Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
Hotaru dan Sakura membawa Hinata keluar untuk menghindari keadaan yang mencekam didalam. Tak henti-hantinya air mata mengalir dikedua pipi Hinata. Perasaan khawatir dan cemas dengan keadaan sang suami begitu kental Hinata rasakan. Tidak hanya itu, bahkan sekarang ia juga tengah mengkhawatirkan anaknya yang dirasakan begitu terguncang. Mungkin sang anak juga tengah merasakan ketegangan sang ibu.
"Ayo duduk dulu" ujar Sakura dengan lembut membantu Hinata duduk di jok mobil.
Grepp! "Sakura apa Naruto-kun akan baik-baik saja hiks... Hikss..." ucap Hinata mencengkram tangan Sakura erat.
"Iya, Naruto pasti baik-baik saja diakan kuat" jawab Sakura disertai senyuman untuk menenangkan Hinata ketika melihat dua orang bawaan Sasuke tadi membawa Naruto yang sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan yang terus menerus dilayangkan oleh anak buah Sasori.
Air mata tak henti-hentinya mengalir dikedua pipi Hinata. Ia tidak sanggup melihat sang suami yang sudah tergeletak tak sadarkan diri diatas tandu yang datang untuk menyelamatkannya. Untung saja tak berapa lama dari Sakura dan Sasuke tiba mobil ambulance datang menyusul yang tadi sempat di hubungi oleh Sakura ketika mereka telah tiba datang di lokasi.
Sedari tadi Hinata tidak henti-hentinya mengelus perut buncitnya bermaksud untuk menenangkan sang anak yang terus saja aktif didalam sana "a...aahhh aawww" teriak Hinata membungkuk seraya memegang perutnya.
Sakura yang melihat hal itu segera mendekat pada Hinata "ada apa Hinata?"
"Tidak tahu, tapi a...aku me...rasakan perutku sakit sekali. A...aku sudah tidak kuat lagi Sa...sakura-ch_"
Brugg! Hinata jatuh pingsan disana membuat Sakura kelabakan bukan main khawatir jika sahabatnya itu kenapa-napa "Cepat bawa mereka berdua kerumah sakit" ujar Sakura pada mereka yang berada disana.
Sedangkan Hotaru terdiam menyaksikan itu semua, perasaan sakit dihatinya tumbuh begitu saja melihat pasangan yang selalu baik padanya terkulai tidak sadarkan diri. Tanpa dia sadari ambulance yang membawa Naruto dan Hinata sudah pergi dari pandangannya. Disana hanya ada dia seorang diri dengan penyesalan luar biasa berada dipundaknya.
Kedua tangan Hotaru mengepal dengan kuat, tidak kuasa melihat seseorang yang paling berharga baginya tidak sadarkan diri seperti itu. Apakah semua ini adalah kesalahnya? Entahlah, yang jelas sekarang hal itu yang Hotaru rasakan.
.
Didalam rumah itu Sasuke maupun Sasori saling terdiam setelah apa yang terjadi. Sasuke sama sekali tidak menyangka jika Sasori partner kerjanya yang selama ini ia kenal baik ternyata bisa melakukan hal segila itu. Terlebih pada dua orang yang sangat ia kenal, 2 sahabatnya yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri.
Sasuke tidak menyangka ternyata sebuah perasaan cinta bisa membuat seseorang bisa berubah. Berubah menjadi pribadi yang buruk.
"Kenapa kau tidak menceritakan padaku jika ternyata kau selama ini mencintainya" ucap Sasuke memecah keheningan.
Dengan muka yang penuh dengan luka lebam akibat pukulan yang terus-terusan dilayangkan oleh Sasuke tadi iapun menoleh padanya "aku yakin kau sama sekali tidak akan pernah mengerti bagaimana posisiku ini"
"Aku tidak mengerti karna kau sama sekali tidak pernah menceritakannya. Sudah ku bilangkan relakan dia bersama pria yang dicintainya. Apakah kau tidak tahu bahwa dia pernah trauma dengan yang namanya cinta. Ya aku tahu ini kedengarannya tidak masuk akal, tetapi setalah aku mendengar cerita dari Naruto dan dari dianya sendiri aku percaya. Kau tahu siapa yang menyebakan dia pernah trauma akan yang namanya cinta? Itu berkat dirimu"
Mendengar semua cerita Sasuke barusan membuat Sasori lagi-lagi terdiam tidak percaya dengan apa yang Sasuke ucapkan, tetapi setelah mendengar perkataan terakhir dari Sasuke Sasori jadi tersadar dengan perbuatan masa lalu yang pernah ia lakukan pada Hinata. Perkataan kasar yang sama sekali tidak pantas ia ucapkan pada Hinata. Pantas saja jika Hinata merasa trauma akan yang namanya cinta dan semua itu berkat dirinya, ya Sasori mengakuinya.
penolakan itu ternyata berdampak buruk pada wanita itu dan Sasori baru mengetahuinya sekarang. Ada penyesalan didalam hatinya tentang apa yang ia lakukan hari ini. Keterlaluan dan sangat tidak pantas.
"Aku menyesal" ujarnya lirih menuduk menyesali perbuatannya.
Sasuke tersenyum "bagus jika kau sudah menyesal. Lupakan dia cari yang lebih baik darinya. Kalau begitu aku pergi dulu. Ratapi semua perbuatanmu selama ini, Sasori" setelah mengatakan itu Sasuke pergi dari sana.
Sasori POV
Apakah aku sudah keterlaluan? Ya aku memang sangat keterlaluan, hampir saja aku menyakiti perasaan wanita yang aku cintai dua kali. Hinata, aku sadar sekarang. Ternyata aku memang tidak pantas untuk bersamamu. Aku do'akan semoga kau selalu bahagia bersama dengan pria pilihanmu.
Aku senang dulu perasaan cintamu itu sempat tertuju padaku, walaupun aku dulu begitu bodoh telah menyia-nyiakan wanita sepertimu. Maafkan aku Hinata atas semua kelakuanku selama ini.
Mulai sekarang aku tidak akan lagi mengusik kehidupan bahagiamu. Aku akan pergi dengan membawa kenangan ini dan aku akan melupakan semuanya. Berbahagialah Hinata.
.
Rumah Sakit Konoha.
Pasangan suami istri itu kini keduanya tengah terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit. Selang infus menancap di masing-masing tangan kiri mereka. Sakura yang menyaksikan itu tidak sanggup menahan air matanya. Ia menangis dengan diam di kursi tunggu yang berada diluar ruangan mereka. Dua ruangan yang berbeda itulah yang memisahkan mereka berdua.
"Sakura, bagaimana keadaan mereka?" tanya Sasuke yang sudah tiba disana.
Brugghhh! Sakura memeluk erat Sasuke menumpahkan kesedihannya disana melihat kedua sahabatnya yang tidak sadarkan diri.
"Tenanglah, aku yakin mereka bertiga akan baik-baik saja" ucap Sasuke mengelus pelan punggung Sakura menengakan.
"Eemm, hiks... hiks aku harap juga begitu" jawabnya setelah melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu ayo kita pulang dulu menyiapkan keperluan mereka" ajak Sasuke dan dijawab anggukan oleh Sakura.
Ditempat berbeda Hotaru tengah melamun di apartemennya. Setelah kejadian tadi siang ia pulang dan mengurung dirinya di kamar. Perasaan bersalah itu terus saja menghantuinya, ia takut jika sesuatu hal akan terjadi pada mereka berdua. Bahkan ketika Hinata berada di kediaman itu bersama Sasori dengan teganya Hotaru berniat akan merebut kembali Naruto.
Kejam dan curang, ia memanfaatkan Sasori untuk kepentingan perasaannya. Meskipun tanpa ia ketahui bahwa Sasoripun melakukan hal seperti itu padanya. Dan sekarang ia harus bagaimana setelah apa yang terjadi?
"Naruto hiks... hiks... Hinata maafkan aku. Aku sama sekali sudah terbutakan dengan perasaanku sendiri. Walaupun sebelumnya aku sudah bertekad untuk menyerah bahkan sudah mengatakan pada Kushina Kaa-san dan Minato Tou-san bahwa aku akan merelakannya bersamamu tetapi aku malah mengkhianati pendirianku sendiri. Aku terlalu munafik dengan semuanya, dan sekarang aku hiks... hiks... hiks... benar-benar menyesal"
Isak tangis terdengar meraung di apartemen itu, Hotaru tengah menangisi perbuatannya. Semestinya ia harus benar-benar memantapkan pendiriannya bahwa ia akan merelakan dan melihat seseorang yang ia cintai berbahagaia dengan wanita lain.
.
.
.
3 hari telah berlalu kondisi Naruto mulai pulih tetapi ia belum sadarkan diri juga. Sedangkan Hinata, ia sudah sadar dari kemarin. Dokter mengatakan jika kondisi Hinata terlalu lemah dan terlalu banyak pikiran sehingga membuat sang bayi menjadi tidak nyaman. Itulah yang membuat perutnya kram waktu itu dan membuatnya jatuh pingsan.
Sakura dan Sasuke tengah berada diruangan Hinata, mereka tengah menemaninya untuk tidak terlalu memikirkan keadaan Naruto dulu karna kondisinyapun belum benar-benar pulih.
"Ayo Hinata kita makan dulu" ucap Sakura menyuapi Hinata dengan bubur yang tadi di antarkan oleh seorang suster.
"Hahaha, aku bukan anak kecil Sakura" kilah Hinata dengan sedikit tawa di wajahnya, hal itu membuat Sakura dan Sasuke lega melihatnya.
Sedangkan diruangan Naruto, seseorang tengah mengamatinya dari luar. Air mata tidak henti-hentinya mengalir terus-menerus di kedua pipinya. Rasa penyesalan itu masih ada bahkan hari demi hari semakin kuat. Itu sebabnya ia datang untuk meminta maaf langsung pada mereka berdua.
Dia adalah Hotaru, seorang wanita yang memiliki rasa penyesalan yang beberapa hari ini terus menghantuinya. Hotaru akhirnya datang kerumah sakit untuk melihat kondisi Naruto dan Hinata. Tapi ia terlebih dahulu datang keruangan Naruto, dimana ia masih berbaring tak sadarkan diri.
"Naruto-kun" ucapnya dengan lirih.
Setelah menguatkan hatinya, Hotarupun melangkah masuk kedalam ruangan dan duduk disamping Naruto yang masih berbaring.
Isak tangis terdengar memilukan, Hotaru tidak sanggup menahan air mata ketika dirinya melihat dengan jelas bagaimana keadaan orang yang ia kagumi dalam diam.
"Gomen ne, aku hiks... hiks... sudah melukaimu. Cepat sembuh Naruto-kun semoga kita hiks... hiks... bisa bertemu lagi." setelah mengatakan itu Hotaru beranjak dari sana meninggalkan sepucuk surat di atas nakas disamping ranjang Naruto. Niatnya untuk bertemu dengan Hinata ia urungkan karna sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.
Tak berapa lama setelah Hotaru meinggalkan ruangan itu, Naruto perlahan membuka kedua matanya. Nuansa putih menyambut kedatangannya setelah 3 hari ini ia tertidur pulas tidak sadarkan diri. Masker oksigen yang menempel diwajahnya ia buka dengan perlahan. Dengan sekuat tenaga Naruto mencoba duduk untuk menyamankan posisinya setelah berbaring.
Naruto menatap ke sekitar tidak ada siapapun disana, hanya ada keheningan yang melanda diruangan itu. Hanya ada sinar matahari yang menemaninya dalam keheningan. Benar saja ia terbangun ketika hari sudah menjelang siang.
"Hinata, bagaimana dengan keadaannya" ucap ia untuk segera beranjak dari sana mencari keberadaan sang istri. Namun ketika Naruto akan turun dari ranjang tanpa sengaja matanya menatap sepucuk surat berwarna merah muda. Rasa penasaran mendorongnya untuk membawa dan membaca isi surat tersebut.
Naruto membuka surat itu, kata pertama yang ia baca sudah mengagetkannya. Sebuah surat yang ditulis oleh seorang wanita dengan rasa penuh penyesalan. Naruto membacanya dalam diam mencoba memahami makna yang ada didalam balik setiap kata demi kata yang ditulis olehnya.
From : Hotaru
To : Uzumaki Naruto.
Kenangan selama tiga tahun kita bersama sudah membuatku berpikir bahwa pertemuan dan perpisahan akan terjadi. Aku meyakini pertemuan kita waktu itu akan berakhir dengan perpisahan. Benang takdir yang menuntunku untuk bertemu dengan mu sudah mengantarkanku pada sebuah perasaan bersalah.
Bersalah dengan beberapa perasaan yang bersemayam begitu saja dihatiku.
Kau tahu, ketika pertama kali kita bertemu? Kau sudah membawakanku sekotak hadiah besar tepat diulang tahunku. Ya pertemuan itu bersamaan dengan ulang tahunku yang ke 12 tahun. Kau selalu membantuku, selalu menemaniku bahkan kau selalu ada disisiku untuk terus bersama denganku ketika semua orang menjauhiku.
Namun ternyata ada sebuah perasaan salah yang aku rasakan. Selama tiga tahun itu aku menerima sebuah perasaan yang seharusnya tidak datang padaku. Tetapi ketika kita bersama perasaan itu semakin kuat dan kuat.
Kau tahu Naruto, ketika kau memberitahuku dengan secarik kertas bahwa kau akan pindah ke kota ini hatiku hancur. Aku sudah tidak bisa menggapaimu lagi.
Tahun berganti aku memutuskan untuk pergi ke sebuah negara yang begitu indah. Aku mencoba untuk melukapakan setiap kenangan manis yang pernah kita buat di masa kecil dulu. Bersamamu dan bersama kedua orangtuamu. Aku tahu bahwa kalian hanya menganggapku sebagai gadis kecil kalian.
Aku mencoba bertahan dengan itu, tapi kau tahu sebenarnya aku ingin lebih dari gadis kecil kalian. Aku ingin dianggap sebagai gadis yang kau cintai. Ya, aku mencintaimu Naruto. Pernyataan cintaku waktu itu benar-benar datang dari hatiku, namun setelah melihat reaksimu seperti itu aku mengatakan bahwa itu hanya candaanku saja. Karna aku tahu kau sudah mencintai wanita lain yang begitu hebat.
Dan yang lebih bodohnya lagi, aku sudah melukai kalian berdua karna kecerobohanku. Mencoba untuk melindungimu, ternyata aku salah. Aku tidak bisa melindungimu, bahkan aku sudah melukaimu begitu parah.
Maafkan aku Naruto-kun.
Aku sudah merusak kebahagiaan kalian dengan keinginan konyolku ini. Berharap untuk mendapatkan cintamu? Hahaha itu menggelikan bukan?
Sudah ya jika diteruskan maka air mata ini tidak bisa berhenti. Aku akan pergi dari kehidupan kalian lagi, lebih baik dari awal aku memang tidak usah datang. Aku harap kau terus berbahagia bersama dengan Hinata. Dia begitu mencintaimu.
Aku senang kita bisa bertemu lagi. Meskipun dengan waktu singkat tapi aku sungguh sungguh bahagia. Terima kasih Naruto-kun sudah pernah menjadi pangeran ku selama 3 tahun. Aku tidak akan pernah lupa kenangan indah kita.
Maafkan aku karna kejadian kemarin. Sampaikan permintaan maafku pada Hinata ya.
Jaa... aku mencintaimu.
.
Surat yang berisi curahan hati Hotaru membuat Naruto bergetar. Setelah membaca surat itu dia terdiam seraya masih memandang surat terakhir yang Hotaru berikan untuknya. Ia mencengram surat itu begitu kuat.
Tess... air mata membasahi suratnya, ada perasaan tidak enak yang timbul begitu saja didalam hatinya. Entah kenapa Naruto merasa kehilangan ketika gadis itu mengatakan akan pergi lagi.
"Kenapa... hiks... kenapa kau baru mengatakan hal itu sekarang? Jika aku tahu dari dulu bahwa kau mencintaiku mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Aku menyesal karna tidak mengetahui persaaanmu. Aku tahu aku memang hanya menganggapmu sebagai adik kecilku saja, aku tidak menyangka jika ternyata kau mencintaiku, maafkan aku karna tidak bisa membalas perasaanmu" gumam Naruto seraya memeluk surat itu yang masih berada didalam genggamannya.
"Aku harus menemui Hinata dulu"
Naruto beranjak dari sana dan melepaskan infusan yang masih menancap di pergelangan tangannya. Tapi ketika ia membuka pintu seseorang berdiri disana.
"E...eehh Sasuke-kun?" tanyanya kaget melihat Sasuke berdiri didepan ruangannya.
"Naruto kau sudah sadar? Baguslah ikut denganku" jawabnya melangkah pergi dari hadapan Naruto dan di ikuti olehnya.
.
Seorang wanita tengah mempersiapkan barang-barang kepindahannya lagi. Ia sudah membulatkan tekadnya bahwa dirinya harus kembali pergi dari kota ini.
"Hotaru apakah aku yakin akan pergi lagi?" tanya sahabatnya yang ikut membantu kepindahannya.
"Aku sudah yakin Ino-chan, jika aku disini terus aku tidak akan bisa melupakannya" seyum Hotaru menatap kearah Ino.
Ino yang sudah mengetahui semua perasaan wanita itu seolah merasakan hal yang sama. Mencintai seseorang yang sudah memiliki pasangan memang sangat sulit dan tentu begitu sakit.
"Baiklah aku mengerti bagaimana persaanmu, tapi jika kau butuh sesuatu datanglah aku akan selalu siap menyambutmu"
Lagi-lagi Hotaru tersenyum mendengar penuturan Ino barusan "kkyyaaa kau begitu menjijikan" brug! Hotaru memeluk Ino erat "arigato Ino-chan"
Ino tersenyum dan merasakan kesedihan diwaktu bersamaan "baiklah ayo kita lanjutkan persiapannya" jawabnya dan melepaskan pelukan itu.
"Tapi apakah benar kau bekerja sama dengan pria bernama Sasori itu untuk merebut kembali cintamu? Kenapa kau bisa sekejam dan seegois itu?" pertanyaan itu akhirnya lolos begitu saja dari mulut Ino yang sejak kedatangannya kesana sudah membuat ia penasaran.
Hotaru terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan berat itu, sampai akhirnya "ia. Itu memang benar. Dan aku benar-benar menyesal, sampaikan rasa penyesalanku ini pada mereka, ne"
Hotaru kembali membereskan barang-barang bawaannya tanpa menatap Ino sedikitpun yang sekarang tengah terdiam tidak percaya dengan apa yang Hotaru katakan barusan. Ketika ia mendengar cerita dari Sakura bahwa Hotaru sudah bekerja sama dengan pria bernama Sasori itu Ino sama sekali tidak mempercayainya, karna ia tahu bahwa Hotaru tidak mungkin melakukan perlakuan kejam seperti itu.
Namun setelah ia mendengarnya langsung dari Hotaru ia menjadi dilema antara percaya dan tidak percaya sama sekali.
'Ternyata kau sudah dibutakan dengan cinta. Aku turut sedih untukmu Hotaru, semoga kau kuat menjalani semua ini. Ya aku dukung keputusanmu untuk pergi dari sini'
"Seperti yang aku bilang tadi, jika kau membutuhkan sesuatu datanglah aku akan selalu ada untukmu"
"Emm, arigato"
Dan mereka kembali membereskan barang-barang dengan diam setelah percakapan barusan yang membuat mereka menjadi canggung satu sama lain.
.
.
Naruto memandang istrinya dengan tatapan penuh rasa syukur. Binar-binar kebahagiaan yang terpancar dari matanya ketika melihat Hinata yang tengah tertawa bersama Sakura membuatnya lega karna sang istri terlihat baik-baik saja.
Merasa ada yang memperhatikan Hinata menengok kearah pintu "Naruto-kun" panggilnya tidak percaya.
Naruto berjalan cepat menuju Hinata dan langsung memeluk sang istri begitu erat.
"Hinata, syukurlah kamu baik-baik saja"
"Ternyata kau sudah sadar? Syukurlah Naruto-kun"
Naruto kembali menatap wajah Hinata setelah ia melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipinya seolah mereka sudah lama terpisah.
"Aku merindukanmu" cupp! kecupan hangat didaratkannya pada dahi Hinata.
Sakura dan Sasuke yang melihat kemesaraan mereka berdua tersenyum merasakan bagaimana kebahagiaan pasangan itu setelah apa yang sudah menimpa pada mereka berdua.
"Sayang, apakah dia baik-baik saja?" tanya Naruto lembut seraya membelai pelan perut Hinata.
Hinata tersenyum "iya dia baik-baik saja, dia sangat kuat sepertimu Naruto-kun"
"Sebaiknya kita pergi dari sini" bisik Sakura dan dijawab anggukan oleh Sasuke.
Tapi sebelum mereka berdua melangkahkan kakinya untuk memberikan mereka waktu berdua, tiba-tiba Naruto menghentikan mereka membuat Sakura dan Sasuke kembali masuk kedalam ruangan Hinata.
"Kalian jangan dulu pergi, ada sesuatu yang harus aku katakan" ujarnya.
"Ada apa Naruto-kun?" tanya Hinata penasaran.
"Hotaru memberikanku sebuah surat" ungkapnya dan memperlihatkan surat berwarna merah muda itu pada mereka bertiga.
Hinata, Sakura dan juga Sasuke membaca surat yang ditinggalkan Hotaru untuk Naruto. Ketiganya tidak percaya dengan apa yang tertuang dalam isi surat tersebut. Ternyata Hotaru benar-benar mencintai Naruto, Hinata tidak menyangka jika selama ini wanita itu menyembunyikan perasaannya.
Ternyata pembicaraan mereka berdua waktu itu adalah benar-benar keluar dari hatinya. Hinata tidak menyangka jika ternyata Hotaru bisa bekerja sama dengan Sasori untuk merebut kembali Naruto.
"Kenapa dia tidak datang menjenguk? Aku juga merasa bersalah, pasti sulit baginya ketika melihatku dan Naruto-kun selalu bersama. Aku sudah memaafkannya karna aku tahu Hotaru tidak mungkin melakukan kerja sama itu tanpa Sasori yang menghasutnya" ucap Hinata setelah membaca surat Hotaru barusan.
"Ya kau benar Hinata, Hotaru sama sekali tidak bersalah, ia dihasut oleh Sasori untuk membantunya mendapatkanmu" ujar Sasuke menjelaskan apa yang ia ketahui dari pria merah itu.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Naruto menatap kearah Hinata.
Hinata lagi-lagi tersenyum menatap kearah suaminya, betapa ia sangat mencintai Naruto. Namun ia juga tidak perlu menjadi egois untuk memberikan kesempatan pada wanita itu supaya hubungan mereka kembali terjalin dengan baik-baik saja.
"Aku percayakan padamu, tenanglah semuanya akan baik-baik saja" usapnya lembus pada pipi Naruto.
Senyumannya lagi-lagi membuat Naruto merasa tenang dengan apa yang sudah ia pikirkan sedari tadi. Kegelisahannya tadi sungguh membuat ia bingung dengan apa yang seharusnya diperbuat.
"Ahh Hinata, Naruto kalian sudah sadar? Syukurlah, gomen aku baru menjenguk kalian hari ini"
"Ehh Ino-chan?" ujar Sakura melihat kedatangan wanita berambut blonde itu.
Ino masuk kedalam ruangan Hinata dengan mambawa sekeranjang buah-buhan ditangannya dan ia letakan diatas nakas samping ranjang Hinata.
"Dimana Hotaru? Apakah dia tidak datang bersamamu?" tanya Hinata, membuat Ino menatapnya tidak percaya.
"Ho...hotaru?" Ino begiu gugup tidak tahu harus berbuat apa setelah beberapa menit yang lalu ia bersama dengan Hotaru.
"Iya dimana dia?" tanya Sakura yang menambah kebingungan pada Ino.
"Apakah kamu tahu dimana dia? Tadi dia memberikanku sebuah surat dan aku ingin bertemu dengannya untuk mengatakan sesuatu hal" ungkap Naruto yang lagi-lagi membuat Ino kebingungan sekaligus dilema.
Tadi sebelum ia datang kesini Hotaru berpesan padanya bahwa Ino tidak boleh mengatakan apapun pada mereka tentang keberangkatannya. Jadi sekarang Ino tidak tahu harus berbuat apa dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mereka.
"Katakanlah Ino dimana Hotaru?" tanya Naruto lagi.
"Kenapa kau ingin sekali bertemu dengannya? Bagimana dengan Hinata?" Ino bertanya balik dan menatap kearah Hinata.
"Tenang saja aku juga sudah mempercayakan semuanya pada Naruto-kun, jadi katakanlah dimana Hotaru sekarang Ino-chan" perkataan Hinata barusan membuat Ino kembali berpikir balik.
Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan mereka.
"Dia..."
Semua orang yang ada disana langsung membelalakan kedua matanya tidak percaya jika keputusan Hotaru sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Meninggalkan semuanya begitu saja.
"Baiklah aku akan pergi menyusulnya, aku yakin dia masih ada dibandara"
Cupp! "Aku mencintaimu"
Setelah mengecup dahi Hinata singkat Naruto berlari dari ruangan itu disusul oleh Sasuke untuk membantunya cepat sampai ke bandara yang tadi Ino katakan padanya.
.
Di sebuah bandara Konoha seorang wanita berambut blonde panjang tengah mendengarkan musik lewat earphone seraya menunggu keberangkatannya menggunakan pesawat ke negara yang dulu pernah ia tinggali selama bertahun-tahun. Dengan sebuah koper besar dan 1 tas yang berada disampingnya ia acuh dengan semua aktivitas orang-orang yang ada di sekitar. Ia terlalu malu untuk mengedarkan pandangan setelah apa yang diperbuatnya. Hotaru sibuk dengan ponsel yang sedari tadi ia mainkan untuk melepaskan beban pikiran.
Sedangkan dilantai bawah Naruto yang sudah tiba dibandara melebarkan pandangannya kesegala penjuru untuk mencari sosok yang ingin ia temui. Naruto berlari kesana kemari, tidak melihat sosoknya dimanapun. Naruto teringat akan ucapan Ino sebelum dirinya datang kesini.
"Dia, memutuskan untuk pergi ke Paris lagi. Dia sudah menyesali perbuatannya pada kalian. Hotaru sangat mencintaimu Naruto, maka dari itu dia akan pergi sebagai penebus dosa-dosanya dengan apa yang sudah diperbuatnya pada kalian. Dan untukmu Hinata, dia sangat berterima kasih karna sudah mengijinkannya bekerja di perusahaanmu, ia juga mengatakan telah menyesali perbuatannya. Kata Hotaru, ia terlalu malu untuk bertatap muka pada kalian. Dia menitipkan permintaan maafnya padaku"
Perkataan Ino mengenai Hotaru terngiang-ngiang di telinganya. Naruto ingin sekali menemuinya sebelum Hotaru benar-benar pergi dari hadapannya. Dan ternyata do'anya terkabul. Ketika Naruto naik kelantai 2 wanita yang ia cari-cari tengah duduk disalah satu bangku tunggu seorang diri.
Cahaya senja menuntunnya untuk mendekati Hotaru yang masih asyik dengan ponselnya sedari tadi. Langkah kaki Naruto semakin cepat untuk segera sampai di hadapannya.
"Hotaru-chan"
Sebuah panggilan dari suara yang ia kenal menghentikan kegiatannya sedari tadi. Hotaru mengalihkan pandangannya pada sebuah kaki yang berdiri didepannya terbalut kaos kaki. Sedetik kemudian ketika Hotaru menatap pada wajahnya kedua mata itu terbelalak lebar.
Hotaru terdiam seraya masih menatap sosok yang berdiri didepannya dengan nafas yang tersenggal-senggal dihiasi senyuman yang selalu membuatnya tidak bisa berpaling.
"Akhirnya hosh... hosh... ketemu juga" ujar Naruto yang sudah berada didepan Hotaru.
"Kenapa?" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Aku datang kesini untuk mengatakan sesuatu"
Hotaru berdiri dan melepaskan earphonenya.
"Ada apa, kenapa bisa kau datang kesini?"
"Hehehe, ada sesuatu yang harus aku katakan" ulangnya lagi.
Hotaru terdiam, ia tahu bahwa Naruto akan melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kau memutuskan untuk pergi? Aku dan Hinata sudah memaafkan semua kesalahanmu. Kami tahu semua ini bukanlah salahmu, dan juga... Hotaru gomen, aku tetap tidak bisa membalas perasaanmu. Aku akan selalu menganggapmu adik kecilku yang merepotkan. Jadi kenapa kau harus pergi? Tetaplah disini bersama kami"
Hotaru masih terdiam mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut Naruto. Namun sedetik kemudian senyuman mengembang diwajah cantiknya diiringi dengan air mata yang juga meluncur begitu saja dipipinya.
"A...arigato kalian sudah memaafkanku hiks... hiks... aku juga ti...dak mengharapkan balasanmu. Aku senang akhirnya kau hiks... hiks... mengetahui perasaanku. Tapi aku akan tetap pergi untuk menebus semua kesalahanku hiks... hiks... arigato Onii-chan"
Brughh! tiba-tiba saja Naruto memeluk Hotaru, membuat wanita itu kembali membelalakan matanya tidak percaya. Air mata terus saja mengalir merasakan betapa nyamannya berada dalam pelukan orang yang sangat berharga walupun itu singkat tetapi Hotaru merasa bahagia.
"Kapanpun kamu pulang aku dan Hinata akan selalu menyambutmu. Berhati-hatilah" ucap Naruto setelah melepaskan pelukannya.
"Emm, arigato. Aku berangkat dulu, sampaikan permintaan maafku pada Hinata"
"Iya itu pasti"
Hotaru berjalan seraya menyeret kopernya menjauh dari Naruto untuk segera berangkat menuju Paris. Naruto melambaikan tangan padanya mencoba memberikan kekuatan pada sosok wanita yang sudah ia anggap sebagi adik itu.
"Aku bangga padamu" ujar seseorang yang berdiri disampingnya.
"Hm, arigato Sasuke"
Tak berapa lama berselang pesawat yang membawa Hotaru melesat pergi, Naruto yang melihat itu tersenyum merasa lega.
"Ayo kita kembali. Aku malu dengan pakaianmu, semua orang menatap aneh pada kita. Mereka berpikir bahwa kau adalah pasien yang melarikan diri"
"Emm. Ahhh... iya kau benar ayo kita pergi"
.
.
.
Setelah kejadian ini mereka pasti bisa menghabiskan waktu bersama dengan baik, bahagia, tenang dan damai. Tidak akan ada lagi kekhawatiran yang akan mengganggu kehidupan indah mereka. Semua sudah terlalui dengan semsestinya. Kejadian demi kejadin itu terjadi bukanlah tanpa alasan, semuanya sudah Tuhan rencanakan dengan baik. Alasan dibalik semuanya adalah supaya mereka berdua bisa lebih kuat dengan perjalanan hidup yang begitu berat.
.
.
.
Baenah231 : hahaha gomen sayangnya dia masih hidup :D udah lanjut semoga suka ^^ arigato udah ngereviews ^^v
CR1SH1M4 : okee sama-sama, semangat juga ^^/ udah dilanjut semoga suka ^^ arigato udah ngereviews ^^v
: hahaha mungkinkan sama? arigato udah ngereviews ^^v
aldo2804 : heheh makasih udah ngeretiin :D hahah ga papa ko malah itu hyugana anggap sebagai semangat untuk ngelanjutin wkwk ga akan sekejam itu ko kasian juga himenya :D okee udah lanjut nih semoga suka ya ^^/ arigato udah ngereviews ^^v
Juga Selamat Atas Pernikahan Kalian Naruto & Hinata berbahagia terus ya tetap menjadi tokoh kesayangan hehe :D ^^ ja nee :D ^^/
