Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
Gomen baru update lagi sepertinya sekarang akan update 1 minggu sekali tapi itu juga masih diusahain ya. Arigato yang udah setia menunggu kelanjutan fic abal-abal ini heheh... baiklah tanpa basa-basi lagi selamat membaca :D :) ^^/
.
Malam ini langit terlihat sangat gelap pertanda akan datangnya turun hujan. Angin juga berhembus dengan kencang menerbangkan ranting-ranting pohon yang telah rapuh dan cuaca seperti ini memang sangat nyaman untuk tinggal dirumah bercengkrama dengan keluarga tercinta.
Begitupun dengan Naruto dan Hinata pasangan suami istri ini tengah bergelung nyaman dibawah selimut menikmati kebersamaan mereka. Dekapan hangat dilayangkan satu sama lain begitu romantis ditambah dengan cahaya remang-remang dari lampu kamar.
Cupp! Kecupan hangat didahi penuh kasih sayang pengantar tidur dilayangkan oleh Naruro untuk istri tercinta. Hinata yang menerima hal itu merasa bahagia luar biasa. Diam-diam salah satu tangannya mengelus perutnya lagi memberikan perhatian pada sang jabang bayi yang masih dirahasiakannya. Entah kenapa Hinata masih menyembunyikannya dari Naruto selaku Tou-san dari anak yang tengah ia kandung. Apakah ia tidak merasa kasian dengan anaknya yang sampai sekarang belum memperkenalkan Tou-sannya? Entahlah Hinata masih memikirkan hal lain.
Naruto yang merasakan ada yang berbeda dari Hinata iapun akhirnya membuka kembali kedua matanya. Melihat Hinata yang masih mengelus perutnya dengan nyaman.
'Jika diperhatikan perut Hinata ko agak membesar ya?' Batin Naruto menatap kearah Hinata tanpa sepengetahuannya yang masih menutup kedua mata menghirup aroma Naruro dalam-dalam.
"Sayang, apakah kamu makan banyak siang tadi? Ko perut kamu membesar ya?" Otomatis Hinata membuka kedua matanya lebar mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut suaminya.
Hinata melepaskan dekapannya duduk memunggungi Naruto dan masih mengelus perutnya. Ia menunduk melihat perut itu yang mulai membesar.
Grepp! Naruto memeluk Hinata dari belakang menyenderkan kepalanya di bahu kiri sang istri. Menangkup kedua tangan Hinata dengan tangan tannya.
"Gomen... jika perkataanku tadi menyakitimu"
"Eeuummm" ia menggeleng perlahan "aku yang seharusnya meminta maaf"
"Eehh" tampaknya Naruto terkejut dengan perkataan Hinata barusan, sudah dibilangkan jika istrinya itu tidak salah apapun lalu buat apa Hinata meminta maaf? Apakah benar ia telah melakukan kesalahan sehingga dirinya terus-terusan meminta maaf?
"Hinata sebenarnya ada apa? Hmm... apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"
Tepat. Pertanyaannya barusan tepat sasaran Hinata terdiam dari elusan diperutnya mencoba memberanikan diri untuk jujur dengan keadaannya sekarang. Karna bagaimanapun juga janin itu adalah harta yang paling berharga bagi mereka berdua yang tidak bisa digantikan oleh apapun itu.
"Sayang... ada yang ingin aku bicarakan" ucap Hinata menghadap kearah Naruto "Gomen sebelumnya aku menyembunyikan hal ini" lanjut Hinata menunduk didepan suaminya, Naruto yang tahu jika Hinata akan meneruskan kembali perkatannya hanya diam mendengarkan "sayang... sebenarnya aku hamil"
Loading...
1 menit...
2 menit...
3 menit...
7 menit...
Sampai...
"HAAHH? HA... HAMILLLL? KAMU HAMIL SAYANG? A...ANAKKU?" teriak Naruto kegirangan mendengar penuturan Hinata barusan, sang istri mengangguk mengiyakan.
Grepp! Seketika Naruto memeluk Hinata erat perasaan bahagia yang luar biasa memenuhi benaknya tak percaya jika sang istri hamil.
"Arigato Hinata hiks... arigato kamu telah menjadiakanku seorang ayah" air mata lolos dari matanya.
"Arigato telah menjadikanku sebagai seorang ibu dari anakmu Naruto-kun"
Perasaan haru, bahagia, tidak percaya menjadi satu dalam benak mereka. Naruto sama sekali tidak pernah membayangkan jika istrinya akan hamil secepat ini. Baru juga seumur jagung pernikahan mereka tapi Tuhan telah menitipkan jabang bayi untuk mereka berdua. Kebahagiaan akan hal itu tidak bisa diukur dengan apapun. Bahkan harta yang kini mereka miliki sama sekali bukan tandingannya. Ternyata keputusan yang Hinata ambil sangat tepat. Pada akhirnya ia tidak menjadi wanita jahat yang lebih mementingkan materi. Bagaimanapun juga Hinata adalah wanita yang masih memiliki hati nurani dan sisi keibuannya. Hinata ingin menjadi wanita sempurna yang akan melahirkan seorang anak seperti wanita-wanita tangguh diluar sana karna ia tahu kodratnya sebagai seorang wanita.
Naruto melepaskan pelukannya menatap sayang pada sang istri yang kini juga menatap kearahnya. Air mata kebahagiaan membasahi kedua pipi sejoli itu. Perasaan emosi akan kebahagiaan tergambar jelas dalam raut muka mereka berdua.
"Jangan menangis Tou-san" ujar Hinata tersenyum seraya menangkup kedua pipi Naruto mengusap pelan air matanya.
Naruto tersenyum mendengar hal itu dari Hinata. Istrinya benar-benar sudah membuat ia bahagia. Ini adalah kebahagiaan yang tidak ternilai dengan apapun. Naruto terharu dengan cara penyampaian Hinata yang mengatakan jika dirinya tengah hamil dan itu adalah buah hati mereka berdua.
Tangisan kebahagiaan memecah keheningan yang melanda malam ini, cahaya bulan masuk kedalam kamar mereka. Bulan turut bahagia melihat dua sejoli yang sedang berbahagia. Ternyata Hinata memilih sebuah keputusan yang sangat tepat.
Tangan tan itu mengelus pelan perut Hinata, kepalanya menunduk untuk mengecup pelan sang jabang bayi yang masih kecil.
Cupp! "Gomen Tou-san baru mengetahuinya" gumam Naruto yang masih menunduk mensejajarkan kepalanya dengan perut Hinata.
Hinata yang mendengar hal itu merasa bersalah bukan Naruto yang tidak menyadarinya tapi karna Hinatalah yang tidak langsung memberitahukan kabar bahagia itu.
Tangan putihnya terulur mengelus rambut kuning Naruto "gomen aku baru memberitahukannya padamu sekarang. Usia kandunganku sudah berjalan 1 bulan" ucap Hinata membuat Naruto kembali mendongak dan menatap dirinya.
"Kenapa? Kenapa Hinata baru memberitahukannya sekarang?" tanya Naruto, ada nada sedikit kekecewaan disana.
Hinata menyelami iris sapphire di depannya, air mata kembali mengalir. Bukan, bukan air mata kebahagiaan yang ia berikan tapi itu adalah air mata penyesalan. Penyesalan yang pernah ia buat sebelumnya.
"Gomen hiks... gomen hiks... sebelumnya aku su...sudah bertindak egois hikss... memikirkan pekerjaanku dari pada anak ini hiks... hiks... gomen karna itulah aku baru memberitahukanmu sekarang. Hiks... hiks... maafkan aku hiks... aku tidak pantas disebuat istri yang baik" ujar Hinata dengan menahan tangisannya. Namun Naruto yang melihat hal itu hanya tersenyum, entahlah senyuman apa itu yang jelas ia sama sekali tidak marah dengan tindakan Hinata.
Grepp! Naruto memeluk Hinata kembali dengan erat, mengelus punggung sang istri untuk menenangkannya "sssyyuutttt sudahlah aku tidak marah padamu ko. Aku bahagia ternyata kamu lebih mementingkan anak kita. Aku bahagia Hinata sungguh, sudah ya jangan menangis lagi Kaa-san" ucap naruto lembut dan hal itu membuat Hinata menjadi tenang dan juga lega diwaktu bersamaan. Ternyata suaminya itu bisa memahami dirinya dan Hinata bernar-benar merasa bersalah.
"Gomen hiks... aku janji akan menjaga anak kita" lanjut Hinata dan diberi anggukan oleh Naruto "Eeumm aku percaya padamu. Baiklah ayo kita istirahat sudah malam" ajak Naruto kembali membawa Hinata berbaring didalam pelukannya.
.
Hotaru termenung didalam kamar seraya memeluk guling, ia memikirkan kejadian tadi sore diatap kantor Hyuuga Corp. Tanpa sengaja ia bertemu dengan pria aneh berambut merah menyala. Dia mengatakan jika Hotaru mencintai Naruto. Ia tidak bisa menampik akan hal itu, karna pada kenyataanya ia memang mencintai Naruto. Tapi bukankah ia sudah bertegad akan berhenti mencintainya?
Lantas bagaimana isi hati Hotaru yang sebenarnya sekarang ini? Apakah ia sudah berhasil berhenti mencintai pria itu secara diam-diam? Memang sulit terlebih mereka selalu dipertemukan ditempat kerja.
Tapi siapa sebenarnya pria berambut merah tadi? Ada hubungan apa ia dengan Hinata dan juga Naruto?
"Apa pria itu kenalan Naruto dan Hinata ya? Tapi kelihatannya dia mencurigakan" gumam Hotaru "apa maksudnya dengan percakapan itu?" lanjut Hotaru mengingat kembali pada percakapan mereka tadi.
Flashback ON
Angin sore berhembus dengan kencang menerbangkan rambut yang berbeda warna itu, setelah perkataan pria tadi kini keduanya saling menatap satu sama lain. Hotaru menampilkan ekspresi keterkejutan tidak mengerti kenapa pria itu bisa mengetahui fakta bahwa dirinya mencintai Naruto? Siapa sebenarnya pria itu? Ada hubungan apa dia dengannya?
"Siapa kau?" ujar Hotaru menyentak sekali lagi.
Pria itu menyeringai kearahnya, entah mengejek, entah menyayangkan keputusan Hotaru "Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku adalah orang yang datang untuk berbalas dendam. Apa kau tidak menyesal mengambil keputusan untuk berhenti mencintai pria itu? Apakah kau rela melihatnya bahagia bersama wanita lain yang baru ditemuinya? Sedangkan kau sudah mencintainya bertahun-tahun dan belum sempat memilikinya dan kau akan merelakannya begitu saja? Apakah itu bisa dikatakan adil?" ujar pria itu panjang lebar membuat Hotaru tidak bisa berkutik apa-apa.
Perkataan pria itu memang benar adanya. Apakah itu bisa dikatakan adil? Adil untuknya dan tidak adil untuk dirinya. Tapi heii siapa sebenarnya pria ini? Bahkan dia mengetahui bahwa Hotaru mencintai Naruto bertahun-tahun. Selama ini ia belum pernah menceritakan perasaannya sembarangan tapi kenapa pria itu bisa mengetahui perasaannya?
"Kau mau tahu kenapa aku mengetahui bahwa kau mencintai sahabat kecilmu Uzumaki Naruto? Karna aku selalu mengawasi kalian" lanjutnya lagi.
Deegg... dan itu sukses membuat Hotaru kaget seraya membelalakan kedua matanya tidak percaya sama sekali dengan apa yang barusan pria itu katakan.
"KATAKAN YANG SEBENARNYA SIAPA KAU DAN MAU APA KAU DATANG KEMARI? DAN APAA? MENGAWASI? KAU MENGAWASI SIAPA HAHHH?" Teriak Hotaru lantang dan sedetik kemudian langit berubah menjadi gelap, yah malam yang panjang telah datang tanpa mereka sadari. Pantas saja kantor terasa sepi karna sebagaian besar pekerja sudah pulang kerumah. Dan Hotaru disini terjebak dengan seorang pria asing yang aneh.
Lagi-lagi hanya seriangaian yang ia tampakan pada Hotaru, dan hal itu sama sekali tidak pantas untuk wajahnya yang baby face. Siapapun pasti meyakini jika pria itu tidak mungkin memiliki niat jahat didalam dirinya tapi siapa sangka dibalik wajahnya yang tenang terdapat sebuah dendam yang melekat didalam hatinya.
"Aku adalah Sasori, pria yang datang untuk membalas dendam. Aku berniat untuk membantumu merebut kembali cinta yang telah kau pendam bertahun-tahun ini. Jika kau setuju mari kita bekerja sama."
Perkataan yang dilontarkan oleh Sasori barusan membuat Hotaru kembali membelalakan kedua matanya tidak percaya.
'Apa katanya membantuku untuk mendapatkan kembali Naruto? Yang benar saja, bahkan telah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini dan telah menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya tapi sama sekali dia tidak bisa aku dapatkan. Ada apa denganku apakah aku tertarik? Aahhh tidak tidak... sadarkan dirimu bodoh... kau harus ingat tujuanmu. Kau harus bisa merelakannya berbahagia dengan Hinata' racau Hotaru berbatin mencerna apa yang dikatakan pria bernama Sasori tadi.
"Aku tidak akan menarik niatku untuk merelakannya. Tidak ada gunanya aku disini bersamamu" ujar Hotaru berbalik dan mulai berjalan meninggalakannya sendiri.
"Jika kau berubah pikiran aku akan selalu menunggumu disini" lanjut Sasori membuat langkah Hotaru berhenti "terserah" jawabnya kembali melanjutkan jalannya.
Flashback OFF.
Hotaru menatap langit-langit kamar menerawang jauh memikirkan percakapan itu. Apakah Hotaru akan berubah pikiran dan kembali bertindak egois untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali? Tapi apakah ia akan bahagia jika merebut kebahagiaan orang lain? Terlebih orang lain itu adalah Hyuuga Hinata? Seorang wanita baik hati yang bahkan telah menjadi pantutannya sekarang.
Yah, Hotaru memang sudah mengagumi Hinata layaknya wanita lain dikantor, ia merasa tersentuh dengan Hinata yang sama sekali tidak merasa malu telah bersanding dengan pria sederhana seperti Naruto. Bahkan ketika orang lain membicarakan pernikahan mereka Hinata dengan bangganya malah memamerkan kemersaannya didepan umum dan hal itulah yang membuat Hotaru tersentuh.
Hinata sama sekali tidak mementingkan jabatannya, ia lebih mementingkan posisi Naruto yang telah menjadi suaminya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku tega merebut dia darinya? Aku tidak munafik, aku mengakui bahwa aku memang masih mencintainya dan berharap dia akan berpaling dan meninggalkan Hinata hanya untukku. Tapi itu hanya mimpi terbesarku saja yang sama sekali tidak bisa menjadi nyata. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Hotaru menggelamkan wajahnya diatas guling yang ia peluk.
.
.
.
Pagi kembali menjelang, cahaya matahari terasa hangat menyentuh kulit Hinata yang tengah duduk dimeja makan seraya memperhatikan sang suami memasak. Ya setelah mendengar bahwa Hinata tengah mengandung anaknya, Naruto sebagai suami yang baik memyuruh Hinata untuk beristirahat biarkan dirinya yang menggantikan sang istri.
Senyuman kebahagiaan terpancar diwajah cantik Hinata, setelah bersiap-siap untuk berangkat kekantor mereka menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu bagaimanapun juga ini untuk Hinata dan sang jabang bayi.
"Hhhmmpppp" kebiasaan dipagi harinya kembali muncul, Hinata buru-buru menuju toilet untuk memuntahkan sesuatu dalam perutnya yang memaksa ingin keluar, tapi hanya cairan bening yang keluar.
Melihat Hinata yang pergi ketoilet Naruto ikut menyusul membantunya.
"Sayang kau tak apa?" Tanyanya lembut dengan memijit pelan pangkal belakang leher Hinata.
Hanya gelengan kepala dari Hinata sebagai jawaban.
"Kalau begitu ayo kembali duduk sarapannya sudah hampir siap" ajak Naruto membantu Hinata untuk duduk kembali di meja makan.
Naruto mempersiapkan makanan yang sudah matang. Disana terlihat begitu banyak makanan sehat untuk ibu hamil. Naruto mencari tahu sebelum Hinata bangung tadi, ia ingin memberikan nutrisi yang baik untuk Hinata dan sang jabang bayi. Naruto ingin sang anak lahir dengan sehat dan selamat.
"Nah Hinata ayo makan sayurannya ya. Ini baik loh buat anak kita" ujar Naruto memberikan sepotong wortol pada Hinata.
Namun wanita itu tidak bereaksi apa-apa, ia hanya melihat-lihat saja makanan itu tanpa ada niatan untuk menyentuhnya sedikitpun. Nafsu makannya hilang entah kemana, rasa mual itulah yang membuta Hinata enggan untuk sarapan pagi ini. Dan hal itu membuat Naruto tak mengerti.
"Hinata apakah kamu tidak menyukai masakanku?" Ujarnya ada sedikit kekecewaan disana.
Hinata menatapnya "a...ahhh bukan begitu Naruto-kun. Tapi aku masih mual itu saja ko. Setiap akan makan sesuatu dalam perutku menolaknya. Jadi gomen bukannya tidak suka tapi..."
Naruto beranjak dari duduknya dan berjalan kearah Hinata dan duduk disampingnya. Ia membelai lembut rambut Hinata yang digerai.
"Gomen aku tidak mengetahuinya. Kalau begitu apa yang Hinata inginkan supaya tidak merasa mual hmm? Bagaimanapun juga kamu dan anak kita butuh sesuatu untuk dimakankan?" Tanya Naruto lembut.
Hinata mencoba berpikir apa yang tengah ia inginkan sekarang untuk dimakan "eemmm entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin makan ramen. Boleh tidak?"
"Ahh tidak tidak. Kalau itu tidak boleh" larang Naruto, Hinata mengembungkan pipinya kesal "kalau tidak boleh ya sudah aku tidak mau makan"
"Jangan gitu dong. Baiklah baiklah aku janji nanti siang aku buatkan ramen ya, tapi sekarang Hinata makan ini dulu. Ok"
"Benarkah?"
"Iyaa itu benar aku janji"
"Yyyeee... aku mencintaimu Naruto-kun. Tapi suapi aku ya" ujar Hinata dengan mata yang berbinar.
Naruto tersenyum melihat kelakuan istrinya yang berubah menjadi manja seperti ini "Ok. Tou-san akan menyuapi Kaa-san" ujarnya senang.
Naruto tengah menyuapi Hinata dengan makanan yang ia buatkan tadi. Suasana diruang makan itu terasa hangat dan akrab. Keromantisan mereka mampu membuat matahari merasa iri pagi ini. Semua orang yang melihat mereka pasti tahu bagaimana keduanya saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. Dan tidak akan pernah ada seorangpun yang akan merusak kebahagiaan mereka apapun caranya itu.
"Naruto-kun aku ingin berhenti bekerja jadi apakah Naruto-kun siap aku angkat menjadi CEO?" ujar Hinata disela-sela makannya.
Prangg! Sendok ditangannya lolos terjatuh bersentuhan dengan marmer dan terdengar suara nyaring disana.
"A...apa C...CEO? Apakah aku bisa?" Gugup Naruto mendengar jabatan tinggi itu yang akan menjadi posisinya nanti.
"Aku yakin kamu bisa sayang. Naruto-kunkan sering melihatku bekerja jadi seperti itu seorang CEO. Dokterkan menyarankanku untuk banyak istirhat dan aku sudah memutusakn bahwa aku akan berhenti bekerja untuk mempertahankan anak kita. Kau tahu janin kita ini lemah. Jadi kau tidak bisa membantahnya, dan sebelum pergi kekantor kita harus kerumah Tou-san dulu" lanjut Hinata lagi, tentu Naruto tidak bisa membantahnya karna hal itu berhubungan dengan sang jabang bayi.
.
Setelah selesai makan dan membersihkan peralatan dapur, Naruto dan Hinata sekarang tengah berada dalam perjalanan menuju kediaman Hiashi untuk membicarakan apa yang sudah Hinata putuskan. Keputusan untuk kebaikannya dan si jabang bayi.
Untung jalanan tidak terlalu pada kendaraan jadi mereka bisa sampai disana dengan cepat. Hinata dan Naruto berjalan masuk kerumah sang ayah setelah memarkirkan mobil dipekarang rumah Hiashi. Setelah Hinata menikah ia harus meninggalkan sang ayah sendirian bersama maid-maid sesekali Hinata juga akan mengunjunginya tapi pada kenyataannya ia baru sekarang mampir kerumah Tou-sannya itu.
Cklekk! Pintu dibuka terlihat Hiashi tengah membaca koran ditemani dengan secangkir teh hangat. Hiashi mengalihkan pandangannya kearah dua orang yang masuk kedalam rumahnya.
"Hinata? Naruto? Tumben datang kemari, ada apa?" Tanya Hiashi penasaran dengan kedatangan mereka.
Ya hubungan mereka bertiga sudah kembali normal. Insiden mengenai rahasia kedua orangtuanya sudah bisa Naruto pahami. Hiashi menyembunyikan hal itu untuk kebaikannya sendiri supaya ia tidak merasa terpukul dengan kematian kedua orangtuanya.
"Tou-san" ujar Hinata berjalan dan memeluk sang ayah merasa rindu karna hampir 2 bulan ini mereka berpisah.
Naruto tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Ia duduk dikursi sebarang Hiashi.
"Ada apa ini Hinata?" Tanya Hiashi lagi melepaskan pelukannya.
Hinata tersenyum dan duduk disampingnya "ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Tou-san" kata Hinata dengan senyum bahagia dibibirnya.
"Hheeee ada apa ini? Jangan membuat Tou-san penasaran" ucap Hiashi.
"Tou-san... aku hamil... Tou-san akan menjadi seorang kakek"
Kedua mata Hiashi terbelalak mendengar anak semata wayangnya tengah hamil. Dan itu adalah cucunya "benarkah? Tou-san senang sekali mendengarnya Hinata. Selamat ya" kebahagiaan terlihat dengan jelas diwajah tua Hiashi, ia kembali memeluk sang anak penuh dengan keharuan. Naruro hanya menyaksikannya saja seraya tersenyum merasakan kebahagiaan mereka.
"Naruto sini" lanjut Hiashi mengagetkan Naruto "e...eehhh" tanpa aba-aba apapun Hiashi menarik pergelangan tangannya dan ikut bergabung dalam dekapan hangatnya.
"Tou-san senangggg sekaliiiii... heii kau bocah selamat ya kau akan menjadi seorang ayah" Hiashi menggoda Naruto "heheh iyaa... dan Tou-san akan menjadi seorang kakek"
"Eemmm"
Adegan haru yang mereka lakukan tadi telah berlalu dan kini ketiganya tengah duduk untuk mendengarkan perkataan Hinata yang sebenarnya.
"Tou-san aku ingin berhenti dari perusahaan. Jadi sebagai gantinya Naruto-kun yang akan menggantikanku sebagi seorang CEO Hyuuga Corp. Karna aku tidak ingin membahayakan anakku demi kepentingan kantor. Tou-san tahu sendirikan jika aku tergila-gila akan kerja? Karna membahayakan untuk bayi ini jadi aku memilih mundur. Apakah Tou-san menyetujuinya?" Ungkap Hinata mengatakan hal sebenarnya mereka datang kemari.
Tidak ada reaksi apa-apa dari Hiashi. Apakah ia membantah keputusan Hinata? Apakah Hiashi akan berubah menjadi lebih kejam? Namun sedetik kemudiam ekspresi datarnya berubah "Tou-san bangga dengan keputusanmu Hinata. Kau tahu Tou-san memang sudah memikirkannya sebelum kalian menikah jika perusahaan bagusnya Naruto yang harus mengambil alih." Senyum Hiashi mengakhiri perkataannya.
Senyuman kebahagiaan hadir diwajah cantik Hinata dan ekspresi tegang hadir diwajah tampan Naruto.
"Kalau begitu pelantikannya akan diadakan nanti siang. Aku harap Tou-san datang untuk mengangkat Naruto sebagai CEO" lanjut Hinata lagi.
"Eeuummm Tou-san pasti datang."
.
Sedangkan dikantor suasana terlihat berbeda karna atasan mereka sampai detik ini belum juga datang. Lihat saja jarum jam sudah menunjukan pukul 09:30 dan Hinata beserta sekertarisnya belum juga menunjukan batang hidungnya.
"Apakah mereka tidak masuk kerja ya? Aku khawatir" gumam Sakura melihat kesekitaran siapa tahu kedua orang itu lewat dihadapannya.
Dan benar saja tak berapa lama orang penting di kantor itu datang juga dengan wajah penuh kebahagiaan. Hinata berjalan kearah Sakura untuk memberitahukan sesuatu yang mungkin akan mengejutkan sahabatnya itu sedangkan Naruto berlalu untuk bersiap-siap untuk acara nanti.
Melihat Hinata datang kearahnya membuat Sakura merasa khawatir dengan dirinya setelah apa yang ia perbuat kemarin pada Hinata. Apakah ia akan diberhentikan bekerja? Jantungnya memompa begitu cepat memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi. Sakura tidak ingin berhenti bekerja disini walaupun sang suami adalah orang kaya tapi Sakura ingin menghasilkan uang sendiri berkat kerja kerasnya.
"Hinata aku mohon maafkan aku. Aku tidak ingin berhenti bekerja disini, jadi maafkan aku" Sakura menunduk setelah Hinata berdiri dihadapannya.
Hinata merasa bingung dengan kelakuan sahabat pinknya ini "kau kenapa Sakura? Kau sakit? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini" ujar Hinata.
"Kaukan akan memecatku jadi aku meminta maaf untuk yang kemarin asal kau tidak memecatku" jawab Sakura masih dalam posisi membungkuk meminta maaf pada Hinata.
Hinata terkikik geli mendengar hal konyol Sakura "hahaha apa sih yang kau bicarakan? Siapa yang mau memecat siapa? Heii aku datang kesini mau berterima kasih padamu berkatmu aku bisa mengambil keputusan yang tepat" lanjut Hinata membuat Sakura mendongak untuk menatapnya.
"Benarkah itu? Jadi kau tidak akan memecatku? Kkkyyaaa aku senang sekali. Arigato Hinata" girang Sakura memeluk Hinata begitu saja.
"Iya...iya sudah sudah lepaskan. Hah~" Hinata melepas paksa pelukan Sakura "terima kasih berkatmu aku bisa berpikir jernih"
"Jadi apakah kau sudah memberitahukannya?"
"Iya sudah" jawab Hinata dengan senyuman kebahagiaan "aku mau minta bantuanmu. Kumpulkan semua orang diaula ada pengumuman penting jam 11:00. Ok aku mengandalkanmu."
"Baiklah baiklah"
"Heii kalian berdua ada apa ini? Aku merasakan ada aura kebahagiaan disini?" Tanya Ino ikut bergabung.
"Ahh Ino-chan sayang sekali tapi pembicaraan kita sudah selesai. Jika kau ingin tahu nanti datang saja keaula. Jaa ne. Sakura ingat ya kasih tahu kesemua orang untuk datang" ujar Hinata berlalu darisana.
"Siap kapten. Nahh Ino-chan gomen ne aku harus segera melaksanakan perintahnya. Jaa ne. Sampai jumpa diaula" ucap Sakura juga berlalu dari sana meninggalkan Ino seorang diri.
"Iihhh mereka berdua membuatku kesal saja." Gumam Ino menghentakan kakinya melihat kedua wanita itu pergi meninggalkannya seorang diri.
.
"Apa yang harus aku lakukan? Kau harus berpikir jernih Hotaru" gumam wanita itu menerawang melihat langit cerah hari ini. Ya dia tengah berada diatap kantor, masih memikirkan percakapannya dengan pria bernama Sasori kemarin.
"Hatiku mengatakan jika aku memang masih mencintainya tapi pikiranku mengatakan aku harus berpegang teguh pada niatku sebelumnya. Dan itu sangat bertolak belakang. Hahh~ apa yang harus aku lakukan? Membantu pria itu dan mendapatkannya lagi atau mencegah ia supaya tidak menjahati Naruto? Aarrgghhhh aku bingung" racau Hotaru seorang diri diatap kantor.
Angin membelainya lembut menenangkan dirinya supaya ia harus berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Ia menutup kedua matanya menikmati setiap sentuhan angin yang datang.
"Baiklah aku tahu aku harus berbuat apa" lanjutnya lagi.
.
Suasana di dalam kantor kembali sibuk. Setelah mendengar pengumuman dari Sakura barusan setiap pekerja langsung berdatangan keaula untuk menghadiri sebuah acara yang masih dirahasiakan oleh sang CEO.
Tapi dimana Naruto berada?
Dia ada diruang VIP tengah menenangkan dirinya dari kegugupan yang luar biasa. Ia terlihat begitu tampan dan menawan. Setelan jas berwarna abu membalut tubuh tegapnya. Itu adalah hasil dari rancangan Hinata. Ia ingin sang suami terlihat keren diacara pelantikannya sebagai CEO.
"Hinata apakah kamu yakin memberikan jabatan sebesar ini padaku? Bagaimana jika aku tidak bisa menjalankannya dan malah membuat perusahaan ini bangkrut?" Ujar Naruto dengan kegugupannya.
Hinata menangkup kedua pipinya "sayang aku percaya padamu bahwa kau bisa menjalankan perusahaan ini. Tenang saja aku akan membantumu ok. Jadi sekarang tenang, Naruto-kan sudah bersamaku bertahun-tahun jadi aku yakin Naruto-kun bisa menjalankannya" ucap Hinata lembuat menangkan sang suami.
Naruto memegang kedua tangan Hinata yang berada dipipinya "arigato Hinata. Aku mencintaimu... aku mencintai kalian berdua" cupp! Jawabnya dengan mengecup dahi Hinata.
"Kalau begitu ayo kita keluar Tou-san juga sudah datang." Lanjut Hinata menggenggam tangan Naruto dan membawanya keluar.
Suasana diaula lantai 2 terlihat ramai, pekerja Hyuuga Corp sudah memadati ruangan tersebut. Tidak hanya pekerja Hyuuga saja tetapi ada beberapa CEO dari perusahaan lain yang diundang khusus oleh Hinata.
Kegugupan semakin melanda Naruto ketika pandangannya menangkap begitu banyak orang diruangan itu. Hinata dengan setia berada disamping Naruto menenangkannya dari kegugupan yang luar biasa. Ia juga merasakan bagaimana tegangnya ketika pertama kali diangkat menjadi CEO beberapa tahun silam.
"Tenang saja Naruto-kun, aku mengerti bagaimana gugupnya kamu sekarang. Tenang saja ok, semuanya akan baik-baik saja" cupp! ujar Hinata seraya mengecup punggung tangan Naruto.
"Ha'i arigato Hinata"
Akhirnya acara dibuka, Hiashi sudah tiba sedari tadi. Iapun langsung menuju podium untuk memberitahukan kabar ini.
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih banyak pada kalian semua yang mau hadir diacara ini. Baiklah langsung saja, saya selaku pemilik Hyuuga Corp yang pertama akan memberitahukan bahwa tahun ini CEO kalian akan berganti"
"Apa diganti? dengan siapa?"
"Lalu Hyuuga-sama gimana?"
"Hinata, bagaimana dengan Hinata?"
"Apakah Tou-sannya itu yakin akan menggantinya begitu saja?"
Suasana terdengar gaduh seketika saat Hiashi mengatakan jika jabatan CEO akan beralih pada seseorang.
Hinata berjalan menuju podium berujar melanjutkan perkataan Hiashi "seperti yang sudah Hyuuga Hiashi katakan tadi bahwa CEO tahun sekarang akan diganti. Dan saya selaku CEO Hyuuga Corp akan lengser dan memberikan jabatan ini pada seseorang yang sangat aku percayai dia adalah Uzumaki Naruto. Beri tepukan yang meriah untuk CEO baru kita" lanjut Hinata lagi.
"Hah apa Naruto? Apakah Hyuuga-sama tidak salah memilih? Benar sih dia adalah suaminya tapi apakah dia bisa?"
"Aku juga bukannya meragukan dia tapi apakah akan berjalan mulus?"
"Aku meragukannya"
"Heii kalian" ujar Sakura pada ketiga pegawai itu "jika kalian tidak menyetujuinya silahkan angkat kaki saja dari perusahaan ini. Toh aku rasa dia bisa menjalankan perusahaan ini, bagaimanapun juga Narutokan sudah bertahun-tahun menjadi sekertaris pasti dia sudah tahu bagaimana caranya menjalankan perusahaan ini" bela Sakura pada Naruto, merasa tidak nyaman jika sahabat kuningnya itu diremehkan.
"Baiklah pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya bisa mengundurkan diri mendadak seperti ini, jawabannya adalah saya tengah mengandung dan jika saya masih bekerja itu akan membahayakan bagi calon anak kita. Dan inilah keputusan yang saya ambil, saya harap kalian bisa nyaman dengan CEO baru kita. Terima kasih"
"Saya harap kita masih berhubungan seperti biasanya, anggap saja saya sebagai teman kalian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik" ujar Naruto menambahkan.
Pprroookkk!
Pprroookkk!
Pprroookkk!
Suara tepuk tangan menggema diruangan itu menyambut CEO baru mereka.
"Waahhh selamat ya kalian akan mempunyai seorang anak"
"Selamat yaa"
"Selamat yaa"
"Selamat yaa"
Teriakan selamat juga menggema disana mendengar alasan Hinata yang menyerahkan kekuasaannya pada sang suami. Sakura tersenyum mendengar hal itu "keputusan yang bagus Hinata" gumamnya.
"Oh jadi ini yang kalian maksudkan tadi?" ujar seseorang berada disamping Sakura "iya itu benar. Hinata hamil dan menyerahkan jabatannya bukankah itu bagus Ino-chan?"
"Iyaa itu memang bagus. Aku bangga pada Hinata"
Suasana masih terdengar riuh, mereka semua memberikan ucapan selamat kepada Naruto yang sudah diangkat langsung menjadi CEO baru mereka dan juga pada Hinata yang tengah mengandung. Kebahagiaan terasa disana, antara pegawai dan atasan bercampur menjadi satu layaknya teman akrab.
Tapi dibalik itu semua seseorang tengah mengintai mereka dari tadi. Dia berjalan kearah seorang wanita seraya menyembunyikan wajahnya "bagimana apakah kau sudah tertarik untuk merebutnya lagi? Hamil? Oh itu akan sangat menarik loh Hotaru" bisiknya tepat disamping telinga kanan Hotaru.
Deegg... wanita itu membelalakan kedua matanya mendengar suara yang ia rasa itu adalah pria kemarin yang sudah membuatnya merasa pusing dengan tawaran gila yang ia berikan padanya. Perlahan Hotaru membalikan badannya untuk melihat pria itu.
"Kau jangan gila, jika kau ingin balas dendam padanya jangan libatkan aku"
"Apakah kau tidak akan menyesal jika nanti pria yang kau cintai itu terluka olehku? HAHAHAHA saksikanlah nanti Ho-ta-ru kau tak usah bersikap munafik seperti itu. Jaa, ne" pria itu menghilang dihadapan Hotaru.
Hotaru mencengkarm roknya dengan kuat merasa emosi dengan perkataan picik pria bernama Sasori itu "jika kau ingin melukainya maka hadapi aku dulu" gumamnya.
Hinata yang tidak sengaja melihat hal itu sekilas merasa bingung dengan kelakukan Hotaru 'dia terlihat lagi menahan emosi tapi ke siapa ya? Juga pria bertopi itu siapa?' batin Hinata.
Tbc...
Semoga memuaskan ya, jika berkenan silahkan reviews saja. Arigato gozaimasu, jaa sampai ketemu minggu depan ^^/ ^^v :D
.
Baenah231 : sudah jujur ko hehe semoga suka ya dengan kelanjutannya :) arigato udah ngereviews ^^
saputraluc000 : hehehe arigato gozaimasu... wkwk sepertinya tidak ya? gomen jika kelanjutannya mengecewakan :D arigato udah ngereviews ^^
HariwanRudy : sudah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews ^^
aldo2804 : sudah lanjut semoga suka ya :) arigato gozaimasu atas pujiannya hehe dan semoga kelanjutannya tidak mengecewakan :) :D diusahain akan kilat terus haha :D arigato udah ngereviews ^^
