Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
Gomen sebelumnya, hyugana tidak bisa update minggu kemarin dan bisa sekarang. Semoga minna-san bisa memahami hyugana ya, kesibukan di dutalah yang membuat fic ini telat untuk dilanjutkan. Sekali lagi hyugana minta maaf atas keterlambatannya, juga terima kasih banyak pada kalian semua yang masih setia nunggu untuk kelanjutan fic ini. Terima kasih banyak ^^ :D
.
Tidak ada sedikitpun dihatiku niatan untuk memikirkan prasangka buruk pada seorang wanita yang telah berteman denganku sekarang. Aku tidak menyangka wanita itu yang kuanggap sudah merelakan cinta pertamanya untukku, ternyata dia belum bisa mengikhlaskan pria itu untukku. Wanita itu kembali menorehkan luka padaku. Luka yang dulu pernah tergores dihati kini dia menggoreskannya lebih dalam dan bahkan lebih parah lagi.
Wanita itu telah membawa dia untuk menyakitiku lagi. Kata cinta yang ia katakan padaku hanya sebuah kata tanpa bermakna. Perkataan itu sama dengan sebuah balas dendam untuk hatinya yang pernah terluka oleh orang yang aku cintai.
Ajakan yang wanita itu berikan padaku ternyata membawaku pada sebuah lubang hitam yang bernama kesengsaraan. Aku tidak menyangka wanita itu bisa kejam seperi ini padaku. Apakah dia tengah bermain-main denganku? Maaf saja walaupun dia memberikanku luka seperti ini tapi aku tetap akan mempertahankan cinta ini dan keluargaku.
.
.
.
Setelah Hinata berganti pakaian kini mereka akhirnya pergi meninggalakan kediaman Uzumaki. Hinata duduk disamping Hotaru yang tengah memainkan ponsel miliknya.
"Hinata boleh antar aku sebentar kesuatu tempat sebelum ke mall?" tanya Hotaru.
Tadi sebelum mereka pergi Hotaru memang berencana untuk mengajaknya ke sebuah mall ternama di Konoha tetapi hal itu palsu belaka. Rencana sebenarnya adalah dia akan membawa mangsanya ini kedalam kandang yang sudah disiapkan oleh sang pemilik. Siapa lagi jika bukan pria merah yang sudah bekerja sama dengannya.
"Kemana kau akan membawaku pergi?" tanya Hinata dengan mengelus perut buncitnya.
"Tenang saja tempat itu indah ko. Aku yakin nanti kamu suka" jawab Hotaru disertai senyuman manisnya. Namun Hinata sama sekali tidak curiga dengan senyuman yang dilayangkan Hotaru padanya, bahwa senyuman itu memiliki makna yang berbeda.
"Eeemmm baiklah" akhirnya Hinata meyetujuinya juga.
Senyuman lagi-lagi hadir diwajah Hotaru.
Selama dalam perjalanan menuju tempat yang Hotaru maksudkan tadi tidak henti-hentinya Hinata mengelus pelan perutnya. Hinata merasakan bahwa sang bayi sangat aktiaf sekali hari ini dan itu membuatnya merasa ngilu.
'Kamu senangkan nak kita akan main dengan teman Kaa-san, bibi Hotaru? Dia adalah sahabat sekaligus adik kecilnya Tou-san loh' batin Hinata mencoba mengajak bicara bayinya. Namun hal itu tidak menenangkan sang bayi yang terus saja aktif didalam perutnya. Hinata hanya bisa mengelus-ngelus pelan perutnya mencoba menenangkan.
Dalam pandangan Hotaru, ia merasa miris dengan apa yang nantinya akan menimpa wanita hamil itu 'aku harap kau baik-baik saja' entah kenapa dia membatinkan hal seperti itu.
Akhirnya setelah hampir 1 jam perjalanan Hotaru dan Hinata tiba disebuah tempat. Sebuah tempat yang begitu aneh menurut Hinata. Disana terlihat begitu sepi tidak ada satupun orang atau kendaraan yang berlalu lalang.
Awalnya Hinata sempat ragu mengikuti kemana Hotaru akan pergi tetapi setelah diyakinkan oleh wanita itu Hinatapun mengikutinya juga tidak ada curiga apapun.
"Hotaru apakah benar tempat ini yang kau maksudkan?" tanya Hinata mengitari sebuah tempat dimana disana hanya ada 1 rumah ditengah-tengah lapangan yang begitu luas.
Rumah itu terlihat besar namun sedikit tidak terurus. Hinata merapatkan cardigan panjangnya untuk memberikan kehangatan pada bayinya mengingat angin berhembus dengan kencang siang ini.
"Ayo masuk" ajak Hotaru pada Hinata.
Hinatapun mengikuti Hotaru masuk.
Brruugghh! Setelah mereka masuk kedalam pintu tertutup dengan cepat, Hinata sedikit tersentak kaget mendengar hal itu. Kepalanya menengok kearah pintu yang sudah tertutup dengan rapat. Namun sedetik kemudian ketika ia menengok ke depan lagi seorang pria sudah berdiri tepat didepannya. Hal itu lagi-lagi membuat Hinata terkaget bukan main. Kedua matanya terbelalak dengan mulut yang menganga tidak menyangka jika dia ada disini.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Hinata dengan menyentak.
"Okaeri Hime" sapanya dengan membelai pipi Hinata.
.
.
.
Sore sudah kembali menjelang, Naruto masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas-berkas yang tidak pernah ada habis-habisnya. Dan sialnya lagi iapun hari ini harus lembur untuk menyelesaikan semua perkerjaan itu.
"Kusoooo... kenapa masih banyak pekerjaan sih" gerutunya, tapi ketika ia hendak beranjak dari sana tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah figura foto dimana didalamnya terdapat foto dirinya dan sang istri yang tengah hamil.
Prakk!
Naruto menoleh dan melihat kaca dari figura foto itu retak. Perasaannya jadi tidak enak ketika melihat foto Hinata didalam sana.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?" gumamnya seraya memungut figura itu kembali "aahhh mungkin hanya perasaanku saja" lanjutnya lagi dan menaruh kembali figura diatas meja.
Hotaru sudah berada di dalam kantor Hyuuga, tetapi anehnya sekarang ia datang ketika tidak ada jadwal pemotretan apapun. Wajahnya terlihat berseri dengan langkah kaki yang terlihat begitu ringan. Apakah ia tengah berbahagia akhirnya ia akan mendapatakan cintanya lagi? Walaupun dengan cara yang salah?
Brakk! pintu ruangan itu dibuka "Naruto-kun" panggilnya dan masuk kedalam, tetapi orang yang ia cari tidak ada disana.
Hotarupun masuk dan berjalan melihat-lihat ruangan itu. Kakinya terus berjalan sampai membawanya ke meja dimana Naruto biasa bekerja. Kedua mata Hotaru memandang ke sebuah figura foto dimana kaca dari figura tersebut retak dan hampir pecah.
Hotaru membawanya dan menatapnya lekat-lekat "hubungan kalian akan berakhir seperti ini" gumamnya tersenyum begitu lebar melihat figura itu.
"Sedang apa kau disini"
Suara itu menghentikan kegiatannya, ia menatap kearah sumber suara "Naruto-kun" ujarnya girang melihat orang yang ia cari akhirnya datang juga.
"Aku tanya sedang apa kau disini?" tanya Naruto lagi ketika Hotaru berjalan mendekatinya.
"Aku hanya ingin main saja kesini. Apakah tidak boleh? Kenapa figura itu kacanya retak?" ujar Hotaru penasaran juga dengan retaknya sebuah figura dengan foto keluarga Naruto seperti sebuah pertanda.
"Tadi aku tidak sengaja menyenggolnya dan jatuh" jawab Naruto berjalan melewati Hotaru dan duduk kembali di kursi kerja.
Hotaru menatap kearahnya lagi "sayang sekali. Kenapa kamu belum pulang?"
"Aku lembur hari ini. Dan sayangnya aku tidak bisa menemani Hinata mengcek kandungannya" lesu Naruto, hal itu membuat Hotaru langsung mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Bagaimana jika sepulang kerja nanti kamu temani aku makan?"
"Tapi sepertinya aku tidak bisa, aku harus segera pulang dan menemani Hinata"
Hotaru tahu itu adalah sebuah penolakan halus yang diucapkan oleh Naruto, namun hal itu berdampak lain pada hatinya "kenapa kenapa kamu berubah" ucap Hotaru menunduk didepan Naruto.
Melihat Hotaru yang seperti itu membuat Naruto sama sekali tidak mengerti kenapa bisa wanita didepannya bisa menjadi seperti ini "Ho...hotaru"
"Apakah kamu masih menganggapku sebagai seorang sahabat? sodara?"
Naruto mengangguk mengiyakan ucapan Hotaru "tapi kenapa kau menjadi berubah? Apakah benar kau sudah mengganggapku hanya teman biasa saja? Selama bertahun-tahun aku bahkan menunggumu, tetapi kau sama sekali tidak pernah menghubungiku satu kalipun. Baiklah jika kau sudah menganggapku orang asing, aku akan pergi"
Hotaru beranjak dari sana, namun sebelum ia benar-benar pergi dari sana Naruto memanggilnya "Tunggu, baiklah aku akan menemanimu makan malam ini"
Sebuah senyuman hadir diwajah cantik Hotaru "baiklah aku tunggu di restoran di depan kantor ini" ia pun pergi dari sana.
.
Hinata kini sudah berada didalam sebuah ruangan yang sama sekali tidak ia kenal. Ruangan gelap yang hanya ditemani dengan cahaya remang-remang. Hinata duduk disana dengan perasaan cemas dan juga takut. Kenapa bisa Hotaru membawanya ketempat dimana didalamnya terdapat pria merah ini? Apakah Hotaru bekerja sama dengannya?
"Sebenarnya ada apa ini?" ujar Hinata lagi-lagi menyentak pada pria itu "dan dimana Hotaru?"
Pria merah itu menatap dan tersenyum kearah Hinata "wanita bodoh itu sudah pergi dari sini sedari tadi. Mungkin dia tengah bersenang-senang dengan suami kuningmu itu"
Mendengar kata suaminya, Hinata membelalakan kedua matanya "apa maksudmu Sasori?" ya itu adalah Sasori, seorang pria yang dulu pernah menyakitinya dimasa lalu. Dan entah kenapa dia kembali ketika kehidupannya bersama orang yang ia cintai berjalan dengan baik.
"Apakah kamu tidak tahu jika wanita bernama Hotaru itu mencintai sumimu? Keehh, aku kasian padanya. Dia yang mencintai pria kuning itu bertahun-tahun tetapi yang mendapatkannya malah kau yang baru juga mengenalnya"
Penjelasan Sasori barusan membekukan Hinata, ia sama sekali tidak menyangka ternyata Hotaru masih mencintai suminya "apakah dia benar-benar mencintai Naruto?" tanya Hinata.
"Ya, kau pikir kenapa dia mau bekerja sama denganku? Jelas, ia ingin melindungi orang yang dicintainya. Tadinya aku berniat ingin membalaskan dendamku padanya, tetapi setelah Hotaru berhasil membawakanku dirimu aku jadi mengurungkan niatku"
Lagi-lagi Hinata dibuat terkejut dengan pernyataan yang di ucapkan Sasori barusan "lalu kenapa kau meminta Hotaru untuk mengajakku kesini?"
"Tentu saja aku menginginkanmu dan aku mencintaimu"
Perkataan laknat itu lolos begitu saja dari mulut Sasori. Hinata terperangah mendengarnya. Antara tidak percaya dan tidak mungkin sama sekali. Kedua matanya terbelalak, mulutnya sedikit menganga tidak percaya sama sekali dengan apa yang barusan Sasori katakan. Dielusnya lagi perut buncitnya meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia salah dengar.
"Apakah kau sedang mempermainkanku sekarang?" ujar Hinata, namun hanya ada sebuah senyuman muncul dari bibir Sasori.
"Aku sama sekali tidak bercanda. Aku telah salah menilaimu, dan aku menyesal kenapa perasaan ini baru hadir sekarang. Mau mendengarkan ceritaku?"
Bahkan tanpa menjawab 'iya'pun Sasori tetap akan menceritakan tentang apa yang sudah ia rasakan selama ini pada wanita hamil didepannya.
Flashback ON
Sasori POV
Aku datang bersama Uchiha Sasuke dan Uchiha Itachi untuk memenuhi undangan yang datang ke perusahaan Uchiha. Sebuah pesta mewah yang bertempat di sebuah perusahaan terkenal di kota ini. Aku tidak menyangka jika ternyata pemimpin perusahaan itu adalah sosok wanita yang dulu pernah mengatakan cintanya padaku.
Ya aku tengah berada di Hyuuga Corp dimana Sasuke mengajakku untuk datang ke pesta ini. Mataku tidak pernah lepas dari sosoknya yang kini sudah jauh berbeda. Dia terlihat lebih cantik dan juga menawan. Guratan kedewasaannya terpancar begitu saja membuatku tidak bisa memalingkan tatapan ini darinya. Dia adalah Hyuuga Hinata, seorang siswi yang dulu pernah menyatakan cintanya padaku.
Aku tidak tahu dengan apa yang aku rasakan sekarang. Jantungku memompa begitu cepat, ada desiran aneh di dalam hatiku. Aku tidak tahu apa, yang jelas itulah yang saat ini aku rasakan.
Aku berinisiatif untuk megajaknya berdansa. Aku menyembunyikan identitasku dengan topeng yang saat ini aku pakai.
Ku ulurkan tangan padanya, dan siapa sangka jika diapun menyambut uluran tanganku. Tangannya begitu lembut dan aku sangat menyukainya. Selama berdansa aku sama sekali tidak bisa menangkan detak jantungku yang semakin berdetak dengan kencang.
Tanpa sadar aku membawanya keluar, menjauhi orang-orang yang sudah terbuai dengan musik dansa.
Aku membuka topengku memperlihatkan sosok asliku padanya. Tapi apa yang aku dapat? Dia terlihat begitu terkejut, bahkan dia kelihatan sangat ketakutan. Ya aku akui, dulu aku pernah menyakitinya. Wajar saja jika kini Hinata bersikap seperti itu setelah melihatku.
Namun tak berapa lama ketika aku masih berbincang-bincang dengan Hinata, seseorang datang dan meninju tepat diwajahku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia adalah pria kuning yang sangat menyebalkan. Sebenarnya siapa dia? Apakah dia kekasihnya? Jika ia berarti aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan?
Aku lihat pria kuning itu membawa Hinata entah kemana. Dengan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirku, aku bangkit melihat kepergian mereka. Ada perasaan kesal hadir didalam hatiku. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Menyesal dengan apa yang sudah aku perbuat padanya di masa lalu. Mungkin karma memang benar adanya. Dan sekarang karma itu tengah datang padaku.
Dan beberapa hari setelah itu Sasuke datang kembali memukul ku telak diwajah. Aku tahu, dia melakukan itu demi siapa. Ya demi membalaskan dendam wanita itu untukku. Pertemuanku kembali dengan Hinata waktu itu aku sudah keterlaluan. Mengatakan hal yang tidak pantas, pikiran dan hatiku benar-benar tidak sejalan. Aku memang bodoh, mungkin aku terlalu bodoh dalam mencintaimu.
.
Beberapa bulan telah berlalu, perasaanku semakin tidak karuan ketika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Wanita yang dulu pernah aku tolak mentah-mentah sekarang malah aku jatuh cinta padanya. Kasian memang tetapi itulah perasaan yang aku miliki.
Memberanikan diri kembali datang ke perusahaan itu, berharap bahwa Hinata akan menemuiku dengan senang hati. Dan ternyata keinginanku tercapai, dia menerima kedatanganku. Aku mengajaknya untuk bertemu diluar, lebih tepatnya di taman belakang kantor.
Disana kami sedang berbincang-bincang, perasaanku sudah tidak bisa aku tahan lagi sehingga dengan bodohnya aku akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Hinata. Namun pukulan telak kembali melayang pada wajahku. Pria kuning itu, kembali datang diwaktu yang tidak tepat.
Apakah dia mengikuti kami? Kemungkinan memang seperti itu. Aku lihat emosinya sudah tidak bisa terkendali lagi. Tanpa sengaja aku juga pernah mendengar jika mereka berdua sudah resmi memiliki hubungan spesial. Hubungan yang mungkin tidak pernah bisa aku rebut darinya.
Dengan wajah yang kembali babak belur, aku tersenyum kecut melihat kau pergi dibawa olehnya. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa jatuh pingsan, yang jelas aku hanya mampu menahan kesedihanku karna tidak bisa merebutmu.
"Aku bersumpah akan membalas pukulan ini. Bakaaaa sakit sekali"
Flashback OFF.
.
Mendengar semua cerita yang di lontarkan Sasori barusan, Hinata sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Baginya cerita itu bohong belaka. Senior yang dulu pernah ia cintai tidak mungkin berubah sedramatis ini. Mengatakan cinata padanya? Mungkin Hinata hanya salah dengar. Hinata mencoba tenang dengan segala keadaan yang ia terima sekarang. Di bohongi atau lebih tepatnya diculik dengan lembut oleh pekerjanya Hinata sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia terima hari ini.
Sasori tersenyum setelah menceritakan kembali semua kejadian itu. Wajar saja jika Hinata sekarang hanya bisa terdiam, karna Sasori yakin Hinata syok dengan apa yang barusan ia katakan.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku atau tidak, tetapi itulah yang aku rasakan selama ini. Jika aku tidak bisa merebutmu kembali dengan cara yang halus maka dengan cara inilah aku bisa membawamu lagi berada disisiku. Terlebih aku juga ingin memberi pelajaran pada suamimu itu tentang apa yang sudah ia lakukan padaku"
Kedua mata Hinata terbelalak lebar setelah mendengar kelanjutan perkataan yang Sasori ucapkan. Hinata cukup tahu tentang apa yang akan pria merah itu lakukan padanya.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku"
"Karna aku mencintaimu"
Lagi dan lagi hanya alasan itulah yang Saori berikan padanya.
.
.
Hotaru dan Naruto kini sedang berada di sebuah restoran. Jam sudah menunjukan pukul 17:45 sore itu artinya sebentar lagi malam akan kembali datang. Seperti yang sudah dijanjikan tadi siang sekarang Naruto tengah menemani Hotaru makan sore atau lebih tepatnya makan malam bersama tanpa mengetahui keadaan sang istri. Naruto harus membatalkan kerja lemburnya hanya untuk menemani Hotaru makan.
Hotaru dan Naruto makan dengan tenang, ditambah iringan musik semakin membuat keduanya nyaman dengan keadaan mereka sekarang.
"Kenapa Hinata tidak membalas pesanku ya? Apa dia marah karna aku tidak jadi mengantarnya cek up" gumam Naruto, tetapi itu masih terdengar oleh Hotaru.
Hotaru menghentikan makannya dan menatap kearah Naruto "apakah kamu mengkhawatirkan Hinata?" tanya Hotaru kemudian.
Naruto mengalihkan pandangannya dari layar ponsel kearah Hotaru "iya aku sangat mengkhawatirkannya. Tidak biasanya Hinata tidak membalas pesanku." jawab Naruto dan kembali memandang ke arah ponsel yang ia simpan di depannya.
Hotaru terdiam, pandangannya kosong entah menatap kemana. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.
"Hotaru kalau begitu aku duluan ya. Aku sangat khawatir pada Hinata." lanjut Naruto beranjak dari sana "Aahh dan ini untuk membayar makan malamnya. Arigato sudah mengajakku"
Plass! Sebuah foto tidak sengaja tertarik oleh Naruto ketika ia akan mengambil uang dari dalam dompetnya. Foto itu jatuh tepat didepan Hotaru. Tanpa menyadari barangnya yang telah jatuh Naruto melenggang pergi begitu saja.
Hotaru beranjak dari kursi dan memungut foto itu "Astaga inikan" gumam Hotaru melihat sebuah foto yang ternyata itu adalah hasil USG Hinata. Didalamnya terdapat sebuah gambar bayi mungil yang masih bersemayam dengan nyaman dalam rahim Hinata.
Tess... air mata entah kenapa tiba-tiba saja lolos dari kedua mata Hotaru "baka... hiks... hiks... apa yang sudah aku lakukan?" lanjutnya seraya menahan tangis.
"Aku harus menyusul Naruto."
.
Naruto sudah tiba di kediamannya, tetapi suasana malam ini tidak seperti biasanya. Keadaan begitu sepi. Naruto melangkah masuk dengan perasaan ragu. Ragu kalau sang istri ada di dalam rumah.
"Aku pulang" teriaknya, tapi tidak ada satu orangpun menyambut kepulangannya. Biasanya ada Hinata yang langsung datang dan menghampirinya "kemana Hinata pergi?" gumam Naruto terheran.
"Hinata~ sayangg" teriaknya mencari-cari keberadaan sang istri. Mulai dari kamar tidur sampai dapur tidak ada sosok Hinata dimanapun.
Naruto kelabakan mencarinya. Perasaan khawatir dan takut hinggap didalam hatinya, Naruto takut jika sesuatu hal sedang terjadi pada istri dan anaknya. Naruto akhirnya memutuskan untuk kembali keluar mencari Hinata. Sebelum...
"Naruto-kun" ucap Hotaru yang sudah berada disana.
Naruto heran melihat Hotaru yang berada di kediamannya "kamu meninggalkan ini" lanjut Hotaru seraya menyodorkan foto itu pada Naruto. Dengan cepat Naruto mengambil dan menatapnya dengan kesedihan yang mendalam.
"Kalian ada dimana?" gumamnya, sekuat tenaga menahan tangis.
Melihat hal itu, Hotaru kembali merasakan perasaan aneh itu bahkan sekarang perasaan itu semakin kuat 'aku menyesal sudah berbuat salah seperti ini. Ya aku sangat menyesal' batinnya.
Kedua tangan Hotaru mengepal dengan kuat, tidak tahan melihat Naruto terpuruk seperti itu.
"Naruto-kun, aku tahu dimana keberadaan istrimu"
Naruto mendongak menatap Hotaru "benarkah? Sekarang Hinata berada dimana?" ujar Naruto mencengram kuat kedua bahu Hotaru.
"Ikut denganku" jawabnya melepaskan cengkraman itu.
.
Selama perjalanan menuju lokasi yang di tunjukan oleh Hotaru, berkali-kali Naruto menghubungi sahabatnya untuk meminta bantuan.
"Kusooo, kenapa Sakura tidak mengang_"
"Hm... moshi-moshi?"
"Sakura aku butuh bantuanmu dan juga Sasuke. Aku sekarang tengah berada dalam perjalanan menuju ... untuk menyelamatkan Hinata. Aku mohon datang cepat"
Klikk! Panggilan ditutup.
Disebrang sana Sakura tengah terbengong tidak mengerti tentang apa yang baru saja ia dengar dari sahabatnya itu.
"Meminta bantuan? Meminta bantuan apa?" gumam Sakura menatap kearah ponsel.
Sasuke datang menghampirinya dengan membawa secangkir teh manis "Ada apa Sakura?" tanyanya bingung.
"Tadi Naruto menelponku, katanya dia minta bantuan kita berdua dan_ aahhh dia juga mengatakan untuk menyelamatkan Hinata. Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Kalau seperti itu ini gawat... ayo kita juga segera menyusul mereka"
"Eeuumm"
.
.
.
Berakhirnya pembicaraan mereka tadi, berakhir pula kebebasan yang Hinata miliki. Ya, dengan tega pria merah itu mengikat kedua tangan dan kaki Hinata. Apakah pria itu benar-benar mencintainya? Jika memang benar kenapa ia harus melakukan hal itu pada Hinata? Apakah tidak keterlaluan?
"Dengan cara seperti inilah bisa membuatmu berada disampingku" ucap Sasori yang berada disamping Hinata dengan membelai pipinya.
Hinata memalingkan wajahnya, tidak suka dengan tindakan yang dilakukan Sasori padanya "kenapa kau melakukan hal ini padaku?"
"Karna aku suka, melihatmu bahagia bersama pria kuning itu membuatku muak. Maka itulah aku akan menghancurkan kebahagiaa kalian"
"Kau kejam"
"Apa kau bilang aku kejam? Coba kau pikirkan, apakah kau tidak melakukan hal kejam pada siapapun?"
Mendengar pertanyaan itu Hinata mengerutkan dahinya bingung "apa yang kau katakan?"
Sasori menyeringai, berjalan dan kembali duduk didepan Hinata "kau tahu wanita bernama Hotaru? Dia adalah seorang wanita yang sama sepertiku. Mencintai seseorang yang sudah bersama orang lain disisinya"
"Apa maksudmu? Ada hubungan apa hal ini dengan Hotaru"
"Ya dia adalah alat yang aku gunakan untuk membawamu kesini. Tetapi dia juga sangat mencintai suamimu itu. Apakah kau tidak kejam merebut seseorang yang telah bersamanya dari dulu? Dan bahkan dia sudah mencintainya selama bertahun-tahun"
Hinata terdiam, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi mendengar semua perkataan yang Sasori ucapkan. Lidahnya kelu tidak bisa untuk mengatakan 1 katapun.
"Tetapi kau bahagia tanpa mengetahui seseorang yang berada di belakang kalian terluka" lanjut Sasori lagi.
Hinata menunduk, melihat perut buncitnya. Merasakan pergerakan dari sang bayi yang begitu sangat aktif. Apakah dia merasakan kegelisahan Kaa-sannya? "cukup jangan katakan hal itu lagi" teraik Hinata.
"Aku muak dengan kebahagiaan kalian, karna itulah meskipun aku mencintaimu tetapi aku tidak bisa berbuat lembut padamu. Apakah kau siap mati denganku Hinata?"
Perkataan yang terlontar begitu saja dari mulut Sasori membuat Hinata terdiam seraya membelalakan kedua matanya. Apakah pria itu akan menyakitinya?
"Apa yang akan kau lakukan?" ucap Hinata takut-takut.
"Tentu, aku akan membawamu kedalam surga bersamaku, ne"
.
Naruto sudah tiba ditempat yang Hotaru maksudkan. Sebuah rumah kumuh yang sama sekali tidak layak huni. Naruto berlari masuk untuk mencari keberadaan HHinata. Perasaannya semakin khawatir dan takut ketika kedua kakinya telah menginjak ke rumah itu.
"Hotaru dimana Hinata?" tanya Naruto terlihat emosi.
"Dia ada disana" tunjuk Hotaru pada sebuah pintu tertutup yang berada dilantai dua.
Dengan cepat Naruto kembali berlari ke arah sana.
Suasana terlihat sepi, sebelum sebuah suara mengagetkan Naruto.
"Bersiaplah Hinata, mari kita hidup bersama disana" dari suaranya Naruto meyakini jika itu adalah suara laki-laki tetapi ia tidak tahu siapa yang ada didalam bersama sang istri.
Brakk! Pintu di dobrak paksa oleh Naruto.
Kedua matanya terbelalak ketika sebuah pistol mengarah pada Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa menangis takut jika senapan itu akan melukai sang anak.
"Naruto-kun" ujarnya terlihat senang setelah melihat kehadiran sang suami disana. Emosi sudah tidak bisa terkendalikan lagi, Naruto berjalan ke arah pria merah itu.
Bughh! bughh! Dengan membabi buta Naruto memukulnya telak "KAU... BERANI SEKALI KAU MENGACUNGKAN SENJATA ITU PADA HINATA" teriaknya dengan emosi.
Sasori hanya tersenyum, tetapi sedetik kemudian ia membalas pukulan Naruto "Ini ketiga kalinya kau menghancurkan wajah tampanku, aku tidak akan memaafkanmu"
Bugh! bughhh! pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Sasori pada Naruto. Tidak terima Narutopun kembali membalas pukulan itu. Dan sekarang terjadilah perkelahian antara Naruto dan Sasori.
Tidak hanya itu beberapa menit kemudian beberapa anak buah Sasori berdatangan membantunya untuk melawan Naruto. Melihat hal itu Hinata terbelalak tidak percaya jika sang suami yang ia cintai di keroyok oleh beberapa orang yang tidak ia kenal. Air mata kembali mengalir merasa takut akan kehilangan Naruto. Tidak hanya Hinata bahkan Hotarupun merasakan hal yang sama ketika melihat Naruto yang sudah babak belur.
Namun pandangannya ia alihkan pada Hinata yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Naruto, juga dari arah lain Sasori menghampiri Hinata dengan pistol yang sudah kembali mengarah padanya.
Bughh! Hotaru menendang Sasori, pria itu jatuh tersungkur. Melihat ada kesempatan Hotarupun membebaskan Hinata.
"Hinata, ayo kita pergi dari sini" ajaknya setelah melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
"Tidak... hiks... aku tidak bisa pergi, aku harus hiks... membantu Naruto-kun" lirihnya.
"Tidak kau harus keluar Hinata, jika kau masih disini kau juga akan terluka" cegah Hotaru menahan tubuh Hinata yang memberontak.
"Itu benar Hinata, kau harus pergi dari sini. Serahkan urusan ini padaku" ujar seseorang yang baru datang, itu adalah Sasuke dan Sakura.
Sakura membantu Hotaru membawa Hinata keluar. Sedangkan Sasuke dengan beberapa orang yang ia bawa membantu Naruto yang sudah tidak bisa melawan anak buah Sasori.
"Kalian bawa Naruto keluar, dan 5 orang bantu aku disini" ujar Sasuke memerintahkan.
"Ha'i"
Bugh! Pukulan kembali dilayangkan oleh Sasuke pada Sasori "kenapa kau melakukan hal ini brengsek" ujar Sasuke emosi.
"Kehh... jangan ikut campur. Aku menginginkan Hinata" jawab Sasori seraya memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
"Kau sudah bertindak terlalu jauh. Jika kau mencintai Hinata relakan dia bersama pria yang ia cintai. Dulu kaulah yang salah sudah menyianyikannya begitu saja, jadi sekarang lepaskan Hinata. Biarkan dia bahagia bersama pilihannya"
Bugh! "ini adalah hukuman bagimu karna sudah menyelakai sahabatku" geram Sasuke.
'Cinta, memang sangat membingungkan. Aku tidak tahu jika perasaan cinta itu bisa menimbulkan tindakan bodoh seperti ini. Aku sudah salah, benar apa yang dikatakan olehmu Sasuke aku sudah berbuat terlalu jauh dan bahkan hampir melukai wanita yang aku cintai. Sekarang aku sadar ternyata cinta tidak harus memiliki. Tuhan ampunilah semua kesalahanku, aku sudah mengikhlaskan dia bersama pria yang dicintainya. Berbahagialah Hinata dengan pria kuning itu.'
Tbc...
Jika berkenan silahkan reviews ya ^^ arigato gozaimasu :D ^^/
arybagus : hehe makasih banyak, oke semangatttt ^^/ gomen baru di up hehe semoga suka :D arigato udah ngereviews :)
aldo2804 : hahaha udah konflik nih semoga suka ya :D gomen gomen sepertinya kelanjutannya lama ya mohon pengertiannya hihi :D arigato udah ngereviews :)
PAINAKATSUKI78 : hehe, arigato udah ngereviews :)
Baenah 231 : heheh udah lanjut nih semoga suka, okeoke arigato udah ngereviews :)
Isabelstefan8 : udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews :)
