Chapter 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
Selamat membaca semoga suka ^^
.
Jam sudah menunjukan pukul 11:00 siang. Ruangan rapat dilantai 2 sudah disiapkan oleh para pegawai Hyuuga Corp sedari tadi. Mereka bersiap untuk menyambut kedatangan para pemimpin-pemimpin dari perusahaan lain.
Akhirnya tak berapa lama satu persatu dari mereka mulai berdatangan. Sudah terlihat CEO Sabaku Corp telah datang, disusul dengan CEO Uchiha Corp dan rombongan mereka mulai memasuki ruangan rapat.
Sang pemimpin perusahaan Hyuga Corp beserta rombongan tengah menunggu di ruangan sebelah. Mereka akan masuk keruangan setelah semuanya tiba diruang rapat. Disana Hinata terlihat begitu tegang merasakan hawa-hawa dari orang yang memiliki kepentingan besar itu.
"Hinata kamu tidak apa-apa?" Tanya Naruto yang menyadari kegugupannya.
Hinata menoleh tersenyum mendapati Naruto mendekatinya "aku hanya sedikit gugup saja ko"
"Benarkah?"
"Eemm... sudah ayo kita pergi sepertinya mereka semua sudah tiba" ujar Hinata berlalu dari sana diikuti oleh beberapa pegawainya.
Langkah tegap dan percaya diri diperlihatkan oleh sang heiress Hyuuga, Hyuuga Hinata. CEO Hyuuga Corp selalu terlihat menawan disetiap penampilannya. Hari ini juga Hinata menggunakan rok span selutut berwarna hitam dipadu padankan dengan kemeja hitam juga ditambahkan blezer merah maroon dan high heels berwarna silver semakin menambah penampilan Hinata yang sangat elegan. Setiap mata memandang hanya kekaguman yang mereka gumamkan melihat Hyuuga Hinata berjalan melewatinya.
"Aahhh Hinata memang selalu kelihatan cantik dan anggun. Dia selalu menjadi panutanku" ucap Ino melihat Hinata beserta rombongan melewatinya.
"Hm. Kau benar dia memang sangat menawan" gumam Hotaru yang juga ada disana disamping Ino.
Hinata terus berjalan, sempat mata lavendernya menangkap sosok wanita itu. Wanita yang sudah membuatnya tidak percaya akan kata-kata yang sudah dia bicarakan pada Hinata. Sebuah senyuman melengkung begitu saja diwajah anggunnya mengingat tentang pembicaraan mereka beberapa menit yang lalu.
'Keh. Aku tidak menyangka dia mempermainkanku. Hmm bagus Hotaru-san' batinnya terus saja tersenyum.
.
Brakk! Pintu ruangan rapat dibuka. Terlihat didalam ruangan sudah banyak pemimpin dari perusahaan lain telah datang. Hinata beserta rombongan masuk kedalam tapi Hinata langsung berjalan dan berdiri di podium untuk menyambut kedatangan mereka.
Kebanyakan pemimpin dari perusahaan lain bergender seorang pria hanya ada beberapa wanita yang terlihat di sana. Namun itulah yang membuat Hinata semakin percaya diri, karna pasalnya wanitapun mempunyai hak yang sama dengan seorang pria.
"Konnichiwa minna-san. Terima kasih sudah sedia menghadiri rapat ini. Baiklah sesi rapat kali ini akan saya buka dengan mempresentasikan produk baru dari Hyuuga Corp"
Setelah Hinata mengatakan hal itu semua lampu padam hanya ada cahaya dari proyektor untuk memulai presentasi darinya.
Semua mata langsung tertuju ke depan. Di sana sudah muncul gambar yang menampilkan sebuah cincin.
"Seperti yang kalian lihat ini adalah sebuah cincin. Cincin dengan hiasan bunga Azalea, kenapa saya menghiasnya dengan bunga tersebut? Jawabannya karna saya terinspirasi dari bunga tersebut. Bunga Azalea adalah bunga yang memiliki makna filisofi yang begitu mendalam. Bunga itu memiliki arti keikhlasan, kesabaran dan kesederhanaan. Bunga Azalea mampu memberikan kesan keindahan dan memancarkan aura kesejukan. Jadi cincin ini sangat cocok untuk diberikan kepada seorang wanita yang menjadi kekasih kita. Next..."
Gambar lainnya muncul menampilkan sebuah kalung berbandul bunga Daisy "Ini adalah sebuah kalung berbandul bunga Daisy. Saya terinspirasi dari bunga tersebut karna bunga Daisy melambangkan kesetiaan dan kepercayaan. Bunga ini memang sangat cocok bagi sepasang kekasih. Kenapa saya memakai bandul berbentuk bunga Daisy karna saya ingin mengekspresikan mengenai kesetiaan pasangan yang cintanya tidak bisa dirubah begitu saja." Ucap Hinata mengakhiri presntasinya hari ini.
Prookkkk!
Prookkkk!
Prookkkk!
Tepuk tangan menggema diruangan itu ketika Hinata mengakhiri presentasinya dan setelahnya bisikan demi bisikan terdengar dari mereka. Mereka semua sudah memulai mendiskusikan mengenai produk baru yang tadi sudah di presentasikan oleh Hinata.
"Baiklah, saya akan memperpanjang kerja sama ini. Saya selalu terkesima dengan perhiasan yang selalu anda buat. Dalam perhiasan yang anda buat mempunyai sebuah makna yang mendalam karna itu saya akan memperpanjang kontrak ini. Saya yakin jika perhiasaan itu akan laku dipasaran" ujar Gaara selaku CEO dari perusahaan Sabaku.
"Ya seperti yang dikatakan oleh Sabaku, saya selaku CEO Uchiha Corp juga akan memperpanjang kerja sama ini" ujar Sasuke kemudian.
Dilanjut dengan sahutan demi sahutan lain yang terdengar dari beberapa pemimpin perusahaan yang menghadiri rapat tersebut. Mereka setuju dengan pendapat 2 CEO tadi. Naruto tersenyum penuh kebanggaan mendapatkan seorang istri yang luar biasa seperti Hinata. Tidak hanya elegan tapi wanita itu sungguh menawan. Hinata adalah sosok istri idaman, dan dia juga adalah seorang panutan bagi wanita lain.
Hinata tersenyum penuh bangga karna hasil kerja kerasnya terbayarkan sudah. Beban yang selama ini ia pikul seolah hilang terbang ke angkasa luas. Pandangannya beralih menatap suaminya yang tengah tersenyum bangga.
"Arigato gozaimasu, saya tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan kalian"
.
Rapat ditutup beberapa jam lalu, kini Hinata tengah bersantai diruangannya. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Ia menutup kedua matanya sampai tidak menyadari jika sang suami telah masuk kedalam dan mulai memijit kedua bahunya. Naruto yakin jika Hinata pasti kelelahan dengan kerja kerasnya hari ini.
"Kerja bagus sayang" bisik Naruto tepat disamping kanan telinga Hinata.
Kedua kelopak mata itu terbuka, menampilkan kembali iris lavendernya "Naruto-kun sini" ujarnya menepuk kursi disebelahnya isyarat untuk Naruto duduk disana.
Narutopun mengikuti arahan sang istri dan duduk disamping Hinata "iya Hinata ada apa?"
Bruughh! Hinata memeluk Naruto erat "aku sangat lelah. Ijinkan aku tidur dalam pelukanmu" gumamnya. Naruto yang mendengar itu tersenyum mendapati Hinata yang menjadi manja seperti ini.
"Hinata apakah kamu sakit? Wajahmu ko agak pucat ya?" Tanya Naruto yang menyadari keadaan Hinata.
"Aku baik-baik saja. Mungkin aku sedang lelah, sudah ya aku mau tidur" jawabnya, kembali menutup kedua matanya menikmati aroma maskulin yang selalu menguar dari dalam tubuh Naruto.
Tanpa Naruto sadari Hinata tersenyum merasakan betapa nyamannya berada dalam pelukan sang suami. Ingatannya kembali pada pembicaraan yang ia lakukan bersama Hotaru beberapa jam yang lalu.
Flashback ON
"Jika aku akan merebut suamimu, mulai dari sekarang kau sudah harus bersiap-siap. Kehh" jawab Hotaru berbisik membuat Hinata membelalakan kembali matanya. Kedua tangan Hianta mengepal kuat seolah perkataan itu pertanda bahwa permainan akan segera dimulai.
Senyuman hadir dalam wajah cantik Hotaru.
Hinata yang melihat senyuman itu mengerutkan dahinya bingung. Pasalnya sedari tadi wanita dihadapannya ini selalu menampilkan sebuah senyuman yang entah apa artinya itu.
"Jadi kapan kau akan memulai permainanmu?" Tanya Hinata lagi dengan nada suara yang begitu
dingin.
"Ahahahahha... kkkkyyaaaahhhh aku tidak menyangka jika ternyata kau sungguh-sungguh mencintai Naruto-kun"
'Hah? Apa yang wanita itu lakukan? Apakah dia sudah gila?' batin Hinata melihat Hotaru yang tiba-tiba saja berteriak. Dan seketika Hinata menegang ditempat tidak megerti kenapa Hotaru jadi seperti itu. Apakah wanita didepannya ini sudah gila karna mendapati orang yang dicintainya telah menikah? Atau sebenarnya dia kenapa? Pertanyaan demi pertanyaan hinggap dalam benak Hinata melihat rekasi tiba-tiba dari Hotaru.
"Kau gila?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Hinata.
"Hahaha... ha..ha" Hotaru menghentikan aksi tawanya, menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Hotaru kembali menatap Hinata "Aku tidak gila. Aku hanya mengujimu saja. Sebagai imoutonya aku berhak menguji bagaimana mental istri dari Nii-sanku. Yahh~ walaupun aku tidak menyukai hubungan kalian tapi bagaimanapun juga inilah keputusan yang sudah aku ambil untuk kebaikanku dan untuk kebaikan kalian juga. Bukan begitu Hyu-ug-a-sa-ma" tutur Hotaru menekan namanya dan mengakhiri penjelasannya.
Hinata lagi-lagi hanya bisa terdiam tak percaya mendengar penuturan Hotaru barusan 'Apa katanya mengujiku? Heh~, dia pikir dia siapa. Aku yakin dia masih mencintainya'
"Lalu sekarang kau mau apa dariku? Aku yakin kau masih mencintainyakan?" Tanya Hinata lagi.
Hotaru kembali tersenyum "ya aku memang masih mencintainya bahkan aku telah mengungkapkan hal itu. Tapi aku sadar dengan cara apapun aku selalu mengungkapkannya dia hanya akan menganganggapku sebagai gadis kecil mereka. Ya aku cukup tahu dan sadar akan hal itu. Jadi kau tidak usah khawatir padaku. Aku akan menyerah untuk kebaikan kalian berdua" jelas Hotaru kembali membuat Hinata lagi-lagi membelalakan kedua matanya tak percaya.
Apakah ia harus percaya dengan Hotaru sekarang? Menyerah begitu saja pada cintanya yang sudah selama ini ia pendam? Apakah bisa semudah itu?
"Apakah aku bisa mempercayai ucapanmu ini?"
"Ya semua itu tergantung padamu. Yang jelas aku sudah mengatakan apa yang ingin aku jelaskan padamu. Dan sekali lagi selamat atas pernikahanmu one-chan. Jaa" lanjut Hotaru menggoda Hinata dan setelahnya iapun pergi meninggalkan Hinata seorang diri disana.
"Hemm... menggelikan sekali. Bagus dehh kalau dia sadar" gumam Hinata tersenyum melihat kepergian Hotaru.
Flashback OFF.
.
Hotaru POV
Entahlah apa yang sudah aku lakukan ini benar atau tidak, yang jelas hanya dengan cara seperti itulah yang telah menjadi keputusan finalku. Keberadaanku sekarang ada di atap perusahaan, menikmati hembusan angin yang selalu membelaiku lembut seolah memberikan dukungan supaya aku tetap kuat dalam menjalani kehidupan ini. Hatiku memang terluka dan tidak bisa melupakan begitu saja perasaan ini yang sudah lama bersemayam dihatiku. Tapi aku yakin lambat laun aku bisa melupakannya juga. Aku ada disini karna takdir yang telah menuntunku untuk melihat dan menerima semua kenyataan pahit ini. Menjalani kisah yang bukan untukku, apalah daya dia hanya menganggapku sebagai gadis kecil mereka.
Ya itulah yang selalu keluarga Uzumaki katakan padaku. Berada dilingkungan mereka membuatku merasakan nyaman, terlebih aku hanyalah anak yatim piatu. Jadi pantas saja jika Kushina Kaa-san dan Minato-Tou-san menganggapku gadis kecil mereka aku merasa sangat sangat bahagia. Berbicara mengenai mereka aku jadi teringat perkataan Naruto bahwa kedua orangtuanya telah meninggal. Aku belum sempat untuk datang kepemakaman mereka. Apa lebih baik aku datang sekarang ya? Baiklah.
.
Akhirnya aku telah sampai di pemakaman umum kota Konoha. Aku mendapatkan alamatnya dari Naruto yang memberikannya padaku tepat sehari kita bertemu. Aku ada disini sekarang, tengah memanjatkan do'a untuk kedua orang yang telah menggantikan kedua orang tuaku. Setelah mendo'akan mereka aku mulai kembali meracau menceritakan mengenai kehidupanku selama ini seolah mereka berdua ada dihadapanku.
"Kaa-san Tou-san apa kabar? Aku harap kalian berdua sudah bahagia disana. Gomen aku baru datang kesini, jujur aku baru mengetahui berita mengenai kalian. Aku selama ini hidup di Paris menjadi seorang model. Aku ingin jujur pada kalian, sebenarnya aku sangat mencintai putra kalian Uzumaki Naruto. Aku tahu ini mendadak tapi sebenarnya perasaan itu sudah tumbuh sejak kami duduk dibangku kelas 3 sekolah menengah pertamaku. Dia bagaikan seorang pahlawan dalam kehidupanku. Tidak hanya menolongku tapi dia juga telah memberikan kebahagiaan karna memperkenalian kalian padaku. Kaa-san terima kasih atas kasih sayangmu yang selalu memperhatikanku layaknya seorang ibu kandung kepada putri mereka. Tou-san terima kasih atas ketegasanmu dalam memperlakukanku selama ini sehingga aku bisa menjalani hidup sampai sekarang. Terima kasih banyak kalian sudah menganggapku sebagai anak kalian. Tapi maaf aku malah jatuh cinta padanya. Tapi sepertinya sekarang aku harus menyerah karna dia telah dimiliku oleh wanita luar biasa. Inilah keputusanku meskipun bertahun-tahun telah memendam rasa ini tapi aku akan menyerah sekarang. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka. Biarkanlah hiks hanya hiks... aku saja hiks... hiks... yang terluka"
Tangisanku pecah disana. Aku sungguh tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi. Biarkanlah air mata ini mengalir sampai perasaan lega aku dapatkan.
.
Hotaru menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala perasaan sakit yang teramat sangat didalam hatinya. Biarkanlah seperti ini asalkan dia tidak menjadi orang jahat yang akan merusak hubungan orang lain. Ternyata perkiraan orang lain mengenai dirinya adalah salah total. Jika mereka menganggap Hotaru sebagai wanita jahat yang ingin merusak hubungan orang lain tapi sebenarnya dia adalah wanita yang sangat baik. Dia rela mengorbankan perasaan yang sudah hadir bertahun-tahun di dalam hatinya hanya untuk melihat pria itu tertawa bahagia dengan cinta pilihannya.
Biarkan perasaan yang ia miliki hanya sebatas angin lalu yang sempat Tuhan titipkan untuknya. Sakit memang sakit karna itu adalah hal yang sangat wajar dalam masalah percintaan, sampai cinta sejati menjemput dan membahagiakannya.
.
.
.
Keesokan paginya Hinata sudah kembali berada didalam ruang kerja. Pekerjaan yang setumpuk harus ia selesaikan hari ini juga. Entah kenapa sudah 2 hari ini Hinata selalu merasakan cepat lelah. Apakah ini berkat pekerjaannya yang terlalu berat? Padahalkan biasanya ia tidak pernah sampai selelah ini bagaimanapun banyaknya pekerjaan dalam perusahaannya.
"Kenapa aku selalu merasakan pusing ya? Badanku juga uugghh terasa sangat lelah sekali. Dan lagi eeuummpphhh. Aku merasa mual" gumam Hinata dan berlalu dari sana untuk menuju toilet yang berada didalam ruangan.
"Hhoeekk... hhooeekkk" suara muntah itu terdengar nyaring. Untung saja tidak ada siapapun disana Hinata tidak mau jika kelemahannya ini diketahui oleh orang lain. Hinata hanya ingin dilihat sebagai wanita tangguh tidak lembek seperti ini.
"Kepalaku sungguh pusing. Apakah aku harus pergi ke rumah sakit ya?" Gumam Hinata setelah membersihkan mulutnya "baiklah aku akan pergi" lanjutnya lagi berjalan, menyambar tas dan kunci mobilnya.
Brakk! Pintu dibuka. Mendengar suara itu Naruto yang bekerja tepat diluar ruangan Hinata langsung berdiri melihat sang istri keluar dengan menjinjing tas dan memakai mantelnya.
"Sayang, kau mau kemana?" Tanya Naruto setelah Hinata berjalan kearahnya.
"Aku mau keluar dulu sebentar ada clien yang harus aku temui" bohongnya menyembunyikan tujuan sebenarnya.
"Kalau begitu ayo aku antar"
"Aahh tidak-tidak. Aku akan pergi sebentar ko. Naruto-kun tidak usah ikut aku akan segera kembali. Jaa" Hinata langsung berlalu begitu saja dari hadapan suaminya.
Melihat Hinata yang pergi begiu saja, Naruro tanpa berpikir panjang menuruti saja perintah sang istri. Iapun kembali duduk dan lanjut bekerja.
.
Hinata memacu mobilnya dengan kecepatan standar. Pusing dikepalanya bisa membahayakan dirinya jika ia berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata. Hinata sengaja membohongi suaminya karna ia tidak mau membuat Naruto khawatir dengan keadaannya ini. Hinata merasa jika dirinya sudah sering merepotkan Naruto dari dulu sampai sekarang, meskipun dia sudah menjadi suaminya tapi Hinata tidak ingin menjadi beban bagi Naruto.
"Gomen aku membohongimu" gumam Hinata masih terus menyetir.
Rumah sakit Konoha hampir terlihat. Hinata sedikit menambah kecepatan mobilnya dirasa jika jalanan juga terlihat sepi.
Hinata akhirnya sampai di sana dan segera memarkirkan mobilnya. Hinatapun turun dan berjalan memasuki rumah sakit. Nuansa putih sangat kental disana, aroma khas obat-obatan mulai tercium masuk keindra penciumannya dan hal itu sukses membuat Hinata mual seketika.
"Kenapa rumah sakit beraroma seperti ini sih?" Gerutunya menahan perasaan mual yang datang kembali.
Hinata berjalan untuk memasuki ruang pemeriksaan. Disana sudah terlihat seorang dokter cantik bername tag Shizune. Hinata masuk dan memulai perbincangan dengan dokter cantik itu.
"Saya selalu merasa mual-mual dok. Dan kepala saya pusing, saya juga sering merasa lelah." Jelas Hinata, menjelaskan apa yang dirasakannya.
"Emm, coba anda periksakan diri ke dokter kandungan. Hal itu bukan keahlian saya" dengan lembut dokter itu mempersilahkan Hinata untuk pergi dari sana.
Hinata yang merasa di usir langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun juga "Apa-apaan sih dokter itu. Bilang saja kalau tidak mau memeriksaku. Apakah tampilanku terlihat tidak sanggup membayar. Huh aku kesal sekali" gumam Hinata menggerutu setelah keluar dari ruangan itu seraya terus saja berjalan mencari ruang kandungan seperti yang dikatakan dokter Shizune.
.
Ruang Kandungan.
Hinata sampai juga diruang kandungan. Dengan perlahan dia masuk kedalam, disana terlihat seorang dokter wanita cantik bername tag Rin. Dokter itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Hinata.
"Silahkan duduk" ujarnya dengan suara lembut.
Hinata tersenyum membalasnya dan duduk dikursi berhadapan dengan sang dokter.
"Jadi anda mau memeriksakan kandungan?" Tanyanya. Hinata tersentak mendengar pertanyaan itu.
"Mak...maksud dokter?" Tanya Hinata tidak mengerti.
Lagi-lagi dokter Rin tersenyum manis kearah Hinata "apakah ini pertama kalinya bagi anda memeriksakannya?" Tanya sang dokter membuat Hinata kembali tidak mengerti "baiklah jika memang seperti itu coba anda memeriksakannya terlebih dahulu" lanjut dokter Rin menyuruh Hinata untuk ketoilet dengan membawa testpack.
Hinata yang sama sekali tidak mengerti dengan hal ini hanya bisa menurutinya saja tanpa bisa membantah.
Selang beberapa menit Hinata kembali keluar dengan membawa testpacknya untuk diperiksa oleh dokter. Setelah alat itu ada ditangan dokter senyuman mengembang diwajah cantiknya melihat dua buah garis merah disana.
Tangannya terulur ingin memberikan selamat pada Hinata "selamat ya anda positif hamil. Coba saya periksa kandungan anda" ujar dokter Rin langsung memeriksa kandungan Hinata.
1 detik...
5 detikk...
5 menit...
Hinata masih mencerna ucapan sang dokter yang baru saja ia dengarkan "Hamil? Aku hamil dok? Dokter AKU HAMILLLLLL?" teriak Hinata memegang erat tangan dokter itu.
Dokter Rin yang menerima reaksi Hinata seperti itu hanya terkikik merasa lucu melihat kelakuan Hinata. Wajar saja hal itu adalah pertama kali baginya.
"Dokter apakah aku benar-benar hamil?" Tanya Hinata kembali seolah percaya tidak percaya dengan berita bahagia itu.
"Iya anda benar-benar hamil. Usia kandungan anda sudah sekitar 3 minggu. Jaga janin itu baik-baik karna aku merasakan jika kehamilan anda sangat lemah. Anda harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak bergerak hal itu bisa membahayakan bagi kandungan anda" jelas dokter memperingati Hinata.
Mendengar hal itu Hinata tiba-tiba saja kehilangan ekspresinya "tapi dok saya adalah seorang pemimpin perusahaan jika saya berhenti bekerja maka perusahaan akan dalam bahaya"
"Apakah anda lebih mementingkan perusahaan dari pada calon anak anda? Anda bisa saja berhenti sementara untuk kehamilan ini. Itu saran saya karna anda sekarang tengah menampung tidak hanya 1 nyawa. Dia berhak hidup dan lahir kedunia ini"
Hinata mengelus perut ratanya merasakan bahwa kini di dalam rahimnya ada nyawa lain yang tengah bergelung dengan nyaman "iya dokter benar. Aku harus memikirkan hal ini dengan baik. Terima kasih banyak dok"
.
Hinata tengah berada dalam perjalanan kembali menuju kantor. Perasaan bahagia memenuhi perasaannya mendapatkan bahwa kini dirinya tengah mengandung buah hati mereka. Sekarang yang menjadi masalahnya adalah bagaimana Hinata bisa mendapatkan waktu yang cukup untuk bisa beristirahat demi kelangsungan hidup sang jabang bayi dan pekerjaan kantor. Pikirannya masih memikirkan hal itu. Hinata harus bisa membagi antara pekerjaan kantor dan kandungannya.
"Lebih baik aku menyembunyikan hal ini dulu dari Naruto-kun" gumam Hinata berkonsentrasi menyetir.
Didalam perusahaan Naruto kini tengah bercengkrama dengan Sakura, Ino serta Hotaru ditempat Sakura bekerja. Disana ada sebuah meja bundar dan beberapa kursi. Mereka sudah terbiasa untuk bersantai disana ketika sedang tidak banyak pekerjaan.
"Jadi Hinata pergi kemana?" Tanya Ino yang melihat Naruto tiba-tiba saja bergabung dengan ketiga wanita itu.
"Katanya dia akan bertemu dengan clien sebentar" jawab Naruto.
"Kenapa dia belum pulang? Seharusnya kau temani dia, kaukan sekertarisnya" giliran Sakura yang berujar.
"Dia mengatakan aku tidak usah ikut karna dia akan pergi sebentar"
"Yah bagaimana sih kau ini meskipun Hinata berkata seperti itu tapi kau harus tetap menemaninya" kini giliran Hotaru yang berkata.
"Iya benar apa yang dikatakan Hotaru" ujar Ino lagi.
Sakura yang bosan dengan pembicaraan itu mengalihkan pandangannya kearah luar ruangan. Tatapan emerladnya menangkap sosok Hinata yang berjalan dengan anggun akan melewati tempat mereka.
"Bukankah itu Hinata? HYUGA-SAMA?" teriak Sakura otomatis membuat ketiganya menatap kearah belakang mereka.
Hinata yang merasa dipanggil menghentikan jalannya. Kepalanya menengok ke sisi kiri tempat ia berdiri sekarang. Lavendernya melihat sang suami ada disana. Hinatapun berjalan mendekati mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini? Ini masih jam kerja. Oh jadi seperti ini yang kalian lakukan? bersantai ketika aku pergi?" Ujar Hinata yang tiba-tiba saja menjadi sedikit sensitif, mungkin karna ia tengah mengandung sekarang jadi Hinata mudah marah seperti ini "heemm enak sekali ya hidup kalian" lanjut Hinata dan berlalu darisana.
Sedangkan Sakura, Ino, Naruto dan juga Hotaru menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Naruto langsung melesat pergi dari sana begitu saja untuk menyusul istrinya. Naruto takut jika Hinata hanya salah paham saja.
.
Brakk! Hinata membuka pintu ruangan dengan kasar. Ia terus berjalan untuk mengistirahatkan pikirannya yang tengah kacau sekarang. Hinata memutar kursi kebesarannya menghadap kejendela besar dibelakangnya. Menghadap pemandangan diluar jendela, namun ia sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya bahkan kedua kelopak matanya sudah menutup sempurna menyembunyikan iris lavendernya.
Selang beberapa menit suara pintu diruangannya kembali dibuka. Hinata yang terlalu lelah untuk melihat siapa yang datang hanya mengabaikannya saja, ia terlalu nyaman dengan posisinya sekarang.
Cupp! Kecupan singkat didahi membuat Hinata membuka kembali kelopak matanya. Pertama yang ia lihat disana adalah sosok sang suami tengah berjongkok dihadapannya. Tatapan penuh khawatir tergambar jelas diwajah tan itu.
"Sayang kamu tidak apa-apa? Tidak biasanya kamu marah-marah tidak jelas seperti tadi. Ada apa sebenarnya hmm? Apakah pertemuan tadi membuatmu kesal?" Tanya Naruto beruntun seraya mengelus punggung tangan kanan Hinata.
Hinata yang mengingat bahwa pertemuan itu adalah bohong hanya mampu terdiam tidak sanggup untuk membicarakan kebenaran tentang dirinya saat ini.
"Tidak, aku hanya lelah saja" jawab Hinata lesu.
"Lelah? Apakah kamu sakit sayang? Kalau begitu kita pulang biar pekerjaanmu aku saja yang menggantikannya"
Hinata tersenyum melihat suaminya yang kelabakan. Hal inilah yang sama sekali tidak ingin ia lihat dari Naruto. Pria itu selalu memanjakan dirinya. Bukan ia tidak mau tapi Hinata juga ingin melihat suaminya itu memperhatikan dirinya juga.
Brruugghh! Pelukan dilayangkan oleh Hinata. Cup! Kecupan diberikan pada pangkal leher Naruto menghirup dalam-dalam aroma mint dari suaminya yang mampu membuatnya nyaman dan rileks seketika "aku mencintaimu" bisik Hinata.
Naruto membalas pelukan sang istri seolah merasakan keluh kesah Hinata mengusap punggungnya untuk menenangkannya "aku juga mencintaimu sayang" balasnya, hanya ini yang ia berikan untuk Hinata. Naruto merasa bahagia ketika Hinata seperti ini, dirinya seolah menjadi sandaran hidup bagi Hinata dan hal itulah yang membuat Naruto merasa sangat bahagia.
'Gomen aku menyembunyikan kebahagiaan ini sayang. Aku masih belum bisa memutuskan semuanya'.
.
Sakura, Ino dan Hotaru masih berdiam diri disana. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat. Atasannya tidak seperti biasanya mereka merasa jika Hinata berlebihan dalam menyimpulkan sesuatu.
"Hinata kenapa ya? Tidak biasanya dia seperti itu" kata Sakura kembali bersuara.
"Mungkin dia hanya lelah saja" balas Hotaru, mendengar hal itu Sakura menatap kearahnya "oh ya aku dengar kau menyukai Naruto ya? Gomen jika ini mendadak tapi kalau boleh aku berpendapat lebih baik kau jangan melakukan hal apapun yang bisa merusak hubungan mereka" lanjut Sakura lagi, sedangkan Ino hanya menjadi pendengar saja sekarang.
"Tenang saja kau tidak usah khawatir aku juga sudah memutuskan untuk menyerah dengan perasaan ini"
"APAA? MENYERAH, BENARKAH?" teriak Ino membuat kedua wanita itu menutup kedua telinganya.
"Ino bisa tidak sih ga usah teriak-teriak seperti itu juga" gertak Hotaru "ya aku memang sudah memutuskannya. Terserah kalian mau percaya atau tidak tapi yang jelas itulah keputusan yang sudah aku ambil"
"Bagus deh kalau begitu. Aku harap kau mendapatkan pengganti si baka itu dengan yang lebih baik"
"Hmm... arigato Sakura-san" pandangannya menengok kesisi kanan dimana Ino tengah menatapnya sekarang dengan kedua mata berbinar-binar "apa-apaan dengan wajahmu itu? Sudah kau tidak usah terpesona denganku seperti itu"
"Aku bangga padamu Hotaru"
"Hmm... arigato Ino-chan"
Mereka bertiga kembali tersenyum bersama mengekspresikan perasaan lega itu.
Tanpa mereka semua sadari sejauh ini ada sepasang mata mengamati gerak-gerik mereka. Entah apa tujuannya yang jelas sudah 1 minggu ini dia selalu diam-diam datang kesana.
'Wanita itu bodoh melepaskan perasaannya begitu saja'
Tbc...
.
Bagimana minna? semoga tidak membosankan ya ^^ jika berkenan silahkan reviews ya ^^ arigato gozaimasu :D ^^/
krisskun12pb : hehehe sepertinya bukan :) arigato gozaimasu atas kritikannya, gomen banyak yang salah :D tidak menyinggung ko malah hyugana berterima kasih sekali sudah mau mengkoreksi fic ini :D baiklah arigato udah ngereviews ^^/
magendrik : sudah lanjut semoga suka :D arigato udah ngereviews ^^/
PAINAKATSUKI78 : hehe terima kasih banyak :D arigato udah ngereviews ^^/
Rozzeana : heheh bukan duri ko hanya butiran debu yang kebetulan nempel saja :D hahaha ga papa ko bebas mau reviews apapun juga :D arigato udah ngereviews ^^/
