Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
Udah lanjut nih semoga suka ya, selamat membaca :D ^^
.
Pada umumnya hari minggu adalah hari libur bagi para pelajar dan pekerja, begitupun dengan pengantin baru ini. Hinata dan Naruto akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama seharian. Minggu ini adalah minggu ke enam pernikahan mereka. Mereka tengah menikmati detik demi detik hanya berdua saja. Pagi menjelang kembali rasa mual itu kembali datang lagi. Ya itu adalah morning sickness yang selalu dialaminya sekarang. Cepat-cepat Hinata turun dari ranjang untuk pergi ke toilet.
Naruto yang merasakan ada pergerakan tiba-tiba dari arah sampingnya menoleh seketika dan tak lama berselang terdengar suara orang muntah, iapun segera bangkit menuju toilet khawatir akan ada sesuatu hal melanda pada Hinata.
"Hinata kamu tidak apa-apa?" Tanyanya seraya mengelus punggung Hinata membantu sang istri meredakan rasa mualnya.
Setelah menyeka mulutnya dengan air Hinata menoleh pada Naruto seraya tersenyum "aku tidak apa-apa ko Naruto-kun hanya mual dan sedikit pusing saja"
Naruto memandang Hinata dengan tatapan penuh kekhawatiran "benarkah? Kalau begitu ayo kembali istirahat" lanjutnya seraya menggendong Hinata begitu saja menuju tempat tidur mereka.
Naruto kembali membaringkan Hinata diatas king sizenya "jangan banyak bergerak dulu ya. Hari ini biarkan aku yang memasak dan membereskan rumah. Kamu istirahat saja aku yakin kamu kelelahankan? Kalau begitu aku buatkan sarapan dulu ya" cupp! Ujar Naruto mengecup pelan dahi Hinata dan langsung berlalu dari sana.
Sepeninggalan Naruto, tangan putih itu terulur mengelus pelan perut ratanya dengan tatapan lurus kedapan seolah dia tengah memikirkan sesuatu.
'Gomen, Kaa-san belum siap untuk memberitahukan hal ini pada Tou-sanmu' batin Hinata.
.
Diluar rumah kediaman Hinata dan Naruto terlihat sebuah mobil hitam berhenti tepat didepannya. Seseorang yang berada didalam mobil menyeringai mengetahui keberadaan mereka, entah siapa yang berada disana yang jelas dia akan membalaskan dendamnya yang sudah pria kuning itu lakukan padanya.
"Aku tahu harus bagaimana membalasmu" gumamnya "jalan" lanjutnya lagi memerintahkan supirnya untuk pergi meninggalkan kediaman itu.
Sedangkan didalam rumah Naruto kini tengah memasak bubur untuk Hinata. Dia cukup pandai dalam memasak karna setelah peninggalan kedua orangtuanya Naruto telah terbiasa untuk memasak makanan sendiri.
"Dari kemarin aku lihat Hinata memang sudah pucat. Apakah dia sedang sakit ya? Tapi kenapa tidak memberitahukannya padaku?" Gumam Naruto disela-sela memasaknya "mungkin dia hanya kelelahan saja, istirahat sebentar pasti nanti juga kembali sehat" lanjutnya lagi.
Bubur yang dibuatnya telah matang dan kini Naruto hanya tinggal membawanya saja pada Hinata. Cklek! Pintu kamar dibuka. Terlihat Hinata masih berbaring, Naruto berjalan mendekatinya.
"Sayang, makan dulu yu. Aku sudah buatkan bubur untukmu" ucapnya dengan lembut membangunkan Hinata yang menutup kedua matanya.
Perlahan kedua mata Hinata kembali terbuka. Iapun mencoba duduk dan dibantu oleh Naruto. Dan setelah itu pria itupun menyuapi bubur yang ia buat pada Hinata dengan lembut.
"Benar kamu tidak apa-apa? Kalau masih merasa mual dan pusing kita ke dokter" ucap Naruto masih menyuapi istrinya.
Mendengar Naruto yang akan membawanya kerumah sakit seketika membuat Hinata menegang. Bagaimana bisa ia pergi kerumah sakit dengan keadaannya seperti ini, bisa-bisa kehamilan yang ia sembunyikan bisa ketahuan oleh suaminya.
"Ti...tidak apa-apa ko naruto-kun. Aku hanya membutuhkan istirahat saja, besok juga pasti sembuh" jawab Hinata menghilangkan kekhawatiran suaminya.
Naruto mengangguk mengiyakan "baiklah, kalau kamu merasa pusing berkepanjangan aku akan membawamu segera kerumah sakit tanpa persetujuanmu" telaknya dan itu membuat Hinata mengangguk setuju.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan disekitar mereka, Naruto hanya terfokus menyuapi Hinata.
Akhirnya Naruto selesai memberikan sarapan untuk istrinya dan kini Hinata sudah kembali tidur diking sizenya. Sedangkan Naruto kembali membereskan rumah yang tidak pernah ia lakukan. Sebagai seorang suami yang baik Naruto harus melakukan pekerjaan rumah ketika sang istri sedang terjatuh sakit.
.
.
.
Hari kerja kembali lagi, keadaan Hinata mulai membaik hanya mual yang selalu hadir disetiap paginya. Tapi lagi-lagi hanya alasan kecil yang selalu Hinata berikan untuk suaminya itu, entahlah Hinata masih menyembunyikan perihal kehamilannya. Mungkin dia memiliki alasan tersendiri kenapa belum memberitahukan kabar bahagia ini.
Rasa lelah sudah datang lagi padanya, baru juga dia sampai diruangannya tapi Hinata sudah kelelahan seperti itu. Ia merasakan perutnya sedikit ngilu mungkin ini adalah efek dari perjalanannya menuju kantor. Keringat dingin muncul didahinya yang tertutupi poni ratanya menahan rasa ngilu disekitar perutnya itu.
Tok...tok... suara pintu ruangan diketuk.
Sekuat tenaga Hinata menahannya supaya orang yang masuk kedalam ruangannya tidak menanyakan keadaannya kini "masuk" ujarnya tak berapa lama terlihat wanita berambut pink menyembul dibalik pintu dan masuk keruangannya.
"Ya, ada apa Sakura?" tanya Hinata setenang mungkin, walau siapapun pasti tahu hanya melihatnya saja jika Hinata tengah menahan sesuatu sekarang.
Sakura berjalan mendekatinya, duduk dikursi didepan Hinata "Hinata kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Sakura khawatir melihat sahabatnya seperti itu, karna yang ia tahu Hinata belum pernah terlihat lemah seperti ini. Sakura yakin kalau Hinata menyembunyikan sesuatu darinya.
Senyuman lemah hadir dibibir Hinata mencegah Sakura untuk tidak menanyakan keadaannya lagi "aku tidak apa-apa ko. Hanya kelelahan saja" jawabnya, tapi justru membuat Sakura tambah khawatir padanya.
"Kamu berbohong padakukan Hinata? Kamu bisa bercerita padaku apapun itu jadi jangan kau sembunyikan. Bicaralah"
Ucapan Sakura barusan membuat Hinata kembali berpikir tidak ada salahnya jika ia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama ini, toh mereka sesama wanita mungkin Sakura bisa memahaminya.
"Hah~" Hinata menghela nafas kasar "baiklah kalau begitu ikut aku, tidak baik kalau aku membicarakannya disini" ajak Hinata.
Sakura mengikuti kemana Hinata pergi, ia semakin yakin jika Hinata tengah menyembunyikan sesuatu hal darinya.
Hinata dan Sakura kini sudah berada diruangan VIP yang tidak sembarang orang bisa datang kesini. Hinata sengaja membawa Sakura kesini karna ia menghindari orang yang bisa saja mendengarkan percakapan mereka, apalagi itu Naruto suaminya.
Ini adalah kedua kalinya Hinata berbicara secara rahasia diruangan itu. Pertama ketika Hotaru mengajaknya bicara dan Hinata membawa wanita itu kesini dan sekarang Hinata juga harus membicarakan suatu hal dengan Sakura sahabatnya disini juga, karna hanya inilah ruangan yang menurutnya tertutup dan jarang dilewati oleh siapapun.
"Jadi kapan kau akan memberitahukannya padaku?" tanya Sakura yang terlihat sudah tidak sabaran.
"Aku hamil" jawab Hinata singkat padat dan jelas.
1...
2...
3...
Sakura menengang mendengar apa yang baru saja Hinata katakan 'dia hamil? lalu kenapa harus menyembunyikannya seperti ini?' batin Sakura yang tidak bisa mengeluarkan suaranya. Bukannya ia tidak senang mendengar bahwa sahabatnya itu tengah mengandung buah hati mereka tapi Sakura hanya terkejut kenapa bisa wanita itu menyembunyikan kabar bahagia ini.
"Apakah kamu sudah memberitahukannya pada Naruto?"
Hinata menggeleng dan Sakura cukup tahu isyarat itu "kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku belum bisa membicarakan hal ini. Kata dokter aku harus istirahat total karna kandunganku ini lemah, dokter juga menyarankan agar aku berhenti bekerja dan tidak memikirkan hal apapun. Tapi bagaimana bisa aku meninggalkan pekerjaan, semua ini adalah duniaku. Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja. Apakah aku harus memilih pekerjaan atau bayi ini. Aku belum bisa memutuskannya, Karna itulah aku belum bisa membicarakannya pada Naruto-kun" ucap Hinata disertai dengan elusan diperutnya.
Plakk! Tamparan dilayangkan oleh Sakura. Bisa dilihat sekarang pipi kiri Hinata memerah bekas tamparan yang dilayangkan olehnya. Sakura terlihat emosi tidak menyangka jika sahabatnya bisa berpikir sempit seperti itu.
"Kau gila Hinata. Apakah kau merelakan janinmu yang belum lahir ketimbang pekerjaanmu ini? Kau gila kerja dari dulu, tapi yang lebih membuat aku tidak menyangka adalah bahwa kau sampai tega melakukan hal ini. Heeii... bagaimanapun juga kau harus merelakan jabatanmu demi nyawa yang ada dalam rahimmu. Pikirkalah sebelum kau menyesal Hinata. Aku permisi"
Setelah mengatakan hal itu Sakura meninggalkan Hinata yang tengah menegang ditempat. Mencoba mencerna apa yang barusan Sakura katakan. Apakah ia telah menjadi wanita yang jahat? Merelakan kandungannya ketimbang pekerjaannya? Ya, Hyuga Hinata sudah menjadi wanita yang kejam. Tapi salah siapa dia bisa seperti ini? Jangan salahkan Hyuuga Hiashi Tou-sannya walaupun sang ayah telah menjadikannya seperti ini bahkan selalu menyuruh Hinata untuk menjadi penerus perusahaan tapi tetap saja bagi seorang ayah kebahagiaan putrinyalah yang lebih berharga.
Lantas harus kepada siapakah yang pantas disalahkan? Tentunya pada dirinya sendiri. Jangan pernah menganggap jika sesuatu yang diperintahkan oleh sang ayah itu menekan dirinya sendiri sehingga membuat sebuah keputusan yang salah.
Hinata masih berdiam diri disana mencerna kembali apa yang dikatakan sahabatnya barusan. Bertindak egois akan mengakibatkan kecelakaan yang fatal yang mungkin akan membuatnya menyesal seumur hidup. Rasa panas dan sakit menjalar dipipi kirinya bekas tamparan yang Sakura layangkan padanya. Hinata tidak habis pikir jika ia bisa berbicara seperti itu. Ia telah mengabaikan janin yang tengah bergelung nyaman didalam rahimnya.
Tangan putih itu terulur kembali mengusap pelan perutnya yang masih rata. Mencoba merasakan sang jabang bayi didalam sana.
Tes... air mata menetes dipipinya. Kelakuannya yang satu ini sudah membuatnya salah "go...gomen gomennasai Ka...kaa-san sudah egois hiks... hikss... gomen hiks... gomen" isakan tangis dan kata maaf terlontar dari mulutnya menyesali perbuatan yang telah ia lakukan.
.
Sakura keluar dari ruangan itu dengan menahan emosi pada sahabatnya yang bertindak terlalu jauh. Bagaimana bisa seorang Hyuuga Hinata lebih mementingkan pekerjaannya dari pada jabang bayi yang tengah ia kandung sekarang? Wanita itu sudah gila. Kedua tangan Sakura mengepal kuat mencoba meredakan emosi yang masih ada di dalam benaknya.
"Huuhh~" ia mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan untuk sekedar menenangkan dirinya sendiri. Sakura lega karna sempat menampar Hinata untuk menyadarkan wanita itu bahwa perbuatan yang ia ambil adalah salah besar.
"Gila, aku tidak menyangka dia berbuat seperti itu" umpatan demi umpatan digumamkan olehnya sepanjang perjalanan menuju tempat ia bekerja.
Hotaru yang tidak sengaja melihatnya seperti itu merasa bingung dan akhirnya mencoba mendekati Sakura.
"Sakura-san kamu tidak apa-apa?" Tanya Hotaru khawatir melihat wajah memerah Sakura seolah tengah menahan emosi.
Sakura menoleh mendapati Hotaru disampingnya "aku habis bertemu dengan wanita gila. Sudah ya aku lagi kesal, kalau kau tidak mau tersambar emosiku minggir. Gomen" Sakura pergi begitu saja dari hadapan Hotaru, berbagai pertanyaan sudah memenuhi benaknya.
"Wanita gila? Apa maksudnya? Hhhiiiii Sakura-san seraammm" gumam Hotaru merasakan aura Sakura barusan.
.
Naruto yang penasaran kemana perginya Hinata mulai mencari keberadaannya. Ia tidak mendapati istrinya diruangannya, ketika Hinata dan Sakura keluar dari ruangan Naruto memang tidak ada ditempat jadi sekarang ia kelabakan kemana perginya sang istri.
Langkah tegap itu semakin cepat merasa khawatir takut terjadi apa-apa menimpa pada istrinya.
"Sakura kau tahu dimana Hinata?" Tanya Naruto ketika kakinya membawa ke tempat Sakura bekerja.
Sakura yang tengah menenggelamkan wajahnya dimeja menengadahkannya kembali mendapati pria kuning didepannya "ahh istrimu ada di ruangan VIP dan dia sudah gila"
Brugg! Setelah mengatakan hal itu Sakura kembali menenggelamkan kepalanya lagi.
Naruto yang mendengar bahwa istrinya gila dari Sakura langsung melesat pergi darisana untuk melihat kondisinya sekarang.
"Hinata aku harap kau mengambil keputusan yang tepat. Naruto begitu baik padamu" racau Sakura mengabaikan pembeli yang datang kesana.
.
Brakk! Naruto membuka pintu ruangan itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang istri yang tengah terbaring disofa, rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sekarang ini ia tengah menangis dalam diam. Hinata tahu siapa yang datang tapi ia enggan untuk melihatnya sekarang Hinata terlalu malu dengan keadaannya yang bertindak terlalu egois.
Naruto berjalan mendekati Hinata dan berjongkok didepannya. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Hinata. Naruto bisa melihat bahwa sekarang sang istri tengah menangis dalam diamnya, air mata terus mengalir tanpa suara. Naruto heran dengan apa yang Hinata lakukan sekarang perasaan khawatir dan cemas sudah menyelimutinya.
"Sa...sayang kamu kenapa? Kenapa pipimu memerah?" Tanya Naruto lembut mengusap pelan air mata istrinya.
Hinata yang merasakan perlakukan lembut dari suaminya menghenyikan tangan tan itu dan menggenggamnya erat.
Kedua mata lavender itu kembali terbuka menatap sayang manik indah didepannya cupp! Hinata mengecup punggung tangan Naruto. Melihat hal itu Naruto tersenyum dibuatnya.
"Gomen... hiks... gomen" ujarnya dengan suara serak.
"Hinata ada apa? Kenapa ini apakah seseorang telah menyakitimu?"
Grepp! Hanya pelukan yang bisa ia lakukan sekarang mencoba menangkan diri dengan menghirup aroma sang suami.
"Gomen hiks... hiks... gomen" hanya kata maaf yang selalu keluar dari mulut ranumnya.
Naruto tidak mengerti dengan Hinata sekarang. Perkataan maaf itu untuk apa? Apakah Hinata melakukan kesalahan sehingga ia meminta maaf padanya? Tapi jika dipikir lagi Hinata sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Lantas kenapa ia meminta maaf pada suaminya? Naruto yakin pasti ada sesuatu yang Hinata sembunyikan darinya.
"Kenapa Hinata meminta maaf? Kamu tidak salah apa-apa sayang" jawabnya dengan suara yang semakin lembut, seraya mengusap punggung Hinata mencoba menengkan istrinya.
Bisa dirasakan kalau Hinata menggeleng lemah "tidak... hiks... aku sudah salah padamu. Hiks... maafkan aku. Tanda merah dipipiku ini adalah tanda sebuah hukuman karna aku telah bersalah hiks..."
Naruto jadi teringat dengan sahabat pinknya yang mengatakan jika Hinata gila. Apakah Sakura yang telah melakukan tanda itu pada Hinata?
Naruto melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Hinata dan menatap kedalam mata lavendernya.
Cup! Cupp!
Lagi, kedua matanya menjadi sasaran kecupan singkat yang dilayangkan suaminya "harus berapa kali aku bilang, jangan menangis aku tidak mau melihat wanita yang aku cintai menangis. Aku seolah gagal membahagiakanmu Hinata. Aku mohon jangan menangis lagi"
Kedua mata lavender Hinata melebar setelah mendengarkan Naruto berujar seperti itu. Bukan... ini bukanlah kesalahannya yang salah disini adalah dirinya sendiri. Tidak mencoba jujur dengan keadaannya sekarang. Hinata seolah benar-benar telah menjadi wanita yang kejam. Disatu sisi ia telah menyakiti jabang bayi yang tidak salah apapun. Disisi lain ia juga telah mengecewakan sang suami seolah Naruto telah menyalahkan dirinya sendiri tentang keadaan Hinata sekarang.
Buru-buru Hinata menghapus air matanya dan mencoba menahan air mata supaya tidak mengalir kembali. "Na...naruto-kun tidak salah apapun ko. Na...naruto-kun malah su...sudah membahagiakan aku"
"Lalu kenapa Hinata masih saja menangis hmm?"
"I...itu karna a...aku sendiri. Aku telah gagal menjadi istri yang baik... hiks... hiks... gomen" pertahanan diri yang ia tahan setengah mati roboh sudah. Air mata itu kembali mengalir membasahi pipinya. Menunduk menyembunyikan tangisannya.
"Apakah Sakura yang telah melakukan tanda merah itu padamu?"
Hinata kembali mendongakan kepalanya "iya memang benar. Tapi jangan salahkan Sakura. Ini karna kesalahanku, aku pantas mendapatkannya" Hinata kembali mendunduk.
Naruto tersenyum walau ia tahu bahwa Hinata tidak melihat senyumannya itu "sudahlah jangan menangis lagi. Heeyyy apakah kamu mau dihukum?" Tatapan jahil itu keluar lagi.
Hinata kembali mendongak mendapati tatapan itu "kau mesuummm"
"Heheh makanya jangan menangis lagi" ujarnya seraya memberikan kecupan hangat didahinya.
Kedua tangan tan itu menangkup pipi Hinata mengusap lembut jejak air mata. Kedua mata mereka saling menatap, Hinata tahu keinginan suaminya iapun mengikuti alur dan kembali menutup kedua matanya.
'Pasangan yang begitu bahagia. Kheh... lihat saja aku akan menghancurkan kebahagiaanmu Naruto'
.
Sakura yang telah berhasil meredakan emosinya kembali melayani pembeli. Tapi tetap saja pikirannya masih memikirkan tentang keadaan Hinata. Apakah sikapnya barusan keterlaluan? Menampar atasannya begitu saja, bagaimana jika Hinata mengambil keputusan yang salah dan mengancam karirnya?
"Bagaimana bisa dia merelakan jabang bayinya begitu saja? Hah~ dia seharusnya berpikir panjang dan bersyukur secapat mungkin Tuhan memberikan dia anak seharusnya dia berkaca padaku karna sampai sekarang aku belum mendapatkannya." Keluh Sakura meratapi nasibnya sendiri.
"Aarrgghhhh aku sudah keterlaluan aku tidak berpikir panjang" racau Sakura seraya mengacak-ngacak rambut pink pendeknya.
"Kau kenapa? Kau gila?" Ujar seseorang yang datang ketempatnya.
"Eehh" Sakura mendapati Ino dan Hotaru datang "sejak kapan kalian ada disini?" Tanya Sakura, ia takut kedua wanita itu mendengar racauan yang pertama.
"Setelah kau mengatakan aku tidak berpikir panjang. Memangnya apa yang kau pikirkan?" Tanya Ino lagi.
"Dan kenapa tadi Sakura-san mengatakan bertemu dengan wanita gila, memangnya siapa yang gila?" Kini giliran Hotaru yang bertanya.
Dua pertanyaan itu sudah memberatkan dirinya. Bagaimana bisa ia menceritakan yang sebenarnya? Bisa-bisa Sakura akan ditendang keluar dari perusahaan ini.
"A...ahahah tidak ko tidak aku tadi hanya meracau tidak jelas saja. Dan so...soal wanita gila itu aku hanya bercanda saja. Ahahaha"
Tawa Sakura mengundang kecurigaan dari Ino dan Hotaru. Mereka berdua yakin jika Sakura tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Apakah kau sedang berbohong pada kami?" Lagi, Ino kembali bertanya.
"Kalau Sakura-san bercanda kenapa tadi kelihatan begitu emosi?"
"Eegghhh" nafas wanita pink itu terasa tercekik mendengar pertanyaan kedua dari mereka.
'Kenapa mereka bisa sensitif sekali sih? Aarrgghhh apa yang harus aku lakukan?' Batin Sakura menjerit.
"Sakura-san ada pembeli yang ingin menawar harga" ujar seseorang mendekatinya.
"Benarkah. Ahaha Ino, Hotaru gomen aku pergi sebentar ya ada pembeli"
'Arigato arigato kau adalah penyelamatku' racau Sakura setenang mungkin telah berhasil keluar dari pertanyaan yang membingungkannya.
Ino dan Hotaru melihat kepergian Sakura dengan senyum yang sumringah "ne Ino-chan aku yakin Sakura-san menyembunyikan sesuatu dari kita. Aku lihat sendiri ko tadi dia emosi dan mengatakan bertemu dengan wanita gila"
"Ya aku juga sependapat denganmu. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kita."
.
Seseorang yang tidak diketahui oleh mereka semua kini tengah bersantai berjalan-jalan dikantor itu. Setiap mata memandang terutama dari kaum hawa hanya ada tatapan kekaguman yang diperlihatkan mereka semua.
Senyuman menawan dilayangkan olehnya pada setiap wanita yang menatap kearahnya.
"Kkyyaaa dia tampan sekali"
"Iya kau benar dia seperti seorang selebritis"
"Aahh tampannya"
Perkataan demi perkataan dilontrkan oleh para wanita itu melihat betapa tampannya pria yang berjalan melewati mereka. Decak kagum terdengar disekitarnya membuat ia semakin percaya diri.
Kakinya terus berjalan sampai membawa ia ketempat yang jarang ditempati oleh pekerja lain, hanya ada beberapa saja yang datang.
Brakk! Suara pintu atap kantor dibuka Wwuussshhhh! Angin menyambut kedatangannya. Ia tersenyum merasa senang ketika angin berhembus kearahnya. Rambut merah itu menari seirama dengan angin sore kali ini. Ia kembali berjalan menuju penyangga disana. Bisa dilihat pemandangan diatas atap memang begitu indah.
"Ternyata kantor ini memiliki area yang bagus" gumamnya menikmati pemandangan sore hari.
Sampai terdengar suara pintu kembali terbuka. Ia menengok menatap siapa gerangan orang yang telah berani mengganggu ketenangannya. Tapi jangan salahkan kedatangannya bahkan sebelum pria itu ada disini atap selalu menjadi tempat favoritnya disini.
Orang itu adalah Hotaru, ia sudah terbiasa ketika sore menjelang ia akan datang keatap untuk menikmati senja. Seolah orang-orang yang telah pergi meninggalkannya menyaksiakan ia hidup dengan damai disini. Tapi sekarang tempat ini telah dihuni oleh pria asing yang sama sekali tidak ia kenal. Hotaru memicingkan kedua matanya untuk menatap dengan jelas siapa itu, namun mau diamati berapa lamapun wanita itu sama sekali tidak mengenalinya.
Rambut merahnya serta wajah baby facenya belum pernah ia temui sama sekali.
"Siapa kau? Kenapa datang kesini?" Tanya Hotaru berjalan mendekat kearahnya.
Namun pria itu hanya menampilkan senyuman saja seperti mengejek Hotaru. Wanita itu tentu sensitif dengan hal seperti itu pantas saja jika sekarang Hotaru mencurigai senyuman itu.
"Ada apa dengan senyumanmu itu? Dan kau siapa sebenarnya?"
"Kehh... ahahaha ternyata kau cukup pintar dalam menyadari sesuatu tapi kau terlalu bodoh dalam memgambil keputusanmu soal cinta" ujarnya membuat Hotaru mengrenyitkan kening tak mengerti apa yang pria itu katakan barusan.
"HAAHHH? Apa yang kau katakan?"
Lagi-lagi senyuman mengembang diwajah tampan itu kembali mengejek wanita yang ada didepannya "kau mencintai Uzumaki Narutokan?"
Deegg... jantung Hotaru berdetak dengan cepat. Perkataan tiba-tiba itu mengejutkannya "ka...kau siapa kau sebenarnya HAHH?"
"Aku adalah..."
Tbc...
Sampi jumpa lagi chap depan jika berkenan silahkan reviews ya arigato gozaimasu ^^ :D
.
Baenah231 : heheh makasih banyak udah suka, udah lanjut nih semoga ga mengecewakan ya. arigato udah ngereviews ^^
krisskun12pb : hahaha iyaa nebaknya salah :D hahah arigato ne :) okeoke arigato gozaimasu sudah memberikan saran lagi semoga kali ini ga salah lagi ya ahaha :D wkwk nanti juga tahu sendiri ko siapa dia :D sekali lagi terima kasih banyak ^^/ arigato udah ngereviews ^^
HariwanRudy : udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews ^^
Rozzeana Chaa : haha gomen gomen sudah dibuat suudzon :D :D ya benar masalah yang sebenarnya baru muncul sekarang :D arigato udah ngereviews ^^
