'Tak! Tak! Tak!'

Suara bising itu berasal dari dapur kediaman Uzumaki. Tepatnya berasal dari tangan lihai Jiraiya yang sedang memotong-motong sayuran.

Satu jam lagi menjelang makan malam dan walaupun Naruto belum juga pulang, setidaknya Jiraiya menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Dia mulai memasukkan sayurannya ke dalam wajan setelah menjadi potongan yang kecil. Tangan kokohnya dengan sigap mengambil sebotol minyak dan menyirami sayuran itu secukupnya, setelah itu dia mulai mengaduk sayurannya dengan spatula. Percikkan api bahkan beberapa kali melompat dari bawah wajannya saat dia mengaduk sayurannya.

'Kriiiing! Kriiiing!'

Jiraiya berhenti mengaduk sayurannya saat telinganya mendengar suara deringan yang berasal dari telepon rumahnya. Dia mematikan kompornya lalu berjalan menuju suara deringan itu.

"Moshi-moshi~" Ucap Jiraiya setelah menempelkan telepon itu ketelinganya.

'Konbanwa, kakek tua~"

Jiraiya mengernyitkan dahinya, 'Kakek tua? Yang benar saja'

"Siapa ini?" Balas Jiraiya.

'Ara~Tebak saja~.'

"Jika kau hanya ingin mengoceh akan kutup teleponnya, aku sibuk."

'Kau yakin tidak ingin berbicara denganku?'

Jiraiya sudah bersiap-siap untuk menutup teleponnya, tapi dia enggan untuk melakukannya. Dia penasaran.

'Baiklah-baiklah, kau percaya bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa putera dan menantumu sudah direncanakan?'

Jiraiya mengernyitkan dahinya. Siapa orang gila ini? Pikirnya.

"Sebenarnya siapa kau ini?" Entah sudah berapa kali dia menyanyakan pertanyaan yang sama. Kesal? Memang.

'Aku yang merencanakannya.'


.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Comedy, Friendship, Etc.

Rated : T

Warnings : Typo(s), Melenceng dari EYD, OOC!, Gaje, Dan kecacatan lainnya, dan jika tidak suka silahkan klik tombol 'BACK'

.

.

.

-Don't Like, Don't Read-


Chapter 6

- Sparkle -


"Payah!"

Naruto menggebrak mesin yang menyediakan permainan pertarungan. Ini sudah ke enam kalinya dia kalah memainkan game pertarungan itu walaupun dia memakai karakter yang berbadan gempal.

Dia berbalik meninggalkan mesin malang yang digebraknya baru saja itu. Saat ini dia sedang berada di Game Center, tempat dimana berbagai mesin game tertata rapi diberbagai sudut gedung, mulai dari game mengambil boneka sampai game pertarungan yang baru saja dimainkan olehnya.

Naruto mulai mengelilingi gedung yang menyediakan berbagai mesin game itu, mencari game yang menarik menurutnya. Ngomong-ngomong, sudah lama Naruto tidak mengunjungi tempat ini semenjak Hinata datang kerumahnya dengan membawa surat beberapa bulan yang lalu... Atau mungkin beberapa minggu yang lalu? Ntahlah dia lupa kapan, yang jelas dia jadi jarang mampir ke tempat 'tongkrongannya' ini.

Ngomong-ngomong soal Hinata. Dia tidak masuk sekolah hari ini karena demam, itu membuat Naruto merasa kesepian karena tidak ada orang yang tidak bisa diajak bermain. Dia juga tidak bisa belajar dengan Hinata yang sebenarnya hanya sebuah kedok untuk bisa berlama-lama dengan si putri Hyuuga itu.

"Game sialan!"

Naruto menghentikan langkahnya dan melihat ke arah orang yang memaki-maki sebuah mesin game tembak menembak. Orang itu menendang mesin game itu dengan bringas dan membuang senjata api mainan ke sembarang tempat sebelum dia berlalu begitu saja. Naruto mengangkat satu alisnya saat melihat kelakuan orang itu, andai saja mesin itu punya nyawa mungkin mesin itu sudah membalas perbuatan tidak menyenangkan dari orang itu... Dan mungkin membalas perbuatan Naruto beberapa menit yang lalu.

Naruto memungut senjata api mainan yang tergeletak dilantai, lalu dia berjalan ke mesin itu, merasa tertarik dengannya. Saat tangan Naruto sedang mencoba memasukkan satu koin kedalam mesin itu, sebuah kaki menendang tangannya hingga koin itu terlepas dan terlempar entah kemana.

"Ups, maaf." Ucap orang yang baru saja menendang tangannya dengan sebuah seringaian.

"Itu cukup kasar Hidan, hahaha!" Ucap orang yang berada di belakang orang yang disebut Hidan itu.

Naruto melirik orang yang baru saja menendang tangannya, dia bisa melihat orang berambut putih dengan sisiran kebelakang dan tiga orang berada dibelakang orang itu. Kemudian, Naruto mulai menatap orang-orang itu dengan tatapan tajam disertai dengan rahangnya yang mengeras. Dia tipe orang yang gampang emosi.

"Apa? Kau marah? Hah!?" Hidan mencengkram kerah seragam Naruto yang dikenakannya. Dia tidak senang dengan perilaku Naruto yang ditujukan padanya itu.

Naruto menggenggam tangan Hidan yang mencengkram kerahnya sangat erat dengan tangan kirinya. Dengan gerakan yang cepat, dipukulnya kepala Hidan dengan senjata api mainan yang masih berada ditangan kanannya hingga Hidan terdorong kebelakang dan melepaskan tangannya dari kerah Naruto.

Hidan memegang kepalanya yang terasa perih akibat serangan Naruto yang begitu brutalnya. "Kurang ajar!" Geramnya.

Pandangan orang-orang mulai tertuju pada mereka. Ada yang menatap takut maupun senang.

Tak lama kemudian, Hidan berlari ke arah Naruto yang berdiri dengan tegap. Dia melayangkan sebuah tendangan menyamping ke arah kepala Naruto. Tetapi dengan mudahnya dapat dihindari oleh Naruto dengan menunduk. Tidak sampai lima detik, Naruto membalas tendangan Hidan dengan sebuah upercut tepat di dagu Hidan yang membuat pria berambut putih itu terjatuh kebelakang.

"Apa yang kalian lihat!? Cepat hajar dia!" Hidan yang masih syok akibat pukulan Naruto, memerintahkan anak buahnya yang melihat pertarungan singkatnya dengan mulut menganga untuk menyerang Naruto

Disisi lain, Naruto sudah memasang kuda-kuda layaknya seorang pendekar.

...

"Hanabi, tolong antarkan makanan ini ke kamar kakakmu."

"Ha'i."

Hanabi berhenti menulis sesuatu di bukunya. Dia menatap sebentar temannya yang juga sedang menulis di depannya. Yeah, saat ini Hanabi sedang kerja kelompok dengan temannya dirumahnya.

"Yakumo-chan, aku keluar sebentar."

"Ha'i, Hanabi-chan."

Hanabi meninggalkan temannya sendirian di kamarnya. Dia langsung menerima nampan yang berisi makanan dari ibunya untuk kakaknya yang terbaring lemah di kamarnya.

"Setelah mengantarkan ini, suruh temanmu makan bersama kita. Makan malam sudah siap."

"Ha'i."

Si bungsu Hyuuga itu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu. Decitan demi decitan mulai keluar saat kakinya yang melangkah menaiki tangga tua itu. Sesekali dia berhenti bergerak saat mangkuk berisi sup di nampannya bergerak pelan, namun dilanjutkannya lagi menaiki tangga itu dengan hati-hati.

.

.

Hinata terbaring lemah di kasur empuknya dengan selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala bermahkotakan indigo miliknya. Sesekali keringat dingin menetes dari dahinya maupun pelipisnya. Tubuhnya menggigil, pipinya merona dan suhu badannya panas yang menandakan bahwa dia sedang demam.

Mata yang tadinya tertutup rapat kini perlahan mulai terbuka, menampakkan warna lavender yang sedikit pudar. Mata yang biasanya memancarkan kelembutan itu mulai redup cahayanya, sorotannya menandakan bahwa pemilik mata indah itu sedang menderita. Dia berkedip beberapa kali untuk menghilangkan pandangannya yang sedikit buram itu.

Hinata merasa persendian disekujur tubuhnya kaku, bahkan saat dia bergerak sedikit saja suara 'krek' terdengar. Dia menolehkan kepalanya kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.05, Heh? Sudah berapa lama dia tertidur?

'Tok! Tok!'

"Onee-chan, kau masih hidup?"

Hinata mengalihkan pandangannya kearah pintu berwarna cokelat tua yang berada dikamarnya. Dia menatap kosong pintu yang sedang diketuk oleh adiknya.

"Aku masuk ya."

Tanpa menunggu jawaban, Hanabi langsung membuka pintu dan langsung memasuki kamar kakaknya. Dia melihat kakaknya yang terbaring disana sambil melihat kearahnya dengan pandangan kosong. Hanabi menghela nafasnya, ini kebiasaan kakaknya saat sedang sakit.

Dia melangkahkan kakinya mendekati Hinata. Kemudian, dia meletakkan nampan yang berisi nasi beserta lauk pauknya diatas meja dekat tempat tidur Hinata. "Nee-chan, jangan melamun terus." Ucap Hanabi seraya menatap Hinata.

"Tidak, aku tidak melamun." Hinata berusaha untuk duduk tetapi sepertinya dia tidak kuat untuk melakukannya.

Hanabi yang melihat Hinata kesusahan, segera membantu sang kakak untuk duduk. Hinata melihat Hanabi sekilas lalu mengucapkan terimakasih.

"Kau butuh bantuan untuk makan?" Ucap Hanabi seraya mengambil mangkuk nasi serta sumpit.

"Ah, tidak usah." Ucap Hinata sambil tersenyum dengan wajah pucatnya.

Hanabi hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. Dia menyerahkan mangkuk nasi dan sumpit ke Hinata, kemudian dia memindahkan nampannya yang tadi kepangkuan Hinata.

"Kalau begitu, aku keluar ya."

Hinata hanya membalasnya dengan anggukan disertai dengan gumaman tak jelas. Dia melihat Hanabi yang keluar dari kamarnya. Kini suasana kamarnya kembali Hening lagi.

Dia mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan, beberapa detik kemudian wajahnya yang pucat berubah menjadi semakin pucat.

"Pahit..."

...

Bulan terlihat bersinar terang malam ini, begitupun dengan bintang-bintang. Jalanan kota Tokyo sudah tidak sepadat pagi tadi, sinar dari lampu jalan juga menghiasi jalanan kota Tokyo. Disebuah jalanan kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil, tampak seorang remaja berambut kuning sedang berjalan di sana. Wajah remaja itu terdapat lebam dibeberapa bagian saja, baju yang dikenakannya juga terdapat noda cokelat dan merah.

"Tch." Decih orang itu sambil mengelap ingus yang entah kenapa mengalir dari hidungnya.

Naruto, nama remaja dengan raut wajah menyebalkan itu, sedang berjalan sambil menyeret tasnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, dia mengoceh tak jelas. Sesekali tangan kotornya mengusap bagian wajahnya yang terasa nyeri atau mengelap air kental yang mengalir dihidungnya.

"Jika aku bertemu dengannya lagi, akan kubunuh dia." Gumam Naruto.

'Buk'

Naruto berhenti, dia terjatuh dengan pantatnya duluan tatakala dia menabrak seseorang. Naruto yang tadinya sudah emosi, bertambah emosinya. Dia menatap ganas orang yang telah menabraknya, err... Ralat, orang yang ditabraknya.

"Kau punya mata atau tidak!? Mau kupukul!? Hah!?" Sembur Naruto murka.

Orang yang di tabraknya hanya bisa mengucapkan maaf berulang-ulang walaupun yang salah itu Naruto. Dia mengulurkan tangannya, berniat untuk menolong Naruto yang terjatuh.

Naruto menatap datar tangan orang itu. Dia menampar tangan orang itu lalu berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya. Lantas, Naruto berlalu begitu saja mengabaikan orang yang ditabraknya tanpa meminta maaf sekalipun.

.

.

"Tadaima."

Pertama kali yang dilihat oleh Naruto saat masuk kerumahnya adalah Jiraiya yang sedang duduk disofa dengan kedua tangannya terlipat di dadanya, beberapa kertas kosong ataupun kertas yang terisi penuh dengan tulisan tersebar dimeja depannya.

Ada apa dengannya?

Naruto menaikkan satu alis matanya. Dia lantas mendekati Jiraiya yang sedang memejamkan matanya, duduk disampingnya. Diambilnya selembar kertas yang berada dimeja depannya.

"Tch... Cerita erotis lagi."

"Uhm?"

Jiraiya membuka matanya secara perlahan. Kemudian, pupil matanya yang kecil bergerak kearah Naruto yang sedang membaca tulisannya, "Kau sudah pulang, Naruto?" Ucapnya seraya membenarkan posisi duduknya.

"Heh? Kau tidur?" Tanya Naruto sambil menatap kakeknya itu.

"Tidak... Ada apa dengan wajahmu?"

"Bukan apa-apa." Naruto membuang wajahnya, tidak mau menatap sang kakek yang menatapnya dengan tajam.

Jiraiya hanya bisa menghela nafasnya akan jawaban Naruto. Tidak bertanyapun sebenarnya dia sudah tau apa yang terjadi pada cucunya itu.

Pria yang umurnya sudah berkepala lima itu memijat-mijat pelipisnya, dia merasakan pusing dikepalanya. Masalah yang terjadi beberapa jam yang lalu saja sudah membuat kepalanya menderita pusing tujuh keliling, ditambah lagi dengan kelakuan cucunya yang nakal ini, novel ero-nya benar-benar tidak akan selesai tepat waktu.

Lagi-lagi, Jiraiya hanya bisa menghela nafasnya.

"Sudahlah... Cepat kau mandi, bau badanmu membuatku mual." Ucap Jiraiya dengan tangan yang mengibas-ngibas mengusir Naruto.

Naruto mendengus kesal mendengar ucapan kakeknya. Tetapi kalau dipikir-pikir ucapan kakeknya memang benar, dia sendiri bahkan merasa mual saat mengendus-ngendus bau tubuhnya sendiri. Naruto segera menuju kamar mandi meninggalkan kakeknya sendirian diruang tamu.

Tatapan Jiraiya beralih kekertas-kertas bejatnya kembali. Walaupun begitu tetap saja pikirannya melayang kemana-mana.

Dia masih memikirkan seseorang yang meneleponnya beberapa jam yang lalu, berkat orang itu rencana memasak makan malamnya gagal dan mengalami syok. Orang aneh yang mengaku-ngaku telah membunuh putra dan menantunya dengan dalih balas dendam. Lebih parahnya lagi, orang itu mengancamnya.

Marah? Tentu saja! Orang tua mana yang tidak marah dikala ada pembunuh anaknya yang meneleponnya dengan nada bangga?! Jiraiya benar-benar muak saat ini.

Dia mengambil kertas yang berada didepannya, mengucek-nguceknya hingga tak berbentuk kemudian dirobeknya menjadi potongan-potongan yang berukuran kecil.

Yeah, dia melampiaskan kemarahannya pada kertas malang itu.

Jiraiya menghela nafasnya lagi dengan kasar. Dia menyandarkan tubuhnya disofa, dia harus memikirkan sebuah rencana untuk menangkap orang aneh itu.

"Kenapa kalian meninggalkan sebuah masalah serius?" Gumam Jiraiya entah kepada siapa.

...

Seorang pria berjalan dengan santai di kegelapan malam. Pria itu berpawakan tinggi tegap dengan rambut pendek bergelombang berwarna putih keabu-abuan. Kulit putih pucatnya tampak bersinar diterpa lampu jalanan yang bersinar dengan terang. Mata sayunya menatap lurus ke jalanan dengan sorot yang ramah namun penuh rahasia itu.

Pria itu berhenti berjalan tepat di depan pintu kaca transparan. Tampak banyak orang yang berlalu lalang di depan pintu itu maupun yang keluar masuk di sana. Kemudian, pria yang tergololng tampan itu memasuki gedung yang bertuliskan "Game Center Doragon" diatas melalui pintu transparan yang dilihatnya sekilas tadi.

Bau khas yang tidak dapat dicirikan langsung tercium oleh hidung mancung pria itu saat sudah memasuki gedung tadi. Mata sayunya menatap sekeliling tempat yang penuh dengan berbagai mesin game itu, tampak ramai oleh pengunjung yang kebanyakan dari golongan muda.

Puas menatap sekitar, dia mulai kembali berjalan hanya untuk melihat-lihat. Beberapa orang menyapanya dan hanya dibalas dengan pria itu dengan senyuman ramah dan sebuah lambaian kecil. Sepertinya pria itu terkenal diwilayah ini, terbukti dengan beberapa orang menyapanya dengan tatapan yang segan.

Pria itu berhenti berjalan, mata biru pucatnya menangkap sesuatu yang menarik menurutnya. Dia berjalan pelan menuju 'sesuatu yang menarik' itu dengan langkah yang pelan.

"Kau baik-baik saja, penyembah Jashin?" Ucap pria tadi kepada orang yang wajahnya tampak babak belur di hadapannya.

"Apa urusanmu?" Orang yang wajahnya babak belur itu tampak tidak senang dengan olokan yang diberikan oleh pria di hadapannya. Dia dengan kasar menyingkirkan tangannya yang bersandar dibahu temannya yang juga babak belur disampingnya itu.

"Hoooh, galak sekali."

Orang yang babak belur tadi hanya mendengus tidak suka.

"Tampaknya kalian baru saja dibantai oleh seseorang? Siapa orang hebat itu?" Pria dihadapan orang yang babak belur itu tertawa kecil, tindakannya memancing emosi orang didepannya.

"Cih! Aku yakin orang yang menghajarku tadi dapat menghajarmu sampai mati, Toneri." Orang berambut putih klimis itu menatap pria yang disebut Toneri olehnya dengan tatapan merendahkan.

"Maaf, aku tidak selemah kau Hidan."

Hidan yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun itu, langsung mendorong Toneri. Dia memojokkan Toneri di sebuah mesin game. Tangan kanannya dengan cepat melayangkan pukulannya ke arah wajah Toneri. Tetapi sayangnya Toneri dengan mudah menangkap pukulan Hidan, wajahnya tersenyum kecil saat ini.

Tindakan mereka membuat tatapan beberapa orang yang berada di game center menuju kearah mereka. Sadar dengan suasana yang berubah menjadi menengangkan, tiga orang yang berada dibelakang Hidan tadi langsung melerai mereka berdua. Berungtunglah Hidan dan Toneri tidak memberontak saat dilerai.

"Dasar sombong." Hidan berlalu pergi setelah mengucap dua patah kata tadi diikuti dengan anak buahnya.

Tanpa disadari oleh Hidan, Toneri sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

...

Naruto langsung terjun bebas diatas kasurnya. Dia menyembunyikan wajahnya dibantal empuknya seraya mengeluarkan nafas yang panjang. Dia benar-benar merasa lelah saat ini, bahkan rasa lelahnya mengalahkan rasa laparnya.

Naruto berganti posisi yang tadinya tengkurap menjadi telentang. Tangan kirinya terangkat untuk menyentuh pipinya yang membiru.

Sakit!

Dia memaki dalam hatinya, memaki orang berambut klimis arogan yang bertarung dengannya di game center tadi. Naruto bersumpah akan menghajarnya lagi sampai dia tak berkutik jika bertemu dengannya kembali. Dia mendengus dengan kasar.

Remaja berambut kuning itu berganti posisi lagi dari telentang menjadi duduk dipinggir ranjang. Kemudian dia mulai berdiri.

'Krek'

Baru saja dia berdiri, persendiannya mendadak berbunyi dengan nyaringnya, membuat Naruto meringis kesakitan.

Dia berjalan kearah jendela kamarnya yang terbuka. Berdiri disana sambil mata biru lautnya menatap bulan purnama yang bersinar dengan terang. Beberapa bintang-bintang juga ikut menghias langit malam ini. Benar-benar indah, aku Naruto dalam hatinya.

Ah, ngomong-ngomong soal bulan. Dia jadi teringat dengan Hinata, gadis yang telah mewarnai hatinya. Kira-kira dia sedang apa? Pikir Naruto dengan kalemnya.

Baru sehari dia tidak bertemu dengan wajah ayu Hinata sudah merasa rindu, bagaimana dengan seminggu? Eaaa!

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.

.

To be contibued...


Yo, Apa kabar? Semoga baik-baik saja.

Maaf karena updatenya sangat lama, dan maaf juga kalau chap ini pendek bin kecepettan.

Sebenernya saya itu habis sakit, anehnya pas sakit itu saya lupa sama alur cerita fanfic ini. Lol...

Ngomong-ngomong, mungkin chapter depannya genrenya akan berubah yang tadinya Romance Humor jadi Tragedy, Crime, Drama, Romance. Karena kalau dipikir-pikir mungkin Humornya ga akan dapet dicahpter depan. Tapi yasudahlah, akan saya usahakan untuk menyelipkan Humor walaupun garing kek kripik tempe.

Sudah itu saja, Terimakasih sudah mau mampir buat baca fanfic gaje ini. Kritik dan Saran kalian akan saya terima dengan senang hati.

See you again!