Langit masih mendung dan kelam begitu aku menginjakkan kaki keluar dari Gringotts. Perutku masih mual akibat menaiki kereta bawah tanah bersama Goblin tadi.

Ruang penyimpanan di Gringotts milik ibuku ternyata hanya berisi tumpukan Galleon, sebuah kunci kecil, sebuah foto dan sebuah sertifikat kumal dengan tulisan bahasa Prancis yang tidak kuketahui artinya.

Aku mendesah, tidak tahu harus berbuat apa dengan petunjuk-petunjuk ini.

Semalam paman juga sudah berkali-kali menegaskan untuk tidak menceritakan bibi Robertina tentang hal ini. Jadi aku harus bertanya pada siapa?

Aku bergegas menyusuri jalanan Diagon Alley yang sepi. Sejak kebangkitan Pangeran Kegelapan, hampir semua toko ditutup dan ditinggalkan pemiliknya. Terutama setelah Florean Fortesque penjual es krim dan Ollivander si pembuat tongkat sihir itu tiba-tiba diculik.

Saat aku berjalan, beberapa orang berbisik-bisik sambil menatapku. Kebanyakan malah tidak berani melihatku dan bergegas mempercepat langkah dan pergi ketakutan.

Memang ayahku, keluarga bibiku bahkan sahabat-sahabatku, merupakan keluarga Pelahap Maut dan pendukung terdepan Pangeran Kegelapan.

"Maddie! Maddison!"

Sebuah suara familiar memanggiku.

Ternyata Miranda Malfoy, salah seorang sahabatku di Slytherin.

Aku tersenyum dan melambai.

"Ada urusan apa kau kemari?"Miranda melirik sambil mengibaskan rambut pirang putihnya yang panjang, khas keluarga Malfoy.

Saat ini kami sedang duduk di Leaky Cauldron.

"Gringotts, membuka kamar penyimpanan untukku sendiri," aku berbohong dengan lancar.

"Kau sendiri?"

"Aku..sedang mengikuti adikku, Draco tapi kehilangan jejaknya. Lalu, bagaimana dengan ulang tahun ke 17 mu kemarin bersama Theodore?" tanya Miranda antusias. Ya, topik favorit nomer 1 nya ialah membicarakan lelaki.

"Mmm..Aku diwarisi ibuku sebuah rumah. Mungkin aku akan menghabiskan sisa liburanku disana, mulai besok."

"Rumah? Dimana?" Miranda bertanya dengan nada iri.

"Umm..Prancis," jawabku cepat.

Please jangan bertanya di kota apa. Aku bahkan belum melihat foto rumah itu dengan jelas, hanya sekilas dibawah temaram lilin milik Goblin.

"Demi apa..di Prancis?" Miranda menatapku lagi, jelas-jelas dengan wajah iri.

"Lalu bagaimana denganmu dan Theodore? Apakah sudah melakukannya tadi malam?" Wajah Miranda berubah menjadi jenaka dalam sejenak. Ia memang ratunya manipulasi.

Aku menarik nafas.

"Belum,"

Miranda melorotkan bahunya, kecewa.

"Maddison, diantara geng kita..dan malah mungkin diantara kita se angkatan, hanya kamu yang belum melepaskan keperawananmu!"

"Ssshhh Miranda, jangan keras-keras, aku -- aku belum siap,"

"Belum siap kenapa sih? Bahkan Marcy si troll itu saja sudah melakukannya dengan Crabbe!" Ia tertawa merendahkan.

Aku tidak suka jika Miranda menertawakan Marcy seperti itu. Marcy adalah teman geng kami. Kami bertiga dijuluki 3M, singkatan dari Miranda, Maddison dan Marcy dan kami lumayan populer di Hogwarts terutama di kalangan Slytherin.

Miranda memiliki kecantikan yang luar biasa, posisi keluarganya yang terpandang dan kemampuan manipulasinya yang membuatnya menjadi pemimpin 3M. Sedangkan aku, kata Miranda akulah otak dari geng ini karena menurutnya aku paling cerdas. Dan Marcy..well, Marcy menurut Miranda adalah anggota tambahan karena fisiknya yang besar dan kekar. Ia merupakan adik kandung Marcus Flint, mantan kapten Quidditch Slytherin yang sudah lulus dari Hogwarts. Marcy seperti Marcus versi perempuan. Keuntungan memiliki Marcy dalam kelompok kami adalah, ia menjadi bodyguard sekaligus menakut-nakuti anak-anak dari asrama lain sehingga kami selalu mendapat tempat duduk terbaik dimanapun.

"Marcy yang tonggos saja bisa mendapatkan Crabbe. Apalagi kamu yang seribu kali lipat lebih cantik," kata Miranda manis sambil menata rambutku

"Dan kamu tahu, tadi pagi Theo berkunjung ke Malfoy's manor. Wajahnya sedih. Pasti beban yang berat kan..ayahnya, Mr. Notts masih di Azkaban bersama ayahku..dan sekarang aku baru tahu kamu menolaknya tadi malam,"

"Kamu tahu kan, kita punya reputasi yang harus dijaga. Kita 3M, geng paling populer di Hogwarts. Cemen sekali kan ada anggotanya yang masih...perawan!" Cekikik Miranda.

Aku merasa lemas. Tekanan dari Theodore, beban misteri kematian ibuku dan sekarang tekanan dari Miranda.

Haruskah aku melakukannya hanya supaya semua orang disekelilingku diam?

please love or pm me for reviews dan saran kritik of this story .thanks_