Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
Gomen baru bisa update hari ini, sedikit masalah teknis jadi mohon pengertiannya ya. Terima kasih yang masih setia nungguin chap hyugana yang abal-abal ini semoga tidak bosan membacanya ya :) selamat membaca :D
.
Di hari-hari selanjutnya kini Naruto sudah menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan Hyuuga. Perusahaan yang terkenal akan perhiasannya ini sekarang sudah menjadi miliknya. Lihat saja Naruto sekarang, ia tengah duduk dikursi kebesaran yang biasanya selalu ditempati oleh Hinata. Tetapi hari ialah yang duduk disana. Perasaan gugup itu selalu muncul karna ini pertama kalinya Naruto duduk di kursi itu, biasanya ia hanya melihat Hinata yang menggunakannya di ruangan itu, dan kini ruangan itu juga telah menjadi miliknya.
Tapi setelah beberapa menit perasaan cemas dan gugup hilang begitu saja ketika ia dihadapkan dengan berkas-berkas yang menumpuk dimejanya.
Hinata lengser meninggalkan banyak pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan dan kini Narutolah yang harus menyelesaikannya "aku tidak menyangka jika Hinata ternyata bekerja seberat ini setiap hari. Ahh aku memang hanya melihatnya saja ketika akan memberitahukan jadwalnya dan aku baru merasakan betapa beratnya menjadi CEO itu. Aku jadi rindu dengannya kira-kira dia sedang apa ya?" Gumam Naruto meraih ponsel yang tergeletak diatas meja.
Tutt... ttuutt... panggilan tersambung, dan tak lama kemudian.
Klik! "Moshi-moshi Naruto-kun, ada apa?" Tanya sang istri menyambut panggilannya.
Naruto tersenyum mendengar suara lembut Hinata "tidak, hanya saja aku rindu tidak melihatmu di kantor. Mungkin aku belum terbiasa heheh"
Di sebrang sana Hinata tengah merona mendengar hal itu "iya mungkin Naruto-kun belum terbiasa saja. Nanti juga lama kelamaan akan terbiasa juga" jawab Hinata.
"Iya sepertinya begitu. Bagaimana keadaan si kecil?"
"Eemm dia baik-baik saja."
Tok tok... ketukan dipintu mengalihkan perhatiannya "ahh Hinata sudah dulu ya sepertinya ada yang datang. Jaa aku mencintaimu" klik! Panggilan ditutup. Naruto segera mengalihkan pandangannya pada pintu yang belum dibuka.
"Masuk" ujarnya mempersilahkan orang itu masuk "ahh Sara-san ada apa?" Tanya Naruto pada Sara yang kini menjabat lagi sebagai sekertaris CEO Hyuuga Corp. Sejak ia menjabat sebagai CEO wanita bernama Sara itu diangkat kembali menjadi sekertaris pribadinya dan itu juga atas persetujuan Hinata.
"Jam 1 nanti anda akan menghadiri sebuah rapat. Ini rapat perdana anda jadi saya harap anda bersiap-siap" ucap Sara memberitahukan jadwalnya.
Mendengar kata rapat membuat Naruto menegang. Nama rapat memang tidak asing lagi baginya tetapi yang menjadi masalah adalah sekarang ia yang harus berbicara dipodium didepan banyaknya orang penting yang hadir. Dan ia sama sekali belum terbiasa melakukan hal itu. Perasaan gugup itu hinggap lagi padanya.
"Ha...ha'i. Silahkan kembali bekerja" jawabnya mempersilahkan Sara untuk keluar.
"Bagaimana ini aku belum bisa berbicara didepan orang-orang penting itu" gumam Naruto panik harus berbuat apa "bagaimanapun aku harus menjalankannya" lanjutnya lagi beranjak darisana untuk mempersiapkan diri.
.
Sedangkan didalam rumah Hinata tengah beristirahat menikmati buah-buahan yang telah disediakan oleh seorang maid yang kini menemainya. Perutnya sudah terlihat membesar, Hinata senang bisa melihat perkembangan janinnya yang hari demi hari semakin berkembang. Menjadi seorang ibu adalah anugrah yang tak ternilai harganya. Hinata sangat-sangat bahagia akan keputusannya ini terlebih janin yang tengah bergelung nyaman didalam rahimnya adalah anak dari Naruto, pria yang sangat ia cintai.
"Perjalanan hidup tidak ada yang tahu akan bagaimana hasilnya" gumam Hinata seraya menyantap sepotong apel. Dia tengah membayangkan kembali betapa rumitnya perjalanan hidup yang ia jalani bersama sang suami di waktu dulu.
"Tumbuh dengan baik ya nak. Kaa-san dan Tou-san tengah menunggumu disini" lanjut Hinata seraya mengelus perut buncitnya, menyalurkan rasa kasih sayang untuk sang jabang bayi.
.
Di kantor Ino dan Hotaru tengah melakukan pemotretan untuk produk baru yang baru saja diluncurkan oleh CEO. Rapat yang dihadirnya sejam yang lalu berjalan dengan lancar, perasaan gugup dan gelisah hilang begitu saja ketika ia menikmati momen tersebut. Dan sekarang ia juga tengah melihat pemotretan yang dilakukan oleh kedua wanita itu.
"Apa kabar dengan Hinata?" tanya Sakura yang berdiri disampingnya.
Naruto menoleh, melontarkan senyuman cerah miliknya "dia baik-baik saja"
"Baguslah, aku harap kehamilan Hinata semakin baik" lanjut Sakura menambahkan.
"Eumm... arigato"
Tanpa mereka berdua ketahui di sesi pemotretannya Hotaru memandang Naruto dengan intens, perasaannya semakin tidak karuan setelah kedatangan pria bernama Sasori beberapa hari yang lalu. Ia memang sudah meyakinkan hatinya untuk tidak lagi mengusik perasaan yang terpendam pada pria itu yang kini sudah menjabat sebagai CEO. Semakin sulit bagi Hotaru untuk mencapainya oleh karena itu ia benar-benar akan mundur dan benar-benar akan merelakan Naruto pergi bersama wanita pilihannya.
"Hotaru... ne Hotaru" Ino mengguncangkan tubuh Hotaru.
"Ahhh iya Ino-chan?" Tanya Hotaru kaget.
"Kamu tidak apa-apa? Ko melamun?"
"Ano... aku hanya_" bayangan pria berambut merah melintas dibelakang Naruto dan Sakura "Aku tidak apa-apa ko. Gomen aku ke toilet sebentar" lanjuta Hotaru dan berlalu dari sana.
Ino menatapnya dengan pandangan heran, ia yakin jika Hotaru menyembunyikan sesuatu hal lagi darinya dan ia tidak tahu apa itu.
Hotaru berlari untuk mencari keberadaan sosok yang tadi dilihatnya, ia yakin jika sosok itu pergi keatap kantor. Namun ia sama sekali tidak melihat siapapun disana, tapi ketika kakinya melangkah lagi untuk pergi sebuah suara menginstrupsinya.
"Apakah kau mencariku Hotaru?"
Hotaru menoleh mendapati pria merah itu berada dibalik pintu "apa rencanamu sekarang?" tanya Hotaru garang.
Pria bernama Sasori itu menyeringai mendengar sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Hotaru padanya "Apakah kau ingin mengetahuinya? Bukankah kau sudah tidak perduli lagi padanya?" ejek Sasori membuat Hotaru mengepalkan kedua tangannya.
"Ya aku memang tidak perduli dengan istrinya itu tapi aku masih perduli dengannya. Jika kau ingin menyakitinya maka hadapi aku dulu" entah kenapa ucapan seperti itu yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"HAHAHAHAHAAA" tawa Sasori meledak "kau sungguh menggelikan, jika kau masih memperdulikannya kenapa kau tidak merebutnya saja?" lagi, Sasori memancing emosi Hotaru.
Wanita itu menunduk, emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Gejolak emosi memenuhi hatinya, perasaan tidak adil hadir dalam hatinya juga membuat Hotaru semakin merasakan sakit. Apakah ia akan berbuat kejam sekali lagi dan merebut cintanya kembali?
"Apa yang harus aku lakukan?"
Mendengar pertanyaan itu, Sasori tersenyum penuh kemenangan seolah ia sudah berhasil menghasut Hotaru untuk bekerja sama dengannya.
"Yang harus kau lakukan adalah membawa Hinata padaku dan kau akan mendapatkan cintamu lagi. Bagaimana kau setuju?"
"Ya aku setuju"
"Bagus"
Angin seolah menjadi saksi dengan rencana jahat pria merah itu. Ia sudah berhasil menghasut Hotaru untuk bergabung bersamanya, guna melancarkan senjata dan membawa wanita yang ia cintai kembali mencintainya lagi. Wanita yang dicintainya? Sebenarnya ada apa dengan pria merah itu? Sebenarnya rencana apa yang ia lakukan? Juga pembalasan dendam yang belum sempat ia berikan untuk pria kuning itu dimasa lalu, seperti apa? Semuanya sudah direncanakan matang-matang olehnya.
.
Hotaru telah kembali ke ruang pemotretan, disana masih terlihat Ino, Sakura dan bahkan Naruto juga masih berada di rangan itu. Raut wajahnya menjadi berubah tidak seceria yang tadi, dan hal itu sukses membuat Ino merasa bingung dengan kelakuan wanita itu.
"Hotaru-chan..." ujar Ino seraya merangkul Hotaru "Lepaskan Ino aku tidak mau di rangkul, aku lelah aku pulang duluan" jawab Hotaru melepaskan rangkulan Ino seraya menyambar tasnya dan berlalu dari sana.
Sakura dan Naruto yang melihat hal itu tidak percaya dengan apa yang dilakukan Hotaru. Mereka meyakini jika Hotaru adalah wanita yang baik dan selalu ceria tidak seperti ini.
"Hotaru kenapa?" tanya Naruto mendekat kearah Ino yang bengong mendapati sahabatnya yang seperti itu "Aku tidak tahu, tadi dia baik-baik saja. Dia mengatakan ingin ketoilet setelah dia kembali ko menjadi aneh ya?" bingung Ino
"Apakah toilet sudah mempengaruhinya?" tanya Naruto polos.
Bletakk! Satu jitakan keras dilayangkan oleh Sakura pada sahabatnya yang baka ini "jangan bicara ngawur baka. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan" ujar Sakura membuat Ino mengangguk setuju.
.
Hari sudah menjelang malam, para pegawai sudah pulang menuju rumahnya masing-masing. Begitupun dengan Naruto, ia tengah mengendarai mobil dijalanan yang ramai penuh dengan kendaraan, pantas saja ini adalah jam pulang kantor. Pandangannya tidak sengaja menangkap bayangan seseorang yang ia kenal tengah duduk di sebuah cafe seorang diri.
"Bukankah itu Hotaru?" gumamnya seraya memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Naruto turun dan berjalan untuk mendekatinya.
"Hotaru sedang apa kau disini? Bukankah kau sudah pulang dari tadi?" tanya Naruto yang duduk didepan Hotaru, otomatis membuat wanita itu kaget bukan main.
"Kkkyyaaa... Naruto-kun kenapa kau datang kesini?"
"Aku tidak sengaja melihatmu duduk sendirian disini, karna khawatir aku datang menemuimu. Sebanarnya ada apa ko hari ini kamu kelihatan berbeda?" tanya Naruto dengan suara yang begitu lembut.
'Khawatir? Benarkah dia mengkhawatirkanku?' batin Hotaru, ada rona merah menghiasi pipi putihnya, andai saja Naruto peka mungkin reaksi yang ia perlihatkan pada Hotaru akan berbeda dan mungkun Hotaru akan menganggap hal itu sebagai sebuah harapan.
"A...aku tidak apa-apa ko. Aku hanya sedang rindu saja pada Kaa-san dan Tou-san" kilahnya membuat Naruto meyakini bahwa Hotaru sedang tidak berbohong karna ia juga merasakan bagaimana kehilangan kedua orangtuanya.
"Ohhh jadi seperti itu. Eum aku juga sama seperti itu jadi aku bisa memahami isi hatimu. Jangan dipendam sendiri kau kan keluargaku ceritakanlah semuanya padaku, ne. Baiklah aku pulang duluan ya, kasian Hinata menunggu dirumah sendirian. Jaa jangan sampai pulang malam" ucap Naruto panjang, dan sebelum beranjak pergi ia sempat-sempatnya mengelus pelan puncak kepala Hotaru. Tahukah ia bahwa perbuatannya itu membuat Hotaru semakin merona dan perasaan hangat menjalari hatinya? Kau sudah berbuat sesuka hatimu Naruto.
Sepeninggalan Naruto, Hotaru menatap jalanan yang semakin ramai dengan banyaknya kendaraan dan orang yang berlalu-lalang. Hatinya merasakan sakit dan senang diwaktu bersamaan.
'Apanya yang mengetahui isi hatiku? Bahkan dia tidak mengetahui bagaimana perasaanku' batin Hotaru porak-poranda bak kapal pecah setelah perbuatan Naruto yang dilakukan padanya "dia hanya menganggapmu keluarga baka, jangan berharap lebih" gumam Hotaru, selintas bayangan wanita berambut indigo melintas dalam ingatannya ia semakin terdiam mengetahui bagaimana Naruto sangat mencintai wanita itu.
"Dunia memang tidak adil" gumamnya lagi dan berlalu dari sana.
.
Naruto sudah tiba dirumah dan setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan masuk untuk segera melihat sang istri yang seharian ini ia rindui.
Brakk! Suara pintu dibuka "aku pulang" ujarnya.
"Selamat datang" jawab suara lembut menyambut kedatangannya. Hinata berjalan mendekati sang suami yang sudah tiba dirumah membantu membawakan dan melepaskan jas kerjanya.
"Bagaimana pekerjaan hari ini? Apakah berjalan dengan baik?" tanya Hinata lembut.
Cupp! Naruto mengecup pelan dahi sang istri "lumayan berjalan dengan baik" jawabnya disertai dengan senyuman.
Naruto berjongkok, menyamakan tingginya dengan perut Hinata. Perlahan ia mulai mendekapnya kemudian cup! Kecupan singkat dilayangkan pada sang jaba bayi didalam sana, Hinata yang menerima perlakuan suaminya ini merona merasa bahagia luar biasa. Ternyata bayi yang tengah ia kandung membawa kebahagiaan tersendiri.
Hinata membelai surai kuning Naruto dengan sayang "mandi dulu sana, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ujar Hinata lembut menyadarkan Naruto dari dekapannya.
Naruto membuka kedua matanya lagi "baiklah, tapi setelah itu temani aku makan malam" jawabnya dan di beri anggukan antusias oleh Hinata.
Di meja makan sudah tersaji beberapa hidangan penggugah selera yang tadi sore dibuat oleh Hinata dan dibantu dengan maidnya. Selesai mandi Naruto segera menuju ke meja makan, Hinata sudah duduk disana menunggu kedatangannya.
"Ayo Naruto-kun kita makan" sambut Hinata dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Naruto mengangguk dan duduk disamping Hinata.
"Apakah kamu tidak makan?" Tanya Naruto melihat Hinata yang hanya menemaninya saja.
"Hehehe aku sudah makan ramen tadi" balas Hinata disertai cengiran.
Mendengar kata ramen menghentikan Naruto yang tengah menyantap makan malamnya. Ia menatap Hinata dengan intens.
"Apa ramen? Sayang itukan tidak baik untuk anak kita. Pokonya mulai hari ini kamu harus menghentikan makan makanan itu" omel Naruto yang sudah tahu kebiasaan Hinata yang selama ini selalu makan ramen. Ia tahu kebiasaan itu adalah turunan darinya membuat sang anak dan istrinya ikutan menikmati makanan tidak sehat itu.
"Tapi akukan selalu ingin memakannya" ujar Hinata menolak.
"Hah~ baiklah tapi itu hanya sesekali saja. Ok"
"Eumm"
Suasana kembali menyepi hanya suara sendok dan piring yang saling bersahutan, Naruto kembali melanjutkan makan malamnya setelah pembicaraan singkat itu. Dan ingatannya kembali melayang pada Hotaru yang hari ini bersikap aneh. Iapun berinisiatif untuk membicarakannya pada Hinata.
"Ne, Hinata. Kau tahu hari ini Hotaru bersikap aneh" ujarnya kembali memulai pembicaraan.
Hinata yang tengah menikmati buah-buahannya lagi menghentikan aksinya dan memandang kearah sang suami yang sudah menyelesaikan makan malamnya "memangnya dia bersikap aneh bagaimana?" Tanya Hinata mulai penasaran.
"Hari ini Hotaru bukan seperti dia yang biasanya. Sikapnya aneh, dia berubah menjadi cuek. Dia mengatakan jika dia sedang merindukan kedua orang tuanya saja. Aku paham bagaimana rindunya pada dua orang yang sudah meninggalkan kita, tapi apakah harus bersikap cuek seperti itu?" ungkap Naruto menceritakan sikap sahabatnya pada Hinata hari ini.
"Kalau menurutku sih itu wajar saja, mungkin dia sedang sedih sangking rindunya pada mereka. Nanti juga biasa lagi" jawab Hinata diakhiri dengan senyuman menawannya membuat Naruto semakin mencintai istrinya itu.
"Ya aku harap juga seperti itu. Baiklah ini saatnya untuk makanan penutup"
Grepp! "kkyyaaaaaaaa"
.
Malam yang indah kali ini juga harus dilalui oleh Hotaru dengan kesepian disetiap malamnya. Kesepian inilah yang membuatnya selalu merasakan sakit, tidak ada satu orangpun yang berada disisinya dan menemaninya. Disaat ia membutuhkan seseorang hanya pria itulah yang selalu melintas dipikirannya. Seseorang yang menganggapnya keluarga sampai kapanpun.
Dia adalah Uzumaki Naruto seorang pria yang sudah membuat hari-harinya seolah tersiksa. Hotaru harus membohongi dirinya sendiri untuk kebahagiaan mereka. Ya mereka Naruto dan wanita yang ia cintai. Jika dipikir lagi semuanya seolah tidak adil untuknya. Ia yang selama ini selalu mencintainya ternyata pria itu bersanding dengan wanita lain.
Dunia seolah tidak lagi berpihak padanya, dunia seolah menjadi milik mereka yang memiliki kekayaan seolah bisa membeli apapun dengan hartanya. Itulah yang ia lihat dari mereka berdua.
"Naruto-kun apakah kau sudah dibeli oleh Hinata? Bahkan wanita itu merelakan jabatan dan perusahaannya untukmu. Apakah seperti itu? Ataukah kau memang benar-benar mencintainya? Tolong jawab aku… apakah kau sama sekali tidak mengerti dengan perkataanku waktu itu. Kata suka yang aku lontarkan waktu itu benar adanya dan hal itu sama sekali tidak mengubahmu. Aku benci duniaku, aku benci diriku sendiri" ucap Hotaru mengoceh sendirian pada keheningan yang selalu menemaninya disaat seperti ini.
Ia jadi teringat akan perjanjiannya dengan pria merah bernama Sasori. Apakah pria merah itu akan menjadi peri baginya dan membawakan kebahagiaan untuknya? Tawaran untuk kembali merebut cintanya lagi mengganggu pikiran Hotaru sekarang.
"Apapun itu aku harus menjalankan apa yang sudah menjadi keputusanku. Biarkanlah mereka mau mengataiku plin-planlah yang jelas aku juga ingin merasakan kebahagiaanku lagi seperti dulu"
.
.
Skip time…
5 bulan telah berlalu, kini usia kandungan Hinata sudah menginjak 7 bulan. Perkambangan sang jabang bayi didalam rahimnya semakin sehat dan kuat. Hinata maupun Naruto selalu menjaga buah hati mereka. Keduanya sudah tidak sabar untuk segera menantikan sang jabang bayi lahir kedunia dengan selamat.
Hari ini seperti biasa Naruto kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Pergi ke kantor dan menjalankan sebuah perusahaan yang saat ini tengah ia pimpin.
"Baiklah Hinata kalau begitu aku pergi dulu ya. Jaga diri dirumah baik-baik, istirahat yang cukup" cup! Kecupan kasih sayang dilayangkannya pada dahi Hinata.
Ia berjongkok mengelus lembut perut buncit Hinata yang semakin membesar "Tou-san pergi dulu ya. Jangan nakal di dalam sana_ cup! Tou-san menyayangimu" gumam Naruto berinteraksi dengan sang bayi didalam sana.
Hinata merasakan ada pergerakan didalam perutnya, mungkin saja sang bayi mengiyakan ucapan sang ayah "Naruto-kun bayinya menendang mungkin dia mendengar apa yang Naruto-kun katakana barusan" ucap Hinata dengan semangat.
Naruto tersenyum mendengar hal itu, sebenarnya ia juga merasakan tendangan itu ditelapak tangannya. Betapa bahagianya ia merasakan tendangan dari jagoan kecilnya, ya tak lama ini Hinata dan Naruto memerikasakan kandungannya untuk mengetahui jenis kelamin sang bayi dan dokter mengatakan jika bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. Naruto bahagia luar biasa ketika dokter mengatakan hal itu bahkan hasil USG hari itu selalu ia simpan didalam dompetnya.
Ia selalu rindu pada mereka, makanya Naruto menyimpan foto itu disana "aku pergi dulu ya. Jaa" ujar Naruto melajukan mobilnya.
Hinata memandang kepergian sang suami seraya mengelus perutnya penuh dengan kasih sayang. Setelah memastikan bahwa mobil Naruto sudah pergi jauh Hinata kembali kedalam rumah untuk beristirahat mengingat bobot tubuhnya yang semakin bertambah berat membuat Hinata tidak bisa bebas bergerak.
Blamm! Pintu di tutup.
Sepasang mata sedari tadi tengah mengamati gerak-gerik pemilik rumah tersebut. Ia menyeringai memikirkan tentang rencananya "seharusnya kau miliku Hinata" gumamnya dan melajukan kembali mobil hitamnya.
.
Hari ini Hotaru tidak pergi ke kantor, ia sama sekali tidak memiliki jadwal untuk pemotretan. Jadi seharian ini ia akan menghabiskan waktu seharian diapartemennya. Namun ketika ia akan menutup kedua matanya lagi sebuah pesan masuk mengintrupsinya.
Ia bangkit dan menyambar ponsel untuk melihat siapa gerangan orang yang mengganggu hari liburnya yang berharga.
"Kau dimana? Rencana kita akan dimulai sekarang"isi pesan yang dikirimkan oleh pria merah itu.
"Hah~" Hotaru menghela nafas, entahlah akhir-akhir ini ia sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Selama 5 bulan ini ia selalu bersama pria merah itu untuk melancarkan rencana yang sudah mereka sepakati berdua. Membawa cinta mereka masing-masing untuk kebahagiaannya.
Hotaru bersiap untuk menemui pria merah itu, dan siapa sangka jika Sasori sudah tiba diapartemennya. Hotaru bergegas untuk menemuinya.
"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Hotaru setelah ia tiba didalam mobil.
Seringaian kembali tercipta diwajah lugu itu "Uuuu… aku suka dengan semangatmu ini. Mulai dari sekarang kau dekati Hinata dan bawa dia kepadaku. Kau tahukan dimana markasku?"
Hotaru mengangguk setuju.
"Baiklah mari ayo kita berangkat"
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan apartemen Hotaru.
Didalam kantor Hyuga Corp Naruto tengah berbincang-bincang dengan Sakura dan Ino mengingat tidak banyak sekali pekerjaan jadi ia bisa menikmati waktu bersama sahabat-sahabatnya ini.
"Ne, Naruto bagaimana dengan keadaan Hinata sekarang? Apakah ia sudah terbiasa tinggal dirumah?" Tanya Sakura seraya menyesap teh hangatnya.
Naruto menoleh padanya "iya dia baik-baik saja sekarang juga dia sudah terbiasa. Tapi hari demi hari Hinata semakin manja saja" jawabnya mengingat bagaimana Hinata selalu manja padanya.
"Hahah wajar saja dia seperti itu, diakan sedang hamil. Oh ya ngomong-ngomong sudah berapa bulan sekarang?" Tanya Ino kemudian.
"Kalau tidak salah sekarang sudah memasuki usia 7 bulan"
"Pasti kalian sudah tidak sabar menantikan malaikat kecil itu" ucap Ino lagi.
"Iya pastinya begitu" jawab Naruto dengan cengiran semangatnya.
Sedangkan Sakura hanya terdiam mendengarkan pembicaraan itu, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam ia juga masih mengharapkan kehamilannya yang belum juga datang.
.
Dirumah kediaman Uzumaki sang nyonya tengah membaca novel kesukaannya sejak masa sekolah dulu. Hinata tengah membaca ditaman dengan semilir angin menemaninya, ia duduk dikursi ayunan yang sangat nyaman.
Sesekali ia meringis merasakan sang anak yang terus menendang perutnya. Akhir-akhir ini bayi yang ia kandung begitu aktif membuat Hinata selalu merasakan ngilu.
"Sayang, ada apa? Apakah kamu merindukan Tou-san, nak?" gumam Hinata menunduk melihat perutnya yang semakin menonjol seraya mengelusnya pelan.
Kaki sang bayi menendang kembali perutnya "hihihi sepertinya kamu merindukan Tou-san ya. Sabar ya Tou-san sebentar lagi pulang kan hari ini jadwalnya kamu diperiksa. Tenang ya disini ada Kaa-san ko" lanjut Hinata lagi mencoba berkomunikasi dengan sang anak.
Dan cara itu sepertinya berhasil, anaknya kembali tenang dan tidak lagi menendang-nendang perutnya.
"Yosh baiklah jadwalnya makan buah" ujar Hinata dan beranjak darisana.
Namun langkahnya terhenti tat kala sang maid satu-satunya yang berada dirumah itu datang dan berjalan kearahnya.
"Nona, ada yang mencari nona didepan" ujarnya.
Hinata nampak berpikir, siapa gerangan orang yang mencarinya sampai datang ke rumahnya seperti itu "siapa?" Tanya Hinata.
"Gomennasai, saya tidak tahu nona. Tapi dia seorang wanita" lanjutnya lagi.
"Baiklah" Hinata berjalan untuk menemui tamu yang mencarinya.
Hinata sampai didepan pintu rumahnya "iya ada apa?" Tanya Hinata melihat ada seorang wanita yang tengah berdiri membelakanginya.
Dengan perlahan diapun membalikan tubuhnya menghadap Hinata. Senyuman hadir diwajah cantiknya "Hallo Hinata"
"Hotaru? Sedang apa disini?" Tanya Hinata bingung melihat salah satu model yang bekerja di kantornya berada dikediamannya.
"Aku ingin mengunjungimu saja tidak apakan? Rasanya rindu sudah beberapa bulan ini kita tidak saling bertemu" ujar Hotaru menjelaskan kedatangannya.
"Ohh…. Kalau begitu silahkan masuk"
"Permisi"
Hinata membawa Hotaru masuk kedalam rumahnya. Duduk saling berhadapan diruang tamu yang sepi. Sang maid tengah menyiapkan minuman dan beberapa camilan di dapur untuk tamu Hinata yang datang berkunjung.
"Hinata apakah hari ini kamu senggang?" Tanya Hotaru lagi.
"Tidak juga sih, nanti siang aku ada pemeriksaan kandungan. Memangnya ada apa?"
"Ohh….. tidak hanya saja aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Eeuummm… boleh juga, sembari menunggu Naruto pulang" ucap Hinata lagi.
"Benarkah?"
"Baiklah aku akan siap-siap dulu"
Hinata beranjak dari sana menuju ruang pribadinya untuk bersiap-siap pergi dengan Hotaru. Tanpa ada curiga apapun Hinata mengiyakan ajakan Hotaru tadi.
Senyuman yang entah apa artinya itu hadir diwajah cantik Hotaru.
Sedangkan diluar rumah kediaman Uzumaki mobil hitam terparkir disana.
Tbc...
Mungkinkah rencana mereka akan berhasil? Apakah Hinata akan baik-baik saja? Bagaimana dengan Naruto? Apakah ia akan sempat menyelamatkan istrinya itu? Semuanya akan dijawab di chap depan ya. Jaa ne :) Jika suka jangan lupa reviews ya :) arigato ^^v
saputraaluc000 : heheh iya benar hime memang hebattt ^^/ wwwaahhhh terima kasih banyak loh atas do'anya dan semoga saputra-san juga selalu sehat ya :D heheh arigato udah ngereviews :D
Baebah231 : heheh terima kasih banyak udah suka, dan semoga kelanjutannya ini tidak mengecewakan ya :D gomen baru update banyak kesalahan teknis :D arigato udah ngereviews :D
krisskun12pb : heheh terima kasih banyak atas pertanyaannya kriss-san :D dan terima kasih juga atas koreksinya :D heheh iya memang di fic 1 Naruto pernah membantu Hinata, hehehe sekali lagi terima kasih banyak ^^v arigato udah ngereviews :D
aldo2804 : heheh terima kasih banyak dan semoga yang ini juga tidak mengecewakan ya :D makasih udah mau nungguin sepertinya konflik yang sebenarnya ada di chap depan deh heheh gomen ne :D arigato udah ngereviews :D
