Chapter 3

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Pairing : NaruHina

.

Gomen jika kelanjutannya agak lama hehe, untuk menemani malam minggunya hyugana update nih semoga suka ya ^^/ selamat membaca :D *0_0*

.

"Suki"

"Eehh"

Wwuussshhhh! Angin berhembus kencang, menerbangkan rambut panjang Hotaru sehingga menutupi wajah dengan rona merah bertengger dipipi putihnya.

Naruto menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Apakah tadi dia tidak salah dengar? Ia menatap Hotaru yang sedang merapihkan rambutnya.

Kembali pandangan mereka bertemu, wajah keterkejutan masih ditampilkan dalam raut muka Naruto membuat Hotaru tidak bisa menahan tawanya "ahahaha... lihatlah wajahmu itu Naruto-kun. Kau terlihat begitu bodoh. Aku hanya bercanda tadi... ahahaha senang juga bisa menggodamu. Mana mungkin aku menyukaimu hahh ada-ada saja... yahh tidak mungkin" nada suara Hotaru semakin lemah dan melemah.

"A...apa kau... kau baru saja membuatku hampir serangan jantung tahu" jawab Naruto menetralkan detak jantungnya kembali.

"Hahaha gomen gomen. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi otoutoku tahu" entah itu memang ucapan dari hatinya atau hanya sekedar ucapan belaka saja yang keluar dari mulutnya.

"Apa kau bilang aku bukan adik laki-lakimu tahu. Kaulah imoutoku, Kaa-san juga sering mengatakan bahwa kau adalah gadis kecil kami. Jadi kau adalah adikku" ujar Naruto mengelus lembut puncak kepala Hotaru.

Mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Naruto, Hotaru menegang seketika. Perlakuan lembutnya itu masih sama seperti dulu. Kasih sayang yang dirasakannya saat ini sama percis ketika dulu Naruto selalu memperhatikannya.

"Baiklah jangan sampai pulang malam ya. Aku duluan jaa."

Naruto pergi meninggalkan Hotaru seorang diri. Punggung tegapnya menandakan jika pria itu sudah tumbuh menjadi orang yang sangat baik "ternyata kau memang hanya menganggapku sebagai adikmu. Kau tumbuh menjadi pria yang luar biasa Naruto-kun" gumam Hotaru melihat Naruto berjalan meninggalkannya.

"Semoga apa yang aku lakukan ini benar. Kau beruntung Hinata" senyumnya mengalihkan tatapan pada langit yang sudah menggelap.

.

Hinata sedari tadi mondar mandir tidak jelas didalam ruangannya. Sejak pembicaraan tadi wanita itu tidak bisa berpikir jernih tentang wanita bernama Hotaru itu yang tiba-tiba saja datang. Dia takut masa lalu suaminya akan membawa mereka kembali lagi bersama. Sedari tadi ia sama sekali belum melihat sosok suaminya dimanapun, bahkan tempat kerjanyapun kosong.

"Hinata ayo kita pulang"

Mendengar suara yang tidak asing lagi Hinata menghentikan kegiatannya dan menatap kedatangan suaminya.

"Iya sebentar lagi aku akan keluar" jawab Hinata yang masih membereskan berkas-berkas yang berserakan untuk mengalihkan kegiatannya yang tadi untung saja dia bisa cekatan kalau tidak dia bisa ketahuan mondar-mandir tidak jelas seperti tadi 'bagaimana aku menghadapinya?' Batinnya, pikirannya mengingat kembali pada obrolan-obrolan yang tidak sengaja ia dengar di dalam toilet.

"Apa hubungan Hyuga-sama dan Naruto renggang ya?"

"Emangnya kenapa?"

"Tidak sengaja tadi aku melihat Naruto bersama model baru itu loh"

"Ahh yang benar?"

"Aku mana mungkin bohong"

Itulah obrolan yang didengar oleh Hinata. Sehabis minum teh bersama Ino dan Sakura dia tadi sempat pergi ke toilet dulu dan tanpa sengaja mendengarkan hal itu. Dan sekarang Hinata bingung harus bagaimana menghadapi suaminya. Pikirannya melayang kemana-mana memikirkan obrolan tadi dan ucapan Ino.

'Bagaimana jika tadi Hotaru menyatakan cintanya tanpa sepengetahuanku? Dan bagaimana jika Naruto juga ternyata memiliki perasaan yang sama? Bagaimana jika sekarang mereka resmi menjalin hubungan? Bagaimana dengan hubungan pernikahan ini? Bagaimana jika Naruto-kun meninggalkanku lagi? Aaarrgghhh aku tidak bisa menerimanya jika sampai hal itu terjadi' racau Hinata seraya mondar mandir lagi didalam ruangannya. Sebenarnya ia sudah selesai memberskan berkas-berkas itu tapi Hinata belum yakin untuk bertemu dengan Naruto setelah apa yang ia ketahui hari ini.

Brruugg! Dengan mencengram rambutnya Hinata jatuh terduduk merasakan kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.

.

"Hinata ko lama sekali ya? Apakah berkas-berkasnya banyak? Aahh baka kenapa aku tidak membantunya saja?" Gumam Naruto yang sedari tadi menunggu Hinata diluar ruangannya.

Brugg! "Apa itu? Hinata?" Mendengar sesuatu yang jatuh Naruto buru-buru kembali keruangan Hinata.

Brakk! Ia membuka pintu dengan kasar. Disana Naruto sama sekali tidak melihat Hinata. Sampai ia berjalan memutari belakang meja mendapati istrinya yang sudah duduk dilantai dengan mencengkram rambutnya kuat.

Buru-buru Naruto menghampiri Hinata khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya.

"Hinata kamu tidak apa-apa?" Tanyanya menepuk pelan bahu Hinata.

Hinata yang mendengar suara suaminya perlahan menatap kedatangannya "Naruto-kun?" Ujarnya dengan suara parau.

"Hinata kamu tidak apa-apa?" tanya Naruto lagi memastikan "aku merasakan sedikit pusing" jawabnya.

Grepp! Naruto langsung membopong tubuh Hinata membawanya pulang kerumah khawatir jika sang istri kelelahan dalam bekerja.

.

Sesampainya dirumah Naruto langsung membaringkan Hinata diatas king size. Naruto takut jika Hinata kembali sakit akibat kecelakaan beberapa bulan yang lalu dimana hal itu mengakibatkan ingatan tentang dirinya hilang begitu saja. Dan apakah sekarang hal itu kembali lagi pada Hinata? Mengingat tadi Naruto sempat melihat Hinata mencengkram kuat rambutnya seolah merasakan begitu sakit di bagian kepalanya.

Tatapan cemas kembali hadir diwajah Naruto, melihat Hinatanya yang terlihat begitu pucat. Sedari tadi Naruto menggenggam tangan Hinata menciumnya memberikan kehangatan untuk istrinya.

"Sayang bangunlah" lirihnya mengusap kepala Hinata.

Perlahan kelopak itu membuka menampilkan kembali mata indahnya "Na...naruto-kun" grepp! Hinata langsung memeluk erat suaminya seolah Naruto tidak boleh pergi kemanapun. Sesuatu yang basah mengenai kemeja putihnya. Ia meyakini jika Hinatanya kini sudah menangis lagi. Kedua iris sapphirenya terbelalak sempurna, kaget karna tiba-tiba saja istrinya menangis seperti itu.

"Hi...hinata kau tak apa?" Tanya Naruto hati-hati. Hinata hanya menggelengkan kepalanya tak sanggup untuk mengeluarkan sebuah suara.

Naruto semakin dibuat bingung dengan kelakuan Hinata sekarang ini. Naruto takut jika dirinya sudah menyakiti Hinata tanpa ia sadari.

"Sayang, apakah aku menyakitimu? Jika iya maafkan aku sungguh aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan. Maafkan aku" ujar Naruto lirih 'aku tidak tahu. Aku hanya takut kehilanganmu' racau Hinata didalam hati masih tidak sanggup mengeluarkan suaranya.

Cupp! Naruto terus menerus mengecup pelan puncak kepala Hinata yang berada didada bidangnya dan cara itu berhasil membuat Hinata meredakan tangisannya.

"Hhaa hhuuhhh" Hinata menarik nafas menenangkan dirinya dari keterpurukan yang ia buat. Pemikiran negatif mengenai suaminya dengan wanita bernama Hotaru itu ia ciptakan dengan sendiri mengakibatkan adanya luka dihatinya dengan sendiri juga. Hinata sama sekali tidak bertanya tentang apa yang Naruto rasakan pada Hotaru.

Bukankah menanyakan kebenarannya itu lebih baik daripada harus memendamnya sendirian seperti itu?

"Na...naruto-kun" akhirnya suara lemah itu keluar juga.

Naruto yang akhirnya mendengar Hinata bersuara kembali tersentak kaget tapi jauh dilubuk hatinya yang paling dalam ia merasa senang. Ternyata Hinata tidak mendiamkannya lebih lama.

"Iya sayang ada apa?"

"A...apakah... apakah kamu me...menyukai Hotaru?" Gugup Hinata takut-takut.

Hinata yang masih berada didalam pelukannya semakin didekap erat olehnya, senyuman hadir diwajah Naruto seolah menemukan sebuah fakta baru yang didapatinya "apakah Hinata tengah cemburu padaku?" Ujarnya jahil.

Gyutt!

Cubitan pelan dilayangkan pada punggung Naruto oleh Hinata membuat suaminya sedikit merintih kesakitan "a...aaahhh Hinata kenapa kamu mencubitku?"

"Na...naruto-ku nakal" ucap Hinata manja.

Dengan perlahan Naruto melepasakan pelukan mereka memegang kedua bahu Hinata dan menatapnya penuh sayang dengan senyuman masih bertengger indah diwajah tan itu.

"Kan sudah aku bilang, aku benci melihat wanita yang aku cintai menangis seperti ini. Eemmm hukuman apa ya yang pantas untuknya ya?" Kata Naruto mengusap jejak-jejak air mata dipipi sang istri.

Hinata terbelalak mendengar hal itu, dirinya merasakan akan ada bahaya yang menimpanya "Naruto-kun mesum" ucapnya tanpa sadar dengan wajah yang merona.

Cup! "Jangan menangis lagi. Ceritakanlah ada apa?" Tanyanya lagi dengan lembut.

"Apakah Naruto-kun mencintai Hotaru?" Tegas Hinata tidak gugup seperti tadi.

Lagi-lagi hanya sebuah senyuman yang hadir diwajah tan itu "dengar ya Hinata" masih menangkup pipi Hinata "meskipun aku lebih mengenalnya terlebih dahulu dibandingkan denganmu tapi ketahuilah cintaku hanya untukmu Hinata tidak ada yang lain. Bagiku Hotaru adalah adik kecil kami" lanjut Naruto dengan nada suara yang begitu lembut membuat perasaan Hinata menjadi tenang setelah mendengar penuturan suaminya itu.

"Benarkah? Apakah aku bisa mempercayainya?" Tanya Hinata lagi, Naruto tak habis pikir mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Hinata.

"Eemm kau bisa mempercayainya. Karna hanya kamulah wanita yang sangat aku cintai Hinata" cupp! Ucapan itu diakhiri dengan sebuah kecupan mesra didahinya.

'Benarkah apa yang dikatakannya?'

"Karna tadi kamu sudah menangis dihadapanku maka sekarang saatnya untuk hukuman. Bersiaplah Hinata"

"Kkkkyyyyaaaaaaaa"

.

Didalam sebuah rumah sederhana wanita bernama Hotaru tengah memandang langit malam dibalkon rumahnya yang dihiasi indahnya bintang dengan bermandikan cahaya bulan. Indah. Itulah kesan yang dimilikinya ketika melihat langit pada malam hari ini. Menengadah melihatnya seolah sedang memikirkan sesuatu.

Perasaan dan pikirannya bertolak belakang. Didalam hatinya Hotaru memang masih menginginkan sosok Naruto untuk menjadi pendamping seumur hidupnya, bercanda dan tertawa seperti dulu lagi. Masa-masa paling indah yang mereka lewati hanya berdua tidak ada yang lain. Hanya dialah yang selalu menghapus kesedihannya dimasa lalu. Sedangkan pikirannya mengatakan bahwa ia harus menyerah dengan keinginannya itu dan menerima semua apa yang sudah terjadi. Melihat dan menerima kebahagiaan pria itu dengan wanita yang dicintainya, tentu wanita itu bukanlah dirinya. Wanita asing yang baru sehari ia temui. Dan wanita itulah yang menjadi bos tempat dimana ia bekerja. Tidak sebanding dengan dirinya yang hanya seorang model. Wanita itu cantik, baik, mandiri, tegar dan menjadi panutan untuk sebagaian besar wanita lainnya. Dan tentu saja ia juga sangat menghormati wanita itu.

"Hah~" Hotaru menghela nafas berat "aku tidak menyangka kau menikah secepat itu. Bahkan kau sama sekali tidak mengundangku. Bagaimana mau mengundang bahkan mungkin niatan untuk menemuiku saja sudah tidak ada dalam kamus hidupmu. Jika pada kenyataannya akan berakhir seperti ini lebih baik dulu kau tidak usah hadir untuk menyelamatkan hidupku." Gumam Hotaru menceritakan pada bintang diatas sana yang berkelap-kelip dengan indah padanya seolah bintang itu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap saat.

"Mundur... jangan... mundur... jangan... mundur... jangan... " gumamnya lagi berhitung dengan jari-jarinya untuk mengambil keputusan terbaik untuknya.

'Baiklah apapun yang terjadi mungkin inilah yang terbaik untukku' batinnya telah memilih keputusan yang ia ambil.

.

Ditempat yang berbeda dikediaman Uciha, Sakura tengah bercengkrama dengan suaminya Sasuke. Dia tengah membicarakan sahabat mereka tentang adanya kehadiran wanita asing dalam kehidupan rumah tangga mereka. Bagaimanapun juga Sakura dan Sasukelah yang menjadi saksi perjuangan cinta mereka.

"Apakah menurutmu Naruto menyukai wanita itu juga?" Tanya Sakura yang kini mereka berdua tengah bersantai diruang keluarga menikmati kebersamaan mereka yang jarang sekali dilakukan tentunya karna kesibukan masing-masing.

Sasuke yang mendengar pertanyaan istrinya mengalihkan pandangan untuk menatap Sakura "kalau menurutku sih, si baka dobe tidak memiliki perasaan yang sama dengan wanita itu" ucapnya memberikan pendapat.

"Benarkah? Tapikan mereka sudah 3 tahun bersama bahkan kedua orangtuanya menganggap Hotaru adalah gadis kecil mereka. Masa iya perasaan itu tidak muncul dalam hatinya sama sekali?"

"Sakura apakah kau tahu berapa tahun Naruto bersama Hinata?" Tanya Sasuke balik, Sakura mencoba mengingat kembali kebersamaan Naruto dan Hinata dari dulu hingga sekarang.

"Eemmm kalau tidak salah sekarang hampir berjalan 6 tahun" jawab Sakura.

Sasuke mengangguk "ya itu benar. Jadi lebih lama siapa Hotaru atau Hinata yang ada disisinya?" Tanya Sasuke lagi.

"Ya pasti Hinatalah"

"Benarkan. Meskipun dulu Naruto memiliki perasaan yang sama dengan wanita itu tapi aku yakin perasaan itu sudah terkikis habis dengan kebersamaannya dengan Hinata selama ini" ucap Sasuke menjelaskan apa yang ia tangkap.

Sakura terkejut mendengar hal itu "aahh kamu benar juga ya." Grepp! "Aku mencintaimu Sasuke-kun" ujar Sakura yang langsung memeluk suaminya.

"Hn. Aku mencintaimu juga" ucapnya membalas pelukan Sakura.

.

.

.

Keadaan dikantor terlihat sibuk hari ini. Bagaimana tidak pertemuan antar pemimpin perusahaan besar akan dilaksanakan di Hyuga Corp, mereka akan menghadiri sebuah rapat untuk menjalin kerja sama antar perusahaan agar menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya.

Semua pegawai terlihat sibuk untuk menyambut orang-orang penting itu. Tidak hanya mereka bahkan Hyuga Hinata selaku pemimpinnyapun tak kalah sibuknya. Dia sedang menyiapkan bahan-bahan untuk nanti dipresentasikan didepan mereka.

Hinata terus berjalan kesana kemari untuk menemukan sesuatu yang menarik. Tapi disaat ia akan pergi ketempat penjualan perhiasannya tiba-tiba saja ia merasakan pusing dan mual bersamaan. Dengan segera Hiantapun berjalan untuk menuju toilet terdekat.

"Hhuemmpp" sekuat tenaga Hinata menahan rasa mual yang tiba-tiba saja melanda pada dirinya seolah ada sesuatu didalam tubuhnya yang ingin keluar.

Brakk! Hinata membuka pintu toilet menumpahkan cairan bening dari mulutnya.

"Aku kenapa ya?" Gumamnya menyeka mulut.

"Hyuga-sama anda tidak apa-apa?" Ujar wanita cantik yang kebetulan juga berada disana.

Mendengar suara itu Hinata segera menengokan dirinya untuk melihat siapa yang ada disisi kanannya.

Lavendernya terbelalak kaget melihat siapa orang yang kini ada disampingnya itu. Hinata tidak mau dia melihat sisi lemahnya seperti sekarang ini.

"Ho...hotaru-san?" Suara lemah itu terdengar dari mulut Hinata.

"Anda tidak apa-apa? Wajah anda kelihatan pucat" ucap Hotaru ada nada khawatir disana melihat atasannya sepergi itu. Jujur meskipun Hinata adalah istri dari orang yang selama ini ia sukai tapi entah kenapa disaat melihat Hinata seperti ini rasa iba itu hadir dalam benaknya.

"Aku tidak apa-apa ko hanya tidak enak badan biasa saja" jawab Hinata berdiri tegap mengenyahkan rasa mual itu "kalau begitu mari Hotaru-san saya permisi dulu" lanjut Hinata lagi. Tapi sayang langkahnya harus terhenti ketika ia merasakan pergelangan tangannya ditahan.

Hinata kembali menatap Hotaru yang juga menatapnya.

"Bisa kita bicara sebentar Hyuga-sama? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan"

.

Naruto terlihat uring-uringan sedari tadi ia tidak melihat sang istri dimanapun. Bahkan kini jam sudah menunjukan pukul hampir jam 10 pagi dan sebentar lagi pertemuan antar pemimpin perusahaan akan segera dilaksanakan.

Sakura yang melihat sahabatnya seperti itu akhirnya mendekatinya "oyy Naruto. Kau kenapa? Dari tadi aku lihat kau nampak uring-uringan seperti itu" cegah Sakura ketika Naruto berjalan melewati tempatnya bekerja.

"Hah~" menghela nafas kasar "aku dari tadi tidak melihat Hinata. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, semalam dia juga bertingkah aneh dan menanyakan hal aneh juga" jawabnya menceritakan pada sahabat pinknya itu.

"Apa? Emangnya Hinata menanyakan hal apa?" Tanya Sakura penasaran.

"Dia menanyakan apakah aku menyukai Hotaru. Ya aku balas tidaklah akukan sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun pada Hotaru. Dia sudah aku anggap sebagai imoutoku saja"

'Emm ternyata presepsi Sasuke-kun benar juga. Aku telah salah menduga tentangmu Naruto' batin Sakura "apakah benar kamu tidak menyukai Hotaru?"

"Ya ampun kenapa sih kalian menanyakan hal yang sama. Aku benar-benar tidak menyukainya"

"Baguslah kamu setia mencintai Hinata"

"Ngomong-ngomong kamu melihat Hinata tidak sih? Sedari tadi aku belum melihatnya" kembali obrolan pertama itu dibahas lagi.

Namun saat Sakura akan menjawabnya tringg! Suara ponsel digenggamannya terdengar. Secepat kilat Naruto melihat sebuah pesan masuk itu.

"Naruto-kun aku ada pertemuan dengan clien mendadak sekali. Aku akan kembali sebelum rapatnya dimulai"isi pesan masuk yang ternyata dari Hinata.

"Hah~" helaan nafas terdengar begitu lega "ada apa Naruto?" Tanya Sakura melihat sahabatnya menghela nafas seperti itu.

"Haha ternyata Hinata ada pertemuan. Hhahh bikin khawatir saja. Kalau begitu aku menyiapkan ruang rapat dulu ya. Jaa Sakura" Naruto berlalu dari sana melambaikan tangan pada sahabatnya itu.

Sakura yang melihat hal itu tersenyum lebar melihat kelakuan sahabat kuningnya yang seperti itu "dasar kekanakan" gumamnya melihat punggung itu berlalu.

.

Hinata meletakan ponsel miliknya dimeja menatap kearah wanita yang kini ingin membicarakan sesuatu padanya sekaligus yang telah menolong ia tadi.

Teh hangat dibuatkan oleh Hotaru untuk Hinata. Bagaimanapun wanita itu harus menolong siapapun yang tengah kesusahan.

"Arigato" ucap Hinata, hanya senyuman yang diberikan oleh Hotaru untuknya. Hotaru duduk dihadapan Hinata. Mereka berdua kini ada diruang VIV yang khusus untuk tamu besar. Hinata yang membawanya kesana. Dia pikir jika Hotaru akan membicarakan sesuatu yang serius jadi Hinata membawanya kesini untuk mencegah orang lain yang tidak sengaja akan mendengarnya.

"Aku harap kau merahasiakan hal ini dari Naruto-kun. Tentang kesehatanku dan pertemuan mendadak ini" ujar Hinata melipat tangan didepan dada.

"Ha'i saya mengerti"

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Hinata lagi. Karna sedari tadi Hotaru belum membicarakan maksudnya itu.

Hotaru kembali tersenyum "aku hanya ingin mengatakan selamat atas pernikahan kalian"

"Hanya itu saja? Apakah kau menyukai suamiku?" Tanya Hinata lagi.

Lagi-lagi Hotaru hanya tersenyum tidak ada keterkejutan disana. Hotaru juga tahu lambat laun Hinata akan menyadari hal itu. Entah itu dari situasinya atau dari sahabatnya sendiri Ino yang memberitahukan hal itu.

"Ya aku menyukainya_ aahh tidak, aku sangat mencintainya"

Hinata membelalakan kedua matanya tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu membicarakan perasaannya pada istri pria yang dicintainya? Apakah ia memang sengaja supaya Hinata sakit hati, marah dan akhirnya menyerah pada suaminya?

'Apa maksudnya?' Batin Hinata terus saja menatap dingin wanita didepannya itu "apakah kau baik padaku tadi hanya untuk menyogokku supaya kau bisa berhubungan dengannya?" Tanya Hinata yang kini nada suaranya berubah menjadi dingin.

Lagi dan lagi Hotaru hanya tersenyum begitu saja pada Hinata. Entah apa maksud senyuman yang selalu ia berikan untuk Hinata, hanya dialah yang tahu.

"Aku mencinainya dari dulu. Perasaan ini semakin berkembang setiap tahunnya. Perasaan ini seakan meledak ketika rasa rindu hinggap dihatiku. Setiap hari berganti hanya ada rasa sesak karna tidak bisa bertemu dengannya. Ketika aku kembali ke Jepang dan tidak sengaja bertemu dengannya lagi aku harus menelan pil pahit kehidupan mendengar bahwa dia telah menikah" tutur Hotaru.

Hinata yang mendengar hal itu terdiam tak bisa berkutik apa-apa. Ada perasaan sakit, bersalah secara bersamaan. Sakit karna tidak menyangka jika suaminya itu telah dicintai begitu besar oleh seseorang yang selalu ada disisinya. Hatinya kembali tidak percaya dengan apa yang semalam ia dengar dari mulut suaminya yang hanya menganggap Hotaru sebagai imoutonya saja tidak lebih. Perasaan bersalah itu ada karna dia merasa sudah merebut Naruto dari tangan wanita sebaik Hotaru. Hinata memang tidak mengetahui bagaimana mereka dimasa lalu. Raut wajah Hotaru menampilkan guratan keseriusan membuat Hinata yakin jika perasaan wanita itu benar-benar serius pada suaminya.

Dan sekarang apakah Hinata harus menyerah pada pernikahannya yang baru terjalin itu? Mendengar penuturan dari wanita itu dengan raut wajah serius membuat Hinata yakin jika perasaan Hotaru tidak main-main. Hinata tahu karna mereka sesama wanita, bagaimana sakitnya jika seseorang yang kita cintai menikah begitu saja dengan wanita lain. Tapi heii itukan bukan kesalahannya. Hinata bahkan tidak mengetahui bahwa Naruto mempunyai seorang sahabat wanita dimasa lalunya karna suaminya itu tidak pernah menceritakan tentang kehidupan ia dimasa. Apakah sekarang semua ini adalah kesalahannya? Lalu ada maksud apa Tuhan mengirimkan kembali wanita itu? Apakah untuk menguji hubungan mereka?

"Lalu sekarang kau mau apa? Kau ingin merebut Naruto-kun dari sisiku? Hemm... hal itu tidak bisa aku terima. Jangan harap aku akan menyerah begitu saja pada masa lalu suamiku. Kau mungkin memang lebih mengenalnya dibandingkan denganku, tapi jika masalah hati seperti ini aku tidak akan membiarkan hal itu. Bahkan jika kau memakai cara apapun aku akan siap melawanmu. Karna apa... karna aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Narutolah yang sudah membuatku kembali percaya akan cinta. Jadi aku tidak akan menyerah begitu saja" ujar Hinata panjang lebar seolah tahu maksud Hotaru yang menceritakan tentang perasaannya.

Tapi lagi, lagi dan lagi Hotaru hanya tersenyum begitu saja. Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan? Apakah presepsi Hinata yang barusan ia katakan itu benar? Bahwa ia akan merebut Naruto dari tangan Hinata? Apakah benar seperti itu?

"Jika aku akan merebut suamimu, mulai dari sekarang kau sudah harus bersiap-siap. Kehh" jawab Hotaru berbisik membuat Hinata membelalakan kembali matanya. Kedua tangan Hianta mengepal kuat seolah perkataan itu pertanda bahwa permainan akan segera dimulai.

Senyuman hadir dalam wajah cantik Hotaru.

Apakah maksud dari senyuman itu? Apakah ia benar-banar sudah memulai pertarungannya dengan Hinata untuk mendapatkan Narutonya kembali? Tentu lagi-lagi hanya dirinya sendirilah yang mengetahui apa maksud dari semua yang ia lakukan hari ini.

Tbc...

Baiklah minna sampai sini dulu, sampai jumpa chap depan ya. jaa jangan lupa reviews :D ^^/

.

LuluK-Chan : heheh bisa jadi bisa juga tidak :D arigato udah ngereviws :) ^^/

magendrik : sudah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviws :) ^^/

Dwi Larasati : aaiihhh makasih banyak Dwi-san :D okeoke ^^ arigato udah ngereviws :) ^^/

krisskun12pb : hehehe makasih banyak kriss-san :D arigato udah ngereviws :) ^^/

mihawk607 : sudah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviws :) ^^/

PAINAKATSUKI78 : akhirnya apa? heheh arigato udah ngereviws :) ^^/