Aku mengetuk pintu ruang kerja pamanku. Ia sedang duduk di ruang kerjanya.
"Madison. Silakan masuk. Dan kunci pintunya dibelakangmu"
Aku masuk dan menutup pintu ruang kerja pamanku.
"Ini untukmu," paman menyerahkan sebuah kunci emas kecil padaku.
"Itu kunci bank mu di Gringgotts berisi warisan dari ibu dan nenekmu"
Aku terkejut. Jarang-jarang pamanku membicarakan ibuku, apalagi apabila ada bibiku, Robertina Lestrange.
Dan baru kali ini, seumur hidupku, aku tahu ibuku, yang sudah lama meninggal, meninggalkan sesuatu untukku.
"Maafkan paman tidak memberitahumu sebelumnya. Bibimu sudah mengincar kunci ini sejak lama. Malam ini malam yang tepat untuk memberikannya padamu, karena bibimu sedang berkunjung ke Malfoy's Manor.
"Hari ini, umurmu sudah 17 tahun, maka kamu sudah bisa ke Gringotts sendiri dengan kunci itu. Pergilah kesana, dan cari sebanyak-banyaknya petunjuk tentang kematian ibumu,"
"Petunjuk apa paman?Bukannya ibu meninggal karena-"
"Shhh..jangan menyela," kata pamanku. Ia menoleh dengan was-was ke arah pintu.
"Muffliato" kata paman sambil mengarahkan tongkatnya ke pintu.
Paman seperti ketakutan jika pembicaraan ini didengar.
"Waktu kita tak banyak. Intinya sepagi mungkin besok kamu berangkat ke Gringotts dan cari petunjuk tentang kematian ibumu. Disana jg tersimpan kunci menuju rumah musim panas milik nenekmu. Tinggallah disana mulai besok." Paman William menghela nafas. "Sebenarnya paman juga sebenarnya tidak menyarankanmu kembali ke Hogwarts tahun ini,"
Terdapat Daily Prophet yang terbuka di meja kerja pamanku. Sejak kementrian sihir mengumumkan secara resmi kembali nya Voldemort, berita kematian dan penculikan menjadi berita sehari-hari.
"Tidak kembali ke Hogwarts? Tapi ini tahun terakhirku di Hogwarts, paman. Aku harus mengambil ujian N.E.W.T,"
"Baiklah, baiklah. Tapi aku menyarankan untukmu segera pindah dari rumah ini mulai besok. Akhir minggu ini Bellatrix, kakaknya bibimu akan berkunjung. Dan mungkin minggu depan, Pangeran Kegelapan sendiri akan mengadakan pertemuan di rumah ini. Tinggal tunggu waktu saja sebelum pamanmu ini direkrut sebagai Pelahap Maut, sama seperti ayahmu dan saudara-saudara bibimu." Suara paman bergetar, tampak ketakutan di matanya.
Aku bergidik. Pangeran Kegelapan akan berkunjung kesini?
"Aku - aku.. tidak sekuat ibumu," tampak mata paman berkaca-kaca sambil memandang lukisan ibuku di meja kerjanya.
"Pergilah, Madison. Ingat kata-kata paman. Ini tahun-tahun yang berbahaya disini. Akan ada perang besar. Paman sebentar lagi akan bergabung dan berperang bersama pangeran kegelapan. Namun kamu..jalanmu masih panjang untuk memilih. Lakukanlah segalanya yang kamu bisa asal kamu selamat. Seperti seorang Slytherin sejati."
Tepat di depan mataku terlihat foto bergerak di Daily Prophet yang menunjukkan mayat-mayat korban pembunuhan massal hari ini, dengan darah berceceran dimana mana. Aku merasa mual.
