Chapter 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
.
Sakura berjalan dengan wajah berseri, senang rasanya bisa menggodan Hinata yang malu-malu seperti itu. Tanpa ia sadari jika seseorang tengah menatap aneh kearahnya.
"Kau kenapa Sakura? Sepertinya sedang bahagia?" Tanyanya ketika Sakura berjalan melewatinyanya.
"Hehehe... aku senang sekali menggoda istrimu itu" balas Sakura berhenti dan menatap kearahnya.
Dahi Naruto mengerut tidak mengerti apa yang diucapkan Sakura "apa maksudmu?"
"Aku bertanya pada Hinata gini, eekhheemmm apakah malam pengantin menyenangkan?"
Bblluusshh! Lagi-lagi Sakura berhasil menggoda sahabatnya, kini giliran Naruto yang merona mendengar pertanyaan Sakura yang dirasanya itu adalah hal memalukan "iisshhh... kau jangan bertanya seperti itu"
"Ahahahahahhahaha lihatlah kalian berdua memang cocok. Kkkyyyaaaaa aku sangat menyukai pasangan ini" girang Sakura tidak bisa menahan tawanya dan langsung pergi begitu saja darisana.
Naruto tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu "hahaha dasar Sakura-chan" gumamnya masih saja menahan degup jantungnya yang berdetak dengan cepat "lebih baik aku kembali bekerja" lanjutnya lagi menghilangkan perasaan malunya.
Hinata masih saja memikirkan apa yang barusan Sakura ucapkan padanya "model? Siapa ya Inokah? Aahh aku tanyakan langsung saja deh" gumam Hinata langsung melesat pergi dari ruangan.
Deeggg.... lagi, detak jantungnya berpacu dengan cepat ketika melihat sang suami berada disana. Ia lupa jika tempat Naruto bekerja tepat diluar ruangannya.
Pandangan mereka bertemu, ingatan tentang ucapan Sakura beberapa detik yang lalu masih teringat dalam benak mereka. Wajah merona kembali hadir disana, setengah mati Hinata dan Naruto menahan perasaan malu itu "Hi...hinata kamu mau kemana?" Tanyanya membernaikan diri.
"A...aku mau pergi menemui Sa...sakura" gagapnya seraya menunduk menahan malu "sudah ya aku pergi dulu"
"U...uummm"
Pasangan yang begitu lucu mereka itu. Membuat siapapun merasa gemas dengan tingkah laku keduanya. Malu-malu kucing itulah mereka.
.
Hinata berjalan menuju tempat Sakura berada. Setiap Hinata melewati para pegawai yang tengah bekerja seperti biasa mereka menunduk hormat dan dibalas senyuman oleh Hinata.
Pandangan Hinata terpaku pada 2 wanita yang berdiri didepan tempat Sakura bekerja. Salah satu diantara mereka berdua seolah tidak asing lagi baginya. Rambut blonde yang dulu selalu di pony tail kini terlihat terurai dan semakin panjang.
"Apakah itu Ino-chan?" Gumam Hinata terus berjalan menghampiri mereka.
"Aahh Hyuga-sama" mendengar Sakura menyapa Hinata kedua wanita itu menoleh.
Mata Hinata terbelalak takjub melihat sahabat lamanya kini telah kembali "Ino-chan" grepp! pelukan dilayangkan oleh Hinata membuat Ino yang tidak siap menerima pelukan itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Aahhhh Hinata... aku rindu sekali padamu. Selamat atas pernikahanmu" jawabnya seraya melepaskan pelukan Hinata.
"Jadi, kapan kamu kembali?"
"Kemarin, aku datang kesini untuk menemuimu. Dan ohh ya kenalkan dia temanku namanya Hotaru Katsuragi" ucap Ino. Pandangan Hinata dialihkan pada wanita bernama Hotaru itu "Salam kenal" ujarnya hangat.
"Jadi kedatangan Hotaru sebenarnya dia ingin kerja disini, dan aku juga ingin kembali hehe" jawab Ino lagi.
"Bekerja disini? Tapikan kalian adalah model profesional" ujar Hinata tidak mengerti "hahaha sebenarnya aku gagal Hinata. Jadi aku juga ingin bekerja disini lagi" kekeh Ino menjelaskan kegagalannya.
"AAPPAAA? Baiklah aku terima kalian berdua kerja disini. Dan ohh ya untuk bayaran tidak usah khawatir aku akan menaikannya" lanjut Hinata lagi membuat kedua wanita itu tersenyum bahagia.
"Heeiii Hinata kapan gajiku akan naik?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Sakura mengundang gelak tawa mereka semua "ahahaha mungkin lain kali Sakura-chan" balas Hinata "ya sudah kalian mulai bekerja esok hari ya. Jaa" lanjutnya lagi seraya berlalu darisana.
.
Kini Hinata dan Naruto tengah makan siang bersama dikantin, hal itu seolah sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk makan bersama dengan pegawai yang lain untuk membuat hubungan mereka semakin akrab.
"Kau tahu Naruto-kun Ino-chan sudah kembali ke Konoha loh" ujar Hinata memulai percakapan.
"Benarkah? Bukankah dia sedang ada di Paris ya? Apakah pekerjaan modelnya tidak berhasil?"
"Aku gagal baka" ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang dan duduk dimeja mereka.
Naruto menatap kedatangannya "A...aahhh Ino-chan heheh gomen" ujarnya kikuk.
Ino dan sahabatnya bernama Hotaru serta Sakura datang bergabung bersama mereka. Namun ketika iris sapphire itu memandang kedatangan sosok wanita berambut blonde bermata hijau tosca membuat Naruto mengerutkan dahinya seolah ia mengetahui siapa sosok wanita baru itu.
"Hotaru?"
"Naruto-kun?"
'Kun?'
"Eehhh?" ketiga wanita yang berada disana otomatis memandang keduanya heran "Apakah kalian saling mengenal?" tanya Hinata penasaran.
Hotaru tersenyum kearah Hinata membuat wanita itu tiba-tiba saja tidak nyaman dengan suasana seperti ini.
"Ya kami saling mengenal. Kami berada di sekolah yang sama waktu duduk disekolah menengah pertama" balas Hotaru menjelaskan "ya itu benar dia adalah sahabatku waktu itu. Lama tidak bertemu Hotaru" lanjut Naruto menggenggam tangan Hotaru, membuat Hinata lagi-lagi merasakan ketidaknyamanan berada disana.
'Tunggu, dia tadi memanggil Naruto dengan suffix "kun" apakah mereka sedekat itu?' batin Hinata seraya menatap suaminya yang masih mengobrol dengan Hotaru.
"Ne, Hinata apakah kamu juga mengenal wanita itu?" bisik Sakura mendekati Hinata.
"Tidak aku tidak mengenalnya sama sekali"
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka, semuanya kecuali Naruto dan Hotaru tenggelam didunia mereka mengabaikan tatapan penuh selidik dari ketiga wanita itu. Heeiii apakah dia terlalu bodoh sehingga mengabaikan istrinya begitu saja? Hahh~ memang dasar dia pria yang tidak peka akan situasi disekitarnya.
Naruto dan Hotaru mereka berdua masik asyik mengobrol bersama. Berceloteh tentang masalalu mereka ketika masih duduk dibangku menengah pertama. Seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin tapi pada kenyataannya ini sudah lewat hampir 11 tahun lamanya. Obrolan yang menarik diiringi dengan sebuah candaan mereka terlihat begitu akrab dimata Hinata.
Sampai ekspresi Naruto berubah menjadi murung ketika Hotaru menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Mendengar hal itu Hinata maupun Sakura menatap kearah mereka kembali.
"Naruto-kun apakah Kushina kaa-san dan Minato Tou-san sehat?" tanyanya.
Dddeegg... pertanyaan itu membuat Naruto mengingat kembali apa yang seharusnya ia lupakan. Kenyataan yang baru saja dia terima seolah dipaksa untuk ia ingat kembali. Naruto menunduk tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari sahabat lamanya ini.
"A...aahhh gomen apa ak_"
"Tidak. Kedua orangtuaku baik-baik saja dan sekarang mereka sudah bahagia dialam sana" jawab Naruto dengan senyuman tegar diwajahnya. Hinata yang melihat itu tidak kuasa menahan kesedihannya 'aku tahu kamu berbohong untuk tegar' batinnya menatap sang suami.
Hotaru yang sudah mengerti arti pembicaraan Naruto barusan merasa bersalah dengan pertanyaannya yang tiba-tiba "go...gomen Naruto-kun aku tidak tahu kala_"
"Sudahlah. Minna lebih baik selesaikan saja makan siangnya" kilah Naruto mengalihkan pembicaraan.
Sedetik kemudian suasana disana berbeda lagi, kini hanya keheningan yang melanda diantara mereka. Hinata merasakan bahwa perasaan Naruto sekarang tengah terluka lagi. Wanita itu merasa jika luka lama sang suami telah kembali terbuka. Lihat saja Naruto kembali menunduk dan terlihat tidak nafsu makan sama sekali.
'Iiisshhh, aku tahu dia memang temannya. Apakah dia tidak mengerti situasinya? Aaahhh benar dia tidak tahu inikan sudah beberapa tahun lewat' kembali Hinata hanya bisa membatin melihat situasi canggung ini.
Pandangan Sakura, Ino dan Hinata saling menatap satu sama lain seolah mereka tengah berbicara lewat tatapan 'bagaimana ini apa yang harus kita lakaukan?' 'tidak apa-apa aku saja yang akan mengurusnya nanti' 'ya bagus Hinata ganbatte'
.
.
.
Waktu berjalan begitu cepat, pekerjaan dikantor telah selesai. Kini Hinata dan Naruto sedang ada didalam perjalanan pulang. Sejak kejadian makan siang tadi Naruto sama sekali tidak mengeluarkan satu patah katapun membuat Hinata merasa cemas dibuatnya. Dia takut jika hubungan pernikahan mereka yang baru seumur jagung itu harus berantarakan.
Hanya dengan membayangkannya saja telah membuat Hinata ketakutan setengah mati. Akhirnya iapun berinisiatif untuk mengajak dia berbicara "Na...naruto-kun?" tanyanya menoleh kesisi Naruto yang tengah menyetir.
"Hmm" hanya gumaman tidak jelas yang dijawab olehnya itu membuat Hinata semakin cemas.
"Apakah hubungan Naruto-kun dan Hotaru dimasalalu begitu dekat?"
Ccckkkiitttt! suara ban yang berdecit mengagetkan Hinata 'kenapa Naruto-kun tiba-tiba saja mengerem?'
"Kita sudah sampai" balas Naruto seolah menjawab keterkejutan Hinata.
Hinatapun mendongak melihat kesekitaran, dan benar saja mereka sudah tiba dikediaman baru mereka. Pandangan Hinata menatap lurus kearah Naruto yang tidak seperti biasanya. Pria itu langsung berjalan masuk kedalam rumah tidak membantu Hinata untuk turun dari mobil. Dan perasaan cemas lagi-lagi menghantui perasaannya, dia benar-benar takut akan sikap Naruto yang tiba-tiba sudah seperti ini lagi yang akan mengancam pernikahan mereka.
Buru-buru Hinata turun dari mobil dan berlari masuk menyusul Naruto.
.
Sedangkan ditempat lain, disebuah cafe yang terkenal di kota Konoha kedua wanita berambut sama tengah berbincang-bincang mengenai tadi siang.
"Aku tidak menyaka jika ternyata kamu berteman baik dengan Naruto" ujar Ino seraya menyantap cheesecake didepannya.
"Heheh aku juga tadi terkejut melihatnya ada disana" balas Hotaru "Ohhh, ya sejak kapan Naruto-kun bekerja di perusahaan itu?" tanyanya membuat pandangan mereka bertemu.
"Yang aku tahu Naruto sudah bekerja disana ketika dia sudah lulus di sekolah menengah atas. Dan oh ya tunggu, kau menyebutnya dengan suffix 'kun' sedekat apa kalian dulu?"
"Hohoho aku kira kamu tidak akan penasaran. Baiklah akan aku ceritakan"
Flashback ON
Hotaru POV
Hari ini adalah hari terakhir kami bersekolah di Tokyo Junior School. Aku dan sahabatku bernama Uzumaki Naruto pada akhirnya harus berpisah. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Dia adalah seseorang yang sangat berharga untukku, senyumannya yang hangat serta sifatnya yang ceria membuatku nyaman berada disampingnya.
Kami sudah bersama sejak upacara penerimaan siswa baru disekolah itu. Aku yang tidak mempunyai seorang temanpun akhirnya menemukan seseorang yang bisa berbagi kisah seru denganku. Dia adalah Naruto, dialah orang yang pertama menjadi teman baruku. Dia mendekatiku ketika aku begitu malu melihat orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal.
Dia menarik tanganku sambil berkata "Ayo, jika berdiri seperti itu terus kau akan melewatkan upacaranya" ujarnya diseratai dengan senyum ceria diwajahnya.
Beberapa bulan berlalu keakraban kami mulai berkembang. Tapi aku adalah gadis yang selalu mendapatkan cacian dan makian dari teman-teman sekelasku. Mereka selalu mengatakan aku adalah anak yang jelek, memalukan dan tidak pantas bersama mereka.
Tapi lagi-lagi Naruto datang dan menyelamatkanku dari gangguan murid lain. Dia selalu berdiri didepanku ketika air mata sudah mengalir deras keluar dari mataku "jangan ganggu dia. Dan jangan katakan dia jelek. Dia itu menarik tahu" teriaknya, dan membawaku kesebuah taman sekolah, menghiburku dan menghapus air mataku.
"Jangan dengarkan apa kata mereka. Kamu itu cantik percaya dirilah, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi seseorang yang hebat"
Itulah kata-kata yang selalu aku ingat sampai sekarang. Kata-kata sederhana yang telah membuatku termotivasi. Hanya dia dan akan selalu dia yang teristimewa dalam hidupku. Selama aku menjalani sekolah menengah pertamahanya dialah teman satu-satunya yang aku punya. Diapun selalu menghiburku dan selalu ada disampingku ketika aku kembali terluka, tidak hanya itu hubungan kami semakin akrab tak heran jika aku mengenal baik kedua orangtuanya.
Kushina kaa-san serta Minato Tou-san juga memperlakukanku dengan baik seolah aku adalah anak gadis kecil mereka "Hota-chan... gadis kecilku" itulah yang selalu Kushina kaa-san katakan padaku saat aku bermain kerumah mereka.
Hubungan kami berlanjut seperti keluarga aku merasa nyaman berada disektiat mereka sampai...aku jatuh cinta padanya.
Namun sayang sepertinya Tuhan tidak menghendaki keinginanku ini. Sehari setelah acara kelulusan sekolah Naruto dan keluarganya harus pindah ke kota sebelah. Kota Konoha, itulah yang aku dengar dari tetangga mereka. Hanya secarik kertas tanpa adanya ucapan perpisahan yang Naruto berikan padaku.
Air mata tidak bisa aku bendung lagi, pengungkapan cinta yang tidak bisa aku lakukan membuatku seperti gadis terbodoh didunia ini. Kenangan indah selama tiga tahun bersamanya tidak bisa aku lupakan. Dia mempunyai tempat terindah dihatiku. Dialah satu-satunya seseorang yang paling berharga dalam hidupku.
Flashback OFF
"Setelah aku lulus sekolah menengah atas akupun memutuskan untuk pergi ke Prancis menjadi seorang model supaya aku bisa terkenal dan dilihat olehnya. Itulah kenapa pertemuanku tadi siang membuatku merasa terkejut melihatnya. Terlebih aku mendengar dia telah menikah dengan wanita itu" ucap Hotaru menceritakan kisahnya selama ini "Eeehhhhh apa-apaan dengan wajah jelak itu" lanjutnya berteriak melihat wajah Ino yang sudah berlinangan air mata "hiks... hikss... ternyata kisah hidupmu mengharukan sekali Hotaru-chan. Hhhuuueeeeeeee" Ino menangis sejadi-jadinya melupakan imejnya yang seorang model.
"Sudahlah lupakan. Aku juga berniat untuk melupakannya"
'Hah? Apakah aku bisa?'
.
Hinata kini tengah berada didalam kamar menunggu sang suami yang tengah mandi. Perasaannya masih cemas memikirkan kenapa bisa Naruto bersikap dingin seperti itu lagi. Ia tidak mau melihat Naruto yang seperti ini.
Kkkrreekkk! Pintu terbuka, Naruto keluar sudah memakai piamanya. Ia berjalan mengabaikan tatapan Hinata yang begitu intens. Hinata tahu jika Naruto akan mengabaikan kehadirannya disana.
"NARUTO-KUN" bentak Hinata saat melihat Naruto yang siap berbaring.
Terlihat pria itu tersentak, pandangannya langsung menatap kearah Hinata "Hi...hinata" gugupnya melihat sang istri tengah melipat tangan didepan dada.
"KAU ME-NG-AB-AI-KA-N-KU" ujarnya penuh dengan penekanan. Melihat Hinata yang sudah seperti ini membuat Naruto kelabakan "A...apa maksudnya" kikuk Naruto.
Bblleettkk! "kau memang bodoh. Kenapa... " sekuat tenaga Hinata mengepal kedua tangannya erat seraya menunduk didepan Naruto "kenapa... kenapa... hiks... kau bersikap dingin lagi padaku hiks..." terdengar isakan memilukan itu keluar dari mulut Hinata.
Seketika kedua mata Naruto membulat melihat sang istri yang sekuat tenaga menahan tangisannya. Perasaan sakit hinggap didalam hatinya, ia sadar bahwa sekarang ia telah menyakiti Hinatanya lagi.
Bbbrruugg! Naruto mendekat membawa tubuh bergetar Hinata kedalam pelukan hangatnya "Gomen... sungguh aku benar-benar minta maaf Hinata. Aku mohon jangan menangis lagi" bisik Naruto lembut, membelai surai panjang Hinata menenagkan perasaan istrinya itu "aku hilang kendali jika sudah menyangkut pertanyaan orangtuaku. Gomen" lanjutnya lagi masih dalam posisi yang sama.
Hinata menegang menerima prilakuan Naruto yang selalu tiba-tia itu. Perlahan kepalan kedua tangannya mengendur, perasaannya sedikit tenang setelah mendengar suara lembut Naruto. Pada akhirnya Hinata membalas pelukannya, menenggelamkan kepalanya didada bidang Naruto.
Naruto kembali terkejut meraskan Hinata membalas pelukannya juga "jangan bersikap seperti itu lagi. Aku takut kau akan meninggalkanku lagi" bisik Hinata kemudian.
Mendengar itu ada perasaan bersalah dalam dirinya, ia seolah melupakan Hinata begitu saja "ha'i aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi" jawabnya dengan yakin.
Pelukan mereka mengendur, pandangan mereka kembali bertemu. 'tidak aku kembali membuatnya menangis' batin Naruto melihat air mata Hinata mengalir.
Cupp! Cup! Kecupan hangat dikedua mata Hinata diberikan olehnya, seketika itu juga mata lavenernya terbelalak keget.
Sebuah senyuman bertengger indah diwajah Naruto melihat keterkejutan Hinata "akhirnya aku bisa menghentikan tangisanmu, Hinata"
Cuupp! Kecupan lain dilayangkan olehnya, kini yang menjadi sasarannya adalah dahi yang selalu tertutupi poni ratanya "gomen aku telah menyakitimu. Aku sangat mencintaimu, Hinata"
Perlakuan lembut penuh kasih sayang sangatlah dirasakan oleh Hinata. Narutonya. Narutonya sudah kembali seperti biasa lagi. Hinata tidak bisa berkata apa-apa selain menerima semua yang Naruto lakukan padanya. Ternyata pria yang kini menjadi suaminya itu sangat sangat mencintainya. Dia hanya salah paham atas sikap Naruto yang tadi, dia sama sekali belum memahami trauma Naruto setelah mengetahui kebenaran bagaimana kedua orangtuanya meninggal.
Apakah ia egosi? Tidak memikirkan lebih lagi tentang perasaan suaminya sendiri. Setelah kejadin ini dia akhirnya mengerti bahwa Naruto bersikap seperti itu karena dia terluka dan masih berlum bisa melupakan kenyataan itu.
'Gomen Naruto-kun aku memang egosi. Aku sekarang memahamimu, aku sangat mencintaimu'
Pasangan yang baru menikah itu kini tengah menikmati waktu bersama mereka, saling mendekap hangat tubuh masing-masing. Mereka berdua mencoba untuk tidur, tapi masih ada pertanyaan yang mengganggu pikiran Hinata.
Setelah mendapatkan tekad yang kuat akhirnya Hinata mencoba menanyakannya pada Naruto "Na...naruto-kun apakah kamu sudah tidur?"
"Belum ada apa Hinata? Kamu tidak bisa tidur?"
"Sepertinya begitu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu"
"Tentang apa?"
"Ini mengenai temanmu Hotaru. Sedekat apa hubungan kalian dulu? Apakah kalian memiliki hubungan spesial?"
Mendengar Hinata menanyakan tentang Hotaru sahabat lamanya yang tidak sengaja bertemu kembali membuat Naruto membalikan tubuhnya menatap kedalam iris lavender Hinata "aku dan dia hanya sebatas sahabat saja ko. Hubungan kami memang dekat tapi kami tidak mempunyai hubungan spesial seperti perkataanmu itu"
"Tapi bagaimana jika ternyata dia mencintaimu?" tanyanya lagi "a...aahh itu hanya firasatku saja sih" _firasatmu memang benar Hinata, firasat seorang istri memang selalu benar_
"Kalau dia sampai mencintaiku ya tidak apa-apa. Tapi yang jelas hanya kamu seorang yang aku cintai Hinata. Tidak ada yang lain. Sudah tidurlah, besok akan kerja lagikan" jawab Naruto dan langsung menutup kedua matanya. Itu artinya Hinata tidak boleh berkata apapun lagi pada suaminya itu.
'Yokatta, aku senang mendengarnya'
Perlahan Hinatapun mulai menutup kedua mata indahnya, menyusul Naruto yang sudah berada dialam mimpi.
.
.
.
Hari pertama bekerja di sebuah perusahaan membuatnya sedikit gugup. Hotaru kini sudah berada didalam studio yang berada dilantai 3 untuk melakukan pemotretan perdanannya. Hotaru terlihat begitu cantik dengan pakaian yang ia gunakan, hanya dress selutut serta perhiasan menempel indah padanya.
"Apa kamu gugup?" tanya Ino mengagetkan.
"Sedikit sih aku rasa hehe"
"Tenang saja lakukanlah seperti biasanya"
"Emm arigato"
Hotaru kini sudah siap, berbagai gaya dilakukan olehnya. Wanita itu terlihat menawan ditambah dengan sinar lampu yang menyorotinya serta cahaya kamera membuat ia begitu cantik. Hinata dan Sakura yang juga sedang berada disana melihat Hotaru penuh takjub dengan kecantikan yang dipancarkan wanita itu disana.
Hinata memeluk dirinya erat, seolah ia merasa takut akan kehilangan sesuatu. Dia tahu kedekatan Hotaru dan Naruto suaminya sudah berjalan selama 3 tahun, bohong kalau wanita itu tidak mempunyai perasaan khusus pada Naruto. Dan apakah Naruto juga mempunyai perasaan yang sama? Apakah akan terjadi kisah lama bersemi kembali? Apakah akan seperti itu?
Lalu bagaimana dengannya? Apakah Hinata akan mundur? Heeii itu tidak boleh dibiarkan, Hinatalah yang kini sudah berada didalam masa depan Naruto. Dan tidak akan ada tempat yang spesial lagi untuk masa lalu yang hadir kembali.
"Ta... HINATA" pukk! tepukan pelan dilakukan oleh Sakura melihat sahabatnya terbengong disana "Iya ada apa Sakura-chan?"
"Apa kamu melamun? Mengkhawatirkan diakah?"
Pertanyaan Sakura memang benar Hinata tengah mengkhawatirkan tentang Naruto dan Hotaru "bagaimana kamu tahu?"
"Itu sudah tergambar dalam wajahmu Hinata" ucap Sakura tersenyum ramah padanya "tenang saja, kamu hanya perlu percaya dengan suamimu" lanjutnya lagi membuat Hinata sedikit tenang "ya kamu benar. Arigato Sakura-chan"
.
Pemotretan telah usai beberapa jam yang lalu. Kini Hotaru tengah mengistirahatkan dirinya diatap kantor. Menikmati senja yang telah lama ia lupakan. Angin sore berhembus menerbangkan anak rambutnya yang terurai. Perlahan kelopak mata menyembunyikan iris berwarna hijau toscanya menikmati sentuhan demi sentuhan angin yang membelainya lembut. Segala penat setelah bekerja seharian terbayarkan sudah.
"Ternyata kamu masih suka menikmati senja ya" ucap seseorang yang tiba-tiba saja mengagetkannya.
Hotaru membuka kedua matanya menatap kearah samping dimana dia telah duduk disampingnya.
"Na...naruto-kun. Mengagetkanku saja"
"Ehehehhe"
Senyuman ceria itu membuat Hotaru terdiam kaku. Sudah lama ia tidak pernah melihat senyuman indah itu dan sekarang dia menikmatinya lagi.
'Senyuman itu. Senyuman yang sudah lama aku rindukan. Hah~ berani sekali dia memperlihatkannya lagi padaku'
Pukk! Tepukan pelan dilayangkan dibahu Hotaru "kenapa bengong? Apakah kamu terpesona dengan ketampananku?"
Bukk! Pukulan telak dilayangkan pada perut Naruto. Semburat merah tipis turut hadir dipipi putihnya "eeugghh jangan GR. Kamu masih sama saja seperti dulu" ujarnya mengalihkan pandangannya kedepan menatap kembali senja yang sebentar lagi hilang.
"Dulu ketika masih duduk dibangku menengah pertama kau selalu datang padaku, menemaniku dan juga selalu menghiburku ketika aku dijahili oleh murid lain." Ujar Hotaru menceritakan masa lalunya.
Naruto tersenyum mendengar hal itu "iya kau benar, aku memang tidak pernah tega melihat seseorang dilukai seperti itu. Dan entah kenapa aku juga senang melakukannya. Gomen, karna dulu aku tidak melakukan salam perpisahan yang benar. Perpindahan itu mendadak aku tidak bisa menemuimu dulu maka dari itu aku hanya memberikanmu secarik kertas. Eemmm aku harap kamu memakluminya" jelas Naruto.
Hening melanda mereka. Setelah penjelasan Naruto barusan Hotaru tidak memberikan jawaban apapun lagi. Ia tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Entah apa yang ia pikirkan.
Lama dia tidak menjawab sampaii... "eemmm aku memakluminya. Aku hanya sedikit kecewa saja" senyuman mengakhiri jawabannya.
.
Sedang ditempat lain Hinata tengah berkumpul bersama Ino dan Sakura menikmati teh hangat disore hari.
"Ino-chan apakah kamu tahu jika Hotaru adalah temannya Naruto-kun?" Tanya Hinata.
"Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Selama di Paris dia juga tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya. Aku juga terkejut ketika kemarin mereka saling sapa" jawab Ino menjelaskan.
Kini giliran Sakura yang berujar "mereka kelihatannya sangat akrab sekali ya"
"Hmm benar saja merekakan sudah bersama 3 tahun lamanya. Dan aku bingung kenapa bisa mereka berpisah ya?" Tanya Hinata lagi.
"Hah~ baiklah karna ini menyangkut Naruto suamimu maka aku akan menceritakan tentang Hotaru. Kemarin dia menceritakan masa lalunya padaku"
Hinata dan Sakura langsung menatap intens kearah Ino "apa yang dia ceritakan?" Tanya mereka berdua kompak.
"Dia..."
Ino mulai menceritakan bagaimana pertemuan pertama Hotaru dan Naruto. Di hari upacara penerimaan murid baru mereka pertama bertemu, sampai Hotaru selalu dijahili oleh murid-murid lain dan Naruto akan datang membantunya, menghiburnya dan menghapus air mata kesedihannya.
"Hubungan mereka berlanjut sampai kelas 3 menengah pertama. Hotaru sangat akrab dengan kedua orang tua Naruto. Beliau sudah menganggapnya sebagai gadis kecil mereka. Sampai pada akhirnya dia jatuh cinta begitu dalam pada kenyamanan. Niat dia untuk mengungkapkan perasaannya harus pupus karna sehari setelah kelulusan sekolah Naruto harus pindah ke Konoha dan perasaan itu harus ia pendam lagi" Ino mengakhiri ceritanya menyesap teh hangat untuk melegakan tenggorokannya yang kering.
Hinata yang mendengar cerita Ino tentang wanita bernama Hotaru yang tiba-tiba saja datang merasa sedikit iba juga. Tapi jauh dihatinya yang paling dalam ia begitu khawatir 'ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu. Kaa-san dan Tou-san Naruto juga sudah menganggapnya anak mereka. Aku yakin mereka sudah sangat dekat. Dan aku siapa baginya? Bagaimanapun masa lalu itu sudah membuat mereka begitu akrab. Tidak mungkin jika Naruto tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya' batin Hinata menerawang kedalam air teh menatap pantulan wajah menyedihkannya disana.
"Apakah Hotaru masih mencintainya?" Tanya Hinata tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku dengar kemarin dia ingin melupakan perasaannya" jawab Ino.
"Tapi bagaimana jika perasaan cinta itu masih ada? Perasaan cinta tidak mudah untuk dilupakan bukan?" Ujar Hinata menatap kedua sahabatnya itu.
.
Mereka masih bersama, berdua mengingat tentang kenangan indah dimasa lalu. Tidak mudah bagi Hotaru untuk melupakan itu semua. Baginya setiap hari yang ia lewati bersama Naruto adalah kenangan berharga dalam hidupnya. Dialah yang membuat Hotaru bisa sampai sejauh ini. Kata-katanya lah yang telah membuat ia termotivasi.
"Aku tidak menyangka jika sekarang kau menjadi seorang model" ujar Naruto kembali bersuara.
"Iya semua ini berkatmu"
"Berkatku? Apa maksudmu?"
"Iya berkat perkataanmu yang sudah memotivasiku"
"Aku tidak mengerti"
"Eemmm tidak apa. Wajar saja beberapa tahun sudah berlalu dan semuanya pasti sudah berubah. Naruto-kun..."
"Iya?"
"Suki"
Tbc...
Bagimana minna semoga tidak mengecewakan ya ^^ gomen sebelumnya jika kelanjutannya fic ini agak lama hehehe jika berkenan silahkan reviews ya ^^/. Jaa semoga bisa bertemu di next chap dengan cepat ya heheh :D :D
UzumakiHyuga13 : hehehe maksih banyak semangattt juga ^^/ arigato udah ngereviews :D
LuluK-chaN473 : hehehe maksih banyak LuluK-san semangatttt juga ^^/ udah lanjut nih semoga suka, arigato udah ngereviews :D
Rozzeana : heheh iya ga papa ko semoga suka ya :D arigato udah ngereviews :D
