VORMUND

author : firetomylight

cast : – kim jongin – do kyungsoo – oh sehun park chanyeol

lenght : chaptered 2/?

YAOI CONTENT


CHAPTER 2


"Brak!"

"Brak!"

"Brak!"
Kyungsoo menutup kedua telinganya, terduduk diposisi yang sama, tidak beranjak satu senti pun, menarik kedua kakinya, menenggelamkan kepalanya disana.

"Berhenti." ucapnya pelan, hampir tidak terdengar.

"Brak!"

"Brak!"

"Hentikan, aku mohon." suaranya bahkan terlalu kecil untuk dapat kedua indera pendengarannya tangkap.

"Ya? Aku menyayanginya ayah! Aku menyayanginya!" sosok lain disana berusaha bangkit dengan satu tangannya yang masih bisa ia gunakan meumpu berat tubuhnya, tersungkur kesekian kali setelah menerima hujaman pukulan dari sosok lain yang dengan hormat dipanggilnya ayah.

"Brak!"

"Brak!" pukulan yang diterimanya semakin menggila dan terhenti begitu dirasa tubuhnya bahkan tak sanggup lagi ia gerakkan. Darah segar mengalir dari pelipisnya, menimbulkan genangan baru disana.

Kyungsoo menghentikan isaknya dan menarik tubuhnya mendekati sosok terkasihnya itu begitu suara pukulan itu menghilan terganti dengan suara bantingan keras pintu. Air matanya yang mengalir berusaha ia tahan dengan menggigit kuat - kuat bibir bawahnya.

"Hyung?" suaranya hampir menghilang begitu melihat sosok dihadapannya saat ini.

"Hyung, hiks hyung." Kyungsoo masih berusaha menahan isaknya membawa tubuh Jongin ke pangkuannya.

"Hyung, hyung, aku mohon jawab aku. Hiks hyung."

Tubuh dipangkuannya tidak meresponnya, hanya suara deru nafas yang semakin menghilang perlahan yang Kyungsoo dengar.

.

.

"HYUUUNG!"

Jongin tersentak seketika dari tidurnya begitu mendengar jeritan Kyungsoo yang masih berusaha mengatur deru nafasnya.

"Kyungsoo?"

"Hyung!" tubuh Kyungsoo merespon memeluk Jongin disebelahnya, erat.

"Shh, Aku disini, hentikan tangismu." Jongin membalas pelukan Kyungsoo.

"Jangan pergi hyung, Jangan tinggalkan aku, hiks."

Jongin mengusap pelan punggung Kyungsoo hingga isakan Kyungsoo terhenti dan terdengar dengkuran halus Kyungsoo yang sudah tenang dan tertidur.

"Apa yang mengganggu pikiranmu Kyungsoo ah." desahnya pelan seraya memosisikan tubuh Kyungsoo dan menyelimutinya.

'Kau harus berhati-hati dengan perasaanmu.'

'Pikirkanlah kata-kataku baik-baik. Aku sebagai sahabatmu hanya tidak ingin kau berada diposisi yang sulit nantinya. Saat ini mungkin kau hanya belum menyadarinya.'

"Bagaimana aku bisa melepaskanmu jika kau bahkan tidak sedikitpun membiarkan aku pergi."

.

.

"Selamat pagi Hyung, maaf aku terlambat bangun, kepalaku sedikit pusing."

"Ck ck." Jongin membalas ucapan salam Kyungsoo dengan gelengan kepala.

"Bukan masalah besar hyung, ini hari minggu." bela Kyungsoo seraya meneguk segelas air mineral ditangannya.

"Apa kau tidak ada rencana hari ini Kyungsoo ah?" dijawab dengan gelengan kepala Kyungsoo.

"Anak seusiamu biasanya menghabiskan hari minggu dengan bermain keluar bersama teman atau berkencan." kata terakhir kalimat Jongin hampir saja membuat Kyungsoo memuntahkan air mineral yang ia minum, membuatnya tersedak.

"Uhuk, uhuk."

"Kau tersedak? Aish." Jongin memukul punggung Kyungsoo pelan.

"Uhuk, uhuk."

"Kau baik - baik saja?" tanya Jongin lagi.

"Uhuk, aku, baik - baik saja hyung."

"Hati - hati lain kali." Kyungsoo menganggukan kepalanya berkali - kali.

Jongin hanya tersenyum.

"Kau tidak ada latihan dance hari ini hyung?" tanya Kyungsoo.

"Tidak, hari ini mungkin sepanjang hari aku habiskan dirumah."

"Eum, bagaimana jika, kita, pergi menonton film?" tanya Kyungsoo ragu.

Jongin memandang Kyungsoo dengan tatatapan menyelidik.

"Aku ingin menonton film rekomendasi temanku hyung, dia, dia bilang film ini adalah film terpopuler ditahun ini." Kyungsoo menunduk menyembunyikan kegugupannya.

Jongin seperti menimbang sesuatu sesaat.

"Baiklah, lekas bersiap." putus Jongin akhirnya seraya mengacak pelan surai hitam Kyungsoo.

Tanpa ia tau senyuman dibibir Kyungsoo merekah, kedua pipi putihnya memerah, segera ia berlari menuju ke kamarnya, menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya dibalik pintu berwarna putih itu, menetralkan debaran yang menggila didadanya.

"Bagaimana ini, pakaian apa yang harus aku kenakan, tunggu, aku harus bersiap, ahh, kurasa sudah waktunya aku memotong rambutku, atau seharusnya aku mengganti warnanya? Ahhhh."

.

.

Jongin memainkan kunci mobil dengan strap mini figure pororo, hadiah dari Kyungsoo ketika mereka berkunjung ke pororo world akhir tahun lalu. Tubuhnya bersandar disalah satu pintu menunggu Kyungsoo yang belum selesai bersiap dari setengah jam yang lalu.

"Jongin ah!"

"Ah, Bibi." Jongin tersenyum menyambut Bibi Jung yang berjalan mendekatinya. Sama seperti Kyungsoo, Jongin juga sudah menganggap Bibi Jung seperti orang tuanya sendiri.

"Berkencan dihari minggu?" goda Bibi Jung.

"Ah?" Jongin tersenyum kikuk, kemudian menggeleng.

"Tidak usah malu, mengakulah." Bibi Jung menyenggol pelan lengan kiri Jongin.

"Aku hanya menemani Kyungsoo menonton film yang ingin ditontonnya." jujur Jongin.

Ekspresi wajah Bibi Jung berubah.

"Kyungsoo?"

"Hyung, maaf lama menunggu!" Kyungsoo memanggil Jongin begitu selesai mengunci pintu rumah mereka. Jongin mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo yang pada detik itu menyita seluruh perhatiannya. Rambut hitamnya yang tertata rapi, tubuh mungilnya yang terbalut kaos polos berwarna biru langit dilapisi dengan sweater rajut longgar berwarna abu-abu, lengkap dengan ripped skinny jeans dan sneakers.

'Sejak kapan Kyungsoo bisa begitu menarik?'

"Bibi Jung!" suara Kyungsoo mengembalikan pijakan Jongin kedunia nyata.

"Kyungsoo, boleh Bibi ikut menonton bersama?" tanya Bibi Jung seraya memainkan poni Kyungsoo.

"Eum, bagaimana ya?"

"Baiklah jika tidak boleh, Bibi pulang saja menonton televisi dirumah."

"Bukan, bukan, Bibi boleh ikut kok." jawab Kyungsoo cepat.

"Bibi hanya bercanda Kyungsoo, hahaha. Selamat bersenang - senang!"

.

.

Ada satu hal yang tidak disadari Jongin hari ini, pandangannya tak bisa lepas dari Kyungsoo. Memperhatikan Kyungsoo yang ia selalu jaga semenjak mereka masih sama - sama kecil, Kyungsoo yang saat itu selalu menangis ketika Ia tinggal bermain bersama dengan teman - teman seumurannya, Kyungsoo yang selalu memegang tangannya erat ketika mereka tertidur, Kyungsoo yang selalu bersembunyi dibelakang tubuhnya ketika sedang ketakutan, Kyungsoo yang saat ini ada dihadapannya, dengan segala perubahan yang bahkan tidak pernah Jongin sadari terjadi, Kyungsoo kecilnya telah tumbuh menjadi pribadi yang menarik.

"Hyung! Kenapa tokoh antagonis wanita tadi begitu menyebalkan. Seharusnya dari awal dia membiarkan tokoh utama pria dan wanita bahagia, karena dia tau mereka tidak akan pernah bisa bersatu pada akhirnya."

Jongin tidak fokus hanya untuk sekedar mendengarkan komentar Kyungsoo tentang film yang mereka tonton tadi, karena jujur ia memang tidak begitu tertarik.

"Hyung?"

"Hyung kau melamukan apa?" tanya Kyungsoo lagi.

"Bahagia punya caranyanya masing - masing Kyungsoo, apa yang kita lihat tidak menggambarkan apa yang sedang terjadi apa yang benar - benar dirasakan."

Kyungsoo terdiam.

"Hyung?"

'Apa kau bahagia ketika bersamaku?'

"Ya?" jawab Jongin.

Kyungsoo menggeleng.

"Tidak jadi, hehehe."

"Kau mau mengerjai aku ya Kyungsoo?"

Kyungsoo menggeleng lalu tertawa, miris.

"Kyungsooo!" Jongin dan Kyungsoo menoleh tepat kearah sumber suara yang memanggil nama Kyungsoo.

"Hi!" sapanya lagi dengan ekspresi super gembira.

"Kyungsoo, dia temanmu?" tanya Jongin.

Dengan cepat Kyungsoo menggeleng dan menarik tangan Jongin menuju arah pintu keluar.

"Annyeonghaseyo, aku Park Chanyeol, aku teman dekat Kyungsoo." jelas Chanyeol lengkap dengan cengiran tidak berdosanya memutus langkah Kyungsoo.

'teman dekat?'

"Dia bukan temanku hyung, aku bahkan tidak kenal siapa dia." jawab Kyungsoo malas.

"Hyung?"

"Halo Chanyeol sshi, aku Jongin, kakak Kyungsoo." Jongin mengulurkan tangannya.

"Aku berjanji akan menjaga Kyungsoo ketika disekolah Jongin hyung, serahkan padaku." Chanyeol menjawab jabatan tangan Jongin.

Tidak ada percakapan dan tawa seperti biasanya selama perjalanan pulang. Semenjak pertemuan dengan Chanyeol tadi mood Kyungsoo memburuk. Ditambah bahasan pertanyaan Jongin tentang Chanyeol selama perjalanan mereka menuju mobil.

"Kalian kelihatannya akrab, kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang Chanyeol pada Hyung Kyungsoo ah?"

"Sepertinya dia pria baik - baik dan menyenangkan"

"Apa kau tertarik padanya Kyungsoo ah? Kau malu mengakuinya pada hyung?"

"Brak!" Kyungsoo membanting pintu kamarnya, kesal.

.

.

"Aku belum mendengar suaramu hari ini Kim Jongin, kau sedang sakit gigi?" Sehun menggunakan jari telunjuknya untuk menyentuh pipi Jongin.

"Shh, berhenti Oh Sehun."

"Oh tidak, ku fikir."

Jongin membuang pandangannya ke arah lain.

"Ceritakan apa yang terjadi kemarin hingga menggangu moodmu hari ini. Latihan dimulai dua jam lagi."

"Kau tidak akan mengerti Sehun ah."

Sehun menghela nafasnya pelan.

"Soal Kyungsoo? Lagi?"
"Kubilang kau tidak akan mengerti."

"Well, aku tidak akan memaksa." Sehun bersiap bangkit dari tempat duduknya sebelum tangan Jongin menarik ujung kemejanya.

"Aku tidak mengerti kenapa dia marah padaku. Aku hanya bertanya tentang teman dekatnya, itu saja."

Sehun terdiam sesaat.

"Kyungsoo punya pacar?" Ia duduk kembali, mulai tertarik dengan arah pembicaraan Jongin.

"Namanya Park Chanyeol."

"Kau serius, Kyungsoo, adikmu itu punya pacar?" tanya Sehun lagi, memastikan.

Jongin mengangguk, mengiyakan.

Senyuman dibibir Sehun terbentuk sempurna.

"Jongin, bagaimana jika kau punya pacar juga?" Sehun mencoba peruntungannya.

"Denganmu?" tanya Jongin kaget.

Sehun buru-buru menggeleng.

"Adik tingkat kita, Luhan. kau tau kan? Dia sudah lama tertarik padamu."

"Sehun, tunggu, ini bukan jawaban dari permasalanku." jawab Jongin malas.

"Hey, Kyungsoo marah padamu karena tentu saja kau mengganggu privasinya. Dia sudah dewasa Jongin ah, kau ini bodoh ya?"

"Hati - hati dengan bicaramu Sehun ah."

Sehun hanya tertawa.

"Jadi bagaimana? Aku akan mengatur kencan pertamamu dengan Luhan."

Jongin terdiam sesaat.

"Terserah kau sajalah." lanjutnya.

.

.

Hari ini menjadi hari yang buruk untuk Kyungsoo. Ia tidak perduli Jessica dan teman - temannya yang mengerjainya, menumpahkan air ke seragamnya. Ia hanya tidak ingin keluar kelas dan bertemu dengan lelaki penghancur moodnya, siapa lagi kalau bukan Chanyeol, atau siapalah itu namanya.

Ia masih menyibukkan diri dengan buku - buku dihadapannya mengabaikan cacing - cacing diperutnya yang mulai bernyanyi, lapar. Mengabaikan Jongin hyung untuk sarapan pagi bersama hari ini dan hanya sempat membawa air mineral yang botolnya sudah kosong pun tentu saja semakin mempersulit keadaannya siang ini. Semakin sulit tentu saja karena Kyungsoo tidak punya teman, satu teman pun, lagipula untuk apa berteman dengan orang - orang yang selalu menganggapnya aneh, atau berpura - pura menjadi orang lain dihadapannya hanya untuk mengambil manfaat dari dirinya.

"Ini untukmu." Kyungsoo menatap bungkusan roti isi cokelat dihadapannya. Senyuman dibibirnya menghilang begitu pandangannya bertemu dengan iris milik Chanyeol.

"Kau mau menolak? Aku tau kau lapar."

"Tidak usah, terimakasih." jawab Kyungsoo ketus.

"Kau lapar kan?" tanya Chanyeol.

"Tidak." sialnya nyanyian cacing - cacing diperutnya tidak menyetujuinya untuk berbohong.

"HAHAHAHAHA."

Kedua pipi Kyungsoo memerah.

"Kau lapar, mengakulah Kyungsoo ah."

Kyungsoo menunduk malu. Ya, lapar, Kyungsoo memang lapar. Tapi rasa gengsinya tidak membiarkan dirinya untuk menerima roti cokelat dari Chanyeol, si penghancur moodnya.

"Baiklah aku akan meninggalkan roti cokelat dan susu vanilla ini disini. Ada hal lain yang harus aku kerjakan. Kau bisa membuangnya nanti mungkin?" Chanyeol meninggalkan satu senyumnya untuk Kyungsoo.

'kali ini tidak apa kan? aku akan membayarnya besok?'

Kyungsoo mengambil roti cokelat dan susu vanilla itu, menghabiskannya dengan cepat.

'err, terimakasih orang asing!'

.

.

"Apa hyung pulang terlambat lagi ya?" Kyungsoo menengok ke arah satu - satunya jam dinding yang ada diruang makan itu tepat menunjukkan pukul delapan malam, artinya sudah satu jam Kyungsoo menunggu.

Diambilnya ponsel putih disebelahnya. Tidak ada notifikasi pesan masuk atau missed calls dari Jongin yang mungkin mengabari Kyungsoo untuk makan malam sendiri, tidur lebih cepat dan tidak menunggunya.

"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan." jawaban operator yang sama kesekian kali.

Kyungsoo menghela nafas.

Perlahan ia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk merapikan makanan diatas meja. Nafsu makannya sudah hilang.

"Kau begitu bekerja keras untuk turnamen dance itu ya hyung?" tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri seraya mulai memindahkan peralatan makan mereka.

"Brak!" Kyungsoo hampir menjatuhkan mangkuk dan sumpit ditangannya begitu ia mendengar suara pintu depan yang ditutup kasar.

Tangannya bergetar hebat.

"Prang!" dengan langkah perlahan dan tubuhnya yang bergetar hebat ia mendekati sumber suara itu.

"Hyung?" desahnya pelan.

"Hyung apa itu kau?" bibirnya bergetar, nafasnya mulai tersengal. Jangan, tolong jangan mimpi buruk itu lagi.

"Prang!"

Kedua mata Kyungsoo membulat sempurna begitu melihat seseorang dihadapannya. Tubuhnya melemas.

"Kau masih hidup HAH?" sosok dibawah pengaruh alcohol itu mendekati Kyungsoo yang menyandarkan tubuhnya pada dinding.

"KAU MASIH HIDUP SETELAH KAU MEMBUNUH ISTRIKU?" cengkraman kuatnya dibahu Kyungsoo membuat Kyungsoo meringis kesakitan.

"A-ayah." panggilnya terbata.

"AKU BUKAN AYAHMU! ANAK SIALAN!"

Air mata Kyungsoo mengalir seiring dengan tamparan dipipi yang diterimanya.

"KAU HARUS MATI! TEBUS KEMATIAN ISTRIKU DENGAN KEMATIANMU!" teriakan itu menggema diseluruh ruangan seiring dengan cekikan yang semakin kuat dileher Kyungsoo.

Nafasnya tersengal, sesak.

'Hyung, Jongin Hyung, kumohon tolong aku…'


TBC


Sorry for a very long delay!

maafkan typonya karena aku ngga sempet cek ulang T_T

yang masih merasa fanfic ini menarik silahkan review, yang masih mau fanfic ini dilanjut juga boleh review!

untuk yang chapter sebelumnya tanya kalau Kyungsoo dan Jongin kakak beradik, ya mereka kakak beradik dan di summary sudah aku labeli INCEST :)

sampai jumpa di chapter selanjutnya ya!

-xoxo