

Neji menghela nafas, entah sudah berapa kali dia menghela nafas dalam satu hari ini. Dia bahkan menghiraukan kata orang yang jika menghela nafas dapat mengurangi umurnya, masa bodoh dengan mitos itu, pikirnya.

Neji mulai berdiri dari duduknya, dia menatap jam di dinding debentar. Lalu menatap Naruto yang juga menatapnya bingung. Di ambilnya payung miliknya di samping sofa.

"Sudah malam, aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada kakekmu." Ujarnya sambil berjalan ke arah pintu keluar. Naruto mengekorinya dari belakang.

"Oh iya." Dia berhenti tepat di depan pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu yang bercat cokelat itu. "Sebenarnya aku kurang percaya padamu.." Lanjutnya.

Naruto memutar bola mata bosan mendengar ucapan Neji. Dia hendak membalas ucapan Neji tetapi keburu dipotong olehnya

"Tapi jagalah Hinata untukku." Lanjut Neji sambil membuka pintu keluar, hendak melangkah keluar.

Naruto tersenyum lebar mendengar ucapan Neji barusan, dengan cepat dia membalas ucapan Neji tadi, "Tidak usah kau suruhpun aku akan tetap menjaga Hinata... Karena aku menyukainya." Ujarnya dengan senyum lebar yang menampakkan gigi-gigi putihnya.

"Baguslah, aku pulang dulu... Jaa."

Neji tersenyum, kali ini tersenyum ikhlas membelakangi Naruto. Neji melangkah keluar dengan tenang, lalu menutup pintunya dengan pelan tanpa menunggu balasan Naruto. Entah kenapa hatinya merasa senang saat ini. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan, matanya menatap langit yang hanya sedikit dihias oleh bintang itu. Mungkin karena habis hujan seharian ini, tapi kali ini bintang itu tampak berkilau terang dari malam sebelum-belumnya.

.

.

.

...

.

.

.

To Be Continued...


Author Note's :

Hallo~

Mohon maaf karena baru updet sekarang. Jadi, bagaimana menurut kalian chap kali ini? Agak panjang ya? Kurang greget juga ya? Maaf... Karena kalau dipotong setengahnya buat besok rasanya agak aneh gitu(LoL), jadi langsung di bablasin aja. Terimakasih juga buat yang mau mereview untuk fanfic gaje ini, tanpa kalian saya gak mungkin ngelanjutin fic ini( :" ). Terimakasih juga buat yang mau me-foll maupun mem-fav fanfic gaje ini( :" ).

Btw, ini chap terakhir bagi Neji karena chap depan dan seterusnya dia sudah tidak muncul lagi. Ah~ menurut kalian karakter dari Naruto yang cocok buat musuh Naruto nanti di chap depan dan seterusnya yang pantas itu siapa? Siapa tau kalian mau membantu, karena males mikir(LoL). Okelah hanya itu saja dari saya...

Sekian dan terimakasih atas perhatiannya~

See you next time~